Oase Kopi di Jakarta Selatan

Ijazah memang tidak pernah ada urusan langsung dengan kopi. Tapi pernahkah membayangkan bahwa barista yang sedang menyeduh kopi untuk anda adalah seorang lulusan pascasarjana dari Seoul, Korea?

Atau coba bayangkan lain. Semisal tukang seduh kopi anda adalah seorang perempuan berkacamata dengan mata yang tampak kebingungan namun bisa membuat lelaki kikuk sehingga lupa jenis kopi apa yang sebenarnya ingin dipesan. Namun ketika berupaya mengalihkan pandangan ke toples-toples kaca penampung biji kopi, bukan jawaban yang ditemukan tapi justru labirin.

Mungkin terdengar biasa jika barista yang sedang anda hadapi adalah orang yang tidak hanya mampu menyeduh kopi untukmu, tapi juga dapat diajak untuk diskusi mengenai kenapa kultur pertanian kita babak belur dihajar investasi asing dan impor. Sosok yang dapat membantumu mengelaborasi soal-soal dunia perburuhan dan problem industri di kota-kota. Ia dapat setidaknya menjadi partner untuk kalian yang tertarik membicarakan soal problem-problem sosial dan apa yang mungkin dilakukan secara individu atau secara kolektif.

Tapi di saat yang bersamaan, ia bisa berbagi soal mengapa Seoul terlihat indah di musim semi. Atau bagaimana perempuan-perempuan Korea gelisah mengenai standar kecantikan. Anda yang tergemar dengan K-Pop bisa bertanya soal ini dan sekaligus belajar satu dua kalimat sederhana.

Namanya Rini, tukang seduh partikelir yang kini sedang senang berkeringat menjaga sebuah kedai kopi kecil di daerah Mampang Prampatan IV, Jakarta Selatan. Lokasi kedai ini tidak jauh dari kantor Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) di Tegal Parang Utara, dan rumah perlawanan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) di rute jalan yang sama.

Tunggu. Masih ada satu lagi.

Kedai mungil dengan desain yang didominasi warna kayu ini berada tepat di Sekretariat Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia (KPRI). Sebuah aliansi organisasi lintas sektor —dari petani hingga buruh, dari pelajar sampai perempuan, juga masyarakat adat. Ia diberi nama KAPE-RI untuk memberi tanda asosiasi dengan organisasinya.

Kedai ini memanfaatkan garasi mobil yang lowong di samping kanan rumah kontrakan KPRI. Dindingnya yang berwarna putih dipajang lukisan-lukisan Andreas Iswinarto, seorang aktivis lingkungan yang kemarin baru saja melakukan pameran. Di sisi seberang meja tukang seduh, ada bagian dinding yang ditulis berbagai orang. Semacam manifesto kolektif.

Kopi yang disajikan semuanya berasal dari daerah Jawa Barat. Alasannya sederhana. Kopi yang mereka jual adalah hasil produksi serikat petani yang menjadi bagian KPRI itu sendiri. Ada kopi dari Garut, Badega, Bandung, Lembang dan Ciwidey serta Cikajang. Mungkin ini belum semuanya. Tugas kalian —para pembaca yang kebetulan berada di sekitaran Jakarta Selatan— adalah datang singgah ke kedai ini dan melengkapi daftar tersebut.

Harga jual segelas kopi di kedai ini juga tergolong murah untuk Jakarta yang kian hari menjadikan mahalnya harga barang sebagai penanda level sosial seseorang. Segelas kopi tubruk jenis Arabica dijual 10 ribu per gelas. Untuk sajian Arabica yang menggunakan filter, cukup membayar 15 ribu. Juga masih ada kopi yang disajikan dengan model ekstrak (Espresso) hingga dengan menggunakan model saring ala Vietnam (Vietnamese Drip Coffee). Kalian yang tidak terlalu menyenangi kopi, bisa memesan teh atau jenis minuman segar lain. Panas atau dingin, tinggal kalian yang memilih.

KAPE-RI mulai resmi beroperasi bulan Juli. Meski sudah hampir dua bulan sebelumnya kedai ini sudah mulai menyajikan kopi. Di periode inilah saya menemukan kedai ini. Dadang, salah satu pegiatnya ketika itu mengatakan bahwa mereka sedang ujicoba. Butuh masukan dari kawan-kawan soal rasa, desain dan mungkin hal lain. Para pegiatnya sedang mencari jalan agar daya tampung tidak bertabrakan dengan kenyamanan para pengunjung. Ruang kemudian ditata terbuka agar para pengudud tidak mengganggu mereka yang tidak nyaman dengan bau dan asap kretek. Model pintu garasi tidak diubah tapi justru dibuka lebar agar menjadi tanda bahwa tempat ini mengundang semua orang untuk datang singgah.

Kedai ini beroperasi mulai jam 4 sore, ketika kemacetan Jakarta sedang mencekik dan Mampang sedang sesak. Anda bisa menghabiskan waktu di sini sembari membaca buku-buku koleksi KPRI tanpa harus khawatir berlebihan. KAPE-RI menjamin tidak akan mengusir para pelanggannya jika mereka ingin bertahan hingga larut malam. Namun, jam resmi operasi ditetapkan pada pukul 12 malam, ketika Cinderella harus pulang karena keajaiban telah berakhir.

Bagi orang seperti saya yang percaya pada praktek ekonomi partisipatoris yang emansipatif, kedai kopi macam KAPE-RI atau Owl House —yang berada di Jakarta Barat— atau Coffee War di Kemang, tidak hanya bernilai sebagai praktek jual beli semata. Tempat-tempat yang dilandasi semangat kolektif semacam ini begitu terasa penting kehadirannya di Jakarta yang semakin angkuh dan kasar. Di tengah siklus kemacetan yang tak kunjung terurai, penggusuran yang kian marak dan orang-orang yang semakin benci untuk mendengar pendapat orang lain, terminal berbentuk kedai kopi sederhana itu macam oase.

Ia dapat menjadi tempat singgah untuk spesies manusia yang masih gelisah dengan degradasi struktur sosial sehingga kita semakin lupa cara berbagi. Kedai kopi di mana orang-orang dapat bersepakat, berdiskusi, berbeda pendapat hingga menemukan ketidaksepakatan adalah ruang-ruang yang harusnya bisa digandakan. Semata-mata agar kita yang hidup di Jakarta tidak sekedar bekerja mengurusi perut lalu terbiasa memelihara kebencian tanpa alas.

* * *

Tulisan ini tayang perdana di Minum Kopi