Gol Yang Dicetak Boaz

GOL.

Eksekusi penalti sukses. Indonesia unggul 2-1. Lalu Boaz Salossa berlari ke arah tribun di mana presiden Jokowi duduk. Dengan gaya mirip Balotelli, ia membuka seragam dan memamerkan kaos bertuliskan ‘Free West Papua!’.

Saat itu, kamera-kamera utama berebutan mencari sorot paling strategis. Lalu di layar besar di dalam stadion, adegan kaos terangkat itu diputar berulang kali. Dengan gerak lambat. Orang-orang menatap tidak percaya. Penonton di stadion, di kafe-kafe dan di rumah terhenyak dan kehilangan kata-kata. Komentator spekulan yang dibayar mahal oleh tivi cuma bisa menelan ludah. Setiap orang Indonesia yang menonton kemudian mengalami terapi kejut level paripurna. Antara percaya dan bermimpi. Di batas yakin dan ketidakmungkinan yang terlalu dominan.

Kemudian di barisan penonton, tampak satu dua orang mengibarkan Bintang Kejora.

Di samping Jokowi, para pejabat negara saling berbisik dengan gusar. Radio telekomunikasi polisi sibuk dengan lalu lintas perintah. Di pintu keluar stadion, beberapa tentara langsung berjaga. Lengkap dengan senapan. Petugas water canon langsung siap di balik kemudi. Mesin dipanaskan. Barracuda merapat dan polisi anti huru-hara segera apel singkat. Perangkat perang dikenakan. Penutup kepala, pentungan, jaket tebal dan sepatu lars.

Tito Karnavian, mantan Kapolda Papua bertangan besi, segera memberi perintah. Semua yang cukup waras pasti tahu bahwa situasi sedang tegang.

Wasit meniup peluit. Vietnam kalah selisih satu gol. Masih ada harapan ke final meski nanti di Hanoi menang tipis. Nguyen Van Quet berhasil menabung satu gol tandang. Penonton bubar dengan perlahan. Tiap orang tampak hati-hati.

Usai pertandingan, para jurnalis mengerubungi Alfred Riedl. Semua penasaran. Pertanyaan datang bergelombang, seperti Laut Aru di bulan Desember.

Boaz, yang malam itu diberi kehormatan sebagai kapten tim nasional juga dikejar untuk wawancara singkat. Tapi, laki-laki asal Sorong ini bergegas ke ruang ganti. Seperti para leluhurnya, para pemburu ikan di danau Ayamaru, ia menutup mulut. Berselibat dengan kebisuan. Sementara di belakangnya, Andik Vermansyah bergegas dengan langkah. Susul menyusul Kurnia Meiga, Hansamu Yama, Bayu Pradana, Rizky Pora dan Stevano Lilipaly. Semuanya menunduk dan tidak ada yang merespon pertanyaan media. Para waraney sepakbola ini seolah bersepakat menjalani senyap, seperti para pemburu babi hutan di belantara Borneo, Andalas, Celebes dan Niugini.

Di tempat-tempat nobar, desas desus muntah seperti seorang pemuda putus cinta yang kelebihan menenggak Sopi. Semua merasa tahu jawaban paling tepat. Tiap-tiap mulut merasa mengerti alasan Boaz melakukan hal paling mengejutkan dalam sepakbola Indonesia.

Besoknya, mulai dari koran, situs berita online, televisi, radio hingga acara gosip akan belepotan berlomba memberitakan peristiwa ini dari beragam sudut. Mulai dari yang masuk akal hingga basa basi konspirasi yang cuma bisa dimengerti hama wereng dan celeng.

Namun, sayang semua itu cuma andai-andai saya seorang.

Sebabnya, saat menyaksikan Boaz berlari merayakan gol dengan senyum lebar khas Melanesia, ingatan saya melayang kembali pada peristiwa beberapa hari lalu. Tanggal 1 Desember, di berbagai kota, sejumlah orang melakukan demonstrasi. Sebagian dari mereka ditangkap. Pawai damai dianggap berbahaya bagi NKRI.

Di Jakarta, di hari tersebut para pemberani dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) membuktikan mereka tidak jera. Tahun lalu, 306 partisan mereka ditangkap ketika melakukan unjuk rasa. Tapi kini, mereka kembali dengan keberanian berlipat. Solidaritas setara mereka dapatkan dari saudara-saudara Melayu yang menamakan diri Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-West Papua). Beberapa tempat, serempak, bergerak. Seperti ikan herring yang bergerak dengan kecerdasan swarm. Berputar, berkelit dan berselancar di pusaran arus.

Di banyak tempat, terutama di kota-kota di Papua, aksi ini berakhir anti-klimaks. Seluruh peserta di Batavia memutuskan untuk diboyong ke kantor polisi ramai-ramai setelah 4 orang terlebih dahulu ditangkap. Sedangkan belasan lain ditangkap di Yogyakarta.

Seorang kawan mengunggah gambar di media sosial. Memamerkan momen bagaimana meriam air ditembakkan ke arah anak-anak muda Papua yang sedang melatih keberanian menjadi manusia merdeka. Alih-alih terprovokasi, anak-anak Papua ini justru menari seperti Cendrawasih sedang bahagia. Kaki-kaki mereka melompat berirama mengiringi keberanian luar biasa yang membuat polisi gemetar.

Sepasang kaki dari tiap mereka adalah kaki yang sama dengan yang digunakan Boaz untuk berlari menggiring bola dan mencetak gol kemenangan. Tulang-tulang kaki anak Papua.

Yang ditempa bukit-bukit menawan. Kecantikan perawan yang mengundang para penyamun datang, menggagahinya hingga hamil emas. Perutnya dibelah, dilubangi dengan kasar, setelah pohon-pohon Merbau terbaik disingkirkan. Yang digadaikan terlebih dahulu kepada Freeport bahkan ketika Papua belum sah sebagai pengantin Indonesia.

Otot betis anak-anak Papua adalah prasasti bergenerasi bagaimana sagu menjaga hidup selalu rendah hati. Hutan sagu tanda mata dari leluhur kini terancam punah karena perkebunan sawit merajalela, permintaan bubur kertas dan kayu olahan menyetir penguasa, sementara mereka diajari makan beras. Pohon-pohon sagu yang menjadi jembatan dengan para leluhur dan masa lalu dirobohkan untuk jalur kereta dan jalan raya.

Songsong masa depan dan jangan menoleh ke belakang. Begitu cara Jakarta mendikte Papua.

Cara Boaz mengatur irama nafas adalah refleksi bagaimana orang Ayamaru, seperti suku-suku lain di Nuigini, menjaga rima agar tak salah langkah. Bagaimana dahulu leluhur mereka berlari dengan kaki telanjang di hutan belantara. Mengejar rusa, kangguru dan babi hutan sembari menggotong kebijaksanaan soal cara menjaga titipan hutan. Titipan Tuhan.

Dua bola mata yang menatap tajam ke arah gawang sebelum menendang, dengan mudah dapat mengingatkan kita dengan burung-burung liar Papua di rimbun pohon. Yang kini satu-satu tumbang dan jadi bahan seludupan. Sebagian lain diburu sebagai hiasan. Menempel di tembok-tembok.

Gol yang dicetak Boaz adalah gol di bulan Desember. Di antara perayaan 55 tahun kemerdekaan yang terlarang dan anak-anak Paniai yang tumbang di ujung senapan. Gol yang dicetak Boaz membantu satu kaki timnas berada di final. Sementara handai taulannya di Papua ditangkap, dipukuli, dipenjara bahkan dibunuh hanya karena ingin merdeka. Gol yang dicetak Boaz adalah gol penentu kemenangan. Memberikan Indonesia kebanggaan setelah hampir setengah abad mengencingi Papua. Gol yang dicetak Boaz adalah keriangan dari Sabang sampai Ternate. Karena dari Misool sampai Merauke, orang Papua sedang berjuang agar tidak punah sebelum merdeka.

Sembilan puluh menit usai.

Wajah murung Nguyen Manh Tran yang menyesal gagal memblok pinalti, stadium yang bergemuruh bahagia, penonton di rumah yang sumringah, Jokowi yang merasa kedatangannya tak sia-sia, dan para komentator yang paling paham segalanya. Kegembiraan itu menenggelamkan kita semua.

Seperti Paniai, kita semua seperti lupa bahwa pahlawan malam ini adalah seorang Papua. Yang dihina sebagai monyet, dipandang terbelakang, dianggap kumuh, dinilai tidak berpendidikan, diyakini tidak bisa menentukan nasib sendiri sehingga gampang disetir oleh asing. Mereka yang belum terlalu dewasa sehingga belum saatnya mengeja-eja merdeka di hadapan bangsa besar namun pengecut di hadapan masa lalunya.

Lalu, usai membaca tulisan ini sebagian besar orang akan jijik karena politik seharusnya tidak dikaitkan dengan sepakbola.

* * *

Tulisan ini pertama kali tayang di IndoProgress

Sport #00: Xavi Simons

Mungkin kurang dari satu dekade. Jika prediksi ini benar, sekitar enam atau tujuh tahun lagi para pendukung Barcelona akan menyambut pemain muda dengan talenta luar biasa.

* * *

Saya menemukan video final La Liga Promises 2015 secara tidak sengaja. Awalnya, hanya melihat cuplikan-cuplikan video tentang remaja-remaja yang dianggap memiliki bakat istimewa dalam sepakbola. Hingga kemudian, YouTube mengarahkan saya ke tautan di bawah ini.

Ada rasa penasaran tentu saja.

Pertama, ukuran badan anak ini terlampau kecil jika dibanding dengan susunan pemain Valencia yang turun sejak menit pertama. Kedua, ban kapten yang melekat di lengan kirinya. Lalu gaya rambut pirang berombak dengan seragam Barcelona, mau tidak mau membuat saya membayangkan Carles Puyol. Terakhir adalah gaya bermain dan stamina yang ia tampilkan selama pertandingan.

Bocah tersebut adalah anak laki-laki Regillio Simons, seorang mantan pemain bola yang pernah membela NAC Breda, Willem II dan ADO Den Haag. Kecuali Kyoto Purple Sanga, Simons senior menghabiskan karirnya di tanah Belanda. Sebab ia memang terlahir dan tumbuh besar di negeri itu. Prestasinya tidak terlalu gemerlap. Setelah pensiun, Simons kemudian memilih menjadi pelatih. Kini ia bekerja di akademi milik Ajax Amsterdam.

Meski berkebangsaan Belanda, Regillio jatuh cinta dengan Barcelona. Terutama Xavi Hernandez. Seorang pengatur serangan, sosok sentral di tengah lapangan Barcelona maupun tim nasional Spanyol. Terkenal sebagai pengumpan kelas wahid. Disegani karena ketenangan dan kharisma sebagai pemimpin di dalam lapangan. Kecintaan itu menemukan manifestasi tahun 2002. Anak pertama Regillio lahir. Tanpa ragu, ia memberi nama Xavi.

Tiga tahun kemudian, bersama keluarga kecilnya, Regillio hijrah ke Alicante, Spanyol.

* * *

Xavi Simons baru berumur 12 tahun ketika La Liga Promises dilangsungkan di Miami, Desember 2015. Ia berhasil membawa timnya hingga ke babak final. Di partai pamungkas, mereka menaklukkan Valencia. 4-3 untuk kemenangan Barcelona. Xavi memang tidak mencetak gol. Tapi bukan itu inti masalahnya.

Ia tentu saja spesial dan punya bakat besar. Talentanya bahkan telah berhasil menggoda Chelsea untuk menawarkan pindah ke London dan meninggalkan La Masia. Kabarnya, bujuk rayu ini sudah berlangsung sejak tahun lalu. Tapi selalu ditolak oleh Regillio. Ia ingin Xavi mendapatkan waktu untuk berkembang dan belajar lebih banyak soal sepakbola. Untuk itu, Regillio meyakini bahwa sistem pengkaderan pesepakbola milik Barcelona jauh lebih baik dari klub kepunyaan Roman Abramovich.

Turnamen La Liga Promises memang jadi ajang pencarian bakat muda untuk kemudian dididik lebih lanjut di akademi-akademi sepakbola. Andres Iniesta diboyong Barcelona setelah tampil memukau dengan seragam Albacete di kejuaraan ini.

Perjalanan bocah ini sebenarnya telah terentang jauh sebelum turnamen ini digelar. Di umur 6 tahun, Xavi Simons telah berhasil memukau Villareal. Sayang ia terlalu muda untuk bermain di tim kategori umur yang mensyaratkan batas minimal 9 tahun. Kegagalan itu tidak lama. Seminggu kemudian, Barcelona datang dan menawarkan Regillio beasiswa belajar bagi Xavi. Di umur 7 tahun, Xavi resmi bergabung dengan Barcelona dan menjalani pendidikan formalnya di La Masia.

Tidak butuh waktu lama bagi Xavi untuk menjadikan dirinya topik hangat pembicaraan para pencari bakat di seantero Spanyol dan daratan Eropa Barat.

Berposisi sebagai gelandang jangkar, dibekali stamina tinggi, daya jelajah yang luas dan kecerdasan dalam mengatur permainan. Tidak salah jika tim seperti Real Madrid, Celta Vigo, Atletico Madrid hingga PSV Eindhoven telah menyatakan tertarik meminang bocah ini. Apalagi ketika ia memboyong piala Most Valuable Player (MVP) seusai La Liga Promises berlangsung.

Di lapangan, Xavi tampak begitu dewasa. Jago melakukan tekel sebagai cara untuk mengimbangi kelemahan dalam duel udara. Ia pandai mencari posisi dan membuka ruang sebelum mengalirkan bola. Akurasi umpannya mencapai 89% dan menjadi yang tertinggi selama turnamen. Xavi juga bermain penuh dalam empat pertandingan, dan hanya satu kali saja ditarik keluar. Itu sebabnya ia mengantongi menit bermain paling banyak di antara kawan-kawan timnya.

Sang ayah kepada Daily Mail mengatakan bahwa ia telah menerima tawaran dari banyak orang yang ingin menjadi agen dan mewakili Xavi. Mereka menawarkan peralatan olahraga hingga jumlah uang yang tergolong besar untuk bocah berumur 12 tahun. Jumlahnya bahkan berlipat ganda setelah Xavi sukses memimpin Barcelona menjadi juara La Liga Promises untuk kali ke 5 sepanjang 20 tahun penyelenggaran turnamen ini.

* * *

Saat Barcelona merengkuh treble winners di akhir musim 2014-2015, momen itu juga menjadi tanda perpisahan dengan Xavi Hernandez. Maestro dan jendral lapangan tengah oleh pihak manajemen tidak lagi diperpanjang kontraknya dan kemudian menyepi ke Timur Tengah. Sebagai gantinya, Barca memboyong Arda Turan.

Alasannya jelas.

Hijrahnya Xavi dari Catalan dan semakin uzurnya Iniesta juga menyodorkan pertanyaan penting tentang siapa “anak kampung” yang akan menggantikan posisi keduanya. Sergio Busquet adalah tipe gelandang bertahan yang sama sekali memiliki karakter berbeda.

Mereka butuh pemain dengan visi dan kemampuan untuk mendikte permainan. Memiliki akurasi umpan yang baik dan kecerdasan untuk mengubah jalannya permainan. Setelah Xavi, Barca memang masih punya Andres Iniesta. Tapi cedera yang semakin sering mampir dan umur yang beranjak tua jadi alasan logis. Pindahnya Thiago Alcantara yang awalnya didaulat sebagai pemegang tongkat estafet jendral lini tengah memang menyisakan masalah. Thiago malah memilih menyeberang ke Bayern Munich menerima tawaran Pep Guardiola. Peristiwa yang membuat Barcelona tidak lagi memiliki pemain dengan tipe sejenis. Sergi Roberto dan Rafinha sudah terbukti tidak berada di level yang sama. Itu juga alasan mengapa Ivan Rakitic ditebus dari Sevilla awal musim 2014-2015.

Klaim bahwa La Masia adalah produsen pemain-pemain terbaik kini sedang ditantang.

Misal, setelah Victor Valdez memilih tidak memperpanjang kontrak, Barcelona bahkan tergopoh-gopoh memboyong dua kiper sekaligus. Kebijakan transfer ini menunjukkan bahwa La Masia tidak mampu menelurkan penerus Valdez di bawah mistar.

Di barisan pertahanan, setelah Puyol pensiun, Barca total hanya punya Pique dan Jordi Alba sebagai alumni akademi yang bermain reguler. Ada juga nama Aleix Vidal. Namun penting dicatat, ketiganya diboyong pulang dengan harga yang tidak murah setelah sukses di klub lain. Marc Bartra harus melatih kesabaran dan menahan keinginan sebagai pelapis Javier Mascherano karena Jeremy Mathieu dan Thomas Vermaelen kadung dibajak oleh kepanikan manajemen. Nasib lebih naas dihadapi Martin Montoya yang kini sedang berjuang membuktikan diri bahwa pembelian Douglas adalah sesuatu yang keliru. Lihat kasus Hector Bellerin yang bersinar di Arsenal.

Di lini tengah, masih ada Denis Suarez yang permainannya semakin membaik bersama Sevilla. Juga nama Alen Halilovic yang dibajak dari Dinamo Zagreb, namun kini sedang merajut harap bersama Sporting Gijon. Mungkin Thiago Alcantara bisa ditawari pulang jika Guardiola habis perkara di Muenchen. Syaratnya, jangan sampai Thiago diperlakukan seperti Fabregas.

Untuk barisan penyerang, Barcelona paling royal dan La Masia akhirnya tampak tak becus. Bojan Krkic dan Pedro Rodriguez bahkan harus menyingkir untuk memberi jalan bintang-bintang berharga mahal yang diboyong ke Camp Nou. Meski memang ada nama-nama seperti Gerard Deulofeu yang telah dijual ke Everton dan justru makin tajam. Klausul pembelian kembali oleh Barcelona masih berlaku untuk dua tahun ke depan. Nasibnya tak jauh dengan Adama Traore di Aston Villa. Tiga tahun adalah kesempatan bagi Barca untuk menimbang layak tidaknya ia pulang. Christian Tello juga kini sedang mengembangkan diri di Fiorentina.

Namun nama-nama itu akan percuma jika sekedar jadi penghangat bangku cadangan. Bukan tidak mungkin Sandro Ramirez dan Munir El Haddadi juga akan bosan dan memilih pergi dalam waktu dekat jika terlalu sering hanya menonton dari pinggir lapangan.

Jika perilaku ini terus berlangsung, maka La Masia tinggal dongeng masa lalu semata dan para pendukung Barcelona harus mulai belajar menutup mulut. Dan itu berarti  saatnya bagi Xavi Simons meminta ayahnya agar mempertimbangkan tawaran klub lain.

Tapi jangan Chelsea. Itu pilihan kampret soalnya.