Hiphop dan Hal-hal Yang Tidak Akan Dimengerti Martin Suryajaya

I

Taksi yang saya tumpangi berhenti tepat di depan gerbang kantor. Saya segera bergerak cepat menurunkan barang-barang bawaan. Sementara, seorang perempuan tampak beringsut malas keluar dari taksi, lalu membuntuti saya dari belakang. Dua menit kemudian, taksi tersebut sudah menghilang pergi setelah pembayaran dilunasi.

Jam enam pagi di hari Natal. Dan tangan saya sedang merogoh ke celah sebuah sudut untuk mencari kunci pintu kantor.

Wajah perempuan di samping saya tampak pucat. Sekitar empat puluh menit yang lalu, saya harus menadah semburan muntahannya agar tidak mengotori lantai taksi. Mobil terpaksa menepi dan aspal jalan tol menjadi sasarannya. Ini adalah 25 Desember paling melelahkan bagi kami berdua.

Kemarin pagi, di jam yang hampir sama, kami berdua terbangun di sebuah kontrakan sederhana di Hue. Pagi tersebut, hari diawali dengan pelukan, kecupan dan dua mangkok mie khas Hue yang terkenal dengan potongan besar daging babi. Lalu menjalani dua jam penerbangan ke Sai Gon, menunggu tiga jam, berganti maskapai menuju Kuala Lumpur yang menghabiskan waktu empat jam, menghabiskan lima jam berikutnya di Malaysia, menahan kecewa karena perbangan yang terlambat hampir satu jam, sebelum terbang menuju Jakarta dan tiba dini hari untuk mendapati fakta bahwa penerbangan kami berikutnya tidak lagi menerima penumpang karena sedang siap lepas landas. Kami berdua terlambat.

Upaya untuk melakukan komplain gagal total. Maskapai yang kami gunakan dari Kuala Lumpur menyangkal dan enggan bertanggung jawab. Saya sejak awal telah menduga hal ini bakal terjadi. Percuma saja ribut. Buang waktu dan buang tenaga.

Kembali ke kantor adalah opsi paling logis dari beragam ide yang muncul di kepala. Lokasinya strategis. Dekat dengan apotik yang buka 24 jam, warung mie ayam yang selalu buka pagi hari, tivi kabel dengan lusinan kanal, koneksi internet yang lancar dan sebuah sepeda motor. Saya butuh semua itu.

Lagipula, ada kamar berukuran kecil di kantor yang dapat digunakan untuk berbaring. Ia bisa menonton serial Korea kesukaannya sembari berbaring memulihkan tenaga. Saya juga bisa membuatkan segelas teh manis untuknya. Lalu bisa kembali merumuskan bagaimana tidak secara naas terkurung di Jakarta.

Itulah sebabnya, saya membutuhkan kunci untuk membuka pintu kantor.

Dan semuanya berjalan sesuai rencana. Segelas teh manis, plus sirup tolak angin, semangkok mie ayam yang masih hangat, dan laptop yang sedang memutar serial Korea. Saya kemudian memintanya agar mencoba tidur barang sejenak selesai sarapan. Ia butuh memulihkan tenaga. Jakarta bukan destinasi akhir. Tiket pengganti baru saja dipesan dan sore nanti, kami berdua akan meninggalkan kota ini.

Setelah menyelimutinya, saya memilih menuju meja kerja yang sudah dua bulan terbengkalai. Rehat panjang setelah riset melelahkan di Papua. Penelitian yang tidak hanya menyedot energi dan menggerogoti fisik, tapi juga menggerus mental. Tapi juga sekaligus menguatkan rasa muak terhadap nasionalisme penuh darah a la tentara.

Di atas meja kerja yang tampaknya luput dibersihkan oleh office boy kantor, ada beberapa paket kiriman dan surat yang menumpuk rapi. Paket-paket ini berisi buku yang sebagian merupakan timbal balik apresiasi karena menulis untuk Minum Kopi. Ada juga kiriman dari beberapa toko buku online yang saya temukan melalui Instagram, kardus kecil dari Verso Books, sebuah bingkisan dari Amsterdam yang berisi empat buku dan kiriman versi cetak Jacobin Magazine dua edisi terakhir. Barang-barang ini yang sering membuat saya selalu kekurangan uang.

Tapi ada satu paket lain yang tampak asing. Kiriman buku dari Grimloc Records. Isinya? “Setelah Boombox Usai Menyalak”.

 

II

Dua puluh delapan tulisan, jika tulisan pengantar juga dihitung.

Dan sudah selayaknya dipandang sebagai bagian yang tidak terpisah dengan dua puluh tujuh artikel lain yang dianggap menjadi konten dari buku 230 halaman ini. Alasannya sederhana. Sebagai pengantar yang emosional dari kumpulan catatan yang ditulis dengan pendekatan orang pertama, apa bedanya?

Ini mungkin adalah bagian paling mengganggu di buku ini menurut saya. Lebih tampak sebagai epilog, catatan dengan judul “Setelah Boombox Usai Menyalak” justru dianggap prolog dan berakhir konyol dengan penempatan di bagian awal buku. Ia membunuh gairah menikmati buku ini secara prematur. Aborsi dengan cara paling brutal. Padahal, pengantar dari Taufiq Rahman sudah lebih dari cukup. Pengantar itu sendiri menurut saya adalah penjelasan panjang lebar yang di beberapa bagiannya seharusnya dipangkas karena overdosis. Sebagai pembaca, saya meyakini memiliki hak eksklusif untuk tidak diharuskan menderita dengan mendapatkan penjelasan sejak awal mengapa kompilasi catatan ini hadir. Bertubi-tubi. Dari editor dan langsung dari penulisnya.

Efek merusaknya persis seperti hadir di peragaan busana, mendengarkan seorang pembawa acara mengoceh terlalu lama di awal acara, membuatmu mengantuk, muak dan akhirnya menghabiskan waktu dengan bermain ponsel. Lalu ketika penderitaan itu berakhir dan kau mengira dunia akan beranjak lebih baik, si pembawa acara yang mengesalkan itu memaksa si perancang busana tampil ke panggung dan menjelaskan segala tetek bengek soal ragam rancangannya sebelum para model naik ke atas panggung.

Error ini fatal. Kecuali, jika kita menganggap pengantar adalah bagian tidak penting dari sebuah buku. Persis seperti buku-buku kuliah kebanyakan di mana bagian paling awal adalah seksi yang tidak akan ditengok karena membosankan. Namun, tidak bagi saya. Membaca bagian pengantar atau prolog adalah pemanasan yang tepat sebelum melahap isi sebuah buku. Jadi, wajar jika saya protes bukan?

Sebabnya, sejak awal saya membayangkan “Setelah Boombox Usai Menyalak” sebagai sebuah album yang berisi lagu-lagu terbaik seorang Morgue Vanguard. Seorang penulis yang bertahun-tahun lalu saya temukan melalui Lyssa Belum Tidur, lalu melalui Gutter Spit sesudahnya. Maka trek pertama yang ingin saya dengar adalah letupan yang akan menarik saya lebih jauh untuk berselancar.

Dan “Bapa” adalah kisah pembuka yang cocok. Namun menutupnya dengan cerita soal skena hardcore di Belanda?

So, Dirty ‘Rap’ Herry, can you ask the editor to put it on the last page next to your profile? It was so distracting and it does killed the joy.

Kebingungan saya berikutnya adalah pertanyaan apakah editor dan penulisnya sengaja mengacak urutan artikel-artikel di dalam buku ini sehingga tampak tidak terhubung?

Semisal, keping soal “10 Lagu Protes Lokal Terbaik” yang diletakkan di halaman 53. Sangat berjarak dengan “Mixtape Boikot ‘Bela Negara'” di halaman 133 dan “15 Album Hip Hop Paling Penting di Dekade Pertama 2000” yang ada di halaman ke 173. Yang jelas, susunannya tidak kronologis jika kita mengacu pada keterangan tambahan “Daftar Tulisan” di bagian belakang buku.

Saya bertanya-tanya, apakah tidak terpikir bagi editor dan penulisnya untuk setidaknya menempatkan tulisan-tulisan ini ke dalam sub tema tertentu jika memang urutan tahun terbit tidak masuk sebagai pertimbangan? Atau, orang-orang yang bertanggungjawab di balik penerbitan buku ini berkeinginan untuk menampilkan semacam citra ketidakberaturan? Apakah mereka sedang berupaya merefleksikan chaos dengan urutan yang sim salabim? Mungkinkah, pengaturan yang tidak beraturan itu karena penerbit dan editornya terpengaruh dengan citra penulisnya yang dikenal sebagai anarkis? Sehingga membuat buku ini juga mesti ditata secara “anarkistik”?

Saya berharap dugaan-dugaan ini secara keseluruhan salah besar. Sebab, untuk buku yang memiliki konten sebagus “Setelah Boombox Usai Menyalak”, saya -jika menjadi editor- tidak akan melakukan hal-hal di atas. Sebaliknya, akan lebih menolong bagi para pembaca jika seluruh tulisan di dalam buku ini dipilah ke dalam tiga topik utama.

Pertama, adalah tulisan-tulisan yang terkait dengan persona-persona di dunia musik yang menjadi inspirasi dan tulang punggung cerita. Semisal, dua obituari tentang Adam Yauch dan Matt “Doo” Reid dan bagian soal Andry Moch. Sub tema kedua adalah soal interpretasi dan refleksi personal seorang Herry Sutresna tentang dunia di sekitarnya. Misal tulisan “Making Punk A Threat Again” dan “Suara Rakyat Bukan Suara Tuhan”. Bagian ketiga misalnya -yang akan menjadi menu utama- adalah satu subbab yang berisi review-review sosiohistoris mengenai album atau sebuah band. Bagian ini akan lebih padat ketimbang yang lain karena sebagian besar tulisan di dalam buku ini berada dalam warna dominan tersebut. Di bagian terakhir, sebagai pencuci mulut, pembaca dapat disuguhkan mixtape atau top ten ala Ucok.

Dengan pembagian tersebut, penulis, editor dan penerbit setidaknya sedang berupaya bermurah hati kepada para pembaca yang datang dari sebuah negeri yang gemar membakar dan melarang buku.

Secara fisik, saya menyukai sampul buku ini. Minimalis tapi sarat pesan. Ia tidak norak atau berupaya terkesan misterius. Tapi sudah lebih dari cukup untuk terus mengundang selera membaca. Bagian lain yang juga nilai lebih dari buku ini -di luar konten- adalah absennya ISBN seperti yang umumnya tercantum di buku-buku terbitan lain. Ucok pasti sengaja meniadakan hal ini. Dan dengan begitu, ia semacam melakukan provokasi soal apa itu copyleft dan redefinisi mengenai penerbitan indie. Kritik yang implisit semacam ini bukan milik ekslusif Elevation Books atau Ucok, namun menemukannya dalam buku sebagus “Setelah Boombox Usai Menyalak” membuat seorang pembaca seperti mendapatkan hadiah Natal yang datang berulang.

 

III

Selain mixtape tentang bela negara, dan lagu-lagu pilihan Ucok -entah sepuluh, lima belas atau seratus-, tulisan-tulisan di buku ini membekas bagi saya. Beberapa di antaranya bahkan memiliki rasa candu yang membuatmu ingin membacanya berulang kali. Sebagian lain, membuatmu ingin menelisik lebih jauh dari sekedar apa yang ia terangkan di dalam tulisannya.

Harus jujur diakui, Ucok adalah salah satu penulis sosial-politik terbaik yang dimiliki Bandung -yang cukup produktif menulis dalam satu dekade terakhir. Dan ia memilih musik sebagai pintu masuk. Tulisannya sangat personal, enak dibaca, mengalir dan memberikan sudut pandang yang enggan berjarak. Berbeda dengan kebanyakan penulis tentang musik yang datang sebagai outsider, Ucok adalah seorang pelaku dan memiliki lebih dari cukup pengalaman sebagai pegiat komunitas musik bawah tanah.

Pembeda lainnya -dan yang paling signifikan- adalah kenyataan bahwa Ucok dilengkapi dengan horizon bacaan yang luas. Pengetahuan Ucok mengenai Marxisme dan anarkisme harus diakui menjadi faktor paling signifikan dalam interpretasinya mengenai hiphop. Namun di tangan Ucok, dua kutub ideologi tersebut -yang bagi banyak orang adalah musuh abadi- terbukti efisien dan efektif untuk digunakan sebagai perangkat analisis. Keduanya secara cerdik digunakan mengurai dari Goodspeed You! Black Emperor, Downset, Scritti Politti dan Public Enemy. Di dalam “Setelah Boombox Usai Menyalak”, Ucok seperti sedang memamerkan dirinya dengan cara yang sangat elegan sebagai manusia yang tidak tunduk pada ideologi, tapi sebagai penguasa ideologi. Ia seperti sedang mengejek orang-orang di luar sana -yang mengaku Marxis atau anarkis, namun terjebak dalam kacamata kuda hingga begitu kaku, membosankan dan pada akhirnya menjadi gerombolan fanatis.

Jika mayoritas Marxis adalah para pembenci anarkisme yang tidak ilmiah, dan sebagian besar anarkis adalah mereka yang bahkan tidak tuntas membaca Das Kapital dan Grundrisse, maka Ucok seperti berada di level seperti para Situationiste -saya bahkan berani bertaruh bahwa grup ini justru adalah salah satu sumber inspirasi dominan dalam perjalanan intelektual seorang Harry Sutresna. Posisi semacam inilah yang mungkin tidak akan pernah bisa dimengerti oleh Martin Suryajaya. Imajinasi-imajinasi politik seperti yang ditawarkan oleh Ucok dalam praktik politik dan tulisan-tulisannya -yang mau tak mau membuat saya teringat bagaimana para Situationiste hanya dianggap sebagai sekumpulan seniman gila- sulit untuk dikerangkeng dalam dogma-dogma Marxisme ortodoks.

Agak sulit tampaknya membayangkan Martin yang begitu sinis dengan pemikiran dan praktik Otonomia –dan tentu saja anarkisme secara keseluruhan– mampu mengerti soal praktik yang otonom, desentralis namun terhubung dalam sebuah jaringan organik -sesuatu yang secara tidak langsung tampak begitu jelas diadvokasikan dalam tulisan Ucok. Menuduh orang-orang -seperti Ucok- sebagai mereka yang tidak bisa membedakan antara menggalang revolusi dan pergi piknik, itu semata-mata karena Martin abai terhadap asal-usul materialis dari pemikiran orang-orang seperti Ucok. Tipe yang mengalami fase radikalisasi tidak hanya dari diskusi-diskusi panjang dan melelahkan di ruang kelas -yang umumnya hanya dipenuhi mahasiswa-mahasiswa sok herois, sok humanis, sok humanis- atau berasal kamar hangat seorang filsuf ‘radikal’. Sebaliknya -seperti yang tercatat dalam “Setelah Boombox Usai Menyalak”, Morgue Vanguard adalah sosok yang lahir dari kombinasi dari pengalaman membenturkan literatur dengan aktivitas harian di jalanan, jatuh bangun pengorganisiran warga atau pentungan aparat.

Martin, juga mungkin tidak akan bisa mengerti sepenuhnya mengapa Ucok -yang adalah seorang punk- mengambil posisi yang sangat berbeda dan justru menulis kritik kepada punk di Aceh.

Pemahaman akan hal seperti ini hanya akan bisa muncul jika Martin paham mengenai dinamika komunitas punk di Indonesia.

Bagaimana rasanya mendapati banyak punk adalah orang-orang yang sangat nasionalis. Nasionalisme -sebuah keyakinan yang menempatkan negara-bangsa sebagai poros dan metamorfosis puncaknya adalah fasisme- tidaklah dilihat sebagai aib. Yang paling bisa dimaklumi adalah kenyataan bahwa injeksi tentang ideologi ini telah dimulai ketika seseorang bahkan belum layak berada di bangku sekolah dasar. Dari umur yang sangat muda, kita telah dipertontonkan dan tak jarang dilibatkan dalam ritual-ritual nasionalisme. Proses ini dilakukan hampir begitu sempurna hingga membuat seseorang sangat sulit menerima fakta bahwa negara melakukan kesalahan. Ada beberapa pengecualian. Namun hanya dalam kasus-kasus tertentu yang jumlahnya sangat minor.

Itu setidaknya bisa menjelaskan mengapa seorang punk terlibat begitu semangat dengan euforia 17 Agustus -yang tak jarang dihelat di puncak gunung, di tepi danau, di pantai, atau bahkan mungkin di lingkungannya sendiri. Itu biasa.

Ini bukan tanpa sebab. Karena memang hal ini diwariskan. Ideologi ini direproduksi dengan sempurna di mayoritas skena-skena punk itu sendiri. Ia dihidupkan dalam praktek dan diajarkan oleh generasi yang satu kepada generasi berikut. Direplikasi dan terus menerus diperbaharui dengan argumen-argumen baru yang sebenarnya penuh borok. Kita misalnya akan dengan mudah menemukan lirik lagu-lagu punk yang kental dengan semangat nasionalisme. Hal itu bukan dilakukan tanpa sadar. Karena tentu saja sebuah lagu bukan hasil dari ketidaksengajaan atau kecelakaan waktu. Sebuah lagu merupakan ekstraksi dari isi kepala penulis dan komposer lagu tersebut. Setiap kata telah melalui seleksi ketat dalam otak melalui proses kognitif sebelum terangkai. Karena itu lagu bukan produk sim sala bim. Setiap lagu merupakan produk historis yang memberi penjelasan tentang si penulisnya.

Kritikannya terhadap peristiwa penangkapan di Aceh dan respon punk di daerah lain menunjukkan bahwa Herry Sutresna adalah seorang penjudi yang baik. Untuk berjudi, diperlukan dua hal: tahu dan berani. Seorang penjudi yang baik adalah seseorang yang tahu dengan benar apa yang sedang dihadapinya dan konsekuensi yang bakal menjadi ganjaran. Di saat yang bersamaan ia juga mesti berani untuk mempertaruhkan semua yang ia miliki.

Saya berani mengatakan bahwa kebanyakan punk di Indonesia tak punya itu. Mereka tak tahu dan tak berani.

Sebab untuk tahu sesuatu, seseorang mesti berani melakukan pengorbanan. Mengorbankan waktu, uang, relasi sosial dan bahkan cinta. Untuk mendapatkan pengetahuan, seorang punk mesti menantang diri sekaligus menerima tragedi dengan tangan terbuka. Agar seseorang berani melakukan itu semua, ia mesti tahu dengan dirinya, lingkungan sosial dan alam di sekitar dirinya. Dia mesti mengenali apa kebutuhan, kemampuan dan batas-batas imajiner lain yang akan dilampaui. Tanpa itu semua, seperti menuju medan pertempuran tanpa persiapan dan senjata.

Tahu dan berani adalah proses yang berjalan beriringan dan mesti dihentak bersamaan geraknya. Jika hanya menyalakan salah satu, imbalansi yang akan menjadi hasil. Memiliki pengetahuan tetapi penakut atau kemudian menjadi pemberani tanpa pengetahuan. Jika orang dengan ketidakseimbangan seperti itu menghadapi perang, tentu saja ia berakhir menyedihkan.

Menurut saya, itulah yang menjadi alasan mengapa seorang Morgue Vanguard memiliki interpretasi yang unik terhadap ideologi-ideologi tersebut -yang pada akhirnya menjadi marka pembeda dirinya dengan kebanyakan penulis musik di Indonesia yang kering dan tampak mirip satu dengan yang lain. Ia memiliki cara bertutur yang khas. Dalam “Setelah Boombox Usai Menyalak”, kita bisa menemukan dengan jelas hal tersebut. Bagaimana seorang Herry Sutresna dengan jeli memilih untuk menulis secara kronik dan tidak luput mengurai soal iven-iven sosial di seputaran musisi, lagu atau sebuah album. Pengetahuan dan kedalaman analisis yang dimilikinya adalah sesuatu yang direngkuh dengan pengorbanan yang tentu tidak murah dan tanpa harga.

Faktor lain yang membuat buku ini berbeda bagi saya adalah deklarasi tanpa malu-malu “Setelah Boombox Usai Menyalak” untuk mengambil sebuah posisi. Berbeda dengan dogma akan netralitas yang menjangkiti kebanyakan penulis musik di Indonesia, Ucok tidak berpura-pura atau menyangkal bahwa musik yang ia dengar -dan kemudian memprovokasi musik yang ia hasilkan di kemudian hari- adalah produk yang absen dari pertikaian-pertikaian sosial dan pertentangan kelas. Semuanya terang benderang tampak di setiap artikelnya. Kadang, dalam tulisannya secara implisit Ucok sedang mempromosikan musik yang lahir dari latar belakang seperti ini.

Bagi saya, dalam buku ini Ucok seperti sedang mengkomunikasikan kepada para pembaca bahwa musik yang mengingkari eksisnya pertikaian-pertikaian sosial di sekitarnya, adalah produk yang hampa: tak berjiwa. Tapi di saat yang bersamaan juga menekankan bahwa hal tersebut tidak sinonim mengenai keharusan agar musik dikemudikan oleh propaganda politik murahan -yang pada kebanyakan kasus justru memiliki efek merusak maksimal hingga sebuah produk seni menjadi semacam rapalan dogmatis yang terdengar seperti sirene bangun pagi di barak tentara.

Hal-hal di atas membuat tulisan-tulisan di dalam “Setelah Boombox Usai Menyalak” terasa legit dan layak untuk dibaca berulang-ulang.

 

IV

Saya terus berupaya menahan diri untuk tidak membaca lagi artikel mengenai Scritti Politti dan Godspeed You! Black Emperor dalam “Setelah Boombox Usai Menyalak”. Perasaan ini terus mengganggu sejak taksi baru meninggalkan kantor hingga kini ketika kami telah selesai check in. Sekali saat sore tadi rasanya justru membekaskan rasa tidak puas. Tapi hal ini urung saya lakukan. Sebab kepada perempuan yang kini sedang menyantap makan malamnya, saya pernah berjanji bahwa tidak akan membaca berita dan buku, berbalas komentar di media sosial atau menghabiskan waktu memainkan Football Manager 2017 ketika ia berada di samping. Liburan kali ini adalah soal kami berdua dan ponsel akan selalu dalam keadaan off. Apalagi hari ini, tubuhnya berada dalam kondisi yang kurang sehat.

Semuanya makin runyam karena saya tahu betul bahwa rasa makanan di restoran-restoran yang berada di bandara, hanya setingkat lebih baik dari dapur umum.

“Kau akan membaca buku itu sekarang?” Sepasang matanya menatap buku berwarna merah gelap yang menjadi alas ponsel.

Saya mengangguk pelan. “Nanti ketika berada di dalam pesawat. Belum sekarang.” Ia tersenyum mendengar jawaban tersebut. “Sekarang, aku hanya ingin berduaan denganmu. Itu saja.” Saya menggenggam tangannya. Meyakinkan dirinya bahwa rutinitas membaca buku kini bukan berada di puncak prioritas sebagaimana hari-hari kemarin. Selama seminggu ke depan, ia akan menjadi yang utama.

Kami memasuki ruang tunggu seperti yang tertera di lembar tiket, lalu bergegas memilih tempat duduk. Kami duduk berdampingan. Ia yang berada di sebelah kiri lalu merebahkan kepalanya ke pundak. Bau rambutnya dengan mudah tercium. Aroma rasa lelah yang tidak terbawa arus karena jangkar kegembiraan masih cukup kuat menahan. Saya menatap sejenak buku berwarna merah gelap di bangku sebelah kanan. Huruf-hurufnya seperti sedang merayu agar kembali dibaca. Segera.

Sementara di dalam kepala, ada kalimat-kalimat imajiner yang terangkai secara magis. Ia melintas begitu saja. Tentang bagaimana nanti menuliskan kesan setelah usai membaca buku ini. Saat itu pula, saya berjanji akan berupaya sekuat tenaga untuk tidak menjadi spoiler bagi mereka yang belum membaca buku ini. Saya tidak akan menggelar isi perut buku ini di dalam review singkat dan naif semacam ini. Sebab, bacaan sebagus “Setelah Boombox Usai Menyalak” harusnya menjadi kejutan personal bagi tiap-tiap orang yang membacanya. Anda hanya perlu menghubungi Elevation Books melalui email atau twitter. Jika mereka nanti kurang puas dan ingin menambah dosis, setiap orang bebas untuk mengunjungi Gutterspit, blog pribadi Ucok. Di dalamnya ada tulisan-tulisan serupa dan tak kalah bagus dengan yang ada di dalam buku.

Sembari membaca, mungkin track dari Bars of Death ini ini layak diputar sebagai kawan. Seperti yang saya lakukan tadi sore ketika perempuan itu sedang tertidur.

Punk: Tentang Skate Punk

Punk di Indonesia, mayoritas-nya memiliki tabiat aneh yang sering tak bisa saya pahami. Yaitu kebiasaan untuk menciptakan lelucon yang sama sekali tidak lucu.

Gurau-gurau yang tidak memiliki esensi atau dapat dikatakan, tidak berarti sedikitpun. Tidak cukup dengan mengencingi sejarah pemberontakan artistik yang pernah menjadi nafas punk itu sendiri, mayoritas domba-domba menyedihkan bernama punker di Indonesia adalah mereka yang memiliki selera humor rendah dan imbesil. Itu dilengkapi dengan keyakinan-keyakinan oksimoron yang dibangun di atas propaganda media (televisi, jurnal-jurnal apatis, majalah hingga zine-zine idiot) yang makin melengkapi ketidakberdayaan mereka sebagai konsumen dan produk dalam saat yang bersamaan.

Singkat kata, upaya-upaya laboratoris punk di Indonesia tampil paling nyata dalam bentuk kegemarannya dalam menghubung-hubungkan hal-hal yang antagonistik. Dan keberhasilannya adalah ekstraksi yang kini mendominasi skena-skena underground di Indonesia.

Punk sebagai musik tentu telah diketahui banyak orang, bahwa ia lahir ketika kemapanan industri rock ‘n roll membuat semua orang memiliki selera yang homogen dan musik punk mengambil posisi sebagai the outcast. Musik punk datang dan menebas pembatas antara panggung dan ruang tonton. Menihilkan jarak antara pementas dan penonton. Mematahkan mitologi kerumitan skill ala rock ‘n roll dengan musik sederhana yang lebih menekankan emosi dan kekuatan lirik. Ketika rock ‘n roll merupakan anak baptis industri, punk adalah anak haram yang enggan dipungut untuk diadopsi. Saat pakem musik rock ‘n roll meliuk-liuk bak penari balet, musik punk hadir layaknya seorang pemabuk yang berdansa di lantai bar dengan ketidakberaturan.

Tapi itu dahulu. Sebelum punk itu sendiri menjadi pakem dan menemukan zona nyaman permanen. Sebagai contoh, adalah terminologi populer yang super duper aneh berikut ini: skate-punk.

Skate-punk muncul entah dari sudut mana dan dengan magis menyebar seperti wabah Justin Bieber. Posisinya semakin menguat dengan ditasbihkannya skate-punk sebagai sebuah varian musik punk. Sebagai produk ahistoris, tentu saja para pengusung skate-punk juga merupakan sekumpulan individu-individu dungu yang tak mengerti apa yang telah, sedang dan akan mereka lakukan. Kalian bisa menanyakan kepada siapapun yang mengaku sebagai skate-punker, mengenai definisi dari hal tersebut. Yang akan kalian temukan adalah jawaban-jawaban yang berputar di dalam labirin ketidaktahuan dipadu-padankan dengan argumentasi-argumentasi banal dan tentu saja super konyol.

Silahkan menguji pendapat saya. Semisal dengan menemui Rosemary, band skate-punk yang sempat bermain di acara kepolisian di Bandung sebagai perwakilan dari komunitas punk baik-baik, manis dan soleh.

Ketiadaan akar -yang juga berarti ketiadaan esensi, akan membuat naluri defensif seseorang berakumulasi dalam jumlah yang sering di luar prediksi. Penyangkalan, pengingkaran, pembenaran-pembenaran, hingga seribu satu alasan akan disodorkan untuk menjauhkan mereka yang datang bertanya dari substansi sebuah jawaban. Pembelaan-pembelaan oksimoron akan muncul karena sebenarnya mereka juga tak sedikitpun memiliki kesadaran mengenai apa arti dan konsekuensi dari sedang mereka lakukan. Yang mereka lakukan hanyalah mencopot segala sesuatu yang spektakuler dan mencoba teknik mix and match tanpa pernah menyadari bahwa itu justru menunjukan betapa norak-nya mereka. Level kedunguan skate-punker mungkin hanya bisa disamai oleh FPI dan FBR.

Perpaduan skate-punk adalah upaya gimnastik untuk menyandingkan olahraga dengan punk. Namun agar ia tidak terlihat menjijikan, mereka berupaya menyelubungi tema ini dengan imaji-imaji pemberontakan yang dimirip-miripkan dengan utopia perlawanan punk yang hampir punah. Sebagai musik, ia sebenarnya terdengar ear cathcing. Namun jika musik pop ala industri semata diperdagangkan sebagai produk, skate-punk justru terdengar imitatif karena berupaya menempatkan dirinya sebagai the outsider. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi karena semenjak awal ia adalah bagian dari tren industri itu sendiri.

Skateboarding sejak awal sejarah kelahirannya merupakan produk tren urban yang muncul sebagai bentuk alat bantu untuk melarikan diri bagi anak-anak muda perkotaan dari kemonotonan hidup. Hidup yang datar dan biasa-biasa saja yang diperparah dengan kondisi desain tempat tinggal mereka yang statik dan isolatif. Sebagai tren ekskapistik, skating menawarkan kebebasan-kebebasan temporer dengan menjadikan uji adrenalin di luar batas toleransi masyarakat pada umumnya sebagai proses mencapai ekstase. Skateboarding mengalienasi dan mengajarkan para penunggangnya untuk melarikan diri dari konfrontasi dan mengambil jalan populer lain. Ia adalah obat penenang yang bekerja dengan batas waktu tertentu agar mereka yang merasa muak dapat menyalurkan hasrat-nya ke arah yang lebih positif.

Tidak ada satupun aspek ilegal dan berbahaya dari skateboarding. Tak ada!

Itu mengapa sejak awal, skateboarding memiliki elemen pendukung yang lengkap. Skate adalah tren popular yang berada di gelombang resmi okupasi industri terhadap semua yang berbau kontra kultur yang dikreasikan masyarakat underground. Ketika musik punk terkadang tidak bisa dinegosiasikan, menyandingkannya dengan skateboarding membuatnya jauh lebih mudah diperkosa. Itulah skate-punk dalam makna-nya yang sejati. Jembatan antara rekuperasi dengan transformasi menuju produk siap jual di pasaran.

Kalian bisa menyelidiki lirik-lirik lagu skate-punk yang bagi saya secara pribadi lebih terdengar seperti versi cepat dari lagu-lagu religius. Penuh pesan moral dan mengutamakan pasifisme yang akan membuat seseorang memaafkan polisi setelah ia menggebuk kepalamu dengan pentungan hingga berdarah. Ketika punk hampir terserap seutuhnya ke dalam skema produksi dengan tujuan mengakumulasi keuntungan, kehadiran skate-punk seperti sebuah ironi yang semestinya dikeranjang sampahkan. Silahkan menilai bahwa ini adalah aksi fasistik yang merepresi kebebasan berekspresi. Tapi penting untuk dipahami bahwa kebebasan di bawah industri tidak lebih dari perbudakan dengan rantai emas.

Juga harus disadari bahwa para skate-punker bukan hipster. Sebab hipster tidak seperti skate-punker yang menjual imaji pemberontakan. Sebaliknya hipster merupakan perayaan atas konsumerisme tingkat akut. Jika skate-punk adalah radikalisme yang selevel dengan kondom rasa durian, maka hipster adalah festival di dalam penjara relasi bernama jual-beli. Meski sama-sama menyedihkan, tapi para hipster menyadari bahwa mereka adalah pion dan membiarkannya seperti itu. Sementara para skate-punk seperti tutup pasta gigi di tepi papan catur. Mereka tidak akan pernah digunakan sampai ada pion yang hilang.

Useless!

Punk: Nasionalisme

surat kepada kawan.

Maaf aku terkesan membuang waktu yang cukup banyak sebelum bisa menjawab surat elektronik mu yang terakhir. Bukan karena tak ada akses internet, tapi memang sedang malas. Setidaknya, aku harus memiliki balansi yang sempurna sebelum menulis surat ini. Semata-mata karena alkohol dan ganja, belakangan sering menemani malam-malam ku. Itu tentu saja berarti bahwa otak ku sedang berada di zona privat yang membuatku enggan menanggapi surat mu.

Namun pertanyaan mu sukses memantik dorongan untuk menjawabnya. Kau selalu tahu cara yang tepat untuk memprovokasi sisi penasaran dalam diriku yang berupaya ku bekap agar tak ke mana-mana.

Untuk itu, aku akan memulai dengan mengatakan bahwa itu tak salah. Tak ada yang salah ketika seorang punk adalah juga seorang nasionalis. Benar-benar tak salah. Pilihan itu bukanlah sesuatu yang menyimpang.

Nasionalisme, atau cinta tanah air bukanlah aib. Meskipun itu terjadi pada mereka yang mengaku dirinya punk. Semenjak injeksi tentang ideologi ini telah dimulai ketika kau bahkan belum layak berada di bangku sekolah dasar. Dari umur yang sangat muda, kita telah dipertontonkan dan tak jarang dilibatkan dalam ritual-ritual nasionalisme. Proses meng-install ini dilakukan hampir begitu sempurna hingga hanya dalam kasus-kasus tertentu yang jumlahnya tidak seberapa, dapat dijumpai mereka yang berhasil menghancurleburkan konstruksi semangat pemujaan tersebut. Jadi jika kau berjumpa dengan seorang punk yang dengan mesra menciumi nasionalisme, biarkanlah. Mengganggunya akan membuat dirimu tampak seperti mengail ikan di kolam renang.

Di Indonesia, yang sejarahnya dikencingi oleh tiap generasi -seperti juga yang terjadi di banyak tempat lain, menjadi ahistoris adalah cacat lahir setiap orang. Sisi liar kita telah ditundukkan dari dalam pikiran sehingga bertumbuh sebagai seorang budak. Dan sebagai budak, tentu saja kita memiliki level kepatuhan terhadap sesuatu yang menguasai dan empunya kuasa. Level kepatuhan ini juga berbeda kadarnya di tiap-tiap orang. Kadar ini di kemudian hari yang akan menentukan seberapa besar kemungkinan lahirnya semangat antagonis berupa pembangkangan.

Nah, level kepatuhan itu juga tak stabil. Sebaliknya ia dinamis dan bergerak naik turun seiring waktu pertumbuhan psikologis seseorang. Ada masa di mana ia berkurang dan ada tempo di mana ia justru bertambah. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup seseorang di masa lalu sangat mempengaruhi level kepatuhan. Semakin objektif iven-iven psikologis tersebut, maka semakin merekah semangat nasionalisme seseorang. Sebaliknya jika benturan-benturan tersebut berkarakter subjektif, maka akan ada degradasi level nasionalisme. Hanya ada segelintir kecil kasus di mana seseorang benar-benar berhasil menggerus nasionalisme di dalam dirinya hingga habis. Sangat kecil.

Tapi jangan kau tanya aku tentang segelintir kecil orang-orang tersebut. Aku tak ingin bercerita apapun tentang mereka. Bukan karena aku tak tahu, tapi aku telah muak menceritakan kembali tentang mereka. Sudah cukup. Aku akan menjelaskan kepadamu yang mayoritas saja. Sebab beginilah metode menakar di dalam kehidupan sosial hari ini yang mereka namakan: demokrasi

Itu mengapa bukanlah sesuatu yang tak pantas membuat kita heran ketika menemukan seorang punk terlibat begitu semangat dengan euforia 17 Agustus -yang tak jarang dihelat di puncak gunung, di tepi danau, di pantai, atau bahkan mungkin di lingkungannya sendiri. Itu biasa.

Kau tahu mengapa?

Karena memang itulah kultur mayoritas di skena-skena punk di Indonesia. Sebagian besar adalah mereka yang berhasil menghidupi sekaligus dua kutub yang beroposisi secara esensi. Sebuah campuran aneh yang uniknya eksis dalam saat yang bersamaan pada satu persona. Hebat bukan?

Ini bukan tanpa sebab. Karena memang hal ini diwariskan. Seperti yang sudah ku bilang di atas, ideologi ini direproduksi dengan sempurna di dalam lingkup skena-skena punk itu sendiri. Ia dihidupkan dalam praktek dan di ajarkan oleh generasi yang satu kepada generasi berikut. Direplikasi dan terus menerus diperbaharui dengan argumen-argumen objektif yang bertujuan agar jangan sampai terlihat borok-borok zaman yang melekat di patung nasionalisme tersebut. Tentu saja hal ini dilakukan sembari memastikan bahwa level kepatuhan seseorang tetap berada di zona aman.

Kalau kau selidiki baik-baik, akan dengan mudah kau menemukan lirik lagu-lagu punk yang kental dengan semangat nasionalisme. Hal itu bukan dilakukan tanpa sadar. Karena tentu saja sebuah lagu bukan hasil dari ketidaksengajaan atau kecelakaan waktu. Sebuah lagu merupakan ekstraksi dari isi kepala penulis dan komposer lagu tersebut. Setiap kata telah melalui seleksi ketat dalam otak melalui proses kognitif sebelum kemudian terangkai. Karena itu lagu bukan produk sim sala bim. Setiap lagu merupakan produk historis yang memberi penjelasan tentang si penulisnya.

Saya teringat sebuah kalimat sederhana dari guru statistik semasa kuliah dahulu. “Tak peduli apa cara yang kau gunakan, jika tahu prosesnya, kau tentu akan mendapatkan hasil yang tepat.” Aku tak terlalu suka dengan pelajaran statistik. Tapi aku tak menyangkal bahwa kalimat itu masih terasa nyantol di telinga.

Di skena-skena punk, hadirnya perilaku-perilaku yang melanggengkan semangat nasionalisme tersebut dianggap lumrah dan sangat jarang dipertanyakan. Sebabnya, tak ada keberanian untuk memeriksa kembali esensi dari setiap tindak-tanduk pribadi. Ketidakberanian ini berkait erat dengan ketakutan untuk berhadapan dengan ketidakmungkinan dan tragedi yang akan terjadi di kemudian hari. Seperti layaknya peramal yang bisa menebak masa depan, banyak punk yang enggan untuk mempertaruhkan hidup dan kehidupannya yang telah berada di zona nyaman dengan sesuatu yang masih belum terprediksi. Itu seperti berjudi. Dan untungnya, banyak punk bukanlah penjudi.

Untuk berjudi, diperlukan dua hal: tahu dan berani. Seorang penjudi yang baik adalah seseorang yang tahu dengan benar apa yang sedang dihadapinya dan konsekuensi yang bakal menjadi ganjaran. Di saat yang bersamaan ia juga mesti berani untuk mempertaruhkan semua yang ia miliki. Kebanyakan punk di Indonesia tak punya itu. Mereka tak tahu dan tak berani.

Sebab untuk tahu sesuatu, kamu mesti berani melakukan pengorbanan. Mengorbankan waktu, uang, relasi sosial dan bahkan cinta. Untuk mendapatkan pengetahuan, seorang punk mesti menantang diri sekaligus menerima tragedi dengan tangan terbuka. Agar seseorang berani melakukan itu semua, ia mesti tahu dengan dirinya, lingkungan sosial dan alam di sekitar dirinya. Dia mesti mengenali apa kebutuhan, kemampuan dan batas-batas imajiner lain yang akan dilampaui. Tanpa itu semua, seperti menuju medan pertempuran tanpa persiapan dan senjata.

Tahu dan berani adalah proses yang berjalan beriringan dan mesti dihentak bersamaan geraknya. Jika hanya menyalakan salah satu, imbalansi yang akan menjadi hasil. Memiliki pengetahuan tetapi penakut atau kemudian menjadi pemberani tanpa pengetahuan. Jika orang dengan ketidakseimbangan seperti itu menghadapi perang, tentu saja ia berakhir menyedihkan. Dan itulah yang kau lihat.

Mereka yang kau lihat adalah punk yang eksis bertahun-tahun dan menjadi legenda (seperti SID dan Marjinal, misal) justru adalah orang-orang dari kedua tipe yang ku sebutkan sebelumnya. Bagaimana akan dengan mudah kau temukan orang-orang bermulut besar dengan heroik mengumandangkan semangat ke-Indonesia-annya di skena-skena punk. Juga mereka yang hanya mampu menggerutu sembari memandangi kafilah nasionalistik itu berlalu. Dua tipe yang akan terus hadir karena itu adalah kutukan abadi. Seperti abadinya kemungkinan bahwa celah sekecil apapun akan membuka jalan bagi domba-domba yang berevolusi menjadi serigala dan berlari meninggalkan kawanan tersebut.

Tapi mesti lagi ku ulang, aku tak ingin menceritakan tentang para serigala tersebut. Biarlah cerita-cerita mereka hidup dalam percakapan-percakapan rahasia dan romantik antar dua orang. Jangan lagi kisah-kisah itu dibawa di panggung pertunjukan, seperti bagaimana punk hari ini.

Jadi, janganlah lagi kau membuang energi untuk bertanya soal itu, kepada ku tentunya. Tak ada lagi energi yang cukup dalam diriku untuk hal-hal seperti ini. Membiarkan scenester-scenester punk melilit leher sendiri dengan rantai perbudakan, adalah jalan yang terbaik. Sebagaimana juga banyak punk itu sendiri yang menyebarkan wabah nasionalisme dan bagaimana hal ini sebagai penyakit dalam diri yang tidak perlu diobati. Agar nanti kau tak akan terkejut ketika misalnya mendapati punk yang sedang menghormat kepada bendera merah putih. Punk yang dengan khidmat menyanyikan lagu Indonesia Raya, atau bahkan menciptakan lagu tentang betapa berbahagia dan bangganya mereka menjadi bangsa Indonesia. Itu sama seperti menemukan seseorang dengan dandanan punk lengkap dengan logo swastika di salah satu bagian jaket atau jeans-nya. Tak usah di tegur karena itu hanya akan membuat mu terlihat sebagai polisi punk.

Setiap orang di skena-skena punk memiliki kebebasan untuk berekspresi. Entah itu ekspresi seorang budak atau menjadi seorang penurut dengan rasa cinta tanah air yang hanya bisa disaingi militan-militan para militer.

Biarkan saja punk di Indonesia dengan semangat cinta tanah airnya. Itu adalah permata imitasi yang mereka kenakan agar bisa diterima sebagai bagian dari masyarakat hipokrit hari ini. Itu bukan sebuah kesalahan. Tak ada yang memiliki hak untuk mengatakan bahwa perjuangan punk agar diakui keberadaannya di tengah-tengah warga negara yang lain, bukanlah sesuatu yang adalah kekeliruan. Tidak. Itu tidak keliru.

Karena punk nasionalis adalah wajah mayoritas skena-skena di Indonesia. Dan kau, serta beberapa orang lain yang tak ingin ku ceritakan, merupakan minoritas tak punya hak untuk komplain atau protes. Sebab menjadi minoritas di Indonesia dalam formasi kelompok apapun, termasuk punk itu sendiri, berarti membuatmu kehilangan hak untuk mengutarakan pendapat. Punk di Indonesia adalah mereka yang memiliki kecanduan dengan persoalan kuantitas. Terobsesi dengan jumlah atau kawanan yang besar. Ketergandungan yang menjelaskan kenapa punk bermental gerombolan karena tak memiliki keberanian yang cukup untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Itu mengapa aku menyarankan kau untuk merayakan posisi minoritas mu dan acuhkan saja mereka yang berada di seberang. Lalu biarkan aroma pesta barbekyu-mu, menyebar dan mengundang rasa penasaran dari satu dua orang untuk datang mencicipi.

Aku mungkin tak akan menghadiri pesta mu. Aku sendiri, telah mendedikasikan diri sepenuhnya untuk mengejar tren dan menenggelamkan diri di dalamnya. Menjadi peselancar di dunia yang penuh histeria temporer dan delusi-delusi yang selalu membuatku orgasme saat membantingku dengan keras ke lantai kenyataan. Aku membiarkan tipuan-tipuan mencekik leher kebebasanku agar semakin sedikit oksigen yang bisa dihirup.

Kini, aku adalah hipster.

Punk: Pernikahan (Kepada Ebby Doombray)

Dear Ebby,

Layaknya surat yang lain, tentu ada basa basi. Meski sekedarnya. Sekaligus ingin mengucapkan selamat untuk rencana pernikahannya. Sebuah kegembiraan baru dalam perjalanan hidup kini memasuki langkah berikut.

Tak lama lagi, kau akan menjadi seorang suami. Akan memiliki seorang istri. Dan yang lebih hebat lagi, akan memiliki sepasang ayah dan ibu mertua. Mungkin ada saudara dari calon istrimu, mereka yang akan kau sebut ipar. Lingkar sosial mu akan bertambah gemuk dengan kehadiran orang-orang tersebut.

Sekali lagi selamat.

Secara formasi, hidup mu akan berubah ketika memutuskan menikah. Namun apakah itu juga merubah esensi hidup mu, tak ada yang tahu selain diri mu sendiri.

Pernikahan, adalah titik sensitif yang tak pernah sederhana dalam perjalanan hidup seseorang. Tak peduli kau komunis, anarkis, punk, hippies, boyband atau bahkan militan dangdut. Setiap orang akan mengalami transisi sosial dan psikologis ketika memutuskan menikah. Tak peduli apakah itu pernikahan heteroseksual atau homoseksual. Dalam timbangannya sebagai salah satu institusi sosial, setiap pernikahan tetap akan diartikan sebagai upaya mendomestifimasikan hubungan antara dua orang. Pernikahan tetap merupakan ruang di mana ada dua orang yang menyatakan komitmen dan kemudian secara sadar melembagakan ikatan tersebut.

Kau dan calon istri mu adalah wajah-wajah baru dalam potret pernikahan. Setidaknya secara kualitatif, Ebby yang terakhir kali saya jumpai di Ampang, akan berbeda dengan Ebby yang mungkin saya temui nanti.

Dan itulah indahnya perjumpaan dengan kawan lama. Ketika menemukan kejutan-kejutan yang membekas di wajah setelah mereka menjalani waktu di mana kita bukan bagian integral di dalamnya. Itu manisnya kenangan dalam menghargai ingatan. Romantis namun juga realis.

Di tengah dunia yang terus menerus mengalami krisis karena keserakahan akumulatif, mendapati kabar bahwa kau akan menikah merupakan interupsi yang terasa tepat. Ketika hidup harian cenderung banal dan membosankan dengan aktifitas yang repetitif, pesta pernikahan mu justru memiliki arti lebih dari sekedar agenda seremonial belaka. Bukan pada soal seberapa banyak dan variatif menu jamuan di pesta mu nanti, namun berapa banyak kawan yang akan datang dan mentransformasikan momen tersebut menjadi ajang reuni dan melepas rindu.

Secara sublim, saya meyakini bahwa hal itu akan terjadi. Perayaan pernikahan mu akan menjadi festival yang mengintegrasikan individu-individu lain ke dalamnya, dan mengubahnya ke dalam bentuk jaringan kebahagiaan di mana setiap orang akan mengambil peran untuk mendorong tawa dan senyum ke level yang lebih radikal.

Bukankah itu jauh revolusioner?

Mendistribusikan kebahagiaan hingga ke tahap personal melalui sebuah iven temporal yang diinterupsi secara sadar oleh si kreator. Ketimbang membuang energi untuk melakukan demonstrasi di depan gedung parlemen sembari meneriakan bahwa punk bukan preman. Bukankah merayakan hidup jauh lebih bermakna ketimbang pemilihan presiden yang sebentar lagi dihelat? Bukankah menertawakan kegagalan justru membuat kita lebih sehat secara mental, daripada melakukan yoga atau meditasi untuk mengendalikan amarah?

Dan saya percaya itu bisa terjadi di pesta pernikahan mu nanti. Dalam skala sekecil apapun. Itu tak jadi soal karena bukan kuantitas yang menentukan, melainkan capaian kualitas.

Tentu saja akan ada barisan ideologis yang akan mencerca pilihan seseorang seperti mu untuk menikah. Kumpulan para idealis yang gagal memahami realitas hingga menyembunyikan diri di balik kutipan-kutipan teoritik demi kepuasan masturbatif. Akan ada mulut-mulut yang mencibir pilihan seseorang untuk menikah, hanya karena hal ini tidak sesuai dengan kriteria yang mereka tetapkan. Dan saya yakin, kau hanya akan mengacuhkan mereka. Membiarkan gonggongan itu berlalu dan larut ke dalam selokan.

Saya sangat berharap bisa datang dan menjabat erat tangan mu saat itu. Sekaligus ingin melihat dari dekat bagaimana lucunya safari yang bakal kau kenakan. Ada rasa penasaran apakah janggut dan kumis mu akan dicukur rapi atau tidak. Juga jenis make up seperti apa yang akan dipakaikan kepada pengantin seperti mu. Ini peristiwa Halley. Terjadi sekali dalam 86 tahun. Semestinya tak boleh dilewatkan.

Tapi apa daya. Kemungkinan besar saya takkan bisa bergabung dalam gelombang keceriaan tersebut. Urusan pekerjaan belakangan memadat hingga membentuk dinding yang memagari saya dari keinginan untuk terbang. Ini adalah konsekuensi logis atas pilihan yang telah saya ambil. Semoga kau bisa mengerti.

Itu mengapa, surat ini saya tulis lebih awal. Sebagai rencana cadangan andaikata saya benar tak bisa menepati janji. Lagipula, saya sudah terbiasa ingkar dan menanggalkan janji dengan orang. Namun jika ada celah untuk ke Jakarta dan menyaksikan acara kenduri mu, tentu itu akan jadi opsi paling prioritas. Namun untuk saat ini, saya masih belum dapat memberikan garansi.

Oh iya, saat sedang menulis surat ini, salah satu single dari Begundal Lowokwaru sedang saya putar berulang di ponsel. Juga ada selinting Holly Grass yang saya hisap sembari membiarkan jari jemari saya berdansa di laptop. Di bawah meja, ada sebotol vodka Vietnam yang mungkin akan jadi kalo pernikahan buat mu.

Selamat berbahagia, kawan. Sungguh, selamat bahagia.

A

Lumpini, Bangkok. January 2014

Punk: Atheisme

Salah satu topik yang cukup panas namun sering dihindari di skena underground, adalah perbincangan mengenai agama dan atheisme. Tentang bagaimana posisi sebuah institusi yang memiliki hak elit untuk secara partikular mengontrol tentang apa dan bagaimana persepsi mengenai Tuhan. Di skena bawah tanah di Indonesia, perbincangan ini lebih sering didiamkan. Persoalan tentang agama telah dianggap final sehingga tidak pantas lagi diungkit.

Apalagi data menunjukan bahwa Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia, yang mana 80% dari 260 juta penduduknya merupakan pemeluk agama Islam dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS). Sisanya adalah Kristen Protestan dan Kristen Katholik dan minoritas Buddha dan Hindu serta Konghucu. Dalam catatan BPS, tidak disebutkan berapa presentasi atheis atau agnostik, karena memang di negara ini tidak memiliki agama adalah sesuatu yang tidak mendapatkan tempat.

Saya sendiri adalah seorang yang tidak beragama. Individu tanpa label religius tertentu, dan sudah barang tentu tidak memiliki kaitan dengan lembaga agama apapun.

Pendapat ini secara otomatis menggugurkan hasil pendataan numerik BPS bahwa seluruh warga negara Indonesia memeluk satu agama seperti yang dianjurkan. Sebagai atheis, saya adalah orang yang merasa tidak memerlukan Tuhan atau tuhan (baik huruf besar atau huruf kecil) di dalam berlangsungnya kehidupan harian yang datar dan membosankan. Saya juga tidak percaya bahwa alam semesta ini diciptakan oleh sosok tersebut dalam sekejap. Juga tidak percaya bahwa sebagai makhluk ciptaan dari tuhan, saya mesti memiliki kewajiban mensyukuri dan terus menerus mengucapkan terima kasih kepadanya.

Namun itu juga bukan berarti bahwa saya menentang mereka yang mempercayai Tuhan atau tuhan.

Keyakinan dan pilihan untuk menjadi atheis tidak secara otomatis menjadikan saya memiliki hak ekslusif untuk menghakimi mereka yang mempercayai tuhan sebagai sesuatu yang salah. Tidak. Mengambil atau menetapkan pilihan dari sekian banyak opsi yang tersedia tidak membuat anda atau saya telah memilih yang terbaik.

Standarisasi dalam bentuk skala bertingkat yang ditetapkan dalam sebuah pilihan sebenarnya adalah sumber masalah itu sendiri. Tentang bagaimana kita memandang diri sendiri sebagai yang terbaik dari yang lain, yang utama dalam peringkat, yang terdepan di dalam barisan. Cara pandang yang menekankan pada perbedaan yang hirarkis membuat kita sering melihat bahwa pilihan individual seseorang berada di level yang jauh lebih baik atau jauh lebih buruk dari pilihan kita sendiri. Ini adalah kesalahan berpikir yang sangat mempengaruhi cara pandang, cara bertindak seseorang dalam menyikapi perbedaan pilihan yang eksis di sekitar dirinya. Ini yang dinamakan dengan fasisme.

Fasisme bukan hanya sekedar Hitler dan lambang swastika. Ia juga tidaklah sesederhana aksi Front Pembela Islam (FPI) yang menggebuki minoritas atau mereka yang berbeda paham. Fasisme bukan hanya polisi dan tentara dalam seragam dan senjata. Fasisme, adalah penyakit yang menjangkiti cara berpikir, cara berbicara dan cara bertindak dari seseorang. Fasisme tidak hanya muncul ketika ada sekelompok orang dengan kecacatan pola pikir dan menggabungkan diri mereka. Kanker kemanusiaan ini juga muncul secara individual. Karena dari situlah fasisme bermula, dari individu.

Di skena underground di Indonesia, secara jujur mesti dikatakan bahwa masih banyak mereka yang fasis. Sementara sisanya, masih terkesan mendiamkan aksi fasisme ini atas nama alasan-alasan moralis yang tak memiliki daya guna kritis apapun. Banyak dari mereka yang “mampu melihat semut di seberang lautan, namun tak melihat gajah di depan mata”. Mata mereka hanya mampu melihat hal-hal yang artifisial, sementara sudut-sudut yang esensial justru diacuhkan.

Fasisme ini tampak jelas ketika membicarakan soal agama dan ketidakberagamaan seseorang.

Banyak dari mereka yang masih beragama, enggan menerima kenyataan bahwa institusi agama tersebut adalah korup dan menindas. Bahwa keyakinan spiritual seseorang sebenarnya berada di trek yang berbeda dengan keharusan memiliki agama. Bahwa menjadi seseorang yang religius sama sekali tidak memiliki relasi apapun dengan apa agama seseorang. Singkat kata, seseorang tetap dapat memiliki keyakinan religius tanpa mesti memiliki agama.

Bahwa mengikuti atau berada di bawah sebuah agama tertentu sebenarnya merupakan bentuk ketertundukan yang membuat seseorang menjadi tidak lebih dari sekedar budak. Memiliki agama, berarti juga merelakan dirimu untuk dipimpin seseorang tanpa mesti mendapatkan persetujuanmu terlebih dahulu. Memberikan hak istimewa kepada mereka yang mengaku mengantongi pengetahuan soal di mana letak surga itu, dan membuat dirimu seperti hewan ternak yang tak memiliki hak atas dirimu. Di bawah kontrol agama, seseorang hanya akan mendapatkan teror, teror dan teror. Di dalam institusi agama, kau dilarang untuk berpikir kritis karena akan ada tembok-tembok yang membatasi semua itu. Agama adalah penjara material dan imaterial di saat yang bersamaan dan siapapun yang mengaku memiliki agama adalah tahanan sukarela di dalamnya.

Agama adalah institusi koersif dan kenyataan ini terlalu telanjang untuk ditutup-tutupi. Agama adalah sebuah organisasi hirarkis yang memiliki agenda dan tujuannya sendiri, terpisah dari apa yang dicita-citakan oleh mereka yang mengabdikan diri di dalam agama. Sebagai institusi yang kemudian berkembang menjadi otonom, agama memiliki perangkat yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Siapapun individual yang ingin mengendalikan agama, justru hanya akan terserap ke dalamnya dan melemah dengan sendirinya. Agama tidak dapat direformasi karena memiliki logikanya sendiri, logika yang terpisah dari logika mereka yang merasa mampu mengintervensi alur arah agama. Dalam sejarahnya, agama membangun diri dan kekuatannya dengan menghisap energi kehidupan dari manusia dan mengkonversi manusia menjadi zombie. Pilar-pilar agama dibangun dari tumpukan bangkai mereka yang dianggap berbeda atau yang menolak tunduk.

Seiring waktu, agama juga mendandani dirinya agar terlihat manis di mata para pemberontak muda yang kesepian. Dengan kemampuan retorik dan akrobatik ide dan praktik, agama menjadi oase bagi mereka yang terlalu penakut untuk mempersenjatai hasratnya. Agama adalah taman bermain penuh warna dengan bola-bola plastik yang akan melindungimu dari memar dan cedera ketika terjatuh. Memelukmu dengan ilusi dan mencium bibirmu dengan kepalsuan hidup. Semua yang terlalu khawatir akan hari esok akan memilih agama, karena ia menjadi hotel paling mewah dengan pelayanan paling sempurna. Sementara mereka yang enggan menerima rasa sakit akan berteduh di bawah payung agama, karena selayaknya heroin ia akan memberimu ketenangan temporer hingga kau mesti mengkonsumsinya lagi dan lagi hingga kecanduan.

Saya berani bertaruh bahwa tidak ada satupun yang dapat mendaku bahwa agama membiarkan imajinasi dan praktik mu terbang liar seperti Ikarus. Agama adalah rantai yang membelenggu sayap-sayap kebebasanmu. Menanggalkannya, berarti membuat dirimu merdeka dan selangkah lebih dekat dengan kebebasan.