Tran, Dua Buku dan Rusuk Babi

Seorang kawan datang. Ia berbaik hati membawakan dua buku Tran Duc Thao. Dua buku yang sudah cukup lama saya cari. Sebagai ucapan terima kasih, saya meminta agar ia mau duduk dan mencoba rusuk babi bumbu Manado yang saya masak.

Karena kedua buku yang ia antar sangat bernilai, maka menyajikan kuliner yang pengetahuannya saya dapatkan dari dapur masa kecil, mungkin adalah gestur terima kasih yang pas. Bumbu pedas yang menyengat ketika ditumis, dipadankan dengan kangkung dan bunga pepaya.

Kedua Ibu saya mengajarkan bahwa memasak adalah ibadah kepada Tuhan dan cara menghormati sesama manusia. Dan saya jelas sangat menghormati orang yang telah mau mewujudkan mimpi saya jadi nyata.

Dua buku tersebut ditulis di periode awal Tran mulai belajar dan mengajar diri sendiri menjadi etnolog. Catatan-catatan awalnya mengenai Vietnam. Kedua teks tersebut menjadi incaran saya sejak mulai perlahan-lahan menerjemahkan teks-teks yang membahas seputar revolusi agrikultur di Vietnam yang dimulai tahun 1990, ketika Rencana Pembangunan Lima Tahun V mulai dilangsungkan. Saya sedikit terobsesi untuk mencari tahu bagaimana negeri komunis ini sukses melindungi dan menjadikan pertanian sebagai tulang punggung ekonomi mereka. Hingga di kemudian hari, beras dan kopi dari negeri ini misalnya sukses merajai pasar di dunia.

Sayangnya, banyak yang belum tahu siapa Tran di Indonesia. Padahal, di dekade 50-an dan 60-an, idola para hipster filsafat hari ini seperti Derrida dan Lyotard atau Althusser merujuk Tran.

Tapi bukan masa-masa ia di Prancis yang menarik buat saya. Periode ketika ia pulang dan membantu Partai Komunis Vietnam (PKV) adalah rentang waktu yang menyimpan banyak cerita. Padahal di awal dekade 50an, bukunya tentang Dialektika Materialisme dan Fenomenologi baru saja terbit. Sambutannya juga luar biasa. Jika bertahan di negeri para pencium ini, karir Tran sebagai intelektual dunia sudah jelas terang benderang.

Ia justru memilih pulang di tahun 1951. Lima tahun kemudian, ketika universitas pertama dibangun oleh PKV, Tran mengambil tanggung jawab sebagai Dekan Fakultas Sejarah. Gedung perkuliahan saat itu menggunakan salah satu bangunan Văn Miếu di Hanoi. Văn Miếu dapat diterjemahkan sebagai kuil literatur. Dibangun pada 1070 dan terletak di bagian selatan istana Thăng Long. Desainnya mirip dengan kuil Qufu yang terletak di Shandong, di bagian pesisir Cina. Fakta ini tidak mengagetkan karena Văn Miếu memang pada awalnya didedikasikan sebagai penghormatan dan upaya melestarikan ajaran Konfusius.

Kembali ke soal Tran, intelektual bengal ini kemudian dianggap sebagai musuh dalam selimut bagi PKV. Sebabnya, Tran adalah orang yang keras kepala dan gemar melancarkan kritik. Ketika di akhir 1956, reforma agraria yang didorong PKV di bagian utara dan timur laut negeri itu mengakibatkan banyak petani tewas, Tran adalah satu-satunya orang di lingkaran elit Partai yang berdiri tegak dan menyatakan bahwa PKV melakukan kesalahan. Ia juga melancarkan kritik terhadap model interventif yang dilancarkan PKV terhadap integrasi komunitas-komunitas tribal yang menghuni dataran tinggi di bagian utara Vietnam.

Sikap-sikap itu yang membuat penggemar teh herbal ini kemudian diasingkan secara perlahan dan diam-diam oleh lingkaran elit PKV. Tidak ada yang berani berhadapan dengan Tran secara langsung. Ia rajin menulis dan menghabiskan tiga puluh tahun untuk mempelajari negerinya tanpa dukungan pendanaan dari Partai. Selain itu, ia menerjemahkan banyak karya filsafat -terutama karya Marx dan Engels- ke dalam bahasa Vietnam. Terjemahan Manifesto Komunis perdana dalam bahasa Vietnam adalah salah satu buah tangannya.

Di akhir 1958, Tran resmi mundur dan melengserkan diri dari universitas. Ia menjadi pengelana kognitif yang secara diam-diam terus menulis. Di tahun 1973, di Paris, Prancis, Tran menerbitkan “Recherches sur l’origine du langage et de la conscience”. Buku ini adalah kombinasi mematikan psikologi dan materialisme biologis. Menggunakan Marxisme, Tran melacak soal subjektifitas dan kesadaran seseorang serta implikasinya terhadap bahasa sebagai salah satu produk kebudayaan. Buku ini melengkapi “Phénoménologie et matérialisme dialectique” yang terbit 22 tahun sebelumnya. Dua magnum opus yang mesti ditukar Tran dengan memburuknya kondisi kesehatan.

Ia kembali ke Paris di tahun 1983 untuk berobat. Dalam kondisi miskin, ia rajin mengikuti kuliah-kuliah umum yang diisi para kolega-koleganya, filsuf-filsuf yang namanya mentereng hingga kini. Semisal Jean Paul-Sartre yang yang ikut menyumbang membiayai hidup Tran selama di Paris. Selama di kota ini, Tran tinggal dengan kondisi miris di sebuah apartemen kecil yang terletak tak jauh dari Kedutaaan Besar Vietnam. Ia meninggal sepuluh tahun kemudian ketika musim dingin mulai menggerogoti Paris.

Dua buku yang saya sebutkan di atas adalah dua otokritik Tran terhadap PKV yang dipublikasikan di Nhân Dân, koran resmi PKV. Dua tulisan tersebut muncul setelah ia mundur dari jabatannya sebagai Dekan dan menghabiskan waktu berkelana di kampung-kampung dan menulis catatan etnografi yang mengagumkan. Dua otokritik Tran menjadi penting bagi saya, karena dua buku inilah yang menjadi penegasan posisi intelektual lelaki pengayuh sepeda ini sebagai etnolog Marxis terkemuka di Asia Tenggara. Keduanya tidak pernah dirilis dalam bentuk buku resmi dan hanya tampil sebagai penjelasan Tran atas kritiknya.

Saya pertama kali mendengar tentang dua naskah ini sekitar empat tahun lampau. Saat itu, salah seorang kawan menggunakan Tran sebagai rujukan bacaan dalam presentasinya di sebuah serial diskusi bulanan yang diadakan tempat kami magang sebagai peneliti ingusan. Ia memaparkan mengenai proposal pembangunan industri agrikultural di Vietnam, di awal dekade 1990-an. Reformasi pertanian yang signifikan menolong Vietnam ketika Asia Tenggara dihantam krisis ekonomi menjelang dekade itu berakhir.

Catatan-catatan lapangan Tran mengenai kondisi pedesaan di negeri itu menjadi sumber material bagi lingkaran pimpinan PKV untuk merumuskan solusi menghadapi rangsekan kapitalisme. Awal dekade itu adalah masa di mana keran investasi sudah mulai masuk. Perusahaan-perusahaan bir masuk dan mengkapling kota-kota besar, industri garmen mulai membangun pabrik-pabrik raksasa mereka di daerah selatan, angka urbanisasi yang melonjak tajam dan tingginya jumlah pencari kerja, raksasa-raksasa perikanan mulai menancapkan kuku di pelabuhan-pelabuhan seiring tersingkirnya nelayan tradisional.

Itulah masa di mana Tran menjadi pijakan yang solid. Kerja tiga dekade yang ia lakukan dalam senyap menjadi salah satu pondasi yang mengantarkan Vietnam selamat ketika Thailand dihajar babak belur dan krisis di Indonesia bermuara pada mundurnya diktator paling berdarah pasca-Perang Dingin. Dua otokritiknya di masa lalu, digali kembali oleh generasi kontemporer yang betul-betul menyadari bahwa pembacaan yang tepat atas kondisi material dapat menolong sebuah bangsa.

Di Indonesia, hal yang bertolak belakang terjadi. Riset-riset PKI dibumihanguskan dan seluruh warisan pengetahuan mereka menjadi terlarang. Marxisme dianggap sebagai wabah. Sehingga ketika ponsel pintar semakin murah, masih banyak orang Indonesia yang percaya bahwa bumi itu datar. Di kampus-kampus terkemuka, Marxisme direduksi menjadi lelucon paling brutal ala Magnis Suseno.

Itu mengapa, ketimbang menggerutu, saya memilih menyajikan rusuk babi pedas sebagai perayaan merekahnya pengetahuan. Dengan bawang merah, bawang putih, lada, cengkeh, serai, jahe, bubuk merica, cabai, dan sedikit gula merah. Itu setelah rusuk babi yang direndam di air perasan jeruk bercampur garam, jahe dan taburan bubuk merica dipanggang setengah matang di atas api bernyala sedang. Sementara tumis kangkungnya, dimasak biasa ala kampung. Agar ingatan selalu terjaga.

Terlena Kopi di Hoi An

Ada banyak cara untuk terlena di Hoi An.

Kota ini memang indah. Mungil, tapi akan memikat hatimu hingga enggan beranjak. Bahkan jauh sebelum ditetapkan sebagai Kota Warisan Budaya oleh UNESCO pada 1999, Hoi An telah pandai mendulang simpati. Sejak abad 15 kota ini telah menjadi pusat perdagangan yang menjadi sela karena posisinya yang menghadap ke Laut Cina Selatan. Dahulu tempat ini termasuk wilayah Champa dan melayani lintas dagang dari Jepang, kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia hingga para pelaut Eropa.

Meski hanya seluas 60 kilometer Hoi An memiliki cukup ruang bagi para pelancong untuk melepas penat, mencari kesegaran atau merehatkan pikiran. Sebagai kota yang bertulangpunggung pariwisata, kota ini menata dirinya dengan keramahan penduduknya, keindahan masa lalu yang terawat, kuliner yang menggoda lidah, biaya hotel dan penginapan yang tergolong murah serta tentu saja warung-warung kopi dengan dominasi ragam robusta sebagai menu utama.

Di sini, kita dapat menikmati kopi sembari mengawasi hilir mudik orang-orang di Faifo (Kota Tua). Atau, memilih duduk di pinggir pantai dan memandangi orang-orang berenang di laut sambil memesan makanan di berbagai jenis restoran yang tersedia di sudut kota untuk kemudian dipungkasi dengan segelas robusta.

Iya, robusta dan bukan arabika. Seperti kota-kota lain di Vietnam, ini adalah jenis kopi paling populer dan umum disajikan. Negeri berhaluan komunis ini adalah penghasil biji kopi robusta kedua terbesar di dunia. Menjadi produk andalan ekonomi dalam negeri semenjak kopi diperkenalkan oleh penjajah Prancis di akhir abad 19.

 

Area pertama di seantero Vietnam yang ditanami kopi adalah Bien Hoa, yang terletak sekitar 30 kilometer ke arah timur dari Sai Gon. Daerah perkebunan ini dahulu dimiliki oleh sebuah perusahaan bernama Coronel Coffee yang dimiliki seorang insinyur berkebangsaan Prancis bernama Marcel Coronel. Setelah kemenangan pasukan merah dan unifikasi Vietnam, lahan kopi lalu dinasionalisasi oleh negara pada 1975 melalui pembentukan Vietnam National Coffee Corporation yang lebih populer dengan sebutan Vinacafe.

Menyebarnya robusta ke seantero Vietnam tidak lepas dari cerita kesuksesan Vinacafe melakukan ekspor perdana pada 1978. Melihat potensi pasar kopi di dunia internasional, pemerintah Vietnam melalui Kementerian Pertanian dan Industri Makanan, kemudian melalukan ekstensifikasi yang melibatkan tenaga ahli dan kelompok petani. Lahan-lahan pertanian di daerah pegunungan kemudian dikolektifkan untuk dijadikan lahan bisnis monokultur kopi. Vinacafe kemudian membangun unit-unit usaha pembelian yang berhubungan langsung dengan petani sekaligus menyediakan jasa konsultasi dan pendampingan untuk menjaga kualitas produk.

Pemerintah komunis ini juga melakukan proteksi terhadap mata rantai perdagangan kopi di dalam negeri. Kopi robusta impor yang masuk ke Vietnam dikenakan pajak progresif yang berimplikasi pada harga jual yang mahal dengan kualitas yang belum tentu sebanding. Hal ini membuat kedai-kedai kopi kecil di negeri lebih cenderung memilih membeli dan memperdagangkan kopi lokal sehingga mempengaruhi tren konsumsi kopi di dalam negeri.

 

Beberapa kali mengunjungi Hoi An, saya selalu singgah di satu kedai kopi di seputaran Kota Tua bernama Dive Faifo. Kedai kecil yang tidak jauh dari jembatan kuno Jepang yang tersohor di Hoi An. Tempat ini kala malam mengubah diri menjadi bar akustik. Di siang hari, selain menjajakan kopi, tempat ini juga merupakan penyedia jasa layanan wisata menyelam.

Pemiliknya adalah pasangan ekspatriat dari Prancis. Sang suami adalah seorang bartender yang juga membuka mobile bar di depan sebuah supermarket tidak jauh dari kedai kopi ini. Sementara istrinya adalah seorang penikmat kopi asal Lyon yang akhirnya jatuh cinta dengan Hoi An.

Dive Faifo mulai menjual kopi enam tahun lalu. Mulanya, kedai ini hanya menyasar para pelancong asal Eropa Barat atau Amerika Utara yang ingin menikmati kopi diseduh panas seperti Americano atau mencari Capuccino di pagi hari. Metode seduh dengan menggunakan Vietnam drip dan campuran potongan es (Cha Pe Da) bukan menu andalan karena mudah sekali ditemukan di kedai atau restoran lain. Lagipula menjelang akhir tahun ketika cuaca mulai dingin, sajian kopi dingin tidak terlalu diminati.

= = =

Tulisan ini tayang perdana di Minum Kopi

Huế Dan Dua Gelas Kopi Sebelum Pukul Tujuh

Viet Nam dengan kafe-kafe kopinya ibarat lebah yang berkerumun di sebuah kelopak bunga.

Di Huế, kota di mana saya tinggal, akan sangat mudah menemukan tempat bersantai dan menikmati secangkir kopi. Sepanjang kedua sisi Hương Giang (sungai yang harum) saja terdapat sekitar seratus warung kopi yang memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk singgah. Ingin duduk di bawah pohon yang teduh dan menikmati pemandangan sungai, atau mencari tempat duduk yang agak sepi, di bawah payung-payung plastik.

Saya dan istri saya memiliki satu kafe favorit di sana. Namanya Cam En. Letaknya tepat di tepi sungai, sebelah barat kota, berjarak sekitar dua puluh lima meter dari Festival Hotel.

Di Cam En ini kami biasanya memilih tempat di sudut sebelah kiri, di lokasi yang agak terpisah dari pengunjung lain. Sebuah meja dengan tiga kursi kecil kami duduk. Lokasi yang tepat untuk bercerita dengan bebas. Saling tersenyum, berpegangan tangan, dan sesekali berhenti untuk menyeruput kopi. Saya dengan segelas Ca phe da (kopi hitam), sedangan istri saya dengan segelas Ca phe sua da (kopi susu).

Kopi di Huế, seperti juga di kota-kota lain di Viet Nam, selalu disuguhkan bersama mangkok kecil berisi beberapa potongan es. Sementara gelas kopi ditudungi dengan penyaring berisi bubuk kopi yang sudah direndam air panas. Pelan-pelan air resapan kopi akan menetes di gelas. Setelah air dalam alat penyaring kering, kita dapat menambahkan potongan kecil es, sesuai selera. Saya biasanya menaruh dua potong.

 

Di Viet Nam, kopi mulanya diperkenalkan oleh Kolonial Prancis pada akhir abad ke 19. Perkebunan kopi pertama di negeri ini dibuka di sekitar An Nam. Jenis yang umum ditemukan kopi robusta yang ditanam di daerah dengan ketinggian 3.600 kaki.

Hari-hari ini, negara yang berkali-kali dikalahkan oleh Sylvester Stallone dalam film Rambo-nya, merupakan negara eksportir kopi terbesar kedua di dunia. Kisahnya, setelah perang berakhir pada pertengahan dekade 1990-an, pemerintah Viet Nam memulai intensifikasi penanaman kopi. Para petani mendapat subsidi, kemudian lahan-lahan pertanian itu mereka bekerja. Sarjana-sarjana pertanian diinstruksikan turun ke lapangan demi mendukung proyek.

Cara menyuguhkan kopi dengan penyaring tunggal untuk setiap gelas, merupakan taktik untuk menyiasati langkanya mesin pembuat kopi. Orang Viet Nam menyebutnya phin. Penyaring ini terdiri dari ruang penyaring (filter chamber), penekan saringan (filter press), cangkir pas (cup spanner) tentu saja tutup saringan.

Di Viet Nam banyak orang lebih suka menggunakan gelas kaca sebagai wadah tampung resapan kopi. Alasannya sederhana, dengan gelas kaca, kita dapat menyaksikan kopi yang jatuh perlahan. Kontemplatif, seperti rasa cinta dua pemuda yang tumbuh karena kebiasaan menghabiskan waktu bersama. Karena ini pula, seorang kawan saya berseloroh, minum kopi merupakan cara orang Viet Nam melupakan perang.

Cara membuat kopi ala Viet Nam cukup mudah jika tersedia phin. Langkah pertama adalah dengan meletakkan phin tepat di atas gelas kopi. Kemudian, serbuk kopi yang agak kasar dengan takaran secukupnya, dimasukkan ke dalam ruang penyaring (filter chamber) yang sebelumnya telah ditimpa dengan penekan saringan (filter press). Air panas kemudian dituang hingga hampir penuh, dan menutup saringan. Langkah terakhir, adalah menunggu sekitar lima hingga enam menit hingga air dalam saringan telah meresap dan menetes pindah ke dalam gelas.

 

Setiap pagi, istri saya selalu tidak pernah lupa menyeduh segelas robusta Viet Nam. Biasanya, setiap jam enam pagi, kami berdua akan duduk bersama di ruang tengah rumah kontrakan dan mencicip kopi.

Empat puluh lima menit kemudian, kami telah berpisah di simpang jalan menuju tempat kerja masing-masing. Maklum, aktifitas perkantoran di Viet Nam selalu dimulai pukul tujuh tepat. Minum kopi baru akan berlanjutkan ketika malam tiba. Duduk berdekatan, sembari memandangi kelip lampu warna-warni di jembatan Truong Tien.

Saat-saat seperti ini sering membuat saya sering rindu kampung halaman, lalu terus-menerus berjanji kepada istri, bahwa suatu saat nanti kami akan minum kopi berdua lagi: di Indonesia.

 

===

Tulisan ini tayang perdana di Minum Kopi