Merahnya Merah Wiji Thukul

Kata-kata terbaik, marka sebuah zaman, tidak akan beristirahat. Meski belum ada penanda kapan ia pulang. Walau tidak ada Nobel Sastra yang dimenangkan karena puisi-puisi yang ditulisnya.

Di dalam negeri, namanya mungkin akan hanya dikenang sayup-sayup: banyak dibaca, tapi sikapnya urung diteladani. Kata-kata yang ia pahat dari sikap keras kepala menentang junta militer, kini berada di simpang jalan: menjadi legenda di setiap pemberontakan atau bakal bernasib serupa kaos Ernesto Guevara yang membalut manekin-manekin mewah di pusat perbelanjaan yang dibangun di atas lahan reklamasi. Seturut nasibnya yang tak jua terang: masih hidup atau sudah berjumpa Pram di nirwana.

Akhir tahun 2004, adalah awal saya menemukan Widji Thukul.

Kala itu, Manado adalah kota yang beranjak brengsek karena terus-menerus menghancurkan pantai. Sementara para pelajarnya justru sibuk berdebat siapa yang cocok jadi Ketua KNPI. “Aku Ingin Jadi Peluru” diberikan seorang kawan sebagai manual setelah saya mengisi sebuah mogok di kampus dengan pembacaan separuh potongan Manifesto Komunis.

Ketimbang sebuah agitasi yang menyadarkan, kumpulan puisi tersebut waktu itu lebih mirip panduan: menjadi artis pembuat berita sekaligus Don Juan dalam rupa seorang revolusioner Paris 68.

Begitu terkesima lalu jatuh cinta dan terus jatuh cinta. Kata-katanya langsung menghujam. Metaforanya adalah kesederhanaan, yang jujur dengan diri dan situasi. Bisa membakar emosi sesudah membacanya. Membuatmu siap dipentungi polisi dan merasa lusa revolusi pasti terjadi. Atau juga merasa keren di hadapan tatapan gadis-gadis yang ikut berdemo. Menyuntikkan rasa percaya diri meski belum juga paham apa itu nilai lebih dan akumulasi primitif. Juga menjadi peta rahasia, bagaimana menulis puisi jelek yang akan dianggap radikal oleh sekumpulan poser revolusioner karena dipungkasi: “hanya ada satu kata, lawan!”

Yang terakhir di kemudian hari menjadi awal pertengkaran saya dengan banyak orang dari kalangan terdidik kampus.

Gerombolan yang mengutip Thukul di surat wasiat namun hidup seperti Taufik Ismail. Mereka yang tak paham bahwa Wiji bukan Goenawan Mohammad. Yang akan mengutip Bolano dengan serampangan, atau mempermainkan Marx untuk memutar nalar. Lalu berpura-pura memberi suara kepada para liyan.

Buruh plitur kelahiran 26 Agustus 1966 ini menulis dengan cinta: kepada hidup, kepada kemanusiaan, kepada kebebasan. Wiji tak bisa disamakan seperti Sapardi, yang mendayu-dayu karena perut kenyang. Ayah beranak dua ini tumbuh dan hilang sebagai bagian dari kelas pekerja. Penyair Solo ini adalah rupa proletariat yang seratus tahun lalu menumbangkan Tsar di Rusia. Tukang becak yang juga mengajar teater ini persis para sindicalista yang dahulu memanggul senjata menentang Franco di Spanyol.

Bahkan hingga kini, saya masih sering kesal. Tak akan segan, tak akan membiarkan bedebah-bedebah tersebut lolos tanpa mengomentari dengan sinis.

Mereka adalah kelompok yang merasa telah menjadi penyair revolusioner dalam semalam. Semata karena ada kosakata “buruh”, “tani”, “lawan”, bla, bla, bla dan omong kosong sejenis. Padahal, yang mereka lakukan tidak lain adalah penghinaan terhadap proses kreatif penuh peluh di jalanan, di lorong-lorong pemukiman padat orang miskin, di desa-desa yang terancam kehilangan sawah dan di kampung-kampung terpencil yang dijajah tambang dan perkebunan sawit: yaitu proses kreatif Wiji Thukul.

Saya hingga kini, tak akan sudi berbagi kenangan tentang Wiji Thukul dengan mereka. Manusia-manusia tanpa lebar logika dan empati minimal hingga menganggap bahwa kemalasan adalah penyebab tunggal kemiskinan. Orang-orang yang memandang rendah protes menyemen kaki atau berpayung dalam diam di depan istana. Yang mulutnya menyumpahi jalanan yang macet karena demo buruh dan tani. Mereka yang melihat orang asli sebagai keterbelakangan dan hanya sekadar eksotisme serta destinasi budaya. Kumpulan yang jari jemarinya begitu berisik, dengan energi berpikir yang lebih buruk dari kecoa dan sibuk menebar kebohongan.

Semua itu mungkin terjadi karena Wiji Thukul dan puisinya, dalam level tertentu sukses membuka jalan buat saya berkenalan dengan Brecht, Wilde hingga kemudian para anggota Situationiste Internationale.

Lenyapnya Wiji Thukul 19 tahun lalu adalah kehilangan semua yang masih membayangkan lenyapnya tirani: senjata dan kata-kata.

Penulis yang menghidupi dan dihidupi kata-katanya, namun diculik tentara. Ia yang berpolitik dengan penuh semangat dan enggan untuk netral di hadapan kekuasaan yang menindas. Ia yang terpaksa kabur hingga ke tanah Borneo karena aksi dan puisinya merobek gendang telinga Jendral tua yang singgasananya dibangun di atas banjir bandang darah. Terpaksa menulis dalam sunyi, kesepian dan keterasingan dari keluarga dan sahabatnya.

Sebab puisi-puisinya menujumkan rontoknya rezim yang menjagal ratusan ribu orang, menembak mati orang bertato ketika malam, melarang peranakan Tionghoa menggunakan nama asli mereka, mengancam orang asli menyembah Tuhan mereka, merampas tanah dari petani dan membiarkan buruh dihisap kering oleh keterasingan kerja.

Bagi saya, Wiji sukar dicari padanannya dan semakin tak mungkin karena hari ini penyair menggunakan kata untuk meniduri penggemarnya, dan membiarkan mereka hamil oleh dusta patriarki. Wiji menjadi anomali kini karena puisi terbaik yang tersisa adalah semua tentang penyangkalan Rangga kepada Cinta. Dan selebihnya adalah soal anggur, sungai-sungai di daratan Eropa, atau soal membayangkan musim semi di negeri tropis.

Puisi-puisi Wiji memang magis. Karenanya ia dengan alami membongkar kenyataan bagaimana rendahnya selera artistik anak-anak Indonesia. Mereka yang tumbuh dengan ritual menghafal 45 butir Pancasila, nama-nama menteri setiap kabinet yang dipimpin seorang diktator, dan menonton film tentang penyiletan tentara yang diiringi tarian erotis Gerwani. Anak-anak yang memulai mengasah otak dengan disiplin baris berbaris dan obsesi untuk berseragam hijau, memanggul senjata, hanya agar bisa bebas menampar mereka yang tidak disukai.

Kehidupan Wiji sendiri adalah metafora paling pas untuk menggambarkan bagaimana pembangunan. Soal segelintir orang yang terus menerus bisa menumpuk kekayaan karena jutaan pekerja yang dibayar murah. Mereka yang menghamburkan uang untuk membayar polisi dan tentara setelah merampas tanah orang asli dan petani. Soal perempuan-perempuan yang harus kehilangan suami, anak-anak yang tumbuh tanpa ayah, tentang keluarga yang retak karena tentara ketakutan dengan kata dan aksi.

Wiji Thukul akan menjadi legenda. Tentang bagaimana lulusan Sekolah Menengah Karawitan berbadan kurus dan tak beres melafalkan “R” justru dipandang ancaman serius oleh penguasa despotik. Ia akan dikenang sebagai wajah impunitas dan tidak terpenuhinya rasa keadilan. Walau ia sebelum ditelan agen-agen junta militer, tak sekalipun menulis tentang absennya purnama di New York.

Maret tahun depan, Wiji Thukul akan genap dua dekade hilang. Hingga kini, meski kini pemimpin rezim telah berganti ke orang sekampung, kabarnya tak kunjung jelas. Mungkin akan terus begitu. Tiga puluh tahun setelah itu, berarti akan setengah abad. Dan ini adalah masa di mana hilangnya seseorang bukan lagi berita tapi budaya.

Ketika itu, anak saya, anak Anda, beserta sebayanya akan memasang lilin di rumah-rumah bertirai ketakutan dan berbagi cerita tentang Indonesia: negeri yang mendiamkan tentara memangsa orang tua mereka.

* * *

Ditulis untuk menyambut pemutaran film “Istirahatlah Kata-kata” dan tayang perdana di Kumparan.

Tesis-tesis Mengenang Mark Fisher

I

Sulit menemukan seseorang yang mampu secara baik dan populer menjelaskan buruknya kapitalisme.

Sosok yang tulisannya mendapatkan ruang di media-media yang terobsesi dengan besarnya angka pembaca, ketimbang seberapa luas mereka mampu melakukan intervensi terhadap ranah kesadaran dari gerombolan yang disebut publik. Karena pasca-lemparan batu terakhir di Paris, mercon terakhir padam di Seattle dan gagalnya mengartikan surat-surat cinta Commandate Marcos, kebanyakan penulis anti-kapitalisme dapat secara mudah digolongkan ke dalam dua kubu utama.

Pertamamereka yang menulis selayaknya pandita yang sedang berkhotbah. Keahlian mereka adalah memamerkan pengetahuan menghafal teks-teks yang dianggap suci. Dalam tulisannya, mereka menghujani pembaca dengan kutipan-kutipan mantra serta membagi dunia ke dalam hitam dan putih. Jenis ini, berupaya sekuat tenaga menyembunyikan rasa frustasi mereka terhadap orang kebanyakan dengan terus menerus mengacungkan jari ke masa lalu.

Meski sejarah membuktikan, tidak ada kemenangan sejati di hari-hari kemarin. Yang ada hanyalah benih yang sedang bertumbuh namun kadung layu sebelum bisa mekar dan mengundang lebah untuk menghirup sarinya. Sehingga meromantisir segala sesuatu, tidak hanya buruk untuk proyek penumbangan kapitalisme, tapi juga tidak sehat untuk kesehatan jiwa.

Mereka berupaya menyelimuti diri dari kenyataan bahwa tumpulnya imajinasi politik, kemiskinan literatur dan impotensi budaya adalah penyakit yang menggerogoti tubuh ideologi mereka.

Jenis yang kedua adalah sedikit individu yang menulis dengan penuh gairah, letupan amarah, optimisme yang dibalut dengan kehati-hatian, dan kekayaan metafora yang tidak kering seperti sungai Mekong dan kejujuran seorang revolusioner. Mark Fisher adalah satu di antaranya.

 

II

Fisher meraih gelar Sarjana Sastra dalam bahasa Inggris dan Filsafat di Universitas Hull (1989). Ia kemudian menyelesaikan gelar Ph.D. di University of Warwick pada tahun 1999 dengan menulis disertasi berjudul Flatline Constructs: Gothic Materialism and Cybernetic Theory-Fiction.

Bajingan ini adalah pendiri sekaligus anggota aktif dari kolektif penelitian interdisipliner yang dikenal sebagai Cybernetic Culture Research Unit. Selain menghabiskan waktu mengajar di perguruan tinggi, ia memulai proyek fenomenal dengan merilis K Punk Blog di tahun 2003. Fisher adalah anggota dewan redaksi Interference: a journal of audio culture, sekaligus juga sebagai editor di penerbitan Zero, wakil editor di The Wire, dan juga terlibat aktif dalam serial konferensi Speculative Realism yang digagas oleh Edinburgh University Press ini.

Speculative Realism adalah gerakan dalam filsafat kontemporer yang mendefinisikan diri dengan cukup longgar dibanding metaphysical realism sebagai bentuk kritik atas bentuk-bentuk yang dominan dari filsafat pasca-Kantian (atau yang biasa disebut sebagai correlationism).

Nama ini diambil dari sebuah konferensi yang diadakan di Goldsmiths College, University of London pada bulan April 2007. Konferensi ini dimoderatori oleh Alberto Toscano, dan menampilkan presentasi Ray Brassier, Iain Hamilton Grant, Graham Harman dan Quentin Meillassoux. Brassier dianggap sebagai pencetus Speculative Realism meskipun Meillassoux sudah terlebih dahulu menggunakan istilah Speculative Materialism untuk menggambarkan posisinya sendiri. Konferensi Speculative Realisme berikutnya dilangsungkan di UWE Bristol, Jumat 24 April 2009.

Di tahun yang sama, Fisher menjadi editor dari buku The Resistible Demise of Michael Jackson sebelum akhirnya menelurkan Capitalist Realism: Is there no alternative? yang dianggap sebagai warisan pentingnya. Di tahun 2014, ia kembali menerbitkan Ghosts of My Life: Writings on Depression, Hauntology and Lost Futures, sekumpulan esai mengenai musik, film dan hauntology.

 

III

Hari ini, di tengah wabah budaya fatalisme, memang lebih mudah membayangkan akhir dunia ketimbang membayangkan keruntuhan sebuah sistem yang hidup dari eksploitasi mayoritas manusia. Kini, kita sedang hidup di periode di mana, menjadi revolusioner adalah gaya hidup. Sebuah perilaku yang membebek pada tesis bahwa segala penentangan terhadap kapitalisme tidak lebih baik dari perayaan tahun baru yang diikuti dengan resolusi-resolusi yang disadari penuh tidak akan pernah tercapai.

Sebagai penanda, kita dapat melacak mengapa film-film bernuansa apokaliptik, lengkap dengan narasi mesianik, merebak dan diproduksi dalam skala masif. Produk budaya yang mengartikulasikan fanatisme brutal akan ketiadaan jalan keluar sehingga kehancuran adalah masa depan yang paling mungkin. Di titik ini, semua orang diwajibkan menjadi eskapik. Lari dari akar persoalan dan memilih menjadi pelarian yang membangun tabir untuk menutupi segala ketidakbecusan hidup yang dibiarkannya berlangsung.

Inilah yang disebut dengan kenyataan hari ini. Yang mana, yang disebut sebagai realitas tidak lebih dari banyak kepingan yang kita namakan budaya. Hingga menjadi kebutuhan yang tidak kalah mendesak untuk mereka yang mendaku sebagai revolusioner untuk juga memahami bagaimana realitas dikonstruksikan oleh kapitalisme, dan finalnya adalah manunggalnya kenyataan itu sendiri dengan absorpsi terhadap ilusi sebagai bagian integral yang tidak lagi dapat dipisahkan.

Seperti para situasionis yang menilai bahwa oposisi terhadap kapitalisme secara implisit membutuhkan abolisi nyata dari seluruh klas-klas masyarakat, penghapusan produksi komoditi dan kerja upahan, aksi melampaui seni dan seluruh pencapaian budaya dalam bentuk intervensi aktif ke dalam permainan melalui kreasi bebas di dalam kehidupan harian – dan juga keterpenuhan mereka yang sejati; dan fusi langsung atas teori revolusioner dan praktek dalam sebuah aktivitas eksperimental yang menghalangi setiap kejutan dalam “ideologi-ideologi”, yang mana merefleksikan otoritas dari para spesialis dan akan selalu melayani spesialisasi dari otoritas.

Faktor-faktor yang terlibat dalam persoalan historis ini adalah percepatan ekstensif dan modernisasi dari kontradiksi fundamental di antara sistem hari ini, dan antara sistem dan hasrat-hasrat manusia. Kekuatan sosial yang memiliki tugas sejarah untuk menyelesaikan kontradiksi kontradiksi ini -dan satu-satunya kekuatan yang mampu untuk menyelesaikan masalah tersebut- adalah massa kelas pekerja yang ironisnya sedang tidak tidak memiliki kekuatan yang diakibatkan oleh kegunaan hidup mereka dirampas oleh berbagai kontrol melalui akumulasi yang fantastik akan kemungkinan-kemungkinan material yang mereka produksi. Resolusi penumbangan kapitalisme telah diprediksi melalui munculnya dewan-dewan demokratik pekerja yang membuat semua keputusan atas diri para pekerja.

Satu-satunya usaha cerdas di tengah dunia yang imbesil seperti hari ini adalah tiadanya pilihan selain keharusan agar para proletariat baru untuk mengusung proyek ini dengan memformat dirinya ke dalam bentuk klas yang tidak dapat termediasi oleh segala bentuk kepemimpinan.

Para situasionis mendeklarasikan diri bahwa mereka tidak memiliki ketertarikan di luar segala gerakan ini. Para situasionis tidak akan memberikan prinsip-prinsip khusus dan wajib sebagai landasan dari sebuah gerakan yang nyata, gerakan yang mana telah lebih dulu lahir sebelum pandangan situasionis itu sendiri. Melihat kelahiran perjuangan-perjuangan yang dimulai di berbagai negara dengan keragaman isu, para situasionis melihat tugas mereka adalah mengajukan seluruh masalah, menguraikan koherensi-koherensinya, juga bagaimana kesatuan teoritik dan praktek mengenai hal tersebut. Secara singkat, di dalam berbagai fase yang perjuangan secara keseluruhan para situasionis merepresentasikan ketertarikan mereka terhadap keseluruhan gerakan.

 

IV

Warisan penting Fisher adalah melakukan pembaruan dan memberikan kembali signifikansi untuk membaca dan menelaah Situasionis Internasional, terutama di ranah musik dan film.

Jika di masa lalu, ide-ide yang ditawarkan oleh Debord dan kawan-kawan dianggap tidak masuk akal, hari ini kita justru menemukan relevansi dari parodi mereka terhadap praktik revolusionerisme yang birokratik, kering dan mekanik. Praktik yang justru menjauhkan klas pekerja sebagai barisan paling menderita dari eksploitasi kapitalisme dari harapan akan kemungkinan untuk meruntuhkan menara Babel kapitalisme.

Dalam bukunya Capitalist Realism, Fisher memberikan analisis singkat atas polemik mengenai cengkeraman kuat kapitalisme terhadap kesadaran kolektif sehingga membatasi kemampuan seseorang untuk membayangkan mungkinnya alternatif atas kapitalisme. Kemampuannya untuk melakukan kritik radikal terhadap berbagai isu dan subjek-subjek budaya dengan mengelaborasi contoh dari kebudayaan popular (popular culture) dan teori-teori rumit (high theory).

Salah satu argumentasi Fisher dalam buku ini adalah mengenai “realisme hari ini” telah menjadi alat utama dari ideologi kapitalisme untuk mempertahankan status quo-nya. Kapitalisme tidak hanya menjadi tatanan dunia yang paling baik, namun menjadi satu-satunya yang paling mungkin. Implikasinya adalah, orang-orang membayangkan bahwa tidak ada jalan keluar sehingga yang paling mungkin dilakukan adalah dengan mempertahankan kapitalisme itu sendiri sembari menambal “kekurangan-kekurangannya”. Dalam Capitalist Realism, kapitalisme sukses menjadi sistem otoritarianisme paling sukses karena ia menjadi yang paling realistis. Di luar itu, segala sesuatu akan dianggap tidak mungkin.

Realisme absolut di bawah kapitalisme bagi Fisher juga sinonim sebagai akhir sejarah -yang jelas merupakan hinaan terbuka terhadap Fukuyama dan para penggemarnya. Karena dengan lumpuhnya kemampuan untuk membayangkan sesuatu di luar sistem eksploitatif ini, maka gerak maju sejarah perkembangan masyarakat menjadi terhenti. Kapitalisme menjadi kekal karena ia adalah “bentuk final yang paling mungkin”. Dunia yang seperti ini menurut Fisher berada di dalam kondisi atemporality, di mana kita menganggap bahwa yang kondisi hidup penuh ketimpangan dan ketakutan seperti saat ini hanya akan terjadi sementara waktu. Penyangkalan yang disertai dengan kesadaran penuh karena mengetahui kondisi seperti ini tidak akan pernah berubah.

Konsekuensi dari Capitalist realism tidak hanya menghapus bayangan tentang masa depan, tapi juga masa lalu. Tanpa hal-hal baru dan kemungkinan untuk mencapainya, kita sedang mengubah makna dari pentingnya sejarah. Ujungnya adalah massalisasi wabah sosial dan budaya. Melenyapnya masa depan berarti merepresi makna menjadi individu dan bagian dari kolektif di saat yang bersamaan. Yang tersisa adalah kehidupan di dunia yang terus menerus steril dari harapan. Sebuah kondisi yang buruk bagi psikologis karena menimbulkan kecemasan personal dan sosial karena tertutupnya pintu jawaban.

Pendapat Fisher sedikit banyak memiliki kemiripan dengan tesis Fredric Jameson tentang pasca-modern. Namun yang membedakannya adalah, Fisher mendefinisikan apa yang ia sebut sebagai capitalist realism sebagai tahap lanjut ketika pasca-modern telah menjadi sesuatu yang alamiah.

Kemunculan capitalist realism memang begitu mulus dan tampak mencakup segalanya. Namun Fisher berhasil mengemukakan bahwa ada dua kontradiksi internal yang dapat digunakan kelompok revolusioner untuk menunjukkan bahwa sistem ini adalah kegagalan permanen. Pertama, soal kesehatan mental. Yang kedua adalah mengenai birokrasi.

Dalam fase capitalist realism, seseorang tidak akan pernah menemukan ketenangan jiwa. Sebaliknya, ia akan terus menerus dihantui oleh kecemasan sosial, rasa aman diri dan hilangnya “kompetisi”. Akibatnya, wabah penyakit mental dapat dengan mudah berkembang biak. Persoalan seperti hoax misalnya adalah bukti nyata dari penyakit sosial individual yang muncul akibat represi simultan dan konstan dalam capitalist realism terhadap ketersediaan informasi dan lunturnya kemampuan untuk menyaring fakta dan ilusi. Degradasi hal tersebut beririsan dengan melenyapnya kompetisi di antara kolektif-individu untuk menyediakan informasi dan fakta akibat bergesernya prioritas untuk mencari jawaban atas keresehatan sosial yang tidak mungkin terjawab tanpa mengalamatkannya kepada kapitalisme.

Keengganan menyasar kapitalisme tidak lepas dari pandangan absolut bahwa tidak ada alternatif lain di luar sistem ini. Yang bersahutan dengan klaim bahwa hanya di bawah kapitalisme, seseorang akan bebas dari tekanan birokrasi komunisme ala Soviet di masa Perang Dingin, atau wajah sentralisme partai di Korea Utara. Ilusi ini mengaburkan fakta bahwa kapitalisme merupakan sistem yang paling birokratis dan sama sekali anti demokrasi. Pemilu-pemilu yang telah terprediksi, akumulasi kekayaan yang tersentralisir di tangan sebagian kecil konglomerat, invasi militer, dan jutaan aturan administratif yang membelenggu kebebasan berpikir, berpendapat dan berkreasi. Fase capitalist realism seperti saat ini adalah model yang lebih otoriter dibandingkan dengan sistem apapun yang pernah eksis dalam sejarah perkembangan masyarakat.

Di bagian akhir Capitalist Realism: Is there no alternative?, Fisher memberikan beberapa saran soal strategi untuk mengalahkan capitalist realism. Ia menggarisbawahi soal krisis kredit perbankan teranyar yang menghantam neoliberalisme telah membuka ruang yang signifikan untuk kelompok anti-kapitalisme melakukan manuver strategis. Walau Fisher memperingatkan bahwa krisis neoliberalisme belum tentu akan memicu capitalist realism lebih lanjut.

Lebih jauh, kritik Fisher juga diarahkan kepada gerakan kiri yang masih kolot dan menganut cara berpikir dan metode perjuangan kuno. Terutama menyangkut idealisasi akan terbentuknya sebuah “negara besar” pasca-tumbangnya kapitalisme. Problem lain adalah praktek politik immobilization, yang menjadi warna dominan perlawanan terhadap capitalist realism hari ini. Yaitu aksi-aksi protes atas nama perjuangan untuk perubahan, ketimbang perjuangan untuk perubahan (protest in the name of resistance to change rather than to struggle for change). Fisher berpendapat bahwa gerakan anti-neoliberalisme haruslah menjadi “rival” dan bukan sebagai “reaksi”. Yang berarti ia mesti memiliki sifat unik dan universal di saat yang bersamaan. Mengganti neo-liberalisme berarti kemestian untuk menjawab sekaligus problem individual dan sosial tanpa harus menegasikan salah satu di antaranya.

 

V

Capitalist Realism sebenarnya adalah salah satu bacaan yang cocok untuk gerakan pelajar, terutama yang berada di kota-kota besar. Hal ini tidak lepas dari kenyataan historis bahwa untuk menguatkan tesisnya, Fisher menyodorkan contoh dari perguruan-perguruan tinggi di mana tingkat stress yang berujung pada gangguan jiwa, perasaan tidak aman yang konstan, melenyapnya kompetisi hingga birokratisme hadir dalam bentuk yang paling vulgar.

Namun seperti yang juga digarisbawahi oleh Fisher, saya termasuk di dalam barisan yang telah mengalami degradasi serius terhadap gerakan pelajar di Indonesia. Hampir tidak mungkin mempercayai anak-anak muda yang menyebut dirinya “pelajar besar” yang ironisnya merefleksikan kekerdilan cara berpikir dan sikap anti sejarah mereka. Memahkotai diri sebagai gerakan, tapi berdiam diri seperti feses karena menghidupi warisan junta militer untuk menjauhi polemik, analisa mendalam, kritik otokritik, jarang membaca dan menulis. Lalu dengan pongah bersembunyi di balik klaim “mengorganisir” yang sebenarnya tidak lebih dari aktivitas wisata dengan label revolusi taik kucing.

Para aktivis pelajar di Indonesia, hanyalah sekumpulan idiot pemalas yang tidak bisa main bola sehingga mencari pelarian dalam bentuk organisasi. Tak percaya? Lihat saja kelakuan paling anyar dari HMI dan PMKRI.

 

VI

Untuk mengenang Fisher, saya memutuskan akan memberikan versi elektronik dari Capitalist Realism: Is there no alternative? kepada mereka yang tertarik. Caranya, anda cukup menuliskan alamat email di kolom komentar tulisan ini. Saya lalu akan mengirimkannya setelah komentar anda terbaca.

Adios El Jefe

Pada pukul 10.29 malam, pimpinan utama revolusi Kuba, Fidel Castro Ruz, meninggal dunia.”

Pengumuman itu menyapu seluruh Havana, kemudian mewabah ke seantero Kuba lalu menjadi gelombang kesedihan di berbagai belahan dunia. Dibacakan langsung oleh Raul Castro, adik kandung sekaligus kawan seperjuangan Fidel. Namun, sebab kematian tidak disebutkan.

Jalan-jalan di Kuba senyap. Tapi di Miami, banyak orang bergembira sembari mengibarkan bendera Kuba.

Dia adalah sosok revolusioner paling dibenci di AS. Seorang pengacara yang ketika berumur 32, berhasil mengambil kendali Kuba dari diktator Fulgencio Batista yang didukung AS. Sebuah anomali sejarah karena sebelumnya, Fidel dijatuhi hukuman 15 tahun penjara setelah menyerang barak tentara di tahun 1953. Dua tahun kemudian, ia bebas karena mendapatkan amnesti politik.

Menjadi pelarian dan terasing di Meksiko, Fidel menolak kalah dengan menyiapkan kelompok kecil gerilyawan untuk kembali menantang Batista.

Desember 1956, dari 81 orang yang ikut berlayar pulang ke Kuba, hanya 12 orang yang lolos setelah pendaratan mereka bocor ke telinga tentara. Namun sekali lagi, Fidel menunjukkan bagaimana sejarah berada di pihaknya.

Dari balik rimbun pegunungan Sierra Maestra, hanya dalam tempo dua tahun, Fidel berhasil mengorganisir ribuan gerilyawan dan memenangkan kepemimpinan politik dari kelompok pembangkang sipil di perkotaan.

Pada 1 Januari 1959, Fidel dan para pengikutnya berhasil mengambil alih Kuba.

Sempat diragukan banyak pihak, Fidel sukses memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat Kuba yang miskin dan buta huruf. Ia berhasil membuat negeri seluas 100 km2 yang dihajar embargo ekonomi sejak 1962, mencapai statistik kesehatan negara-negara kaya dari utara.

Ia sukses mengubah Kuba. Dari sekedar taman bermain untuk para milyarder Amerika, menjadi simbol perlawanan Dunia Ketiga terhadap arogansi kapitalisme. Fidel adalah orang yang memicu krisis selama 13 hari penuh ketegangan di tahun 1962. Saat itu, era perang nuklir terasa begitu dekat.

Fidel Castro dengan kharisma dan tangan besi, memerintah Kuba selama 49 tahun dan sukses merontokkan sembilan presiden AS. Ia berhasil selamat dari 638 upaya percobaan pembunuhan oleh musuh-musuh politiknya dan sukses menjadi legenda hidup gerakan kiri pasca bubarnya Soviet. Cobaan yang datang melalui upaya kudeta Teluk Babi yang disokong CIA dilewati Fidel dengan gemilang.

Berulang kali dicoba, lusinan kali pula sia-sia. Tidak ada yang sukses mengusir Fidel keluar dari Havana.

Oleh media-media Barat, lelaki ini dianggap tidak memberikan ruang bagi perbedaan pendapat, menggunakan kekuasaannya untuk merepresi lawan politiknya dan melakukan monopoli dan sensor terhadap media. Di hari ia dikabarkan mangkat, New York Post merasa tetap perlu untuk menegaskan bahwa Fidel adalah seorang “diktator yang memerintah Kuba sejak 1959 hingga 2008”. Para pembencinya yang mengungsi ke Florida begitu gembira mengetahui Fidel dibunuh oleh waktu dan penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

Fidel Alejandro Castro Ruz, adalah satu dari tujuh bersaudara keturunan pasangan migran asal Galicia, Spanyol yang memiliki perkebunan tebu di Biran, Oriente, Kuba. Terkenal keras kepala dan jago olahraga. Tahun 1945, semasa belajar hukum di Universitas Havana, Fidel mulai tertarik dengan politik dan kemudian terlibat aktif dalam gerakan anti-imperialisme. Terutama soal intervensi AS di negara-negara Karibia.

Pengalaman semasa menjadi aktivis kampus itu ikut membentuk prinsip solidaritas internasional Fidel. Sikap ini membuat El Jefe dihargai banyak orang meski AS mencoba terus menerus menjelek-jelekkannya.

Setelah bebas dari penjara, Nelson Mandela berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Castro atas kerja-kerjanya melawan apartheid. Hugo Chavez, mendaulatnya sebagai Simon Bolivar era modern. Fidel mendukung kemerdekaan Namibia, membantu perjuangan Angola dan tentu saja mendukung sepenuh hati gerilya Che Guevara di Kolombia.

Fidel adalah penunjuk arah bagi ratusan juta proletar di berbagai negara di belahan dunia ketiga. Semua orang yang masih menaruh harapan dan tekad tentang dunia yang lebih baik. El Comandante menjadi teladan bagi generasi radikal baru yang sedang memulai pertempuran soal ide, konsep dan imajinasi tentang politik sosialisme yang membebaskan umat manusia.

Karena ide dan aksi Fidel, seorang perempuan hamil di salah satu desa paling terpencil di Timor Leste dapat dikunjungi dokter. Ia mengulurkan tangan dengan mengirimkan dokter dan membantu pelatihan bagi tenaga medis di banyak negara di Namibia. El Jefe membuktikan bahwa ekonomi barter masih mungkin dilakukan dan tidak ketinggalan zaman saat ia menukar minyak Venezuela dengan dokter dan guru. Tanpa campur tangan Fidel, kekuatan milisi pendukung apartheid tidak mungkin kalah di Afrika Selatan.

Fidel adalah, teladan solidaritas dalam dunia yang egois. Ia adalah etika, nilai dan cita-cita dalam bentuk daging. Menolak sektarianisme dan tanpa henti berjuang untuk sosialisme internasional, bahkan ketika Soviet bubar dan Cina tersungkur di tikungan Deng. Semasa hidupnya, El Jefe menjadikan dirinya sebagai marka sejarah bahwa usai Perang Dingin, tidak semua revolusioner bertekuk lutut.

Commandante Fidel tetap keras kepala, bahkan di hari-hari terakhirnya. Setelah mundur dari jabatan presiden, ia tetap menulis dan menyumbangkan gagasannya untuk Kuba dan dunia. Terus mengingatkan bahwa kapitalisme global sebagai wajah barbarianisme paling mutakhir akan membawa kiamat ekologi dan sosial.

Banyak yang masih mencintainya dan berbagi keyakinan yang sama dengannya tentang masa depan yang lebih baik. Namun, jumlah pembenci El Comandante mungkin jauh lebih besar lagi jumlahnya.

Kepergian Fidel memang bukan akhir dari revolusi Kuba. Namun tidak ada yang akan menyangkal bahwa revolusi 1959 dapat disinonimkan dengan Fidel. Meski dicibir, dunia akan mengenangkan sebagai revolusioner keras kepala yang tidak korup dan setia dengan rakyat. Ia tidak menumpuk kekayaan di kantongnya dan tetap hidup sederhana hingga ia berpulang.

Fidel adalah pemberani yang bermimpi mengenai masa depan yang revolusioner. Sembari dengan tekun, ia bekerja dengan sabar, hati-hati dan disiplin untuk mewujudkan semua itu.

Para musuhnya akan tetap bersikeras menyebut Fidel diktator. Tapi, mereka tidak akan menyangkal warisannya kepada Kuba dan dunia.

* * *

Tulisan ini pertama kali terbit di Tirto

Adios, Companero Fidel!

Andre Barahamin

 

Tahun 1959, Presiden Batista digulingkan oleh kelompok komunis revolusioner bersenjata. Mereka mengambil alih kekuasaan dan menetapkan pemerintahan populer baru. Setahun kemudian 6.000 dokter dan tenaga medis profesional memilih eksil. Menyusul di tahun 1963, sekitar 3.000 guru dan sarjana yang minggat. Mayoritas menyeberang ke Florida, Amerika Serikat. Mereka tidak ingin tinggal dan diperintah oleh rezim komunis yang baru saja menggulingkan seorang diktator.

Di saat yang bersamaan, wabah penyakit menyebar luas di desa-desa. Rumah sakit dan pos-pos kesehatan kekurangan dana, peralatan dan sumber daya manusia. Di Havana, banyak fasilitas pendidikan yang mengalami defisit tenaga pengajar. Di daerah pedesaan, banyak sekolah tutup. Sementara, situasi politik juga belum sepenuhnya stabil. Pengadilan militer teradap ratusan loyalis Batista dengan tuduhan pelanggaran HAM sedang digelar.

Namun, sauh kadung diangkat. Kapal mesti berlayar.

Hal pertama yang dilakukan oleh pemerintahan komunis tersebut adalah meluncurkan reformasi serius di bidang kesehatan, pendidikan, hukum, dan reforma agraria. Tujuannya: pengentasan buta huruf, memperbaiki daya hidup, memberantas korupsi, dan merangsang kembali produksi di bidang pertanian. Undang-undang soal ini dirumuskan dan ditetapkan kurang dari satu semester.

Perusahaan milik asing dan minoritas orang kaya juga tidak luput dari sasaran. 6 Agustus 1960, semua properti Paman Sam dinasionalisasi. Presiden Eisenhower marah besar dan membalas dengan membekukan semua aset Kuba di Amerika Serikat. Pada 19 Oktober, diputuskan untuk melakukan embargo terkait ekspor seluruh produk Kuba.Mei 1959, UU Reforma Agraria terbit. Akhir tahun 1960, seluruh perkebunan para bangsawan diambil alih negara. Termasuk perkebunan tebu milik keluarga Castro. Total, rezim Komunis Kuba berhasil mendapatkan dana segar sekitar 25 juta dolar. April 1961, aset tanah milik Gereja Katholik Roma resmi disita. Pertengahan Mei tahun itu, pembagian tanah dilakukan di bawah pengawasan Ministerio de Recuperacion de Bienes Malversados (Kementerian Pemulihan Aset-aset yang Disalahgunakan).

Pada September 1960, seluruh sekolah swasta mulai diambil alih negara. Miguel A. Faria, Jr. dalam Cuba in Revolution: Escape from a Lost Paradise mencatat bagaimana perubahan-perubahan revolusioner ditetapkan dalam dunia pendidikan. Tentang Kampanye Literasi Kuba (Campaña Nacional de Alfabetización en Cuba) sebagai upaya selama setahun penuh untuk menghapuskan buta huruf di seantero Kuba pasca revolusi. Diluncurkan secara resmi pada 1 Januari 1961 dan resmi berakhir pada 22 Desember tahun tersebut. UNICEF mencatat aksi ini sebagai kampanye literasi paling ambisius dan terorganisir di dunia.

Sebelum Revolusi 1959, tingkat literasi Kuba berkisar antara 60% hingga 76%. Faktor penyebab utama karena kurangnya akses pendidikan di daerah pedesaan dan buruknya instruktur. Mengatasi hal tersebut, rezim komunis Kuba menjadikan tahun 1961 sebagai tahun pendidikan dan mengirimkan kader-kader partai dan negara ke desa-desa untuk membangun sekolah, melatih pendidik baru, dan mengajar para petani buta huruf (guajiros) baca tulis.

Diperkirakan sekitar satu juta orang terlibat secara langsung dalam kampanye tersebut. Mereka dibagi ke dalam empat kategori umum.

Pertama, kelompok yang dikenal sebagai Brigade Conrade Benitez (Conrado Benitez Brigadistas). Yaitu 100 ribu relawan muda berusia antara 10-19 tahun yang memilih meninggalkan sekolah mereka dan menjadi pengajar sebaya bagi anak-anak kampung miskin.

Kelompok yang kedua disebut Pengajar Populer (Alfabetizadores Populares). Mereka adalah sukarelawan yang mengajukan diri untuk mengajar di perkampungan kumuh di kota-kota atau menyasar para pekerja pabrik buta huruf. Sekitar 13 ribu orang yang mayoritasnya adalah buruk, ikut berpartisipasi mengajar teman, tetangga atau rekan kerja mereka. Proses belajar dilakukan di berbagai tempat dan dalam banyak kesempatan. Ketika istirahat makan siang di pabrik, seusai pulang kerja, seusai ibadah gereja, dan lain sebagainya.

Barisan berikutnya dikenal dengan nama Brigade Tanah Air atau Mati (Patria o Muerte Brigadistas). Kategori ini adalah para buruh berjumlah sekitar 15 ribu orang yang dibayar untuk mengajar di lokasi-lokasi paling terpencil di negeri tersebut.

Yang terakhir adalah kelompok 15 ribu guru profesional yang bertugas mengawasi teknis pelaksanaan, menyusun kurikulum dan modul panduan belajar, mengurusi manajemen pembayaran dan melakukan pengecekan berkala terhadap kualitas program kampanye. Setelah Kampanye Literasi usai, sekitar 10 ribu di antaranya tetap bertahan dan melanjutkan tugasnya.

Pemerintah menyediakan pasokan bagi para relawan. Mereka yang berangkat ke desa-desa untuk mengajar menerima seragam, selimut, tempat tidur gantung (hammock), dua buku panduan, sebuah lentera gas yang dapat digunakan ketika proses belajar mengaar berlangsung pada malam hari.

Para relawan ini tidak hanya bertugas mengajarkan orang baca tulis, namun juga memberikan edukasi politik, terutama tentang kondisi Kuba saat itu.

Kampanye ini sukses besar. Di akhir program, laporan resmi mencatat 707.212 orang dewasa telah berhasil membaca dan menulis. Angka melek huruf Kuba sukses dikatrol hingga 96%. Hari ini, tingkat literasi di negara ini menyentuh angka 99% dan pendidikan dari level SD hingga universitas dapat dinikmati secara gratis.

Karena meyakini bahwa perempuan adalah tenaga produktif yang sangat vital perannya dalam revolusi, maka program-program awal pemerintahan komunis memberikan perhatian serius kepada kaum perempuan. UU Kesetaraan Gender disahkan empat bulan setelah Batista dilengserkan.

Bersamaan dengan Kampanye Literasi, di desa-desa para perempuan diberikan pendidikan dan pelatihan teknis. Sementara pendidikan tahap lanjut hanya disediakan jika ada yang tertarik belajar. Materi yang diajarkan misalnya keuangan, manajemen, praktek kesehatan, dan sejenisnya. Untuk para pelacur yang mayoritas terkonsentrasi di daerah perkotaan, dibuat program belajar pengetahuan praktis dan penguasaan keahlian dasar (basic skills)sebelum akhirnya memberikan mereka pekerjaan.

Setelah semuanya dilakukan, pemerintah komunis kemudian baru percaya diri untuk merilis resolusi mengenai pelarangan prostitusi yang terbit akhir tahun 1961. Untuk mereka yang bekerja sebagai pembantu atau pelayan toko, tempat penitipan anak tanpa biaya dibuat di tiap-tiap blok pemukimanan. Perempuan yang menjadi orang tua tunggal diberikan kemudahan untuk mengakses kredit perumahan.

Kampanye kesehatan yang menyasar perempuan memfokuskan soal mental. Kesimpulan ini diambil setelah para komunis melihat bahwa perempuan Kuba mengalami pelecehan dan penindasan mental luar biasa di tempat kerja semasa berkuasanya Batista. Upaya perdana yang wajib dilakukan adalah berupaya membangkitkan kembali kepercayaan diri dan kebanggaan seseorang sebagai perempuan Kuba.

Dan hal tersebut tidak akan bisa dicapai jika perempuan tidak berada dalam posisi setara dengan laki-laki. Ini sebabnya mengapa Kuba menjadi negara pertama yang menandatangani—dan yang kedua meratifikasi—Konvensi anti Diskriminasi Terhadap Perempuan. Kuba hari ini, hampir setengah dari kursi parlemennya di Majelis Nasional ditempati oleh perempuan.

Orang yang memimpin semua perubahan sukses di atas adalah sosok yang selama berdekade menjadi musuh bebuyutan Amerika Serikat. Ia berkali-kali coba dijungkalkan namun upaya ini selalu kandas. Di rentang 1960 hingga 1965, Amerika Serikat setidaknya mengongkosi 681 aksi terorisme sebagai upaya mengganggu stabilitas dalam negeri Kuba.

Investasi ini juga berakhir sia-sia. Tahun 1961, di Teluk Babi sebuah percobaan lain dilakukan dan kembali gagal dengan spektakuler. Setahun kemudian, Kuba diisolasi secara ekonomi, meski sukses bertahan hingga kini. Amerika Serikat tidak pernah berhasil merontokkan negara yang luasnya hanya 100 km2.

Kalian tahu siapa yang saya maksud? Fidel Castro, pak tua keras kepala yang baru saja meninggal hari ini.

 

 

Tayang perdana di GeoTimes Indonesia

Berta Caceres adalah Papua

Kamis malam, 3 Maret 2016. Sejumlah orang bersenjata memasuki kediaman Berta Caceres yang terletak di daerah La Esperanza, lalu mengeksekusi perempuan ini. Empat peluru bersarang di tubuhnya.

Pihak kepolisian kemudian secara cepat merilis pernyataan ke media lokal. Alasan kematian Caceres adalah upaya perampokan.

Keesokan sorenya, kerusuhan terjadi di ibukota Tegucigalpa. Situs berita Guardian memberitakan bahwa protes ratusan mahasiswa Universitas Honduras berujung bentrok dengan pihak kepolisian. Amarah naik ke ubun-ubun. Presiden Hernandez dianggap ingkar dan tidak becus memegang janji.

Caceres, tahun lalu baru saja diganjar Goldman Environmental Prize atas konsistensinya menentang proyek PLTA terbesar di Amerika Tengah. Sikap keras kepala perempuan sering dihadiahi ancaman akan diperkosa atau dibunuh. Seminggu sebelumnya, peringatan terakhir datang. Tapi Mama Berta menolak undur. Ia tetap menolak rencana Agua Zarca membangun empat bendungan raksasa yang akan menghancurkan bentang alam, menghancurkan sumber pangan dan merampas tanah ulayat di sekitar sungai Gualcarque yang dianggap keramat oleh masyarakat adat Lenca.

Agua Zarca, merupakan proyek kolaborasi antara BUMN Honduras bernama Desarrollos Energéticos SA (DESA) dengan BUMN milik pemerintahan Cina bernama Sinohydro yang kini menjadi merupakan pengembang bendungan terbesar di dunia. Proyek ini juga mendapatkan dukungan dari perusahaan-perusahaan seperti Siemens dan Voith-Hydro serta lembaga keuangan seperti bank Dutch FMO (Belanda) Finnfund (Finlandia) dan Bank Dunia.

Mama Berta, lahir dari latar belakang masyarakat adat Lenca, sebelum kemudian ikut mendirikan Dewan Adat Honduras (COPINH) sebagai wadah perjuangan bersama kelompok-kelompok ulayat di negeri itu. Meski ia sadar dengan benar bahwa menjadi pejuang hak masyarakat adat berarti akan dianggap menentang semangat pembangunan. Menentang pembangunan berarti menjadi musuh negara dan investasi. Melawan kedua organisasi ini selalu sinonim dengan kematian yang datang terlalu cepat.

Pembunuhan Mama Berta bukan kejadian pertama di Honduras. Negeri ini telah dianggap sebagai salah satu tempat berbahaya bagi aktivisme. Di tahun 2013, salah satu pemimpin COPINH, Tomás García ditembak mati oleh seorang perwira militer ketika sebuah protes tengah berlangsung. Dalam rilisnya, COPINH mengatakan bahwa kematian Mama Berta melengkapi kematian beberapa aktivis mereka yang lain di tahun 2016 yang masih terlalu muda.

Ironis memang. Padahal, Mama Berta baru saja pindah rumah karena merasa tidak aman dengan teror yang terus menghujaninya. Inter-American Commission for Human Rights (IACHR) bahkan sejak tahun lalu sudah mengingatkan kepada pemerintah Honduras dan masyarakat internasional mengenai terancamnya nyawa Mama Berta.

Faktanya, menurut studi yang dilakukan oleh Global Witness, aktivis lingkungan dan pejuang hak-hak masyarakat adat merupakan target utama pembunuhan di Honduras. Sejak 2010-2014, lebih dari 100 aktifis dibunuh di Honduras. Lebih dari 80% kasus tersebut gagal menyeret para pelaku ke meja hijau. Sisanya, dihukum ringan karena korupnya hukum dan dunia peradilan. Studi lain yang dilakukan oleh Inter-American Commission on Human Rights menemukan bahwa perempuan berstatus aktivis adalah yang paling banyak menjadi korban. Di tahun 2013, sebanyak 513 perempuan dibunuh (femicide). Lebih dari setengahnya merupakan aktivis. Jumlah ini bertambah hingga menyentuh angka 620 orang di tahun 2015.

Angka kematian aktivis di Honduras memang meningkat tajam hingga 260% menurut Global Witness, sejak sukses kudeta di tahun 2009.

Kudeta 2009 yang didukung Amerika Serikat tersebut berhasil menjungkalkan presiden Manuel Zelaya yang terpilih secara demokratis dan mengantarkan Juan Orlando Hernandez menjadi presiden. Peristiwa itu sekaligus menjadi penanda dimulainya pertumbuhan eksplosif dalam bentuk berbagai megaproyek yang merusak lingkungan dan menggusur masyarakat adat. Hampir 30 persen lahan negara itu telah dialokasikan untuk konsesi pertambangan untuk memenuhi permintaan energi murah. Untuk memenuhi kebutuhan ini, pemerintahan Hernandez menyetujui ratusan proyek bendungan di seluruh negeri, privatisasi sungai, tanah, dan memerintah pengusiran masyarakat adat dari tanahnya.

Terdengar persis seperti Papua.

Iya. Honduras dan Papua memiliki banyak kemiripan. Sejak diambil alih oleh Indonesia, Papua juga dibuka seluas-luasnya bagi investasi. Sejak itu, perampasan tanah ulayat yang terus terjadi untuk perluasan mega agribisnis, pembunuhan ekstrajudisial yang berlangsung bebas hambatan, impunitas kepada para pelanggar HAM, diskriminasi terhadap masyarakat adat, serta orang-orang berani yang tidak pernah berhenti melawan.

Sebagai penanda awal, kita dapat memulainya dari kesepakatan jahat investasi tambang PT. Freeport McMoran di tahun 1967. Lalu hingga hari ini, total ada 115 ijin tambang di provinsi Papua Barat yang mencakup areal seluas 3.178.722 hektar. Di provinsi Papua, luas tanah masyarakat adat yang dirampas mencapai 5.932.071 hektar untuk diberikan kepada 125 ijin tambang. Lalu masih ada 2.5 juta hektar sawit untuk 85 perusahaan di seluruh tanah Papua. Ini semua belum termasuk 11.404.969 hektar yang diserahkan untuk industri bubur kertas dan pengolahan kayu.

Dari semua ragam investasi tersebut, orang Papua hanya layak disingkirkan. Itu mengapa angka kekerasan dan pelanggaran HAM terus meningkat. Menurut data yang dikumpulkan oleh ELSAM sejak 2012-2014, di Papua terjadi 389 kasus kekerasan yang menewaskan 234 orang dan mengakibatkan 854 orang mengalami luka-luka. Di tahun 2015, jumlah ini terus meningkat. Hanya di bulan Mei saja, total ada 444 orang aktifis Papua yang ditangkap. Hal ini tidak mengagetkan karena sejak 1961, Papua sudah menjadi sasaran tembak dari 16 kali operasi militer yang dilancarkan tentara. Sebagai contoh, Komisi HAM Asia melaporkan bahwa lebih dari 5.000 orang tewas di daerah pegunungan bagian tengah ketika Operasi Koteka berlangsung dari tahun 1977-1978.

Kekerasan negara di Papua bukan barang baru. Itu mengapa hingga kini, pemerintah masih membatasi akses jurnalis asing masuk ke Papua. Kekerasan yang dipandang negara efektif untuk menyingkirkan mereka yang menghalangi investasi di Papua juga mengakibatkan jumlah orang asli Papua semakin menyusut. Sebuah penelitian di Belanda menemukan bahwa penduduk asli Papua memiliki tingkat kematian bayi dari 18,4%, sedangkan tingkat di kalangan penduduk non-pribumi adalah 3,6%. Studi ini mengklaim bahwa abainya negara untuk menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai, murah dan dapat diakses oleh orang Papua merupakan pelanggaran oleh Pemerintah Indonesia terhadap Konvensi Hak Anak.

Dari sekian banyak catatan buram tersebut, militer justru masih bersikeras menambah kekuatannya di Papua dengan berupaya mendorong pembentukan markas-markas komando dan penambahan jumlah personil.

Penyingkiran adalah pilihan logis yang diambil karena investasi selalu ketakutan dengan perlawanan. Penentangan adalah tanda bahaya bagi rencana menggeruk keuntungan meski mengakibatkan kerusakan ekologis dan sosial bagi masyarakat sekitar.

Seperti Mama Berta, orang Papua juga dipandang berbahaya. Mama Berta tidak berbeda dengan Arnold Ap, Theys Eluay, Kelly Kwalik, Mako Tabuni dan masih banyak lagi di Papua yang dibunuh hanya karena berupaya mempertanyakan dan mempertahankan hak-haknya. Itu mengapa ketika mendapatkan berita mengenai kematian Mama Berta, ingatan saya langsung menuju ke Papua. Tempat di mana kematian adalah penghargaan bagi mereka yang teguh berdiri menantang tirani.