Macchiato Kenangan di Savannakhet

Kaget.

Itu yang saya rasakan saat pertama kali memandangi bagian atas kedai kopi plus resto ini. Namanya terpampang besar di bagian atas depan yang begitu mencolok dari jalan raya. Papan nama yang mungkin terbuat dari bahan besi tahan karat berwarna perak. Pantulan sinar mataharinya cukup untuk membuat matamu terganggu.

Beranda Macchiato De Coffee didominasi warna gelap dengan jendela kaca di sana sini. Kau hampir bisa melihat seluruh bagian dalam dengan cukup berdiri di teras. Di sebelah kanan ada dua kotak telpon umum khas tanah Britania. Dicat merah menyala dan diletakkan hampir berdempetan. Halaman parkirnya sangat luas untuk ukuran kafe.

Kepala saya berputar ke masa lalu. Beberapa tahun lampau ketika sedang berada di sini. Juga rentang masa di mana saya begitu sering hilir mudik antara Vietnam-Thailand. Dalam ingatan saya, kedai kopi ini tidak ada. Macchiato De Coffee belum eksis ketika jalanan berdebu dengan pembangunan yang berjalan lambat, pos imigrasi, warung-warung mi, bar dan resto murahan serta tempat-tempat bermain billiard-nya begitu saya akrabi.

Ingatan saya tentang Savannakhet hanya dua. Pertama, kegersangan yang berpilin dengan debu jalanan. Berjalan kaki siang hari di kota ini terasa seperti pelatihan militer yang membosankan. Tidak ada pohon peneduh, mobil yang hilir mudik, perempatan jalan yang tidak terurus hingga mesin-mesin ATM yang tampak kusam. Selanjutnya adalah mengenai bar-bar mini yang terletak di berbagai sudut kota. Tempat seperti ini adalah ruang eskapik bagi ekspatriat dan mereka yang berhenti sejenak di Savannakhet. Semacam halte waktu di mana para peminum bir bertemu kemurahan hati khas Laos. Beerlao, bir khas Laos yang mudah ditemukan di sana sini dijual dengan ukuran yang lebih murah dari ibukota. Sebagai komplemen, kacang disediakan bagi mereka yang tidak tahan menenggak alkohol tanpa mengunyah sesuatu.

Saya pertama kali menginjakkan kaki di Savannakhet pada akhir 2013.

Medio November tahun itu, saya bersama dua orang kawan, menyeberang dari Mukdahan, Thailand. Kami bertiga adalah prajurit sewaan yang dikontrak beberapa waktu untuk mengumpul informasi di Savannakhet. Operasi mengumpulkan pundi-pundi uang yang dibalut dengan pembenaran akademis ala penghuni menara gading. Tim amatir yang ditugaskan untuk melakukan riset mengenai aktivitas lintas batas antar negara. Kami diminta melihat bagaimana anak muda berperan di arus pergi-pulang di tapal dua negeri. Maklum, saat itu ASEAN Economic Community sedang jadi topik utama. Menurut desas desus, ada banyak uang yang tersedia di beberapa universitas top di Thailand. Dana ini hanya bisa diakses melalui rangkaian riset yang dipandang memiliki dampak dan kontribusi bagi ide masyarakat konsumen di region Asia Tenggara. Kau tidak harus jadi pintar di kelas. Cukup jadi paling cerdas, gesit dan sedikit menjilat para profesor. Jika semuanya lancar, dipastikan kau bisa mengulur tangan untuk mendapatkan sedikit bagian.

Keberuntungan nasib, latar belakang sebagai seorang anak kampung yang berasal dari perbatasan, serta sedikit pengalaman yang tercantum di riwayat hidup membuat saya diajak terlibat. Meskipun faktanya kemampuan bahasa Laos saya nol besar, dan daya komunikasi dalam bahasa Thai sangat buruk. Kelemahan-kelemahan itu membuat saya harus rela menjadi penerima informasi tangan kedua setelah dua partner saya yang berasal dari Thailand dan Laos. Sejak dimulainya riset, masing-masing kami saat itu saling menyimpan tanya dan curiga soal siapa yang mendapatkan bayaran lebih besar.

Kawan pertama. Lambai Souvanlorpaying yang berasal dari Luang Phrabang, mengaku belum pernah menginjakkan kaki di Savannakhet meski ia berasal dari Laos. Ia justru tak tahu banyak soal tempat ini. Sepanjang hampir tiga minggu periode penelitian, Lambai hanya mengoceh tentang betapa Luang Phrabang adalah tempat terindah dibandingkan Vientiane atau Savannakhet. Kuat dugaan saya, hal ini tidak lepas dari kebanggaan teritorial yang begitu kental dalam sejarah Laos. Negeri ini adalah proyek unifikasi sepihak Prancis dengan menggabungkan tiga kerajaan besar: Luang Phrabang, Vientiane dan Champasak. Meski di masa sebelumnya, ketiga wilayah ini berada di bawah dinasti Lan Xan, sebelum kemudian terpecah. Luang Phrabang sempat menjadi teritorial kerajaan Burma, sementara Champasak di bagian selatan dikuasai Siam.

Sementara kawan kedua saya: Gwisanee Nata adalah seorang perempuan asal Khon Kaen, di bagian timur laut Thailand. Daerah ini lebih dikenal dengan nama Isaan, dan dialek bahasanya lebih mirip Laos. Di masa lalu, wilayah Isaan adalah pintu masuk para gerilyawan komunis Laos dan Vietnam semasa periode perang gerilya Partai Komunis Thailand. Senjata dan dukungan finansial Cina, Vietnam dan Laos mengalir, salah satunya melalui Mukdahan yang berbatasan dengan Savannakhet. Dukungan dari Vietnam sendiri tidak bisa dilepaskan dari fakta sejarah bahwa wilayah ini memiliki ikatan dengan Nguyen Sinh Cung (Ho Chi Minh). Revolusioner asal Vietnam ini sempat singgah bermukim di Isaan untuk beberapa waktu ketika berada dalam pelarian dari kejaran Prancis. Paman Ho sempat tinggal di Nakhon Phanom yang berbatasan dengan Savannakhet.

Jangan heran jika wilayah ini memainkan peran strategis di periode perang pembebasan Vietnam selatan dari cengkraman Amerika Serikat. Berbatasan dengan Quang Tri, Savannakhet menjadi salah satu basis satelit para gerilyawan Vietcong untuk menghantam musuh. Hingga hari ini, ada banyak imigran Vietnam yang kini menetap dan menjadi warga negara Laos. Beberapa keluarga yang sempat kami wawancarai adalah mantan kombatan perang unifikasi Vietnam. Hari ini, orang-orang Vietnam di Savannakhet adalah salah satu kelompok etnis mayoritas. Cara menemukannya begitu mudah. Lihat saja siapa yang duduk bergerombol santai di trotoar jalan pada pagi hari sembari meminum kopi.

Satu-satunya akses menuju Savannakhet dari dataran Siam adalah melewati Thai-Laos Friendship Bridge II (FSB II) yang membentang di atas sungai Mekong.

Tempat ini bisa dicapai jika anda telah melewati siksaan sebelas jam duduk terbujur duduk dalam bus yang berangkat dari terminal Mo Chit di Bangkok. Sediakan 500 baht untuk menebus tiketnya. Tiba di Mukdahan, kalian harus kembali berganti bus khusus yang menghantar para pelintas batas. Bus paling pertama akan berangkat pada pukul 7.15 pagi hari. Sementara rute penyeberangan terakhir akan ditutup pada pukul 9 malam. Setiap 45 menit akan ada satu bus yang siap menghantar para pelintas batas. Hanya dibutuhkan kurang dari setengah jam untuk melalui dua pos pemeriksaan imigrasi Thailand-Laos. Ongkos bus ini cukup murah. Hanya 50 baht atau sekitar 20 ribu rupiah.

Macchiato De Coffee akan terlihat begitu bus memasuki Savannakhet setelah melewati pengecekan imigrasi. Silahkan menengok ke jendela sebelah kiri. Ukuran papan nama raksasa begitu menonjol.

Savannakhet adalah nama kota sekaligus merujuk pada provinsi. Secara literer ia dapat diartikan sebagai “Kota Surga”. Penamaan ini terkait erat dengan klaim masa lalu soal tingkat kesuburan tanah Savannakhet yang di atas rata-rata. Pertanian kala itu adalah berkah dan menjadi petani adalah kebanggaan. Lokasinya yang persis di pinggir sungai Mekong membuat para penduduk provinsi terbesar di Laos ini dahulu menyandarkan penghasilannya dari pertanian. Belum termasuk menyebut soal melimpahnya ikan di sepanjang sungai Mekong. Sewaktu Laos baru belajar menyeimbangkan diri sebagai sebuah republik komunis, banyak hasil pertanian mereka yang diekspor ke Quang Tri, Vietnam. Sebagian kecil lain dipasarkan diam-diam ke Mukdahan dengan harga murah. Namun bagi banyak penyeludup di masa itu, harga yang ditawarkan masih jauh lebih baik dari pasar domestik yang protektif namun luput menghitung biaya produksi dan tenaga kerja.

Orang-orang di Savannakhet adalah saksi bagaimana Laos yang pontang panting berdikari. Seruan negara untuk berhemat, kemiskinan yang meluas karena kesalahan kalkulasi politik, minimnya infrastruktur pendidikan dan kesehatan adalah penanda-penanda yang berupaya untuk dihapus para penduduk kota ini dari ingatan mereka.

Embargo ekonomi internasional, blokade Thailand, berkurangnya topangan finansial Cina secara drastis di masa genting, antipati Vietnam yang dibayangi sengkarut perselisihan Sino-Soviet di masa lalu, adalah sedikit di balik banyak alasan mengapa Laos kemudian mulai membuka diri di awal dekade 1990-an. Tirai kemudian dibuka lebar pasca krisis ekonomi yang menghantam Asia. Salah satunya, adalah membiarkan perusahaan-perusahaan tambang multinasional untuk kemudian masuk dan melakukan ekstraksi.

Savannakhet dijamah Australia pertama kali. Mereka menggarap distrik Sepone. Setelah pertambangan di Sepone dibuka awal dekade 2000-an, arus uang dan merkuri menggiring banyak orang mengganti pekerjaan. Dari petani menjadi buruh. Sepone lalu menjadi kebanggaan Savannakhet. Ia adalah pertambangan emas dan tembaga terbesar di Laos meski faktanya kini konsesi Sepone dimiliki oleh Minerals and Metals Group (MMG), sebuah perusahaan joint venture Australia dan Cina. Sepone juga menjadi pelopor berdirinya pertambangan-pertambangan lain di daerah ini. Di provinsi ini, ada sekitar enam titik pertambangan lain yang dibuka setelah Sepone.

Dan kedai kopi seperti Macchiato De Coffee adalah salah satu monumen. Di sini kita dapat menelusuri bagaimana sebuah wilayah secara perlahan bertransformasi. Dari daerah pinggiran rural yang tulang punggung ekonominya adalah pertanian, kini menjadi kota jasa yang pinggirannya digerakkan oleh ekstraksi tambang emas dan tembaga.

Macchiato De Coffee sadar betul bahwa tidak jauh dari situ ada konsulat Thailand yang menjadi destinasi utama para pemburu visa. Kebanyakan dari mereka adalah ekspatriat yang tidak akan pernah singgah di Savannakhet jika bukan karena batas waktu untuk tinggal di berbagai sudut Siam hampir tandas. Mengurus visa di Savannakhet juga menjadi opsi paling logis. Murah untuk dicapai dan menawarkan paket lebih ramah kantong ketika mengajukan perpanjangan ijin tinggal. Lagipula pendingin udara, menu kopi, cemilan khas daratan Eropa serta kemampuan berbahasa Inggris para pelayannya seperti mengirim tanda bahwa Macchiato De Coffee berada di level yang lain dibanding kedai kopi lain yang berpikir menjadi pesaing. Ketika terik matahari bercampur dengan penantian visa, kafe ini adalah pilihan paling logis untuk mengusir penat.

Itu mengapa saat memasuki Macchiato De Coffee, saya sadar sedang melihat wajah Savannakhet yang berbeda dari tahun-tahun kemarin. Memutuskan memesan segelas kopi di kafe ini adalah upaya sadar untuk memperbaharui ingatan tentang tempat ini. Bahwa sekarang Savannakhet bukanlah Sapone yang berdebu dan muram karena terus menerus dicurangi asing. Kota ini justru merangkul erat para pendatang Eropa dan menjadikan mereka sumber mengucurnya uang. Macchiato De Coffee adalah balon warna warni dan hiasan yang menggelantung ketika hari raya tiba. Savannakhet yang direpresentasikan Macchiato De Coffee mengingatkan saya pada ajakan-ajakan nakal dan mesum perempuan malam di kafe-kafe kecil di Luang Phrabang. Macchiato De Coffee tidak sedang meratapi nasib Laos yang hingga kini masih dianggap terbelakang dan dipandang sebelah mata oleh Thailand dan Vietnam.

Meski rasa kopi di sini mengecewakan, saya memilih menutup mulut dan tersenyum lalu menikmatinya. Saya sadar benar sedang menjadi saksi sebuah adaptasi. Segelas macchiato yang saya teguk di Macchiato De Coffee tak ubahnya kecupan nakal di pipi setelah kau berjalan keluar dari tempat pelacuran dini hari.

Macchiato De Coffee adalah geisha yang menertawakan mereka yang meremehkan Savannakhet. Karena tampaknya Savannakhet tahu betul, besok atau lusa kita akan kembali ke dalam pelukannya.

 

Terbit perdana di Minum Kopi

Demi Espresso Sebelum Terbang

Ada beberapa tempat yang kita lupa. Meski berkali singgah. Mungkin, karena sejak awal ia bukan halte. Kita seperti terdampar. Terpaksa mesti meluangkan waktu.

Begitu juga dengan kafe JJ Royal bagi saya.

Meski kafe ini sudah hampir selusin kali saya singgahi, ia seperti hilang dalam ingatan. Ia menjadi terlihat sebagai titik penting baru-baru ini saja. Sebabnya, JJ Royal adalah salah satu opsi yang tersisa untuk pengudud kretek seperti saya. Setiap kali ingin melewati proses pemeriksaan tahap akhir di jalur keberangkatan Gate D, Terminal 2, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tanggerang, kafe ini selalu jadi destinasi antara. Sebelum merelakan korek api dan air mineral disita petugas bandara. Satu, dua, tiga batang kretek selalu saya habiskan di sini. Tentu dengan ditemani secangkir kopi.

Dari sekian menu makanan dan minuman yang ditawarkan, hanya Double Espresso yang jadi langganan. Menu kopi lainnya menurut lidah dan otak saya macam tak adil. Harga dan rasa berbanding terbalik. Jelas, mahal tak selalu sinonim dengan kualitas.

Harga kopi di kafe macam JJ Royal adalah kelindan banyak soal. Mulai dari harga sewa tempat yang mahal, pajak penghasilan yang ikut menempel, fluktuasi pengunjung yang tidak seberapa, beban biaya listrik, gaji pegawai, harga kopi yang ditawarkan oleh agen, hingga soal remeh semacam gengsi.

Terminal 2 di Bandara Soekarno-Hatta memang agak berbeda. Ia melayani beberapa rute domestik Garuda Airlines, maskapai yang harganya tergolong mahal di Indonesia. Juga menjadi pintu masuk dan keluar beberapa penerbangan asing seperti Malaysia Airlines, Phillipines Airlines hingga Qatar Airways. Saya menduga kuat, itu alasan mengapa beberapa pelayan JJ Royal bisa bercakap bahasa Arab ala kadarnya. Mereka melatih diri agar bisa menyentuh sisi psikologis pengunjung kafe yang berasal dari Timur Tengah.

Untuk setiap cangkirnya, Double Espresso harus ditebus seharga Rp. 40.000. Masih tetap mahal. Tapi, di Gate D, hanya JJ Royal atau puasa ngudud dan ngopi sama sekali.

Rasanya lumayan. Tidak buruk untuk kafe yang dilengkapi mesin untuk merisak kopi. Ekstrak kopi ala Italia ini cukup membantu untuk mengecoh rasa lelah sebelum terbang ke negara tujuan atau rute dalam negeri lain. Kebiasaan untuk lebih memilih penerbangan dini hari atau larut malam, membuat kopi selalu jadi penting. Mencegah kantuk dan membantu saya untuk tetap fokus mendengarkan pengumuman waktu lepas landas atau kemungkinan tertundanya penerbangan.

Espresso JJ Royal adalah campuran Arabika Kintamani, Torabika Lampung dan sedikit Arabika Sunda. Mereka tak merendang kopi sendiri. Cukup beli dari penyedia yang sudah dipercaya. Tapi, tak ada pelayan yang bisa menyebutkan nama supplier mereka.

“Urusan itu, manajer yang tau.” Doni, pelayan JJ Royal yang wajahnya mulai terasa akrab karena beberapa kali bersua.

Para pelayan biasanya lebih agresif untuk menawarkan Kopi Luwak kepada setiap yang ingin memesan kopi

“Ini kopi bagus. Asli Indonesia. Rasanya enak.” Tiga kalimat ini dirapal macam mantra oleh para pelayan di sini. Sewaktu terakhir kali menghabiskan hampir satu jam di sini, saya mendengar kalimat-kalimat itu berulang-ulang. Entah dalam bahasa Indonesia, Inggris atau bahkan Arab. Repetisi yang cukup untuk membuat otak seseorang langsung ingat. Harga Kopi Luwak per cangkir menyentuh Rp. 60.000 di sini.

Tapi sekali lagi, hanya double espresso mereka yang membuat saya terkesan.

Espresso, adalah jenis penyajian kopi yang berasal dari Italia. Bagi beberapa orang, jenis penyajian kopi tanpa saring ini dipandang sebagai kunci untuk memahami bagaimana kultur kopi di negeri yang menjadi pernah menjuarai Piala Dunia sepakbola ketika skandal suap dan kecurangan merajalela.

Mesin perisak untuk menyajikan espresso harus berterimakasih pada Revolusi Industri. Karena peradaban mesin itulah, di tahun 1901 alat untuk memeras sari kopi secara cepat ditemukan. Espresso dapat secara sederhana diartikan sebagai “express” dalam bahasa Inggris. Cepat, kata Melayu. Untuk inilah, saya berterimakasih kepada Milan karena melahirkan seorang Luigi Bezzara.

Di tahun 1905, paten mesin espresso Bezzara dibeli oleh Desidero Pavoni. Nama terakhir ini lalu mulai memproduksi mesin yang dikreasikan Bezzara dalam jumlah massal. Generasi pertama mesin espresso diberi nama: Ideale.

Idealedan Pavoni tidak lain bagi saya, adalah gambaran keangkuhan ala Italia. Kecongkakan yang justru membuat kita jatuh cinta, dan bukan menjauhinya.

Penemuan mesin espresso membuka jalan lahirnya kata barista di tahun 1938. Jadi jangan berpikir bahwa Starbucks adalah penggagas terma ini. Penamaan ini merujuk pada persona di belakang meja dapur yang bertanggungjawab untuk menyediakan minuman bagi para pengunjung. Diserap dari barman yang populer di tempat para pemabuk di negara baru bernama Amerika Serikat. Dan sekali lagi, keangkuhan Italia menemukan pijakannya. Para penyeduh espresso Italia enggan menyebut diri mereka barman dan memilih dipanggil barista. Bagi para Italiano di belakang meja penyeduhan, mereka adalah artis. Para penampil yang mulai berdansa sejak menu dipesan. Hasil akhir mereka adalah karya seni. Espresso adalah klimaks naskah dan barista adalah aktor teater.

Setelah dua Perang Dunia yang melelahkan, Achille Gaggia tampil menyelamatkan kultur kopi di Italia yang lesu. Ia menciptakan mesin baru dua tahun setelah Hiroshima dan Nagasaki hancur oleh arogansi. Mesin ini, mampu merisak kopi hingga menghasikan topping berwarna coklat terang di atas perasan kopi. Sebagian orang mengenalnya sebagai crema.

Setahun kemudian, Gaggia yang jatuh miskin menjual temuannya kepada Ernesto Valente. Seperti Pavoni, Valente menciptakan ribuan mesin untuk dipasarkan. Gaggia marah dan memboikot. Dalam sebuah surat terbukanya, Gaggia menyebut temuannya sebagai karya seni. Kreasi tingkat tinggi yang harusnya dinikmati oleh mereka yang mengerti bagaimana menikmati espresso.

Tapi Valente tidak peduli.

Protes Gaggia justru menjadi alasan Valente untuk melakukan eksperimen. Hasilnya: mesin Faema E61 yang dianggap banyak orang sebagai asal muasal espresso modern. Mesin semi-otomatis pertama yang mampu merisak kopi dengan lapisan crema yang ayu. Membuat para penikmat espresso seperti sedang mencumbu bibir kekasihnya setelah lelah seharian bekerja. Merayakan industrialisasi dan delapan jam kerja penuh keterasingan.

Itu alasan saya mencintai espresso ketika menunggu pengeras suara mengabarkan kapan leha-leha selesai. Sejarah dan rasanya, mewakili kelompok precariat Jakarta macam saya yang hanya bisa menggerutu, mencaci dunia namun merengkuhnya dengan erat. Espressobagi saya adalah representasi betapa kehidupan urban adalah ambiguitas yang dirayakan dengan congkak. Persis seperti di masa lampau, kelas pekerja Italia yang muram karena kalah perang namun mengingkarinya dengan menunjuk Renaissance.

Menenggak espresso adalah apologi paling romantik di kegaduhan kota. Bahwa yang kami rayakan, adalah sisa-sisa hidup yang dirisak mesin dan menetes tak seberapa. Bahwa tulang-tulang kami adalah biji kopi, espresso adalah upah dan crema adalah ilusi yang kami beri nama: masa depan.

* * *

Tulisan ini tayang perdana di Minum Kopi

Oase Kopi di Jakarta Selatan

Ijazah memang tidak pernah ada urusan langsung dengan kopi. Tapi pernahkah membayangkan bahwa barista yang sedang menyeduh kopi untuk anda adalah seorang lulusan pascasarjana dari Seoul, Korea?

Atau coba bayangkan lain. Semisal tukang seduh kopi anda adalah seorang perempuan berkacamata dengan mata yang tampak kebingungan namun bisa membuat lelaki kikuk sehingga lupa jenis kopi apa yang sebenarnya ingin dipesan. Namun ketika berupaya mengalihkan pandangan ke toples-toples kaca penampung biji kopi, bukan jawaban yang ditemukan tapi justru labirin.

Mungkin terdengar biasa jika barista yang sedang anda hadapi adalah orang yang tidak hanya mampu menyeduh kopi untukmu, tapi juga dapat diajak untuk diskusi mengenai kenapa kultur pertanian kita babak belur dihajar investasi asing dan impor. Sosok yang dapat membantumu mengelaborasi soal-soal dunia perburuhan dan problem industri di kota-kota. Ia dapat setidaknya menjadi partner untuk kalian yang tertarik membicarakan soal problem-problem sosial dan apa yang mungkin dilakukan secara individu atau secara kolektif.

Tapi di saat yang bersamaan, ia bisa berbagi soal mengapa Seoul terlihat indah di musim semi. Atau bagaimana perempuan-perempuan Korea gelisah mengenai standar kecantikan. Anda yang tergemar dengan K-Pop bisa bertanya soal ini dan sekaligus belajar satu dua kalimat sederhana.

Namanya Rini, tukang seduh partikelir yang kini sedang senang berkeringat menjaga sebuah kedai kopi kecil di daerah Mampang Prampatan IV, Jakarta Selatan. Lokasi kedai ini tidak jauh dari kantor Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) di Tegal Parang Utara, dan rumah perlawanan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) di rute jalan yang sama.

Tunggu. Masih ada satu lagi.

Kedai mungil dengan desain yang didominasi warna kayu ini berada tepat di Sekretariat Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia (KPRI). Sebuah aliansi organisasi lintas sektor —dari petani hingga buruh, dari pelajar sampai perempuan, juga masyarakat adat. Ia diberi nama KAPE-RI untuk memberi tanda asosiasi dengan organisasinya.

Kedai ini memanfaatkan garasi mobil yang lowong di samping kanan rumah kontrakan KPRI. Dindingnya yang berwarna putih dipajang lukisan-lukisan Andreas Iswinarto, seorang aktivis lingkungan yang kemarin baru saja melakukan pameran. Di sisi seberang meja tukang seduh, ada bagian dinding yang ditulis berbagai orang. Semacam manifesto kolektif.

Kopi yang disajikan semuanya berasal dari daerah Jawa Barat. Alasannya sederhana. Kopi yang mereka jual adalah hasil produksi serikat petani yang menjadi bagian KPRI itu sendiri. Ada kopi dari Garut, Badega, Bandung, Lembang dan Ciwidey serta Cikajang. Mungkin ini belum semuanya. Tugas kalian —para pembaca yang kebetulan berada di sekitaran Jakarta Selatan— adalah datang singgah ke kedai ini dan melengkapi daftar tersebut.

Harga jual segelas kopi di kedai ini juga tergolong murah untuk Jakarta yang kian hari menjadikan mahalnya harga barang sebagai penanda level sosial seseorang. Segelas kopi tubruk jenis Arabica dijual 10 ribu per gelas. Untuk sajian Arabica yang menggunakan filter, cukup membayar 15 ribu. Juga masih ada kopi yang disajikan dengan model ekstrak (Espresso) hingga dengan menggunakan model saring ala Vietnam (Vietnamese Drip Coffee). Kalian yang tidak terlalu menyenangi kopi, bisa memesan teh atau jenis minuman segar lain. Panas atau dingin, tinggal kalian yang memilih.

KAPE-RI mulai resmi beroperasi bulan Juli. Meski sudah hampir dua bulan sebelumnya kedai ini sudah mulai menyajikan kopi. Di periode inilah saya menemukan kedai ini. Dadang, salah satu pegiatnya ketika itu mengatakan bahwa mereka sedang ujicoba. Butuh masukan dari kawan-kawan soal rasa, desain dan mungkin hal lain. Para pegiatnya sedang mencari jalan agar daya tampung tidak bertabrakan dengan kenyamanan para pengunjung. Ruang kemudian ditata terbuka agar para pengudud tidak mengganggu mereka yang tidak nyaman dengan bau dan asap kretek. Model pintu garasi tidak diubah tapi justru dibuka lebar agar menjadi tanda bahwa tempat ini mengundang semua orang untuk datang singgah.

Kedai ini beroperasi mulai jam 4 sore, ketika kemacetan Jakarta sedang mencekik dan Mampang sedang sesak. Anda bisa menghabiskan waktu di sini sembari membaca buku-buku koleksi KPRI tanpa harus khawatir berlebihan. KAPE-RI menjamin tidak akan mengusir para pelanggannya jika mereka ingin bertahan hingga larut malam. Namun, jam resmi operasi ditetapkan pada pukul 12 malam, ketika Cinderella harus pulang karena keajaiban telah berakhir.

Bagi orang seperti saya yang percaya pada praktek ekonomi partisipatoris yang emansipatif, kedai kopi macam KAPE-RI atau Owl House —yang berada di Jakarta Barat— atau Coffee War di Kemang, tidak hanya bernilai sebagai praktek jual beli semata. Tempat-tempat yang dilandasi semangat kolektif semacam ini begitu terasa penting kehadirannya di Jakarta yang semakin angkuh dan kasar. Di tengah siklus kemacetan yang tak kunjung terurai, penggusuran yang kian marak dan orang-orang yang semakin benci untuk mendengar pendapat orang lain, terminal berbentuk kedai kopi sederhana itu macam oase.

Ia dapat menjadi tempat singgah untuk spesies manusia yang masih gelisah dengan degradasi struktur sosial sehingga kita semakin lupa cara berbagi. Kedai kopi di mana orang-orang dapat bersepakat, berdiskusi, berbeda pendapat hingga menemukan ketidaksepakatan adalah ruang-ruang yang harusnya bisa digandakan. Semata-mata agar kita yang hidup di Jakarta tidak sekedar bekerja mengurusi perut lalu terbiasa memelihara kebencian tanpa alas.

* * *

Tulisan ini tayang perdana di Minum Kopi

Place to Bee: Restoran Italia Dengan Kisah India

PERCAYALAH, sesekali tersesat itu dapat berujung bahagia. Di kota asing seperti Ootacamund, kita tidak pernah tahu kuliner seperti apa yang akan ditemukan.

Ooty, cara orang lokal menyingkat Ootacamund. Kota ini adalah bagian dari Tamil Nadu, satu dari empat negara bagian yang terletak di selatan India. Berjarak 10 jam berkendara dari Chennai, pusat administrasi negara bagian Tamil Nadu. Ooty lebih dekat dengan Coimbatore. Ada bandara internasional di kota ini yang melayani rute penerbangan ke Singapura. Dari Coimbatore, Ooty berada 80 kilometer ke utara. Kota mungil ini adalah ibukota distrik Nilgiris, daerah setingkat kabupaten di Indonesia.

Nilgiris secara harafiah berarti pegunungan biru. Pohon-pohon berdiri rapat di pinggir jalan. Daerah ini adalah tempat di mana dingin udara pegunungan yang menyusup di sela-sela jari, bercampur dengan kenangan tentang masa penjajahan Inggris yang membekas di punggung bukit-bukit mereka. Berwarna dan tak sederhana. Berada di ketinggian 2.240 mdpl dari permukaan laut, dengan luas tutupan hutan mencapai 32% dari luas wilayah. Di Ooty, kalian akan mudah menemukan barisan pepohonan di kanan kiri jalan.

Selain perbukitan, kota ini memiliki barisan tebing yang menjulang hingga beberapa ratus meter. Doddabetta saksinya. Titik tertinggi di Ooty yang terletak 2637 mdpl. Tebing-tebing batu berumur ratusan tahun yang mencatat sejarah orang-orang Karumba yang hidup di sekitarnya. Komunitas Kurumba, adalah peramu pemburu yang dikenal luas sebagai pakar pengumpul madu hutan.

Ooty, madu dan orang-orang Kurumba adalah kelindan sejarah yang berpelukan erat. Tapi masakan Italia?

Pergilah ke Place to Bee dan kalian akan menemukan relasi antara hal-hal tersebut. Lokasinya, 176/A, Club Road. Dekat Hill Bunk. Gampang menemukan tempat ini. Jika ragu, sila tanya orang sekitar. Mereka akan mengarahkan anda ke sini. Mudah dicari karena Place to Bee adalah satu-satunya restoran spesialis makanan Italia di Ooty.

 

PLACE to Bee adalah sebuah bangunan dua lantai.

Bagian bawah merupakan sebuah toko yang menjual berbagai kerajinan tangan buatan komunitas asli di Tamil Nadu. Mulai dari tas, dompet hingga kain sari yang ditenun dari katun. Ada juga berbagai jenis teh hijau. Di sisi rak yang lain, berjejer sabun mandi, sampo, pelembab bibir hingga pewangi ruangan yang semuanya berbahan dasar madu. Toko ini adalah salah satu cabang penjualan dari Last Forest Enterprises, sayap ekonomi yang dibangun oleh Keystone Foundation bersama dengan komunitas-komunitas dampingannya.

Umur toko ini sudah delapan tahun. Cuma ada dua orang pegawai-aktivis di sini. Keduanya bukan sekedar pencatat alur jual beli barang. Anda dapat bertukar cerita soal bagaimana sebuah item barang diproduksi. Mereka akan menjelaskan bagaimana mata rantai produksi, temali proyek penguatan ekonomi dan kemandirian komunitas orang asli yang sedang berjuang. Juga tentang apa itu Forest Enterprises, hubungannya dengan Keystone Foundation dan sejarah perjalanan mereka dengan para pengumpul madu hutan yang membentang selama 23 tahun di Nilgiris.

Bangunan kayu di lantai atas adalah restoran Italia yang akhir Agustus nanti akan genap berusia setahun. Aritra Bose adalah manajer Place to Bee. Lulusan Master Ilmu Komunikasi yang mulai bergabung dengan Keystone Foundation sejak empat tahun lalu. Bekerja di LSM sebagai koordinator komunikasi, Bose tidak pernah terpikir bahwa ia akan mengelola sebuah resto Italia pada akhirnya.

Lokasi Place to Bee, dulu adalah museum madu yang dikelola Keystone Foundation. Museum madu pertama di India. Mulai dibuka sejak April 2006 untuk memperkenalkan madu hutan dan cerita orang-orang Kurumba kepada masyarakat Nilgiris. Bagi orang-orang Kurumba, madu adalah berkah. Mereka memandang lebah sebagai para pengantar rejeki yang dikirim Maha Adil. Teknik tradisional pengumpulan madu diwariskan dari generasi ke penerus yang tertarik untuk mendedikasikan diri berkawan dengan lebah.

Tidak boleh ada sarang yang dihancurkan. Sebab orang-orang Kurumba percaya bahwa tindakan tersebut adalah penghinaan terhadap pemberi berkat.

 

BOSE adalah bagian dari tim kecil bentukan Forest Enterprises yang ditugaskan melakukan riset selama setahun di Ooty tentang bentuk ekonomi yang sekiranya potensial. Semacam upgrade. Museum madu semakin sepi karena model pengelolaan yang monoton. Orang-orang di Keystone Foundation dan Forest Enterprises merasa pengetahuan mengenai madu hutan dan kisah luar biasa orang-orang Kurumba perlu disajikan dengan cara berbeda.

“Saya mengunjungi berbagai restoran dan hotel di Ooty. Mencoba sajian Italia mereka. Tidak ada yang fokus menjual makanan Italia di sini. Biasanya hanya satu menu makanan saja. Kalau tidak pizza, maka pasta.”

Bose berbaik hati menjelaskan sembari membiarkan saya menikmati setengah porsi pasta dan sepotong pai Banoffee.

Untuk lidah yang tidak terlalu familiar dengan makanan Eropa, saya jujur tidak punya ukuran yang tepat untuk menilai apakah pasta Place to Bee termasuk kategori lezat atau tidak. Tapi rasa tomat segar yang menjadi bahan utama saus pasta tidak dapat berbohong. Segar dan membekas. Ada sedikit rasa kecut yang berbaur dengan manis. Bose menjelaskan bahwa tomat-tomat tersebut adalah produksi petani sekitar yang bekerja sama dengan restoran ini sejak pertama kali beroperasi. Hingga hari ini, relasi tersebut tetap dijaga.

Sementara pai Banoffee resto ini disajikan dengan campuran daging ayam cincang, saya jelas protes. Bukan soal rasa, tapi soal klaim dan sejarah di balik jenis hidangan. Sajian ini jelas bukan jenis makanan Italia. Pai tipe ini adalah sajian khas Inggris yang dikreasikan oleh duo Nigel Mackenzie dan Ian Dowding pada tahun 1971. Mackenzie adalah pemilih restoran The Hungry Monk di mana Dowding bekerja sebagai kepala koki. Restoran yang terletak di Sussex Timur ini mengaku mengembangkan pai Banoffee dari resep pai Blum Coffee Toffee ala Amerika. Mackenzie dan Dowding menambahkan pisang sebagai pelengkap krim dan permen karamel yang menyelimuti potongan atas pai.

Pai Bonaffee muncul pertama kali di buku resep Mackenzie dan Dowding berjudul The Deeper Secrets of the Hungry Monk yang terbit tahun 1974. Nama tersebut merupakan pengempesan norak dua kata: banana (pisang) dan toffee (permen karamel).

Ada dua orang pegawai dan satu orang koki yang bekerja di restoran ini. Semua orang lokal. Tumbuh dewasa di Ooty, kecuali Bose. Ia berasal dari daerah otonom di dekat Chennai. Kisah tentang pengumpul madu hutan di daerah ini adalah pesona pertama yang membawa dirinya ke pegunungan Nilgiris.

 

DAHULU sebagian dataran Nilgiris adalah wilayah jelajah orang-orang Kurumba, mencari sarang-sarang lebah di lipatan-lipatan tebing. Jenis madu yang dikumpulkan adalah jenis Apis dorsata yang memiliki rasa kecut.

Berbalut kawanan ribuan lebah, orang-orang Kurumba bekerja tanpa perlindungan apapun. Mereka bertelanjang kaki, mempercayakan hidup mereka kepada tambang yang dirakit dari akar-akar pohon yang melewati proses ritual pemurnian yang panjang. Beberapa minggu sebelum panen dimulai di hutan, para pemburu madu akan berhenti menggunakan sabun, berdoa secara reguler, menghindari kontak dengan wanita dan mengikuti diet vegetarian yang ketat.

Madu jenis Apis dorsata diambil langsung dari sisir sarang lebah yang ditemukan di tebing curam atau di pohon-pohon tertinggi di hutan. Orang-orang Tamil menyebutnya sebagai emas cair. Dalam dua puluh tahun terakhir, harga madu hutan asal Nilgiris ini telah meningkat. Jika dulu per liter dihargai hanya sekitar 5 Rupee (Rp. 980), kini Forest Enterprises membeli seharga 760 Rupee (Rp. 150.000) per liter. Harga ini kemudian menjadi semacam standar bagi orang-orang Kurumba ketika ingin menjual kepada pihak lain. Tidak boleh kurang.

Namun, ketika harga jual membaik, orang-orang Kurumba menghadapi ancaman sabotase dari kelompok pengusaha yang ingin memonopoli wilayah-wilayah tertentu yang dianggap memiliki cadangan madu hutan berlimpah.

Para pemburu madu dari Nilgiri, adalah bentuk hidup tradisi yang dipaksa menyesuaikan diri dengan peradaban modern. Keyakinan dan ritual kini berhadapan dengan logika pasar yang sama sekali berbeda.

Orang-orang Kurumba, yang berdoa di bawah tebing tinggi sebelum memanjat tali dan mempertaruhkan hidup mereka di antara kawanan lebah raksasa, dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa madu hutan yang mereka kumpulkan tidak bisa langsung ditukar dengan bahan makanan seperti dua dekade lampau.

Inilah salah satu alasan di balik berdirinya Keystone Foundation di tahun 1993.

Tiga orang aktivis muda asal Delhi, memutuskan bermigrasi ke Kotagiri. Tujuannya untuk belajar bagaimana madu hutan dikumpulkan secara tradisional. Ketiganya penasaran dengan stamina orang-orang Kurumba mengarungi tebing-tebing tanpa penunjuk jalan di pegunungan Nilgiris.

Mathew John, salah satunya. Ia kini menjabat Direktur Last Forest Enterprises, badan usaha yang sahamnya dimiliki oleh empat komunitas orang asli di distrik Nilgiris. John bertugas mengurusi strategi pemasaran, membentuk pasar dan menjaga komitmen konsumen, membentuk ciri merek dagang, serta bertanggung jawab atas bentuk kemasan dari setiap produk Last Forest.

Sosok yang merupakan salah satu otak di balik berdirinya toko-toko Last Forest di beberapa kota di Nilgiris. John juga adalah inisiator riset panjang yang melahirkan keputusan untuk mengubah Place to Be dari sekedar museum, menjadi sebuah restoran Italia. Bose menganggapnya sebagai panutan.

Ia juga ada di sana. Duduk menemani ketika saya berbincang dengan Bose. Sesekali ia menimpali.

“Mungkin akan terdengar aneh bagi banyak orang. Bagaimana mungkin sebuah restoran Italia digunakan sebagai alat untuk mempromosikan madu hutan Nilgiris? Bukankah restoran India jauh lebih cocok dan masuk akal?”

Saya paham benar. Pertanyaan tersebut bukan untuk dijawab. John hanya sekadar bersilat agar tuturan kisahnya tetap menarik ku ikuti.

John menceritakan bagaimana lika-liku mereka membangun hubungan dan rasa saling percaya dengan para pengumpul madu hutan. Pengalaman orang-orang Kurumba yang ditipu harga beli madu yang rendah sudah terjadi berkali-kali. Juga bagaimana ia dengan begitu angkuh pernah berupaya memodernisasi cara pengumpulan madu.

“Bagi orang yang datang dari luar seperti saya, tambang yang dirakit dari akar-akar yang ditemukan di hutan bukanlah alat yang aman untuk bergelantungan di pinggir tebing. Selain itu, ada ribuan lebah yang siap menyengat. Satu sengatan dapat membuatmu berakhir di ranjang rumah sakit. Bagaimana jika ada puluhan lebah marah yang kemudian berbalik menyerang?”

Sembari mendengarkan John, saya menyeruput espresso double yang datang tepat ketika makan siang baru saja tandas.

“Tapi saya salah. Dan itu penting. Menyadari kesalahan itu penting. Sebab dengan begitu, kita jadi paham bahwa pengetahuan kita itu berbatas. Entah ruang, entah waktu.” John masih terus bercerita. Saya hanya tersenyum sedikit. Memberi kode bahwa masih banyak yang ingin saya ketahui.

“Restoran ini misalnya. Menu yang disajikan adalah makanan Italia. Tapi bahan-bahan, koki, para pelayan dan semua detil adalah India. Kau sedang menyantap hidangan Italia yang dimasak oleh orang India, menggunakan bahan-bahan yang ditanam di tanah India dan secara langsung telah ikut berkontribusi terhadap proyek penguatan ekonomi orang-orang asli India.”

Saya menatap John dan Bose secara bergantian. Ada sedikit kebingungan. Pernyataan terakhir seperti menggantung.

“Ya. Restoran ini adalah milik komunitas-komunitas asli Nilgiris. Mereka pemilik saham restoran dan toko di lantai bawah. Mereka, orang-orang yang tinggal di dalam hutan itu adalah pemilik dari Last Forest Enterprises. Mereka adalah bos-nya. Saya? Hanya orang upahan.”

Jujur, saya kaget.

* * *

Tulisan ini pertama kali tayang di Minum Kopi

Mencari Kopi di Quezon

Filipina. Di negeri ini, kopi memang tidak mewabah meski kita tidak dapat dengan sembrono mengatakan bahwa kopi bukan jenis minuman populer. Meski jumlah konsumsi tahunan kopi mereka berada di bawah Indonesia, Thailand atau Vietnam, Filipina tetap memiliki kedai-kedai kopi yang layak untuk dikunjungi. Terutama di Quezon (baca: Keson).

Mengapa Quezon dan bukan Manila?

Sebenarnya pertanyaan jenis di atas hanya hadir dari kalangan fakir geografi. Mereka yang gagap dengan lokasi dan hampir tidak bisa membaca peta. Quezon adalah satu dari beberapa kota yang termasuk dalam region Metro Manila. Bukan terletak di pusat Metro Manila, tapi wilayah ini merupakan pusat dari ragam aktifitas ekonomi dan politik di Filipina. Selain Makati, Quezon adalah salah satu dari dua kota paling kaya di region Metro Manila. Banyak kantor-kantor perusahaan besar berlokasi di Quezon. Di kota ini juga terdapat banyak kantor pemerintahan, serta universitas terbaik di seantero negeri, University the Philippines (UP) Diliman.

Kalau masih bingung, begini saja. Bayangkan Metro Manila adalah DKI Jakarta, Manila City adalah Jakarta Pusat, Makati adalah Jakarta Selatan dan Quezon adalah Jakarta Timur. Jika petunjuk sederhana ini masih belum membantu, maka maaf, saya tidak bisa membantu lagi.

Ada tiga lokasi yang pernah saya kunjungi dalam berbagai kesempatan terpisah. Daftar ini akan diurut menurut hemat saya dari rangking yang paling baik serta paling utama untuk didatangi.

Cool Beans Library Cafe

Cool Beans Library Cafe
Cool Beans Library Cafe © Andre Barahamin

Memadukan kedai kopi dan perpustakaan dalam satu ruang, dalam banyak kasus justru terjerembab dalam ‘bacaan semata pelengkap’. Di beberapa kedai kopi yang pernah saya datangi di Thailand, Vietnam atau di Indonesia, koleksi buku sebuah kedai kopi tidak pernah tertata serius, jumlah koleksi yang minim dan luasan jenis bacaan yang miskin.

Tapi tidak di sini.

CBL Cafe seakan tahu bahwa rangkai buku-buku bukan anak tiri. Sebaliknya ia bersanding mesra dengan olahan berbagai jenis minuman berbahan dasar kopi. Di sini, Anda bisa mendapatkan koleksi novel yang kalau membacanya bisa membuat lupa waktu. Ada bacaan politik yang sanggup membuat lidah kita sejenak lupa bahwa kopi sudah dingin dan rasa mulai berubah. Deretan majalan National Geographic yang masih mulus dan hampir lengkap, bisa menjadi bacaan santai sambil mengunyah kue mentega. Mereka juga menyediakan beberapa jenis bacaan sejarah bagi mereka yang ingin mengulik lebih dalam tentang latar belakang negara ini.

Ini adalah kedai kopi menata dirinya selayaknya bioskop literatur yang menjadikan kopi sebagai tiket masuk. Joey, salah satu penyeduh di sini dengan bangga mengatakan bahwa CBL Cafe pernah beberapa kali dijadikan lokasi pengambilan gambar film atau tempat siaran berita olahraga.

Harga kopi di kedai yang terletak di Jalan Maginhawa No. 67A ini lumayan terjangkau isi dompet para petualang kere. Satu gelas kopi paling murah dihargai 70 PHP atau setara $1.5. Saya biasanya memesan segelas kopi hitam. Robusta yang menurut saya berkualitas biasa saja. Penilaian yang semata muncul karena lidah saya terlalu otoriter dengan ragam rasa jenis kopi yang sama di Indonesia. Tapi bukankah sekilo emas memang lebih mahal dari sekilo plastik?

Tweedle Book Cafe

Tweedle Book Cafe
Tweedle Book Cafe © Andre Barahamin

Destinasi berikut yang saya sarankan masih memiliki konsep yang tidak jauh berbeda. Kedai yang berlokasi di Jalan Scout Gandia No.106B, buku juga merupakan tulang punggung selain variasi jenis kopi dan beberapa penganan yang bisa mengganjal perut. Tempat ini mengingatkan saya pada Common Ground Jakarta, hanya minus tumpukan kertas untuk dibaca. Meja-meja berwarna hijau dan kursi kayu diatur hampir sambung-menyambung, seperti layaknya perpustakaan.

Ada dua hal yang paling menyita pandangan saya ketika memasuki kedai ini. Pertama adalah desain meja kasir yang dibentuk sedemikian rupa hingga tampak menyerupai sebuah katalog kartu nama berukuran raksasa. Di langit-langit, terdapat nama-nama para penulis favorit pemilik kedai yang dicetak pada panel-panel kayu. Kalian bisa menemukan nama Orwell, Wilde, Steinbeck, Murakami hingga Tolkien. Karya-karyanya dapat dengan mudah ditemukan di rak-rak kayu.

Ada dua hal yang paling berkesan di sini.

Pertama adalah keengganan si pemilik untuk menyediakan jasa sambungan internet di kedai ini. Barista di kedai ini mengatakan bahwa Tweedle Book Cafe adalah ruang baca yang menyakini diri cukup memiliki koleksi ragam jenis buku. Mereka menilai bahwa internet akan mengurangi minat seseorang untuk membaca buku atau berkomunikasi. Jawaban yang ambisius namun berani.

Hal lain yang terus berbekas di kepala saya adalah kopi yang saya minum di kedai ini. Segelas kopi berbalut alkohol. Bukan Irish Coffee. Tapi campuran satu shot wiski dan satu shot espresso. Harganya hanya 85 PHP saja.

Rasanya? Sila datang dan coba sendiri.

Coffee Empire

Coffee Empire
Coffee Empire © Andre Barahamin

Ini adalah tempat yang tepat jika Anda ingin berdiskusi seputar kultur kopi di seputaran Metro Manila. Tentang bagaimana gelombang kopi generasi ketiga mempengaruhi dan mengubah gaya merendang kopi hingga metode seduh yang semakin variatif. Para pendirinya adalah mereka yang mendalami kopi sebagai budaya kuliner. Ini adalah kedai di mana kamu bisa bertukar pendapat soal metode seduh manual dengan aero press, atau melihat bagaimana kopi Anda diseduh dengan ‘kono’. Jika Anda menggemari kopi bercampur susu, silakan coba macchiato di sini sembari mendengarkan cerita tentang profil rendangan (roasting profile) biji-biji kopi mereka yang dipengaruhi tren third wave. Atau mau mengetes mereka dengan memesan Flat White? Silakan saja.

Yang jelas, tempat ini mengingatkan saya dengan Klinik Kopi di Yogyakarta. Barista sekaligus pemilik kedai yang bersemangat melayani pelanggan, pembicaraan seputar kopi yang hangat dan radikal, serta seduhan Arabika yang membuat tempat ini memang layak jumawa menyebut dirinya “Empire”.

Empire juga memiliki tempat penyimpanan biji kopi. Kedai ini menyuguhkan 21 jenis kopi untuk memperkaya selera. Jika ingin membeli biji kopi siap seduh, Anda bisa memesan langsung di sini. Lalu meminta saran kepada barista yang sedang bertugas tentang tingkat kehalusan gilingan rekomendasi mereka. Untuk memperluas pengetahuan tentang kopi ketika Anda tidak punya waktu berkunjung ke sini, Empire menyediakan majalah yang bergelut di isu yang sama: kopi.

Anda tidak akan mengalami kesulitan berarti mencari kedai yang terletak di Jalan West Avenue No.74 ini. Jika masih ragu, ketika Anda memasuki West Avenue jangan sungkan untuk bertanya. Banyak orang dengan senang hati akan menunjukkan arah.

* * *

Tulisan ini tayang perdana di Minum Kopi.