Taufiq Ismail Menyelamatkan Kita dari Bahaya Laten Lagu Wajib

Kapankah terakhir kali kita menyanyikan lagu wajib dengan sepenuh hati? Kemarin? Setahun lalu? Sepuluh tahun lampau? Sudah lama sekali pastinya.

Banyak orang mengeluh nasionalisme generasi saat ini telah luntur, tapi kita sendiri sudah lupa akan lagu-lagu wajib. (Mungkin tidak lupa juga sih, karena masa sekolah dasar kita diisi dengan kegiatan menghafal lagu wajib. Apa masih sampai sekarang?) Mayoritas kita mengeluh anak-anak sekarang kurang menghargai pahlawan, tapi kapan pula Anda meluangkan waktu untuk mengajarkan kepada mereka lagu-lagu kebangsaan?

Di samping nasionalisme, bangsa kita juga semakin bermasalah dengan nilai-nilai ketuhanan YME. Ini masalah mendesak yang tidak semua orang mau mengambil bagian untuk mencari solusi. Semuanya menjadi semakin rumit, karena kita kekurangan patron. Suri tauladan yang dapat menjadi patok moral dalam perjalanan kebangsaan.

Memang tidak ada yang lebih sulit daripada menjadi teladan. Itulah sebabnya saya sering terkagum-kagum pada sekelompok orang-orang yang melakukan hal-hal kecil guna berkontribusi pada masyarakat. Seperti yang dilakukan Opa Taufiq Ismail.

Dari dulu saya kira, bukan Pramoedya Ananta Toer yang layak jadi kandidat Nobel Sejarah. Almarhum Ben Anderson salah besar di sini. Satu-satunya kandidat paling cocok dan paling layak: Opa Taufiq.

Sastrawan yang karya-karyanya paling banyak bertebaran di buku-buku pelajaran terbitan beragam penerbit. Semasa jagal dari Kemusuk masih berkuasa, puisi-puisi Opa Taufiq adalah yang paling dibacakan di depan kelas. Begitu syahdu, begitu manis, begitu tenang. Hingga kita lupa dan tak perlu tahu bahwa negeri ini pernah membantai saudaranya sendiri karena gosip.

Mungkin banyak yang sudah lupa bahwa Taufiq Ismail bukan seorang wanprestasi. Penyair luar biasa ini adalah wajah Generasi ‘66, angkatan penyair yang legendaris itu. Generasi yang ikut menginisiasi Manifesto Kebudayaan di tahun 1963, gerakan anti “politik sebagai panglima”. Opa Taufiq, yang dilahirkan di Bukittinggi, 25 Juni 1935, menghabiskan masa jayanya sebagai salah seorang pendukung garis keras Orde Baru. Tidak diam-diam. Ia tampil membela Orde Baru bagai ksatria dengan menulis Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif LEKRA.

Malulah kalian wahai generasi muda pekerja seni yang malu-malu berpolitik!

Ketika Perang Dingin sedang berlangsung di Asia dan Afrika, Opa Taufiq tampil ke depan dan ikut berkonfrontasi. Ia menyerang LEKRA karena membuat kerja kepenyairan menjadi sukar karena mesti memikirkan derita rakyat. Bagi Opa Taufiq, tugas penyair adalah memotret peristiwa dari ketinggian. Mesti menjaga jarak agar objektif. Tidak boleh terkontaminasi langsung dengan kehidupan. Penyair adalah pertapa di atas menara gading. Suci dan bersih.

Warisan sikap macam ini, masih bisa kita temukan di kampus-kampus seantero negeri. Kalian yang menjalani laku macam ini, seharusnya berterima kasih kepada Opa Taufiq.

Tanpa jasa-jasa beliau, kalian semua akan jadi macam aktivis CGMI dan HSI. Mendedikasikan pengetahuan untuk revolusi dan pembangunan organisasi rakyat. Aktivitas yang sudah jelas kere dan tidak bermasa depan. Mau contoh? Coba lihat Berto Tukan dan Windu Jusuf, dua benjolan dari IndoPROGRESS.

Setelah Soeharto jatuh, Taufiq Ismail tak patah arang. Ia malah meluncurkan buku baru: Katastrofi Mendunia: Marxisma, Leninisma, Maoisma, Narkoba. Buku super ini terbit di tahun 2004. Didasarkan pada riset mendalam terhadap pokok-pokok pikiran Marx dan para pengikutnya, Opa Taufiq menelurkan sebuah tesis paripurna: Marxisma, Leninisma, dan Maoisma itu sama dengan narkoba! Jleb. Mampus kau Windu Jusuf!

Tesis ini setara dengan diktum Marx: “Die religion ist das opium des volkes.”

Oleh karena itu, sangat wajar jika saya membayangkan jika Opa Taufiq seharusnya diganjar Nobel Sastra atas prestasinya dalam mengarang kenyataan. Semua kontribusi dan pencapaian artistik beliau sudah seharusnya tidak hanya dimonopoli bangsa Indonesia saja. Taufiq Ismail sudah seharusnya menjadi warisan dunia. Agar para pendengkinya dapat tutup mulut dan mulai bertobat.

Opa Taufiq adalah puncak dari evolusi otak manusia Indonesia. Ketika beliau mengkritik lagu “Padamu Negeri” sebagai lagu sesat karena manusia Indonesia diajak menyerahkan “jiwa raganya” kepada negaranya, bukannya Tuhan, tentu tidak banyak orang yang tidak akan mengerti. Salah paham karena tidak mampu menyelami kedalaman pikiran Opa Taufiq yang revolusioner dan avant garde. Mereka yang tidak paham bahwa bahaya sebagai orang tua yang sudah banyak makan asam garam dan mengalami kejamnya dunia, yang diinginkan Opa Taufiq adalah yang terbaik untuk semua.

Kenyataan yang banyak tidak diketahui publik adalah: Opa Taufiq merupakan figur revolusioner penuh dedikasi.

Melarang lagu “Padamu Negeri” hanya permukaan. Yang gagal dipahami orang banyak adalah, Opa Taufiq sedang ingin meredam pengaruh buruk dari Kusbini, si pencipta lagu. Tentu tak banyak orang yang tahu bahwa Kusbini adalah aktivis radikal pendukung Soekarno yang karya terakhirnya adalah himne “The New Emerging Forces” di tahun 1965. Jauh sebelumnya, musisi keroncong ini juga diketahui menggubah “NASAKOM”. Lagu ini dapat ditemukan dalam buku Api Kemerdekaan Indonesia terbitan LEKRA. Karya Kusbini bersanding dengan lagu-lagu semacam “Mariana Proletar” atau “Internationale” yang versi Melayunya diterjemahkan oleh Bapak Pendidikan Indonesia itu.

Anda tahu apa itu NASAKOM? “Kom” di sini merujuk pada Komunisma! Astaganaga!

Kita harusnya berterima kasih kepada beliau. Tanpa kritik Opa Taufiq, Anda dan saya tentu tidak akan pernah tahu mengulik-ulik siapa itu Kusbini, si pencipta lagu “Padamu Negeri”. Tidak akan tahu ia adalah aktivis radikal pro-Sukarno dan oleh karena itu tentu tak layak dikenang dan oleh karena itu pula mesti masuk keranjang sampah sejarah. Orang-orang seperti Kusbini semasa hidup telah melecehkan proses berkesenian yang begitu mulia dan suci. Kusbini serupa dengan LEKRA. Melumuri indahnya seni dengan lumpur problematika sosial.

Itu mengapa, penting bagi Opa Taufiq menyebarluaskan gagasan agar orang-orang berhenti menyanyikan “Padamu Negeri” (memang kapan kita nyanyi?).

Dengan tujuan menjaga cucu-cucunya dari marabahaya laten komunisma, ia menjadikan perjuangan ini sebagai misi sepanjang usia. Jalan pedang yang justru sering dipandang sinis oleh anak-anak muda. Generasi milenial yang lahir dan tumbuh dewasa ketika wajah presiden sudah sering berganti. Generasi yang paling sulit mengerti niat baik Opa Taufiq.

Niat baik dari seseorang yang tangannya ikut terlibat menyerahkan leher saudara sebangsanya untuk dijagal tanpa pengadilan. Ketulusan untuk menjaga harkat dan martabat bangsa, sebagaimana dulu Opa Taufiq membiarkan tentara melakukan kejahatan kemanusiaan. Mereka yang tidak mengalami langsung masa itu, tentu tidak akan paham mengapa kekhawatiran Opa Taufiq terhadap bangkitnya PKI adalah mimpi buruk yang sudah mengganggu dirinya hampir dua dekade belakangan.

Tentu saja penting untuk mengingatkan generasi muda agar tidak menduakan sang Pencipta. Ia selalu harus jadi yang utama dan oleh sebab itu, lirik lagu yang terindikasi ke arah tersebut sudah seharusnya diganti dan bahkan kalau perlu dilarang. Menduakan Tuhan melalui lagu dapat berakibat buruk: seperti Marxisma dan narkoba! Selain tentu bakal masuk neraka.

Budi baik dan jasa Opa Taufiq sudah terlampau banyak untuk bangsa yang masih porak poranda oleh perampasan tanah dan upah murah ini. Semoga kelak wajah Opa Taufiq yang teduh dan memancarkan kebijaksanaan itu dapat kita awetkan di salah satu pecahan rupiah. Menurut hemat saya, wajah beliau yang waskita ini cocok menggantikan Kaisepo yang dianggap oleh Melayu-Melayu pandai sebagai “monyet”.

Kok gue kzl ya nulis ini.

Mojok adalah Antek Semen dan Freeport

Pembaca militan Mojok harus bersedia kecewa. Setelah sekian lama berupaya menutupi kedok, situsweb yang berhasil melambungkan Iqbal Aji Daryono hingga ke Ostrali ­sebelum berkhianat karena berhenti menyumbang tulisan secara reguler­ itu akhirnya membuka borok sendiri. Penyamaran Mojok akhirnya terbongkar sudah. Tak lain karena #MojokSore yang semula disebut sebagai konten advetorial ternyata menjadi corong propaganda pro Freeport dan pro Semen Indonesia.

Bajingan!

Setelah melewati fase kekecewaan massal netizen Indonesia terhadap situsweb lainnya yang hanya terobsesi mengejar jumlah klik, harapan sempat disampirkan kepada Mojok. Situsweb konyol ini menawarkan kesegaran melalui bentuk tulisan yang berbeda, dan cara menyajikan isu terhangat lewat racikan para penulis setengah dewa setengah siluman.

Sebut misalnya, Arman Dhani ­budayawan kesepian yang kini bertato, Cak Rusdi ­pria bijak dari Madura, Ardyan M. Erlangga ­jurnalis kaya raya yang baru saja membeli rumah, Arlian Buana ­mantan pimred yang kini digilas kejamnya ibukota, Nuran Wibisono dan Eddward S. Kennedy ­duo tangis yang mengisi Laut Kaspia dengan airmata, Kokok Dirgantoro ­calon presiden 2019, Agus Mulyadi ­jomblo idola yang berniat jadi pedagang susu, Windu Jusuf ­marxis pelopor sologami, dan masih banyak lagi.

Anda penasaran kenapa daftar di atas tidak ada perempuan? Oh, itu sengaja karena saya patriarkis. Tidak mencantumkan satupun nama perempuan di dalam tulisan ini, itu membuktikan bahwa saya adalah seorang misoginis pembenci sekaligus anti kesetaraan gender. Silogisme super mahakarya Aristoteles, penemu materialisme dialektika yang membuat orang jadi atheis.

Silogisme yang sama, Saudara sekalian, juga pantas diterapkan kepada Mojok terkait dengan penyelenggaraan ArtJog 2016.

Sebermula situsweb ini menerima iklan dari bank Mandiri yang merupakan sponsor utama ArtJog 2016. Di saat yang bersamaan, bank ini rupanya mengucurkan dana sebesar 3.96 trilyun rupiah kepada PT. Semen Indonesia. Sedangkan kita semua tahu, masyarakat di pegunungan Kendeng sedang terancam kelangsungan ruang hidupnya karena pertambangan karst PT. Semen Indonesia.

Maka kesimpulannya adalah: Siapapun, iya, siapapun mereka yang menerima iklan bank Mandiri berarti mendukung beroperasinya pabrik semen di pegunungan Kendeng!

Pertanyaan berikut yang hadir, darimana datangnya uang 3.96 trilyun tersebut?

Ada dua kemungkinan. Pertama, dari dana pinjaman asing. Misal, dari Bank Dunia atau dari Bank Pembangunan Asia (ADB). Skenario lain, dana tersebut berasal dari akumulasi dana segar yang dijaminkan oleh mereka yang menabung di bank Mandiri. Lagi-lagi, seturut dengan silogisme di atas, maka semua orang yang memiliki rekening di bank ini turut mendukung pabrik semen dan berkontribusi secara tidak langsung terhadap ancaman kehancuran alam di pegunungan Kendeng, Jawa Tengah.

Silakan masing­-masing dari Anda mengingat kembali di mana Anda menyimpan uang? Kalau bukan Mandiri, Anda berarti selamat sejauh ini. Minimal tak akan ada orang yang dengan heroiknya menulis surat terbuka dan puisi kepada Anda.

Eits, tapi penelitian dari Transformasi untuk Keadilan (TuK) Indonesia menunjukkan kalau BRI, BNI dan BCA ternyata terbukti memberikan kredit kepada banyak perusahaan sawit yang merampas tanah masyarakat adat di Sumatera, Kalimantan, dan juga Papua. Tiga bank tersebut juga terlibat mendanai investasi perkebunan bubur kertas (pulp and paper). Menurut WALHI, perkebunan sawit dan bubur kertas menjadi salah dua penyebab kebakaran hutan setiap tahun di Indonesia. Riset teranyar dari Rainforest Action Network juga menyajikan fakta bahwa perkebunan sawit terindikasi melakukan perbudakan modern yang ikut menimpa ana-k­anak.

Sampai di sini Anda tentu paham: Kalau semua bank di Indonesia itu bajingan, berarti satu­-satunya opsi paling mungkin adalah menutup rekening dan memindahkannya ke bank lain.

Nah, kalau jalan itu mau ditempuh, opsi yang tersedia tinggal Maybank, Standard Chartered atau Rabobank. Semuanya adalah bank luar negeri yang juga sering disasar oleh berbagai organisasi gerakan sosial internasional karena membiayai pertambangan di negara dunia ketiga, penggundulan hutan di Amazon dan perampasan tanah di Afrika. Tak apalah, ya. Toh yang jadi korban jauh di sana. Tak soal, kan?

Sekarang pindah ke soal berikut. Bagaimana mengenai keikutsertaan Freeport sebagai sponsor di Mandiri ArtJog?

Ini lebih biadab lagi. Bahkan untuk akses internet di lokasi aja, katanya harus menjawab pertanyaan mengenai Freeport. Jadi, menerima iklan dari penyelenggara Mandiri ArtJog itu sama dengan mendukung pelanggaran hak asasi manusia terhadap orang Komoro dan Amungme. Lha kok ada Komoro juga? Lah, memang kamu pikir korban Freeport itu cuma Amungme doang? Payah. Mungkin sesekali kamu harus gaul sama anak­-anak JATAM atau maen ke PUSAKA.

Kenapa Mojok harus ikut bertanggungjawab? Karena Mojok adalah pihak yang memastikan Freeport menjadi salah satu sponsor di Mandiri ArtJog pada detik­-detik terakhir penyelenggaraan. Mojok juga yang meletakkan logo Freeport pada desain undangan dan poster-­poster resmi ArtJog. Situsweb inilah yang jauh­-jauh hari melakukan lobi aktif mengenai kemungkinan Freeport mengalirkan sebagian kecil dana talangan sosial mereka (CSR) pada acara yang artsy macam ArtJog ini.

Mojok menjadi semacam pihak perantara yang mewakili panitia bernegosiasi dengan PT. Freeport mengenai berapa besaran sumbangan yang akan disalurkan ke dalam rekening ArtJog karena pemerintah enggan membiayai kegiatan macam ini. Dan jika Anda mengamati struktur kepanitiaan ArtJog kali ini, Anda akan tahu betapa Mojok juga jelas terlibat. Itu satu lagi bukti kalau Puthut EA dan kroninya memang pro Freeport. Lengkap sudah kejahatan mereka.

Eh, salah, ya? Mojok tidak melakukan itu semua? Masak, sih? Lha terus kenapa congor dan argumentasi irasional­mu malah diarahkan kepada situsweb ini? Kamu cacingan?

Surat Rahasia buat Sesama Haters Mojok

Di masa lalu, saya selalu senang membenci tanpa harus mencari tahu alasannya. Sebabnya sederhana, lebih hemat energi karena tidak perlu menggunakan otak untuk belajar mengenali dan memahami.

Hari ini, saya juga masih seperti itu. Terutama kepada Mojok. Media kafir yang tidak pernah peduli dengan isu-isu penting di negeri ini, karena hanya peduli dengan hal-hal remeh seperti martabak, Alfamaret-Indomaret atau kondisi percintaan syahdu nan pilu Arman Dhani dan Agus Mulyadi.

Alasan lain, karena tulisan-tulisan yang pernah saya kirim ke meja redaksi Mojok tidak pernah direspons. Tidak ditayangkan, dan tak ada pemberitahuan mengenai kejelasan nasib naskah yang susah payah saya buat. Tersangka semua kejahatan tersebut tidak lain duo serigala jadi-jadian: Arlian Buana dan Eddward S. Kennedy. Mereka adalah sebab dari menggunungnya kebencian dan sakit hati yang membuat otak saya gagal menggunakan nalar. Keinginan untuk populer, lewat situs besar megah yang tulisannya disebar jutaan orang ini, kandas.

Saya kecewa dengan Mojok.

Mereka tidak pernah membahas hal-hal penting semisal Freeport, soal Jokowi yang menjual negeri ini dengan murah, buruh yang dihisap dan diupah murah. Mojok juga tidak heboh ketika tanah kaum tani dan rakyat Papua dirampas. Tanya saja Mas… ah, sudahlah.

Sejak diluncurkan pertama kali, Mojok tumbuh menjadi sebuah media yang menjadi rujukan banyak orang untuk dijiplak, disebarluaskan, dan dikutip sebagai satu-satunya pusat kebenaran akal-akalan dan kesempurnaan dunia. Namun kami, Barisan Pembenci Mojok menyadari bahwa para penulis media ini tidak lain adalah sekumpulan para pembual yang membuat kami semua yang gagal paham, susah berpikir hingga malas mencerna berita, menjadi kesal, marah atau bahkan sampai ingin merakit bom dan meledakkannya di sungai lalu mengumpulkan ikan dan udang yang mengapung.

Para penulis dan susunan redaksi Mojok adalah orang-orang sok tahu, sok keren, dan sok alim yang membuat kesempatan kami untuk tampil gaya-gayaan di Mojok semakin menyempit, menipis hingga kemudian pupus. Karena orang-orang inilah, kekacauan pasca pilpres menjadi semakin tidak lucu dan ketinggalan zaman. Artikel-artikelnya membuat cekcok antar kami sesama pembenci menjadi kehilangan panggung karena sering dijadikan bahan olok-olok semata.

Sungguh. Mereka pengacau zaman. Iblis-iblis modern yang tujuan hidupnya adalah mengganggu keyakinan irasional kami, menggoyang kepercayaan buta yang telah turun-temurun dipelihara, dijaga dan dirawat. Terutama Mas Bana dan Mas Ken, yang lebih mirip nelayan yang mengail penuh ketenangan di tengah badai amuk massa. Mojok berlaku seolah-olah sebagai tempat para pencari pengetahuan, meski sesungguhnya mereka tidak lebih dari para pemulung sensasi.

Mojok juga enggak sensitif.

Terlalu ketat menerapkan standar kurasi untuk setiap artikelnya hingga kami yang merasa hebat dalam menulis, harus menanggung malu karena dianggap angin lalu. Padahal, banyak tulisan di Mojok adalah penghinaan yang vulgar dan tidak etis. Banyak yang sok tahu dan sok keren, dan selalu menghina kami yang bersetia dengan kebebalan. Sombong yang senang mengomentari semua hal. Sok tahu!

Mojok, tidak lain dan tidak bukan, hanya laku menertawai kami yang senang menghakimi. Kami yang sok revolusioner karena mampu mencomot kutipan berbobot atau berakting radikal ala kadarnya merasa dikencingi oleh seni berpura-pura seperti yang ditontonkan para penulis Mojok. Mereka gemar berpropaganda sekaligus menceramahi Tere Liye, Felix Siauw hingga Fahri Hamzah. Kami dipaksa oleh media kafir liberal ini untuk mengkonsumsi tulisan-tulisannya. Padahal seluruh kami telah berikrar untuk tidak bersepakat dengan logika.

Memang kenapa kalau kami kami bego?

Terutama Eddward S. Kennedy. Dia adalah provokator berhati gampang trenyuh yang tidak layak jadi contoh bagi generasi muda Indonesia yang bersiap bela negara. Pemuda gemar menangis tapi berlagak garang melalui tulisan. Mas Ken lupa bahwa di atas langit masih ada langit. Tidak baik menertawakan penderitaan kami yang gagal nalar

Apalagi artikel belio yang terakhir soal Martabak Kecebong. Sampah!

Kami, batalion pembenci Mojok, tentu saja mencurigai Mas Ken—seperti juga para penulis Mojok lain—memang sengaja dibayar oleh kekuatan asing untuk menggerogoti ketidakmampuan orang-orang untuk bersikap kritis. Ini tipe media partisan yang mengesalkan karena terlalu banyak piknik dan bahagia. Coba pikir, dari mana Mojok mendapatkan biaya untuk beroperasi? Tentu saja dari uang suap. Tapi kok ya sok mau ngurusin bangsa.

Sementara Arlian Buana adalah sosok yang sok alim, sok bijaksana, sok baik, sok sibuk, sok semuanya. Pokoknya pimred Mojok itu mengesalkan. Alasannya? Gak perlu ada. Benci kok pake alasan. Memang sejak kapan kami harus pake logika?

Lalu mau mencuci dosa dengan memberikan buku gratis buat Felix Siauw?

Menyalahkan Mojok sebagai institusi memang tidak perlu alasan. Tapi dua nama di atas adalah yang paling berdosa, yang paling bersalah, yang paling bertanggung jawab, dan yang paling … ah, sudahlah.

Tapi jangan harap menemukan nama Puthut EA di daftar ini. Kepala Suku Mojok tidak menyebalkan. Belio tidak pernah salah. Kecuali pilihan tim sepakbolanya dan pilihan dia untuk mendirikan Mojok.

Lion Air: Maskapai Utama Pilihan Kita Semua

Saya percaya, para pembaca Mojok termasuk golongan yang membenci penggerutu, tukang gosip, apalagi tukang fitnah. Saya juga percaya kalau Bung dan Nona sekalian berasal dari kalangan yang tidak gampang diprovokasi oleh berita-berita tidak jelas yang sumbernya pantas diragukan. Sebab kita tahu bersama, di luar sana, sudah terlalu sering sesuatu dibesar-besarkan. Dilebih-lebihkan. Dikurang-kurangkan. Dijomblo-jomblo-kan. Diagusmulyadikan.

Semoga pendapat itu sama sekali tidak dipengaruhi oleh rasa lelah fisik sehingga menyebabkan saya berhalusinasi.

Berita soal delay-nya maskapai Lion Air yang sudah dua hari berlangsung, tentu tidak bisa kita percayai begitu saja. Tidak bisa langsung ditelan bulat-bulat, apalagi kotak-kotak. Kita semua tahu, cukup banyak media di Indonesia yang suka berheboh-hebohan. Tak jarang, mereka bukan mencari berita, tapi justru membuat berita.

Oleh karena itu, sebagai salah satu peserta yang ikut paket liburan berjam-jam di bandara karena penerbangan yang ditunda (hingga batas waktu yang belum ditentukan oleh Lion Air), saya merasa memiliki tanggungjawab peradaban yang mesti dipikul untuk menjelaskan duduk persoalan dan membela Lion Air.

Ini penting sebagai opini pembanding karena simpang-siurnya informasi yang beredar di publik. Sebagai orang yang berada di lokasi kejadian, saya akan mengajak pembaca semua untuk menyelami langsung peristiwa tersebut.

Namun harus ditegaskan sejak awal. Tulisan ini dikhususkan hanya untuk mereka yang memiliki jantung sehat karena rajin menghisap kretek dan berolahraga. Jika merasa sudah tidak kuat, silakan lambaikan tangan Anda ke kamera.

Berikut ini beberapa alasan mengapa Lion Air adalah maskapai penerbangan terbaik dunia-akhirat.

 

Pelayanan Ramah, Responsif dan Jomblo-friendly

Sejak pertama kali naik pesawat 15 tahun lalu, saya belum menemukan maskapai yang mampu menyaingi Lion Air. Ini adalah satu-satunya jasa penerbangan yang mampu membiarkan para penumpang menunggu tanpa kabar selama berjam-jam di Bandara Soekarno-Hatta tanpa makanan, selimut, indomie, belaian kasih sayang, apalagi kretek. Lion Air ternyata sanggup menelantarkan lebih dari 400 penumpang dari enam jalur penerbangan berbeda, tanpa informasi, tanpa sebab dan tanpa alasan.

Lion Air adalah maskapai penerbangan yang akan mengajarkan kepada Anda bahwa di-PHP oleh seseorang bukanlah akhir dunia. Sekaligus di saat yang bersamaan mengajarkan bahwa Anda perlu sesekali berhenti berharap, karena itu adalah hal yang manusiawi. Lion Air akan membantu Anda memahami bahwa ternyata terlambat menyadari kesia-siaan menunggu bukanlah sebuah kesalahan. Ini jenis pelajaran yang datang dari pengalaman. Teori yang lahir dari praktek. Alasan yang lahir dari tragedi. Serupa Amorfati.

Di negara seperti Indonesia, di mana transportasi publiknya terjangkau dan berkualitas, Lion Air adalah representasi paling tepat bagaimana memperlakukan konsumen. Hak seseorang sebagai pelanggan yang dilindungi undang-undang sepenuhnya terjamin. Misalnya, para penumpang dipaksa untuk menginap di lantai ruang tunggu walau hotel adalah apa yang disyaratkan oleh undang-undang.

Sebagai pemakai jasa Lion Air, Anda akan mendapatkan kesempatan untuk merasakan bagaimana terpaksa harus membeli makanan di kantin-kantin mahal yang berjejer di dalam bandara. Warung-warung yang harga nasi gorengnya selangit, namun dengan kualitas membumi. Sebab jika berani memilih keluar bandara, itu berarti Anda beresiko ketinggalan pesawat seperti seorang pemegang tiket ke Denpasar yang ditinggal Lion Air tanpa alasan.

 

Memiliki Staf Berkualitas dan Profesional

Dengan menggunakan jasa Lion Air, Anda, sebagai pelanggan, akan mendapatkan kesempatan dilayani oleh staf-staf berkompetensi tinggi—putra-putri terbaik negeri ini. Para staf yang bekerja di jasa penerbangan ini adalah orang-orang yang paham kapan saatnya untuk menghilang dari pandangan mata Anda. Pegawai-pegawai di counter Lion Air akan tetap melayani Anda check-in dan baggage drop walau mereka tahu bahwa tidak akan ada penerbangan hingga sepuluh jam ke depan. Ketika Anda melayangkan pertanyaan, dengan bersembunyi di balik senyum manis mereka akan membisu dan berpura-pura tuli.

Hal yang tidak jauh berbeda akan Anda temukan di kantor Lion Air yang terletak di lantai dasar bandara. Di sana pintu terbuka lebar dan mempersilakan siapa saja untuk masuk. Dengan leluasa, Anda sekalian, bersama handai-taulan, dapat singgah meskipun tidak ada satu pun dari staf Lion Air yang berada di dalamnya.

Rusdi Kirana, pemilik Lion Air, mendidik para pegawainya untuk memiliki kemampuan menghindar dari masalah. Sesuatu yang sebenarnya juga ditemukan di maskapai lain, namun dengan skills di bawah rata-rata.

 

Manajemen Bintang Lima

Ketika ratusan penumpang kebingungan karena tiada kabar angin tentang jadwal penerbangan masing-masing, tidak satu pun staf Lion Air yang tampak batang hidungnya. Saat banyak orang mulai marah karena merasa ditelantarkan, ditipu, dan dikhianati, Lion Air hanya mengutus seorang petugas bagasi untuk datang dan menenangkan massa. Seorang pemuda dengan tatapan nanar, dan wajah pucat, karena menjadi kambing congek di tengah kumpulan orang banyak yang gerah, lelah dan galau.

Ketika tahun baru semestinya dirayakan penuh bahagia dengan keluarga, teman, tetangga atau pacar orang, manajemen Lion Air sukses membuat banyak orang bermutasi menjadi barongsai liar yang penuh kemarahan, hingga berteriak-teriak, merokok di sembarang tempat dan akhirnya menyandera si pemuda bernasib sial itu.

Lion Air memang maskapai domestik dengan manajemen kelas dunia, standar layanannya gabungan antara Ritz Carlton dan Hilton.

Lima Web Browser Pilihan Untuk Aktivitas Stalking Para Jomblo

Curiosity, atau rasa penasaran adalah hal yang manusiawi, masuk akal, logis. Hal ini merupakan sesuatu yang natural, karena demikianlah datangnya pengetahuan: berawal dari rasa penasaran. Tapi bagaimana bila curiosity tersebut menyasar kehidupan privat seseorang (baca: target atau mantan)?

Para pengidap curiosity di stadium tersebut menurut Felix Guattari–psikiatris revolusioner asal Prancis–hanya bisa ditemukan pada individu-individu yang “lemah lembut (namun bukan lelembut), sensitif (dan bukan hiper aktif), hampir patah arang (hampir loh! bukan sudah patah), namun memiliki optimisme” yang hampir tidak masuk akal. Saya sudah lupa kutipan ini dari buku yang mana. Anggap saja peristiwa ini sudah digariskan oleh yang Maha Kuasa. Tapi harap percaya dan ambil hikmahnya.

Singkatnya, curiosity hanya eksis di kalangan jomblo yang militansinya teruji oleh peristiwa-peristiwa tragis yang menimpa mereka.

Saya pernah mengalami momen-momen dijangkiti curiosity bertahun-tahun silam sebelum akhirnya berhasil sembuh total dengan rajin memasak, rajin hang out dengan berbagai jenis kelompok sosial, dan rajin menabung. (Bagian yang terakhir ini justru maha penting. Sebab jika tak ada cadangan devisa, hadirin jomblo sekalian akan sangat susah melakukan poin pertama dan kedua. Seberapapun terhormatnya kalian di mata target.)

Kepada massa jomblo di luar sana yang sedang memimpikan tibanya saat-sat penuh tawa berdua, bergandengan tangan saat jalan, berbagi payung saat hujan, berbagi kartu ATM saat kere, melakukan aktivitas stalking adalah taktik paling logis yang dapat ditempuh ketika (menurut Lenin) situasi masih tak kondusif dan represif.

Menjadi stalker, berarti menjadi seseorang yang mengikuti seseorang yang lain dengan hati-hati, diam-diam, dan malu-maluin (jika sampai ketahuan geng tongkrongan atau keluarga besar). Penting untuk diingat bahwa stalking adalah kerja-kerja terukur yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang memiliki jiwa revolusioner.

Sebagai bentuk solidaritas langsung, saya akan membagikan tips singkat kepada pembaca jomblo sekalian terkait web browser pilihan yang dapat digunakan dalam aktivitas memata-matai mantan ataupun target gebetan.

Tips ini merupakan pertanggungjawaban intelektuil setelah melakukan riset mendalam dengan menggunakan metode participatory action research selama empat bulan penuh. (Bundel laporan dapat diminta langsung dengan mendatangi Mojok Institute).

 

5. COMODO DRAGON

Nama web browser ini diadopsi dari hewan karnivora dengan liur mematikan yang hidup di pulau Komodo. Ia menawarkan pilihan bagi stalkers untuk menggunakan DNS milik Comodo ketimbang yang disediakan oleh penyedia jasa internet (internet service provider). Comodo Dragon baik digunakan untuk mereka yang baru memulai pengintaian atau masih ragu-ragu dengan profil sang target. Keunggulan utamanya dikarenakan ia tidak menggunakan Google user tracking sehingga para stalkers mendapat garansi bebas jejak daring jika kemudian ingin berpindah sasaran.

Kelemahannya: web browser ini tidak memiliki akses otomatis ke hati sang target atau mantan (baca: Google Search) dan juga tidak memiliki bug tracking system yang dapat menjelaskan mengapa terjadi kesalahan sehingga jomblowan-jomblowati tetap single hingga saat ini.

 

4. OPERA

Diluncurkan perdana tahun 1996. Opera adalah yang pertama dalam soal keramahan terhadap CSS dan merupakan web browser paling populer ke lima di dunia. Memiliki kemudahan menggunakan keyboard shortcut untuk beberapa hal serta menyediakan kemungkinan untuk memperbesar atau mengecilkan halaman yang sedang dikunjungi. Cocok digunakan untuk para jomblo yang ramah namun senang jalan pintas dan mengalami rabun mata (dan hati).

Kelemahan: jalan pintas tidak selamanya berarti kesuksesan. Keramahan juga dapat sering disalahartikan yang membuat para jomblo akan terus menerus terjebak dalam friendzone.

 

3. SAFARI

Web browser paten-nya Apple. Di tahun 2007, (alm) Steve Jobs mengklaim bahwa Safari adalah yang paling cepat di antara jenisnya. Versi mobile–nya dianggap memiliki nilai keren lebih karena digunakan oleh iPhone dan iPad. Memiliki Smart Reader yang menghalangi iklan-iklan mengganggu saat sedang mengunjungi sebuah halaman web. Safari juga punya parental controls yang lebih masuk akal dibading sensor ala Kementerian Komunikasi dan Informatika, baik era Tifatul Sembiring maupun setelahnya.

Kelemahan: sempat mengeluarkan versi yang ramah untuk Windows, namun sejak 2012 tidak lagi pernah diperbaharui. Para stalkers Indonesia yang mayoritas menggunakan Windows (bajakan), tentu tidak ingin dianggap kudet (kurang update) oleh sang target atau mantan yang ingin diajak balikan.

 

2. MOZILLA FIREFOX

Sering disapa Firefox, atau rubah api. Nama keren yang compatible dengan Windows, Linux dan punya versi mobile untuk Android. Masuk lima besar di dunia, tapi paling populer digunakan di Indonesia dengan 55% dari total user menurut StatCounter. Menggunakan Sandbox Security Model dan menjamin keamanan komunikasi Anda dengan penggunaan kriptografi protokol HTTPS. Yayasan Mozilla bahkan mengadakan sayembara hingga 3.000 dolar jika anda menemukan hole (masalah) terkait garansi sekuritas.

Kelemahan: tingginya popularitas Firefox (baca: target) membuatnya rentan, klaim InfoWorld. Para stalkers JKT48, misalnya, mesti realistis dan awas sejak awal terkait persentase sukses mereka. Sikap ini misal dapat dipelajari dari Puthut EA ketika diundang Dian Sastro untuk berjumpa.

 

1. GOOGLE CHROME

Tentu saja dikembangkan oleh Google dan merupakan web browser paling stabil dan populer di dunia (51% pengguna). Menawarkan fitur Incognito bagi stalkers yang terpaksa menggunakan PC atau laptop orang lain ketika menjalankan misi pengintaian. Secara berkala mengupdate informasi soal pishing dan malware. Juga memberi peringatan dini soal kemungkinan situs-situs berbahaya yang dapat merugikan stalkers.

Kelemahan: menyimpan data pengguna yang kemudian dipergunakan Google untuk melakukan profiling. Para stalkers sangat beresiko terungkap atau bahkan tertangkap basah saat melakukan pengintaian. BIN, BAIS, CIA, FBI dan KPK(?) dapat menggunakan data profil yang dikumpulkan Google untuk mengungkap kelemahan anda di hadapan target atau mantan.

 

* * *

Pertama kali tayang di Mojok: Banyak Akal, Sedikit Nakal.