Yang Dari Utara Enggan Ke Selatan

aku datang dari utara
dan tak ingin menambang emas di selatan
meski gusar lapar sering mendera
aku memilih debur ombak dan sapa lautan

bagiku adalah cukup banyak di sini
cara belajar tentang kisah dan petualangan
babad tua yang masih tersembunyi
mengaisnya dari kuburan yang memendam

aku memilih menyapa samudera
dan bukan gemuruh ibukota
sembari mendengar dari masa lalu dan melihat hari ini
bagaimana manusia menjadi angkuh dan lupa diri

aku datang dari utara
mendulang cerita
dari muram wajah para nelayan
tergerus impian masa depan

Angin dari Saranggani

di sini
memunggungi Balut Saranggani
aku memasung horizon
biar tak gerak
dan beku
dan tiada lagi pelangi
biar saja jingga itu tampak biasa

kau mesti mencoba menganyam angin
seperti gelombang yang ikut gemanya
dan tubuh kita membiru
terbungkus lautan yang haru

coba lihat kalender berwarna merah
pada dinding yang luka oleh waktu
ditusuk bisu berwajah kelu

dapatkah kau lihat
aku bertemu ketiadaan dalam jumpa

Dua Puisi Percakapan

-perempuan itu menulis untuk ku

siapakah kamu

yang datang berhembus seperti angin
bangunkan rasa kekanak-kanakanku
berjingkrak mendapatkan sebuah kado

setelah hari itu
seperti gadis kecil yang bertemu dengan kekasihnya
mencoba mengingat semua ungkapan
setiap kata yang terucapkan
semua terdengar sangat normal
sangat manusiawi

tapi yang normal dan manusiawi itu
sangat bermakna, bersahaja,
semua menyiratkan kedalaman rasa
dan tinggallah aku dengan perasaanku yang kekanak-kanakanku ini
menunggu
kapan aku bisa duduk di sampingmu
menatap mata dan hatimu
mengungkap semua misteri kata

dan aku menjawab

siapakah aku?

di sela jalan alir angin
mencoba pergi di detik ingin
lalu bertelut di riang rindu

setelah malam itu
ku temu gadis kecil seorang diri
dalam ingatan cambuk tentang kenang
semua yang lahir berupa kata
menjadi biasa
menjadi aku dakam dirinya

selalu yang biasa itu bermakna
sederhana seperti pelangi di letup warna
di sambut riuh rasa membiru haru
dan gadis kecil itu kini menanti
tanpa haru yang lebam membiru

kapan dia di sampingku?
menggenggam mata, mencium hati
bersama membongkar semua rahasia

Tentang Tuhan

biarkan Tuhan-ku
ku tiduri dan kuciumi seorang diri
kau cari saja Tuhanmu
dan bercintalah dengannya
agar nanti tak saling rampas kita
tak saling perang
karena merebut satu Tuhan

biarkan Tuhan itu banyak
dan hidup di masing-masing hati
agar tiap kita tenang ketika tidur malam
tanpa gusar esok pagi kehilangan Tuhan
yang dicuri saudara atau tetangga

aku ingin Tuhan yang betina
biar lebih lepas aku kan luapkan gairah
dan dendam yang lama kusam
karena dunia kini jadi musuhku

dan bila nanti aku mati
tak ada yang warisi Tuhan-ku
biar semua cari sendiri
jangan lagi saling rebut
jangan lagi saling ribut

Balada Pencari Angin

hanya dahan patah
mengerti bagaimana masa lalu
dari kejatuhan daun-daun kering

di tanah coklat yang kusam
tiada kebijaksanaan tersisa

ini mengapa hujan selalu gagal
jembatani cerita pemanas tungku
sebab api-api tua telah di kubur

maka angka mesti digugat
untuk buka hijab konsistensi
yang sinonimkan hidup

memberikan ceruk-ceruk
untuk disirami warna kusam

jika sejajar
kita akan lupa
jika searah
kita takkan kemana

lalu untuk apa biarkan tersisa?

bakar saja!!!

biar asap sendiri yang temukan angin