Tran, Dua Buku dan Rusuk Babi

Seorang kawan datang. Ia berbaik hati membawakan dua buku Tran Duc Thao. Dua buku yang sudah cukup lama saya cari. Sebagai ucapan terima kasih, saya meminta agar ia mau duduk dan mencoba rusuk babi bumbu Manado yang saya masak.

Karena kedua buku yang ia antar sangat bernilai, maka menyajikan kuliner yang pengetahuannya saya dapatkan dari dapur masa kecil, mungkin adalah gestur terima kasih yang pas. Bumbu pedas yang menyengat ketika ditumis, dipadankan dengan kangkung dan bunga pepaya.

Kedua Ibu saya mengajarkan bahwa memasak adalah ibadah kepada Tuhan dan cara menghormati sesama manusia. Dan saya jelas sangat menghormati orang yang telah mau mewujudkan mimpi saya jadi nyata.

Dua buku tersebut ditulis di periode awal Tran mulai belajar dan mengajar diri sendiri menjadi etnolog. Catatan-catatan awalnya mengenai Vietnam. Kedua teks tersebut menjadi incaran saya sejak mulai perlahan-lahan menerjemahkan teks-teks yang membahas seputar revolusi agrikultur di Vietnam yang dimulai tahun 1990, ketika Rencana Pembangunan Lima Tahun V mulai dilangsungkan. Saya sedikit terobsesi untuk mencari tahu bagaimana negeri komunis ini sukses melindungi dan menjadikan pertanian sebagai tulang punggung ekonomi mereka. Hingga di kemudian hari, beras dan kopi dari negeri ini misalnya sukses merajai pasar di dunia.

Sayangnya, banyak yang belum tahu siapa Tran di Indonesia. Padahal, di dekade 50-an dan 60-an, idola para hipster filsafat hari ini seperti Derrida dan Lyotard atau Althusser merujuk Tran.

Tapi bukan masa-masa ia di Prancis yang menarik buat saya. Periode ketika ia pulang dan membantu Partai Komunis Vietnam (PKV) adalah rentang waktu yang menyimpan banyak cerita. Padahal di awal dekade 50an, bukunya tentang Dialektika Materialisme dan Fenomenologi baru saja terbit. Sambutannya juga luar biasa. Jika bertahan di negeri para pencium ini, karir Tran sebagai intelektual dunia sudah jelas terang benderang.

Ia justru memilih pulang di tahun 1951. Lima tahun kemudian, ketika universitas pertama dibangun oleh PKV, Tran mengambil tanggung jawab sebagai Dekan Fakultas Sejarah. Gedung perkuliahan saat itu menggunakan salah satu bangunan Văn Miếu di Hanoi. Văn Miếu dapat diterjemahkan sebagai kuil literatur. Dibangun pada 1070 dan terletak di bagian selatan istana Thăng Long. Desainnya mirip dengan kuil Qufu yang terletak di Shandong, di bagian pesisir Cina. Fakta ini tidak mengagetkan karena Văn Miếu memang pada awalnya didedikasikan sebagai penghormatan dan upaya melestarikan ajaran Konfusius.

Kembali ke soal Tran, intelektual bengal ini kemudian dianggap sebagai musuh dalam selimut bagi PKV. Sebabnya, Tran adalah orang yang keras kepala dan gemar melancarkan kritik. Ketika di akhir 1956, reforma agraria yang didorong PKV di bagian utara dan timur laut negeri itu mengakibatkan banyak petani tewas, Tran adalah satu-satunya orang di lingkaran elit Partai yang berdiri tegak dan menyatakan bahwa PKV melakukan kesalahan. Ia juga melancarkan kritik terhadap model interventif yang dilancarkan PKV terhadap integrasi komunitas-komunitas tribal yang menghuni dataran tinggi di bagian utara Vietnam.

Sikap-sikap itu yang membuat penggemar teh herbal ini kemudian diasingkan secara perlahan dan diam-diam oleh lingkaran elit PKV. Tidak ada yang berani berhadapan dengan Tran secara langsung. Ia rajin menulis dan menghabiskan tiga puluh tahun untuk mempelajari negerinya tanpa dukungan pendanaan dari Partai. Selain itu, ia menerjemahkan banyak karya filsafat -terutama karya Marx dan Engels- ke dalam bahasa Vietnam. Terjemahan Manifesto Komunis perdana dalam bahasa Vietnam adalah salah satu buah tangannya.

Di akhir 1958, Tran resmi mundur dan melengserkan diri dari universitas. Ia menjadi pengelana kognitif yang secara diam-diam terus menulis. Di tahun 1973, di Paris, Prancis, Tran menerbitkan “Recherches sur l’origine du langage et de la conscience”. Buku ini adalah kombinasi mematikan psikologi dan materialisme biologis. Menggunakan Marxisme, Tran melacak soal subjektifitas dan kesadaran seseorang serta implikasinya terhadap bahasa sebagai salah satu produk kebudayaan. Buku ini melengkapi “Phénoménologie et matérialisme dialectique” yang terbit 22 tahun sebelumnya. Dua magnum opus yang mesti ditukar Tran dengan memburuknya kondisi kesehatan.

Ia kembali ke Paris di tahun 1983 untuk berobat. Dalam kondisi miskin, ia rajin mengikuti kuliah-kuliah umum yang diisi para kolega-koleganya, filsuf-filsuf yang namanya mentereng hingga kini. Semisal Jean Paul-Sartre yang yang ikut menyumbang membiayai hidup Tran selama di Paris. Selama di kota ini, Tran tinggal dengan kondisi miris di sebuah apartemen kecil yang terletak tak jauh dari Kedutaaan Besar Vietnam. Ia meninggal sepuluh tahun kemudian ketika musim dingin mulai menggerogoti Paris.

Dua buku yang saya sebutkan di atas adalah dua otokritik Tran terhadap PKV yang dipublikasikan di Nhân Dân, koran resmi PKV. Dua tulisan tersebut muncul setelah ia mundur dari jabatannya sebagai Dekan dan menghabiskan waktu berkelana di kampung-kampung dan menulis catatan etnografi yang mengagumkan. Dua otokritik Tran menjadi penting bagi saya, karena dua buku inilah yang menjadi penegasan posisi intelektual lelaki pengayuh sepeda ini sebagai etnolog Marxis terkemuka di Asia Tenggara. Keduanya tidak pernah dirilis dalam bentuk buku resmi dan hanya tampil sebagai penjelasan Tran atas kritiknya.

Saya pertama kali mendengar tentang dua naskah ini sekitar empat tahun lampau. Saat itu, salah seorang kawan menggunakan Tran sebagai rujukan bacaan dalam presentasinya di sebuah serial diskusi bulanan yang diadakan tempat kami magang sebagai peneliti ingusan. Ia memaparkan mengenai proposal pembangunan industri agrikultural di Vietnam, di awal dekade 1990-an. Reformasi pertanian yang signifikan menolong Vietnam ketika Asia Tenggara dihantam krisis ekonomi menjelang dekade itu berakhir.

Catatan-catatan lapangan Tran mengenai kondisi pedesaan di negeri itu menjadi sumber material bagi lingkaran pimpinan PKV untuk merumuskan solusi menghadapi rangsekan kapitalisme. Awal dekade itu adalah masa di mana keran investasi sudah mulai masuk. Perusahaan-perusahaan bir masuk dan mengkapling kota-kota besar, industri garmen mulai membangun pabrik-pabrik raksasa mereka di daerah selatan, angka urbanisasi yang melonjak tajam dan tingginya jumlah pencari kerja, raksasa-raksasa perikanan mulai menancapkan kuku di pelabuhan-pelabuhan seiring tersingkirnya nelayan tradisional.

Itulah masa di mana Tran menjadi pijakan yang solid. Kerja tiga dekade yang ia lakukan dalam senyap menjadi salah satu pondasi yang mengantarkan Vietnam selamat ketika Thailand dihajar babak belur dan krisis di Indonesia bermuara pada mundurnya diktator paling berdarah pasca-Perang Dingin. Dua otokritiknya di masa lalu, digali kembali oleh generasi kontemporer yang betul-betul menyadari bahwa pembacaan yang tepat atas kondisi material dapat menolong sebuah bangsa.

Di Indonesia, hal yang bertolak belakang terjadi. Riset-riset PKI dibumihanguskan dan seluruh warisan pengetahuan mereka menjadi terlarang. Marxisme dianggap sebagai wabah. Sehingga ketika ponsel pintar semakin murah, masih banyak orang Indonesia yang percaya bahwa bumi itu datar. Di kampus-kampus terkemuka, Marxisme direduksi menjadi lelucon paling brutal ala Magnis Suseno.

Itu mengapa, ketimbang menggerutu, saya memilih menyajikan rusuk babi pedas sebagai perayaan merekahnya pengetahuan. Dengan bawang merah, bawang putih, lada, cengkeh, serai, jahe, bubuk merica, cabai, dan sedikit gula merah. Itu setelah rusuk babi yang direndam di air perasan jeruk bercampur garam, jahe dan taburan bubuk merica dipanggang setengah matang di atas api bernyala sedang. Sementara tumis kangkungnya, dimasak biasa ala kampung. Agar ingatan selalu terjaga.

Kota: Imigrasi

Dua hari satu malam, saya dipaksa untuk tersesat di bandara Kuala Lumpur International 2 (KLIA 2), Malaysia. Saya ditolak ketika ingin berangkat ke Da Nang, Vietnam. Alasannya, passport saya akan kurang dari enam bulan ketika masa berada di Vietnam. Padahal saya sudah mengantongi izin terbang dari imigrasi Indonesia, Jakarta.

Imigrasi di Kuala Lumpur memaksa saya untuk mendapatkan stempel masuk ke Malaysia meski saya menolak. Alasannya sederhana. Saya tidak pernah berniat singgah di negeri tersebut. Tujuan saya jelas. Vietnam. Singgah di KLIA 2, semata karena tiket perjalanan mengharuskan demikian. Jadi tidak ada kewajiban untuk mendapatkan stempel masuk dan keluar Malaysia. Saya secara sengaja memilih tinggal di bandara. Karena pesawat yang akan saya tumpangi hanya berjarak beberapa jam dari masa kedatangan.

Pihak imigrasi memaksa agar saya melapor. Prosedur ini saya ikuti. Namun mereka melarang saya menelpon ke pihak kedutaan Indonesia di KL. Alasannya, ini murni kesalahan saya karena berangkat dengan passport yang dapat membuat saya terancam dideportasi. Saya bersikeras. Jika dideportasi, itu bukan kerugian atau bakal jadi masalah imigrasi Malaysia karena saya adalah warga negara Indonesia. Yang berhak mengurusi adalah KBRI di negara mana nanti masalah tersebut timbul.

Ini bukan kali pertama kali saya terbang antar negara. Sehingga saya tidak kendur. Saya bersitegang. Memilih untuk tidak melanjutkan laporan dan tetap bersikukuh untuk diberangkatkan ke Vietnam. Sayang, pihak Air Asia yang menjadi penyedia jasa penyedia tiket penerbangan saya merasa keberatan. Mereka menilai bahwa posisi imigrasi Malaysia sudah tepat. Padahal, jelas. Saya tidak melakukan kesalahan apapun.

Semua pertanyaan mereka soal alasan mengapa harus ke Vietnam sudah saya jawab. Passport saya juga bolak-balik mereka periksa. Saya tidak pernah mengalami masalah keimigrasian. Tiket untuk kembali ke Indonesia juga sudah saya tunjukkan.

Namun mereka berkeras. Saya dianggap menyalahi aturan imigrasi mereka.

Mundur? Tidak. Saya merasa tidak pernah salah. Saya tidak pernah punya urusan dengan Malaysia. Lagipula, jika saya memang dianggap kurang layak berangkat, pihak imigrasi di Indonesia sudah seharusnya memberitahukan terlebih dahulu soal ini. Namun mereka menilai bahwa ada indikasi korupsi ketika saya berhasil melewati pihak imigrasi. Selain konyol, tindakan ini juga diskriminatif. Indonesia memang penuh korupsi. Tapi saya bukan salah satu di antaranya.

Dua belas jam berdebat, saya memilih istirahat di salah satu hotel di dalam KLIA 2. Tetap saja, pihak imigrasi Malaysia memaksa saya untuk segera pulang ke Indonesia. Mereka berpendapat bahwa jika saya dideportasi dari Vietnam, maka yang akan terganggu adalah hubungan bilateral Malaysia dengan negeri Paman Ho tersebut.

Alasan yang super konyol.

Pagi hari, sekitar jam sembilan, saya dipaksa untuk membeli tiket pulang ke Indonesia. Jika tetap menentang, passport saya akan ditandai dan untuk beberapa saat tidak bisa memasuki Malaysia. Saya berkeras agar pihak imigrasi menunjukkan peraturan yang menjadi landas ancaman tersebut. Saya juga menolak untuk berbicara bahasa Melayu. Bukan karena tidak bisa. Tapi, sependek pengetahuan saya, bahasa Inggris resmi ditetapkan sebagai bahasa komunikasi antar negara di Asia Tenggara. Namun, para petugas imigrasi tetap tidak mau melayani protes saya sepanjang masih berbicara dalam bahasa Inggris.

Ini kali pertama saya begitu marah. Terutama kepada Malaysia. Kepada pihak imigrasi yang begitu arogan dan memaksakan peraturan yang absurd dan tidak bisa mereka tunjukkan keberadaannya. Status ini juga saya tulis penuh amarah. Diliputi kekecewaan. Karena ini adalah kali pertama saya dipaksa pulang ke Indonesia karena menolak tunduk.

Random Thought: Inspirasi

Pada 16 Juli 2014 yang lalu, saya mengirimkan sebuah aplikasi lamaran untuk ikut terlibat dalam sebuah pelatihan intesif selama dua minggu di Gwangju, Korea Selatan. Sekolah ini mengkhususkan diri pada isu demokratisasi dan penegakan hak asasi manusia. Penyelenggaranya, The 18 May Memorial Foundation.

Yayasan ini berdiri dan mengambil semangat kebangkitan demokratik yang mengambil tempat di Gwangju pada 18 Mei 1980 untuk menentang kudeta militer yang dipimpin oleh Chun Doo-Hwan. Selama gerakan perlawanan sipil ini berlangsung, tercatat ada 154 orang meninggal, 74 orang hilang dan 4.141 orang terluka. Ini belum termasuk jumlah mereka yang dihadapkan ke pengadilan secara ilegal yang mencapai lebih dari 3.000 orang selama periode junta militer. Pembangkangan yang melibatkan masyarakat dari berbagai lapisan sosial dan latar belakang profesi ini kemudian menjadi salah satu penanda perjalanan demokrasi di Korea Selatan.

Pelatihan ini oleh mereka disebut 18 May Academy Folkschool. Mereka membuka diri kepada seluruh pelamar dari negara-negara di Asia dan Afrika serta Timur Tengah. Peserta pelatihan akan dibagi ke dalam tiga klasifikasi kelas berdasarkan tenggang waktu pengalaman mereka berkecimpung dengan isu demokratisasi dan hak asasi manusia.

Yang memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun akan berada di level senior. Mereka yang bergiat antara 5 hingga 10 tahun akan ditempatkan ke dalam kelompok menengah. Lalu untuk yang memiliki pengalaman kurang dari lima tahun dikategorikan sebagai peserta junior. Untuk level senior, hanya ada 3 slot yang tersedia. Di level medium, penyelenggara menyediakan 6 slot. Lalu ada 8 kursi yang disedikan di level junior.

Dengan pengalaman yang tak seberapa, saya memberanikan melamar untuk memperebutkan satu slot di level junior.

Persyaratan mereka tak sulit. Mengisi formulir aplikasi yang tersedia dengan data diri dan informasi terkait, lalu membuat sebuah esai singkat mengenai alasan mengapa tertarik dengan program pelatihan ini. Mereka juga mensyaratkan seorang pelamar untuk mencantumkan pandangan singkatnya mengenai isu demokratisasi dan hak asasi manusia. Bagian ini mesti sepenuhnya merupakan opini subjektif berdasarkan pengalaman pelamar. Tentang bagaimana melihat keterkaitan antara perjuangan penegakan demokrasi dan pemenuhan hak asasi manusia di lingkungan di mana pelamar beraktifitas dengan relasi perjuangan isu ini dalam konteks global. Satu hal yang pasti, mereka mensyaratkan kemampuan berbahasa Inggris di level tertentu sebab ini adalah bahasa yang akan digunakan dalam pelatihan nanti.

Saya harap-harap cemas apa bisa lolos dalam seleksi ini. Tapi saya juga siap bila tak masuk kualifikasi. Setidaknya saya bisa belajar dan mengetahui letak kekurangan agar dapat belajar di kemudian hari. Lagipula, ini pengalaman pertama saya melamar. Jika ditolak, masih ada kesempatan berikut. Atau mungkin pelatihan ini tidak sesuai dengan kualifikasi saya.

Kemarin, 29 Juli 2014, saya mendapatkan email balasan dari The 18 May Memorial Foundation. Mereka menautkan sebuah link di mana nama para peserta yang lolos dapat dibaca. Setelah dibuka, ternyata ada nama saya tercantum di sana bersanding dengan 16 nama lain. Peserta pelatihan kali ini datang dari 12 negara berbeda. Ada satu lagi orang Indonesia yang lolos. Namanya Sabela Gayo, dari LBH Indonesia. Jika saya berada di level junior, maka Gayo berada di level menengah. Saya tak kenal dan belum pernah bertemu sebelumnya. Jadi mungkin, pelatihan ini bakal jadi kesempatan perdana bersua.

Terang saja saya gembira.

Ini berarti saya akan berangkat ke Korea Selatan dan berkesempatan belajar dan bertemu banyak orang. Berinteraksi dengan mereka yang datang dari negara, budaya dan latar belakang kondisi sosial yang berbeda. Orang-orang yang berkecimpung di isu demokratisasi dan hak asasi manusia dengan segala hambatan serta upaya yang telah dan sedang mereka lakukan. Ini jenis kegembiraan yang mungkin hanya datang sekali. Berkunjung ke negeri yang sukses menghipnotis Indonesia dengan budaya pop Asiatik (selain Jepang tentu saja) sekaligus menimba ilmu dari pengalaman mereka di masa lalu dalam memperjuangkan demokrasi.

Saya membalas email tersebut dan segera mencantumkan beberapa harga tiket pergi pulang Bangkok-Seoul dari beberapa maskapai penerbangan yang melayani jalur tersebut. Tak lupa saya menjelaskan mengenai alasan mengapa saya berada di Thailand dan tidak berada di Indonesia. Juga melengkapi beberapa detil lain yang mereka minta sebagai syarat kelengkapan. Lalu mencoba mengumpulkan informasi mengenai kemungkinan untuk mengajukan permohonan visa kunjungan ke Korea Selatan. Saya mesti membayar sendiri untuk biaya pengajuan visa, sementara seluruh ongkos yang lain akan ditanggung oleh panitia penyelenggara.

Mereka lalu sempat bertanya mengenai siapa tokoh yang menjadi inspirasi saya hingga terlibat dalam perjuangan hak asasi manusia dan demokratisasi. Saya lalu menyebut dua nama, Andreas Harsono dan Denni Pinontoan.

Mengapa Andreas Harsono?

Alasannya sederhana. Saya membaca reportase-reportase dan hasil riset yang ia tulis. Andreas adalah jurnalis yang juga bekerja sebagai peneliti di Human Rights Watch (HRW). Orang yang juga merupakan tempat saya meminta bantuan (yang malah terkadang merepotkan) dan sumber yang dapat dipercaya mengenai isu hak asasi manusia di Indonesia. Ia bahkan bersedia menyediakan namanya untuk dicantumkan sebagai salah satu orang yang bersedia merekomendasikan kemampuan saya saat melamar di pelatihan ini. Saya juga melihat bagaimana ia berjuang membela hak asasi kaum minoritas dengan rasional dan menghindari keterjebakan pada fanatisme. Mengambil sisi keberpihakan yang dilandaskan pada fakta. Satu hal yang sangat saya kagumi adalah kemampuan beliau menulis laporan panjang yang penuh data dengan renyah dan tidak membosankan.

Nama berikut adalah Denni Pinontoan.

Ia alumnus fakultas Teologi, Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) yang kini mengajar di tempat yang sama. Orang Minahasa yang mendedikasikan diri berjuang untuk pluralisme. Denni juga adalah aktifis Mawale Movement, sebuah gerakan kebudayaan yang di Sulawesi Utara. Kami berdua sama-sama terlibat di dalam arus ini. Mantan pimpinan redaksi sebuah radio di Tomohon ini, merupakan penulis prolifik dan profil orang Kristen yang memiliki horizon berpikir yang luas. Ia tidak fanatik, ramah dan merupakan kawan diskusi yang menyenangkan. Denni juga adalah tipe pekerja keras dan orang yang terbuka mengutarakan pendapat dan siap menerima kritik. Saya kenal ia lebih dari enam tahun.

Mereka berdua adalah orang-orang biasa. Mungkin bukan tipikal tokoh dalam kualifikasi umum. Tapi keduanya adalah monumen hidup keberlanjutan aksi dan konsistensi. Saya sengaja tak menyebut mereka yang tak saya kenal secara personal atau tokoh-tokoh besar dalam sejarah. Saya juga tak terbiasa dengan karakter superhero yang seakan mengatasi segala sesuatu secara individual. Kedua sosok yang saya jelaskan di atas adalah antagonis bagi mereka yang berpikir bahwa kebenaran itu homogen dan absolut.

Masih ada barisan nama-nama lain yang kemudian juga berperan dalam kehidupan intelektual saya. Mereka menginspirasi saya dalam beberapa hal, dan masing-masing menyumbang hal yang berbeda. Juga menjadi tempat saya belajar hal-hal yang tidak saya ketahui sebelumnya. Inspirasi saya memang datang dari orang-orang sederhana yang hidup di sekitar, yang berjuang, yang bertahan dan menantang badai dengan cara yang indah. Mereka adalah figur-figur yang secara langsung ikut membentuk dan membuat saya sampai di titik ini, hari ini.

Itu kenapa, ketika saya merasa bahagia karena mendapatkan kesempatan untuk menempa diri belajar di tempat yang baru, saya tak mau lupa untuk mengucapkan: terima kasih.

Ini Tentang Kau, C

Every saint has a past and every sinner has a future. –Oscar Wilde

Hanya yang hidup yang bisa menghargai masa lalu, dan yang mati atau telah berubah menjadi bangkai tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk mengenang, mengingat atau beromantika dengan apa yang disebut masa lalu. Aku masih mempercayai hal ini, yang tersisa di antara sekian banyak prinsip hidup yang dahulu ku pegang teguh namun kini hancur berantakan. Setidaknya, masih ada yang tersisa dari hari-hari ku di masa kemarin. Aku juga percaya bahwa apapun yang kita lakukan di hari ini, tidak akan mengubah apapun yang sudah terjadi di masa lalu. Setiap tindakan pada saat sekarang hanyalah akan memperbesar, memperkecil, membuka atau menutup kesempatan di masa depan. Intervensi aktif hari ini yang dalam pandanganku sangat determinan terhadap hari esok atau waktu-waktu selanjutnya yang kita sebut masa depan.

Itu mengapa, aku tidak pernah menyesal pernah mengenal mu. Sebaliknya, aku justru merasa beruntung pernah mendapatkan seorang teman –yang bahkan secara sepihak telah ku anggap sebagai adik, seperti dirimu.

Momen-momen kegilaan yang pernah kita lewati tentu saja adalah sesuatu yang tidak bisa diduplikasi hari ini ataupun esok. Tekanan dan loncatan untuk mengatasi hidup yang datar yang kita lakukan bersama di hari kemarin tentu saja adalah salah satu faktor yang menghantar kita berdua berada di titik hidup hari ini, masing-masing dengan pilihannya. Semua ingatan tentang bagaimana konyolnya kita memperlakukan hidup serta bagaimana beraninya kita berdua mengatasi kekakuan dan membuat semuanya berjalan zig-zag, berputar hingga tersesat, adalah masa-masa menakjubkan yang tidak akan pernah terhapus dari ingatanku. Tentang bagaimana malam-malam yang pernah kita lewati dengan alkohol, debat hingga pertentangan-pertentangan yang memberikan nilai-nilai baru dalam hidupku. Aku tak tahu tentang apa pandanganmu tentang semua itu, namun kini aku tak peduli lagi.

Aku juga tidak akan meminta maaf kepada siapapun karena telah mengenalmu dan membuatmu menjadi bagian yang tidak sekedar lewat dalam hidupku. Juga tidak akan bersyukur atas kehadiranmu. Karena seperti pertemuan, pada akhirnya setiap orang juga mesti berpisah dan menemukan jalannya sendiri. Bagiku, perpisahan –secara fisik dan ide– antara kita berdua bukan merupakan sesuatu yang layak dicaci. Juga tidak layak untuk mendapatkan glorifikasi karena segala sesuatu yang berlebihan pada akhirnya akan menjadi memuakkan. Tapi jelas ada tempat khusus di ingatanku tentang kau, keluargamu, momen-momen kita serta semua kesepakatan dan ketidaksepakatan.

Bahkan hingga hari ini, aku masih berharap bahwa kau baik-baik saja di sana dan terus mengejar mimpimu. Terus berada di level imajinasi yang sulit diadaptasi orang kebanyakan karena memang itulah keunikanmu. Sesuatu di dalam dirimu itulah yang telah berhasil menarik diriku untuk membawamu menyeberangi batas di mana biasanya banyak orang ku tinggalkan. Aku telah mengundangmu, semua kegilaan di dalam otakmu, segala impian kanak-kanakmu untuk masuk dan menjadi serum di hidupku yang telah sejak lama berantakan. Itu mengapa, tidak mudah untuk menilaimu sebagai seseorang yang layak ku benci. Sebab terlalu banyak cinta di antara kehidupan persahabatan kita yang membuat aku mengerti sekali lagi tentang ketidakabadian.

Relasi sosial memang sudah seharusnya seperti ini. Seperti daun yang tumbuh dan mekar di ranting-ranting sebelum kemudian jatuh mencium tanah karena telah coklat kekuningan.

Akupun sengaja menjauhkan diriku dari lingkar sosialmu. Membatasi diri agar kau tak terlalu dekat seperti hari kemarin, seperti saat kita mulai saling mengenal dan saling memprovokasi untuk merayakan hidup. Sebagai orang yang telah menyerah terhadap hidup, telah menyerahkan semua mimpinya dan menggunakan identitas sebagai urban kelas menengah, aku merasa bahwa kau bukan lagi bagian di dalamnya. Bagianmu berada di lingkar lain yang sama sekali tak bergesekan denganku.

Lagipula, sebagai orang yang telah dihakimi bersalah dan enggan mengomentari apapun tentang itu, aku telah menjalani kehidupan dan bertahan hidup hingga hari ini. Kini yang ada di pikiranku adalah bagaimana bertahan hidup untuk esok. Ya, untuk esok saja.

Kota: Tentang Liburan

Tidak ada yang terjadi di luar kendali. Yang ada hanyalah waktu di mana kita membiarkan kendali itu dirampas dari kita, sengaja atau tidak. –Seorang Perampok Bank Athena, Yunani 2010.

Setidaknya itu adalah alasan yang paling bisa masuk akal bagiku malam ini. Setelah apa yang terjadi sore sebelumnya.

Awalnya adalah ketika kemarin sore, seluruh asrama tiba-tiba berkumpul di teras depan yang menghubungkan pintu kamar kami semua. Sebab musababnya adalah pengumuman di masa injury time yang datang dari Direktur program pasca-sarjana, di mana aku dan seluruh penghuni asrama ini belajar. Pengumuman itu sebenarnya hanya sederhana.

Pembatalan rencana kunjungan budaya yang sedianya akan dilangsungkan besok ke Rajabath University yang terletak di provinsi Chaiyapoom. Rajabath University merupakan universitas negeri yang terdapat hampir di seluruh provinsi di Thailand. Kurang lebih hampir sama seperti masa di mana Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) dahulu di Indonesia. Sebagai gantinya, pihak fakultas mengirim para pelajar First Batch Class sebagai duta budaya.

Alasan di balik penggantian yang serba mendadak itu adalah permintaan personal dari orang paling berkuasa di kampus yang biasa biasa disebut dekan, meminta seluruh kami agar menghadiri prosesi Wai Kroo yang akan dirangkai dengan peresmian gedung baru fakultas. Wai Kroo atau Teacher’s Day alias Hari Guru adalah prosesi wajib di setiap awal tahun ajaran di Thailand. Pada hari tersebut, seluruh murid akan menunjukan rasa respek dan terima kasih mereka kepada para guru yang akan atau telah mengajar dan berbagi pengetahuan dengan para siswa di dalam kelas. Dan berhubung kami adalah siswa baru, maka kami diwajibkan untuk mengikuti hajatan tersebut.

Tapi yang menjadi menarik adalah efek samping dari pengumuman tersebut.

Mundur beberapa hari ke belakang. Hampir seluruh kami yang berada di Batch tahun ini begitu bersemangat saat menerima kabar bahwa kami akan mendapatkan libur selama dua hari. Selama liburan ini, kami akan mengunjungi salah satu universitas di provinsi Chaiyapoom yang terletak di bagian timur laut Thailand. Jelas banyak yang begitu gembira. Selain mendapatkan kesempatan meninggalkan ruang kelas yang tampak semakin membosankan setiap hari, kami juga akan mengunjungi tempat baru.

Tapi karena ini bukan hanya sekedar jalan-jalan, maka kami juga memiliki misi yang harus dijalankan selama trip. Kami ditugaskan menjadi duta budaya sekaligus agen promosi dari program beasiswa ASEAN. Masing-masing harus mengenakan baju tradisional yang berasal dari negara asal. Tidak lupa memperkenalkan tentang program beasiswa yang berhasil mengumpulkan sebelas orang dari enam negara berbeda untuk belajar bersama selama dua tahun. Tidak hanya itu, tiap orang bertanggung jawab untuk menyediakan bahan-bahan presentasi yang nantinya akan memudahkan orang mengenal lebih jauh negara asal kami.

Pokoknya, ada begitu banyak hal dan detil yang mesti disiapkan dan nantinya akan ditampilkan selama liburan dua hari tersebut. Sesuatu yang menurutku bukan liburan yang sebenarnya melainkan hanya bentuk lain dari jeda sejenak yang diberikan pihak fakultas agar kami tak cepat jadi gila.

Segalanya semakin memuakkan ketika seluruh kelas memilihku agar menjadi juru bicara yang nanti akan tampil dan memperkenalkan segala hal di atas tersebut. Aku dipilih hanya karena dinilai paling responsif dengan dialog dan pertanyaan serta memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang lumayan. Dan sebagaimana demokrasi yang adalah bentuk dari tirani mayoritas, mesti telah menyatakan menolak berkali-kali, suaraku seperti dianggap angin lalu oleh semua orang.

Lalu tiga hari melelahkan itu datang. Tiga hari belanja dan kegilaan di sekitar barang-barang yang ku anggap tak ada hubungannya dengan hidupku. Namun sebagai orang yang telah menyerah dan tak lagi memiliki kuasa atas rute hidup hariannya, tak ada pilihan lain bagiku selain mengikuti dengan muram perayaan belanja ini. Aku membebek ke manapun teman-teman sekelasku pergi dan mencoba menikmati dari sudut pandangku sendiri. Setidak-tidaknya kebosanan karena mesti belanja tak sebanding dengan berdiam diri seharian di kamar asrama, mendengarkan musik di YouTube, mengaktifkan Facebook dan membaca berita-berita sepakbola di internet. Agenda belanja itu kemudian terasa begitu indah dan semuanya makin sempurna bagi beberapa orang ketika salah seorang mahasiswa asal Thailand mengajak kami ke sebuah gerai yang menjual berbagai baju dan aksesoris tradisional negara-negara di ASEAN.

Sampai akhirnya mimpi itu jatuh ke lantai dan pecah. Sebuah pesan singkat yang berisi pembatalan rencana perjalanan itu datang di waktu yang tidak tepat bagi beberapa orang tapi sebaliknya bagiku.

Ketika itu aku sedang bermeditasi seperti yang disarankan oleh Dalai Lama, tidur siang. Hingga akhirnya suara-suara yang bertabrakan dan terdengar kacau berhasil membangunkanku dan menarik rasa ingin tahu. Aku tersenyum kecil menatap limbungnya harapan beberapa orang dan wajah-wajah lain yang merasa tak siap karena mesti menggantikan impian lain yang baru saja hancur berantakan.

 

Malam harinya, aku membeli empat botol bir untuk merayakan pembatalan mendadak tersebut. Aku menenggak bir tersebut sembari menertawakan diri dan orang-orang di sekitarku. Sembari mendengarkan lagu di YouTube dengan volume yang berada di batas maksimal, aku terus menerus tertawa kecil karena berhasil selamat dari kekacauan formalitas yang mesti kuhadapi seandainya kami jadi berangkat ke Chaiyapoom.

Pagi hari, seperti biasa aku bangun pagi untuk mulai berolahraga kecil. Sekedar jogging untuk menurunkan berat badan dan gelayut lemak di perutku. Setidaknya aku ingin membakar beberapa kilogram kalori hari ini. Itu rencanaku.

Dan lagi-lagi rencana tinggal rencana.

Saat akan melewati kamar sebelah, aku dikagetkan oleh suara yang memanggil namaku. Saat menoleh, tampak perempuan-perempuan dari kelasku sedang berkumpul di kamar tersebut. Semuanya tampak begitu muram dan tak bersemangat. Topik pembicaraan mereka juga belum beranjak dari soal kemarin. Tentang rasa kecewa karena batal jalan-jalan dan mesti berakhir berteman dengan kebosanan di asrama. Soal bayangan indah yang hadir bagaimana seandainya perjalanan tersebut benar terlaksana.

Lalu ide gila itu muncul dari mulutku.

Ajakan untuk melakukan perjalanan dan liburan dengan versi sendiri entah ke mana. Sebuah destinasi yang bisa ditentukan sembari salah satu dari kami mencari kendaraan yang dapat digunakan dan mampu menampung sebelas orang. Tempat di mana kami dapat bersenang-senang dan melepas penat karena banyaknya tugas kuliah. Bersantai agar rasa lelah yang sedang menggantung di wajah bisa berkurang kalau memang tak bisa hilang.

Dan jelas, aku melihat keraguan di sebagian besar dari mereka. Seakan tak percaya bahwa liburan dapat dijalani tanpa perencaan yang matang dan terperinci. Itu argumen salah satu di antaranya. Yang lain merasa bahwa perjalanan tanpa tujuan yang jelas akan berakibat pada ketidakjelasan waktu yang akan digunakan untuk berlibur. Yang lainnya mengutarakan ketakutan soal biaya yang mungkin akan diluar kendali jika tak ada perencanaan jauh-jauh hari-hari sebelumnya. Hampir semua argumentasi cenderung mengarah pada satu hal: ketakutan.

Aku tak ingin berdebat dengan siapapun. Aku memilih mundur dan keluar dari kamar. Di masa lalu, aku terlalu sering berdebat. Kini, aku tak mau melakukannya lagi. Biarlah setiap orang menghidupi pilihannya masing-masing. Toh pada akhirnya mereka yang akan menanggung akibatnya. Dan di dalam hati, aku telah berniat untuk melanjutkan rencana olahraga yang sempat tertunda. Mungkin dengan mengucurnya keringat, aku dapat memikirkan agenda yang tepat untuk mengisi hari yang tampak semakin muram meski langit saat itu sedang cerah.

Tapi sebelum aku keluar, terasa ada yang menahan. Salah satu di antara mereka menahan tanganku. Ia adalah mahasiswi asal Thailand. Dengan nada suara yang pelan, ia minta maaf atas respon buruk dari semua yang ada di kamar itu. Sekaligus berharap agar aku mau menjelaskan detil mengenai rencana liburan yang kumaksud. Aku hanya tersenyum kecil dan menyerahkan semuanya pada mereka. Menggaristebal bahwa pilihan soal berlibur atau tidak mesti mereka yang tentukan. Tiap-tiap mereka harus menentukan sikap: berdiam diri seperti orang tolol di asrama atau merundingkan destinasi dan segera merengkuhnya.

Jangan lupa hubungi aku jika kalian memutuskan untuk berlibur. Aku juga ingin berlibur bersama kalian hari ini, kataku.

Aku kembali pada rencana awal. Olahraga ringan dengan berlari kecil mengelilingi taman sambil berpikir beberapa opsi yang mungkin ku tuju jika perempuan-perempuan itu terlalu takut untuk keluar dari gedung asrama yang lebih tampak rumah sakit lepra bagiku.

Baru saja satu putaran ku lalui, perempuan itu datang lagi. Kali ini agak sedikit berlari, tampak terburu-buru. Ia memintaku agar kembali lagi ke kamar tadi. Mereka yang lain sedang menungguku. Telah ada kesepakatan untuk memutuskan pergi berlibur. Semua akhirnya berani untuk sedikit melanggar aturan asrama: keluar lebih dari enam jam tanpa mengajukan pemberitahuan terlebih dahulu ke pihak pengurus asrama. Sepuluh orang pelajar yang merupakan teman sekelasku akhirnya mau memilih untuk menjalani apa yang mereka inginkan: liburan.

 

Sharing the holiday with other people, and feeling that you are giving of yourself, gets you past all the commercialism. –Caroline Kennedy.

Liburan itu akhirnya terlaksana. Destinasinya adalah sebuah bendungan terbesar di Thailand yang terletak di provinsi Kalasin. Dengan mengendarai sebuah mobil angkutan yang dicarter, sebelas kami segera menuju semakin ke utara. Bendungan itu sendiri terletak sekitar 90 menit perjalanan.

Perjalanan yang diwarnai tawa, cerita yang silih berganti dari masing-masing kami sebagai cara untuk saling bertukar informasi sekaligus belajar saling kenal lebih dalam lagi. Sesekali, kami berhenti untuk membeli buah-buahan, air mineral, atau cemilan lain yang dirasa cocok menemani liburan ini.

Ketika tiba di bendungan, semua segera berlarian dan mencari spot untuk sekedar berfoto atau memamerkan senyum. Hari itu, semua kami terlihat gembira seperti anak kecil yang kembali menemukan mainan kesayangannya yang telah lama hilang sejak beberapa minggu ke belakang: kebebasan kami.