Terlena Kopi di Hoi An

Ada banyak cara untuk terlena di Hoi An.

Kota ini memang indah. Mungil, tapi akan memikat hatimu hingga enggan beranjak. Bahkan jauh sebelum ditetapkan sebagai Kota Warisan Budaya oleh UNESCO pada 1999, Hoi An telah pandai mendulang simpati. Sejak abad 15 kota ini telah menjadi pusat perdagangan yang menjadi sela karena posisinya yang menghadap ke Laut Cina Selatan. Dahulu tempat ini termasuk wilayah Champa dan melayani lintas dagang dari Jepang, kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia hingga para pelaut Eropa.

Meski hanya seluas 60 kilometer Hoi An memiliki cukup ruang bagi para pelancong untuk melepas penat, mencari kesegaran atau merehatkan pikiran. Sebagai kota yang bertulangpunggung pariwisata, kota ini menata dirinya dengan keramahan penduduknya, keindahan masa lalu yang terawat, kuliner yang menggoda lidah, biaya hotel dan penginapan yang tergolong murah serta tentu saja warung-warung kopi dengan dominasi ragam robusta sebagai menu utama.

Di sini, kita dapat menikmati kopi sembari mengawasi hilir mudik orang-orang di Faifo (Kota Tua). Atau, memilih duduk di pinggir pantai dan memandangi orang-orang berenang di laut sambil memesan makanan di berbagai jenis restoran yang tersedia di sudut kota untuk kemudian dipungkasi dengan segelas robusta.

Iya, robusta dan bukan arabika. Seperti kota-kota lain di Vietnam, ini adalah jenis kopi paling populer dan umum disajikan. Negeri berhaluan komunis ini adalah penghasil biji kopi robusta kedua terbesar di dunia. Menjadi produk andalan ekonomi dalam negeri semenjak kopi diperkenalkan oleh penjajah Prancis di akhir abad 19.

 

Area pertama di seantero Vietnam yang ditanami kopi adalah Bien Hoa, yang terletak sekitar 30 kilometer ke arah timur dari Sai Gon. Daerah perkebunan ini dahulu dimiliki oleh sebuah perusahaan bernama Coronel Coffee yang dimiliki seorang insinyur berkebangsaan Prancis bernama Marcel Coronel. Setelah kemenangan pasukan merah dan unifikasi Vietnam, lahan kopi lalu dinasionalisasi oleh negara pada 1975 melalui pembentukan Vietnam National Coffee Corporation yang lebih populer dengan sebutan Vinacafe.

Menyebarnya robusta ke seantero Vietnam tidak lepas dari cerita kesuksesan Vinacafe melakukan ekspor perdana pada 1978. Melihat potensi pasar kopi di dunia internasional, pemerintah Vietnam melalui Kementerian Pertanian dan Industri Makanan, kemudian melalukan ekstensifikasi yang melibatkan tenaga ahli dan kelompok petani. Lahan-lahan pertanian di daerah pegunungan kemudian dikolektifkan untuk dijadikan lahan bisnis monokultur kopi. Vinacafe kemudian membangun unit-unit usaha pembelian yang berhubungan langsung dengan petani sekaligus menyediakan jasa konsultasi dan pendampingan untuk menjaga kualitas produk.

Pemerintah komunis ini juga melakukan proteksi terhadap mata rantai perdagangan kopi di dalam negeri. Kopi robusta impor yang masuk ke Vietnam dikenakan pajak progresif yang berimplikasi pada harga jual yang mahal dengan kualitas yang belum tentu sebanding. Hal ini membuat kedai-kedai kopi kecil di negeri lebih cenderung memilih membeli dan memperdagangkan kopi lokal sehingga mempengaruhi tren konsumsi kopi di dalam negeri.

 

Beberapa kali mengunjungi Hoi An, saya selalu singgah di satu kedai kopi di seputaran Kota Tua bernama Dive Faifo. Kedai kecil yang tidak jauh dari jembatan kuno Jepang yang tersohor di Hoi An. Tempat ini kala malam mengubah diri menjadi bar akustik. Di siang hari, selain menjajakan kopi, tempat ini juga merupakan penyedia jasa layanan wisata menyelam.

Pemiliknya adalah pasangan ekspatriat dari Prancis. Sang suami adalah seorang bartender yang juga membuka mobile bar di depan sebuah supermarket tidak jauh dari kedai kopi ini. Sementara istrinya adalah seorang penikmat kopi asal Lyon yang akhirnya jatuh cinta dengan Hoi An.

Dive Faifo mulai menjual kopi enam tahun lalu. Mulanya, kedai ini hanya menyasar para pelancong asal Eropa Barat atau Amerika Utara yang ingin menikmati kopi diseduh panas seperti Americano atau mencari Capuccino di pagi hari. Metode seduh dengan menggunakan Vietnam drip dan campuran potongan es (Cha Pe Da) bukan menu andalan karena mudah sekali ditemukan di kedai atau restoran lain. Lagipula menjelang akhir tahun ketika cuaca mulai dingin, sajian kopi dingin tidak terlalu diminati.

= = =

Tulisan ini tayang perdana di Minum Kopi

Huế Dan Dua Gelas Kopi Sebelum Pukul Tujuh

Viet Nam dengan kafe-kafe kopinya ibarat lebah yang berkerumun di sebuah kelopak bunga.

Di Huế, kota di mana saya tinggal, akan sangat mudah menemukan tempat bersantai dan menikmati secangkir kopi. Sepanjang kedua sisi Hương Giang (sungai yang harum) saja terdapat sekitar seratus warung kopi yang memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk singgah. Ingin duduk di bawah pohon yang teduh dan menikmati pemandangan sungai, atau mencari tempat duduk yang agak sepi, di bawah payung-payung plastik.

Saya dan istri saya memiliki satu kafe favorit di sana. Namanya Cam En. Letaknya tepat di tepi sungai, sebelah barat kota, berjarak sekitar dua puluh lima meter dari Festival Hotel.

Di Cam En ini kami biasanya memilih tempat di sudut sebelah kiri, di lokasi yang agak terpisah dari pengunjung lain. Sebuah meja dengan tiga kursi kecil kami duduk. Lokasi yang tepat untuk bercerita dengan bebas. Saling tersenyum, berpegangan tangan, dan sesekali berhenti untuk menyeruput kopi. Saya dengan segelas Ca phe da (kopi hitam), sedangan istri saya dengan segelas Ca phe sua da (kopi susu).

Kopi di Huế, seperti juga di kota-kota lain di Viet Nam, selalu disuguhkan bersama mangkok kecil berisi beberapa potongan es. Sementara gelas kopi ditudungi dengan penyaring berisi bubuk kopi yang sudah direndam air panas. Pelan-pelan air resapan kopi akan menetes di gelas. Setelah air dalam alat penyaring kering, kita dapat menambahkan potongan kecil es, sesuai selera. Saya biasanya menaruh dua potong.

 

Di Viet Nam, kopi mulanya diperkenalkan oleh Kolonial Prancis pada akhir abad ke 19. Perkebunan kopi pertama di negeri ini dibuka di sekitar An Nam. Jenis yang umum ditemukan kopi robusta yang ditanam di daerah dengan ketinggian 3.600 kaki.

Hari-hari ini, negara yang berkali-kali dikalahkan oleh Sylvester Stallone dalam film Rambo-nya, merupakan negara eksportir kopi terbesar kedua di dunia. Kisahnya, setelah perang berakhir pada pertengahan dekade 1990-an, pemerintah Viet Nam memulai intensifikasi penanaman kopi. Para petani mendapat subsidi, kemudian lahan-lahan pertanian itu mereka bekerja. Sarjana-sarjana pertanian diinstruksikan turun ke lapangan demi mendukung proyek.

Cara menyuguhkan kopi dengan penyaring tunggal untuk setiap gelas, merupakan taktik untuk menyiasati langkanya mesin pembuat kopi. Orang Viet Nam menyebutnya phin. Penyaring ini terdiri dari ruang penyaring (filter chamber), penekan saringan (filter press), cangkir pas (cup spanner) tentu saja tutup saringan.

Di Viet Nam banyak orang lebih suka menggunakan gelas kaca sebagai wadah tampung resapan kopi. Alasannya sederhana, dengan gelas kaca, kita dapat menyaksikan kopi yang jatuh perlahan. Kontemplatif, seperti rasa cinta dua pemuda yang tumbuh karena kebiasaan menghabiskan waktu bersama. Karena ini pula, seorang kawan saya berseloroh, minum kopi merupakan cara orang Viet Nam melupakan perang.

Cara membuat kopi ala Viet Nam cukup mudah jika tersedia phin. Langkah pertama adalah dengan meletakkan phin tepat di atas gelas kopi. Kemudian, serbuk kopi yang agak kasar dengan takaran secukupnya, dimasukkan ke dalam ruang penyaring (filter chamber) yang sebelumnya telah ditimpa dengan penekan saringan (filter press). Air panas kemudian dituang hingga hampir penuh, dan menutup saringan. Langkah terakhir, adalah menunggu sekitar lima hingga enam menit hingga air dalam saringan telah meresap dan menetes pindah ke dalam gelas.

 

Setiap pagi, istri saya selalu tidak pernah lupa menyeduh segelas robusta Viet Nam. Biasanya, setiap jam enam pagi, kami berdua akan duduk bersama di ruang tengah rumah kontrakan dan mencicip kopi.

Empat puluh lima menit kemudian, kami telah berpisah di simpang jalan menuju tempat kerja masing-masing. Maklum, aktifitas perkantoran di Viet Nam selalu dimulai pukul tujuh tepat. Minum kopi baru akan berlanjutkan ketika malam tiba. Duduk berdekatan, sembari memandangi kelip lampu warna-warni di jembatan Truong Tien.

Saat-saat seperti ini sering membuat saya sering rindu kampung halaman, lalu terus-menerus berjanji kepada istri, bahwa suatu saat nanti kami akan minum kopi berdua lagi: di Indonesia.

 

===

Tulisan ini tayang perdana di Minum Kopi

Hari Raya Kurban, Orang-orang Rantau dan Cerita Idul Adha

Hari Raya Idul Adha 1433 Hijriyah, adalah salah satu momen yang dirayakan oleh kaum muslim untuk mengingat dan mengimplementasikan semangat pengorbanan. Diinspirasikan oleh kisah nabi Ibrahim yang dengan tulus bersedia mengorbankan putranya Ismail, ketika Allah memintanya. Lulusnya Ibrahim dalam ujian ini disimbolkan dengan digantikannya Ismail dengan domba sebagai kurban.

Idul Adha selalu dirayakan bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah, 70 hari setelah perayaan Idul Fitri. Pada hari tersebut, umat Islam diharamkan puasa.

Idul Adha sering juga disebut oleh muslim Indonesia sebagai Hari Raya Kurban. Ini adalah masa puncak ibadah Haji yang merupakan salah satu bagian dari lima Rukun Islam. Itu mengapa beberapa kalangan sering menyebut Idul Adha dengan nama lain: Lebaran Haji.

Di hari itu, perayaan Idul Adha akan selalu diawali dengan sholat Ied berjamaah di tanah lapang, persis seperti Idul Fitri. Setelah sholat usai dilangsungkan, penyembelihan hewan kurban akan dilaksanakan. Penyembelihan hewan tentu saja adalah simbolisasi dari teladan Ibrahim bagi seluruh muslim.

Di momen seperti Idul Adha, banyak muslim yang berkelebihan secara ekonomi akan menyumbangkan hewan kurban. Kambing, sapi dan ayam adalah hewan yang paling umum di Indonesia, mengingat domba bukan hewan endemik di Nusantara. Daging hewan kurban yang telah disembelih kemudian akan dibagi-bagikan. Mereka yang menjadi prioritas adalah para lansia, janda, anak-anak yatim, penyandang cacat dan mualaf -mereka meninggalkan keyakinannya yang lama untuk memeluk Islam.

Yang paling berkesan adalah bagaimana daging kurban ini akan diolah. Berbagai jenis masakan yang tentu mengundang selera akan tersaji di meja makan, beririsan dengan petuah tentang keikhlasan, ketaqwaan dan keyakinan sebagai seorang Islam.

Namun momen seperti yang diceritakan di atas tak bisa dinikmati semua pemeluk agama Islam.

Para mahasiswa yang sedang melanjutkan studi di tanah rantau, tentu adalah golongan yang termasuk. Mereka jauh dari kehangatan rumah serta dari ayah dan ibu.

Rustam Ade, mahasiswa asal Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sam Ratulang (Unsrat) adalah salah satu diantaranya. Selama menimba ilmu di Manado, nikmatnya sajian kuliner mama tercinta mesti dilupakan untuk sementara. Biasanya Ade hanya punya “jatah” pulang ketika Idul Fitri. Jadi jika Idul Adha tiba, Ade yang berasal dari Tidore hanya bisa tersenyum kecut.

“Ya, ini salah satu bentuk pengorbanan. Tidak bisa pulang karena sedang mengejar ilmu. Lagipula, orang tua menginginkan kita jadi sarjana. Mereka bisa maklum jika anaknya tak ada di rumah untuk makan bersama setelah sholat Ied.” kata Ade.

Bagi Rustam yang menimba ilmu di jurusan Antropologi, merayakan Idul Adha di luar rumah mengajarkan sisi lain tentang kehidupan.

“Banyak dari tetangga yang peduli dengan kami. Selalu saja ada yang mengantar lauk olahan daging kurban. Terkadang ada yang mengajak makan di rumah mereka. Mereka menganggap kami layaknya anak sendiri. Jadi kami punya keluarga baru yang sedikit banyak bisa mengurangi rasa rindu akan rumah di kampung.”

Meski memang Ade tak memungkiri, ada perasaan yang tak lengkap karena tak berada di rumah dan dikelilingi sanak keluarga.

Tama Aditya juga berpendapat hampir sama. Aditya yang berasal dari Bogor dan menimba ilmu di fakultas Ekonomi Unsrat melihat bahwa Ukhuwah Islamiyah sangat terasa baginya di hari raya kurban. Selama lima tahun tinggal di Manado, Aditya selalu menghabiskan Idul Adha di rumah para sahabatnya.

“Keluarga teman-teman yang mengajak untuk berlebaran Haji di rumah mereka. Jadi tak merasa sepi. Sebaliknya, malah merasa punya keluarga baru. Keluarga teman-teman saya juga sangat baik.”

Pria yang kini sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian tahap akhir, memposisikan Idul Adha sebagai momen refleksi dan bukan hanya sekedar seremonial belaka.

“Kalau cuma sekedar makan daging, itu biasa. Kalo dapat uang kiriman lebih, tinggal cari rumah makan yang menyediakan menu daging. Pesan dan tinggal santap. Tapi bukan itu intinya. Idul Adha itu jadi saat untuk berefleksi. Bercermin dari Ibrahim dan belajar lagi tentang pengorbanan.”

Meski mengaku sangat merindukan masakan sang ibu yang memiliki rasa khas, Tama tak terlalu ambil pusing.

“Memang, ada rasa rindu dengan masakan ibu. Rasanya khas. Belum pernah ada bandingannya. Tapi kalau itu terus yang dipikir, malah bisa jatuh sakit dan tidak bisa merayakan Idul Adha. Tentu itu tak baik.”

Sementara Fajran Lamuhu punya cerita sedikit berbeda.

Meski berasal Gorontalo yang jaraknya terhitung dekat dengan Manado, tak membuat Lamuhu lantas memilih merayakan Idul Adha di kampung halamannya. Lamuhu yang pernah belajar di fakultas Hukum Unsrat, lebih nyaman berada di Manado saat Idul Adha.

“Tidak mesti pulang ke Gorontalo untuk dapat merasakan atmosfer Idul Adha. Di Manado juga bisa.”

Di sisi lain, Lamuhu juga mengkritisi mengenai degradasi makna Idul Adha. Ia menilai bahwa perintah untuk berkurban hanya secara simbolik dipahami dan tidak secara esensial.

“Sekarang ini Idul Adha jadi sekedar perayaan saja. Sensitifitas sosial dan solidaritas terhadap sesama manusia hanya akan terlihat di momen-momen seperti ini. Kalau sudah lewat, maka tiap-tiap muslim akan kembali ke kehidupannya yang semula. Kehidupan yang lebih mementingkan akumulasi kekayaan materi dan melupakan poin penting seperti empati sosial.”

Tapi Lamuhu tak mau menggeneralisir persoalan seperti itu. Secara jujur ia mengaku bahwa masih banyak orang yang mengajarkannya nilai-nilai fundamental Idul Adha.

“Beberapa orang yang pernah saya temui, mengajarkan saya banyak aspek mengenai nilai dasar Idul Adha itu sendiri. Mereka memang tidak tampil dan berceramah di TV, radio atau di masjid-masjid besar. Mereka juga bukan tokoh agama terkemuka. Mereka cuma orang kampung yang mengartikulasikan Islam dalam praktek hidup harian. Sederhana, namun langsung ke akarnya.”

Dan hari ini, tahapan menuju Idul Adha semakin dimantapkan. Banyak umat muslim sudah bersiap. Jumat besok (26/10/2012) seusai sholat, penyembelihan hewan akan dimulai dan Idul Adha akan tetap dirayakan. Entah secara makna atau lebih sebagai ritus.

 

*sebelumnya terbit di Cyber Sulut

Sastra Melayu Manado

Bulan Januari 2008, kembali dunia sastra Utara Celebes1 disemarakkan dengan terbitnya tiga buah buku sekaligus karya para seniman muda Utara Celebes.

Ada kumpulan puisi Jangan Malu Pada Sepi karya Dean Joe Kalalo, kumpulan cerpen Aku Ingin Jadi Burung dari Christy Sondey dan menyusul kumpulan cerpen Cirita Tai Minya kepunyaan Witho B. Abadi. Sebuah ucapan selamat tahun baru yang saya pikir belum terlambat untuk disampaikan kepada dunia sastra di Utara Celebes yang memang saat ini tengah menjadi sorotan dunia. Satu pembukaan yang manis untuk tahun 2008 ini.

Tiga buah buku lagi yang datang untuk tidak hanya sekedar menambah kuantitas jumlah karya yang telah berhasil diproduksi, tetapi juga menjadi pembuktian yang paling tegas tentang eksistensi dunia sastra di Utara Celebes dan peran angkatan muda di dalamnya. Padahal belum lepas dari ingatan apresian sastra di kota ini, tanggal 5 Desember 2007 yang lalu, buku kumpulan puisi terbitan 9 SOCIETY ART & TECH juga diluncurkan. Berarti dalam rentang waktu dua bulan saja, telah ada enam buah buku baru yang menyambangi para penikmat sastra di Utara Celebes yang sedang bersiap diri menyambut World Ocean Conference tahun 2009 nanti. Produktifitas yang sejauh ini bisa dibilang konsisten. Dan untuk ini, saya akan memberikan standing applause kepada seluruh angkatan muda pegiat sastra di Utara Celebes.

Sebab ada hal menarik dalam dunia sastra yang terjadi sejak tahun 2005 (yang dengan berani di canangkan oleh segelintir anak-anak muda yang bergiat dalam dunia seni khususnya sastra sebagai tahun kebangkitan seni budaya lokal) sampai awal tahun ini. Yakni menjamurnya banyak sastrawan muda potensial yang “sadar diri” sesadar-sadarnya. Menyadari tentang keberadaan mereka secara individu, berkelompok dan bermasyarakat, lalu termanifestasi dalam bentuk pembukuan karya sebagai bentuk pertanggung jawaban moral terhadap dunia sastra di Utara Celebes yang masih sangat menyedihkan karena masih begitu kurang begitu kondusifnya dunia kesusastraan di daerah ini.

Ini bisa dibuktikan dengan melihat secara seksama bahwa Utara Celebes bisa dikata vakum dari upaya-upaya penerbitan sastra selama satu dekade atau mungkin lebih. Padahal di satu sisi eksistensi seorang penulis/sastrawan/penyair, mau tidak mau akan dilihat para apresian dari publikasi karyanya. Padahal daerah ini memiliki banyak sastrawan yang sebenarnya tergolong senior tetapi entah “tidur” atau melupakan lokalitasnya. Kalaupun ada “Sastrawan Senior Utara Celebes” yang memperkenalkan karyanya, hanya harap-harap cemas atau sekedar pucuk dicinta mengharap ulam kan tiba.

Ini diperparah dengan tidak perduli atau tidak mampunya berbagai institusi seperti Dewan Kesenian dan lembaga-lembaga terkait lainnya yang sebenarnya dan sudah seharusnya serta pada porsinya harus bisa berbuat banyak untuk memajukan dunia seni khususnya sastra daerah pada umumnya. Tidak hanya sekedar sebagai donatur dana atau sinterklas musiman, tetapi bertindak dengan kerangka visi pembangunan seni budaya daerah ke taraf yang lebih maju di hari depan. Tidak cukup hanya dengan menggelar kegiatan-kegiatan jangka pendek, tapi kemudian dengan sengaja melupakan program-program strategis ke depan. Tidak hanya dengan menyibukkan diri dalam berbagai festival-festival yang hanya mementingkan kuantitas semata, tetapi melupakan kadar kualitas dan terutama daya stamina dan konsistensi dalam proses kreatifitas kesenian.

Padahal melihat perkembangan di dunia seni nasional telah lama membara semangat postmodernisme yang dengan gencar menggagas pengembangan kemampuan untuk artistik lokal dan menyerukan untuk kembali ke tradisi lokalitas. Di Jakarta sendiri menurut pengamatan penulis, kecenderungan “sadar asal” ini telah dimiliki oleh banyak sastrawan, dan hebatnya ini sering dijadikan “kartu as” untuk melawan Sentralisasi Kesenian. Gerakan ini kelihatan dominan diusung oleh mereka yang diluar arus mainstream dan bukan “seniman mapan”. Mereka lebih sering menggelar kegiatan secara underground namun intens.

Pada tataran lokal, penerbitan 9 SOCIETY ART & TECH yang melanjutkan tongkat estafet dari banyak penerbitan underground adalah bukti yang menunjukkan telah adanya usaha-usaha untuk “tidak mau lagi tinggal diam”. Dalam konteks ini, kami tidak mau terkungkung dengan keterbatasan material, terlebih keterbatasan visi. Bahkan lebih dari itu banyak pegiat dunia sastra yang telah sampai kepada sebuah kesadaran berbahasa lokal, yang dapat anda lihat di berbagai buku yang telah terbit. Ada Trilogi Kumpulan Puisi Bahasa Bahasa malayu manado di Utara Celebes 999 – 777 – 99, sampai kemudian ada akan bersua dengan tiga (3) buku yang baru saja terbit.

Di sini kami berusaha membangkitkan kesadaran dari para sastrawan lokal lain, dan masyarakat Utara Celebes untuk kemudian menghargai bahasa yang digunakannya sehari-hari tersebut sebagai “torang pe bahasa” yang akan dapat punah seiring terkikisnya penggunaan bahasa tersebut dalam kegiatan berbahasa sehari-hari. Tergantinya bahasa ngana-kita dengan loe-gue. Dan kami yakin, salah satu upaya terpenting untuk mempertahankan budaya yang adalah identitas, adalah dengan mempertahankan penggunaan bahasa.

 

Sastra lahir lantaran ada bahasa
Bahasa mati karna nda ada sastra

 

Demikian, MANIFESTO MAKAWALE karya Fredy Sreudeman Wowor. Sebuah puisi yang terdapat dalam antologi puisi Bahasa Manado – 999. Sebuah kumpulan puisi yang menandai gerakan membangun tempat tinggal atau Mawale Movement. Sebuah momentum kebangkitan seni budaya yang dengan sadar, kami mulai sejak tahun 2005 hingga sekarang. Dan kalau kemudian, nanti tahun 2008 ini pemerintah berencana menetapkannya sebagai tahun kebangkitan seni budaya, saya dengan berat hati mengucapkan bahwa itu hanya seremonial yang terlambat dan tidak konstektual lagi.

Dan kami sejak deklarasi Mawale Movement, dengan sadar menempuh salah satu cara untuk melestarikan bahasa lokal yaitu dengan menuliskannya dalam bentuk apapun termasuk puisi dan cerpen. Karena kami kemudian sampai pada sebuah kesadaran objektif bahwa jika kemudian kita hidup tanpa kejelasan identitas, akibatnya adalah tenggelam secara konyol dalam proses genocide yang sedang dijalankan oleh globalitas. Dan bahasa adalah titik signifikan yang akan menentukan hancur tidaknya sebuah kebudayaan. Mungkin terlalu ekstrim untuk menganggap nihil apa yang dikenal dengan ‘budaya nasional”. Tetapi menurut kami, tanpa kita mengetahui dengan jelas identitas kita sebagai bagian dari budaya lokal kita tidak akan pernah dapat duduk seimbang dalam konteks budaya nasional.

Sapardi Djoko Damono, dalam salah satu email-nya (setelah selesai membaca puluhan buku karya sastrawan muda Utara Celebes), mengungkapkan rasa kagum dan salut atas perjuangan gerakan sastra Malayu Manado di wilayah Utara Celebes yang khas dan saat ini sedang subur bertumbuh di berbagai tempat dimana ini semua adalah bagian tak terpisahkan dari Mawale Movement di bidang seni budaya sejak tahun 2005 hingga hari ini.

Fredy yang baik…. Sudah saatnya kita berpikir ulang mengenai apa yang disebut “Sastra Indonesia.” Kegiatan itu tentu akan ada dampaknya atas konsep kita tentang itu. Saya sudah menerima juga beberapa kiriman dari rekan-rekan di Manado, sampaikan ucapan terima kasih saya…….

Saya berpendirian bahwa sastra seharusnya ditulis dalam bahasa yang hidup, itu pula sebenarnya inti dari Beat Generation pada zaman hippies tahun 1960-an…….
(email 13 Oktober 2007 kepada Fredy Sreudeman Wowor)

Tidak hanya karena ada puluhan sanggar, kelompok teater, komunitas dan kolektif seni yang terbentuk, tapi juga karena kami memberikan sebuah bukti nyata dengan hadirnya puluhan buku karya untuk terus memberi penanda waktu bagi kemarin, hari ini maupun esok kalau “torang di sini, nyanda parna badiang”. Dan lebih dari itu, adalah ketika para sastrawan yang “masih bau kencur” ataupun “junior” ini adalah orang-orang yang sadar diri dan menyadari pentingnya memiliki dan mempertahankan identitas.

Tapi tidak hanya berhenti sekedar dengan membukukan karya-karya yang mungkin akan sangat kurang daya jangkau publikasinya (karena memang dicetak terbatas dengan keterbatasan dana yang di miliki) tapi juga dengan membangun beberapa media alternatif lain yang dapat diharapkan meluaskan visi misi kami tentang bale pa torang pe kebudayaan dan punya identitas.

Ini dapat dilihat jika anda menyempatkan waktu untuk mengunjungi sastra-minahasa.blogspot.com, sastra-hulondalo.blogspot.com dan sastra-nanusa.blogspot.com. Sebuah ruang sederhana di dunia maya yang kami bangun ala kadarnya, sebagai upaya untuk memberitakan lebih luas tentang geliat yang sedang terjadi di dunia seni khususnya sastra di Utara Celebes saat ini. Atau anda dapat membaca Jurnal Sastra Utara Celebes yang menggambarkan sedikit dari rutinitas berkesenian kaum muda di Utara Celebes.

Semua usaha diatas (penerbitan buku & jurnal, pembangunan basis kesenian, pembangunan blog di internet) di lakukan tanpa ada sokongan dana dari pemerintah, pengusaha, ataupun lembaga-lembaga lain, yang seharusnya memberi perhatian serius terhadap jatuh bangun dunia seni khususnya sastra di Utara Celebes. Sejak lama kami melakukannya secara swadaya dan swadana. Kami sejak lama telah berusaha mandiri dan membuang jauh-jauh pola pikir bahwa kendala finasial sebagai hambatan utama untuk terus berkarya, belajar dan berorganisasi dan membangun kebudayaan lokal kita.

Dan kami menyadari bahwa kami masih setengah jalan dan perjalanan ini masih sangat panjang dan berliku. Tapi minimal, kami telah memulai dan terus melakukan sesuatu. Kami telah membuktikan lagi dengan kehadiran tiga (3) buku yang baru terbit, kalau kami bukan sekedar masturbator yang hanya bicara tanpa pembuktian dalam kerja. Kami hanya ingin kembali mendeklarasikan di tahun 2008 ini, bahwa sastra Malayu Utara Celebes belum mati. Dan kami masih ada untuk terus berlari lebih jauh kedepan.

Dan akhirnya, kami mengajak anda semua untuk mengucapkan selamat datang kepada Jangan Malu Pada Sepi, Aku Ingin Jadi Sepi dan Cirita Tai Minya sebagai monumen sejarah baru yang akan mengabadikan terjalnya perjalanan dunia sastra di Utara Celebes.