Membicarakan Thukul, Melampaui Istirahatlah Kata-kata

Apakah seorang penyair, artinya tidak boleh ketakutan? Apalagi ia yang menulis dengan barisan kalimat penuh pembangkangan kepada tirani? Benarkah menjadi seorang revolusioner berarti tanpa rasa gundah? Terlarangkah rasa rindu kepada anak istri jika seseorang memilih mencintai kemanusiaan? Tidak bolehkah rasa bosan hinggap di dada seorang pejuang anti penindasan?

Itu pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala saya saat menyaksikan perdebatan orang banyak pasca-menonton Istirahatlah Kata-kata.

Kebanyakan protes yang muncul mempersoalkan tentang “dicerabutnya” sosok Thukul dari “kepribadian”nya. Protes terjadi karena ekspektasi yang terlalu tinggi pada akhirnya terjun bebas setelah menemukan Wiji dari sudut pandang Yosep Anggi Noen. Saya juga begitu, awalnya.

Ketika memenuhi undangan untuk turut hadir dalam Gala Premier film ini dari Rahung Nasution, ada kecamuk yang aneh. Perasaan ganjil karena melihat bagaimana Istirahatlah Kata-kata menjadi reuni sentimentil bagi mereka yang berbagi sejarah dengan Wiji. Kejanggalan itu makin menjadi karena sebagian dari mereka di barisan penonton adalah orang-orang yang secara prinsipil berseberangan dengan saya. Mereka adalah para pendukung rezim hari ini, sementara saya dan sebagian kawan memilih jalur oposisi. Sebagian lain yang datang adalah kelompok menengah yang serupa Descartes dengan gadget: aku berisik maka aku ada.

Datang ke acara seperti itu bagi kami yang tidak pernah mengenalnya secara langsung -namun berada dalam satu hentakan ideologi- merasa bahwa diangkatnya sosok terbuang seperti Thukul adalah kemenangan simbolis dalam tataran taktis. Film ini kembali mengingatkan bahwa ada selusin lebih korban penghilangan paksa yang belum kembali. Dan ia mendapatkan jangkauan yang lebih luas. Menyasar kelompok sosial paling apatis dan apolitis warisan Orde Baru: kelompok menengah.

Dan biopik ini adalah jembatan imajiner yang mempertemukan semua ingatan, romantika, harapan dan warisan Thukul. Membaurkan kenangan, ekspektasi dan simbol.

Usai menonton film ini, kekecewaan adalah kesan di lima menit pertama. Makin menguat di enam puluh menit berikutnya ketika saya bertukar pendapat dengan mereka yang ikut menonton hari itu, 16 Januari 2017. Semuanya berbagi keterkejutan, juga rasa kecewa karena harapan yang kadung kandas oleh Istirahatlah Kata-kata. Film ini begitu berbeda dari harapan dan ingatan sebagian besar orang tentang Wiji Thukul.

Namun, selepas itu, saya kembali bertanya. Apakah ingatan adalah sesuatu yang absolut? Apakah kenangan adalah kebenaran yang tidak bisa digangggu gugat?

Beberapa hari setelahnya, adegan-adegan dalam film ini tak kunjung lepas dari kepala. Terutama karena apa yang sebenarnya saya “ketahui” mengenai Thukul sedang dipertaruhkan. Di lini sosial paling berisik, debat mengenai biopik ini merosot ke tahapan lebih naif lagi: mengapa ditayangkan melalui jaringan bioskop komersil dan bukan menggunakan jejaring pemutaran alternatif.

Soal debat ini, saya cukup tak peduli hingga urung berkomentar. Soalnya, apa yang disebut sebagai “jejaring pemutaran alternatif” sependek pengetahuan saya tidak eksis. Bentuknya sebenarnya tidak lebih dari titik-titik sosial yang terputus satu dengan yang lain. Ia tampak terhubung karena ada orang-orang gila dengan dedikasi luar biasa yang mau mengkoneksikannya. Namun, tentu saja sangat prematur karena mengandalkan momentum. Meski apa yang dikerjakan secara politik adalah investasi sosial yang sangat berharga untuk menantang rezim perampas tanah seperti saat ini.

Para penggerutu soal komersialisasi Wiji Thukul menurut saya adalah kumpulan yang katarak secara politis karena tak sanggup melihat bagaimana dunia sinema di negeri ini berantakan dengan sempurna. Monopoli, ketiadakan sumber daya manusia, minimnya kemampuan mengolah sumber daya finansial, dan masih banyak lagi. Perdebatan soal menggunakan sosok Thukul untuk menangguk pundi rupiah dan popularitas sosial sungguh jauh panggang dari api. Selain tak esensial, argumentasi yang disodorkan juga lemah secara filosofis dan syahwat.

Lagipula, kita akan terlalu menyederhanakan segala sesuatu jika beranggapan bahwa api pemberontakan Wiji akan tenggelam hanya karena Istirahatlah Kata-kata. Pendapat macam ini justru mengerdilkan sumbangsih Thukul dalam artian yang sebenarnya.

Secara jujur, apa yang dialami oleh Thukul -seperti yang digambarkan dalam Istirahatlah Kata-kata, adalah sesuatu yang baru untuk saya. Selain karena datang dari generasi yang tumbuh ketika Soeharto bukan lagi orang terkuat di negeri ini, ada perbedaan sosial lain yang membuat sosok penyair seperti Thukul akhirnya terasa begitu berjarak.

Wiji -seperti kebanyakan orang di luar sana- tidak memiliki “keberuntungan” kelompok menengah seperti saya: bekerja dengan laptop bagus, punya pekerjaan dengan upah di atas UMP, bisa membeli buku di Verso sebulan sekali, setiap minggu berkesempatan minum bir dingin dan beberapa kali dalam setahun mampu liburan ke tempat-tempat yang ada dalam buklet wisata.

Saya tidak pernah merasakan menjadi buronan dan kesepian yang turut serta sebagai konsekuensi dari sebuah aktivisme politik. Meski pernah dipenjara singkat -yang hanya beberapa bulan- di masa awal SBY dipilih ramai-ramai sebagai diktator, diinteli polisi atau beberapa kali dipentungi saat demonstrasi, secara psikologis saya belum mengalami level brutalitas yang dialami Wiji Thukul. Saya masih bisa pulang kontrakan dengan aman, memeluk dan menciumi kekasih secara leluasa dan memiliki teman-teman yang ramai.

Menonton Istirahatlah Kata-kata justru menjadi pengalaman spiritual yang menakutkan pada akhirnya. Yang tidak langsung saya rasakan begitu usai menonton film ini. Ia mengendap selama beberapa hari sebelum saya menulis ini.

Kami datang dari dua dunia yang berbeda. Dunia saya dibangun dari jerih payah orang-orang seperti Thukul di negeri ini yang masih terus bertarung soal upah murah, jaminan kesehatan yang buruk, sembako yang semakin mahal, pencabutan subsidi dan lain sebagainya. Dunia saya berada di lapis lebih tinggi dan bertahan karena penghisapan atas manusia-manusia seperti Wiji masih terus berlangsung -dengan atau tanpa Istirahatlah Kata-kata.

Kemewahan-kemewahan yang saya nikmati hari ini sejatinya merupakan hasil langsung dari perjuangan panjang kelas pekerja di berbagai tikungan sejarah dengan melakukan mogok, berdemonstrasi dan menuntut perbaikan kualitas hidup. Perjuangan kelas pekerja di mana Thukul dan syair-syairnya dahulu adalah bagian tak terpisahkan. Dan inilah magisme dari puisi-puisi Wiji. Karya-karyanya menemukan tempat di hati dan ingatan banyak orang karena ia menulis tentang dirinya, yang juga adalah diri mereka. Ia tidak hanya jujur menjadi dirinya, tapi di saat yang bersamaan merefleksikan wajah mayoritas penduduk Indonesia yang hidup bersusah payah dan terpinggirkan oleh pembangunan.

Persona seperti Thukul menjadi legendaris sebagai penyair, bukan hanya karena puisinya semata. Kisah hidupnya yang aktif berpolitik dan melawan ketidakadilan adalah sisi magis yang sesungguhnya.

Namun, karena kadung menjadikannya legenda, saya lupa bahwa Thukul adalah seorang suami dan ayah dua orang anak. Ia adalah manusia yang seutuhnya. Memiliki getir dan memar dihajar kesedihan. Inilah peran dari episode kesepian dan keterasingan yang ditampilkan Istirahatlah Kata-kata. Menjadi pengingat bahwa penyair revolusioner yang kata-katanya dapat menyulut pembangkangan terhadap ketidakadilan, adalah sosok yang bisa tampil lemah. Seperti Yesus di ambang kematiannya yang berteriak: Eli! Eli! Lama sabachtani!

Yosep Anggi Noen dan Yulia Evina Bhara melalui filmnya ingin menuturkan kepada kita semua tentang satu periode negeri ini: ketika seorang megalomaniak paling berdarah sedang berkuasa. Jendral penuh senyum pemimpin rezim yang dapat meremukkan manusia hingga ke tulang-tulang. Mengisolasi, menjauhkan dan mengasingkan seseorang hingga pemberontakan yang paling mungkin terhadap itu adalah: bertahan tetap waras. Ini adalah perjuangan yang tidak kalah heroik dibanding berhadap-hadapan dengan tentara di jalan raya, atau melempar molotov ke arah barikade polisi. Istirahatlah Kata-kata tidak sedang memadamkan sedikitpun aspek revolusioner dari sosok seperti Wiji Thukul. Sebaliknya, ia menggambarkan bagaimana penyair keras kepala ini mampu bertahan dan menumpuk keberanian untuk pulang ke rumah dan menemui Sipon, kekasih hatinya.

Inilah pesan utama dari film ini menurut saya. Bahwa ketakutan, kesepian dan keterasingan yang diciptakan penguasa dapat [dan sudah semestinya] dilawan.

Hiphop dan Hal-hal Yang Tidak Akan Dimengerti Martin Suryajaya

I

Taksi yang saya tumpangi berhenti tepat di depan gerbang kantor. Saya segera bergerak cepat menurunkan barang-barang bawaan. Sementara, seorang perempuan tampak beringsut malas keluar dari taksi, lalu membuntuti saya dari belakang. Dua menit kemudian, taksi tersebut sudah menghilang pergi setelah pembayaran dilunasi.

Jam enam pagi di hari Natal. Dan tangan saya sedang merogoh ke celah sebuah sudut untuk mencari kunci pintu kantor.

Wajah perempuan di samping saya tampak pucat. Sekitar empat puluh menit yang lalu, saya harus menadah semburan muntahannya agar tidak mengotori lantai taksi. Mobil terpaksa menepi dan aspal jalan tol menjadi sasarannya. Ini adalah 25 Desember paling melelahkan bagi kami berdua.

Kemarin pagi, di jam yang hampir sama, kami berdua terbangun di sebuah kontrakan sederhana di Hue. Pagi tersebut, hari diawali dengan pelukan, kecupan dan dua mangkok mie khas Hue yang terkenal dengan potongan besar daging babi. Lalu menjalani dua jam penerbangan ke Sai Gon, menunggu tiga jam, berganti maskapai menuju Kuala Lumpur yang menghabiskan waktu empat jam, menghabiskan lima jam berikutnya di Malaysia, menahan kecewa karena perbangan yang terlambat hampir satu jam, sebelum terbang menuju Jakarta dan tiba dini hari untuk mendapati fakta bahwa penerbangan kami berikutnya tidak lagi menerima penumpang karena sedang siap lepas landas. Kami berdua terlambat.

Upaya untuk melakukan komplain gagal total. Maskapai yang kami gunakan dari Kuala Lumpur menyangkal dan enggan bertanggung jawab. Saya sejak awal telah menduga hal ini bakal terjadi. Percuma saja ribut. Buang waktu dan buang tenaga.

Kembali ke kantor adalah opsi paling logis dari beragam ide yang muncul di kepala. Lokasinya strategis. Dekat dengan apotik yang buka 24 jam, warung mie ayam yang selalu buka pagi hari, tivi kabel dengan lusinan kanal, koneksi internet yang lancar dan sebuah sepeda motor. Saya butuh semua itu.

Lagipula, ada kamar berukuran kecil di kantor yang dapat digunakan untuk berbaring. Ia bisa menonton serial Korea kesukaannya sembari berbaring memulihkan tenaga. Saya juga bisa membuatkan segelas teh manis untuknya. Lalu bisa kembali merumuskan bagaimana tidak secara naas terkurung di Jakarta.

Itulah sebabnya, saya membutuhkan kunci untuk membuka pintu kantor.

Dan semuanya berjalan sesuai rencana. Segelas teh manis, plus sirup tolak angin, semangkok mie ayam yang masih hangat, dan laptop yang sedang memutar serial Korea. Saya kemudian memintanya agar mencoba tidur barang sejenak selesai sarapan. Ia butuh memulihkan tenaga. Jakarta bukan destinasi akhir. Tiket pengganti baru saja dipesan dan sore nanti, kami berdua akan meninggalkan kota ini.

Setelah menyelimutinya, saya memilih menuju meja kerja yang sudah dua bulan terbengkalai. Rehat panjang setelah riset melelahkan di Papua. Penelitian yang tidak hanya menyedot energi dan menggerogoti fisik, tapi juga menggerus mental. Tapi juga sekaligus menguatkan rasa muak terhadap nasionalisme penuh darah a la tentara.

Di atas meja kerja yang tampaknya luput dibersihkan oleh office boy kantor, ada beberapa paket kiriman dan surat yang menumpuk rapi. Paket-paket ini berisi buku yang sebagian merupakan timbal balik apresiasi karena menulis untuk Minum Kopi. Ada juga kiriman dari beberapa toko buku online yang saya temukan melalui Instagram, kardus kecil dari Verso Books, sebuah bingkisan dari Amsterdam yang berisi empat buku dan kiriman versi cetak Jacobin Magazine dua edisi terakhir. Barang-barang ini yang sering membuat saya selalu kekurangan uang.

Tapi ada satu paket lain yang tampak asing. Kiriman buku dari Grimloc Records. Isinya? “Setelah Boombox Usai Menyalak”.

 

II

Dua puluh delapan tulisan, jika tulisan pengantar juga dihitung.

Dan sudah selayaknya dipandang sebagai bagian yang tidak terpisah dengan dua puluh tujuh artikel lain yang dianggap menjadi konten dari buku 230 halaman ini. Alasannya sederhana. Sebagai pengantar yang emosional dari kumpulan catatan yang ditulis dengan pendekatan orang pertama, apa bedanya?

Ini mungkin adalah bagian paling mengganggu di buku ini menurut saya. Lebih tampak sebagai epilog, catatan dengan judul “Setelah Boombox Usai Menyalak” justru dianggap prolog dan berakhir konyol dengan penempatan di bagian awal buku. Ia membunuh gairah menikmati buku ini secara prematur. Aborsi dengan cara paling brutal. Padahal, pengantar dari Taufiq Rahman sudah lebih dari cukup. Pengantar itu sendiri menurut saya adalah penjelasan panjang lebar yang di beberapa bagiannya seharusnya dipangkas karena overdosis. Sebagai pembaca, saya meyakini memiliki hak eksklusif untuk tidak diharuskan menderita dengan mendapatkan penjelasan sejak awal mengapa kompilasi catatan ini hadir. Bertubi-tubi. Dari editor dan langsung dari penulisnya.

Efek merusaknya persis seperti hadir di peragaan busana, mendengarkan seorang pembawa acara mengoceh terlalu lama di awal acara, membuatmu mengantuk, muak dan akhirnya menghabiskan waktu dengan bermain ponsel. Lalu ketika penderitaan itu berakhir dan kau mengira dunia akan beranjak lebih baik, si pembawa acara yang mengesalkan itu memaksa si perancang busana tampil ke panggung dan menjelaskan segala tetek bengek soal ragam rancangannya sebelum para model naik ke atas panggung.

Error ini fatal. Kecuali, jika kita menganggap pengantar adalah bagian tidak penting dari sebuah buku. Persis seperti buku-buku kuliah kebanyakan di mana bagian paling awal adalah seksi yang tidak akan ditengok karena membosankan. Namun, tidak bagi saya. Membaca bagian pengantar atau prolog adalah pemanasan yang tepat sebelum melahap isi sebuah buku. Jadi, wajar jika saya protes bukan?

Sebabnya, sejak awal saya membayangkan “Setelah Boombox Usai Menyalak” sebagai sebuah album yang berisi lagu-lagu terbaik seorang Morgue Vanguard. Seorang penulis yang bertahun-tahun lalu saya temukan melalui Lyssa Belum Tidur, lalu melalui Gutter Spit sesudahnya. Maka trek pertama yang ingin saya dengar adalah letupan yang akan menarik saya lebih jauh untuk berselancar.

Dan “Bapa” adalah kisah pembuka yang cocok. Namun menutupnya dengan cerita soal skena hardcore di Belanda?

So, Dirty ‘Rap’ Herry, can you ask the editor to put it on the last page next to your profile? It was so distracting and it does killed the joy.

Kebingungan saya berikutnya adalah pertanyaan apakah editor dan penulisnya sengaja mengacak urutan artikel-artikel di dalam buku ini sehingga tampak tidak terhubung?

Semisal, keping soal “10 Lagu Protes Lokal Terbaik” yang diletakkan di halaman 53. Sangat berjarak dengan “Mixtape Boikot ‘Bela Negara'” di halaman 133 dan “15 Album Hip Hop Paling Penting di Dekade Pertama 2000” yang ada di halaman ke 173. Yang jelas, susunannya tidak kronologis jika kita mengacu pada keterangan tambahan “Daftar Tulisan” di bagian belakang buku.

Saya bertanya-tanya, apakah tidak terpikir bagi editor dan penulisnya untuk setidaknya menempatkan tulisan-tulisan ini ke dalam sub tema tertentu jika memang urutan tahun terbit tidak masuk sebagai pertimbangan? Atau, orang-orang yang bertanggungjawab di balik penerbitan buku ini berkeinginan untuk menampilkan semacam citra ketidakberaturan? Apakah mereka sedang berupaya merefleksikan chaos dengan urutan yang sim salabim? Mungkinkah, pengaturan yang tidak beraturan itu karena penerbit dan editornya terpengaruh dengan citra penulisnya yang dikenal sebagai anarkis? Sehingga membuat buku ini juga mesti ditata secara “anarkistik”?

Saya berharap dugaan-dugaan ini secara keseluruhan salah besar. Sebab, untuk buku yang memiliki konten sebagus “Setelah Boombox Usai Menyalak”, saya -jika menjadi editor- tidak akan melakukan hal-hal di atas. Sebaliknya, akan lebih menolong bagi para pembaca jika seluruh tulisan di dalam buku ini dipilah ke dalam tiga topik utama.

Pertama, adalah tulisan-tulisan yang terkait dengan persona-persona di dunia musik yang menjadi inspirasi dan tulang punggung cerita. Semisal, dua obituari tentang Adam Yauch dan Matt “Doo” Reid dan bagian soal Andry Moch. Sub tema kedua adalah soal interpretasi dan refleksi personal seorang Herry Sutresna tentang dunia di sekitarnya. Misal tulisan “Making Punk A Threat Again” dan “Suara Rakyat Bukan Suara Tuhan”. Bagian ketiga misalnya -yang akan menjadi menu utama- adalah satu subbab yang berisi review-review sosiohistoris mengenai album atau sebuah band. Bagian ini akan lebih padat ketimbang yang lain karena sebagian besar tulisan di dalam buku ini berada dalam warna dominan tersebut. Di bagian terakhir, sebagai pencuci mulut, pembaca dapat disuguhkan mixtape atau top ten ala Ucok.

Dengan pembagian tersebut, penulis, editor dan penerbit setidaknya sedang berupaya bermurah hati kepada para pembaca yang datang dari sebuah negeri yang gemar membakar dan melarang buku.

Secara fisik, saya menyukai sampul buku ini. Minimalis tapi sarat pesan. Ia tidak norak atau berupaya terkesan misterius. Tapi sudah lebih dari cukup untuk terus mengundang selera membaca. Bagian lain yang juga nilai lebih dari buku ini -di luar konten- adalah absennya ISBN seperti yang umumnya tercantum di buku-buku terbitan lain. Ucok pasti sengaja meniadakan hal ini. Dan dengan begitu, ia semacam melakukan provokasi soal apa itu copyleft dan redefinisi mengenai penerbitan indie. Kritik yang implisit semacam ini bukan milik ekslusif Elevation Books atau Ucok, namun menemukannya dalam buku sebagus “Setelah Boombox Usai Menyalak” membuat seorang pembaca seperti mendapatkan hadiah Natal yang datang berulang.

 

III

Selain mixtape tentang bela negara, dan lagu-lagu pilihan Ucok -entah sepuluh, lima belas atau seratus-, tulisan-tulisan di buku ini membekas bagi saya. Beberapa di antaranya bahkan memiliki rasa candu yang membuatmu ingin membacanya berulang kali. Sebagian lain, membuatmu ingin menelisik lebih jauh dari sekedar apa yang ia terangkan di dalam tulisannya.

Harus jujur diakui, Ucok adalah salah satu penulis sosial-politik terbaik yang dimiliki Bandung -yang cukup produktif menulis dalam satu dekade terakhir. Dan ia memilih musik sebagai pintu masuk. Tulisannya sangat personal, enak dibaca, mengalir dan memberikan sudut pandang yang enggan berjarak. Berbeda dengan kebanyakan penulis tentang musik yang datang sebagai outsider, Ucok adalah seorang pelaku dan memiliki lebih dari cukup pengalaman sebagai pegiat komunitas musik bawah tanah.

Pembeda lainnya -dan yang paling signifikan- adalah kenyataan bahwa Ucok dilengkapi dengan horizon bacaan yang luas. Pengetahuan Ucok mengenai Marxisme dan anarkisme harus diakui menjadi faktor paling signifikan dalam interpretasinya mengenai hiphop. Namun di tangan Ucok, dua kutub ideologi tersebut -yang bagi banyak orang adalah musuh abadi- terbukti efisien dan efektif untuk digunakan sebagai perangkat analisis. Keduanya secara cerdik digunakan mengurai dari Goodspeed You! Black Emperor, Downset, Scritti Politti dan Public Enemy. Di dalam “Setelah Boombox Usai Menyalak”, Ucok seperti sedang memamerkan dirinya dengan cara yang sangat elegan sebagai manusia yang tidak tunduk pada ideologi, tapi sebagai penguasa ideologi. Ia seperti sedang mengejek orang-orang di luar sana -yang mengaku Marxis atau anarkis, namun terjebak dalam kacamata kuda hingga begitu kaku, membosankan dan pada akhirnya menjadi gerombolan fanatis.

Jika mayoritas Marxis adalah para pembenci anarkisme yang tidak ilmiah, dan sebagian besar anarkis adalah mereka yang bahkan tidak tuntas membaca Das Kapital dan Grundrisse, maka Ucok seperti berada di level seperti para Situationiste -saya bahkan berani bertaruh bahwa grup ini justru adalah salah satu sumber inspirasi dominan dalam perjalanan intelektual seorang Harry Sutresna. Posisi semacam inilah yang mungkin tidak akan pernah bisa dimengerti oleh Martin Suryajaya. Imajinasi-imajinasi politik seperti yang ditawarkan oleh Ucok dalam praktik politik dan tulisan-tulisannya -yang mau tak mau membuat saya teringat bagaimana para Situationiste hanya dianggap sebagai sekumpulan seniman gila- sulit untuk dikerangkeng dalam dogma-dogma Marxisme ortodoks.

Agak sulit tampaknya membayangkan Martin yang begitu sinis dengan pemikiran dan praktik Otonomia –dan tentu saja anarkisme secara keseluruhan– mampu mengerti soal praktik yang otonom, desentralis namun terhubung dalam sebuah jaringan organik -sesuatu yang secara tidak langsung tampak begitu jelas diadvokasikan dalam tulisan Ucok. Menuduh orang-orang -seperti Ucok- sebagai mereka yang tidak bisa membedakan antara menggalang revolusi dan pergi piknik, itu semata-mata karena Martin abai terhadap asal-usul materialis dari pemikiran orang-orang seperti Ucok. Tipe yang mengalami fase radikalisasi tidak hanya dari diskusi-diskusi panjang dan melelahkan di ruang kelas -yang umumnya hanya dipenuhi mahasiswa-mahasiswa sok herois, sok humanis, sok humanis- atau berasal kamar hangat seorang filsuf ‘radikal’. Sebaliknya -seperti yang tercatat dalam “Setelah Boombox Usai Menyalak”, Morgue Vanguard adalah sosok yang lahir dari kombinasi dari pengalaman membenturkan literatur dengan aktivitas harian di jalanan, jatuh bangun pengorganisiran warga atau pentungan aparat.

Martin, juga mungkin tidak akan bisa mengerti sepenuhnya mengapa Ucok -yang adalah seorang punk- mengambil posisi yang sangat berbeda dan justru menulis kritik kepada punk di Aceh.

Pemahaman akan hal seperti ini hanya akan bisa muncul jika Martin paham mengenai dinamika komunitas punk di Indonesia.

Bagaimana rasanya mendapati banyak punk adalah orang-orang yang sangat nasionalis. Nasionalisme -sebuah keyakinan yang menempatkan negara-bangsa sebagai poros dan metamorfosis puncaknya adalah fasisme- tidaklah dilihat sebagai aib. Yang paling bisa dimaklumi adalah kenyataan bahwa injeksi tentang ideologi ini telah dimulai ketika seseorang bahkan belum layak berada di bangku sekolah dasar. Dari umur yang sangat muda, kita telah dipertontonkan dan tak jarang dilibatkan dalam ritual-ritual nasionalisme. Proses ini dilakukan hampir begitu sempurna hingga membuat seseorang sangat sulit menerima fakta bahwa negara melakukan kesalahan. Ada beberapa pengecualian. Namun hanya dalam kasus-kasus tertentu yang jumlahnya sangat minor.

Itu setidaknya bisa menjelaskan mengapa seorang punk terlibat begitu semangat dengan euforia 17 Agustus -yang tak jarang dihelat di puncak gunung, di tepi danau, di pantai, atau bahkan mungkin di lingkungannya sendiri. Itu biasa.

Ini bukan tanpa sebab. Karena memang hal ini diwariskan. Ideologi ini direproduksi dengan sempurna di mayoritas skena-skena punk itu sendiri. Ia dihidupkan dalam praktek dan diajarkan oleh generasi yang satu kepada generasi berikut. Direplikasi dan terus menerus diperbaharui dengan argumen-argumen baru yang sebenarnya penuh borok. Kita misalnya akan dengan mudah menemukan lirik lagu-lagu punk yang kental dengan semangat nasionalisme. Hal itu bukan dilakukan tanpa sadar. Karena tentu saja sebuah lagu bukan hasil dari ketidaksengajaan atau kecelakaan waktu. Sebuah lagu merupakan ekstraksi dari isi kepala penulis dan komposer lagu tersebut. Setiap kata telah melalui seleksi ketat dalam otak melalui proses kognitif sebelum terangkai. Karena itu lagu bukan produk sim sala bim. Setiap lagu merupakan produk historis yang memberi penjelasan tentang si penulisnya.

Kritikannya terhadap peristiwa penangkapan di Aceh dan respon punk di daerah lain menunjukkan bahwa Herry Sutresna adalah seorang penjudi yang baik. Untuk berjudi, diperlukan dua hal: tahu dan berani. Seorang penjudi yang baik adalah seseorang yang tahu dengan benar apa yang sedang dihadapinya dan konsekuensi yang bakal menjadi ganjaran. Di saat yang bersamaan ia juga mesti berani untuk mempertaruhkan semua yang ia miliki.

Saya berani mengatakan bahwa kebanyakan punk di Indonesia tak punya itu. Mereka tak tahu dan tak berani.

Sebab untuk tahu sesuatu, seseorang mesti berani melakukan pengorbanan. Mengorbankan waktu, uang, relasi sosial dan bahkan cinta. Untuk mendapatkan pengetahuan, seorang punk mesti menantang diri sekaligus menerima tragedi dengan tangan terbuka. Agar seseorang berani melakukan itu semua, ia mesti tahu dengan dirinya, lingkungan sosial dan alam di sekitar dirinya. Dia mesti mengenali apa kebutuhan, kemampuan dan batas-batas imajiner lain yang akan dilampaui. Tanpa itu semua, seperti menuju medan pertempuran tanpa persiapan dan senjata.

Tahu dan berani adalah proses yang berjalan beriringan dan mesti dihentak bersamaan geraknya. Jika hanya menyalakan salah satu, imbalansi yang akan menjadi hasil. Memiliki pengetahuan tetapi penakut atau kemudian menjadi pemberani tanpa pengetahuan. Jika orang dengan ketidakseimbangan seperti itu menghadapi perang, tentu saja ia berakhir menyedihkan.

Menurut saya, itulah yang menjadi alasan mengapa seorang Morgue Vanguard memiliki interpretasi yang unik terhadap ideologi-ideologi tersebut -yang pada akhirnya menjadi marka pembeda dirinya dengan kebanyakan penulis musik di Indonesia yang kering dan tampak mirip satu dengan yang lain. Ia memiliki cara bertutur yang khas. Dalam “Setelah Boombox Usai Menyalak”, kita bisa menemukan dengan jelas hal tersebut. Bagaimana seorang Herry Sutresna dengan jeli memilih untuk menulis secara kronik dan tidak luput mengurai soal iven-iven sosial di seputaran musisi, lagu atau sebuah album. Pengetahuan dan kedalaman analisis yang dimilikinya adalah sesuatu yang direngkuh dengan pengorbanan yang tentu tidak murah dan tanpa harga.

Faktor lain yang membuat buku ini berbeda bagi saya adalah deklarasi tanpa malu-malu “Setelah Boombox Usai Menyalak” untuk mengambil sebuah posisi. Berbeda dengan dogma akan netralitas yang menjangkiti kebanyakan penulis musik di Indonesia, Ucok tidak berpura-pura atau menyangkal bahwa musik yang ia dengar -dan kemudian memprovokasi musik yang ia hasilkan di kemudian hari- adalah produk yang absen dari pertikaian-pertikaian sosial dan pertentangan kelas. Semuanya terang benderang tampak di setiap artikelnya. Kadang, dalam tulisannya secara implisit Ucok sedang mempromosikan musik yang lahir dari latar belakang seperti ini.

Bagi saya, dalam buku ini Ucok seperti sedang mengkomunikasikan kepada para pembaca bahwa musik yang mengingkari eksisnya pertikaian-pertikaian sosial di sekitarnya, adalah produk yang hampa: tak berjiwa. Tapi di saat yang bersamaan juga menekankan bahwa hal tersebut tidak sinonim mengenai keharusan agar musik dikemudikan oleh propaganda politik murahan -yang pada kebanyakan kasus justru memiliki efek merusak maksimal hingga sebuah produk seni menjadi semacam rapalan dogmatis yang terdengar seperti sirene bangun pagi di barak tentara.

Hal-hal di atas membuat tulisan-tulisan di dalam “Setelah Boombox Usai Menyalak” terasa legit dan layak untuk dibaca berulang-ulang.

 

IV

Saya terus berupaya menahan diri untuk tidak membaca lagi artikel mengenai Scritti Politti dan Godspeed You! Black Emperor dalam “Setelah Boombox Usai Menyalak”. Perasaan ini terus mengganggu sejak taksi baru meninggalkan kantor hingga kini ketika kami telah selesai check in. Sekali saat sore tadi rasanya justru membekaskan rasa tidak puas. Tapi hal ini urung saya lakukan. Sebab kepada perempuan yang kini sedang menyantap makan malamnya, saya pernah berjanji bahwa tidak akan membaca berita dan buku, berbalas komentar di media sosial atau menghabiskan waktu memainkan Football Manager 2017 ketika ia berada di samping. Liburan kali ini adalah soal kami berdua dan ponsel akan selalu dalam keadaan off. Apalagi hari ini, tubuhnya berada dalam kondisi yang kurang sehat.

Semuanya makin runyam karena saya tahu betul bahwa rasa makanan di restoran-restoran yang berada di bandara, hanya setingkat lebih baik dari dapur umum.

“Kau akan membaca buku itu sekarang?” Sepasang matanya menatap buku berwarna merah gelap yang menjadi alas ponsel.

Saya mengangguk pelan. “Nanti ketika berada di dalam pesawat. Belum sekarang.” Ia tersenyum mendengar jawaban tersebut. “Sekarang, aku hanya ingin berduaan denganmu. Itu saja.” Saya menggenggam tangannya. Meyakinkan dirinya bahwa rutinitas membaca buku kini bukan berada di puncak prioritas sebagaimana hari-hari kemarin. Selama seminggu ke depan, ia akan menjadi yang utama.

Kami memasuki ruang tunggu seperti yang tertera di lembar tiket, lalu bergegas memilih tempat duduk. Kami duduk berdampingan. Ia yang berada di sebelah kiri lalu merebahkan kepalanya ke pundak. Bau rambutnya dengan mudah tercium. Aroma rasa lelah yang tidak terbawa arus karena jangkar kegembiraan masih cukup kuat menahan. Saya menatap sejenak buku berwarna merah gelap di bangku sebelah kanan. Huruf-hurufnya seperti sedang merayu agar kembali dibaca. Segera.

Sementara di dalam kepala, ada kalimat-kalimat imajiner yang terangkai secara magis. Ia melintas begitu saja. Tentang bagaimana nanti menuliskan kesan setelah usai membaca buku ini. Saat itu pula, saya berjanji akan berupaya sekuat tenaga untuk tidak menjadi spoiler bagi mereka yang belum membaca buku ini. Saya tidak akan menggelar isi perut buku ini di dalam review singkat dan naif semacam ini. Sebab, bacaan sebagus “Setelah Boombox Usai Menyalak” harusnya menjadi kejutan personal bagi tiap-tiap orang yang membacanya. Anda hanya perlu menghubungi Elevation Books melalui email atau twitter. Jika mereka nanti kurang puas dan ingin menambah dosis, setiap orang bebas untuk mengunjungi Gutterspit, blog pribadi Ucok. Di dalamnya ada tulisan-tulisan serupa dan tak kalah bagus dengan yang ada di dalam buku.

Sembari membaca, mungkin track dari Bars of Death ini ini layak diputar sebagai kawan. Seperti yang saya lakukan tadi sore ketika perempuan itu sedang tertidur.

Kota: Reklamasi

Andre Barahamin

 

“Kita membutuhkan keindahan, keteraturan
dan kenyamanan.” — C. J. Rantung
(Gubernur Sulawesi Utara, 1985-1995)

***

Saya lahir dan dibesarkan di Manado.

Kota ini terletak di sepanjang teluk bernama sama. Menghadap pantai dan jadi terminal singgah bagi mereka yang ingin ke Bunaken, pulau kecil yang dikenal pelancong karena keindahan alam bawah lautnya. Di kota ini, reklamasi dimulai sejak 1995. Tepat di penghujung masa jabatan Cornelis John Rantung -seorang purnawirawan militer berpangkat Brigadir Jendral, sebelum ia digantikan oleh pensiunan tentara dengan pangkat terakhir Mayor Jendral bernama E. E. Mangindaan.

Manado, ketika memulai reklamasi juga mengabarkan kepada semua penghuni kota -terutama nelayan yang bertebaran di sepanjang pantai- bahwa ini adalah satu-satunya cara yang logis untuk melindungi kota dari amuk gelombang pantai. Menimbun laut dangkal di Teluk Manado dan mengubahnya jadi daratan artifisial diwartakan sebagai jalan keluar bagi nelayan agar tak perlu khawatir rusaknya perahu-perahu mereka disapu badai. Kebijakan ini dipandang sebagai strategi yang lebih jitu ketimbang membangun tanggul -yang menjadi tuntutan nelayan saat itu- untuk mengurangi efek kerusakan saat angin Selatan dan angin Barat singgah dengan marah.

Saat batu reklamasi pertama ditenggelamkan, Soeharto masih berkuasa. Protes pada kebijakan negara saat itu berarti makar.

Ketika Mangindaan ditunjuk DPRD Sulawesi Utara untuk menggantikan Rantung, reklamasi mencapai puncaknya. Pria yang kini merupakan salah satu petinggi Partai Demokrat ini lalu menggeber skema yang lebih ambisius dengan meluncurkan rencana untuk menimbun areal pantai sepanjang lebih dari 10 km dengan lebar menjorok ke laut hingga 500 meter. Bayangannya, hasil reklamasi nanti tidak hanya sekedar menjadikannya benteng melawan gelombang pasang yang datang menampar bibir pantai.

Mangindaan ingin lebih jauh dengan tujuan mentransformasikan areal reklamasi sebagai pusat jasa yang mungkin menjadi sumber-sumber ekonomi baru, membuka lapangan pekerjaan dan mempercantik dandanan kota agar tak kalah bersaing dengan Makassar di ujung selatan jazirah Sulawesi.

Reklamasi dilakukan bertahap. Kampung-kampung nelayan yang berada tepat di depan pantai diberikan arahan. Mereka diiming-imingi soal peningkatan kesejahteraan ekonomi, garansi akan ketersediaan lapangan kerja baru -di luar profesi yang diwariskan bergenerasi sebagai nelayan- serta bagaimana kota ini akan menjadi lebih maju, lebih baik, lebih modern, lebih beradab dan tentu saja lebih mudah mengundang investasi datang.

Semua yang pernah singgah ke Manado sejak lima tahun terakhir tentu menyaksikan sendiri bagaimana kota kecil ini mengubah dirinya dalam sekejap. Kini, gedung-gedung pusat perbelanjaan berdiri megah. Ramai warna-warni dengan semua jenis layanan. Mulai dari potong rambut, swalayan, kafe untuk minum kopi, rumah makan, toko bangunan hingga karaoke dan bar.

Satu-satunya yang tersisa dan masih melawan hingga hari ini adalah sebagian kecil nelayan di Sario-Tumpaan.

Nelayan-nelayan lain yang kalah berebut akses pantai dengan bisnis-bisnis raksasa itu beralih profesi. Sebagian pemuda menjadi tukang parkir serabutan, sejumlah kecil membangun kios sekedarnya untuk menjual rokok, sabun mandi, kopi dan mi instan, serta obat nyamuk, yang lain memilih menjual tanah dan menyingkir jauh, sisanya yang bertahan menjadi penonton gemerlapnya hidup kota.

* * *

Persoalannya, apa yang kita yakini tepat belum tentu dipandang sama oleh yang lain.

Bagi banyak orang yang belum paham, cara orang Malind di Papua memakan sagu dengan tangan -tanpa alat bantu makan seperti sendok- yang hanya dibasuh di anak sungai tentu tidak higienis. Atau hidup dengan pendapatan kurang dari satu juta per bulan seperti pengikut Samin di Kendeng dapat diartikan sebagai kemiskinan.

Pandangan -yang lain sudah berada di tahap menghakimi- semacam ini hadir karena dua pokok alasan.

Pertama, kolonialisme. Cara pandang macam itu tidak jauh berbeda dengan kesimpulan yang diambil para petualang Kaukasia dari daratan Eropa ketika singgah pertama kali di daerah-daerah asing. Tidak menggunakan penutup dada, mewarnai wajah, telanjang utuh, melobangi bagian-bagian tertentu di kepala -seperti telinga, lidah dan hidung- dan memasangnya dengan perhiasan berukuran besar, mentato tubuh dan lain sejenisnya, dipandang sebagai perilaku barbar, tidak etis dan tentu saja menyalahi kaidah dan tata nilai.

Persoalannya kemudian, indikator-indikator yang digunakan untuk menilai perilaku tersebut datang dari mereka yang asing, yang tidak paham atau gagal mengerti budaya macam apa di hadapannya.

Sebabnya selama ini, orang-orang tersebut tidak pernah -atau tidak mau- berinteraksi dengan yang ada di luar lingkaran sosial budaya mereka sendiri. Ketidaktahuan dan keengganan tersebut kemudian menjadi alasan untuk kemudian memaksa orang lain untuk mengubah diri -dalam banyak kasus justru yang terjadi adalah “diubah”- menjadi seturut dengan apa yang dipandang mereka benar.

Mereka secara naif percaya bahwa perilaku-perilaku yang berbeda dengan mereka, semata-mata disebabkan oleh kurangnya informasi dan pentingnya edukasi. Pola pikir dan perilaku macam ini adalah warisan kolonialisme yang memandang dirinya sebagai yang terutama, yang paling mengetahui, yang paling terdidik dan sejalan dengan itu menempatkan diri -atau kaumnya- sebagai pusat rotasi kehidupan dan peradaban secara umum.

Kedua, diskriminasi. Agak berbeda dengan sebab yang terdahulu, orang-orang yang bersikap diskriminatif bukanlah mereka yang tidak tahu atau tidak paham sama sekali (zero knowledge).

Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang mengerti -dengan berbagai level pemahamannya- bahwa ada tata nilai, gaya hidup dan keyakinan spiritual yang berbeda. Namun mereka terlalu bebal untuk menerima kenyataan itu.

Bagi mereka, hidup yang layak mesti terukur, tertata dan terstruktur menurut aturan yang mereka kreasikan. Jenis manusia macam ini sejak awal tidak akan peduli segala sesuatu di luar keyakinan dan tata nilai yang mereka miliki.

Ketika Hitler membantai kaum gipsi, homoseksual dan orang-orang Yahudi, ia bukan tidak sadar atau tidak tahu bahwa kelompok-kelompok tersebut berbeda dengan dirinya. Hitler justru paham betul bahwa orang-orang itu harus dibunuh atau dikirim ke kamp-kamp perbudakan karena ia tidak bersepakat dengan nilai dan keyakinan di luar apa yang ia percayai.

Mereka yang diskriminatif serupa dengan Hitler, jijik terhadap perbedaan.

Jenis manusia yang landasan pokok-pokok pikirannya termasuk ke dalam dua kategori di atas, umumnya tinggal di kawasan urban. Mereka tinggal di daerah yang mereka yakini dan klaim sebagai pusat-pusat peradaban.

Mereka biasanya datang dari kalangan terdidik dengan dukungan fasilitas pendidikan. Mereka memiliki gedung-gedung kesenian yang ditasbihkan menjadi pusat-pusat kebudayaan sebagai tempat membincangkan soal-soal filsafati. Memiliki sarana transportasi yang mumpuni untuk mendukung mobilitas yang tinggi karena padatnya aktifitas. Orang-orang ini mawas diri dengan perubahan teknologi dan tidak canggung untuk beradaptasi.

Mereka adalah kaum yang secara individual terhubung namun secara sosial terpisah.

* * *

Ketika resistensi terhadap reklamasi Teluk Jakarta mulai menguat, bersamaan dengan itu muncul apologi-apologi naif serta pembelaan-pembelaan fasis dari dua jenis manusia yang saya sebut di atas.

Apologi-apologi naif datang dari jenis yang pertama.

Bagi kelompok ini, masyarakat yang beradab adalah yang harus berubah. Dinamika peradaban dipahami berjalan lurus ke depan, mulus tanpa hambatan dan akan berujung kebahagiaan bagi semua orang. Mereka percaya bahwa tata kota -penggusuran dan reklamasi- adalah kendaraan menuju pemerataan ekonomi, hidup yang lebih bersih dan teratur serta masa depan yang cerah.

Orang-orang naif ini belum tahu bahwa kota semenjak ia ditemukan pertama kali di tepi sungai Tigris dan Eufrat, di tepi sungai Gangga, di tepi sungai Nil atau di tepi sungai Kuning, bukanlah tempat yang mendamaikan.

Kota sejarahnya diciptakan untuk membedakan antara mereka yang beradab dan yang barbar, mereka yang terobsesi dengan progres dan yang mencintai proses. Kota bukanlah zona damai. Kota adalah monumen sekaligus arena pertarungan kelas yang dalam banyak catatan, selalu dimenangkan minoritas penguasa kapital.

Sementara pembelaan-pembelaan fasis, mengemuka dari kelompok yang kedua.

Argumentasi yang memandang para nelayan penolak reklamasi sebagai kelompok miskin tak tahu diuntung sehingga layak disingkirkan.

Bagi jenis manusia macam ini, kota hanya diperuntukkan bagi kaum terpilih. Tinggal di kota hanya layak bagi mereka yang bersepakat untuk merengkuh ke dalam dirinya, karakter fasisme yang melekat dan menyejarah sejak ruang tinggal bernama kota ditemukan peradaban manusia.

Kota dalam pandangan mereka adalah ruang suci yang tidak boleh dikotori oleh manusia-manusia yang menjalani hidup dalam amorfati: menantang takdir. Penduduk kota bagi kelompok ini haruslah barisan terkutuk seumpama Sisifus namun minus orientasi. Yang layak hidup di kota adalah mereka yang sukses menanggalkan kemanusiaannya dan menjadi mesin seutuhnya.

Dengan begitu, kota akan menjadi tempat yang patut ditinggali sebelum nantinya ditelantarkan.

* * *

IMG_20160429_080852Besok, WatchDoc akan melakukan pemutaran film “Rayuan Pulau Palsu”. Ini satu dari sekian banyak bentuk advokasi audio-visual yang ditempuh kolektif ini sejak berdiri enam tahun lalu. Pemutaran film ini akan diadakan di Muara Angke, lokasi di mana Perang sesungguhnya sedang berlangsung -bukan di Goethe Haus, gedung-gedung kesenian atau universitas.

Ini adalah film dokumenter untuk memberi sedikit gambaran mengapa orang-orang di Muara Angke menolak reklamasi dan memilih hidup.

Saya beruntung bisa berkesempatan menonton film ini dua hari lalu, sebelum ia dirilis secara resmi. Dokumenter ini spesial. Oleh karenanya, ia belum akan tayang gratis di kanal YouTube. Film ini dimandatkan untuk menjumpai mereka yang kisahnya direkam, orang-orang yang hidupnya dicuplik dalam narasi dokumenter ini.

Untuk mereka-lah, film itu dibuat. Untuk menjadi pengingat, penyemangat dan harapan bahwa hidup yang layak dijalani adalah hidup yang diperjuangkan: sepenuh-penuhnya, sehormat-hormatnya.

Sport #00: Xavi Simons

Mungkin kurang dari satu dekade. Jika prediksi ini benar, sekitar enam atau tujuh tahun lagi para pendukung Barcelona akan menyambut pemain muda dengan talenta luar biasa.

* * *

Saya menemukan video final La Liga Promises 2015 secara tidak sengaja. Awalnya, hanya melihat cuplikan-cuplikan video tentang remaja-remaja yang dianggap memiliki bakat istimewa dalam sepakbola. Hingga kemudian, YouTube mengarahkan saya ke tautan di bawah ini.

Ada rasa penasaran tentu saja.

Pertama, ukuran badan anak ini terlampau kecil jika dibanding dengan susunan pemain Valencia yang turun sejak menit pertama. Kedua, ban kapten yang melekat di lengan kirinya. Lalu gaya rambut pirang berombak dengan seragam Barcelona, mau tidak mau membuat saya membayangkan Carles Puyol. Terakhir adalah gaya bermain dan stamina yang ia tampilkan selama pertandingan.

Bocah tersebut adalah anak laki-laki Regillio Simons, seorang mantan pemain bola yang pernah membela NAC Breda, Willem II dan ADO Den Haag. Kecuali Kyoto Purple Sanga, Simons senior menghabiskan karirnya di tanah Belanda. Sebab ia memang terlahir dan tumbuh besar di negeri itu. Prestasinya tidak terlalu gemerlap. Setelah pensiun, Simons kemudian memilih menjadi pelatih. Kini ia bekerja di akademi milik Ajax Amsterdam.

Meski berkebangsaan Belanda, Regillio jatuh cinta dengan Barcelona. Terutama Xavi Hernandez. Seorang pengatur serangan, sosok sentral di tengah lapangan Barcelona maupun tim nasional Spanyol. Terkenal sebagai pengumpan kelas wahid. Disegani karena ketenangan dan kharisma sebagai pemimpin di dalam lapangan. Kecintaan itu menemukan manifestasi tahun 2002. Anak pertama Regillio lahir. Tanpa ragu, ia memberi nama Xavi.

Tiga tahun kemudian, bersama keluarga kecilnya, Regillio hijrah ke Alicante, Spanyol.

* * *

Xavi Simons baru berumur 12 tahun ketika La Liga Promises dilangsungkan di Miami, Desember 2015. Ia berhasil membawa timnya hingga ke babak final. Di partai pamungkas, mereka menaklukkan Valencia. 4-3 untuk kemenangan Barcelona. Xavi memang tidak mencetak gol. Tapi bukan itu inti masalahnya.

Ia tentu saja spesial dan punya bakat besar. Talentanya bahkan telah berhasil menggoda Chelsea untuk menawarkan pindah ke London dan meninggalkan La Masia. Kabarnya, bujuk rayu ini sudah berlangsung sejak tahun lalu. Tapi selalu ditolak oleh Regillio. Ia ingin Xavi mendapatkan waktu untuk berkembang dan belajar lebih banyak soal sepakbola. Untuk itu, Regillio meyakini bahwa sistem pengkaderan pesepakbola milik Barcelona jauh lebih baik dari klub kepunyaan Roman Abramovich.

Turnamen La Liga Promises memang jadi ajang pencarian bakat muda untuk kemudian dididik lebih lanjut di akademi-akademi sepakbola. Andres Iniesta diboyong Barcelona setelah tampil memukau dengan seragam Albacete di kejuaraan ini.

Perjalanan bocah ini sebenarnya telah terentang jauh sebelum turnamen ini digelar. Di umur 6 tahun, Xavi Simons telah berhasil memukau Villareal. Sayang ia terlalu muda untuk bermain di tim kategori umur yang mensyaratkan batas minimal 9 tahun. Kegagalan itu tidak lama. Seminggu kemudian, Barcelona datang dan menawarkan Regillio beasiswa belajar bagi Xavi. Di umur 7 tahun, Xavi resmi bergabung dengan Barcelona dan menjalani pendidikan formalnya di La Masia.

Tidak butuh waktu lama bagi Xavi untuk menjadikan dirinya topik hangat pembicaraan para pencari bakat di seantero Spanyol dan daratan Eropa Barat.

Berposisi sebagai gelandang jangkar, dibekali stamina tinggi, daya jelajah yang luas dan kecerdasan dalam mengatur permainan. Tidak salah jika tim seperti Real Madrid, Celta Vigo, Atletico Madrid hingga PSV Eindhoven telah menyatakan tertarik meminang bocah ini. Apalagi ketika ia memboyong piala Most Valuable Player (MVP) seusai La Liga Promises berlangsung.

Di lapangan, Xavi tampak begitu dewasa. Jago melakukan tekel sebagai cara untuk mengimbangi kelemahan dalam duel udara. Ia pandai mencari posisi dan membuka ruang sebelum mengalirkan bola. Akurasi umpannya mencapai 89% dan menjadi yang tertinggi selama turnamen. Xavi juga bermain penuh dalam empat pertandingan, dan hanya satu kali saja ditarik keluar. Itu sebabnya ia mengantongi menit bermain paling banyak di antara kawan-kawan timnya.

Sang ayah kepada Daily Mail mengatakan bahwa ia telah menerima tawaran dari banyak orang yang ingin menjadi agen dan mewakili Xavi. Mereka menawarkan peralatan olahraga hingga jumlah uang yang tergolong besar untuk bocah berumur 12 tahun. Jumlahnya bahkan berlipat ganda setelah Xavi sukses memimpin Barcelona menjadi juara La Liga Promises untuk kali ke 5 sepanjang 20 tahun penyelenggaran turnamen ini.

* * *

Saat Barcelona merengkuh treble winners di akhir musim 2014-2015, momen itu juga menjadi tanda perpisahan dengan Xavi Hernandez. Maestro dan jendral lapangan tengah oleh pihak manajemen tidak lagi diperpanjang kontraknya dan kemudian menyepi ke Timur Tengah. Sebagai gantinya, Barca memboyong Arda Turan.

Alasannya jelas.

Hijrahnya Xavi dari Catalan dan semakin uzurnya Iniesta juga menyodorkan pertanyaan penting tentang siapa “anak kampung” yang akan menggantikan posisi keduanya. Sergio Busquet adalah tipe gelandang bertahan yang sama sekali memiliki karakter berbeda.

Mereka butuh pemain dengan visi dan kemampuan untuk mendikte permainan. Memiliki akurasi umpan yang baik dan kecerdasan untuk mengubah jalannya permainan. Setelah Xavi, Barca memang masih punya Andres Iniesta. Tapi cedera yang semakin sering mampir dan umur yang beranjak tua jadi alasan logis. Pindahnya Thiago Alcantara yang awalnya didaulat sebagai pemegang tongkat estafet jendral lini tengah memang menyisakan masalah. Thiago malah memilih menyeberang ke Bayern Munich menerima tawaran Pep Guardiola. Peristiwa yang membuat Barcelona tidak lagi memiliki pemain dengan tipe sejenis. Sergi Roberto dan Rafinha sudah terbukti tidak berada di level yang sama. Itu juga alasan mengapa Ivan Rakitic ditebus dari Sevilla awal musim 2014-2015.

Klaim bahwa La Masia adalah produsen pemain-pemain terbaik kini sedang ditantang.

Misal, setelah Victor Valdez memilih tidak memperpanjang kontrak, Barcelona bahkan tergopoh-gopoh memboyong dua kiper sekaligus. Kebijakan transfer ini menunjukkan bahwa La Masia tidak mampu menelurkan penerus Valdez di bawah mistar.

Di barisan pertahanan, setelah Puyol pensiun, Barca total hanya punya Pique dan Jordi Alba sebagai alumni akademi yang bermain reguler. Ada juga nama Aleix Vidal. Namun penting dicatat, ketiganya diboyong pulang dengan harga yang tidak murah setelah sukses di klub lain. Marc Bartra harus melatih kesabaran dan menahan keinginan sebagai pelapis Javier Mascherano karena Jeremy Mathieu dan Thomas Vermaelen kadung dibajak oleh kepanikan manajemen. Nasib lebih naas dihadapi Martin Montoya yang kini sedang berjuang membuktikan diri bahwa pembelian Douglas adalah sesuatu yang keliru. Lihat kasus Hector Bellerin yang bersinar di Arsenal.

Di lini tengah, masih ada Denis Suarez yang permainannya semakin membaik bersama Sevilla. Juga nama Alen Halilovic yang dibajak dari Dinamo Zagreb, namun kini sedang merajut harap bersama Sporting Gijon. Mungkin Thiago Alcantara bisa ditawari pulang jika Guardiola habis perkara di Muenchen. Syaratnya, jangan sampai Thiago diperlakukan seperti Fabregas.

Untuk barisan penyerang, Barcelona paling royal dan La Masia akhirnya tampak tak becus. Bojan Krkic dan Pedro Rodriguez bahkan harus menyingkir untuk memberi jalan bintang-bintang berharga mahal yang diboyong ke Camp Nou. Meski memang ada nama-nama seperti Gerard Deulofeu yang telah dijual ke Everton dan justru makin tajam. Klausul pembelian kembali oleh Barcelona masih berlaku untuk dua tahun ke depan. Nasibnya tak jauh dengan Adama Traore di Aston Villa. Tiga tahun adalah kesempatan bagi Barca untuk menimbang layak tidaknya ia pulang. Christian Tello juga kini sedang mengembangkan diri di Fiorentina.

Namun nama-nama itu akan percuma jika sekedar jadi penghangat bangku cadangan. Bukan tidak mungkin Sandro Ramirez dan Munir El Haddadi juga akan bosan dan memilih pergi dalam waktu dekat jika terlalu sering hanya menonton dari pinggir lapangan.

Jika perilaku ini terus berlangsung, maka La Masia tinggal dongeng masa lalu semata dan para pendukung Barcelona harus mulai belajar menutup mulut. Dan itu berarti  saatnya bagi Xavi Simons meminta ayahnya agar mempertimbangkan tawaran klub lain.

Tapi jangan Chelsea. Itu pilihan kampret soalnya.

Seediq Bale: Perjuangan Orang Asli Menentang Kolonialisme

“Apakah sekolah, rumah sakit dan kantor pos membuat hidup kita lebih baik? Tidak! Hal itu justru membuat hidup kita terlihat lebih melarat.”

–Mouna Rudao, Kepala Kampung Mehebu dan Pemimpin Insureksi Wushen.

 

Kutipan film ini pertama kali saya tonton di akhir tahun 2013. Seorang teman membawa potongan film ini. Kualitasnya tidak begitu bagus. Dengan bahasa yang belum pernah saya dengar sebelumnya, dan tanpa terjemahan. Berdurasi sekitar 15 menit yang menceritakan menit-menit konsolidasi orang-orang asli di Formosa hingga meletusnya tragedi Wushan.

Sejak menonton kutipan tersebut, saya berjanji untuk mencari potongan utuh film ini. Butuh hampir setahun hingga akhirnya punya seluruh koleksi film ini. Sangat sulit karena film ini pada awalnya tidak memiliki terjemahan teks dalam bahasa Inggris.

Film ini sendiri ada dua versi. Yang pertama terdiri dari dua film yang jika digabungkan akan memakan waktu 276 menit. Empat jam lebih. Bagian ini diberi subjudul “The Sun Flag” (Bendera Matahari). Menunjuk kepada periode awal masuknya Jepang di Formosa. The Rainboow Bridge (Jembatan Pelangi) adalah subjudul bagian kedua. Pemberian subjudul ini merujuk pada kosmologi orang-orang Seediq soal kehidupan setelah kematian. Panjang durasinya 132 menit.

Sementara versi yang kedua, jauh lebih pendek. Alasannya lebih bersifat komersil sewaktu film ini diikutkan dalam kompetisi-kompetisi internasional. Film ini ditayangkan pada Festival Film Internasional Venezia yang ke 68. Durasi yang terlalu panjang membuat sutradara dan produser film memutuskan untuk menghadirkan versi yang hanya 150 menit saja. Di perayaan Academy Award ke 84, Seediq Bale masuk sebagai satu dari sembilan film asing terbaik.

Ada sedikit keberuntungan karena film ini digarap langsung oleh orang Taiwan. Jika ia diserahkan ke tangan industri macam Hollywood, kita hanya akan menemukan orang-orang Seediq saling berbincang dalam bahasa Inggris. Bahasa yang digunakan dalam film ini ada tiga. Selain bahasa Seediq dan bahasa Jepang, beberapa dialog berlangsung menggunakan bahasa Mandarin. Hal ini merujuk pada keberadaan orang-orang Han di pulau Formosa.

Seediq Bale sendiri secara harafiah secara harafiah berarti “Seediq Sejati”. Film ini mungkin bisa dipadankan dengan Apocalypto-nya Mel Gibson. Yang mungkin bagi banyak orang, film macam ini dianggap terlalu mengumbar adegan kekerasan dan darah. Sikap yang aneh karena Insureksi Wushan adalah penceritaan sebuah periode perang. Tentu saja tidak ada perang yang tanpa menyertakan kekerasan dan darah.

Wei Te Sheng, sang sutradara dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa ide mengenai cerita –yang mencatatkan sejarah sebagai film dengan ongkos produksi termahal di Taiwan– insureksi orang-orang Seediq melawan Jepang mulai muncul di tahun 1996. Berawal dari ketika Wei menonton sebuah berita mengenai sebuah kelompok orang asli di Taiwan yang menuntut negara mengembalikan tanah ulayat mereka. Ide ini makin menguat ketika suatu ketika Wei mengunjungi sebuah toko buku dan mendapati Qiu Ruolung, komik yang bercerita tentang peristiwa tersebut.

Ide ini kemudian mulai dituangkan dalam bentuk naskah yang mulai ditulis Wei di periode tahun 1997-1999.

Naskah ini selesai utuh di tahun 2000 dan memenangkan perhargaan The Excellent Film Screenplay Award dari Kantor Informasi Pemerintah. Tahun 2003, Wei memutuskan untuk meluncurkan penggalangan dana sebesar 2.5 juta dolar Taiwan. Kira-kira setara 1 trilyun rupiah. Dana ini digunakan untuk membiayai proses syuting demo film berdurasi lima menit. Demo ini kemudian tayang perdana November 2003 sebagai bagian dari kampanye penggalangan dana dengan target 250 juta dolar Taiwan.

Upaya ini gagal. Namun Wei tetap berkeras bahwa film ini hanya dimungkinkan produksi jika memiliki minimal 200 juta dolar Taiwan. Tahun 2008, akibat ambisi ini Wei terancam kebangkrutan. Hutang menumpuk.

Tahun 2008, strategi diubah agar ada investor yang tertarik mendanai produksi film ini. Wei memproduksi Cave No. 7 yang sukses total. Sebuah laporan yang ditulis Teng Suefeng pada Februari 2009 menyebutkan bahwa film ini baru memiliki sepertiga anggaran dari total sekitar 330 juta dolar Taiwan yang seharusnya mereka capai agar Seediq Bale dapat memulai pengambilan gambar. Pertengahan tahun itu, rekrutmen dan seleksi artis dimulai. Targetnya film dapat rilis pertengahan 2010. Namun masalah baru kembali muncul. Sangat sulit mendapatkan figuran dari kalangan orang asli yang bisa terlibat dalam film.

Agustus 2009, film ini kembali menemui kendala serius. Banyak peralatan syuting hancur karena serangan badai Morakot yang menyerang negeri itu. Anggaran film kembali membengkak hingga angka 600 juta dolar Taiwan. November 2001, Peng melaporkan bahwa film ini menyedot uang hingga 700 dolar Taiwan. Dari total itu, pemerintah Taiwan menyumbang 130 juta dolar sebagai subsidi dan bentuk dukungan.

Film akhirnya mulai pengambilan gambar di bulan Oktober 2009.

Wei berupaya sekeras mungkin mereplikasi kondisi pegunungan Taiwan dekade 1920-1930. Mereka membangun 36 unit rumah orang asli Seediq di Studio Arrow yang terletak di Linkou, Taipei Baru. Untuk pekerjaan ini, anggaran yang disedot mencapai 80 juta dolar Taiwan. Ada 1.500 orang yang terlibat sebagai teknisi. Beberapa properti yang digunakan dipinjam dari koleksi museum.

Penggarapan musik menelan biaya hingga 7 juta dolar. Lagu-lagu awalnya ditulis dalam bahasa Mandarin lalu diterjemahkan ke dalam bahasa asli orang Seediq. Artis-artis yang kebanyakan merupakan keturunan suku Atayal diharuskan belajar bahasa Seediq. Dakis Pawan disewa sebagai konsultan untuk film. Ia adalah seorang keturunan Seediq Tkdaya dan bertanggung atas riset yang menjadi dasar film ini.

Kerja keras Wei akhirnya terbayar ketika film ini rilis.

Pada 4 September 2011 -dua hari setelah tayang perdana di Venezia, film ini diputar di Katagalan Boulevard yang terletak persis di depan istana presiden Taiwan. Tiga hari kemudian, sebuah pemutaran tertutup diadakan di Qingliu, Nantou di hadapan keturunan orang-orang Seediq Tkdaya. Qingliu dahulu adalah kamp penampungan sisa-sisa insureksi Wushen yang menyatakan diri menyerah atau tertangkap. Wei menyatakan bahwa ia berupaya menetapi janji untuk mengembalikan film ini kepada mereka yang memiliki hak atasnya.

Di Taiwan sendiri, film ini pertama kali rilis pada 9 September. Bagian kedua film panjang ini kemudian mulai resmi bisa disaksikan publik pada tanggal 30 bulan yang sama. Film ini menyapa publik USA pada April 2012. Lalu pada April 2013, film ini tayang global.

 

Orang-orang Seediq

Orang-orang Seediq –juga ditulis Sediq atau Seejiq– yang menjadi titik berangkat film ini adalah kelompok orang asli yang mendiami daerah provinsi Nantou dan Hualien di pulau Formosa. Wilayah ini adalah daerah pegunungan yang terletak di bagian tengah hingga ke pesisir pantai barat Taiwan modern hari ini.

Pengakuan pemerintah Taiwan terhadap eksistensi kelompok Seediq terhitung cukup terlambat. 23 April 2008, mereka diakui sebagai Kelompok Orang Asli ke 14. Keterlambatan ini tidak lain karena bias kultural yang dahulu memandang bahwa orang-orang Seediq sebagai bagian dari kelompok orang asli Atayal.

Bias ini dimulai oleh antropolog Jepang bernama Kanori Ino. Ia mengunjungi Formosa sejak pulau ini diserahkan Dinasti Qing kepada Kerajaan Jepang. Pada masa itu, catatan-catatan perjalanan Ino dianggap memberikan gambaran yang cukup mengenai mengenai suku-suku asli yang mendiami daerah tersebut.

Dalam laporan perjalanannya, Ino membagi kelompok orang asli ke dalam dua kategori khas kolonial. Pertama menyebut Jukuban untuk mereka yang sudah melewati periode domestikasi dan menetap dalam kampung-kampung yang dibangun Jepang. Terakhir, adalah kelompok Seiban yang berarti mereka yang secara harafiah dapat diartikan sebagai liar. Kelompok terakhir ini adalah suku-suku asli yang masih berburu dan meramu meski telah menetap dan memiliki kampung permanen.

Hasil-hasil studi Ino selama bertahun-tahun kemudian oleh James W. Davidson dikumpulkan dan dituliskan kembali dalam bentuk laporan bernama The Island of Formosa. Ini adalah catatan pertama mengenai kelompok orang-orang asli di Formosa dalam bahasa Inggris. Dalam buku ini, Davidson mencatat delapan suku yaitu; Vonum, Tsou, Atayal, Tsalisen, Paiwan, Amis, Puyuma dan Pepo.

Di periode ini, orang-orang Seediq dimasukkan ke dalam bagian suku Atayal. Meski sebenarnya bahasa yang digunakan keduanya jelas berbeda. Orang-orang Seediq sebenarnya lebih memiliki kedekatan dengan Suku Truku –di masa lalu kedua kelompok orang asli ini dimasukkan dalam rumpun suku Atayal. Jalur migrasi yang berbeda membuat keduanya kemudian terpisah. Jika orang-orang Seediq mendiami daerah perbukitan dan mendiami daerah di sekitar hulu sungai, orang-orang Truku memilih menghuni dataran rendah hingga menyebar ke pesisir pantai timur.

Sementara orang-orang Atayal –terkadang disebut Tayan atau Tayal– adalah mereka yang hari ini berdiam menyebar di lembah sungai Liwu di bagian utara pulau Formosa.

Orang-orang Seediq –seperti juga orang-orang Atayal– memiliki tradisi untuk merajah wajah yang terkait erat dengan pemisahan periode akil baliq dengan masa kanak-kanak. Hanya mereka yang memiliki rajah di wajahnya yang dapat menikah. Para lelaki Seediq akan mendapatkan rajahan di bagian dagu dan jidat jika telah melewati inisiasi Chucao, yang dibuktikan dengan membawa pulang kepala musuh dari medan perang.

Perempuan-perempuan Seediq mendapatkan rajahan di bagian mulut yang membentang hingga ke bagian pipi di bawah telinga. Berbentuk seperti huruf V dengan ujung yang lebih rendah dan lebar. Rajahan ini akan dilangsungkan jika seorang perempuan dianggap sudah mampu membuktikan diri menyulam dan mengurus pekerjaan domestik lain.

Proses merajah wajah untuk laki-laki tergolong cepat dan tidak terlalu memakan waktu. Namun untuk perempuan, proses merajah dapat berlangsung hingga sebelas jam. Simbol rasa sakit berkepanjangan ini tidak lepas dari keyakinan orang-orang Seediq mengenai simbolisasi akan rasa sakit yang akan dilewati perempuan ketika melahirkan nanti.

Kebiasan berburu kepala musuh yang membuat suku Seediq dikenal sebagai tempat lahirnya para ksatria pemberani. Senjata mereka yang disebut Lalaw Behuw sangat tajam dan mampu memenggal kepala dalam sekali tebas. Berukuran tidak terlalu panjang dan memiliki bentuk melengkung dengan sisi tajam di bagian luar. Lalaw Behuw, menemani panah dan tombak ketika turun berburu.

Perburuan kepala musuh untuk dibawa pulang, dipercaya oleh orang-orang Seediq sebagai tiket bagi seorang lelaki untuk dapat masuk ke nirwana. Semakin banyak darah musuh yang tumpah di tangan seorang lelaki Seediq, semakin lapang jalan menuju surga. Terpilihnya seseorang sebagai kepala suku juga sangat erat terkait dengan kriteria ini. Hanya pemburu terbaik yang layak memimpin kampung dan suku.

Sementara para perempuannya, diterima tidaknya bergabung dengan para leluhur setelah meninggal ditentukan oleh seberapa kasar kulit tangan mereka. Hal ini dimungkinkan dengan kegiatan menyulam dan pekerjaan domestik lainnya yang dilakukan terus menerus.

Dalam mitologi Seediq, di gerbang surga para Kaiya (roh leluhur) akan memeriksa tangan dan wajah mereka sebelum memutuskan apakah seseorang layak diterima masuk atau tidak. Orang-orang Seediq meyakini bahwa nirwana terletak di ujung pelangi dan pelangi adalah jembatan menuju ke sana. Tempat di mana terletak ladang perburuan subur, sungai-sungai yang mengalir membelah pegunungan dengan hutan-hutan yang lebat.

Keyakinan ini misalnya dapat dilacak pada ragam motif sulam perempuan-perempuan Seediq. Didominasi warna merah dengan gaya geometris dengan garis-garis horizontal dan argil –yang komposisinya membentuk permata dengan sisi-sisi simetris.

Anak-anak Seediq biasanya akan mulai diajarkan berburu dan menyulam pada umur sepuluh atau sebelas tahun. Mereka kemudian memperdalam kemampuan itu selama bertahun-tahun. Seorang anak lelaki Seediq yang dianggap telah menguasai hutan wilayah perburuan sukunya kemudian akan diajak perang. Jika ia pulang dengan selamat dan membawa kepala sebagai bukti, maka seseorang dianggap layak untuk menikah. Di hari pernikahannya, seorang lelaki akan mengganti kain sulaman ibunya dengan kain sulaman istrinya.

Seumur hidup seorang laki-laki Seediq hanya diperbolehkan mengenakan kain sulaman kreasi ibunya atau istrinya. Hal ini terkait dengan kepercayaan suku Seediq yang monogamus.

 

Insureksi Wushan

Plot utama Seediq Bale: The Rainbow Warriors adalah seputar insureksi Wushan.

Pemberontakan ini pertama kali meletus pada 27 Oktober 1930 sebelum berhasil dipadamkan pada akhir Desember tahun yang sama. Dipimpin oleh Mouna Rudao dari kampung Mehebu, klan Tkdaya, Seediq Bale. Insureksi ini sukses mengumpulkan sekitar 300 pejuang dari enam kampung.

Film ini dibuka dengan adegan Chucao ketika Mouna Rudao berhasil mendapatkan kepala orang Bunun yang sedang berburu. Lalu penonton diajak untuk memahami latar belakang sejarah peristiwa Wushan yang ditandai dengan serah terima pulau Formosa dari Dinasti Qing kepada Jepang di tahun 1895 melalui perjanjian Shimonoseki. Menyusul fragmen soal Insiden Tapani di tahun 1915 ketika kelompok etnis Han di bawah pimpinan Yu Qingfang melancarkan pemberontakan yang berpusat di Kuil Xi Lai.

Lalu disusul dengan adegan perlawanan klan Tkdaya di periode yang sama.

Daerah berburu klan Tkdaya yang tersebar di 12 kampung di pegunungan tengah pulau Formosa memang merupakan incaran kolonial Jepang di masa itu. Sebabnya adalah sumber daya kayu yang melimpah serta potensi tambang yang begitu menggiurkan. Itu sebabnya sejak 1897, Jepang menjalankan program pembukaan jalan agar eksploitasi hutan dan sumber daya alam di pegunungan tengah Formosa dapat maksimal. Program ini dipandang sebagai bentuk invasi oleh klan Tkdaya.

Akibatnya, meletus konflik di tahun 1901 yang mengakibatkan 670 tentara Jepang terbunuh. Wushan diisolasi hingga setahun berikutnya. Menyikapi ini, operasi pembersihan militer dijalankan sejak tahun 1914 hingga 1917. Fakta bahwa Mouna Rudao terlibat sejak periode awal pemberontakan klan Tkdaya tidak dapat ditemukan di dalam film ini. Padahal menurut Dakis Pawan, wibawa Mouna Rudao di tengah klan Tkdaya terutama disebabkan karena kemampuannya mengatur strategi perang di dua momen pemberontakan.

Upaya menaklukkan resistensi Tkdaya awalnya dilakukan dengan pengerahan operasi militer skala besar. Hasilnya? Bertambahnya korban jatuh di pihak tentara dan polisi Jepang serta makin menguatnya kebencian orang-orang Seediq di klan Tkdaya.

Itu mengapa Jepang kemudian memutuskan untuk membawa para kepala kampung dari Seediq Tkdaya ke Tokyo. Tujuannya adalah teror psikologis melalui serangkaian tur militer yang mempertontonkan kecanggihan peralatan tempur negeri Matahari.

Taktik ini di kemudian hari terbukti gagal ketika Insureksi Wushen meletus.

Karena kerasnya perlawanan, Jepang membutuhkan bantuan klan Toda yang bermusuhan dengan klan Tkdaya. Strategi ini tidak lepas dari pembacaan militer terhadap teks Kanori Ino yang membuat pimpinan Kepolisian Jepang di pulau Formosa mengubah strategi. Sayangnya, dalam film ini –baik versi panjang dan versi singkatnya– pengaruh Ino terhadap perubahan taktik militer tidak mendapatkan ruang yang cukup. Hanya ada satu adegan saja. Yaitu ketika salah seorang pimpinan polisi Jepang sedang membaca catatan etnografi Ino sehabis mengusir seorang pedagang Han.

Klan Toda secara efektif digunakan sebagai sekutu. Di Taiwan sendiri, Temu Walis yang merupakan Kepala Klan Toda sekaligus pimpinan kampung Tnbarah, dikenang dengan ingatan yang cukup buruk. Oleh kalangan nasionalis hari ini, ia dianggap kolaborator Jepang.

Pandangan ini sempat memicu protes dan mengurai kembali ketegangan antara keturunan klan Toda dan klan Tkdaya ketika film ini rilis.
Sebabnya, film ini tidak memberikan landasan soal perselisihan wilayah perburuan yang menjadi pangkal sengketa antara klan Tkdaya dan klan Toda. Wei juga luput memberikan ruang bahwa perjanjian kolaborasi antara Jepang dan klan Toda disertai perjanjian mengenai pengambilalihan wilayah berburu orang-orang Tkdaya.

Total, Jepang membutuhkan lebih dari 20 tahun sebelum bisa benar-benar menaklukkan klan Tkdaya di tahun 1935. Karena meski secara umum pemberontakan berhasil dipadamkan pada Desember 1930, masih ada upaya gerilya yang masih dilancarkan oleh kelompok-kelompok kecil Tkdaya yang masih tersisa.

Namun Wei sebagai sutradara setidaknya cukup cerdas dengan menyisipkan adegan dalam film ini untuk membantu penonton mendapatkan gambaran sulitnya masa pendudukan Jepang yang menjadi basis material meluapnya rasa marah orang-orang Tkdaya, Seediq Bale.

Alasan-alasan meletusnya insureksi ini digambarkan dengan jelas dalam film ini. Semisal aksi represi fisik yang terjadi secara konsisten serta diskriminasi terhadap mereka yang menolak politik asimilasi ala Jepang. Penonton juga diajak untuk melihat praktik perbudakan melalui praktek perdagangan yang tidak adil serta upah kerja yang murah atau tuturan para tokoh mengenai pembunuhan Jepang kepada mereka yang melawan.

Sayangnya, kisah mengenai pemerkosaan terhadap perempuan-perempuan Seediq hanya hadir dalam bentuk cerita antar tokoh di dalam film ini. Wei tidak menghadirkannya di dalam film. Sesuatu yang aneh karena di masa pendudukan tersebut frekuensi pemerkosaan terhadap perempuan Seediq cukup sering dan ini adalah salah satu alasan di balik kemarahan orang-orang Seediq Tkdaya.

Film ini juga gagal untuk menghadirkan praktek Jepang-isasi melalui agama dan disertai dengan kekerasan fisik dan mental yang dialami anak-anak Seediq di sekolah. Seseorang dapat dengan mudah memahami bahwa hal-hal tersebut menjadi api dalam sekam selama bertahun-tahun sebelum meletusnya insureksi.

Wei anehnya tampak berupaya untuk meringkas ragam peristiwa tersebut hanya ke dalam dua fragmen sepanjag film bertutur. Hal yang aneh mengingat durasi film ini seharusnya memberikan Wei ruang yang cukup untuk memberikan konteks mengapa Insureksi Wushan mungkin terjadi.

Pertama adalah adegan sikap melecehkan yang ditunjukkan oleh dua petugas polisi yang ditempatkan di pos pengawasan kampung Mehebu. Adegan tersebut dimulai ketika saat pulang berburu babi untuk persiapan pesta pernikahan, Mouna Rudao dan orang-orang Seediq dari kampung Mehebu mendapati seorang petugas Jepang bernama Sugiari sedang berupaya merayu perempuan Tkdaya dari kampung Mehebu agar mau menukar tubuhnya dengan sejumlah uang.

Kedua adalah tindakan petugas Yoshimaru yang memukuli Tado, anak sulung Mouna Rudao, ketika pesta pernikahan berlangsung sedang berlangsung di Mehebu. Niat Tado Mouna menawarkan minum bersama sebagai simbol berbagi kebahagiaan, ditolak. Bagi petugas Jepang, praktek minum anggur dari cawan bambu yang sama merupakan tindakan barbar dan tidak beradab. Upaya Mouna Rudao bersama dua anaknya yang datang langsung keesokan harinya untuk meminta maaf juga ditolak.

Rasa muak orang-orang Seediq Tkdaya lalu digambarkan dalam adegan di mana anak-anak muda kampung Mehebu mendesak Mouna Rudao untuk memberikan izin dan memimpin insureksi. Pilihan Wei untuk meniadakan bagian soal dua insureksi pendahuluan yang dilakukan Seediq Tkdaya membuat Mouna Rudao tampak seperti orang tua yang hanya putus asa ketikadikerubuti anak-anak muda yang marah.

Alasan-alasan yang dikemukakan Mouna Rudao dalam film tampak lemah karena sutradara Wei mengambil keputusan untuk tidak memberikan porsi mengenai Pemberontakan Seediq Truku.

Perang Truku yang terjadi di tahun 1914 sangat penting posisinya. Perang singkat ini berujung pada pembantaian massal seluruh ksatria yang terlibat bersama seluruh anggota keluarganya. Rumah-rumah dan desa orang Seediq Truku dilalap api dan banyak anak yang menjadi yatim piatu.

Di periode inilah, peran Mouna Rudao cukup menonjol dengan mengadopsi anak-anak Truku, memberikan mereka makanan, tempat tinggal dan rasa aman. Mouna Rudao juga memberikan izin agar perempuan dan lelaki Seediq Tkdaya di kampung Mehebu dapat menikah dengan keturunan Seediq Truku demi menjaga mereka agar tidak punah.

Di film, Mouna Rudao justru tampil sebagai orang tua yang terpaksa harus bersepakat dengan rencana anak-anak muda yang sedang marah. Pertemuan dadakan tersebut kemudian berhasil menyepakati rencana penyerangan. Jadwal ditentukan. Bertepatan dengan perayaan ulang tahun Pangeran Kitashirakawa Yoshihisa.

Setelah itu, kita akan melihat para pemuda yang menginisiasi rencana insureksi ini menyebarkan kabar dan menyampaikan undangan.
Tidak semua sepakat. Banyak yang khawatir Jepang akan membalas dan melenyapkan semua orang. Ada yang bersepakat namun tidak akan terlibat secara aktif dalam insureksi. Awalnya, hanya lima kampung yang bersepakat bergabung dengan kampung Mehebu untuk mengepung Wushe. Dini hari sebelum pembantaian Wushe dimulai, Kepala Kampung Hungu bersepakat untuk ikut bergabung dalam insureksi.

Pagi hari, bersamaan dengan kabut tebal yang menyelimuti Wushan dan dimulainya pengibaran bendera dan berkumandangnya nyanyian nasional, perang dilancarkan. Seluruh orang Jepang, laki-laki dan perempuan serta anak-anak dibunuh.

Bagian kedua film ini diawali dengan kelebat sinopsis tentang apa yang terjadi di bagian awal. Sebelum akhirnya berlanjut ke adegan Hanaoka bersaudara yang menuliskan pesan yang ditulis di dinding sekolah mengenai keengganan mereka berdua untuk ikut bertanggung jawab. Film lalu bergeser ke periode gerilya yang berlangsung hingga penghujung tahun 1930.

Anda juga akan menemukan adegan perempuan-perempuan yang membunuh anak-anak mereka yang masih kecil sebelum menggantung diri. Adegan ini sempat memicu protes penonton di Cina daratan karena dianggap terlalu brutal.

Kurangnya porsi dalam film yang mengeksplorasi latar soal ini membuat adegan bunuh diri tampak mengesankan sikap putus asa. Padahal, sikap tersebut dilakukan sebagai upaya langsung para perempuan Seediq Tkdaya mendukung insureksi. Membunuh diri adalah solusi yang diambil untuk menghemat makanan. Gerilya yang berlangsung lebih dari dua tahun, operasi militer yang masif dan terisolasinya Wushen membuat cadangan makanan adalah isu yang serius. Hewan buruan menjadi jarang karena bermigrasi akibat perang berkepanjangan.

Sumber air juga tercemar karena bom gas yang dilepaskan Jepang.

Dosa Wei semakin bertambah karena ia tampak dengan sengaja menyangkal peran keterlibatan perempuan-perempuan Tkdaya yang ikut berperang. Tidak ada satupun adegan sepanjang hampir 300 menit yang menggambarkan soal itu. Hal ini dapat dimaklumi jika kita mengamati dengan teliti bahwa sejak awal Wei sudah menunjukkan penyangkalannya. Penonton tidak akan menemukan adegan perempuan Seediq minum anggur, ikut berburu atau menghisap tembakau.

Film ini kemudian ditutup dengan upaya Jepang untuk meminta agar sel-sel yang masih bergerilya, mau menyerah dan melepaskan senjata. Mahung Mouna, anak perempuan tertua Mouna Rudao datang membujuk saudara laki-lakinya Tado Mouna agar menyerah. Ajakan ini ditolak dan dilanjutkan dengan adegan Tado yang memimpin kelompok kecil Seediq Tkdaya yang tersisa untuk melakukan bunuh diri berkelompok.

Di akhir film, penonton akan diberikan informasi mengenai pembantaian orang-orang Tkdaya di kamp penampungan oleh orang-orang Toda. Pembantaian ini kuat dugaan merupakan provokasi Kojima, polisi Jepang yang tinggal di kampung Tnbarah, yang menyimpan kesumat dendam karena istri dan kedua anaknya menjadi korban pembantaian di pagi berdarah 27 Oktober.

Orang Asli di Taiwan

Baru-baru ini Republik Cina menyita perhatian dunia internasional. Hal itu tidak lepas dari permintaan maaf negara kepada kelompok-kelompok orang asli di pulau Formosa. Penyampaian maaf tersebut dilakukan langsung oleh presiden Taiwan, Tsai Ingwen. Ini adalah permintaan maaf negara terkait segala bentuk tindak represi dan aksi diskriminatif yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun terhadap kelompok-kelompok orang asli di Formosa.

Tsai adalah presiden pertama Taiwan yang memiliki campuran darah orang asli. Perempuan ini memiliki nenek dari kelompok Paiwan, satu dari 16 kelompok suku yang dikenali negara. Selain meminta maaf, Taiwan juga membentuk Komisi Keadilan Historis dan Hukum untuk menangani berbagai persoalan konflik yang meliputi berbagai kelompok orang-orang asli.

Problem yang dihadapi oleh kelompok-kelompok orang asli tentu saja yang paling utama adalah soal klaim atas tanah. Selama lebih dari satu abad, tanah-tanah kelompok orang asli dirampas oleh negara secara paksa atau dengan ganti rugi yang tidak layak. Anthony Kuhn dalam laporannya menulis bahwa problem tanah memiliki urgensi krusial. Seluruh tanah di Taiwan hari ini dikuasai oleh negara dan kelompok orang-orang asli Formosa hanya memiliki sedikit hak pemanfaatan yang lebih sering diacuhkan.

Semisal problem mengenai hak berburu yang menjadi isu serius dalam pembahasan mengenai upaya Taiwan melakukan rehabilitasi. Bagi orang-orang asli, kegiatan berburu adalah kegiatan yang dapat mendukung konservasi lingkungan dan sebagai praktek bernilai religius yang dapat menghubungkan mereka kembali dengan tradisi dan leluhur. Praktek berburu yang dilarang oleh pemerintah Taiwan dengan tuduhan merusak lingkungan, adalah biang kerok dan bentuk nyata diskriminasi terhadap orang-orang asli.

Itu mengapa reformasi undang-undang pertahanan menjadi sorotan penting.

But Wang, seorang pengajar antropologi mengatakan bahwa hal ini adalah kunci untuk mengukur seberapa serius Tsai dan Partai Demokratik Progresif mau mengimplementasikan perubahan yang mereka janjikan terhadap orang asli Formosa. Undang-undang pertanahan Taiwan saat ini oleh Wang dianggap sebagai warisan kolonial yang perlu diubah agar tidak lagi mengacuhkan hak dan peranan komunitas-komunitas orang asli di tempat tersebut. Konflik-konflik pembangunan infrastruktur misalnya, diakibatkan oleh absennya partisipasti komunitas orang asli.

Problem penyusutan populasi orang asli –yang kini berjumlah kurang dari 2% populasi nasional– juga penting untuk disoroti. Menurunnya populasi orang asli tidak lepas dari politik kesehatan yang diskriminatif terhadap kelompok-kelompok ini sejak masa Belanda, okupasi Cina, pendudukan Jepang hingga masa Republik Cina berdiri.

Soal lain adalah bagaimana Tsai menyikapi tuntutan orang-orang asli mengenai kebebasan mereka untuk kembali memeluk keyakinan tradisional mereka. Fakta bahwa ke-Kristen-an yang dibawa oleh Belanda dan Inggris ke pulau Formosa telah sukses mengancam warisan kosmologik dan etik yang sebenarnya adalah jembatan untuk menjaga keberlangsungan identitas kelompok orang asli.

Itu belum termasuk bagaimana Tsai sebagai pemimpin tertinggi di Taiwan menyikapi isu tentang sulitnya timpangnya akses pemberdayaan ekonomi di dalam komunitas-komunitas orang asli yang memaksa terjadinya migrasi ke luar daerah. Ironisnya adalah karena kelompok-kelompok ini merupakan pemilik dari kekayaan sumber daya alam yang hari ini dikuasai negara. Distribusi kesejahteraan yang timpang sejak dulu bersambung dengan kebijakan politik yang diskriminatif telah membuat orang asli menjadi lapisan sosial paling bawah di Taiwan. Juga mengenai politik budaya yang membuat ruang ekspresi semakin mengecil hingga ancaman kepunahan budaya dan warisan tradisi lain adalah masalah yang tidak bisa dianggap sepele. Karena itu, Kuhn mengingatkan bahwa Tsai harus berani melangkah lebih jauh dari sekedar permintaan maaf.

Kuhn menantang pemerintahan Tsai agar berani mewujudkan janji kampanyenya untuk memberikan otonomi pemerintahan kepada kelompok-kelompok orang asli, meningkatkan kembali daya dukung lingkungan dan secara serius mengupayakan perlindungan terhadap produk-produk kebudayaan tiap-tiap komunitas semisal bahasa.

Hal-hal tersebut secara politis memang sangat penting bagi Partai Demokratik Progresif yang berada di belakang presiden Tsai. Jika Taiwan ingin membangun pondasi kebudayaan mereka yang berbeda dengan daratan Cina, maka menjadikan komunitas-komunitas orang asli sebagai sandaran adalah strategi yang tepat. Ia dapat memberikan generasi muda Taiwan sebuah identitas budaya yang baru yang dapat digunakan sebagai salah satu indikator untuk menjustifikasi perbedaan Taiwan dengan Cina daratan.

 

Seediq Bale Melintasi Ruang

Tahun 2016 ini, ketika masa kampanye Stop Lumad Killings sedang menguat di Filipina, Seediq Bale ikut dirilis.

Ini merupakan bentuk penghormatan dan solidaritas terhadap perjuangan kelompok Lumad yang mendiami daerah pegunungan Mindanao di selatan negeri tersebut. Meski memang perilisan film Seediq Bale di Manila tidak lepas dari momentum pemilihan umum dan digunakan oleh kelompok tertentu untuk kepentingan mendulang suara. Hingga saat ini, orang-orang Lumad masih mengalami ancaman serius tentang penggusuran dan pembunuhan ekstra judisial yang dilakukan oleh militer, polisi, gerilyawan politik hingga kekuatan para-militer.

Di Indonesia?

Sependek pengetahuan saya –yang sangat memprihatinkan– soal perkembangan dunia sinema di Indonesia, Seediq Bale belum dirilis secara resmi. Saya tak tahu kenapa. Namun, distribusi versi bajakan film ini beredar luas. Ada kabar dari seorang pegiat hak-hak orang asli, film ini pernah screening sekali di Kalimantan Barat dan sekali di Papua Barat.

Seediq Bale menjadi relevan dalam konteks Indonesia karena beberapa alasan. Pertama, masih tingginya ketidakpedulian terkait problem-problem yang menimpa kelompok-komunitas orang asli. Perampasan tanah orang asli, penyangkalan hak, diskriminasi, kekerasan negara adalah hal yang berlangsung terus menerus. Kita belum menyoal kemiskinan yang melanda komunitas-komunitas Orang Asli –yang lebih sering disertai dengan praktek penipuan.

Masih ada di daftar tunggu masalah tentang nasib Orang Asli mengenai perambahan hutan gila-gilaan yang membuat menyempitnya lokasi berburu dan berkurangnya sumber pangan lokal. Pemerkosaan yang menimpa perempuan-perempuan Orang Asli juga bukan isapan jempol belaka. Juga masalah mengenai kepercayaan-kepercayaan Orang Asli yang dianggap sebagai bagian dari periode gelap, perilaku barbar dan tidak beradab dan sering disinonimkan dengan ketiadaan Tuhan. Problem ancaman kehilangan bahasa-bahasa juga adalah isu serius. Jumlah penutur dalam bahasa Orang Asli semakin berkurang karena banyak faktor. Masih ada lagi soal migrasi ke daerah perkotaan karena himpitan hutan.

Itu mengapa problem seperti pengakuan hak orang asli atas tanah bukan urusan mendesak yang harus segera dicarikan solusinya.

 

Bibliografi

Ching, L. (2000). “Savage Construction and Civility Making: The Musha Incident and Aboriginal Representations in Colonial Taiwan”. Positions: East Asia Cultures Critique. 8 (3): 799

Davidson, James W. (1903). The Island of Formosa: Past and Present. Macmillan. P. 561

Kanori Ino (2012). Research trips among the Plains Aborigins: Selections from Ino Kanori’s Taiwan diaries. Taiwan National University

Katz, Paul R. (2007). “Governmentality and Its Consequences in Colonial Taiwan: A Case Study of Tapani Incident of 1915”. The Journal of Asian Studies. 64 (02): 387-424

Kuhn, Anthony (2016). “Taiwan’s Aborigines Hope A New President Will Bring Better Treatment”, National Public Radio. June 11. Accesseed September 20, 2016. www.npr.org/sections/parallels/20016/06/11/480482854/taiwans-aborigines-hope-a-new-president-will-bring-better-treatment

Roy, Denny (2003). “The Japanese Occupation”. Taiwan: A Political History. Ithaca: Cornell Press University.