Place to Bee: Restoran Italia Dengan Kisah India

PERCAYALAH, sesekali tersesat itu dapat berujung bahagia. Di kota asing seperti Ootacamund, kita tidak pernah tahu kuliner seperti apa yang akan ditemukan.

Ooty, cara orang lokal menyingkat Ootacamund. Kota ini adalah bagian dari Tamil Nadu, satu dari empat negara bagian yang terletak di selatan India. Berjarak 10 jam berkendara dari Chennai, pusat administrasi negara bagian Tamil Nadu. Ooty lebih dekat dengan Coimbatore. Ada bandara internasional di kota ini yang melayani rute penerbangan ke Singapura. Dari Coimbatore, Ooty berada 80 kilometer ke utara. Kota mungil ini adalah ibukota distrik Nilgiris, daerah setingkat kabupaten di Indonesia.

Nilgiris secara harafiah berarti pegunungan biru. Pohon-pohon berdiri rapat di pinggir jalan. Daerah ini adalah tempat di mana dingin udara pegunungan yang menyusup di sela-sela jari, bercampur dengan kenangan tentang masa penjajahan Inggris yang membekas di punggung bukit-bukit mereka. Berwarna dan tak sederhana. Berada di ketinggian 2.240 mdpl dari permukaan laut, dengan luas tutupan hutan mencapai 32% dari luas wilayah. Di Ooty, kalian akan mudah menemukan barisan pepohonan di kanan kiri jalan.

Selain perbukitan, kota ini memiliki barisan tebing yang menjulang hingga beberapa ratus meter. Doddabetta saksinya. Titik tertinggi di Ooty yang terletak 2637 mdpl. Tebing-tebing batu berumur ratusan tahun yang mencatat sejarah orang-orang Karumba yang hidup di sekitarnya. Komunitas Kurumba, adalah peramu pemburu yang dikenal luas sebagai pakar pengumpul madu hutan.

Ooty, madu dan orang-orang Kurumba adalah kelindan sejarah yang berpelukan erat. Tapi masakan Italia?

Pergilah ke Place to Bee dan kalian akan menemukan relasi antara hal-hal tersebut. Lokasinya, 176/A, Club Road. Dekat Hill Bunk. Gampang menemukan tempat ini. Jika ragu, sila tanya orang sekitar. Mereka akan mengarahkan anda ke sini. Mudah dicari karena Place to Bee adalah satu-satunya restoran spesialis makanan Italia di Ooty.

 

PLACE to Bee adalah sebuah bangunan dua lantai.

Bagian bawah merupakan sebuah toko yang menjual berbagai kerajinan tangan buatan komunitas asli di Tamil Nadu. Mulai dari tas, dompet hingga kain sari yang ditenun dari katun. Ada juga berbagai jenis teh hijau. Di sisi rak yang lain, berjejer sabun mandi, sampo, pelembab bibir hingga pewangi ruangan yang semuanya berbahan dasar madu. Toko ini adalah salah satu cabang penjualan dari Last Forest Enterprises, sayap ekonomi yang dibangun oleh Keystone Foundation bersama dengan komunitas-komunitas dampingannya.

Umur toko ini sudah delapan tahun. Cuma ada dua orang pegawai-aktivis di sini. Keduanya bukan sekedar pencatat alur jual beli barang. Anda dapat bertukar cerita soal bagaimana sebuah item barang diproduksi. Mereka akan menjelaskan bagaimana mata rantai produksi, temali proyek penguatan ekonomi dan kemandirian komunitas orang asli yang sedang berjuang. Juga tentang apa itu Forest Enterprises, hubungannya dengan Keystone Foundation dan sejarah perjalanan mereka dengan para pengumpul madu hutan yang membentang selama 23 tahun di Nilgiris.

Bangunan kayu di lantai atas adalah restoran Italia yang akhir Agustus nanti akan genap berusia setahun. Aritra Bose adalah manajer Place to Bee. Lulusan Master Ilmu Komunikasi yang mulai bergabung dengan Keystone Foundation sejak empat tahun lalu. Bekerja di LSM sebagai koordinator komunikasi, Bose tidak pernah terpikir bahwa ia akan mengelola sebuah resto Italia pada akhirnya.

Lokasi Place to Bee, dulu adalah museum madu yang dikelola Keystone Foundation. Museum madu pertama di India. Mulai dibuka sejak April 2006 untuk memperkenalkan madu hutan dan cerita orang-orang Kurumba kepada masyarakat Nilgiris. Bagi orang-orang Kurumba, madu adalah berkah. Mereka memandang lebah sebagai para pengantar rejeki yang dikirim Maha Adil. Teknik tradisional pengumpulan madu diwariskan dari generasi ke penerus yang tertarik untuk mendedikasikan diri berkawan dengan lebah.

Tidak boleh ada sarang yang dihancurkan. Sebab orang-orang Kurumba percaya bahwa tindakan tersebut adalah penghinaan terhadap pemberi berkat.

 

BOSE adalah bagian dari tim kecil bentukan Forest Enterprises yang ditugaskan melakukan riset selama setahun di Ooty tentang bentuk ekonomi yang sekiranya potensial. Semacam upgrade. Museum madu semakin sepi karena model pengelolaan yang monoton. Orang-orang di Keystone Foundation dan Forest Enterprises merasa pengetahuan mengenai madu hutan dan kisah luar biasa orang-orang Kurumba perlu disajikan dengan cara berbeda.

“Saya mengunjungi berbagai restoran dan hotel di Ooty. Mencoba sajian Italia mereka. Tidak ada yang fokus menjual makanan Italia di sini. Biasanya hanya satu menu makanan saja. Kalau tidak pizza, maka pasta.”

Bose berbaik hati menjelaskan sembari membiarkan saya menikmati setengah porsi pasta dan sepotong pai Banoffee.

Untuk lidah yang tidak terlalu familiar dengan makanan Eropa, saya jujur tidak punya ukuran yang tepat untuk menilai apakah pasta Place to Bee termasuk kategori lezat atau tidak. Tapi rasa tomat segar yang menjadi bahan utama saus pasta tidak dapat berbohong. Segar dan membekas. Ada sedikit rasa kecut yang berbaur dengan manis. Bose menjelaskan bahwa tomat-tomat tersebut adalah produksi petani sekitar yang bekerja sama dengan restoran ini sejak pertama kali beroperasi. Hingga hari ini, relasi tersebut tetap dijaga.

Sementara pai Banoffee resto ini disajikan dengan campuran daging ayam cincang, saya jelas protes. Bukan soal rasa, tapi soal klaim dan sejarah di balik jenis hidangan. Sajian ini jelas bukan jenis makanan Italia. Pai tipe ini adalah sajian khas Inggris yang dikreasikan oleh duo Nigel Mackenzie dan Ian Dowding pada tahun 1971. Mackenzie adalah pemilih restoran The Hungry Monk di mana Dowding bekerja sebagai kepala koki. Restoran yang terletak di Sussex Timur ini mengaku mengembangkan pai Banoffee dari resep pai Blum Coffee Toffee ala Amerika. Mackenzie dan Dowding menambahkan pisang sebagai pelengkap krim dan permen karamel yang menyelimuti potongan atas pai.

Pai Bonaffee muncul pertama kali di buku resep Mackenzie dan Dowding berjudul The Deeper Secrets of the Hungry Monk yang terbit tahun 1974. Nama tersebut merupakan pengempesan norak dua kata: banana (pisang) dan toffee (permen karamel).

Ada dua orang pegawai dan satu orang koki yang bekerja di restoran ini. Semua orang lokal. Tumbuh dewasa di Ooty, kecuali Bose. Ia berasal dari daerah otonom di dekat Chennai. Kisah tentang pengumpul madu hutan di daerah ini adalah pesona pertama yang membawa dirinya ke pegunungan Nilgiris.

 

DAHULU sebagian dataran Nilgiris adalah wilayah jelajah orang-orang Kurumba, mencari sarang-sarang lebah di lipatan-lipatan tebing. Jenis madu yang dikumpulkan adalah jenis Apis dorsata yang memiliki rasa kecut.

Berbalut kawanan ribuan lebah, orang-orang Kurumba bekerja tanpa perlindungan apapun. Mereka bertelanjang kaki, mempercayakan hidup mereka kepada tambang yang dirakit dari akar-akar pohon yang melewati proses ritual pemurnian yang panjang. Beberapa minggu sebelum panen dimulai di hutan, para pemburu madu akan berhenti menggunakan sabun, berdoa secara reguler, menghindari kontak dengan wanita dan mengikuti diet vegetarian yang ketat.

Madu jenis Apis dorsata diambil langsung dari sisir sarang lebah yang ditemukan di tebing curam atau di pohon-pohon tertinggi di hutan. Orang-orang Tamil menyebutnya sebagai emas cair. Dalam dua puluh tahun terakhir, harga madu hutan asal Nilgiris ini telah meningkat. Jika dulu per liter dihargai hanya sekitar 5 Rupee (Rp. 980), kini Forest Enterprises membeli seharga 760 Rupee (Rp. 150.000) per liter. Harga ini kemudian menjadi semacam standar bagi orang-orang Kurumba ketika ingin menjual kepada pihak lain. Tidak boleh kurang.

Namun, ketika harga jual membaik, orang-orang Kurumba menghadapi ancaman sabotase dari kelompok pengusaha yang ingin memonopoli wilayah-wilayah tertentu yang dianggap memiliki cadangan madu hutan berlimpah.

Para pemburu madu dari Nilgiri, adalah bentuk hidup tradisi yang dipaksa menyesuaikan diri dengan peradaban modern. Keyakinan dan ritual kini berhadapan dengan logika pasar yang sama sekali berbeda.

Orang-orang Kurumba, yang berdoa di bawah tebing tinggi sebelum memanjat tali dan mempertaruhkan hidup mereka di antara kawanan lebah raksasa, dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa madu hutan yang mereka kumpulkan tidak bisa langsung ditukar dengan bahan makanan seperti dua dekade lampau.

Inilah salah satu alasan di balik berdirinya Keystone Foundation di tahun 1993.

Tiga orang aktivis muda asal Delhi, memutuskan bermigrasi ke Kotagiri. Tujuannya untuk belajar bagaimana madu hutan dikumpulkan secara tradisional. Ketiganya penasaran dengan stamina orang-orang Kurumba mengarungi tebing-tebing tanpa penunjuk jalan di pegunungan Nilgiris.

Mathew John, salah satunya. Ia kini menjabat Direktur Last Forest Enterprises, badan usaha yang sahamnya dimiliki oleh empat komunitas orang asli di distrik Nilgiris. John bertugas mengurusi strategi pemasaran, membentuk pasar dan menjaga komitmen konsumen, membentuk ciri merek dagang, serta bertanggung jawab atas bentuk kemasan dari setiap produk Last Forest.

Sosok yang merupakan salah satu otak di balik berdirinya toko-toko Last Forest di beberapa kota di Nilgiris. John juga adalah inisiator riset panjang yang melahirkan keputusan untuk mengubah Place to Be dari sekedar museum, menjadi sebuah restoran Italia. Bose menganggapnya sebagai panutan.

Ia juga ada di sana. Duduk menemani ketika saya berbincang dengan Bose. Sesekali ia menimpali.

“Mungkin akan terdengar aneh bagi banyak orang. Bagaimana mungkin sebuah restoran Italia digunakan sebagai alat untuk mempromosikan madu hutan Nilgiris? Bukankah restoran India jauh lebih cocok dan masuk akal?”

Saya paham benar. Pertanyaan tersebut bukan untuk dijawab. John hanya sekadar bersilat agar tuturan kisahnya tetap menarik ku ikuti.

John menceritakan bagaimana lika-liku mereka membangun hubungan dan rasa saling percaya dengan para pengumpul madu hutan. Pengalaman orang-orang Kurumba yang ditipu harga beli madu yang rendah sudah terjadi berkali-kali. Juga bagaimana ia dengan begitu angkuh pernah berupaya memodernisasi cara pengumpulan madu.

“Bagi orang yang datang dari luar seperti saya, tambang yang dirakit dari akar-akar yang ditemukan di hutan bukanlah alat yang aman untuk bergelantungan di pinggir tebing. Selain itu, ada ribuan lebah yang siap menyengat. Satu sengatan dapat membuatmu berakhir di ranjang rumah sakit. Bagaimana jika ada puluhan lebah marah yang kemudian berbalik menyerang?”

Sembari mendengarkan John, saya menyeruput espresso double yang datang tepat ketika makan siang baru saja tandas.

“Tapi saya salah. Dan itu penting. Menyadari kesalahan itu penting. Sebab dengan begitu, kita jadi paham bahwa pengetahuan kita itu berbatas. Entah ruang, entah waktu.” John masih terus bercerita. Saya hanya tersenyum sedikit. Memberi kode bahwa masih banyak yang ingin saya ketahui.

“Restoran ini misalnya. Menu yang disajikan adalah makanan Italia. Tapi bahan-bahan, koki, para pelayan dan semua detil adalah India. Kau sedang menyantap hidangan Italia yang dimasak oleh orang India, menggunakan bahan-bahan yang ditanam di tanah India dan secara langsung telah ikut berkontribusi terhadap proyek penguatan ekonomi orang-orang asli India.”

Saya menatap John dan Bose secara bergantian. Ada sedikit kebingungan. Pernyataan terakhir seperti menggantung.

“Ya. Restoran ini adalah milik komunitas-komunitas asli Nilgiris. Mereka pemilik saham restoran dan toko di lantai bawah. Mereka, orang-orang yang tinggal di dalam hutan itu adalah pemilik dari Last Forest Enterprises. Mereka adalah bos-nya. Saya? Hanya orang upahan.”

Jujur, saya kaget.

* * *

Tulisan ini pertama kali tayang di Minum Kopi

Mencari Kopi di Quezon

Filipina. Di negeri ini, kopi memang tidak mewabah meski kita tidak dapat dengan sembrono mengatakan bahwa kopi bukan jenis minuman populer. Meski jumlah konsumsi tahunan kopi mereka berada di bawah Indonesia, Thailand atau Vietnam, Filipina tetap memiliki kedai-kedai kopi yang layak untuk dikunjungi. Terutama di Quezon (baca: Keson).

Mengapa Quezon dan bukan Manila?

Sebenarnya pertanyaan jenis di atas hanya hadir dari kalangan fakir geografi. Mereka yang gagap dengan lokasi dan hampir tidak bisa membaca peta. Quezon adalah satu dari beberapa kota yang termasuk dalam region Metro Manila. Bukan terletak di pusat Metro Manila, tapi wilayah ini merupakan pusat dari ragam aktifitas ekonomi dan politik di Filipina. Selain Makati, Quezon adalah salah satu dari dua kota paling kaya di region Metro Manila. Banyak kantor-kantor perusahaan besar berlokasi di Quezon. Di kota ini juga terdapat banyak kantor pemerintahan, serta universitas terbaik di seantero negeri, University the Philippines (UP) Diliman.

Kalau masih bingung, begini saja. Bayangkan Metro Manila adalah DKI Jakarta, Manila City adalah Jakarta Pusat, Makati adalah Jakarta Selatan dan Quezon adalah Jakarta Timur. Jika petunjuk sederhana ini masih belum membantu, maka maaf, saya tidak bisa membantu lagi.

Ada tiga lokasi yang pernah saya kunjungi dalam berbagai kesempatan terpisah. Daftar ini akan diurut menurut hemat saya dari rangking yang paling baik serta paling utama untuk didatangi.

Cool Beans Library Cafe

Cool Beans Library Cafe
Cool Beans Library Cafe © Andre Barahamin

Memadukan kedai kopi dan perpustakaan dalam satu ruang, dalam banyak kasus justru terjerembab dalam ‘bacaan semata pelengkap’. Di beberapa kedai kopi yang pernah saya datangi di Thailand, Vietnam atau di Indonesia, koleksi buku sebuah kedai kopi tidak pernah tertata serius, jumlah koleksi yang minim dan luasan jenis bacaan yang miskin.

Tapi tidak di sini.

CBL Cafe seakan tahu bahwa rangkai buku-buku bukan anak tiri. Sebaliknya ia bersanding mesra dengan olahan berbagai jenis minuman berbahan dasar kopi. Di sini, Anda bisa mendapatkan koleksi novel yang kalau membacanya bisa membuat lupa waktu. Ada bacaan politik yang sanggup membuat lidah kita sejenak lupa bahwa kopi sudah dingin dan rasa mulai berubah. Deretan majalan National Geographic yang masih mulus dan hampir lengkap, bisa menjadi bacaan santai sambil mengunyah kue mentega. Mereka juga menyediakan beberapa jenis bacaan sejarah bagi mereka yang ingin mengulik lebih dalam tentang latar belakang negara ini.

Ini adalah kedai kopi menata dirinya selayaknya bioskop literatur yang menjadikan kopi sebagai tiket masuk. Joey, salah satu penyeduh di sini dengan bangga mengatakan bahwa CBL Cafe pernah beberapa kali dijadikan lokasi pengambilan gambar film atau tempat siaran berita olahraga.

Harga kopi di kedai yang terletak di Jalan Maginhawa No. 67A ini lumayan terjangkau isi dompet para petualang kere. Satu gelas kopi paling murah dihargai 70 PHP atau setara $1.5. Saya biasanya memesan segelas kopi hitam. Robusta yang menurut saya berkualitas biasa saja. Penilaian yang semata muncul karena lidah saya terlalu otoriter dengan ragam rasa jenis kopi yang sama di Indonesia. Tapi bukankah sekilo emas memang lebih mahal dari sekilo plastik?

Tweedle Book Cafe

Tweedle Book Cafe
Tweedle Book Cafe © Andre Barahamin

Destinasi berikut yang saya sarankan masih memiliki konsep yang tidak jauh berbeda. Kedai yang berlokasi di Jalan Scout Gandia No.106B, buku juga merupakan tulang punggung selain variasi jenis kopi dan beberapa penganan yang bisa mengganjal perut. Tempat ini mengingatkan saya pada Common Ground Jakarta, hanya minus tumpukan kertas untuk dibaca. Meja-meja berwarna hijau dan kursi kayu diatur hampir sambung-menyambung, seperti layaknya perpustakaan.

Ada dua hal yang paling menyita pandangan saya ketika memasuki kedai ini. Pertama adalah desain meja kasir yang dibentuk sedemikian rupa hingga tampak menyerupai sebuah katalog kartu nama berukuran raksasa. Di langit-langit, terdapat nama-nama para penulis favorit pemilik kedai yang dicetak pada panel-panel kayu. Kalian bisa menemukan nama Orwell, Wilde, Steinbeck, Murakami hingga Tolkien. Karya-karyanya dapat dengan mudah ditemukan di rak-rak kayu.

Ada dua hal yang paling berkesan di sini.

Pertama adalah keengganan si pemilik untuk menyediakan jasa sambungan internet di kedai ini. Barista di kedai ini mengatakan bahwa Tweedle Book Cafe adalah ruang baca yang menyakini diri cukup memiliki koleksi ragam jenis buku. Mereka menilai bahwa internet akan mengurangi minat seseorang untuk membaca buku atau berkomunikasi. Jawaban yang ambisius namun berani.

Hal lain yang terus berbekas di kepala saya adalah kopi yang saya minum di kedai ini. Segelas kopi berbalut alkohol. Bukan Irish Coffee. Tapi campuran satu shot wiski dan satu shot espresso. Harganya hanya 85 PHP saja.

Rasanya? Sila datang dan coba sendiri.

Coffee Empire

Coffee Empire
Coffee Empire © Andre Barahamin

Ini adalah tempat yang tepat jika Anda ingin berdiskusi seputar kultur kopi di seputaran Metro Manila. Tentang bagaimana gelombang kopi generasi ketiga mempengaruhi dan mengubah gaya merendang kopi hingga metode seduh yang semakin variatif. Para pendirinya adalah mereka yang mendalami kopi sebagai budaya kuliner. Ini adalah kedai di mana kamu bisa bertukar pendapat soal metode seduh manual dengan aero press, atau melihat bagaimana kopi Anda diseduh dengan ‘kono’. Jika Anda menggemari kopi bercampur susu, silakan coba macchiato di sini sembari mendengarkan cerita tentang profil rendangan (roasting profile) biji-biji kopi mereka yang dipengaruhi tren third wave. Atau mau mengetes mereka dengan memesan Flat White? Silakan saja.

Yang jelas, tempat ini mengingatkan saya dengan Klinik Kopi di Yogyakarta. Barista sekaligus pemilik kedai yang bersemangat melayani pelanggan, pembicaraan seputar kopi yang hangat dan radikal, serta seduhan Arabika yang membuat tempat ini memang layak jumawa menyebut dirinya “Empire”.

Empire juga memiliki tempat penyimpanan biji kopi. Kedai ini menyuguhkan 21 jenis kopi untuk memperkaya selera. Jika ingin membeli biji kopi siap seduh, Anda bisa memesan langsung di sini. Lalu meminta saran kepada barista yang sedang bertugas tentang tingkat kehalusan gilingan rekomendasi mereka. Untuk memperluas pengetahuan tentang kopi ketika Anda tidak punya waktu berkunjung ke sini, Empire menyediakan majalah yang bergelut di isu yang sama: kopi.

Anda tidak akan mengalami kesulitan berarti mencari kedai yang terletak di Jalan West Avenue No.74 ini. Jika masih ragu, ketika Anda memasuki West Avenue jangan sungkan untuk bertanya. Banyak orang dengan senang hati akan menunjukkan arah.

* * *

Tulisan ini tayang perdana di Minum Kopi.

Terlena Kopi di Hoi An

Ada banyak cara untuk terlena di Hoi An.

Kota ini memang indah. Mungil, tapi akan memikat hatimu hingga enggan beranjak. Bahkan jauh sebelum ditetapkan sebagai Kota Warisan Budaya oleh UNESCO pada 1999, Hoi An telah pandai mendulang simpati. Sejak abad 15 kota ini telah menjadi pusat perdagangan yang menjadi sela karena posisinya yang menghadap ke Laut Cina Selatan. Dahulu tempat ini termasuk wilayah Champa dan melayani lintas dagang dari Jepang, kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia hingga para pelaut Eropa.

Meski hanya seluas 60 kilometer Hoi An memiliki cukup ruang bagi para pelancong untuk melepas penat, mencari kesegaran atau merehatkan pikiran. Sebagai kota yang bertulangpunggung pariwisata, kota ini menata dirinya dengan keramahan penduduknya, keindahan masa lalu yang terawat, kuliner yang menggoda lidah, biaya hotel dan penginapan yang tergolong murah serta tentu saja warung-warung kopi dengan dominasi ragam robusta sebagai menu utama.

Di sini, kita dapat menikmati kopi sembari mengawasi hilir mudik orang-orang di Faifo (Kota Tua). Atau, memilih duduk di pinggir pantai dan memandangi orang-orang berenang di laut sambil memesan makanan di berbagai jenis restoran yang tersedia di sudut kota untuk kemudian dipungkasi dengan segelas robusta.

Iya, robusta dan bukan arabika. Seperti kota-kota lain di Vietnam, ini adalah jenis kopi paling populer dan umum disajikan. Negeri berhaluan komunis ini adalah penghasil biji kopi robusta kedua terbesar di dunia. Menjadi produk andalan ekonomi dalam negeri semenjak kopi diperkenalkan oleh penjajah Prancis di akhir abad 19.

 

Area pertama di seantero Vietnam yang ditanami kopi adalah Bien Hoa, yang terletak sekitar 30 kilometer ke arah timur dari Sai Gon. Daerah perkebunan ini dahulu dimiliki oleh sebuah perusahaan bernama Coronel Coffee yang dimiliki seorang insinyur berkebangsaan Prancis bernama Marcel Coronel. Setelah kemenangan pasukan merah dan unifikasi Vietnam, lahan kopi lalu dinasionalisasi oleh negara pada 1975 melalui pembentukan Vietnam National Coffee Corporation yang lebih populer dengan sebutan Vinacafe.

Menyebarnya robusta ke seantero Vietnam tidak lepas dari cerita kesuksesan Vinacafe melakukan ekspor perdana pada 1978. Melihat potensi pasar kopi di dunia internasional, pemerintah Vietnam melalui Kementerian Pertanian dan Industri Makanan, kemudian melalukan ekstensifikasi yang melibatkan tenaga ahli dan kelompok petani. Lahan-lahan pertanian di daerah pegunungan kemudian dikolektifkan untuk dijadikan lahan bisnis monokultur kopi. Vinacafe kemudian membangun unit-unit usaha pembelian yang berhubungan langsung dengan petani sekaligus menyediakan jasa konsultasi dan pendampingan untuk menjaga kualitas produk.

Pemerintah komunis ini juga melakukan proteksi terhadap mata rantai perdagangan kopi di dalam negeri. Kopi robusta impor yang masuk ke Vietnam dikenakan pajak progresif yang berimplikasi pada harga jual yang mahal dengan kualitas yang belum tentu sebanding. Hal ini membuat kedai-kedai kopi kecil di negeri lebih cenderung memilih membeli dan memperdagangkan kopi lokal sehingga mempengaruhi tren konsumsi kopi di dalam negeri.

 

Beberapa kali mengunjungi Hoi An, saya selalu singgah di satu kedai kopi di seputaran Kota Tua bernama Dive Faifo. Kedai kecil yang tidak jauh dari jembatan kuno Jepang yang tersohor di Hoi An. Tempat ini kala malam mengubah diri menjadi bar akustik. Di siang hari, selain menjajakan kopi, tempat ini juga merupakan penyedia jasa layanan wisata menyelam.

Pemiliknya adalah pasangan ekspatriat dari Prancis. Sang suami adalah seorang bartender yang juga membuka mobile bar di depan sebuah supermarket tidak jauh dari kedai kopi ini. Sementara istrinya adalah seorang penikmat kopi asal Lyon yang akhirnya jatuh cinta dengan Hoi An.

Dive Faifo mulai menjual kopi enam tahun lalu. Mulanya, kedai ini hanya menyasar para pelancong asal Eropa Barat atau Amerika Utara yang ingin menikmati kopi diseduh panas seperti Americano atau mencari Capuccino di pagi hari. Metode seduh dengan menggunakan Vietnam drip dan campuran potongan es (Cha Pe Da) bukan menu andalan karena mudah sekali ditemukan di kedai atau restoran lain. Lagipula menjelang akhir tahun ketika cuaca mulai dingin, sajian kopi dingin tidak terlalu diminati.

= = =

Tulisan ini tayang perdana di Minum Kopi

Battle of Manila: Laporan dari Rally Anti-APEC Summit, Manila, November 2015

TOPSHOTS Philippine police (L) fire water cannon as they clash with protesters (R) parading down a street trying to voice their opposition to the Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Summit currently taking place in Manila on November 19, 2015. Asia-Pacific leaders are wrapping up two-days of talks in Manila that have been overshadowed by an arm-wrestle for regional influence between the United States and China. AFP PHOTO / Punit PARANJPEPUNIT PARANJPE/AFP/Getty Images

TOPSHOTS
Philippine police (L) fire water cannon as they clash with protesters (R) parading down a street trying to voice their opposition to the Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Summit currently taking place in Manila on November 19, 2015. AFP PHOTO / Punit PARANJPEPUNIT PARANJPE/AFP/Getty Images

“KEMBALI ke belakang!”

Aku mendengar sebuah seruan keras diucapkan dalam bahasa Inggris dari arah belakang, disertai tarikan cukup kasar di sweater. Saat membalikkan kepala, aku mendapati Rodha Gueta, seorang aktifis Kilusang Magbubukid ng Pilipinas (KMP) tampak kesal menatapku.

Terpaksa menurut. Beranjak pelan ke belakang dengan seluruh pakaian yang basah karena siraman air dari polisi.

Tiga bentrokan baru awal baru saja lewat. Ada jeda yang secara alamiah diambil kedua belah pihak dari setiap fase bentrokan. Masing-masing mengumpulkan kembali tenaga. Bentrokan keempat tidak terlalu keras. Aparat keamanan tampak kelelahan. Tidak lagi ada ayunan pentungan, tapi blokade tidak mengendur sedikitpun. Hanya saling dorong antara demonstran dan polisi. Sudah tidak ada lagi siraman air. Water Canon kehabisan air. Para pelajar bersorak gembira. Bendera berbagai organisasi berkibar-kibar. Senyuman tampak di wajah mereka di garis depan. Berbaur dengan rasa sakit di beberapa bagian tubuh akibat hantaman pentungan.

Sejak awal, ketika melihat bahwa massa akan segera melakukan upaya menembus blokade polisi, kami juga perlahan bergerak. Saya dan kedua kawan dari aktivis Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) merasa bahwa kami secara fisikal tidak terlalu nampak sebagai orang asing. Dari mulai kedatangan di bandara, banyak orang salah mengira jika kami adalah orang Filipina. Itu mengapa, kami tidak segan untuk ikut berbaur dengan barisan pelajar yang berada paling depan untuk menghancurkan barikade aparat keamanan. Bertiga, kami membulatkan tekad untuk tidak sekedar menonton namun memilih terlibat langsung dalam pertempuran di garis terdepan.

“Sepanjang tidak bicara, polisi tidak curiga bahwa kita adalah orang asing. Tapi ingat, ada fotografer polisi di garis depan. Selalu menunduk. Jangan sampai tertangkap kamera. Bisa-bisa ketika pulang ke Indonesia nanti, kita akan dicegat. Lalu passport ditandai dan kita tidak bisa kembali lagi datang ke Filipina.” Penjelasan cukup panjang namun cepat.

Rahmat Ajiguna, Ketua Umum AGRA cukup paham kondisi Filipina. Ajiguna juga menjabat sebagai Sekretaris Jendral Asian Peasant Coalition (APC). Ajiguna menceritakan pengalaman salah seorang aktivis APC asal India yang pernah dideportasi dari Filipina beberapa tahun lalu. Juga cerita tentang mekanisme penghadangan di bandara keberangkatan terhadap mereka yang sudah ditandai.

“Mana Sandy?”

Rodha masih tampak kesal meski aku sudah mundur beberapa langkah. Ia terus mencari Sandy Ame, aktifis AGRA yang juga merupakan Sekretaris Cabang International League of People’s Struggle (ILPS) Indonesia.

“Aku tidak tahu.” Aku menjawab sekenanya lalu berupaya mengalihkan perhatian agar bisa kembali ke garis depan.

Ini belum selesai. Blokade polisi masih bisa diganggu.

Rodha terus memberikan tanda dengan tangannya agar aku jangan memaksakan diri.

“Balik ke belakang. Kumpul dengan kawan-kawan yang lain.”

Kali ini nada suara Rodha cukup keras namun gerak tubuhnya menandakan bahwa ia sedang kebingungan.

Aku mengalah. Seluruh tubuh juga sudah bayah kuyup. Segera mundur jauh ke belakang. Menuju titik kumpul para aktivis asing yang ikut berpartisipasi di protes anti APEC Summit.

Semua aktivis non-Filipina yang terlibat di aksi anti-APEC sejak awal telah diberitahu. Kami diharapkan untuk tidak terlibat langsung dengan bentrok dengan pihak kepolisian. Kawan-kawan Filipina khawatir akan ada yang ditangkap dan kemudian dideportasi. Jika benar dideportasi, maka itu akan jadi kerugian bagi jaringan solidaritas internasional yang telah dan sedang kami bangun. Seseorang yang sudah pernah dideportasi akan dilarang untuk memasuki negara yang bersangkutan. Di Filipina, jika passport sudah ditandai, jangan harap bisa kembali melenggang di bandara kedatangan. Anda akan diusir.

 

ILPS & PROYEK “BATTLE OF MANILA”

International League of Peoples’ Struggle (ILPS) seharusnya melaksanakan Kongres mereka tahun lalu. Tapi Venezuela yang seharusnya jadi tuan rumah menyatakan menarik diri beberapa waktu setelah Hugo Chavez meninggal. Sebabnya adalah kondisi politik dalam negeri mereka yang sedang berantakan karena upaya intervensi Amerika Serikat (AS) demi menjungkalkan Nicolas Maduro.

Langkah penting segera diambil oleh International Coordinating Committee (ICC) ILPS. Dengan waktu persiapan yang kurang dari setahun, ICC-ILPS kemudian memilih untuk menunda perhelatan Kongres ke 5 mereka dari jadwal awal. Filipina kemudian mengajukan diri sebagai tuan rumah. Alasannya sederhana: secara organisasional ILPS Filipina adalah salah satu chapter yang solid, dan momen pertemuan puncak para pemimpin ekonomi di kawasan Asia-Pasifik yang tergabung dalam Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) akan dilakukan November 2015.

Dalam pidato pembukaan Kongres, Malcom Guy, Sekretaris Jenderal ILPS periode sebelumnya mengatakan dengan jelas bahwa “agenda-agenda kelompok imperialis seperti APEC mesti digagalkan. Itu mengapa waktu pelaksanaan Kongres disengajakan bersamaan dengan APEC Summit.”

ILPS, yang dibentuk 21 Mei 2001, merupakan salah satu aliansi strategis organisasi progresif dari berbagai belahan dunia. Keanggotaannya tersebar di lebih dari 40 negara. Saat pertama kali dibentuk, ILPS sudah mencakup 218 organisasi. Pada Kongres ke 5, yang berlangsung sejak 14-16 November 2015, ada lebih dari 400 delegasi yang hadir dari 39 negara. Untuk cabang Indonesia, keanggotaan ILPS dibentuk oleh komposisi; Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Front Mahasiswa Nasional (FMN), Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI), Serikat Pekerja Hukum Progresif (SPHP), dan Gerakan Rakyat Indonesia (GRI).

Organisasi di mana saya ikut terlibat, Yayasan PUSAKA baru saja bergabung dan diresmikan sebagai anggota pada Kongres kali ini. Inilah alasan kedatangan saya.

Sebagai aliansi kelompok revolusioner, ILPS secara terbuka menyatakan mendukung upaya-upaya perjuangan pembebasan nasional berbagai bangsa di belahan dunia. Dukungan itu, misalnya, tampak jelas ketika setiap mereka yang sedang berjuang membebaskan dirinya dari kolonialisme dikenali dan dianggap sebagai bagian dari delegasi terpisah dari negara penjajahnya. Misalnya sebagai contoh, delegasi dari Papua Barat dianggap sebagai delegasi yang setara dengan delegasi dari Indonesia. Delegasi dari Manipur atau Nagaland, tidak akan disebut sebagai bagian dari delegasi India. Kurdistan tidak akan disamakan dengan Turki atau Syiria.

Dalam setiap Kongres pula, ILPS mengundang perwakilan dari beberapa organisasi yang dianggap potensial untuk menjadi anggota. Mereka diperkenalkan dengan sistem dan pola interaksi organisasi di dalam ILPS, sebelum kemudian memutuskan menolak atau sepakat bergabung sebagai anggota. Tahun ini, cukup banyak perwakilan baru dari Amerika Latin dan Amerika Utara yang datang. Juga dari benua Afrika. Beberapa cabang baru akhirnya diresmikan dalam Kongres.

Pertemuan inilah yang secara terbuka merumuskan “Battle of Manila” sebagai upaya untuk menggagalkan pertemuan para pemimpin negara anggota APEC.

Dengan ILPS Cabang Filipina sebagai pelopor, pertemuan APEC akan disambut dengan protes besar. Konfederasi petani Filipina, KMP telah jauh-jauh hari mengerahkan massa pendukung mereka yang kebanyakan berasal dari daerah Mindanao, Cebu dan Luzon utara. Di sektor buruh, gerakan protes diorganisir oleh Kilusang Mayo Uno (KMU) yang berdiri sejak 1 Mei 1980. KMU dan KMP dikenal sebagai sayap kelompok militan di kancah politik Filipina. Untuk kelompok pelajar, League of Filipino Students (LFS) memaksimalkan pengorganisiran mereka. Tidak hanya pelajar yang duduk di perguruan tinggi, para pelajar sekolah tinggi (setara SMA) juga dilibatkan. Dari kelompok nelayan, PAMALAKAYA menjadi yang paling siap.

Targetnya tidak tanggung-tanggung. Sepuluh ribu orang mengepung pertemuan APEC.

Merespon hal tersebut, pemerintah Filipina segera ambil tindakan. Tiga puluh ribu polisi disiapkan sebagai tenaga pengamanan. Tiga kali lipat dari kemungkinan jumlah demonstran.

Daerah khusus ibukota, Metro Manila juga diliburkan selama berlangsungnya rapat para petinggi negara APEC. Warga dihimbau untuk tinggal dalam rumah dan tidak melakukan aktivitas ekonomi. Blokade di batas luar wilayah Metro Manila dibangun. Iringan massa dari luar daerah yang ingin mengakses ibukota dilarang masuk. Daerah pantai juga dijaga ketat. Di dalam kota, pos-pos pengamanan polisi berlapis melingkari titik pertemuan APEC. Polisi sering sekali memberhentikan jipney yang terlihat mencurigakan.

Penerbangan internasional juga ditunda selama dua hari. Keputusan yang memaksa banyak orang harus berangkat lebih awal atau tinggal lebih lama karena semua pesawat komersil dilarang terbang.

Intinya, demi APEC, Manila disegel.

Gelombang anggota-anggota KMP yang datang dari bagian utara Luzon, Mindanao dan Cebu banyak yang tertahan di luar Metro Manila. Upaya PAMALAKAYA untuk mendekati daerah pertemuan melalui laut juga dipukul mundur oleh blokade polisi di daerah pantai. Kepala Polisi Nasional Filipina, secara terbuka mengumumkan akan menindak tegas mereka yang berniat menggagalkan APEC Summit. Secara khusus ancaman tersebut dialamatkan kepada aktivis asing yang datang ke Manila. Bergabung dalam demonstrasi, berarti Anda siap dideportasi.

Taktik isolasi kota ini dapat dikatakan berhasil.

Menurut beberapa media lokal, hampir enam ribu demonstran tertahan di perbatasan Metro Manila, sehari sebelum pertemuan puncak APEC dihelat. Mereka dilarang polisi untuk memasuki kota. Alhasil, mereka mendirikan panggung politik di titik-titik tersebut.

Penyegelan Manila mau tak mau membuat KMU, sebagai serikat buruh menjadi tulang punggung pengorganisiran. Bersama PISTON Partylist, partai para supir jeepney, memaksimalkan upaya mobilisasi massa.

 

PARA PENENTANG APEC-AQUINO

Berbagai organisasi yang tergabung dalam ILPS Cabang Filipina yang tergabung di dalam front nasional bernama BAYAN memang merupakan salah satu dari sedikit kelompok oposisi menentang Noynoy Aquino yang didukung oleh AKBAYAN.

Dukungan penuh AKBAYAN terhadap pemerintahan Aquino dapat membantu untuk menjawab mengapa mereka tampak tidak sepenuh hati terlibat dalam demo anti-APEC. Terhadap APEC, secara umum AKBAYAN ikut menolak dengan beberapa catatan, seperti yang diumumkan saat melakukan konferensi pers di Universitas Filipina (UP Diliman) pada 17 November, sebelum diikuti aksi di jalanan pada keeskokan harinya. AKBAYAN hanyalah satu faksi saja dari fragmentasi gerakan di Filipina yang pecah. Kelompok AKBAYAN yang dimotori oleh Walden Bello dan kawan-kawannya –selain tentu saja dipengaruhi oleh Joel Rocamora dan Olle Tornquist– meski mengkritisi APEC, namun tetap menganggap penting bagi gerakan rakyat untuk “menduduki” pemerintahan. Pengambil-alihan struktur kekuasaan ini dianggap sebagai cara mencegah demokrasi dibajak oleh para elit.

Langkah di atas mendapatkan penentangan paling kencang dari kelompok-kelompok demokratik lain yang tergabung dalam BAYAN (yang juga merupakan cabang ILSP Filipina). Bagi BAYAN, langkah tersebut –semisal pilihan mendukung Noynoy Aquino– adalah bentuk kompromi yang tidak bisa dibenarkan. Ketika mendiskusikan mengenai sikap AKBAYAN ini, argumentasi sinis namun solid dilontarkan Charisse Banez, Presiden League of Filipino Students (LFS). Dengan jeli ia meretas bahwa ada persamaan antara karakter aktivis pro-Aquino dan mereka yang juga mengambil sikap serupa di Indonesia. Para pendukung Joko Widodo, yang sebagian merupakan aktivis gerakan, kemudian tidak mampu memberikan sikap kritis dan justru pasif atau merespon malu-malu tentang kebijakan represif dan koersif yang dilancarkan oleh rezim neoliberalis hasil pemilihan umum 2019.

Di antara kedua kubu tersebut, ada kelompok lain seperti Partido Lakas Ng Masa (PLM) atau Partai Rakyat Pekerja dengan sayap serikat buruh-nya bernama Bukluran ng Manggagawang Pilipino (BMP). Meskipun secara garis besar ikut menolak APEC, namun PLM-BMP memiliki perbedaan mendasar dengan garis politik yang diambil oleh kelompok AKBAYAN ataupun kelompok BAYAN. PLM-BMP, misalnya, menolak politik kompromisme yang diusung oleh AKBAYAN, namun juga menolak untuk memberi dukungan terhadap taktik bersenjata yang diusung oleh kelompok BAYAN melalui New People Army (NPA). Itu mengapa pada tanggal 18 dan 19 November, PLM-BMP melakukan rally protes terhadap pertemuan APEC di titik aksi yang berbeda. Di tengah barisan mereka, ikut hadir juga representasi dari Parti Sosialis Malaysia (PSM).

Ada kelompok lain seperti Partido Kalikasan (Partai Hijau Filipina), yang juga merespon negatif penyelenggaraan APEC. Pertemuan elite negara-negara di Asia Pasifik ini hanya berlangsung selama dua hari, namun menelan biaya sebesar 10 milyar Peso (hampir 3 trilyun rupiah), melibatkan 30.000 aparat keamanan dan sampai meliburkan aktivitas publik yang berakibat pada pelemahan sektor ekonomi informal. Partido Kalikasan menuduh Aquino mengalami phobia sehingga merespon rencana protes APEC Summit dengan berlebihan. Aquino dianggap sengaja menggunakan dana publik untuk pertemuan bisnis elite para pemimpin negara yang praktik di lapangannya adalah penghancuran lingkungan dan meningkatnya krisis iklim.

Berbagai kelompok anarkis dan anti-otoritarian yang tergabung dalam Local Autonomus Networks (LAN), juga menyelenggarakan aksi protes anti-APEC dengan menggelar Food Not Bombs, aksi teatrikal sebelum kemudian menggabungkan diri dengan kelompok masyarakat adat Lumad yang sedang menggelar tenda protes di Gereja Baclaran. Bagi LAN, APEC adalah satu dari dasamuka kapitalisme yang jelas hanya akan menguntungkan satu persen golongan dan menyingkirkan sebagai besar lainnya ke dalam keranjang sampah kemiskinan.

 

PELAJARAN-PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL

Ada hal yang saya kagumi dari kawan-kawan di Filipina. Mereka disiplin. Tidak telat dalam soal waktu dan selalu penuh komitmen. Kerja-kerja politik mereka tidak dikompromikan dengan macet, urusan A, B, C, dan lain sebagainya. Toleransi terhadap ketidakdisiplinan dipandang sebagai kompromisme.

Banyak dari kita di Indonesia mesti belajar dari mereka.

Sebagai contoh. Sore 18 Oktober, saat mengantar kami kembali ke hotel, Rodha telah mengingatkan semua bahwa mereka akan datang pukul 6.30 pagi untuk menjemput kami. Dan benar. Lima menit sebelum waktu yang ditetapkan, sebuah van telah berada di parkiran depan hotel dan Rodha mulai mengecek siapa yang belum bangun serta siapa yang belum sarapan. Sebuah kebetulan bahwa hampir semua dari kami yang ada dalam daftar sedang sarapan, mereka memberikan waktu 10 menit ekstra sebelum benar-benar berangkat.

“Kita tidak bisa terlambat.”

Rodha tampak sibuk dengan telepon genggamnya dan mengecek siapa saja yang masih di kamar. Total ada 22 orang delegasi asing yang menginap di Brentwood Suites Hotel. Termasuk Laela Khalid, aktivis pejuang pembebasan Palestina, juga Bonnie Setiawan dan Fahmi Panimbang, dua kru IndoPROGRESS yang lain.

Kami akan dibagi ke dalam beberapa rombongan berjumlah antara 5-6 orang. Setiap rombongan akan ditangani secara khusus oleh tim yang sudah disiapkan oleh kawan-kawan Filipina. Di tiap rombongan disiapkan satu orang pengacara publik untuk mendampingi.

Saat dalam perjalanan menuju lokasi pertama, di Liwusang Bonefasio, kami segera diberi penjelasan tentang apa yang bisa dan tidak bisa kami lakukan. Bagaimana menghindari orang yang tidak dikenal, dan beberapa detil lain.

Poin utama adalah: jangan terlibat dalam konflik fisik langsung dengan aparat keamanan. Jika terjadi sesuatu, kami harus segera menghubungi nomor pengacara yang telah disiapkan.

Bagi mereka yang mengorganisir “Battle in Manila”, bentrokan fisik dalam parade massa dianggap tidak terlalu penting. Mereka paham benar bahwa kerugian justru akan menimpa massa yang tidak bersenjata, miskin pengetahuan dalam bertahan dan menyerang serta akan mengalihkan isu dari tuntutan yang akan disampaikan. Dalam kacamata strategi, kampanye urban seperti demonstrasi dengan berbagai variannya untuk mereposn iven-iven politik spesifik seperti APEC adalah cara menekan pemerintah secara popular, dan di saat yang bersamaan meluaskan jangkauan kepada publik.

Bukan lagi rahasia publik bahwa selain kelompok anarkis, organisasi-organisasi yang tergabung di dalam ILPS Cabang Filipina adalah para pendukung gerakan gerilya bersenjata. Bagi mereka yang sedikit mengenal sejarah negeri yang pernah ditindas oleh diktatoris Marcos, New People Army (NPA) adalah formula bersenjata yang tidak pernah surut bahkan di era ketika Trans Pacific Partnership (TPP) dan Asian Invensment Infrastructure Bank (AIIB) sedang ramai mengepung negara-negara di Asia Tenggara.

Di Indonesia, praktis setelah gerakan menumbangkan Soeharto (yang terlalu sering diklaim sebagai gerakan pelajar semata), tidak ada lagi gerakan bersenjata. Fenomena paling mutakhir adalah perang urban yang dilancarkan sebagian kecil anarkis dengan membombardir Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di beberapa wilayah dan fasilitas milik tentara dan polisi. Di luar itu, tak ada yang berarti selain diskursus heroik penuh nafas pasifisme.

Di Indonesia, misal, gerakan pelajar hanya akan mendorong barikade polisi jika ada kamera-kamera televisi yang menyorot. Jangan harap bahwa aksi non-kekerasan didasari pada pertimbangan filosofis yang radikal.

Gerakan politik di Filipina juga bukan gerakan yang malu-malu. Di sini, seseorang yang sedang membuka mata terhadap opsi-opsi politik diperhadapkan jelas dengan beragam pilihan tendensi dengan argumentasi (yang solid atau tidaknya merupakan poin perdebatan di level berikutnya). Banyak dari kita yang tahu, di Indonesia banyak gerakan anti kapitalisme adalah mereka yang pemalu. Bingung dan enggan untuk menentukan titik pijak terhadap satu tendensi karena takut akan resiko-resiko politik yang menyertai setiap keputusan.

Demonstrasi anti World Trade Organization (WTO) di Bali sebagai contoh.

Kawan-kawan Filipina yang sempat datang ke pulau Dewata, dengan jelas telah memposisikan diri sebagai musuh, baik dalam kapasitas secara individual dan organisasi terhadap lembaga perdagangan global tersebut. Analisa masing-masing (terlepas dari persoalan benar-salah) dijangkarkan pada analisa yang serius dan mendalam akan keberpihakan yang tidak malu-malu. Di Indonesia, keterbukaan posisi ideologi macam ini sering disembunyikan. Pengaruh buruk dari politik moralisme yang marak dalam gerakan anti-Soeharto di penghujung dekade 1990-an.

Dinamika politik mereka (dengan segala konflik dan perpecahan yang mengurat akar) setidak-tidaknya merupakan pertanggungjawaban ideologi. Bukan hasil intrik yang didasarkan pada gosip atau isu yang sulit atau bahkan muskil diverifikasi, atau semisal dilandaskan pada kecemburuan personal semata. Di Indonesia, cermin oto-kritik yang keras macam ini tampak belum jadi kebiasaan. Kita masih belum bisa saling tunjuk hidung atau bahkan saling pukul secara terbuka dalam debat-debat secara ideologi, politik dan organisasional. Ambil contoh adalah kebingungan ideologi yang merambah gerakan pelajar sejak satu dekade lalu. Hingga kini mereka bahkan masih kesulitan mengartikulasikan narasi politiknya yang bebas dari mutilasi sejarah romantik macam label konyol “gerakan mahasiswa 1998”.

Seandainya, dua tahun lagi pertemuan APEC dilangsungkan di Indonesia, kita tentu akan sulit menemukan spirit perlawanan yang sama. Alasannya sederhana. Sepanjang kejelasan posisi ideologis dan keberpihakan kelas bukan lagi jadi tabu.

Saya misal. Mendukung Papua untuk menentukan nasib sendiri. Merdeka atau tidak, itu urusan belakangan. Yang utama adalah mengakui bahwa ada ekspansi Indonesia, penjajahan yang berlangsung melalui konsesi semisal Freeport, yang bahkan disahkan sebelum Papua jatuh ke tangan semangat kolonialisme 1961. Kenyataan di Manila mengajarkan bahwa saya masih menemukan mereka yang mengaku aktivis (atau lebih umum mendaku diri anti penindasan) ternyata bahkan gamang di persoalan macam ini.

Di dunia yang keterbelahan identitas adalah prasyarat menjadi manusia modern (meminjam istilah para Situasionis), maka langkah paling pertama yang perlu dilakukan sebelum berbusa bicara soal revolusi adalah menjawab pertanyaan: Kamu di sisi mana?

Huế Dan Dua Gelas Kopi Sebelum Pukul Tujuh

Viet Nam dengan kafe-kafe kopinya ibarat lebah yang berkerumun di sebuah kelopak bunga.

Di Huế, kota di mana saya tinggal, akan sangat mudah menemukan tempat bersantai dan menikmati secangkir kopi. Sepanjang kedua sisi Hương Giang (sungai yang harum) saja terdapat sekitar seratus warung kopi yang memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk singgah. Ingin duduk di bawah pohon yang teduh dan menikmati pemandangan sungai, atau mencari tempat duduk yang agak sepi, di bawah payung-payung plastik.

Saya dan istri saya memiliki satu kafe favorit di sana. Namanya Cam En. Letaknya tepat di tepi sungai, sebelah barat kota, berjarak sekitar dua puluh lima meter dari Festival Hotel.

Di Cam En ini kami biasanya memilih tempat di sudut sebelah kiri, di lokasi yang agak terpisah dari pengunjung lain. Sebuah meja dengan tiga kursi kecil kami duduk. Lokasi yang tepat untuk bercerita dengan bebas. Saling tersenyum, berpegangan tangan, dan sesekali berhenti untuk menyeruput kopi. Saya dengan segelas Ca phe da (kopi hitam), sedangan istri saya dengan segelas Ca phe sua da (kopi susu).

Kopi di Huế, seperti juga di kota-kota lain di Viet Nam, selalu disuguhkan bersama mangkok kecil berisi beberapa potongan es. Sementara gelas kopi ditudungi dengan penyaring berisi bubuk kopi yang sudah direndam air panas. Pelan-pelan air resapan kopi akan menetes di gelas. Setelah air dalam alat penyaring kering, kita dapat menambahkan potongan kecil es, sesuai selera. Saya biasanya menaruh dua potong.

 

Di Viet Nam, kopi mulanya diperkenalkan oleh Kolonial Prancis pada akhir abad ke 19. Perkebunan kopi pertama di negeri ini dibuka di sekitar An Nam. Jenis yang umum ditemukan kopi robusta yang ditanam di daerah dengan ketinggian 3.600 kaki.

Hari-hari ini, negara yang berkali-kali dikalahkan oleh Sylvester Stallone dalam film Rambo-nya, merupakan negara eksportir kopi terbesar kedua di dunia. Kisahnya, setelah perang berakhir pada pertengahan dekade 1990-an, pemerintah Viet Nam memulai intensifikasi penanaman kopi. Para petani mendapat subsidi, kemudian lahan-lahan pertanian itu mereka bekerja. Sarjana-sarjana pertanian diinstruksikan turun ke lapangan demi mendukung proyek.

Cara menyuguhkan kopi dengan penyaring tunggal untuk setiap gelas, merupakan taktik untuk menyiasati langkanya mesin pembuat kopi. Orang Viet Nam menyebutnya phin. Penyaring ini terdiri dari ruang penyaring (filter chamber), penekan saringan (filter press), cangkir pas (cup spanner) tentu saja tutup saringan.

Di Viet Nam banyak orang lebih suka menggunakan gelas kaca sebagai wadah tampung resapan kopi. Alasannya sederhana, dengan gelas kaca, kita dapat menyaksikan kopi yang jatuh perlahan. Kontemplatif, seperti rasa cinta dua pemuda yang tumbuh karena kebiasaan menghabiskan waktu bersama. Karena ini pula, seorang kawan saya berseloroh, minum kopi merupakan cara orang Viet Nam melupakan perang.

Cara membuat kopi ala Viet Nam cukup mudah jika tersedia phin. Langkah pertama adalah dengan meletakkan phin tepat di atas gelas kopi. Kemudian, serbuk kopi yang agak kasar dengan takaran secukupnya, dimasukkan ke dalam ruang penyaring (filter chamber) yang sebelumnya telah ditimpa dengan penekan saringan (filter press). Air panas kemudian dituang hingga hampir penuh, dan menutup saringan. Langkah terakhir, adalah menunggu sekitar lima hingga enam menit hingga air dalam saringan telah meresap dan menetes pindah ke dalam gelas.

 

Setiap pagi, istri saya selalu tidak pernah lupa menyeduh segelas robusta Viet Nam. Biasanya, setiap jam enam pagi, kami berdua akan duduk bersama di ruang tengah rumah kontrakan dan mencicip kopi.

Empat puluh lima menit kemudian, kami telah berpisah di simpang jalan menuju tempat kerja masing-masing. Maklum, aktifitas perkantoran di Viet Nam selalu dimulai pukul tujuh tepat. Minum kopi baru akan berlanjutkan ketika malam tiba. Duduk berdekatan, sembari memandangi kelip lampu warna-warni di jembatan Truong Tien.

Saat-saat seperti ini sering membuat saya sering rindu kampung halaman, lalu terus-menerus berjanji kepada istri, bahwa suatu saat nanti kami akan minum kopi berdua lagi: di Indonesia.

 

===

Tulisan ini tayang perdana di Minum Kopi