Di Belakang Hotel

Apa yang lebih indah selain tumisan babi panggang, salad pedas dan kenangan?

Mungkin saja ada. Atau pasti ada. Tapi bagi saya, harum tumisan dari wajan penggorengan itu seperti sensasi magic mushroom yang datang sesuai prediksi. Bunyi pemukul kayu yang bertalu dari belakang meja pembuat salad khas Siamadalah rindu yang ditunggu. Seperti sejarah yang menggariskan bahwa rempah yang berlimpah akan mengundang para penjajah. Bahwa negeri-negeri tropis ditakdirkan untuk takluk, menjadi budak lalu tampil sebagai pemenang yang tidak lebih baik dari penjajahnya.

Namun, di balik banyak cacat dan gagap, kita diberkahi lidah yang begitu lincah menari di atas berbagai sajian rasa. Tenggorokan yang sering berontak karena enggan menelan makanan yang dibuat hanya sekedarnya. Orang-orang tropis mungkin adalah yang paling congkak soal kuliner.

Itu mengapa saya tidak bisa mentolerir Shangri-La Bangkok. Dua kali makan siang dan semua menu yang disajikan adalah eksebisi wajah-wajah tirus pemurung yang nenek moyangnya menggelandang di lautan sepi sebelum akhirnya terdampar di pantai-pantai hangat tropis. Semua jejeran kuliner Shangri-La adalah imperialisme lidah negeri yang terobsesi dengan rempah namun kekurangan matahari. Perut saya sudah sampai di hujung batas. Saya butuh rasa pedas yang membuat mata menyalak, gurih bawang dan jahe yang pas di lidah. Semata agar saya bisa melalui seharian ini dengan lebih beradab dan emosi yang terkontrol karena obrolan soal kelapa sawit ramah lingkungan sungguh benar membosankan.

Saya adalah jenis orang tropis dengan lidah fasis yang sombong soal makanan.

Itu sebabnya saya memutuskan keluar dan menjelajah gerai-gerai makanan kaki lima yang terletak tepat di belakang hotel. Ada puluhan kios kecil yang menyediakan berbagai menu khas Thailand. Semuanya siap dimasak dan anda hanya perlu menunggu kurang dari lima menit sebelum menyantap hidangan. Harga yang ditawarkan tentu saja jauh lebih murah dari restoran di dekat lobby utama Shangri-La. Selain itu, rasanya akan sanggup membuatmu bertemu manajer hotel tersebut dan menasehatinya soal bagaimana lidah tropis seharusnya diperlakukan.

Lagipula, Thailand pernah jadi bagian hidup saya. Saya tidak akan membiarkan Shangri-La mengacaukan ingatan tentang bentuk negeri yang penanda utamanya adalah kuil-kuil Buddha, kios-kios Seven Eleven hingga kudeta yang terus berulang. Kuliner negeri ini pernah membuat saya nyaman selama hampir dua tahun meski tetap alergi dengan militer. Makan siang di kedai-kedai pinggir jalan Bangkok dahulu macam orgasme di puncak masturbasi diam-diam setelah kau bosan membaca artikel-artikel jurnal. Satu jam di kantin terasa seperti bercinta dengan kekasih di lorong perpustakaan, atau saling meraba ketika kelas berlangsung. Makan siang dan makan malam di Thailand selalu saya jalani secara berdebar dan penuh semangat.

Kepada publik, kuil-kios-kudeta adalah hal yang paling sering saya bicarakan dan juga tulis. Tapi ada sisi lain Siam yang membuat saya bersabar menghadapi pertemuan membosankan dengan para pemangsa tanah. Negeri ini pernah bersikap begitu baik kepada lidah saya dahulu. Tidak mungkin dia membiarkan saya kecewa karena Shangri-La yang tidak becus. Karena saya percaya, makanan di daerah tropis adalah padu padan yang diciptakan oleh nirwana. Dan saya serius.

Babi itu hewan surga. Dibikin apa saja enak. Dagingnya adalah ekstase. Lemaknya adalah cara berjumpa dengan pencipta. Apalagi jika Rahung Nasution yang memasaknya untukmu. Setiap gigitannya akan membuatmu terasa sedang menjalani bulan madu. Hanya saja abadi. Membekas dan merampas kesadaran. Lalu kau terbayang dan mencari jalan untuk kembali. Dan Thailand, menemukan salah satu cara terbaik menyajikan daging babi di rimba tropis. Cepat dan tangkas. Jenis fast food yang bisa kau gunakan untuk melecehkan KFC dan sejenisnya secara brutal dan terus menerus.

Namanya Kana Moo Krob.

Daging babi asap yang diiris persegi dan ditumis bersama bawang putih, jahe, rajangan cabai dan minyak ikan. Hamburkan garam secukupnya lalu tambahkan potongan daun bayam. Aduk hingga layu. Lalu tuangkan semuanya ke atas sepiring nasi yang masih hangat mengepul. Harumnya niscaya akan membawamu kembali ke masa di mana membakar kemenyan tidak akan dianggap primitif dan terbelakang. Minyak yang melekat di tiap lembar potongan daun bayam akan terasa persis seperti kenangan. Dan daging babi asap yang berlumur rempah adalah jembatan pelangi. Di ujugnya kau dapat menjumpai leluhurmu, para pemburu pemberani dari masa lalu.

Keunggulan Kana Moo Krob bukan pada penumisan sebelum disajikan. Tapi dari sejak babi asap dipersiapkan. Ini adalah jenis kuliner yang mensyaratkan babi remaja untuk persembahan. Dari semua total sembelihan, yang akan diasap hanyalah daging paha. Mungkin ini perlambang kelincahan dan nasib baik. Prosesnya menggunakan arang kayu dan menghabiskan waktu tiga sampai empat jam berkubang asap. Sembari diolesi minyak kelapa bekas penggorengan yang sudah bercampur rempah-rempah seperti perasan jeruk, bawang merah dan bawang putih yang dirajang kasar, bercampur lada dan cabai.

Campuran inilah yang dahulu menjadi sebagian alasan mengapa Colombus tersesat dan terkena delusi karena mengira telah sampai di India. Periode pengasapan ini jika dilakukan dengan benar, maka harum daging yang terbakar perlahan akan terbang naik ke atas, melewati lorong waktu dan pergi meringkas aral di masa depan.

Setelah proses pengasapan selesai, keringkan di bawah sinar matahari. Setiap beberapa jam, selingi dengan olesan minyak kelapa yang digunakan saat pengasapan. Agar bumbu meresap ke dalam daging bersama dengan doa yang menguap ke langit. Proses ini biasanya dilakukan selama dua hari. Daging babi asap yang sudah kering ini dapat awet hingga seminggu.

Sementara, bahan utama Som Tam adalah adalah buah pepaya mentah yang diiris halus. Ditumbuk bersama dalam lesung tanah liat dengan perasan jeruk, bawang putih, minyak ikan, potongan udang asin, irisan wortel, kacang dan cabai. Bunyi lesung yang digagahi pemukul kayu akan terdengar seperti nada yang digunakan Shaman memanggil roh leluhur. Ini adalah jenis salad para pemberani di masa lalu sebelum takluk oleh mesiu. Rasanya adalah campuran asin dan pedas. Saling berpagutan di lidah hingga memaksamu bersyukur karena terlahir di negeri yang selalu hangat oleh matahari.

Bagi saya, Som Tam sejati adalah yang rasa pedasnya mampu membuat bulir-bulir keringat menetes deras dari balik kening dan kita seakan dilempar ke masa di mana hutan-hutan tropis belum terjamah kelapa sawit. Di sana, di kaki pohon-pohon raksasa, kita seperti berlari mengejar babi hutan yang sedang bersolek. Lalu setelah babi itu tumbang oleh tombak dan panah, kedua paha bagian belakangnya akan kita persembahkan untuk menjadi bahan dasar Kanna Mu Krob.

Sepulang berburu, kau dan aku akan singgah memetik pepaya agar dewa cemburu dengan kesempurnaan kuliner kita. Hingga akhirnya harum pengasapan paha babi yang tembus ke bilik surga membuat para dewa marah dan kalap, lalu berkhianat dengan mengutus para begundal dari tanah muram di utara untuk datang menebas hutan, menggantinya dengan sawit, memusnahkan babi-babi dan melabeli kita: primitif!

* * *

Tulisan ini tayang perdana di Minum Kopi

Macchiato Kenangan di Savannakhet

Kaget.

Itu yang saya rasakan saat pertama kali memandangi bagian atas kedai kopi plus resto ini. Namanya terpampang besar di bagian atas depan yang begitu mencolok dari jalan raya. Papan nama yang mungkin terbuat dari bahan besi tahan karat berwarna perak. Pantulan sinar mataharinya cukup untuk membuat matamu terganggu.

Beranda Macchiato De Coffee didominasi warna gelap dengan jendela kaca di sana sini. Kau hampir bisa melihat seluruh bagian dalam dengan cukup berdiri di teras. Di sebelah kanan ada dua kotak telpon umum khas tanah Britania. Dicat merah menyala dan diletakkan hampir berdempetan. Halaman parkirnya sangat luas untuk ukuran kafe.

Kepala saya berputar ke masa lalu. Beberapa tahun lampau ketika sedang berada di sini. Juga rentang masa di mana saya begitu sering hilir mudik antara Vietnam-Thailand. Dalam ingatan saya, kedai kopi ini tidak ada. Macchiato De Coffee belum eksis ketika jalanan berdebu dengan pembangunan yang berjalan lambat, pos imigrasi, warung-warung mi, bar dan resto murahan serta tempat-tempat bermain billiard-nya begitu saya akrabi.

Ingatan saya tentang Savannakhet hanya dua. Pertama, kegersangan yang berpilin dengan debu jalanan. Berjalan kaki siang hari di kota ini terasa seperti pelatihan militer yang membosankan. Tidak ada pohon peneduh, mobil yang hilir mudik, perempatan jalan yang tidak terurus hingga mesin-mesin ATM yang tampak kusam. Selanjutnya adalah mengenai bar-bar mini yang terletak di berbagai sudut kota. Tempat seperti ini adalah ruang eskapik bagi ekspatriat dan mereka yang berhenti sejenak di Savannakhet. Semacam halte waktu di mana para peminum bir bertemu kemurahan hati khas Laos. Beerlao, bir khas Laos yang mudah ditemukan di sana sini dijual dengan ukuran yang lebih murah dari ibukota. Sebagai komplemen, kacang disediakan bagi mereka yang tidak tahan menenggak alkohol tanpa mengunyah sesuatu.

Saya pertama kali menginjakkan kaki di Savannakhet pada akhir 2013.

Medio November tahun itu, saya bersama dua orang kawan, menyeberang dari Mukdahan, Thailand. Kami bertiga adalah prajurit sewaan yang dikontrak beberapa waktu untuk mengumpul informasi di Savannakhet. Operasi mengumpulkan pundi-pundi uang yang dibalut dengan pembenaran akademis ala penghuni menara gading. Tim amatir yang ditugaskan untuk melakukan riset mengenai aktivitas lintas batas antar negara. Kami diminta melihat bagaimana anak muda berperan di arus pergi-pulang di tapal dua negeri. Maklum, saat itu ASEAN Economic Community sedang jadi topik utama. Menurut desas desus, ada banyak uang yang tersedia di beberapa universitas top di Thailand. Dana ini hanya bisa diakses melalui rangkaian riset yang dipandang memiliki dampak dan kontribusi bagi ide masyarakat konsumen di region Asia Tenggara. Kau tidak harus jadi pintar di kelas. Cukup jadi paling cerdas, gesit dan sedikit menjilat para profesor. Jika semuanya lancar, dipastikan kau bisa mengulur tangan untuk mendapatkan sedikit bagian.

Keberuntungan nasib, latar belakang sebagai seorang anak kampung yang berasal dari perbatasan, serta sedikit pengalaman yang tercantum di riwayat hidup membuat saya diajak terlibat. Meskipun faktanya kemampuan bahasa Laos saya nol besar, dan daya komunikasi dalam bahasa Thai sangat buruk. Kelemahan-kelemahan itu membuat saya harus rela menjadi penerima informasi tangan kedua setelah dua partner saya yang berasal dari Thailand dan Laos. Sejak dimulainya riset, masing-masing kami saat itu saling menyimpan tanya dan curiga soal siapa yang mendapatkan bayaran lebih besar.

Kawan pertama. Lambai Souvanlorpaying yang berasal dari Luang Phrabang, mengaku belum pernah menginjakkan kaki di Savannakhet meski ia berasal dari Laos. Ia justru tak tahu banyak soal tempat ini. Sepanjang hampir tiga minggu periode penelitian, Lambai hanya mengoceh tentang betapa Luang Phrabang adalah tempat terindah dibandingkan Vientiane atau Savannakhet. Kuat dugaan saya, hal ini tidak lepas dari kebanggaan teritorial yang begitu kental dalam sejarah Laos. Negeri ini adalah proyek unifikasi sepihak Prancis dengan menggabungkan tiga kerajaan besar: Luang Phrabang, Vientiane dan Champasak. Meski di masa sebelumnya, ketiga wilayah ini berada di bawah dinasti Lan Xan, sebelum kemudian terpecah. Luang Phrabang sempat menjadi teritorial kerajaan Burma, sementara Champasak di bagian selatan dikuasai Siam.

Sementara kawan kedua saya: Gwisanee Nata adalah seorang perempuan asal Khon Kaen, di bagian timur laut Thailand. Daerah ini lebih dikenal dengan nama Isaan, dan dialek bahasanya lebih mirip Laos. Di masa lalu, wilayah Isaan adalah pintu masuk para gerilyawan komunis Laos dan Vietnam semasa periode perang gerilya Partai Komunis Thailand. Senjata dan dukungan finansial Cina, Vietnam dan Laos mengalir, salah satunya melalui Mukdahan yang berbatasan dengan Savannakhet. Dukungan dari Vietnam sendiri tidak bisa dilepaskan dari fakta sejarah bahwa wilayah ini memiliki ikatan dengan Nguyen Sinh Cung (Ho Chi Minh). Revolusioner asal Vietnam ini sempat singgah bermukim di Isaan untuk beberapa waktu ketika berada dalam pelarian dari kejaran Prancis. Paman Ho sempat tinggal di Nakhon Phanom yang berbatasan dengan Savannakhet.

Jangan heran jika wilayah ini memainkan peran strategis di periode perang pembebasan Vietnam selatan dari cengkraman Amerika Serikat. Berbatasan dengan Quang Tri, Savannakhet menjadi salah satu basis satelit para gerilyawan Vietcong untuk menghantam musuh. Hingga hari ini, ada banyak imigran Vietnam yang kini menetap dan menjadi warga negara Laos. Beberapa keluarga yang sempat kami wawancarai adalah mantan kombatan perang unifikasi Vietnam. Hari ini, orang-orang Vietnam di Savannakhet adalah salah satu kelompok etnis mayoritas. Cara menemukannya begitu mudah. Lihat saja siapa yang duduk bergerombol santai di trotoar jalan pada pagi hari sembari meminum kopi.

Satu-satunya akses menuju Savannakhet dari dataran Siam adalah melewati Thai-Laos Friendship Bridge II (FSB II) yang membentang di atas sungai Mekong.

Tempat ini bisa dicapai jika anda telah melewati siksaan sebelas jam duduk terbujur duduk dalam bus yang berangkat dari terminal Mo Chit di Bangkok. Sediakan 500 baht untuk menebus tiketnya. Tiba di Mukdahan, kalian harus kembali berganti bus khusus yang menghantar para pelintas batas. Bus paling pertama akan berangkat pada pukul 7.15 pagi hari. Sementara rute penyeberangan terakhir akan ditutup pada pukul 9 malam. Setiap 45 menit akan ada satu bus yang siap menghantar para pelintas batas. Hanya dibutuhkan kurang dari setengah jam untuk melalui dua pos pemeriksaan imigrasi Thailand-Laos. Ongkos bus ini cukup murah. Hanya 50 baht atau sekitar 20 ribu rupiah.

Macchiato De Coffee akan terlihat begitu bus memasuki Savannakhet setelah melewati pengecekan imigrasi. Silahkan menengok ke jendela sebelah kiri. Ukuran papan nama raksasa begitu menonjol.

Savannakhet adalah nama kota sekaligus merujuk pada provinsi. Secara literer ia dapat diartikan sebagai “Kota Surga”. Penamaan ini terkait erat dengan klaim masa lalu soal tingkat kesuburan tanah Savannakhet yang di atas rata-rata. Pertanian kala itu adalah berkah dan menjadi petani adalah kebanggaan. Lokasinya yang persis di pinggir sungai Mekong membuat para penduduk provinsi terbesar di Laos ini dahulu menyandarkan penghasilannya dari pertanian. Belum termasuk menyebut soal melimpahnya ikan di sepanjang sungai Mekong. Sewaktu Laos baru belajar menyeimbangkan diri sebagai sebuah republik komunis, banyak hasil pertanian mereka yang diekspor ke Quang Tri, Vietnam. Sebagian kecil lain dipasarkan diam-diam ke Mukdahan dengan harga murah. Namun bagi banyak penyeludup di masa itu, harga yang ditawarkan masih jauh lebih baik dari pasar domestik yang protektif namun luput menghitung biaya produksi dan tenaga kerja.

Orang-orang di Savannakhet adalah saksi bagaimana Laos yang pontang panting berdikari. Seruan negara untuk berhemat, kemiskinan yang meluas karena kesalahan kalkulasi politik, minimnya infrastruktur pendidikan dan kesehatan adalah penanda-penanda yang berupaya untuk dihapus para penduduk kota ini dari ingatan mereka.

Embargo ekonomi internasional, blokade Thailand, berkurangnya topangan finansial Cina secara drastis di masa genting, antipati Vietnam yang dibayangi sengkarut perselisihan Sino-Soviet di masa lalu, adalah sedikit di balik banyak alasan mengapa Laos kemudian mulai membuka diri di awal dekade 1990-an. Tirai kemudian dibuka lebar pasca krisis ekonomi yang menghantam Asia. Salah satunya, adalah membiarkan perusahaan-perusahaan tambang multinasional untuk kemudian masuk dan melakukan ekstraksi.

Savannakhet dijamah Australia pertama kali. Mereka menggarap distrik Sepone. Setelah pertambangan di Sepone dibuka awal dekade 2000-an, arus uang dan merkuri menggiring banyak orang mengganti pekerjaan. Dari petani menjadi buruh. Sepone lalu menjadi kebanggaan Savannakhet. Ia adalah pertambangan emas dan tembaga terbesar di Laos meski faktanya kini konsesi Sepone dimiliki oleh Minerals and Metals Group (MMG), sebuah perusahaan joint venture Australia dan Cina. Sepone juga menjadi pelopor berdirinya pertambangan-pertambangan lain di daerah ini. Di provinsi ini, ada sekitar enam titik pertambangan lain yang dibuka setelah Sepone.

Dan kedai kopi seperti Macchiato De Coffee adalah salah satu monumen. Di sini kita dapat menelusuri bagaimana sebuah wilayah secara perlahan bertransformasi. Dari daerah pinggiran rural yang tulang punggung ekonominya adalah pertanian, kini menjadi kota jasa yang pinggirannya digerakkan oleh ekstraksi tambang emas dan tembaga.

Macchiato De Coffee sadar betul bahwa tidak jauh dari situ ada konsulat Thailand yang menjadi destinasi utama para pemburu visa. Kebanyakan dari mereka adalah ekspatriat yang tidak akan pernah singgah di Savannakhet jika bukan karena batas waktu untuk tinggal di berbagai sudut Siam hampir tandas. Mengurus visa di Savannakhet juga menjadi opsi paling logis. Murah untuk dicapai dan menawarkan paket lebih ramah kantong ketika mengajukan perpanjangan ijin tinggal. Lagipula pendingin udara, menu kopi, cemilan khas daratan Eropa serta kemampuan berbahasa Inggris para pelayannya seperti mengirim tanda bahwa Macchiato De Coffee berada di level yang lain dibanding kedai kopi lain yang berpikir menjadi pesaing. Ketika terik matahari bercampur dengan penantian visa, kafe ini adalah pilihan paling logis untuk mengusir penat.

Itu mengapa saat memasuki Macchiato De Coffee, saya sadar sedang melihat wajah Savannakhet yang berbeda dari tahun-tahun kemarin. Memutuskan memesan segelas kopi di kafe ini adalah upaya sadar untuk memperbaharui ingatan tentang tempat ini. Bahwa sekarang Savannakhet bukanlah Sapone yang berdebu dan muram karena terus menerus dicurangi asing. Kota ini justru merangkul erat para pendatang Eropa dan menjadikan mereka sumber mengucurnya uang. Macchiato De Coffee adalah balon warna warni dan hiasan yang menggelantung ketika hari raya tiba. Savannakhet yang direpresentasikan Macchiato De Coffee mengingatkan saya pada ajakan-ajakan nakal dan mesum perempuan malam di kafe-kafe kecil di Luang Phrabang. Macchiato De Coffee tidak sedang meratapi nasib Laos yang hingga kini masih dianggap terbelakang dan dipandang sebelah mata oleh Thailand dan Vietnam.

Meski rasa kopi di sini mengecewakan, saya memilih menutup mulut dan tersenyum lalu menikmatinya. Saya sadar benar sedang menjadi saksi sebuah adaptasi. Segelas macchiato yang saya teguk di Macchiato De Coffee tak ubahnya kecupan nakal di pipi setelah kau berjalan keluar dari tempat pelacuran dini hari.

Macchiato De Coffee adalah geisha yang menertawakan mereka yang meremehkan Savannakhet. Karena tampaknya Savannakhet tahu betul, besok atau lusa kita akan kembali ke dalam pelukannya.

 

Terbit perdana di Minum Kopi

Demi Espresso Sebelum Terbang

Ada beberapa tempat yang kita lupa. Meski berkali singgah. Mungkin, karena sejak awal ia bukan halte. Kita seperti terdampar. Terpaksa mesti meluangkan waktu.

Begitu juga dengan kafe JJ Royal bagi saya.

Meski kafe ini sudah hampir selusin kali saya singgahi, ia seperti hilang dalam ingatan. Ia menjadi terlihat sebagai titik penting baru-baru ini saja. Sebabnya, JJ Royal adalah salah satu opsi yang tersisa untuk pengudud kretek seperti saya. Setiap kali ingin melewati proses pemeriksaan tahap akhir di jalur keberangkatan Gate D, Terminal 2, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tanggerang, kafe ini selalu jadi destinasi antara. Sebelum merelakan korek api dan air mineral disita petugas bandara. Satu, dua, tiga batang kretek selalu saya habiskan di sini. Tentu dengan ditemani secangkir kopi.

Dari sekian menu makanan dan minuman yang ditawarkan, hanya Double Espresso yang jadi langganan. Menu kopi lainnya menurut lidah dan otak saya macam tak adil. Harga dan rasa berbanding terbalik. Jelas, mahal tak selalu sinonim dengan kualitas.

Harga kopi di kafe macam JJ Royal adalah kelindan banyak soal. Mulai dari harga sewa tempat yang mahal, pajak penghasilan yang ikut menempel, fluktuasi pengunjung yang tidak seberapa, beban biaya listrik, gaji pegawai, harga kopi yang ditawarkan oleh agen, hingga soal remeh semacam gengsi.

Terminal 2 di Bandara Soekarno-Hatta memang agak berbeda. Ia melayani beberapa rute domestik Garuda Airlines, maskapai yang harganya tergolong mahal di Indonesia. Juga menjadi pintu masuk dan keluar beberapa penerbangan asing seperti Malaysia Airlines, Phillipines Airlines hingga Qatar Airways. Saya menduga kuat, itu alasan mengapa beberapa pelayan JJ Royal bisa bercakap bahasa Arab ala kadarnya. Mereka melatih diri agar bisa menyentuh sisi psikologis pengunjung kafe yang berasal dari Timur Tengah.

Untuk setiap cangkirnya, Double Espresso harus ditebus seharga Rp. 40.000. Masih tetap mahal. Tapi, di Gate D, hanya JJ Royal atau puasa ngudud dan ngopi sama sekali.

Rasanya lumayan. Tidak buruk untuk kafe yang dilengkapi mesin untuk merisak kopi. Ekstrak kopi ala Italia ini cukup membantu untuk mengecoh rasa lelah sebelum terbang ke negara tujuan atau rute dalam negeri lain. Kebiasaan untuk lebih memilih penerbangan dini hari atau larut malam, membuat kopi selalu jadi penting. Mencegah kantuk dan membantu saya untuk tetap fokus mendengarkan pengumuman waktu lepas landas atau kemungkinan tertundanya penerbangan.

Espresso JJ Royal adalah campuran Arabika Kintamani, Torabika Lampung dan sedikit Arabika Sunda. Mereka tak merendang kopi sendiri. Cukup beli dari penyedia yang sudah dipercaya. Tapi, tak ada pelayan yang bisa menyebutkan nama supplier mereka.

“Urusan itu, manajer yang tau.” Doni, pelayan JJ Royal yang wajahnya mulai terasa akrab karena beberapa kali bersua.

Para pelayan biasanya lebih agresif untuk menawarkan Kopi Luwak kepada setiap yang ingin memesan kopi

“Ini kopi bagus. Asli Indonesia. Rasanya enak.” Tiga kalimat ini dirapal macam mantra oleh para pelayan di sini. Sewaktu terakhir kali menghabiskan hampir satu jam di sini, saya mendengar kalimat-kalimat itu berulang-ulang. Entah dalam bahasa Indonesia, Inggris atau bahkan Arab. Repetisi yang cukup untuk membuat otak seseorang langsung ingat. Harga Kopi Luwak per cangkir menyentuh Rp. 60.000 di sini.

Tapi sekali lagi, hanya double espresso mereka yang membuat saya terkesan.

Espresso, adalah jenis penyajian kopi yang berasal dari Italia. Bagi beberapa orang, jenis penyajian kopi tanpa saring ini dipandang sebagai kunci untuk memahami bagaimana kultur kopi di negeri yang menjadi pernah menjuarai Piala Dunia sepakbola ketika skandal suap dan kecurangan merajalela.

Mesin perisak untuk menyajikan espresso harus berterimakasih pada Revolusi Industri. Karena peradaban mesin itulah, di tahun 1901 alat untuk memeras sari kopi secara cepat ditemukan. Espresso dapat secara sederhana diartikan sebagai “express” dalam bahasa Inggris. Cepat, kata Melayu. Untuk inilah, saya berterimakasih kepada Milan karena melahirkan seorang Luigi Bezzara.

Di tahun 1905, paten mesin espresso Bezzara dibeli oleh Desidero Pavoni. Nama terakhir ini lalu mulai memproduksi mesin yang dikreasikan Bezzara dalam jumlah massal. Generasi pertama mesin espresso diberi nama: Ideale.

Idealedan Pavoni tidak lain bagi saya, adalah gambaran keangkuhan ala Italia. Kecongkakan yang justru membuat kita jatuh cinta, dan bukan menjauhinya.

Penemuan mesin espresso membuka jalan lahirnya kata barista di tahun 1938. Jadi jangan berpikir bahwa Starbucks adalah penggagas terma ini. Penamaan ini merujuk pada persona di belakang meja dapur yang bertanggungjawab untuk menyediakan minuman bagi para pengunjung. Diserap dari barman yang populer di tempat para pemabuk di negara baru bernama Amerika Serikat. Dan sekali lagi, keangkuhan Italia menemukan pijakannya. Para penyeduh espresso Italia enggan menyebut diri mereka barman dan memilih dipanggil barista. Bagi para Italiano di belakang meja penyeduhan, mereka adalah artis. Para penampil yang mulai berdansa sejak menu dipesan. Hasil akhir mereka adalah karya seni. Espresso adalah klimaks naskah dan barista adalah aktor teater.

Setelah dua Perang Dunia yang melelahkan, Achille Gaggia tampil menyelamatkan kultur kopi di Italia yang lesu. Ia menciptakan mesin baru dua tahun setelah Hiroshima dan Nagasaki hancur oleh arogansi. Mesin ini, mampu merisak kopi hingga menghasikan topping berwarna coklat terang di atas perasan kopi. Sebagian orang mengenalnya sebagai crema.

Setahun kemudian, Gaggia yang jatuh miskin menjual temuannya kepada Ernesto Valente. Seperti Pavoni, Valente menciptakan ribuan mesin untuk dipasarkan. Gaggia marah dan memboikot. Dalam sebuah surat terbukanya, Gaggia menyebut temuannya sebagai karya seni. Kreasi tingkat tinggi yang harusnya dinikmati oleh mereka yang mengerti bagaimana menikmati espresso.

Tapi Valente tidak peduli.

Protes Gaggia justru menjadi alasan Valente untuk melakukan eksperimen. Hasilnya: mesin Faema E61 yang dianggap banyak orang sebagai asal muasal espresso modern. Mesin semi-otomatis pertama yang mampu merisak kopi dengan lapisan crema yang ayu. Membuat para penikmat espresso seperti sedang mencumbu bibir kekasihnya setelah lelah seharian bekerja. Merayakan industrialisasi dan delapan jam kerja penuh keterasingan.

Itu alasan saya mencintai espresso ketika menunggu pengeras suara mengabarkan kapan leha-leha selesai. Sejarah dan rasanya, mewakili kelompok precariat Jakarta macam saya yang hanya bisa menggerutu, mencaci dunia namun merengkuhnya dengan erat. Espressobagi saya adalah representasi betapa kehidupan urban adalah ambiguitas yang dirayakan dengan congkak. Persis seperti di masa lampau, kelas pekerja Italia yang muram karena kalah perang namun mengingkarinya dengan menunjuk Renaissance.

Menenggak espresso adalah apologi paling romantik di kegaduhan kota. Bahwa yang kami rayakan, adalah sisa-sisa hidup yang dirisak mesin dan menetes tak seberapa. Bahwa tulang-tulang kami adalah biji kopi, espresso adalah upah dan crema adalah ilusi yang kami beri nama: masa depan.

* * *

Tulisan ini tayang perdana di Minum Kopi

Oase Kopi di Jakarta Selatan

Ijazah memang tidak pernah ada urusan langsung dengan kopi. Tapi pernahkah membayangkan bahwa barista yang sedang menyeduh kopi untuk anda adalah seorang lulusan pascasarjana dari Seoul, Korea?

Atau coba bayangkan lain. Semisal tukang seduh kopi anda adalah seorang perempuan berkacamata dengan mata yang tampak kebingungan namun bisa membuat lelaki kikuk sehingga lupa jenis kopi apa yang sebenarnya ingin dipesan. Namun ketika berupaya mengalihkan pandangan ke toples-toples kaca penampung biji kopi, bukan jawaban yang ditemukan tapi justru labirin.

Mungkin terdengar biasa jika barista yang sedang anda hadapi adalah orang yang tidak hanya mampu menyeduh kopi untukmu, tapi juga dapat diajak untuk diskusi mengenai kenapa kultur pertanian kita babak belur dihajar investasi asing dan impor. Sosok yang dapat membantumu mengelaborasi soal-soal dunia perburuhan dan problem industri di kota-kota. Ia dapat setidaknya menjadi partner untuk kalian yang tertarik membicarakan soal problem-problem sosial dan apa yang mungkin dilakukan secara individu atau secara kolektif.

Tapi di saat yang bersamaan, ia bisa berbagi soal mengapa Seoul terlihat indah di musim semi. Atau bagaimana perempuan-perempuan Korea gelisah mengenai standar kecantikan. Anda yang tergemar dengan K-Pop bisa bertanya soal ini dan sekaligus belajar satu dua kalimat sederhana.

Namanya Rini, tukang seduh partikelir yang kini sedang senang berkeringat menjaga sebuah kedai kopi kecil di daerah Mampang Prampatan IV, Jakarta Selatan. Lokasi kedai ini tidak jauh dari kantor Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) di Tegal Parang Utara, dan rumah perlawanan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) di rute jalan yang sama.

Tunggu. Masih ada satu lagi.

Kedai mungil dengan desain yang didominasi warna kayu ini berada tepat di Sekretariat Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia (KPRI). Sebuah aliansi organisasi lintas sektor —dari petani hingga buruh, dari pelajar sampai perempuan, juga masyarakat adat. Ia diberi nama KAPE-RI untuk memberi tanda asosiasi dengan organisasinya.

Kedai ini memanfaatkan garasi mobil yang lowong di samping kanan rumah kontrakan KPRI. Dindingnya yang berwarna putih dipajang lukisan-lukisan Andreas Iswinarto, seorang aktivis lingkungan yang kemarin baru saja melakukan pameran. Di sisi seberang meja tukang seduh, ada bagian dinding yang ditulis berbagai orang. Semacam manifesto kolektif.

Kopi yang disajikan semuanya berasal dari daerah Jawa Barat. Alasannya sederhana. Kopi yang mereka jual adalah hasil produksi serikat petani yang menjadi bagian KPRI itu sendiri. Ada kopi dari Garut, Badega, Bandung, Lembang dan Ciwidey serta Cikajang. Mungkin ini belum semuanya. Tugas kalian —para pembaca yang kebetulan berada di sekitaran Jakarta Selatan— adalah datang singgah ke kedai ini dan melengkapi daftar tersebut.

Harga jual segelas kopi di kedai ini juga tergolong murah untuk Jakarta yang kian hari menjadikan mahalnya harga barang sebagai penanda level sosial seseorang. Segelas kopi tubruk jenis Arabica dijual 10 ribu per gelas. Untuk sajian Arabica yang menggunakan filter, cukup membayar 15 ribu. Juga masih ada kopi yang disajikan dengan model ekstrak (Espresso) hingga dengan menggunakan model saring ala Vietnam (Vietnamese Drip Coffee). Kalian yang tidak terlalu menyenangi kopi, bisa memesan teh atau jenis minuman segar lain. Panas atau dingin, tinggal kalian yang memilih.

KAPE-RI mulai resmi beroperasi bulan Juli. Meski sudah hampir dua bulan sebelumnya kedai ini sudah mulai menyajikan kopi. Di periode inilah saya menemukan kedai ini. Dadang, salah satu pegiatnya ketika itu mengatakan bahwa mereka sedang ujicoba. Butuh masukan dari kawan-kawan soal rasa, desain dan mungkin hal lain. Para pegiatnya sedang mencari jalan agar daya tampung tidak bertabrakan dengan kenyamanan para pengunjung. Ruang kemudian ditata terbuka agar para pengudud tidak mengganggu mereka yang tidak nyaman dengan bau dan asap kretek. Model pintu garasi tidak diubah tapi justru dibuka lebar agar menjadi tanda bahwa tempat ini mengundang semua orang untuk datang singgah.

Kedai ini beroperasi mulai jam 4 sore, ketika kemacetan Jakarta sedang mencekik dan Mampang sedang sesak. Anda bisa menghabiskan waktu di sini sembari membaca buku-buku koleksi KPRI tanpa harus khawatir berlebihan. KAPE-RI menjamin tidak akan mengusir para pelanggannya jika mereka ingin bertahan hingga larut malam. Namun, jam resmi operasi ditetapkan pada pukul 12 malam, ketika Cinderella harus pulang karena keajaiban telah berakhir.

Bagi orang seperti saya yang percaya pada praktek ekonomi partisipatoris yang emansipatif, kedai kopi macam KAPE-RI atau Owl House —yang berada di Jakarta Barat— atau Coffee War di Kemang, tidak hanya bernilai sebagai praktek jual beli semata. Tempat-tempat yang dilandasi semangat kolektif semacam ini begitu terasa penting kehadirannya di Jakarta yang semakin angkuh dan kasar. Di tengah siklus kemacetan yang tak kunjung terurai, penggusuran yang kian marak dan orang-orang yang semakin benci untuk mendengar pendapat orang lain, terminal berbentuk kedai kopi sederhana itu macam oase.

Ia dapat menjadi tempat singgah untuk spesies manusia yang masih gelisah dengan degradasi struktur sosial sehingga kita semakin lupa cara berbagi. Kedai kopi di mana orang-orang dapat bersepakat, berdiskusi, berbeda pendapat hingga menemukan ketidaksepakatan adalah ruang-ruang yang harusnya bisa digandakan. Semata-mata agar kita yang hidup di Jakarta tidak sekedar bekerja mengurusi perut lalu terbiasa memelihara kebencian tanpa alas.

* * *

Tulisan ini tayang perdana di Minum Kopi

Place to Bee: Restoran Italia Dengan Kisah India

PERCAYALAH, sesekali tersesat itu dapat berujung bahagia. Di kota asing seperti Ootacamund, kita tidak pernah tahu kuliner seperti apa yang akan ditemukan.

Ooty, cara orang lokal menyingkat Ootacamund. Kota ini adalah bagian dari Tamil Nadu, satu dari empat negara bagian yang terletak di selatan India. Berjarak 10 jam berkendara dari Chennai, pusat administrasi negara bagian Tamil Nadu. Ooty lebih dekat dengan Coimbatore. Ada bandara internasional di kota ini yang melayani rute penerbangan ke Singapura. Dari Coimbatore, Ooty berada 80 kilometer ke utara. Kota mungil ini adalah ibukota distrik Nilgiris, daerah setingkat kabupaten di Indonesia.

Nilgiris secara harafiah berarti pegunungan biru. Pohon-pohon berdiri rapat di pinggir jalan. Daerah ini adalah tempat di mana dingin udara pegunungan yang menyusup di sela-sela jari, bercampur dengan kenangan tentang masa penjajahan Inggris yang membekas di punggung bukit-bukit mereka. Berwarna dan tak sederhana. Berada di ketinggian 2.240 mdpl dari permukaan laut, dengan luas tutupan hutan mencapai 32% dari luas wilayah. Di Ooty, kalian akan mudah menemukan barisan pepohonan di kanan kiri jalan.

Selain perbukitan, kota ini memiliki barisan tebing yang menjulang hingga beberapa ratus meter. Doddabetta saksinya. Titik tertinggi di Ooty yang terletak 2637 mdpl. Tebing-tebing batu berumur ratusan tahun yang mencatat sejarah orang-orang Karumba yang hidup di sekitarnya. Komunitas Kurumba, adalah peramu pemburu yang dikenal luas sebagai pakar pengumpul madu hutan.

Ooty, madu dan orang-orang Kurumba adalah kelindan sejarah yang berpelukan erat. Tapi masakan Italia?

Pergilah ke Place to Bee dan kalian akan menemukan relasi antara hal-hal tersebut. Lokasinya, 176/A, Club Road. Dekat Hill Bunk. Gampang menemukan tempat ini. Jika ragu, sila tanya orang sekitar. Mereka akan mengarahkan anda ke sini. Mudah dicari karena Place to Bee adalah satu-satunya restoran spesialis makanan Italia di Ooty.

 

PLACE to Bee adalah sebuah bangunan dua lantai.

Bagian bawah merupakan sebuah toko yang menjual berbagai kerajinan tangan buatan komunitas asli di Tamil Nadu. Mulai dari tas, dompet hingga kain sari yang ditenun dari katun. Ada juga berbagai jenis teh hijau. Di sisi rak yang lain, berjejer sabun mandi, sampo, pelembab bibir hingga pewangi ruangan yang semuanya berbahan dasar madu. Toko ini adalah salah satu cabang penjualan dari Last Forest Enterprises, sayap ekonomi yang dibangun oleh Keystone Foundation bersama dengan komunitas-komunitas dampingannya.

Umur toko ini sudah delapan tahun. Cuma ada dua orang pegawai-aktivis di sini. Keduanya bukan sekedar pencatat alur jual beli barang. Anda dapat bertukar cerita soal bagaimana sebuah item barang diproduksi. Mereka akan menjelaskan bagaimana mata rantai produksi, temali proyek penguatan ekonomi dan kemandirian komunitas orang asli yang sedang berjuang. Juga tentang apa itu Forest Enterprises, hubungannya dengan Keystone Foundation dan sejarah perjalanan mereka dengan para pengumpul madu hutan yang membentang selama 23 tahun di Nilgiris.

Bangunan kayu di lantai atas adalah restoran Italia yang akhir Agustus nanti akan genap berusia setahun. Aritra Bose adalah manajer Place to Bee. Lulusan Master Ilmu Komunikasi yang mulai bergabung dengan Keystone Foundation sejak empat tahun lalu. Bekerja di LSM sebagai koordinator komunikasi, Bose tidak pernah terpikir bahwa ia akan mengelola sebuah resto Italia pada akhirnya.

Lokasi Place to Bee, dulu adalah museum madu yang dikelola Keystone Foundation. Museum madu pertama di India. Mulai dibuka sejak April 2006 untuk memperkenalkan madu hutan dan cerita orang-orang Kurumba kepada masyarakat Nilgiris. Bagi orang-orang Kurumba, madu adalah berkah. Mereka memandang lebah sebagai para pengantar rejeki yang dikirim Maha Adil. Teknik tradisional pengumpulan madu diwariskan dari generasi ke penerus yang tertarik untuk mendedikasikan diri berkawan dengan lebah.

Tidak boleh ada sarang yang dihancurkan. Sebab orang-orang Kurumba percaya bahwa tindakan tersebut adalah penghinaan terhadap pemberi berkat.

 

BOSE adalah bagian dari tim kecil bentukan Forest Enterprises yang ditugaskan melakukan riset selama setahun di Ooty tentang bentuk ekonomi yang sekiranya potensial. Semacam upgrade. Museum madu semakin sepi karena model pengelolaan yang monoton. Orang-orang di Keystone Foundation dan Forest Enterprises merasa pengetahuan mengenai madu hutan dan kisah luar biasa orang-orang Kurumba perlu disajikan dengan cara berbeda.

“Saya mengunjungi berbagai restoran dan hotel di Ooty. Mencoba sajian Italia mereka. Tidak ada yang fokus menjual makanan Italia di sini. Biasanya hanya satu menu makanan saja. Kalau tidak pizza, maka pasta.”

Bose berbaik hati menjelaskan sembari membiarkan saya menikmati setengah porsi pasta dan sepotong pai Banoffee.

Untuk lidah yang tidak terlalu familiar dengan makanan Eropa, saya jujur tidak punya ukuran yang tepat untuk menilai apakah pasta Place to Bee termasuk kategori lezat atau tidak. Tapi rasa tomat segar yang menjadi bahan utama saus pasta tidak dapat berbohong. Segar dan membekas. Ada sedikit rasa kecut yang berbaur dengan manis. Bose menjelaskan bahwa tomat-tomat tersebut adalah produksi petani sekitar yang bekerja sama dengan restoran ini sejak pertama kali beroperasi. Hingga hari ini, relasi tersebut tetap dijaga.

Sementara pai Banoffee resto ini disajikan dengan campuran daging ayam cincang, saya jelas protes. Bukan soal rasa, tapi soal klaim dan sejarah di balik jenis hidangan. Sajian ini jelas bukan jenis makanan Italia. Pai tipe ini adalah sajian khas Inggris yang dikreasikan oleh duo Nigel Mackenzie dan Ian Dowding pada tahun 1971. Mackenzie adalah pemilih restoran The Hungry Monk di mana Dowding bekerja sebagai kepala koki. Restoran yang terletak di Sussex Timur ini mengaku mengembangkan pai Banoffee dari resep pai Blum Coffee Toffee ala Amerika. Mackenzie dan Dowding menambahkan pisang sebagai pelengkap krim dan permen karamel yang menyelimuti potongan atas pai.

Pai Bonaffee muncul pertama kali di buku resep Mackenzie dan Dowding berjudul The Deeper Secrets of the Hungry Monk yang terbit tahun 1974. Nama tersebut merupakan pengempesan norak dua kata: banana (pisang) dan toffee (permen karamel).

Ada dua orang pegawai dan satu orang koki yang bekerja di restoran ini. Semua orang lokal. Tumbuh dewasa di Ooty, kecuali Bose. Ia berasal dari daerah otonom di dekat Chennai. Kisah tentang pengumpul madu hutan di daerah ini adalah pesona pertama yang membawa dirinya ke pegunungan Nilgiris.

 

DAHULU sebagian dataran Nilgiris adalah wilayah jelajah orang-orang Kurumba, mencari sarang-sarang lebah di lipatan-lipatan tebing. Jenis madu yang dikumpulkan adalah jenis Apis dorsata yang memiliki rasa kecut.

Berbalut kawanan ribuan lebah, orang-orang Kurumba bekerja tanpa perlindungan apapun. Mereka bertelanjang kaki, mempercayakan hidup mereka kepada tambang yang dirakit dari akar-akar pohon yang melewati proses ritual pemurnian yang panjang. Beberapa minggu sebelum panen dimulai di hutan, para pemburu madu akan berhenti menggunakan sabun, berdoa secara reguler, menghindari kontak dengan wanita dan mengikuti diet vegetarian yang ketat.

Madu jenis Apis dorsata diambil langsung dari sisir sarang lebah yang ditemukan di tebing curam atau di pohon-pohon tertinggi di hutan. Orang-orang Tamil menyebutnya sebagai emas cair. Dalam dua puluh tahun terakhir, harga madu hutan asal Nilgiris ini telah meningkat. Jika dulu per liter dihargai hanya sekitar 5 Rupee (Rp. 980), kini Forest Enterprises membeli seharga 760 Rupee (Rp. 150.000) per liter. Harga ini kemudian menjadi semacam standar bagi orang-orang Kurumba ketika ingin menjual kepada pihak lain. Tidak boleh kurang.

Namun, ketika harga jual membaik, orang-orang Kurumba menghadapi ancaman sabotase dari kelompok pengusaha yang ingin memonopoli wilayah-wilayah tertentu yang dianggap memiliki cadangan madu hutan berlimpah.

Para pemburu madu dari Nilgiri, adalah bentuk hidup tradisi yang dipaksa menyesuaikan diri dengan peradaban modern. Keyakinan dan ritual kini berhadapan dengan logika pasar yang sama sekali berbeda.

Orang-orang Kurumba, yang berdoa di bawah tebing tinggi sebelum memanjat tali dan mempertaruhkan hidup mereka di antara kawanan lebah raksasa, dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa madu hutan yang mereka kumpulkan tidak bisa langsung ditukar dengan bahan makanan seperti dua dekade lampau.

Inilah salah satu alasan di balik berdirinya Keystone Foundation di tahun 1993.

Tiga orang aktivis muda asal Delhi, memutuskan bermigrasi ke Kotagiri. Tujuannya untuk belajar bagaimana madu hutan dikumpulkan secara tradisional. Ketiganya penasaran dengan stamina orang-orang Kurumba mengarungi tebing-tebing tanpa penunjuk jalan di pegunungan Nilgiris.

Mathew John, salah satunya. Ia kini menjabat Direktur Last Forest Enterprises, badan usaha yang sahamnya dimiliki oleh empat komunitas orang asli di distrik Nilgiris. John bertugas mengurusi strategi pemasaran, membentuk pasar dan menjaga komitmen konsumen, membentuk ciri merek dagang, serta bertanggung jawab atas bentuk kemasan dari setiap produk Last Forest.

Sosok yang merupakan salah satu otak di balik berdirinya toko-toko Last Forest di beberapa kota di Nilgiris. John juga adalah inisiator riset panjang yang melahirkan keputusan untuk mengubah Place to Be dari sekedar museum, menjadi sebuah restoran Italia. Bose menganggapnya sebagai panutan.

Ia juga ada di sana. Duduk menemani ketika saya berbincang dengan Bose. Sesekali ia menimpali.

“Mungkin akan terdengar aneh bagi banyak orang. Bagaimana mungkin sebuah restoran Italia digunakan sebagai alat untuk mempromosikan madu hutan Nilgiris? Bukankah restoran India jauh lebih cocok dan masuk akal?”

Saya paham benar. Pertanyaan tersebut bukan untuk dijawab. John hanya sekadar bersilat agar tuturan kisahnya tetap menarik ku ikuti.

John menceritakan bagaimana lika-liku mereka membangun hubungan dan rasa saling percaya dengan para pengumpul madu hutan. Pengalaman orang-orang Kurumba yang ditipu harga beli madu yang rendah sudah terjadi berkali-kali. Juga bagaimana ia dengan begitu angkuh pernah berupaya memodernisasi cara pengumpulan madu.

“Bagi orang yang datang dari luar seperti saya, tambang yang dirakit dari akar-akar yang ditemukan di hutan bukanlah alat yang aman untuk bergelantungan di pinggir tebing. Selain itu, ada ribuan lebah yang siap menyengat. Satu sengatan dapat membuatmu berakhir di ranjang rumah sakit. Bagaimana jika ada puluhan lebah marah yang kemudian berbalik menyerang?”

Sembari mendengarkan John, saya menyeruput espresso double yang datang tepat ketika makan siang baru saja tandas.

“Tapi saya salah. Dan itu penting. Menyadari kesalahan itu penting. Sebab dengan begitu, kita jadi paham bahwa pengetahuan kita itu berbatas. Entah ruang, entah waktu.” John masih terus bercerita. Saya hanya tersenyum sedikit. Memberi kode bahwa masih banyak yang ingin saya ketahui.

“Restoran ini misalnya. Menu yang disajikan adalah makanan Italia. Tapi bahan-bahan, koki, para pelayan dan semua detil adalah India. Kau sedang menyantap hidangan Italia yang dimasak oleh orang India, menggunakan bahan-bahan yang ditanam di tanah India dan secara langsung telah ikut berkontribusi terhadap proyek penguatan ekonomi orang-orang asli India.”

Saya menatap John dan Bose secara bergantian. Ada sedikit kebingungan. Pernyataan terakhir seperti menggantung.

“Ya. Restoran ini adalah milik komunitas-komunitas asli Nilgiris. Mereka pemilik saham restoran dan toko di lantai bawah. Mereka, orang-orang yang tinggal di dalam hutan itu adalah pemilik dari Last Forest Enterprises. Mereka adalah bos-nya. Saya? Hanya orang upahan.”

Jujur, saya kaget.

* * *

Tulisan ini pertama kali tayang di Minum Kopi