Mengingat Papua di Sittwe

Bagian 2

Wen adalah peminum bir tangguh sekaligus paling cerdas yang pernah saya temui di Burma.

Pertemuan dengannya adalah sebuah kejutan. Awalnya, saya mengira akan berjumpa dengan seorang laki-laki. Semua gambaran yang diberikan oleh Khant sewaktu di Yangon dalam otak saya hanya cocok untuk rupa seorang yang memiliki penis. Otak saya memang masih patriarkis. Sehingga alam bawah sadar saya secara sengaja menolak mengimajinasikan bahwa seorang penenggak bir dengan kadar minum di atas rata-rata, pengendara motor yang baik, selera humor yang sempurna serta menguasai soal politik dengan nafas sinisme, bisa saja seorang perempuan.

Hingga akhirnya sore kemarin saya berjumpa dengannya. Perempuan dengan rambut sebahu yang dikuncir ala kadarnya. Senyumnya lebar dan seketika membuatmu merasa bertemu kawan lama. Ia adalah salah satu yang terlibat aktif pada Revolusi Saffron 2007.

“Aku masih duduk di semester 3 saat itu”.

Wen kemudian menceritakan panjang lebar bagaimana peristiwa pemogokan sipil selama tiga bulan tersebut mengubah hidupnya. Dari seorang perempuan kampung yang datang kuliah dengan tujuan mendapatkan pekerjaan di institusi pemerintah, menjadi seorang aktivis sayap kiri yang kini menghabiskan waktunya dengan petani-petani miskin.

“Bapakku mungkin masih marah hingga kini. Bagaimana tidak? Ia banting tulang agar anak perempuannya mendapatkan pekerjaan yang layak. Tapi lihat ujungnya. Aku malah jadi seorang pembenci ketidakadilan. Padahal, sebagai anak yang datang dari keluarga miskin, soal-soal seperti revolusi, penindasan, kesetaraan jender, dan lain sejenisnya, adalah hal-hal terakhir yang akan dipedulikan setelah perut terisi dan sedikit cadangan uang di dompet. Segalanya makin rumit karena selain perempuan, aku adalah anak pertama dalam keluarga. Beban ganda tersebut seharusnya lebih dari cukup untuk menjadi alasan bagiku menjaga jarak dengan politik.”

Saya meringis kecil. Sebabnya, latar belakang kami tak jauh berbeda. Menghabiskan waktu bersekolah dengan tujuan akhir menjadi pegawai negeri adalah dambaan orang tua yang bekerja serabutan sebagai nelayan, tukang kayu dan bangunan serta petani. Ayah saya dahulu berharap bahwa ia bisa melihat saya bangun pagi, sarapan lalu mengenakan seragam dan pergi bertugas di kantor kecamatan. Tapi semuanya berubah ketika saya mulai mengenal politik sewaktu duduk di bangku kuliah. Politik juga pada akhirnya yang membuat jalan hidup saya berbelok sepenuhnya dan meninggalkan semua harapan orang tua.

“Tapi, setidaknya kau masih lebih baik. Orang tuamu sedikit banyak bisa menerima. Tidak sefeodal orang tuaku. Di negaramu, protes setidaknya masih diberikan ruang. Di sini, tidak ada kemewahan demokrasi semacam itu,” nada bicara Wen terdengar sinis. Botol bir di tangannya sudah kosong. Saya melambaikan tangan. Seorang pelayan datang mendekat.

“Dua lagi. OK?”

Wen tersenyum mendengar saya memesan bir kembali.

“Kau ingin membuatku mabuk?”

Saya tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Tentu saja tidak. Jika tidak kuat lagi minum, tidak usah minum. Tapi saya, jelas masih mau minum.” Kretek dinyalakan dan tidak lama kemudian, dua botol ukuran sedang sudah berada di atas meja.

“Rokok yang kau hisap. Baunya aneh. Seperti ganja.”

“Ini bukan ganja. Ini kretek. Asli Indonesia. Bau yang kau bilang aneh itu berasal dari cengkeh. Ini bahan utama yang membedakan rokok Indonesia dengan rokok kreasi Eropa. Rokok di sini, dibuat dengan resep ala Eropa. Tanpa cengkeh.”

Wen tak menanggapi. Ia hanya diam dan memegang botol bir.

“Alasan Eropa menyeberangi lautan ratusan tahun lampau adalah rempah-rempah. Cengkeh salah satunya. Di kampung, kami menyebutnya emas coklat. Ini adalah sebab mengapa kita dijajah. Para merkantilis datang untuk berdagang, lalu memonopoli dan akhirnya menjadikan leluhur kita budak.”

“Tapi setidaknya, setelah merdeka, kalian punya demokrasi. Kami? Kami punya senjata!” Nada suaranya meninggi, meski tidak sampai berteriak.

“Benar. Kami punya demokrasi. Dengan kualitas yang buruk sekali. Presiden kami adalah seorang delusional yang membayangkan dirinya sebagai Justin Bieber. Seorang pensiunan jendral yang kini hampir sepuluh tahun berkuasa. Dan apa prestasi terbaiknya? Meluncurkan album lagu! Benar-benar gila. Ya. Kami memang punya demokrasi. Setelah lebih dari tiga dekade hidup di bawah junta militer. Dan demokrasi itu kini sedang menderita penyakit setelah satu-satunya presiden paling waras yang pernah kami punya dikudeta oleh parlemen.” Saya menenggak kembali bir yang tinggal setengah isinya. Hingga tandas.

“Tapi setidaknya, kalian masih punya pemilu. Di Myanmar, tidak ada pemilu. Kau tidak memiliki hak untuk menentukan siapa yang berkuasa. Sebagai warga negara, tugasmu hanyalah menerima siapapun yang ditunjuk. Tidak boleh ada protes. Dan di sini, di Rakhine State, kondisinya jauh lebih buruk. Demokrasi dapat diibaratkan seperti surga. Banyak orang membicarakannya, tapi tak pernah ada satupun yang pernah mengalaminya.” Tawa Wen pecah sesudahnya. Meski, tidak ada hal yang lucu.

Saya kembali menyalakan kretek. Lalu meletakkan bungkus dan korek di atas meja. Wen terus menatap saat kretek terbakar dan baunya melayang ke sekitar.

“Kalau ingin coba, silahkan. Tidak ada salahnya. Kalau tidak cocok, jangan diteruskan.” Saya menggeser bungkus kretek sedikit lebih dekat ke arah Wen.

“Nanti saja. Pasti aku akan coba.”

Kami lalu membisu. Seperti kehabisan topik pembicaraan. Mungkin karena kami lelah dengan situasi di negeri masing-masing. Saya bisa memahami frustasi yang terasa di setiap nada bicara Wen ketika mendiskusikan soal Rakhine. Dua hari berada di sini, saya bisa merasakan bahwa Sittwe tidaklah seideal bayangan awal. Bahwa kota ini pernah menjadi pusat gerakan politik, itu kini tinggal fakta sejarah. Sulit menemukan warisan periode yang kini dicatat dalam tikungan sejarah politik Burma. Tapi kondisi tak jauh berubah. Keberagaman etnis terasa seperti bom waktu yang kapan saja siap meledak.

Orang-orang Bamar sebagai etnis mayoritas, tentu saja ingin mempertahankan status quo. Orang-orang Arakan, yang sadar bahwa mereka adalah minoritas di kancah politik dan ekonomi nasional, setidaknya ingin mengamankan posisi mereka di Rakhine State. Secara historis, sebagian besar wilayah negara bagian ini dahulu merupakan bagian dari Kerajaan Arakan. Dan orang-orang Rohang di bagian barat laut, adalah kelompok paling minor, rentan dan sering menjadi sasaran pukul dari banyak kelompok.

“Dilematis. Tidak mudah berbicara soal Rohingya. Latar belakang sebagai orang Arakan tentu saja mempengaruhi penilaianku. Ada bias yang tidak mungkin disangkal. Dan persoalan ini terlalu pelik. Campur aduk antara kepentingan subjektif para elit dan keinginan militer untuk memonopoli sumber-sumber bisnis ekstraksi di wilayah tersebut.”

Saya tidak merespon soal itu. Karena setidaknya, apa yang sedang terjadi di Rakhine dalam beberapa hal mengingatkan saya dengan Papua.

“Belum lagi jika kita menyebut soal kelompok-kelompok gerilya bersenjata. Aku tidak punya soal tentang taktik yang mereka pilih. Tapi tak jarang, aksi-aksi mereka membuatku sangat marah. Sebab, masyarakat sipil yang menjadi korban. Setiap kali ada serangan terhadap pos Tatmadaw, pasti desa-desa sekitar yang jadi sasaran. Kau tentu tahu bagaimana tololnya militer. Mereka tidak punya otak. Baik tentara rendahan maupun para jendralnya. Semuanya seperti kecoa yang kalap. Tidak punya target, sehingga semua yang tampak di hadapannya akan terlihat sebagai musuh.”

Perempuan ini menarik nafas.

“Kau tentu pernah dengar RNA. Minggu lalu, mereka kembali melancarkan serangan. Tidak ada korban tewas memang. Tapi letupan satu peluru sudah cukup menjadi alasan bagi Tatmadaw untuk menyerang pemukiman-pemukiman Rohingya.”

“Mungkinkah konflik ini sengaja dipelihara? Maksudku begini. Belajar dari pengalaman di Papua. Terkadang, sebuah serangan yang terjadi adalah manipulasi untuk memecah situasi damai. Dalam bisnis militer, situasi damai justru mengganggu bisnis. Kau pernah dengar Freeport?”

Wen menggelengkan kepala.

“Freeport adalah tambang emas terbesar di Indonesia. Letaknya di bagian tengah selatan, pulau Papua. Tunggu sebentar,” saya lalu mengeluarkan handphone. Membuka Google Map dan menunjukkan kepada perempuan ini letak Freeport.

“OK. Lalu?”

“Nah, untuk kasus Freeport, ketika situasi sedang kondusif, tiba-tiba saja ada serangan bersenjata. Biasanya menyasar warga asing. Tak jarang, ada korban tewas. Dengan demikian, maka pihak Freeport tentu akan mengeluarkan sejumlah uang. Dana keamanan istilahnya. Atau, menggandakan jumlah uang keamanan yang biasanya disetor kepada Polisi atau Angkatan Darat. Uang diterima, kasuspun selesai. Semua pihak bahagia. Perusahaan merasa aktivitasnya dilindungi, militer dan polisi mendapatkan uang setoran, pemerintah tenang karena kondisi kembali kondusif.”

“Dan kalian punya bukti soal itu?”

Saya menggeleng. “Bukti fisik tidak punya. Anggap saja ini seperti rahasia publik. Semua orang tahu bagaimana bisnis kotor ini berjalan. Itu mengapa Papua menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang memiliki tingkat konsentrasi militer dan polisi paling tinggi. Meski tidak secara verbal diucapkan, tapi mereka yang waras dapat melihat bahwa Papua adalah daerah operasi militer. Pos tentara dan pos polisi ada dimana-mana.”

“Persis seperti di sini. Rakhine adalah salah satu dari beberapa negara bagian yang menjadi konsentrasi militer. Hal ini terkait erat dengan upaya perjuangan untuk menuntut otonomi penuh,”

“Jadi, kalian sebenarnya bukan menuntut untuk merdeka?”

Wen tertawa. “Tentu saja tidak. Tuntutannya adalah otonomi penuh. Special Autonomous Region. Seperti Hong Kong, misalnya. Sebab, ketika kami merdeka dari Inggris, itu adalah kesepakatannya. Federasi bangsa-bangsa. Bangsa Arakan setara dengan bangsa Bamar atau bangsa Kachin. Walaupun secara kuantitas, kami jauh lebih sedikit. Masing-masing bangsa berhak mengatur dirinya. Meski kami terikat sebagai Burma.”

“Jelaskan lebih detil lagi,” saya kemudian membuka lagi satu botol bir.

“Burma itu adalah terma politik yang digunakan di masa perjuangan pembebasan melawan kolonial Inggris. Para pendiri negeri ini datang dari latar belakang bangsa yang berbeda-beda, namun menggunakan Burma sebagai identitas politik untuk menyatukan gerakan. Hanya sebatas itu saja. Identitas politik ini adalah hasil kreasi ketika para pejuang kemerdekaan Burma di masa tersebut berhasil mengidentifikasikan entitas yang disebut sebagai musuh bersama. Namun, identitas politik ini tidak menegasikan identitas kultural kami yang berumur jauh lebih lama dan telah membentuk struktur sosial masyarakat kami selama berabad-abad. Identitas politik adalah alat perjuangan menuju pembebasan dari cengkraman kolonialisme.”

Perempuan itu menatap kedua mata saya. Ini mungkin caranya mengambil jeda sekaligus menyiratkan pertanyaan apakah saya mengerti penjelasannya tadi. Saya mengangguk kecil.

“Namun kudeta militer mengubah semuanya. Identitas politik kemudian ditransformasikan sebagai satu-satunya identitas yang berhak mendapatkan ruang hidup. Semua orang dipaksa untuk menjadi ‘orang Burma’. Sesuatu yang mustahil, karena tidak pernah ada yang namanya orang Burma. Namun kemustahilan itu kemudian dipermak dan diberi prasyarat dan bentuk. Bamar sebagai etnis mayoritas kemudian dipersonifikasi sebagai gambaran dari apa yang disebut sebagai ‘orang Burma’. Dan bangsa-bangsa lain, kemudian disebut sebagai ‘minoritas’. Penyebutan ini memiliki implikasi serius. Sebagai minoritas, kami dibatasi secara ekonomi, politik dan budaya. Sebab, minoritas adalah persoalan kuantitas. Dan jumlah yang lebih sedikit diharuskan tunduk pada jumlah yang lebih banyak. Lalu, mereka menyebutnya demokrasi. Gila! Sangat gila!”

Bir di tangan saya kini semakin berkurang. Di atas meja, sudah ada delapan botol yang tandas. Wen lalu melambai ke arah pelayan bar.

“Aku minta bir lagi. Kau bagaimana? Masih mau minum?”

“Ya. Masih mau. Pesan saja dua botol.” Usai menjawab, segera saya menandaskan bir yang sedari tadi berada dalam genggaman.

“Kau pernah dengar intelektual bernama Ben Anderson? Ia menulis buku bagus soal nasionalisme dan bangsa-bangsa.”

Wen menggeleng. “Aku tidak pernah mendengar nama itu. Apalagi membaca bukunya. Aku bukan intelektual atau tipe orang yang nyaman berlama-lama di belakang meja. Aku lebih suka terjun di lapangan. Berkeringat karena kerja kasar.” Ia lalu menenggak bir yang baru saja tiba.

“Jangan salah paham dulu.” Saya kembali menyalakan kretek. Kurang dari semenit yang lalu, sebatang yang lain sudah tandas kuhisap.

“Kau seperti kereta api. Merokok tanpa henti. Memang berapa banyak stok rokok yang kau bawa ke sini?”

Saya tersenyum. “Cukup untuk dua minggu di sini. Jika setiap hari saya menghabiskan satu bungkus.”

Ia nampak terkejut. “Kau akan cepat mati. Paru-parumu akan membusuk secara perlahan hingga kemudian kau menjadi sulit bernafas. Kematian yang datang menjemputmu adalah jenis yang bergerak pelan dan begitu menyakitkan.” Tawanya lalu pecah mendadak.

“Tidak apa-apa. Asalkan itu terjadi setelah Papua merdeka.”

Kami lalu tertawa bersama.

“Ceritakan soal Papua. Aku ingin tahu lebih banyak.”

“OK. Tapi sebaiknya kita beranjak dari sini. Aku khawatir kita berdua tidak akan sanggup mengemudikan sepeda motor jika terlalu lama berada di sini.”

Wen tersenyum. “Kita lanjutkan diskusi ini di hotelmu. Dan kau harus mentraktirku bir. Sepakat?”

“OK. Soal itu gampang.” Aku lalu melambaikan tangan lagi. Pelayan perempuan itu datang lagi. Senyumnya makin lebar. Mungkin ia mengira kami akan memesan lagi. “Aku minta tagihannya.”

* * *

Bagian perdana ada di sini.

Mengingat Papua di Sittwe

Bagian 1

Saya terbangun mendadak.

Taksi yang saya tumpangi dari bandara sudah sampai di hotel. Dengan agak malas saya beringsut keluar. Menggendong tas lalu merogoh dompet dan menunaikan pembayaran. Menunggu uang kembalian tanpa tersenyum. Otot-otot wajah saya masih terlalu tegang karena tidak tidur semalaman. Di langit-langit mulut, masih terasa sisa siraman bir tadi malam.

“Bhine”. Kepala saya mengangguk lemah. Tidak sanggup membalas ucapan terima kasih.

Sittwe Hotel, satu-satunya hotel yang terletak di dekat pantai. Berjarak kurang dari sepuluh menit dari bandara. Seorang kawan merekomendasikan tempat ini. Tidak terlalu mahal dan pemandangannya dinilai dapat membantu otak berpikir lebih jernih. Kejernihan memang adalah kebutuhan utama untuk menyelesaikan pekerjaan selama berada di kota ini. Hotel ini strategis. Tidak jauh dari taman kota yang populer karena menjadi tempat berjumpanya aliran sungai Kaladan dan laut Bengali. Karpet merah menuju samudera Hindia yang mengitari hingga ke Indonesia, tempat darimana saya berasal.

Sittwe bisa ditempuh dengan penerbangan dari Yangon selama satu jam. Kota ini adalah ibukota negara bagian Rakhine, berada di bagian paling barat Myanmar, berbatasan darat dengan Bangladesh. Ada tiga sungai utama yang menjadi marka sejarah; Lay Mro, Mayu dan Kaladan yang muaranya tak jauh dari hotel penginapan saya. Ini adalah tempat di mana ambisi dan obsesi berjumpa dalam pepeperangan demi peperangan berdarah. Kita dapat melacaknya dari asal muasal penamaan kota ini yang tidak lepas dari cerita invasi Raja Burma, Bodaipaya di tahun 1784. Perang puputan terjadi, banyak tentara tewas dan Arakan tumbang menjadi koloni Burma. Mengenang para pemberani dari Arakan di masa tersebut, lokasi paling berdarah dari serial peperangan kemudian disebut Site Tway dalam bahasa Rakhine. Lidah orang Bamar memplesetkannya menjadi Sittwe.

“Kami adalah keturunan para pemberani,” kata Dolly Shein. Sebagai orang Arakan, wajar jika ia mengenang peristiwa tersebut sebagai monumen kegigihan. Kami adalah kawan sekelas. Sebelum datang belajar di Thailand, Dolly adalah seorang tenaga pengajar di sekolah swasta yang didirikan khusus untuk anak-anak Rakhine. Meski mengadopsi kurikulum resmi negara, mereka punya keleluasaan mengajarkan nilai-nilai lokal. Termasuk sejarah dalam versi tutur mereka. “Kami menolak kolonialisme. Dari dulu hingga sekarang”.

Saya tidak mendebatnya. Cerita tentang Pasukan Arakan (ရက္ခိုင့်တပ်မတော်) begitu akrab di telinga beberapa waktu terakhir. Unit gerilya revolusioner ini adalah tandem terbaik Tentara Pembebasan Kachin (ကချင် လွတ်မြောက်ရေး တပ်မတော်) yang rutin bertempur dengan Tatmadaw (တပ်မတော်) atau Tentara Nasional Myanmar. Tuntutan mereka adalah otonomi penuh untuk kelompok-kelompok etnis di wilayah utara Burma.

Wajar jika Dolly tampak begitu romantik mengenang masa lalu orang-orang Arakan. Jejak periode kegemilangan kerajaan Arakan dapat dengan mudah ditemukan. Kuil-kuil dari abad lalu tetap tegak berdiri meski telah berumur ratusan tahun. Bergeser sedikit ke utara Sittwe, terdapat kota Mrauk U yang merupakan dahulu merupakan ibukota kerajaan Arakan. Di masa itu, wilayahnya mencakup seluruh darat negara bagian Rakhine, sebagian wilayah negara bagian Kachin dan Bangladesh timur.

Sittwe juga adalah pusat revolusi politik.

Di tahun 2007, Revolusi Saffron dimulai dari sini. Para biksu muda bersama dengan kelompok demokratik lain membanjiri jalanan dan menuntut demokrasi serta pembubaran junta militer. Selama bulan Agustus hingga Oktober, demonstrasi massa berlangsung intens. Pemicunya adalah keputusan junta militer untuk memangkas subsidi bahan bakar minyak. Keputusan ini memicu kenaikan harga barang dan bahan kebutuhan pokok hingga 500%. Gelombang protes tanpa kekerasan ini disambut tangan besi militer. Represi masif menyasar mereka yang terlibat. Kenji Nagai, jurnalis asal Jepang terbunuh saat sedang meliput.

Ini adalah tujuan utama mengapa saya singgah di kota ini. Sittwe menduduki posisi penting dalam riset yang sedang saya kerjakan. Sebagai penanda sejarah, Revolusi Saffron adalah model kombinasi yang unik ketika sebuah momentum politik dari gerakan demokratik justru dipelopori oleh biksu-biksu muda. Mereka tentu saja tak sendiri. All Burma Federation of Student Unions (ABFSU) adalah tandem terbaik mereka di lapangan. Sebagai orang yang sedang belajar lebih jauh mengenai gerakan pelajar di Burma, tentu saja tidak mungkin bagi saya untuk mengacuhkan posisi Sittwe yang strategis secara historis dan politik.

Namun jujur, pembicaraan tentang peran Sittwe dalam mendorong demokrasi di Burma kurang mendapatkan sorotan utama. Orang di luar sana lebih senang membicarakan tentang Rohingya. Tentang bagaimana mereka tidak diakui, menjadi target rentan atas kekerasan para milisi yang disponsori negara, maupun yang langsung dilakukan aktor negara. Terutama di Indonesia, diskusi mengenai Rohingya selalu dibarengi dengan sentimen keagamaan yang merupakan hasil pembiakan dari repetisi argumen ahistoris media.

Banyak orang naif yang luput melihat bahwa konflik soal Rohingya tidak bisa dilepaskan dari sejarah pergolakan yang berlangsung pasca Perang Dunia II hingga awal dekade 1960an. Kekalahan Jerman, Italia dan Jepang ikut memicu sentimen nasionalisme yang menggelinding pada deklarasi negara-negara baru di kawasan selatan yang dahulu menjadi koloni.

Di Asia Tenggara, Indonesia misalnya menyatakan merdeka dari Belanda pada Agustus 1945, beberapa saat setelah dua bom atom menghancurleburkan Hiroshima dan Nagasaki.

Di tahun 1946, melalui Perjanjian Manila, Filipina mendapatkan otonomi penuh dari Amerika Serikat.

Di perbatasan antara Asia Tenggara dan Asia Selatan, pada Agustus 1947, sebuah Dominion -istilah ini kurang lebih dapat disetarakan dengan negara bagian- berdiri dengan cakupan wilayah lima provinsi; Balochistan, Punjab Barat, Sindh dan Sarhad dan Bengali Timur. Publik mengenal Dominion ini sebagai Pakistan. Di kemudian hari, provinsi Bengali Timur menyatakan kemerdekaannya dari Dominion dan menyebut dirinya Bangladesh.

Sementara itu, tidak lama setelah Pakistan berdiri, tak jauh dari mereka Serikat Burma mendeklarasikan kemerdekaannya dari Inggris, Januari 1948. Wilayah Burma -yang berbentuk federasi- mencakup wilayah Arakan yang berbatasan dengan wilayah Bengali Timur. Sebagian penduduknya adalah penganut Islam.

Dominion Pakistan yang mayoritas penduduknya beragama Islam -terutama Bengali Timur yang berbatasan darat- menjadi salah satu alasan mengapa para elit Muslim di sebagian wilayah Arakan -Rathedang, Maungdaw dan Butheetaung- mengajukan ide agar mereka diikutkan sebagai provinsi keenam Dominion Pakistan. Di bawah komando Abdul Kaseem, mereka berupaya agar daerah barat laut Arakan diikutkan sebagai bagian dari Pakistan yang baru berdiri tersebut.

Permintaan ini ditolak oleh Muhammad Ali Jinnah, salah seorang pendiri Pakistan.

Jinnah tidak ingin memicu konflik dengan Burma yang saat itu dipimpin Sao Shwe Taik dan U Nu. Kondisinya secara politik dan militer, posisi Burma jauh lebih kuat. Di level internasional, Pakistan yang baru saja resmi menjadi anggota PBB sadar bahwa mereka bukan tandingan Burma. Hitungan Jinnah tidak meleset. Tahun 1961, kelihaian diplomasi Burma sukses besar. Perwakilan Tetap Burma untuk PBB, U Thant diangkat menjadi Sekretaris Jendral PBB. Posisi ini dijabatnya selama 10 tahun.

Penolakan Jinnah tidak melunturkan semangat Kaseem dan para loyalisnya untuk menuntut pemisahan dengan Burma. Salah satu isu yang didorong Kaseem adalah soal posisi Muslim sebagai minoritas. Ini adalah periode di mana Rohingya sebagai terma politik muncul.

Jaminan dari Partai Komunis Burma bahwa minoritas Muslim akan dilindungi hak-hak demokratiknya, tidak sanggup meluluhkan Kaseem. Untuk mencapai tujuannya, Kaseem lalu membentuk kelompok mujahid untuk melancarkan gerilya. Targetnya jelas: pemisahan permanen dari Burma.

November 1948, darurat militer diberlakukan di negara bagian Rakhine karena intensitas serangan terhadap pos militer dan aparat keamanan oleh kelompok mujahid. Selama periode ini, masyarakat sipil menjadi korban. Orang-orang meninggalkan desa karena ketakutan. Kontak senjata dapat meletus kapan saja. Anak-anak, perempuan dan lansia menjadi kelompok paling menderita.

Juni 1949, kelompok mujahid sudah berhasil menguasai sebagian besar wilayah Arakan.

Maret 1950, operasi militer paling berdarah di sejarah kawasan itu dimulai. Kampanye militer ini berlangsung hingga tahun 1960. Korban di pihak sipil semakin bertambah banyak. Burma mendapat sorotan internasional. Perwakilan dari Tatmadaw menuduh bahwa berlarut-larutnya perang disebabkan karena para mujahid mendapatkan dukungan dari para imigran ilegal yang menyeberang masuk dari Bengali Timur. Klaim ini menjadi salah satu pijakan di kemudian hari soal sengketa tentang asal muasal orang-orang Rohingya di Arakan.

Penyebutan Rohingya memang dilematis.

Terma ini terlanjur dianggap sinonim dengan Islam. Meski awalnya, penyebutan ini adalah cara Francis Buchanan-Hamilton untuk merujuk sebuah wilayah di sekitaran Bengali Timur (Bangladesh hari ini). Rujukan ini penting bagi Buchanan-Hamilton yang sejak 1794 melakukan penelitian di daerah-daerah koloni Inggris. Selama dua puluh tahun, ia bekerja di Layanan Kesehatan Bengal milik Inggris sembari memperdalam pengetahuan mengenai tumbuh-tumbuhan dan binatang. Di kemudian hari, pria asal Skotlandia ini dikenang sebagai salah satu peletak dasar studi mengenai dunia botani dan zoologi di Asia Selatan. Dua karya utamanya –A Journey from Madras through the Countries of Mysore, Canara and Malabar (1807) dan An Account of the Kingdom of Nepal (1819)- tetap menjadi rujukan hingga hari ini.

Buchanan menggunakan kata Bengali “Rohang” untuk merujuk pada sebagian wilayah di bagian utara Rakhine yang di masa itu termasuk dalam domain kerajaan Arakan. Rohingya secara literer dapat diartikan sebagai “orang-orang Rohang”. Rujukan geografis ini yang kemudian digunakan Kaseem untuk mengindentifikasi daerah-daerah di barat laut Arakan sebagai wilayah Rohingya.

Setelah pemberontakan bersenjata yang dipimpin Kasee menemui kebuntuan di awal dekade 1960an, Zaffar Kawwal kemudian membentuk Partai Pembebasan Rohingya (RLP). Ini adalah organisasi bersenjata pertama yang secara terbuka menggunakan terma Rohingya sebagai identitas politik, penanda geografis dan proyeksi kultur.

Muhammad Jafar Habib, seorang intelektual yang menyandang gelar Doktor dari Universitas Rangon, ditunjuk sebagai Sekretaris Jendral. Habib adalah seorang yang berpengaruh dan dinilai sebagai faktor utama mengapa RLP populer di kalangan anak muda. Ia seorang pembicara yang gesit, orator tangguh dan seorang yang dikenal berkepribadian hangat. Banyak pihak mengatakan bahwa berkat Habib, kekuatan RLP meningkat signifikan. Dari 200 orang mujahid di awal pembentukannya, hingga akhirnya memiliki kekuatan antara 500-600 orang dalam tempo kurang dari dua tahun. Basis gerilya utama berada di sekitar hutan Buthidaung, tidak jauh dari perbatasan dengan Bangladesh.

RLP kemudian berhasil dihancurkan oleh Tatmadaw di tahun 1974. Kawwal dan beberapa loyalisnya menyeberang ke Bangladesh. Tapi tidak Habib.

Ia lalu mengkonsolidasikan kembali gerilyawan yang tersisa, tercerai berai dan tengah menderita demoralisasi. Ia mengajak Nurul Islam, seorang pengacara yang baru saja membuka firma hukum di Yangoon. Islam diminta Habib untuk menjadi wakilnya. Mereka berdua lalu mendirikan Front Patriotik Rohingya (RPF) di tahun 1974 dan menunjuk Muhammad Yunus sebagai Sekretaris Jendral. Yunus adalah seorang intelektual yang berprofesi sebagai dokter di salah satu rumah sakit di Yangon.

Habib menunjukkan pada sejarah bahwa ia benar-benar tahu apa yang sedang ia perjuangkan. Jika para pendahulunya menggunakan retorika agama -baik secara terbuka ataupun secara malu-malu- sebagai alat propaganda, penyandang gelar master Ilmu Sosial ini justru memperkenalkan pendekatan Marxisme Islam ke dalam kancah gerakan pembebasan Rohingya.

Faktor ini di kemudian hari melatari perpecahan di internal RPF pada awal dekade 1980an.

Yunus yang lebih konservatif kemudian kecewa dan memisahkan diri. Ia lalu membentuk Organisasi Solidaritas Rohingya (RSO). RSO kemudian menjadi kelompok paling militan dan konservatif. RSO mendapatkan dukungan dari Jamaah Islamiyah di Pakistan dan Bangladesh serta kelompok fundamentalis lain seperti Partai Islam (Hizb e Islami) asal Afganistan. Kuat dugaan, hubungan RSO dan Partai Islam didasarkan pada kesamaan cara pandang anti-komunisme.

RPF sendiri masih bertahan meski kemudian kekuatannya terus tergerus. Tahun 1986, Nurul Islam mengumpulkan sisa-sisa RPF yang tercerai berai oleh operasi militer masif di tahun 1978-1980, beberapa pembelot dari RSO untuk mendirikan Front Islam Arakan Rohingya (ARIF).

Dua organisasi tersebut lalu menjadi pemain utama dalam perjuangan bersenjata yang menuntut otonomi penuh sebagai wilayah tersendiri dalam federasi Myanmar. Hingga akhirnya pada 28 Oktober 1998, ARIF dan RSO memutuskan untuk bergabung dengan Organisasi Nasional Arakan Rohingya (ARNO). ARIF dan RSO menjadi sayap militer dengan nama Tentara Nasional Rohingya (RNA) dan ARNO sebagai sayap sipil-politik dengan kantor pusat di London, Inggris.

RNA hingga kini menjadi aktor utama dalam berbagai serangan terhadap pos-pos Tatmadaw di negara bagian Rakhine. Para gerilyawan RNA sebagian besar berasal dari korban sapu bersih militer di tahun 1978 yang menyasar RPF. Operasi yang diberi nama Raja Naga ini secara membabi buta menyasar warga sipil. Banyak anak menjadi yatim piatu dan kemudian tumbuh dengan dendam terhadap Tatmadaw. Mereka inilah yang kemudian direkrut oleh RSO -dan RNA di kemudian hari- untuk menjadi bagian dari kampanye bersenjata mereka. Hingga hari ini, daerah di bagian utara Rakhine masih merupakan daerah operasi militer.

Itu sebabnya, saya mahfum dengan tatapan curiga dari resepsionis saat ia memeriksa paspor.

“Saya Kristen, tinggal di Thailand dan saat ini sedang melakukan riset,” saya segera menjelaskan meski tidak pernah ditanya. Lalu saya mengeluarkan kalung salib yang melingkar di leher agar bisa jelas terlihat. Kalung murahan yang saya beli di Yangon atas saran seorang kawan.

“Kau membutuhkannya. Setidaknya sebagai proteksi. Juga sering-seringlah menggunakan kaos dengan lengan pendek agar tato di kedua tanganmu dapat terlihat. Itu penanda penting kalau kau bukan Muslim. Bertato dan punya kalung salib setidaknya akan menghindarkan kau dari selusin pertanyaan,” kata Khant saat beberapa malam lalu menjemput saya untuk makan malam. Saya tidak membantah.

Resepsionis di hadapan saya adalah seorang gadis yang kutaksir berumur kurang dari 25 tahun. Dari ciri-ciri fisiknya, aku menduga perempuan ini pasti seorang Arakan.

“Bamazaga pyaw daq lar?” perempuan itu bertanya.

“Nèh-nèh. Pyàwdaq badeh.”

Ia lalu tersenyum.

“Kamar 204. Sarapan setiap pukul 6.30 hingga 9.30 di restoran,” tangan kanannya menunjuk sebuah ruang kosong di samping kirinya. Aku mengangguk lemas.

“Minga laba”.

“Minga laba”, saya membalas lalu mengambil kunci dan segera menuju lift. Saya ingin segera tidur. Siang ini, berbaring di ranjang adalah hal yang paling saya inginkan. Urusan lain, biar saja saya tuntaskan malam hari.

* * *

Bagian selanjutnya di sini.

Rokok, Warung dan Harapan

Tak ada pedagang kecil yang menolak fakta bahwa rokok adalah yang paling cepat laku. Warung Paidi yang terletak di depan kantor Yayasan Dian Rakyat Indonesia atau YDRI di Winangun contohnya. Sudah 14 tahun ia berjualan di lingkungan ini. Saat itu warung yang dikelola Paidi dan istrinya adalah satu-satunya warung kelontong yang menjual beberapa kebutuhan dasar termasuk rokok.

Saat kutanya di siang tanggal 12 Mei 2010 sembari membeli sebungkus rokok, Paidi yang kini sudah berumur 59 tahun menjawab dengan bahasa Manado yang masih kental dialek Jawa. Paidi mengaku rokok adalah jenis komoditi yang paling cepat laku dibanding dengan barang lain semisal beras atau gula pasir.

“Paling capat itu depe perputaran. Capat ja laku.” Paling cepat perputarannya. Cepat laku.

Istrinya ikut bicara dan menambahkan bahwa siklus perputaran modal dalam rokok yang tergolong sangat cepat sangat membantu mereka sebagai pedagang.

“Torang kan juga ada kebutuhan tiap hari. Kalo ba harap di beras ato gula, stenga mati. Plang usaha ba jalang. Roko ini yang so paling banya ba bantu.” Kami juga kan punya kebutuhan sehari-hari. Kalau hanya mengharap di beras atau gula, sangat sulit. Usaha lambat berkembang. Rokok ini yang paling banyak membantu.

Tante Eti juga sepakat dengan pendapat di atas. Perempuan bernama lengkap Nurhayati kini sudah menjelang 45 tahun masa hidupnya, telah menjual rokok di lingkungan fakultas ISIP – UNSRAT di bawah salah satu anak tangga di gedung perkuliahan selama 5 tahun terahir. Ia mengaku bahwa pilihannya untuk hanya menjual rokok berdasarkan analisanya bahwa ini adalah produk yang paling cepat laku. Ia memang membutuhkan siklus keuntungan yang bisa cepat mengingat itu dapat mewujudkan harapannya untuk ikut membantu suaminya yang bekerja sebagai tenaga kebersihan di kampus yang sama.

“Qta ba jual di sini for baku tongka deng paitua yang jaga ba bersi di sini. Nyanda cukup kalo cuma mo andalkan paitua pe gaji.” Saya berjualan di sini untuk ikut menopang suami yang adalah tenaga kebersihan di sini. Tidak akan cukup jika hanya mengandalkan upah suami.

Maklum saja. Upah dari seorang tenaga kebersihan di salah satu fakultas di universitas negeri tidaklah cukup untuk menutupi pengeluaran rumah tangga.

Sedangkan Michael Lengkong tersenyum ketika mendengar pertanyaanku. Agak lama baru ia menjawab.

“Pa qta roko no yang paling capat ja laku. Kadua tu cap tikus.” Di warung saya, rokoklah yang paling cepat laku. Kedua adalah cap tikus.

Aku yang kini gantian tersenyum mendengar pengakuannya. Pria berumur 38 tahun ini sudah lebih dari 7 tahun berjualan. Kiosnya yang terletak di jalan masuk utama UNSRAT, sekitar 100 meter dari fakultas Sastra memang menjadi tujuan belanja cukup banyak mahasiswa. Ia berujar bahwa rokok adalah jenis produk yang sangat berjasa mengembangkan warungnya dan membantu menutupi pengeluaran rumah tangganya.

Sementara Kun yang ketika kutanyai sedang menunggui warungnya yang berada di samping RS Ratumbuysang, Manado juga mengaku bahwa rokok adalah jualannya yang utama. Ia bahkan rela begadang dan berjualan rokok 1 x 24 jam karena menurutnya semakin malam akan semakin banyak orang yang membutuhkan rokok. Pria yang sedikit mengalami gangguan pendengaran ini menjawab ala kadarnya pertanyaanku. Untung saja aku sempat membeli sebungkus rokok sebelumnya. Jika tidak, belum tentu ia akan mau melayani wawancaraku. Kun pasti akan lebih memilih menunggui warungnya.

Masih juga ada cerita ketika aku dan Amato singgah untuk membeli sepasang baterai di desa Kombi di sebuah warung ketika dalam perjalanan menuju desa Kolongan. Sepintas lalu saja ku tanya soal jenis produk jualanya yang paling cepat laku. Seorang ibu yang menjaga warung itu tak ragu menjawab: rokok. Aku tak kaget. Ini sudah ku duga sebelumnya. Di rak kaca yang ada di depan warungnya terpajang berbagai jenis rokok. Mayoritas ku kenal dan pernah ku hisap. Namun ada juga beberapa jenis yang tidak ku kenal. Desa-desa di Minahasa memang sering menghadirkan pengalaman baru soal rokok. Kita akan menemukan berbagai jenis merk rokok yang mungkin tak pernah di dengar sebelumnya. Harganya rata-rata berkisar antara Rp. 6.000,- hingga Rp. 8.000,- saja. Apa harga rokok-rokok ini karena menyesuaikan dengan kantong petani yang sudah sering kalap dihajar harga jual komoditi pertanian yang memiriskan? Entahlah. Aku tak mau berspekulasi.

Setelah hampir 10 tahun merokok, kini baru aku sadari bahwa ada begitu banyak rumah tangga yang menggantungkan asa melanjutkan hidup di tiap batang rokok. Bukan hanya untuk sekedar menutupi pengeluaran rumah tangga. Lengkong misalnya memulai usahanya dari menjual rokok sebelum kemudian berkembang dengan lebih banyak item jualan. Rokok adalah menu utama di tiap warung-warung kelontong. Lebih dari sekedar pajangan di rak namun sebagai awal dari sebuah harapan akan masa depan yang dirajut. Di Manado, cukup mudah akan ditemukan warung-warung yang buka 1 x 24 jam dan menjual rokok. Tentu semua itu dimulai karena ada alasan kuat bahwa masih mungkin mengais rejeki untuk bertahan hidup meski ketika penguasa negeri ini sedang tidur.

Jika ditanya tentang jenis rokok yang paling laris, jawaban yang muncul dari mulut para penjual ini berbeda. Ini tak lepas dari pangsa pembeli di sekitar tempat berjualan mereka. Di warung Paidi, rokok Surya dari Gudang Garam, Sampoerna Mild produksi HM Sampoerna serta LA Lights dari Djarum adalah yang paling laris. Biasanya Paidi menjual hampir semua merk rokoknya dengan batangan, kecuali beberapa merk rokok tertentu yang dianggap sepi pembeli.

“Lebe untung kalo mo jual batang dari pada mo jual bungkus. Mar sadiki lebe lama no mo abis.” Lebih menguntungkan jika menjual rokok per batang dari pada dibandingkan yang di jual per bungkus. Paidi menjawabku.

Sedangkan untuk Nurhayati, jenis rokok yang banyak laku adalah Sampoerna Mild. Di bawahnya berturut-turut ada rokok Class Mild dan Surya.

“Yang ba bli kan mahasiswa, jadi banya yang ja laku roko puti.” Yang membeli kan mahasiswa, jadi yang paling banyak laku adalah rokok putih.

Nurhayati menganggap bahwa Sampoerna Mild dan Class Mild produksi dari PT N.T.I Indonesia adalah rokok putih. Seperti pedagang rokok lain yang kutemui, bagi mereka rokok putih dikenali lewat bentuknya yang kecil dan tentu saja berwarna putih. Ia tak tahu bahwa kedua jenis rokok itu juga adalah kretek. Rokok khas Indonesia. Sangat banyak penjual dan pembeli rokok yang salah kaprah dengan menganggap bahwa rokok putih ditujukan kepada jenis rokok yang menggunakan filter dan batang rokoknya yang berwarna putih. Itu sebabnya, LA Lights juga akan disebut rokok putih jika ditanyakan pada para perokok yang belum mengerti. Di kepala mereka, kretek adalah penyebutan untuk rokok-rokok yang tidak menggunakan filter.

Sedangkan di warung milik Lengkong, Sampoerna Mild dan Surya adalah jenis yang paling digandrungi. Ketika kutanyakan tentang Djarum, ia menggeleng.

“Susah mo laku di sini.” Susah untuk laku di sini.

Menurutnya, rokok jenis itu jarang di minati dan menjadi resiko jika mengambil rokok produksi Djarum untuk dijual di warung. Meski tetap akan laku, tapi membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibanding dengan rokok jenis lain. Aku melihat ada LA Lights di situ. Ku tanyakan hal yang sama tentang LA Lights, ia mengatakan bahwa merk itu cukup laris. Terutama di kalangan remaja perempuan. Ia tak tahu kalau itu salah satu dari sekian jenis rokok Djarum yang aku tanyakan tadi. Ketika kutanyakan lagi soal apa yang ia tahu dan mengerti tentang Djarum, ia spontan menjawab: Djarum Black. Aku kini mengerti. Pabrik rokok akan lebih dikenal jika salah satu produknya menggunakan nama perusahaan seperti di atas misalnya. Tapi mungkin saja aku yang berlebihan.

Rokok memang berbeda dengan jenis produk yang lain. Ia tak akan kadaluarsa meski sudah melewati rentang waktu yang tak singkat. Malah bagi beberapa perokok, semakin lama rokok malah akan semakin nikmat. Alex Sartono adalah satu yang mempunyai pendapat seperti itu. Aktifis di sebuah lembaga swadaya masyarakat di Manado ini justru menikmati setiap hembusan asap rokok yang sudah cukup lama mengendap di warung.

“Rokok tak akan menimbulkan keracunan seperti mie instans, kopi sachet instan atau nasi dan lauk yang ada di warung makan karena tak ada batas kadaluwarsanya.” Ia menjawab sembari menghisap dalam-dalam rokok kreteknya.

Para pedagang rokok tak perlu khawatir akan berlomba dengan waktu ketika berjualan. Tak ada ancaman merugi karena item jualan harus segera di buang jika telah melewati tengat waktu. Rokok tak menggunakan bahan pengawet. Hanya ada tembakau dan cengkih yang bagi orang sepertiku dapat membantu jari jemari berdansa di atas tuts-tuts keyboard laptop.

Terlepas dari itu semua, rokok telah jadi bagian yang tidak bisa tidak sangat berjasa bagi kehidupan banyak orang. Mereka bertahan dari serbuan kebutuhan hidup yang semakin mahal dengan siklus keuntungan dari penjualan rokok meski kecil. Mereka adalah satu mata rantai dari sebuah lingkaran besar industri rokok di negeri ini. Mereka tak mengerti banyak soal isu bahaya kesehatan akibat rokok yang sekarang sedang ramai digembar-gemborkan.

Bagi orang-orang di atas, lebih penting adalah dapur yang terus mengepul ketimbang larut dalam perdebatan intelektual soal angka dan hasil penelitian.

“Kalo sampe roko nanti dapa larang, beso-beso kage sampe supermi somo dapa larang. Kan supermi le pake pengawet. Berarti somo bale ka jaman dulu dang torang.” Kalau sampai nanti rokok di larang, besok-besok pasti sampai mie instan akan dilarang. Ini berarti kita semua akan kembali ke jaman dahulu kala.

Itu ungkapan Nurhayati ketika ku jelaskan bahwa aku sedang melakukan penelitian terkait industri rokok kretek. Ia benar. Kini tak ada lagi produk jualan yang tak menggunakan pengawet. Jika rokok yang tak menggunakan pengawet akan dilarang, mungkin besok lusa semua yang menggunakan bahan pengawet akan dilarang juga. Aku tak sanggup membayangkan hal itu. Sebab jika hal itu benar terjadi, mungkin Nurhayati adalah orang pertama yang akan menutup warungnya dan berhenti jualan.

* * *

Catatan ini dibuat sebagai suplemen saat melakukan riset mengenai Cengkih di Minahasa, khususnya di kecamatan Sonder dan Kombi. Penelitian ini disponsori oleh Indonesian Society for Social Transformation (Insist) Jogjakarta. Lebih lanjut mengenai rokok, cengkih dan tembakau dapat dibaca di buku yang berjudul Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota.

Cengkih Dalam Nol Rupiah

Banya orang ba pikir kalo jadi petani cingke itu orang kaya. Padahal nyanda bagitu. Kalo cuma mo ba harap di cingke, nyanda mungkin jadi kaya”. Banyak orang berpikir bahwa jika menjadi petani cengkih itu orang yang kaya. Kenyataan tidak begitu. Kalau hanya bergantung di cengkih, tidak akan mungkin menjadi kaya.

Itu ungkapan Yohan Lanes. Satu dari ratusan petani cengkih di desa Kolongan Atas I, kecamatan Sonder, Minahasa. Ia mengungkapkan itu saat saya datang mewawancarainya di malam tanggal 4 Mei 2010. Anggapan publik yang sebenarnya juga sempat ada di kepala saya. Saya masih ingat dengan heboh harga cengkih ketika masa presiden Abdurrahman Wahid. Saat itu para penambang emas coklat terutama di Minahasa seperti mendapatkan ganjaran yang setimpal atas kerja kerasnya.

Rumah Yohan Lanes sederhana meski terdiri dari dua lantai. Ada halaman yang sesak oleh beberapa jenis bunga di depan rumahnya. Aku tak mengenali jenisnya. Halaman rumah itu berdampingan dengan sebuah warung kecil persegi panjang dengan ukuran 6 x 2 meter yang tak kalah sesak. Di dalam warung itu, Lanes menjual berbagai barang kebutuhan pokok. Ada dua karung beras yang berdempetan di depan sebuah meja kayu biasa yang berubah fungsi sebagai meja kasir. Ada juga sebuah rak ala kadarnya yang dirakit dari kayu yang di cat hitam sebagai tempat barang-barang sejenis gula, kopi dan garam. Rak ini terletak di samping kiri meja kasir. Di samping kanan meja kasir ada sebuah lemari kecil yang memajang berbagai merk rokok. Sedang di langit-langit, terdapat sebuah kayu kecil seukuran jempol tangan yang melintang tempat gantungan berbagai shampo, detergen dan beberapa merk kopi instan sachet. Di atas meja kasir, terletak toples-toples yang berisikan barang jualan lainnya. Dinding warung itu belum di lapisi semen sehingga masih tampak jelas susunan batu bata yang lengket oleh campuran semen dan pasir. Tampak jelas sisa-sisa air semen yang kini mengeras. Seperti ukiran alam.

Rumah ini adalah saksi hidup kejayaan harga cengkih pada masa lalu. Di tiap senti tersimpan cerita bagaimana kerja keras dan pengorbanan seorang petani cengkih. Lantai paling atas rumah itu terbuat dari kayu. Khas Minahasa dengan sebuah anak tangga yang ada di samping kanan. Gurat-gurat di kayu itu sudah kelihatan berumur. Lantai dasar rumahnya berlantai semen yang kini berwarna hitam karena sering bercampur tanah yang dibawa tiap alas kaki yang masuk ke rumah itu. Ada sebuah TV dengan ukuran 21 inchi yang terletak di paling atas meja kayu dengan tingkap-tingkap yang dipenuhi buku. Ada dua buah alkitab terlihat di sana. Tampak empat set kursi plastik yang berupaya di tata agar menarik meski ruangan tamu itu tetap sesak karena ada juga sebuah meja bulat rendah yang juga dari plastik. Ada sebuah lemari kayu yang kira-kira setinggi dua meter yang menempel di dinding sebelah kiri TV. Lanes lalu mengajak saya ke warungnya agar bisa diwawancara sembari menanti pembeli datang.

 

PUPUK DALAM RUPIAH

“Qta tiap 6 bulan musti ba pupuk cingke. 25 sak tiap kali ba pupuk. Karna urea nimbole talalu banya. Tiap karong yang brat 25 kilo, depe harga skarang 75 ribu per karong.” Saya mesti melakukan pemupukan cengkih saya setiap 6 bulan. 25 sak setiap kali pemupukan. Karena urea tak boleh berlebihan. Setiap karung pupuk beratnya 25 kg, harganya kini Rp. 75.000,- per karung. Yohan Lanes memulai penjelasannya sejak masa pra panen.

“Biasanya kwa itu cingke tiap dua taong ja ba bua. Mar ini so taong ka tiga baru ba bua. Pangaru cuaca stow. Kalo ujang trus, cingke memang stenga mati mo kaluar bunga. Napa rupa skarang ujang trus. Kage jatong samua itu depe bunga.” Biasanya cengkih berbunga dua tahun sekali. Tapi kini sudah tahun ketiga lalu mulai berbunga. Mungkin pengaruh cuaca. Kalau hujan terus menerus, cengkih sulit untuk berbunga. Sekarang misalnya hujan terus berlangsung. Bisa saja merontokkan semua kembang cengkih.

Kebetulan hujan sedang rintik di luar ketika Lanes bicara. Ia mengekspresikan ketakutannya jika hujan terus berlangsung. Hujan terus menerus jelas akan berimbas pada hasil panen cengkihnya. Air hujan sering merontokkan setiap kembang di cengkih sehingga tak sempat dewasa hingga siap dipanen. Lanes juga tak habis pikir mengapa kini siklus panen semakin lama. Dari yang biasanya setiap dua tahun, kini ia harus menunggu lebih lama. Tiga tahun untuk sebuah penantian.

Panen raya di Minahasa terakhir memang terjadi pada tahun 2007. Kemungkinan besar panen raya akan terjadi pada tahun 2010 ini. Cengkih memang membutuhkan sinar matahari yang cukup agar dapat maksimal berbunga. Perubahan cuaca beberapa tahun terakhir memang ikut berimbas pada siklus panen cengkih. Di Minahasa, cengkih-cengkih yang tumbuh di daerah lebih rendah dan dekat dengan pantai sudah lebih dahulu bersiap memasuki masa panen ketimbang cengkih yang berada di daerah yang lebih tinggi. Desa Senduk yang ada di kecamatan Tanawangko misalnya, para petani cengkihnya sudah bersiap menyongsong panen yang diperkirakan bulan Juni nanti. Sedangkan di daerah Sonder di mana Yohan Lanes tinggal, diperkirakan mengalami panen sekitar bulan Agustus.

Mengharapkan hasil lebih saat panen cengkih membuat banyak petani seperti Lanes melakukan pemupukan. Sejak usai panen di tahun 2007, dengan jarak waktu setiap enam bulan sekali melakukan pemupukan maka telah enam kali Lanes memberi cengkihnya urea agar semakin lebat ketika berbunga. Jika ditotal dengan anggaran sekali pemupukan yang membutuhkan Rp. 1.875.000,- untuk membeli 25 karung pupuk urea yang masing-masing beratnya 25 kilogram, maka akan ada Rp. 11.250.000,- yang telah Lanes habiskan untuk hanya untuk membeli pupuk. Tapi hitungan di atas bisa saja bertambah jika masih harus ditambah dengan biaya kerja tenaga buruh yang disewa untuk melakukan pemupukan seperti yang di lakukan oleh para petani lain. Mereka umumnya adalah petani yang memiliki di atas 500 pohon cengkih.

“Untung le pa qta so nyanda mo sewa orang kalo ba pupuk. Ada anak yang jaga bantu. Kalo yang depe pohong cingke banya, dorang ja pake orang for ba pupuk.”  Saya beruntung tak harus menyewa orang lain ketika melakukan pemupukan. Ada anak laki-laki saya yang sering membantu. Kalau petani yang mempunyai banyak pohon cengkih, biasanya mereka akan menyewa orang untuk melakukan pemupukan.

Lanes tersenyum kecil mengingat bahwa anak laki-lakinya telah ikut membantu menghemat pengeluarannya sebagai petani cengkih. Setidaknya ia secara tidak langsung telah berhasil menabung. Maklum saja. Masih ada kebutuhan lain di daftar tunggu.

Yohan Rantung memiliki cerita yang tak jauh berbeda. Petani cengkih yang sekampung dengan Lanes ini harus merogoh Rp. 1.000.000,- untuk mengupah setiap orang buruh pemupuk setiap kali melakukan pemupukan. Ia menggunakan dua orang buruh yang akan bertanggung jawab terhadap 800 pohon cengkih yang ia punya. Rantung punya tiga lahan cengkih. Hanya satu kebun cengkihnya yang terletak di wilayah kecamatan Sonder. Sedangkan dua kebun cengkihnya yang lain terdapat di daerah Munte, Minahasa Selatan. Pemupukan ini biasanya dilakukan para petani cengkih untuk pohon cengkih yang sudah dikategorikan dewasa karena berumur lebih dari 20 tahun. Untuk cengkih yang masih dibawah 20 tahun belum menggunakan pupuk.

Dein Tujuwale adalah contoh petani yang tak menggunakan pupuk untuk pohon-pohon cengkihnya yang masih berumur 15 tahun. Menurut petani yang tinggal di desa Tincep kecamatan Sonder ini, keputusan ini dilakukan sebagai langkah penghematan biaya. Ia secara jujur mengaku bahwa pupuk telah menempati daftar urut di bawah hal lain yang lebih mendesak. Seperti kebutuhan dapur.

Yohan Lanes hanya punya 200 pohon cengkih yang tersebar di dua kebun yang masih berada di wilayah desa Kolongan Atas I. Total luasnya sekitar 1,5 hektare. Asumsinya, dalam setiap hektare akan terdapat 144 pohon cengkih jika ditanami dengan jarak tanam ideal 8 x 8 meter. Lanes sendiri tak tahu berapa ukuran pasti lahan cengkih yang ia miliki. Para petani cengkih memang jarang mengukur kebun cengkihnya berdasarkan luas tanah. Mayoritas dari mereka lebih ingat berapa jumlah pohon cengkih produktif yang mereka miliki. Rantung lebih mengingat angka 800 sebagai jumlah pohon cengkihnya yang produktif ketimbang ingat berapa total luas lahannya yang ditanami cengkih. Seorang petani cengkih lain di desa Tincep, kecamatan Sonder yang bernama Dein Tujuwale juga tak tahu pasti berapa ukuran lahan cengkihnya. Tapi ketika kutanya jumlah pohon yang ia miliki, ia dengan cepat menjawab: 100 pohon.

 

BERSIH ITU MAHAL

Jarak kebun milik Yohan Lanes tak terlalu jauh. Sekitar 2 kilometer ke arah timur kampung ini. Tepatnya di sekitar pegunungan Lengkoan. Kebun yang ia miliki adalah hasil warisan pembagian dari orang tuanya.

“Dulu qta pe papa yang ba tanam cingke. Mar serta qta so kaweng, qta so mulai ba tanam cingke. Karna qta pe papa dulu bilang, sapa yang da ba tanang cingke, tu kobong for dia.” Dulu ayah saya yang menamam cengkih. Tapi setelah menikah, saya mulai juga menanam cengkih. Karena ayah saya dulu bilang, siapa yang menanam cengkih, kebun itu akan jatuh padanya sebagai warisan.

Hampir semua petani cengkih di desanya mendapatkan kebun dari warisan orang tua. Cengkih yang tumbuh di atas dua kebun yang kini di miliki Lanes, di tanamnya ketika masih muda dulu. Ketika ia baru menikah. Sebab itu jadi syarat dari sang ayah. Siapa yang menanam cengkih, akan mendapatkan cengkih beserta lahan itu sebagai hadiah. Namun di desanya Kolongan Atas I memang telah banyak petani yang membeli lahan di luar wilayah Sonder. Ada yang membeli tanah sekaligus dengan pohon cengkih di atasnya, namun ada juga yang membeli lahan kosong kemudian menanaminya dengan cengkih.

Yohan Rantung ketika kuwawancarai di rumahnya di malam yang sama setelah wawancara dengan Lanes usai. Ia mengaku melakukan pembelian tanah di luar wilayah Sonder ketika ia mendapatkan keuntungan dari hasil panen cengkih. Alasan Rantung melakukan ekspansi sangat sederhana. Ia membeli cengkih di daerah yang dekat dengan pantai agar mendapatkan hasil yang lebih baik. Harga tanah yang ia tebus juga bervariasi. Tergantung apakah masih lahan kosong atau sudah ditanami cengkih. Lahan yang sudah ditanami cengkih juga masih harus menilai umur dari pohon-pohon cengkih tersebut. Jika cengkih berada di umur produktif, tentu harganya akan semakin mahal. Tanah dengan pohon cengkih yang masih muda juga cukup mahal harganya. Apalagi cengkih yang sudah mulai berbunga untuk pertama kali. Biasanya umur cengkih sudah sekitar lima tahun.

Namun mengharap hasil panen yang baik sangat bergantung pada pemeliharaan dan perawatan kebun cengkih tersebut. Itu sebabnya setiap petani cengkih mempunyai jadwal tetap untuk membersihkan lahan cengkihnya dari rumput liar agar tak mengganggu perkembangan cengkih. Lanes juga demikian.

“Tiap kali se bersi kobong qta pake 30 orang. Tiap orang ja bayar 35 ribu. Itu cuma karja 6 jam. Kalo mo pake satu hari musti iko gaji hari. Skarang 50 ribu tiap orang. Qta tiap 3 bulan kase bersi kobong satu kali.” Setiap kali membersihkan kebun, saya mengupah 30 orang. Setiap orang dibayar Rp.35.000,-. Upah tersebut hanya untuk bekerja selama 6 jam. Kalau ingin menyewa mereka seharian penuh, mesti mengikuti upah harian yang berlaku di sini. Sekarang Rp.50.000,- per orang. Saya setiap 3 bulan sekali membersihkan kebun.

Aku membantu menghitung setiap pengeluaran yang Lanes keluarkan. Kalkulator di hapeku bergantian menekan angka dan memunculkan angka yang jauh lebih besar. Kami sama-sama kaget dengan banyaknya uang yang habis untuk biaya perawatan kebun cengkih selama rentang tiga tahun terakhir. Biaya pembersihan kebun untuk 200 pohon saja sebesar Rp.1.050.000,- setiap tiga bulan. Nominal itu belum final. Jika dalam setahun kebunnya dibersihkan sebanyak empat kali, itu berarti ada dua belas kali Lanes membersihkan kebunnya selama tiga tahun terakhir. Total jenderal, ada Rp.12.600.000,- untuk biaya pembersihan kebun. Itu bukan jumlah yang sedikit.

Namun ada juga petani cengkih yang membersihkan ladangnya setiap 6 bulan sekali. Dein Tujuwale adalah salah satu contohnya. Ia memilih rentang waktu yang agak lama karena pembersihan kebunnya dilakukan seorang diri. Lahan cengkihnya tak sampai satu hektare sehingga masih bisa ditangani sendiri. Lagipula, pekerjaan sampingannya sebagai seorang buruh tani di sawah membuat ia harus membagi waktu antar profesi ini. Sedangkan Yohan Rantung sendiri menetapkan empat bulan sekali untuk membersihkan lahannya. Setiap kali membersihkan 800 pohon cengkihnya, ia harus mengeluarkan Rp.5.000.000,- sebagai upah buruh tani yang ia pekerjakan. Mengingat biaya yang tidak sedikit inilah, sehingga Rantung tak mengambil pilihan seperti Lanes.

 

HAMA ULAT BERARTI PENGELUARAN EKSTRA

Dan layaknya tanaman tahunan yang lain, cengkih juga rentan terserang hama. Ulat adalah hama yang sangat merepotkan banyak petani cengkih sebab menyerang batang pohon cengkih yang dapat mengakibatkan cengkih menjadi layu dan kering. Para petani seperti Lanes tidak menggunakan obat pembasmi hama untuk mengatasi persoalan ulat ini. Menurut anggapan mereka hal itu tidak efektif. Mereka punya cara sendiri. Yaitu dengan menyewa para pencari ulat.

“Kalo satu ekor, torang ja bayar saribu lima ratus. Pa qta taong ini bole tiga ratus ribu da abis for ongkos tu tukang cari ulat.” Untuk setiap ekor, kami membayar Rp. 1.500,- Tahun ini saya menghabiskan Rp 300.000,- untuk membiayai pembasmian ulat.

Ungkap Lanes ketika kutanyakan soal itu. Ia mengaku mengupah setiap pencari ulat dengan bayaran Rp.1.500,- untuk setiap ekor ulat yang ditemukan. Harga ini relatif. Seorang buruh tani yang ada di desa Kombi, kecamatan Kombi bernama Robby Tumilantow misalnya. Ia mengaku mendapat bayaran Rp.2.500,- per ekor ulat yang berhasil ditemukan di batang pohon cengkih. Namun semua nominal pembayaran upah itu benar-benar tergantung dari negosiasi awal dari si buruh tani dan pemilik lahan cengkih. Lanes sendiri mengeluarkan biaya hingga Rp.300.000 di tahun ini saja sebagai ongkos perang melawan hama ulat.

Sedang untuk Yohan Rantung, Rp.2.000,- adalah jumlah yang dianggapnya layak untuk setiap ekor hama ulat yang berhasil di keluarkan dari dalam batang pohon. Ia adalah salah seorang petani yang cukup dipusingkan dengan masalah hama ulat ini. Tahun ini saja, ia harus merogoh koceknya sebesar Rp.1.500.000,- untuk membayar pembasmian hama. Jumlah yang besar memang mengingat dalam satu batang pohon bisa saja terdapat hingga 10 ekor ulat yang jika tidak segera dibasmi akan berpotensi menghancurkan produktifitas cengkih. Dein Tujuwale sedikit beruntung karena pohon-pohon cengkihnya belum terjangkiti hama ulat. Jadi ia tak perlu pusing memikirkan pos pengeluaran untuk menyewa para pencari ulat. Terakhir kali sewaktu mengunjungi lahan cengkihnya, ia hanya mendapatkan satu ekor ulat saja.

 

SETIAP ANAK ITU BERNILAI

“Skarang kalo mo beking tangga, ngana musti se kaluar lima pulu ribu.” Sekarang kalau ingin membuat tangga, kau harus mengeluarkan Rp. 50.000.

Lanes seperti mengucapkan semuanya dalam satu tarikan nafas aku ketika kusodori tanya tentang berapa banyak biaya yang ia keluarkan ketika masa panen tiba. Ia memuntahkan semua beserta letupan emosi. Mungkin ia cemas dengan harga cengkih sekarang. Entahlah. Aku tak berani menebak. Tapi kegusaran itu tak serta merta hadir begitu saja. Lanes punya pengalaman bahwa setiap mendekati panen harga cengkih selalu jatuh. Harga akan kembali naik jika panen telah usai.

“Mungkin so ada permainan kang?” Mungkin saja telah ada permainan, ya?

Lanes malah berbalik bertanya padaku soal kemungkinan ada kongkalingkong harga beli cengkih hari ini. Aku tak menjawab pertanyaan itu. Hanya senyum ringan yang sebenarnya bukan jawaban yang ia harapkan.

Lanes harus membayar Rp.50.000,- untuk setiap tangga yang harus digunakannya. Setiap kali panen, ia membutuhkan 13 buah tangga. Tiga tangga adalah sebagai cadangan jika nanti dalam masa panen ada tangga yang rusak atau patah. Efektifitas waktu. Itu alasannya. Sebab jika terlalu lama, bunga cengkih akan segera mekar. Hal ini tak disukai oleh para petani cengkih seperti Lanes sebab akan membuat bobot cengkih berkurang jauh dan memburuk secara kualitas jika nanti dijemur sampai kering. Ini berarti ada lagi tambahan pos pengeluaran Rp.650.000,- untuk membiayai peralatan saat panen.

Dein Tujuwale mengaku mengeluarkan Rp.30.000,- untuk setiap tangga yang akan digunakan ketika panen. Lebih murah karena ia membuat sendiri tangga tersebut sebagai langkah penghematan. Tujuwale hanya mengeluarkan biaya untuk pembelian tali dengan panjang kurang lebih 10 meter yang akan digunakan untuk mengikat tiap sendi sambungan bambu dan anak tangga serta biaya untuk menebus sepasang bambu untuk setiap tangga. Tujuwale membayar Rp.10.000,- untuk tiap ujung bambu. Setiap tangga membutuhkan sepasang bambu. Lagipula, ia hanya membutuhkan tujuh tangga saja saat panen. Lima tangga disiapkan untuk para buruh pemetik, dan sisa tangganya adalah untuk cadangan jika ada tangga yang rusak atau patah saat pindahkan. Namun harga Rp.50.000,- yang dikeluarkan Lanes memang adalah umum. Yohan Rantung mengaku mengeluarkan jumlah yang sama untuk pembelian tangga. Ia membeli 50 tangga untuk menyongsong panen di mana harus mempekerjakan 40 orang untuk menyelesaikan proses pemetikannya. Sedia payung sebelum hujan.

 

LALU, BERAPA HARGA 1 LITER CENGKIH?

“Blum for ongkos tu tukang pete. Tiap liter skarang depe bayaran 1.500 pera sampe 2.000 pera. Blum lagi tu dorang pe roko tiap hari. 1 orang bole 1 bungkus tiap hari. Blum tamba dorang pe makang.” Itu belum termasuk ongkos buruh pemetik. Untuk setiap liternya sekarang bayarannya Rp.1.500,- hingga Rp.2.000,- Belum lagi ditambah dengan biaya rokok perhari. Ssatu bungkus rokok untuk setiap buruh pemetik.

Sedikit keras suara Lanes terdengar. Aku menangkap ketegasan. Ia ingin meyakinkan aku bahwa itulah harga sewa buruh pemetik belum termasuk biaya makan. Buruh pemetik dibayar Rp.1.500 per liter untuk setiap cengkih mentah yang baru dipetik. Yohan Rantung juga mengaku membayar dengan harga yang sama dengan Lanes untuk setiap liter cengkih yang baru dipetik buruhnya. Penetapan harga ini adalah hasil pembicaraan awal antara buruh pemetik dengan pemilik lahan sebelum kerja panen dimulai. Ini juga bukan harga yang tetap. Masing-masing harga ini akan beranjak naik menjelang masa akhir panen. Akan ada selisih kenaikan upah antara Rp.500,- hingga Rp. 1.000,- yang harus menjadi tanggungan pemilik cengkih. Hal ini dilakukan agar buruh pemetik mau melakukan pemetikan di pohon-pohon cengkih yang berbunga jarang. Patokannya adalah upah sewa harian buruh.

“Depe ukuran tatap gaji hari yang 50 ribu itu no. Kalo depe pohong ba bua sadiki barang 20 ato 30 liter trus tatap 1.500, nyanda ada yang mau. Kalo 2 ribu kan so bole mo dapa dorang pe gaji hari.” Ukurannya tetap adalah upah sewa buruh harian yang Rp. 50.000,- seperti sebelumnya. Kalau pohon cengkihnya berbuah sedikit, sekitar 20-30 liter namun buruh tetap dibayar Rp 1.500,- maka tak akan ada yang mau untuk bekerja. Kalau dibayar Rp. 2.000,- kan sudah bisa seperti membayar upah harian mereka.

Begitu alasan Lanes soal kenaikan upah buruh pemetik tersebut. Sesuatu yang akhirnya menjadi kesepakatan tak tertulis antara petani cengkih dengan para buruh petik yang datang mencoba peruntungan setiap kali musim panen tiba.

“Qta tu hari baru-baru da ba jual cingke yang so ta lebe dulu ba buah. Depe harga 48 ribu per kilo. Ya, so lumayan itu. Yang penting nyanda tombo.” Saya beberapa hari yang lalu menjual hasil dari beberapa pohon cengkih yang memasuki masa panen lebih awal. Harganya Rp.48.000,- untuk setiap kilogramnya. Ya, itu sudah lumayan. Yang penting tidak merugi banyak.

Kembali Lanes menjelaskan padaku soal posisi harga jual cengkih terakhir yang berada di titik Rp.48.000,- per kilogram kering. Ia memang tak mendapatkan untung jika harga jual tetap seperti itu. Namun sudah cukup untuk menghalau kegalauan bahwa ia tak merugi. Menanti selama tiga tahun namun merugi tentu ingin dihindari semua petani cengkih, tak hanya Lanes.

 

MENGHITUNG MAKANAN

“Ada 6 orang di ruma ini. Qta deng maitua, qta pe anak laki-laki deng depe bini, qta pe anak parampuang deng cucu satu. Kalo cuma torang, 30-40 ribu so cukup for makang tiap hari. Nyanda talalu mahal lantarang torang ja ba tanang rica deng batang bawang. Depe lebe ja jual di ni warong for ba tongka.” Ada 6 orang di rumah ini. Saya dan istri, anak laki-laki saya dengan istrinya, anak perempuan saya dan satu orang cucu. Kalau hanya kami berenam, 30.000-40.000 rupiah sudah cukup untuk biaya makan setiap hari. Tidak terlalu mahal karena kami juga menanam cabe dan batang bawang. Kelebihan dari panen itu di jual di warung ini untuk ikut menyangga.

Itu jawaban Lanes atas pertanyaanku. Jumlah pengeluaran untuk biaya makan sehari-hari memang tak terlalu banyak karena berhasil disiasati. Lanes dan keluarganya tak harus membeli cabe dan batang bawang karena itu bisa diambil dari kebun mereka. Ia memang menanam cabe, batang bawang dan jagung sebagai tanaman sela. Letaknya masih di lahan yang sama dengan cengkih. Di tanam di antara pohon-pohon cengkih yang menjulang. Minyak kelapa juga tak terlalu mahal biayanya karena keluarga mereka menggunakan minyak kelapa tradisional yang harganya jelas jauh lebih murah dibanding dengan minyak kelapa produksi pabrik. Belum lagi, ia masih menggunakan kayu bakar untuk memasak sehingga bisa menekan penggunaan berlebih minyak tanah. Lanes mengaku masih mempunyai dua buah tungku di dapurnya. Ada rasa syukur dalam hatinya karena keluarganya tak terlalu banyak bertingkah soal makanan. Sering memang ada masalah soal harga ikan laut yang mahal. Namun selalu Lanes berusaha mencari solusi.

Namun jumlah ini akan membengkak tajam ketika memasuki masa panen. Sebabnya tak lain karena Lanes harus juga menyediakan makan untuk 10 orang buruh pemetik yang dipekerjakannya.

“Mar kalo tamba tukang pete 10 orang, tu pengeluaran jadi 100-120 ribu per hari. Torang kan musti kase jaminan bagus pa tu tukang pete. Jadi 1 hari dorang musti 3 kali makang. Kalo nyanda, dorang mo lari. Blum tamba dorang pe roko. Mujur kalo dapa yang nyanda ja ba roko.” Tapi kalau ditambah buruh pemetik sebanyak 10 orang, pengeluaran akan membengkak hingga 100-12o ribu rupiah setiap harinya. Kami kan harus memberi konsumsi yang terbaik untuk para buruh pemetik. Jadi setiap hari, para buruh ini harus makan 3 kali. Kalau tidak, mereka akan kabur. Belum lagi ditambah dengan rokok untuk mereka. Akan beruntung jika mendapatkan buruh yang tak merokok.

Saya hanya tersenyum mendengar bahwa ada kasus buruh pemetik yang mangkir dari kerjanya karena pelayanan yang diberikan oleh majikan mereka tak sesuai dengan berat kerja yang harus mereka jalani. Biayanya membengkak hampir tiga kali lipat dari kebutuhan normal harian. Kisaran Rp.100.000,- hingga Rp.120.000,- setiap hari dikeluarkan Lanes untuk menyediakan makanan bagi buruh pemetik. Tidak boleh tak ada ikan. Itu semua masih harus ditambah dengan biaya pengadaan rokok untuk buruh pemetik. Jika satu bungkus rokok harganya Rp.7.000,- maka Lanes harus mengeluarkan Rp.70.000,- per hari untuk sepuluh bungkus rokok. Ia merasa tertolong jika ada buruh pemetik yang tidak merokok. Sayang sejauh ini tak pernah ia mendapatkan buruh pemetik yang tak merokok.

“Parna ada kajadian rupa itu. Bukang cuma 1 kali. Itu riki beking torang skarang ja bapikir kalo mo kase sadia jaminan for tu tukang pete.” Pernah sekali waktu ada kejadian seperti itu di sini. Bukan hanya sekali. Hal itulah yang membuat kami berusaha yang terbaik jika menyediakan konsumsi untuk para buruh pemetik.

Lanes menegaskan lagi soal itu ketika aku bertanya apa pernah di desa ini terjadi peristiwa buruh pemetik yang pulang dan tak jadi meneruskan kerja karena merasa tak puas dengan konsumsi yang disediakan oleh pemilik cengkih. Aku segera mengejar dengan pertanyaan apa ia pernah ditimpa musibah seperti itu?

“Mar untung pa qta blum parna.” Tapi saya beruntung belum pernah ditimpa kejadian itu.

Ia merasa beruntung tak pernah tertimpa kejadian seperti itu. Lanes menatapku yang sedang memperbaiki posisi alat perekam agar lebih dekat ke arahnya. Namun Dein Tujuwale menambahkan bahwa kadang ia harus mengeluarkan pengeluaran ekstra untuk buruh pemetik. Yakni menyediakan alkohol sebagai pengusir rasa dingin bila kehujanan. Alkohol yang biasa ia sediakan adalah cap tikus karena lebih murah. Cap tikus adalah arak tradisional fermentasi nira khas Minahasa.

 

CENGKIH KERING, UANG BERKURANG

“Kalo somo oras ba pete, qta le musti se sadia tarpal for pake nanti ba jumur. Qta biasa ja pake 6-7 tarpal. 1 tarpal depe harga 25 ribu. Itu yang ukuran 2 x 3 meter. Qta biasa ja jumur di kobong karna kalo jumur di kampung, so nyanda ada tampa.” Kalau sudah memasuki musim panen, saya juga harus menyediakan terpal yang akan digunakan untuk menjemur cengkih. Saya biasanya menggunakan 6-7 buah terpal. 1 terpal kini harganya Rp.25.000,- Itu yang berukuran 2×3 meter. Saya biasa menjemur cengkih saya di kebun karena jika menjemur di kampung, sudah tak ada lagi cukup ruang.

Hitungan belum selesai begitu saja. Masih ada soal pembelian terpal yang akan digunakan sebagai alas untuk menjemur cengkih. Lanes biasa menjemur cengkihnya di kebun karena ia tak punya cukup ruang jika harus menjemur semua cengkihnya di halaman rumah. Untuk menjemur seluruh hasil cengkihnya, butuh enam sampai tujuh buah terpal dengan lebar 2 x 3 meter. Harganya sekarang Rp.25.000,- per eksemplar terpal. Biasanya terpal-terpal itu dibeli Lanes di Manado. Untuk pengadaan enam lembar terpal, Lanes butuh Rp.150.000,-.

Karena dijemur di kebun, otomatis Lanes harus mengangkut cengkihnya ke rumah. Untuk hal ini, ia masih harus menambah lagi satu item pengeluaran.

“Jadi masi da tamba le ongkos for mo se kaluar tu cingke dari kobong ka kampung. 50 ribu dorang ja minta for tiap karong yang depe barat 50 kilo kiring. Co ngana kali jo kalo qta pe cingke ada 2 ton. Musti tamba le 2 juta.” Jadi masih lagi harus ditambah dengan biaya untuk mengangkut cengkih dari kebun ke kampung. 50 ribu rupiah mereka minta untuk setiap karung yang beratnya 50 kilogram cengkih kering. Coba anda kalikan jika cengkih saya sebanyak 2 ton. Mesti menambah lagi 2 juta rupiah.

Setiap karung yang berisi cengkih kering seberat 50 kilogram, Lanes dikenakan biaya angkut sebesar Rp.50.000,- oleh para pemilik gerobak sapi yang ia sewa. Ini berarti harus ada Rp2.000.000,- dikeluarkan Lanes untuk dua ton cengkih keringnya.

Aku hanya terdiam mendengar uraian biaya yang harus dikeluarkan seorang petani cengkih. Lanes mengeja satu persatu dengan teliti semua berharap bahwa ia tak melewatkan satupun poin pengeluaran perawatan hingga masa panen. Kami berdua sepakat bahwa semuanya harus di rinci. Aku menawarkan rokok Djarum yang sedang ku hisap. Lanes menampik dengan sopan.

“Qta nyanda ba roko. Supaya hemat.” Saya tak merokok. Supaya hemat.

Saya tak kaget dengan hal itu. Alasannya adalah sesuatu yang tampak masuk akal. Tapi pernyataan itu tampak menjadi ironis ketika seorang petani cengkih ternyata tak bisa menikmati hasil panennya yang kini berubah bentuk. Mungkin saja ada sepotong cengkih dari kebunnya dalam sebatang rokok yang sedang kuhisap. Asap putihnya kuhembuskan ke samping. Aku mencoba agar tak mengganggu Lanes yang sedang duduk di bangku kayu yang tua. Setua dirinya yang telah berumur 66 tahun.

“Qta biasa ja pake 2 orang kalo mo ba jumur. Tiap orang qta bayar 1 juta per bulan. Jadi masi ada 2 juta le mo kase kaluar.” Saya biasanya menyewa 2 orang buruh untuk menangani masalah penjemuran cengkih. Setiap orang dibayar 1 juta rupiah per bulannya. Jadi masih ada lagi 2 juta rupiah yang harus di keluarkan.

Lanes menambahkan lagi sekian rupiah dalam catatanku. Pulpenku semakin cepat menggoreskan angka. Ada begitu banyak nol yang sekarang berurut ke bawah di catatanku. Tapi itu masih belum selesai. Ada lagi. Ternyata hitungan belum selesai. Masih lagi ada lagi Rp.2.000.000,- yang harus dikeluarkan untuk mengupah dua orang buruh yang akan bertugas menjemur semua cengkih hingga benar-benar kering selama sebulan. Semua seperti rentetan kejutan dari Lanes untukku. Tapi ada juga petani cengkih yang hanya memiliki sedikit cengkih yang kemudian memilih menjemur sendiri cengkihnya untuk menghemat biaya. Hal ini misalnya di lakukan oleh Dein Tujuwale. Dengan 100 pohon cengkih yang ia miliki sekarang, ia bisa memanen hingga 600-700 kilogram cengkih kering.

Namun Yohan Rantung mengeluarkan biaya jauh lebih banyak ketika masa panen tiba. Ia mencoba merinci satu persatu semua rupiah yang mesti ia habiskan untuk cengkih semenjak masa perawatan hingga panen tiba.

“Qta musti ja sewa orang for mo lia tu kobong-kobong jao. Ada depe mandor bagitu.” Saya mesti menyewa seseorang untuk mengawasi kebun-kebun yang jauh. Seperti mandor begitu.

Ia harus membayar mandor yang akan bertanggung jawab untuk keseluruhan proses panen dari awal hingga selesai. Gaji yang diberikan kepada mandor adalah Rp.1.000.000,- per bulan. Rantung mengaku bahwa ia membutuhkan waktu hingga dua bulan untuk menyelesaikan semua tahapan panen. Hal itu mengingat banyaknya jumlah pohon cengkih yang ia miliki dan jarak kebun yang jauh sehingga membutuhkan waktu dan biaya untuk pengangkutan. Jadi ada Rp.2.000.000,- yang harus dibayar Rantung sebagai tambahan biaya pengeluaran.

“Qta kwa ada oto to. Jadi kalo mo angka tu cingke yang dari Munte, qta nyanda talalu susa. Kobong le kwa dekat jalang. Jadi nyanda ja pake orang ba pikul.” Saya beruntung karena punya mobil. Jadi kalau mengangkut cengkih yang dari Munte, saya tidak mengalami kesusahan. Kebun saya juga dekat dengan jalan raya. Jadi tidak menyewa buruh pikul.

Rantung menjawab pertanyaanku soal permasalahan pengangkutan hasil panen karena jauhnya jarak kebun yang ia miliki. Beruntung Rantung mempunyai sebuah mobil pick up Suzuki yang digunakannya untuk mengangkut hasil panen. Ia hanya perlu menambah Rp.1.000.000,- untuk upah sopir plus sekitar Rp.500.000 untuk biaya bensin mobil.

Lalu masih ada pengeluaran lain. Dengan mempekerjakan buruh hingga 40 orang, Rantung menyewa jasa buruh perempuan untuk memasak dan menyediakan konsumsi bagi para buruh pemetik. Ia mengupah Rp.500.000,- per bulan untuk setiap orang. Keseluruhan pengeluaran yang harus dikeluarkan Rantung untuk buruh pemasak adalah Rp.1.500.000,- karena ia membutuhkan 3 orang buruh perempuan menangani masalah tersebut. Hal ini ia lakukan karena tak ingin merepotkan istrinya yang juga punya kesibukan lain sebagai guru salah satu SD di kampung itu.

 

TAK MUNGKIN KAYA DENGAN BERTANI CENGKIH

Semua rupiah-rupiah di atas kemudian akan dideret berjajar dari atas sampai ke bawah untuk mengetahui berapa total jumlah pengeluaran masing-masing petani cengkih. Total pengeluaran Yohan Lanes sebagai seorang petani kecil yang hanya mempunyai 200 pohon cengkih yang mampu menghasilkan hingga 2 ton cengkih kering selama rentang tiga tahun sejak panen terakhir akan merujuk pada angka Rp.84.225.000,- sebagai hasil akhir. Jika harga jual cengkih berada di kisaran harga Rp.48.000,- seperti kondisi terakhir ketika Lanes menjual sebagian kecil hasil cengkihnya, adalah Rp.96.000.000,- saja. Ini berarti total untung Lanes sebagai seorang petani cengkih sebesar Rp.11.775.000,- selama tiga tahun.

Seringkali jika para petani cengkih sedang kehabisan uang untuk keperluan belanja selama masa panen tersebut, mereka akan menghutang segala kebutuhan tersebut di warung-warung yang memberikan bantuan. Cara membayarnya akan tergantung pada hasil negosiasi di awal pembicaraan. Karena masa panen cengkih, ada beberapa warung yang meminta bayaran hutang tidak dalam bentuk uang melainkan dalam bentuk cengkih kering siap jual. Beratnya mengikuti harga jual saat itu dan banyaknya hutang si petani cengkih.

“Kadang kalo nyanda ada doi di tangan, ja ba ambe dulu di warong no. Nanti baku tutu deng hasil cingke.” Kadang jika tak punya uang di tangan, terpaksa menghutang dulu di warung. Nanti dibayar dengan hasil cengkih nanti.

Itu kalimat terakhir Lanes sembari menutup penjelasannya. Namun wajahnya tampak tak tenang. Mungkin hitungan rupiah demi rupiah semenja tadi mengganggunya. Pikiranku juga melayang jauh. Membayangkan bagaimana jadinya jika benar jadinya pemerintah menutup usaha rokok kretek. Lanes, Rantung dan banyak petani lain pasti kena imbas. Mereka adalah bagian dari mata rantai ekonomi industri rokok kretek di negeri ini. Negeri yang atas alasan kesehatan, kini sementara memadamkan kepulan asap dari dapur rumah para petani cengkih dan banyak lagi yang lain.

* * *

Catatan ini adalah salah satu hasil laporan saat melakukan riset mengenai Cengkih di Minahasa, khususnya di kecamatan Sonder dan Kombi. Penelitian ini disponsori oleh Indonesian Society for Social Transformation (Insist) Jogjakarta. Laporan ini setelah disunting, bersama laporan tim yang lain kemudian dipublikasikan dalam sebuah buku yang berjudul Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota.

Nusa Utara #06: Mengunjungi Masa Lalu, Belajar tentang Hari Ini

Ini perjalanan  yang seharusnya membosankan. Namun kami bertiga adalah sekumpulan orang gila yang tak bisa takluk pada beku dan suasana. Kami menentangnya hingga tawa sering meledak dari ranjang beralas tikar plastik dengan beberapa tas dan sebuah kardus makanan di ujungnya.

Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur. Kapal yang berjalan pelan telah berhasil mengembalikan aroma laut yang pernah aku cumbu. Kadangkala untuk menghalau sepi, aku memilih melakukan pembicaraan konyol yang terlalu banyak dipenuhi kalimat tanya kepada gadis di ranjang sebelah. Sering ia tersenyum.

Namun jujur. Make up di wajahnya membuatku jijik.

Persinggahan pertama adalah pulau Kawaluso. Pulau eksotis dengan cukup banyak cerita. Dari laut dan dari angin yang akan mengajarkanmu bagaimana cara berlari di atas gelombang. Matahari masih muda. Ombak juga masih malu-malu dengan mendayun pelan. Hari yang cukup cerah.

Kami bertiga sempat turun di dermaga ketika kapal untuk sementara bersandar dan menurunkan penumpang serta muatan yang memang dialamatkan ke kampung ini. Mengambil beberapa foto dan hanya memandang ke arah perkampungan. Saat ini kami belum punya kesempatan untuk singgah dan menyapa orang-orang di situ. Hanya ada beberapa menit yang tersisa.

Aku sempat menjelaskan kepada Cecep mengenai kampung ini. Maklum, jika nanti benar ia akan menulis kisah mengenai para pemburu hiu di kepulauan utara, maka desa ini tak bisa dilewatkan. Salah satu pulau yang sering kudapati namanya tertulis jelas di beberapa literatur asing yang menceritakan tentang sejarah niaga di perlintasan batas ini. Saat ini aku akan kembali meski melewatkan beberapa pulau dan tentu saja cerita yang ada di dalamnya. Riset ini memang sedikit membatasi kami semua. Namun ini hanyalah awal. Belum semuanya.

Saat sore, kami menyambangi pulau Matutuang. Satu lagi perkampungan yang masih cukup muda jika harus dibandingkan dengan perkampungan pulau yang lain. Matutuang termasuk salah satu desa di kecamatan Marore. Ini berarti, kami sudah semakin dekat. Kecamatan Kendahe sudah berada di belakang. Tertutup oleh garis laut dan waktu yang berlalu.

Terus terang, ini adalah masa di mana kebosanan berhasil membuatku jatuh dalam keharusan menunggu dan menghabiskan waktu begitu saja. Namun aku berusaha untuk toleran. Persoalannya adalah perahu yang digunakan sebagai alat transportasi perantara kapal ke pantai mengalami kerusakan mesin. Padahal mereka hanya menggunakan satu buah perahu saja. Sementara itu, selain ada beberapa penumpang yang mesti turun di kampung ini, masih ada juga dua ratus karung semen, beberapa puluh karung beras dan besi. Tiga item terakhir akan digunakan untuk melanjutkan pembangunan dermaga yang dari atas kapal baru saja selesai sekitar tiga puluh persen saja.

Dan begitulah aku hanya duduk, makan roti tawar, merokok dan membuat segelas kopi untuk menertawakan waktu. Aku ingin mengambil jalan memutar agar tak bertemu kebosanan. Ini gerilya yang mesti dimainkan. Sebuah tawaran strategi yang cukup sukses dijalankan.

Setelah sore muncul dengan membawa senyum girang karena berhasil memberikan sunset indah bagi semua penumpang di kapal ini, kami lalu mengangkat sauh dan melanjutkan perjalanan. Beberapa menit kemudian terdengar sebuah pemberitahuan dari pengeras suara di kapal ini. Destinasi kami berubah karena beberapa pertimbangan dari para kru kapal. Bukan menuju Kawio, namun langsung menuju Marore.

Bagiku ini berarti dua hal penting. Pertama, aku batal menunjukkan seperti apa rupa Kawio kepada Cecep. Kedua, kami jadi lebih cepat sampai tujuan dan akan segera memulai petualangan ini.

Aku mencoba tidur agar tak merasakan waktu yang pelan-pelan bergerak. Saat ini, semakin besar alasanku membenci aktifitas yang mesti ditakar oleh waktu. Biarlah. Ini pilihanku.

Sayang aku tak bisa tidur. Itu mengapa aku mengiyakan tawaran Cecep untuk naik ke bagian belakang, merokok di bawah hempasan angin dan berbagi pengalaman. Setelah sebelumnya kami merapikan beberapa hal agar sudah cukup siap saat sudah sampai di Marore. Aku benci terburu-buru. Jadi semuanya sudah kusiapkan sedari awal.

Sial.

Belum sampai lima menit kami duduk setelah berhasil menemukan tempat yang ideal, sudah ada pemberitahuan lewat pengeras suara bahwa kapal sudah memasuki Marore. Kampung tujuan kami sudah ada di depan mata. Juga banyak hal yang mesti kami kerjakan di pulau ini. Tentu saja dengan orang-orang yang ada di sini.

Setelah memastikan benar-benar bahwa pulau yang ada di balik kegelapan itu adalah Marore, aku segera meluncur turun bersama Cecep dan kembali ke ranjang kami. Tujuannya tentu saja adalah untuk segera merapikan segala sesuatu yang masih tersisa. Terutama tikar yang menjadi alas untuk beberapa momen tidur kami.

Perempuan yang ada di depan kami tersenyum kecut saat aku mengatakan selamat tinggal. Ia mengerti bahwa seharusnya itu adalah bagian dari dialognya. Tapi arah kapal yang berbeda telah membuatku menggeser perannya dan tampak menjadi tokoh antagonis yang tersenyum gembira karena telah berhasil mengecoh tokoh utama.

Lalu dengan bersemangat, aku menjadi yang paling pertama mencapai dermaga Marore. Sambil menunggu Cecep dan Misael juga turun, mataku liar memandang ke sekeliling kapal. Aku mencari sebentuk wajah. Wajah itu adalah kepala desa Marore yang beberapa saat sebelumnya baru kami ketahui bahwa ia juga berada di kapal yang sama semenjak dari Marore. Kami butuh menemuinya karena ia adalah kontak awal kami di pulau ini dan tiket untuk dapat melalui kerja di lapangan nanti tanpa gangguan berarti.

Setelah turun dari kapal, kami memutuskan untuk menunggu di salah satu sudut dermaga. Dekat dengan beberap gerobak barang yang sedang diparkir menunggu muatan. Tak ada para pemiliknya di situ. Mungkin mereka sedang sibuk mencari siapa yang mau menggunakan jasa mereka.

Ibu kepala desa akhirnya berhasil kami temui. Segera ia menyerahkan kami kepada salah seorang staf kecamatan yang akhirnya mengantar kami ke tempat yang akan menjadi persinggahan kami untuk riset selama beberapa hari ke depan. Aku paling depan membuntuti lelaki ini. Masalah minus pada mataku membuatku agak susah mengenali wajahnya. Hanya punggung tubuhnya yang terus menjadi titik pangkal agar aku yakin tak kehilangan bayangannya.

Sekitar seratus meter dari pantai, kami di suruh menunggu di depan sebuah rumah yang masih terlihat baru. Tepat di samping kantor kecamatan. Ternyata camat Marore sudah mengatur semuanya untuk kami. Tadi pagi ia sempat ada di sini dengan beberapa petugas pemilihan umum. Informasi ini kudapatkan dari lelaki yang tadi mengantar kami. Tapi sekarang ia sudah pergi meninggalkan kami bertiga duduk sembari tertawa kecil di kursi plastik di teras depan rumah tersebut. Ia mencari orang yang memegang kunci rumah itu. Janjinya tak lama. Meski itu kemudian terasa bohong di rasa bosan yang kembali hinggap karena waktu yang berlalu begitu saja.

Dari jalan yang cukup gelap di depan kami, seorang perempuan berumur tergopoh-gopoh datang membukakan pintu sembari meminta maaf karena keterlambatan yang terjadi. Kami membalasnya dengan tersenyum sembari mengatakan bahwa itu tak perlu. Tak ada yang perlu disesali dari apa yang sudah terjadi. Mengulangnya agar menghindari kesalahan adalah kemustahilan.

Begitu memasuki rumah itu, aku akhirnya tahu bahwa ini adalah rumah singgah untuk tamu yang dibangun oleh pemerintah kecamatan sekitar tiga tahun lalu. Dan ini berarti ingatanku mengenai kampung ini tidak bermasalah. Adalah benar bahwa bangunan ini tak tersimpan di memori otakku mengenai Marore terakhir kali.

Kami ditunjukkan sebuah kamar di bagian tengah dari tiga kamar yang ada. Ada sebuah ranjang yang cukup besar di dalamnya. Semua masih tampak belum tua namun sudah mengalami beberapa kerusakan yang tampak kalau tidak pernah diperbaiki. Tapi itu bukan masalah buatku. Tempat ini sudah cukup bagus. Lagipula aku pernah tinggal di tempat yang jauh lebih buruk di waktu kemarin.

Setelah perempuan tua itu meninggalkan kami bertiga sendirian, Cecep dan Misael mengajakku untuk mencari warung terdekat dan membeli sesuatu untuk mengganjal perut lapar malam ini. Menyusuri jalan setapak di depan rumah ini, kami akhirnya berhenti di sebuah warung yang masih buka. Terletak di depan gereja dan sebuah jalan yang mengarah ke pantai. Bersebelahan dengan kantor Border Crossing Aggreement milik Filipina. Itu tampak dari papan nama yang ada di situ serta bendera Filipina yang tampak samar-samar berkibar dalam kegelapan cahaya bintang.

Dua buah kopi tanpa gula dan segelas teh. Itu pesanan kami. Namun yang disuguhkan adalah dua gelas teh dan segelas kopi tanpa gula. Aku tetap mengambil kopi. Aku tak terlalu suka teh panas. Namun sebelum meminumnya, aku meminta mereka menambahkan beberapa sendok kopi ke dalam gelasku karena indra pengecapku mengatakan kopi ini masih terasa tawar.

Kemudian dengan gelas di tangan, kami segera duduk di luar warung dan akhirnya terjebak dengan pembicaraan yang cukup hangat dengan dua orang perempuan Jakarta yang juga ikut dengan kapal ini. Sayang tujuan mereka bukan di Marore. Berada di warung kopi ini adalah salah satu solusi mereka mengatasi penantian kapan kapal ini akan melanjutkan perjalanannya.

Perempuan-perempuan ini sekarang tengah terlibat dengan sebuah program besar bernama Indonesia Mengajar. Satu lagi upaya bodoh dan sok tahu dari mereka yang berada di titik pusat kekuasaan mengenai apa yang dibutuhkan oleh orang lain. Dalam hal ini adalah masyarakat yang berada di pedalaman. Kampung-kampung yang sebelumnya tidak pernah mereka dengar, baca atau sedikitpun terlintas dalam pikiran bahwa tawaran upah yang cukup menarik membuat mereka berpura-pura rela bahwa adalah keinginan mereka sendirilah yang menuntun tubuh mereka datang ke sini. Meski mereka berupaya menutupi, tapi aku dapat menangkap dari wajah-wajah itu bahwa jika tersedia pilihan yang lebih baik maka bukan petualangan ini yang mereka genggam.

Keduanya berasal dari Jakarta. Kuliah di Universitas Indonesia meski berasal dari fakultas yang berbeda. Seorang bernama Jessica. Ia baru saja lulus dan departemen Sosiologi di fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Tujuan perempuan ini adalah desa Kawio. Ia akan tinggal di sana selama setahun dan menjadi tenaga bantu mengajar. Ini adalah kali pertama ia bertualang jauh.

Seorang lagi bernama Ami. Adalah pengawas dan merupakan orang yang diberikan tanggung jawab untuk memastikan agar semua tenaga relawan itu sampai ke desa-desa yang sudah ditunjuk. Jessica adalah orang terakhir yang akan diantarnya. Namun ia tak bertahan di sana. Ia akan langsung menuju ke Tahuna. Mengganti tumpangan dengan kapal yang jauh lebih baik menuju Manado dan kemudian kembali ke tempat nyaman bernama Jakarta.

Banyak pendapat mereka kudebat habis-habisan. Aku menunjukkan dengan jelas bahwa ada ketidaksukaan yang meletus karena argumentasi dangkal dan ironis mereka mengenai orang-orang yang mereka sebut: orang pedalaman. Bahwa persoalan edukasi, kesejahteraan serta peningkatan lain yang mereka targetkan tidaklah sesederhana yang mereka lihat di keseharian hidup mereka di Jakarta. Tidak juga semudah teks-teks yang dituliskan oleh berbagai majalah, koran atau bahkan oleh para peneliti seperti diriku.

Kalian bisa berasumsi banyak hal mengenai sebuah tempat. Namun kondisi lapangan serta interaksi aktif akan menghancurkan semuanya dan menyuguhkan sebuah tatanan yang benar-benar akan tidak mudah kau prediksi. Aku berani menggaransi hal ini.

Diskusi ini semakin hangat ketika Cecep dan Misael yang tadi pergi mencari warung untuk membeli makanan, kembali dan ikut bergabung. Beberapa kali mereka tertawa ketika mengetahui bahwa ada banyak hal yang terdengar baru di telinga mereka yang lebih akrab dengan siaran radio gaul atau juga deretan tangga lalu populer.

Hal itulah yang juga membuatku enggan memberikan nomor ponselku ketika Ima memintanya. Ia ingin mendiskusikan lebih banyak hal lagi denganku. Aku lebih memilih agar menyerahkan alamat email. Itu jauh lebih baik. Semua itu terjadi ketika kapal Daraki yang membawa kami sudah kembali membunyikan sirene sebagai tanda bahwa perjalanan akan kembali dilanjutkan dengan destinasi Kawio.

Dua perempuan itu setengah berlari menuju ke kapal. Sementara di jalan yang berbeda, kami berjalan pelan dengan beberapa barang hasil belanja di warung. Menuju tempat yang sudah ditunjukkan agar kami bisa tidur dan menghabiskan malam di sana.

Tapi sayang, kami tidak langsung tidur. Masih ada beberapa hal yang segera mesti ditulis sebelum menguap percuma. Juga masih ada sebotol Tanduay dan es yang menjadi teman diskusi keempat. Ada banyak cerita dan pengalaman yang dibagi.

Satu hal yang semakin jelas. Misael semakin gila. Cecep semakin parah.