Membaca Fanon #01

sambungan dari bagian 1.

 

Tanpa komodifikasi kapitalisme terhadap relasi sosial yang dimanifestasikan dalam peng-uang-an segala sesuatunya, relasi dalam masyarakat kolonial hanya akan dipandang sebagai perbedaan warna kulit semata. Hal ini berakibat pada langgengnya eksploitasi yang didasarkan pada pembedaan antara penjajah dan yang dijajah.

Warna kulit yang terang merupakan representasi atas nilai dan mengindikasikan keindahan, kecantikan, keparipurnaan, dan segala sesuatu yang megah yang berkebalikan dengan warna kulit gelap.[9] Fanon misalnya memberikan penjelasan sederhana dengan mengatakan bahwa “penyebab adalah konsekuensi itu sendiri”.[10] Pada akhirnya dalam masyarakat kolonial, ukuran mengenai warna kulit ini juga digunakan sebagai standar untuk menilai segala sesuatu seperti tingkat kecerdasan dan kemampuan fisik. Seseorang yang memiliki keistimewaan hak (privilege) disebabkan oleh warna kulit yang dimilikinya. Semakin gelap warna kulit seseorang, semakin jauh ia dari segala kemewahan dan keistimewaan dalam masyarakat kolonial tersebut.

Penjelasan tersebut mengungkap persamaan lain Fanon dengan Marx dengan membandingkan hal tersebut seperti komodifikasi terhadap seluruh aspek kehidupan yang terjadi di dalam masyarakat kapitalistik seperti yang dijelaskan oleh Marx.

Fanon juga menegaskan bahwa pendapat seperti rasialis yang menganggap bahwa, orang-orang berkulit hitam tidak memiliki etika, tidak hanya diartikan sebagai ketidakmampuan menyerap atau memahami etika itu sendiri. Namun memiliki kulit berwarna gelap telah mengotomatiskan seseorang untuk tidak mampu untuk mencapai batasan minimal yang telah ditetapkan oleh masyarakat kolonialistik. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa yang dimaksud Fanon adalah absolutisme terang-gelap warna kulit sebagai standar tunggal dalam masyarakat kolonial berada di dalam kerangka yang sama dengan absolutisme uang dalam masyarakat kapitalistik.

Namun satu hal penting yang digarisbawahi oleh Fanon adalah, absolutisme warna kulit yang menempat kulit putih/terang sebagai yang lebih baik, kemudian menjadi nilai universal yang bahkan menghambat perjuangan pembebasan budak-budak yang berkulit gelap. Yaitu, ketika perjuangan yang dilakukan adalah upaya “menyetarakan diri” dengan memaksa diri untuk “menjadi sama”. Ketika, orang-orang jajahan berkulit hitam/gelap/legam kemudian berupaya memenuhi standar sosial yang ditetapkan oleh kulit putih/terang.

Bagi Fanon, standar yang ditetapkan pada perbedaan warna kulit adalah sumber dari penjajahan itu sendiri. Sehingga menjadi tidak masuk akal dan kontra-revolusioner jika menggunakan standar tersebut untuk perjuangan pembebasan budak dalam masyarakat kolonialistik.

Hal itu misalnya, menurut Fanon tampak melalui ekspresi psikologis para budak yang berkulit gelap untuk mendapatkan warnah kulit yang lebih terang. Obsesi ini disebut Fanon sebagai “lactification” yang mendasarkan keindahan, kecantikan dan kesucian dengan mengasosiasikannya dengan warna-warna yang terang. Semua itu adalah manifestasi depresi budak-budak yang ingin “menjadi manusia dengan menjadikan dirinya putih.”

Jika Marx menerangkan bagaimana dalam sistem kapitalis, suami “melihat istrinya hanya sekadar alat reproduksi,” dalam masyarakat kolonial memandang suami atau istrinya dalam hal warna kulit.[11]

Meskipun hubungan sosial yang terepidermalisasikan mungkin saja muncul untuk menyajikan kemungkinan kemajuan melalui laktifikasi, indikator fisik kolonialisme akan nilai lebih melanggengkan kesatuan struktur melalui pentingnya pemisahan antara penjajah dan terjajah. Dalam masyarakat kapitalis, pembedaan terhadap warna kulit tampak tidak mencolok karena diselubungi oleh “para pengkhotbah dan ilusionis” yang ikut campur tangan antara kapitalis dan pekerja, memimpin pekerja untuk membuat para buruh percaya bahwa gaji mereka adalah pertukaran adil untuk kerja keras mereka memproduksi barang.[12]

Sebaliknya, “kehadiran langsung, frekuensi dan tindakan langsung mereka” polisi dan bersenjata kekuatan yang menentukan masyarakat kolonial membutuhkan demarkasi mencolok antara penjajah dan terjajah. Fanon menjelaskan bahwa “karena tidak ada mungkin memperbudak, merampok atau membunuh sesama-manusia tanpa melakukan kejahatan,” penjajah harus menetapkan “prinsip bahwa orang asli bukan salah satu dari kita.”[13]

Sama seperti kaum kapitalis yang menggunakan otoritas ekonomi mereka atas para buruh namun masih berupaya menjaga etika-etika liberalisme mengenai kemerdekaan, kebebasan berbicara, demokrasi dan lain sebagainya, para kolonialis juga melakukan kekerasan sebagai parade otoritas kekuasaan mereka terhadap kelompok Orang Asli sembari melakukan manipulasi melalui dogma-dogma mengenai absolutisme timpangnya hubungan sosial berdasarkan warna kulit.

Absennya hubungan pertukaran dalam masyarakat kolonial menghalangi pembentukan hubungan sosial yang ditandai melalui bentuk uang. Jadi pertanyaannya, mengapa hubungan-hubungan kolonial kemudian diekspresikan dengan mengambil bentuk dalam warna kulit?

Dalam upayanya menyesuaikan analisis ekonomi Marx tentang kapitalisme terhadap masyarakat kolonial, Fanon menjawab pertanyaan ini dengan menerapkan teori psikoanalitik yang menunjukkan bahwa epidermalisasi dari hubungan-hubungan sosial timbul dari paksaan psikologis penjajah untuk memenuhi rasa rendah diri yang disebabkan oleh keterasingan di bawah kapitalisme.

Dalam argumennya, Fanon mengambil analisis dari psikoanalisis Prancis, Octave Mannoni, yang dalam bukunya Prospero and Caliban: The Psychology of Colonization, berpendapat bahwa rasa rendah diri dari penjajah berkulit putih, hadir bersamaan dengan kompleksitas dari ketergantungan Orang Asli yang terjajah yang terbentuk dalam diri mereka akibat hilangnya stabilitas sosial, yang berujung pada penciptaan pola dominasi yang mencirikan konteks kolonial.

Sembari menolak diagnosis Mannoni mengenai “kompleksitas ketergantungan bangsa terjajah”, Fanon menyimpulkan bahwa “kolonialisme kulit putih didorong semata-mata hanya oleh keinginannya untuk mengakhiri perasaan ketidakpuasan pada tingkat kompensasi berlebihan (overcompensation) Adlerian.[14]

 

bersambung

* * *

[9] F. Fanon, Black Skin, White Masks. Trans. Richard Philcox. New York: Grove Press, 1952, pp. 27.

[10] F. Fanon, The Wretched of the Earth. Trans. Richard Philcox. New York, Grove Press, Inc., 1963, pp. 32.

[11] K. Marx and F. Engels, The Communist Manifesto. Trans. Samuel Moore. New York: Penguin Books, 1967, pp. 101.

[12] F. Fanon, The Wretched of the Earth. Trans. Richard Philcox. New York, Grove Press, Inc., 1963, pp. 31.

[13] Ibid, 13.

[14] F. Fanon, Black Skin, White Masks. Trans. Richard Philcox. New York: Grove Press, 1952, pp. 65.

 

 

Membaca Fanon #00

Introduksi

Frantz Fanon dan Karl Marx berbagi tujuan yang sama mengenai emansipasi seluruh umat manusia dari penindasan. Meski demikian, dalam bukunya yang terakhir berjudul The Wretched of the Earth, Fanon menegaskan bahwa hubungan antara teorinya mengenai identitas kolonial dan ideologi Marxis tidak dapat semena-mena direduksi semata ke dalam doktrin perjuangan kelas. Fanon juga menolak simplifikasi atas teorinya dengan teori-teori Marxisme. Meski tidak diingkari oleh Fanon sendiri bahwa ide-ide dasar Marx menjadi inspirasi sekaligus basis baginya untuk mengelaborasi lebih jauh mengenai kolonialisme dan rasialisme.

Dalam tulisan pendek berseri ini, saya berencana untuk memeriksa sekaligus menunjukkan bagaimana analisa Fanon tentang fabrikasi identitas di daerah-daerah koloni sebenarnya berasal dari kerangka Marxisme. Terutama mengenai kemiripan antara hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat kolonialisme dan kapitalisme yang didasarkan pada nilai lebih dan mengenai fetisisme komoditi yang memproduksi hubungan-hubungan tersebut.

Terutama dengan menjangkarkannya pada penjelasan Marx mengenai fetisisme komoditi. Dengan begitu, kita dapat melihat bagaimana Fanon mengajukan konsepnya mengenai perbedaan-perbedaan ekonomi dan psikologi dalam kolonialisme. Terutama bagaimana argumentasi Fanon mengenai relasi sosial dalam kolonialisme di mana berlangsungnya proses epidermolisis yang diekspresikan melalui “terang-gelap” warna kulit, ketimbang pengekspresian melalui “uang-barang” dalam pasar komoditi.

Tujuannya adalah untuk melihat bagaimana pentingnya memeriksa relasi kausal paling utama dari dua fenomena tersebut -terlepas dari kemiripan struktur antara fetisisme komoditi dalam masyarakat kapitalistik dan fetisisme rasial dalam masyarakat kolonial. Dua fenomena yang saya maksud adalah alienasi yang dialami para penjajah yang terproyeksikan ke dalam identitas daerah jajahan, dan eksklusi dari mereka yang terjajah -atas pengakuan sekaligus atas humanitas dan identitas- yang mengkonstitusikan kolonisasi atas kedirian yang asli (the native selfhood).

 

I

Dalam Black Skin, White Masks, bab 5 yang berjudul “The Lived Experience of the Black Man” Fanon menuliskan memorinya sebagai seorang kulit hitam terpelajar yang berharap dapat menemukan “sebuah dunia yang dapat dibangun bersama ketika dia berkelana dari daerah koloni ke pusat-pusat metropolis.[1] Dalam perjalanan ini, Fanon menemukan kolonisasi atas kediriannya yang asli (colonization of his native selfhood). Hasil dari “mitos yang tertanam dalam” yang memfetisiskan ras dan tidak mengakui mereka yang terjajah sebagai bagian dari umat manusia. Implikasi langsungnya adalah anggapan bahwa kaum jajahan tidak lebih baik dari binatang. Contoh yang diajukan Fanon misalnya adalah bagaimana segregasi antara orang kulit hitam asli di Afrika dari para penjajahnya yang berkulit putih.[2]

Dalam pendivisian rasialisme a la Fanon antara kaum terjajah dan penjajah, tampak jelas meresonansi apa yang telah diajukan Marx di masa lalu mengenai perbedaan antara pemilik modal dan kaum pekerja. Seperti yang telah dijelaskan Marx, distingsi kapitalisme ini merupakan karakter misterius dari format komoditi. Yang terbentuk melalui pemutushubungan yang nyata antara nilai yang diproduksi melalui proses penghisapan.[3] Nilai ini dianggap sebagai atribut yang melekat pada komoditas, yang menghasilkan ekspresi kapitalisme dalam hubungan-hubungan sosial melalui mediasi atau subtitusi nilai uang yang kemudian memfasilitasi keberlangsungan penindasan pekerja.

Meski demikian, dalam “On Racial Fetishism” David Marriott menemukan ada “hubungan antinomian” antara teori-teori yang digunakan oleh Marx dan Fanon. Yaitu, meskipun teori fetisisme komoditi Marx tetap relevan dalam menganalisa masyarakat kapitalis, namun hal tersebut dianggap belum cukup untuk dapat menjelaskan konstruksi Fanon mengenai ras dalam konteks kolonialisme.[4] Lebih jauh, Marriott kemudian mengkontraskan konstruksi Fanon mengenai ras dan komoditi dengan fetisisme Freudian. Ia berargumen bahwa fetisisme ras yang disodorkan Fanon adalah stereotip yang muncul dari fobia rasial dalam masyarakat kolonial.

Berkebalikan dengan Marriot, saya berpendapat bahwa Fanon menggunakan fetisisme komoditas Marx sebagai model struktural dan kausal untuk menggambarkan kontruksinya atas ras sebagai mitos yang tumbuh dari kolonisasi terhadap identitas Orang Asli, dan bukan hanya sekedar merujuk pada karateristik biologis. Fanon mengadaptasi fetisisme komoditi dan juga mengambil tesis mengenai hubungan antara kemanusiaan dan kedirian (selfhood) untuk menjelaskan tipu daya ganda kolonialisme melalui fetisisme ras.[5] Yaitu kondisi di mana akibat ketimpangan proses pertukaran dalam masyarakat kapitalis, kolonialisme sebagai anak haramnya berhasil memproduksi relasi sosial yang membasiskan nilai-nya warna kulit dan bukan melalui uang atau barang. Jika dalam masyarakat kapitalisme hubungan-hubungan sosialnya dimonetisasi sebagai akibat langsung dari fetisisme komoditi, dalam masyarakat kolonial hubungan sosial yang didasarkan pada warna kulit berasal dari fetisisme ras yang muncul inheren sebagai fakta biologis yang diturunkan dari kepalsuan nilai kolonial.

Di sini kemudian bagaimana Fanon mengambil lagi dari Marx dengan menjelaskan bagaimana keterasingan yang dialami dalam masyarakat kapitalistik didorong ke level yang brutal oleh masyarakat kolonialistik dengan tidak hanya menghisap nilai lebih, tapi juga menghisap jati diri Orang Asli (indigenous selfhood). Jika bagi Marx, dua kelas yang berhadap-hadapan secara antagonistik adalah pemiik modal dalam dalam periode kapitalis maka Fanon mengajukan tesis bahwa dalam masyarakat kolonialisme, yang berhadap-hadapan adalah penjajah dan kaum terjajah.[6]

Karena menemukan bahwa dalam kolonialisme pertukaran relasi tidak memiliki intensitas sedalam kapitalisme, Fanon menyesuaikan analisa Marx tentang hal ini. Caranya adalah dengan menunjukkan bahwa dalam kolonialisme hubungan sosial didasarkan pada nilai (value) dan bukan uang (money-form). Ini mengapa, kita dapat melihat betapa pentingnya warna kulit seseorang dalam kolonialisme. Seorang Papua yang terdidik misalnya, tetap akan dipandang rendah karena warna kulitnya.

Dalam fase awal ekspansi, daerah koloni-koloni digunakan hanya sebagai sapi perahan. Dipandang sebagai sumber bahan baku yang nantinya dapat diubah sebagai barang-barang manufaktur untuk dijual di pasar.[7] Proses ini menurut Fanon dipengaruhi oleh ketidakmampuan borjuis dalam masyarakat kapitalis “untuk menciptakan kondisi yang dapat menciptakan kekuatan proletariat dalam skala masif, mendorong mekanisasi pertanian”. Tergiurnya mereka dengan keuntungan besar dari akumulasi melalui praktek kolonialisme, membuat para borjuis justru “menciptakan perbudakan melalui tenaga kerja paksa” dan “memelihara struktur semi-feodal yang menjadi parasit” yang justru menghambat akumulasi secara maksimal.[8] Dalam banyak banyak kasus, struktur semi feodal yang parasit justru menjadi bumerang yang menggerogoti akumulasi keuntungan dari tanah koloni melalui korupsi, kolusi dan nepotisme.

Bersambung…

 

Catatan kaki.

[1] F. Fanon, Black Skin, White Masks. Trans. Richard Phil- cox. New York: Grove Press, 1952, pp. 92.

[2] Ibid., 128.

[3] K. Marx, Capital: A Critique of Political Economy, vol. 1. Trans. Ben Fowkes. New York: Vintage Books, 1976, pp. 164.

[4] D. Marriott, “On Racial Fetishism,” Qui Parle: Critical Humanities and Social Sciences, vol. 18, no. 2, pp. 215, Spring/Summer 2010.

[5] F. Fanon, The Wretched of the Earth. Trans. Richard Phil- cox. New York, Grove Press, Inc., 1963, pp. 32.

[6] F. Fanon, The Wretched of the Earth. Trans. Richard Philcox. New York, Grove Press, Inc., 1963, pp. 31.

[7] Ibid., 51.

[8] Ibid., 141, 13.