Aku Memiliki Karunia

Aku memiliki karunia. Dan aku menyadarinya dengan baik. Bahwa sepotong hatiku dapat menjadi rumah singgah dan pelarian dari berbagai hati lain yang enggan akui bahwa mereka sedang sekarat dan terjatuh karena peperangan yang sebenarnya bukan untuk dimenangkan. Tempat di mana banyak kisah akan meninggalkan jejak dan membawa pergi bersama mereka sekeping hatiku. Beberapa dari mereka memang aku yang memberikannya, sementara beberapa yang lain dengan paksa mengambilnya. Irisan yang menganga akan selalu ditambal dengan kepingan hati dari mereka. Jika saja matamu bisa jeli melihat, maka hatiku tampak lebam dan merah menghitam. Sesak karena kisah dan luka di saat yang bersamaan.

Aku memiliki karunia. Dan aku bangga karenanya. Jumawa karena aku adalah terminal di mana setiap yang lelah dapat berteduh dari derasnya hujan air mata dan kemudian berbagi cerita sebelum akhirnya pergi dan menghilang di ujung jalan untuk kembali ke peraduan yang mereka punya. Aku menganggap diriku adalah malaikat yang bertugas untuk mengantar setiap hati yang sedang terluka menemukan rumah senja mereka. Melihat diriku sendiri sebagai martir atas konsekuensi pilihan hidup yang telah ku ambil di masa lalu. Sepi dan sesekali disinggahi.

Aku memiliki karunia. Dan aku menyediakan kopi yang cukup karenanya agar setiap lelah yang datang akan terus terjaga sementara aku mencabuti semua jarum yang menusuk punggung hati mereka. Perapian yang terus menyala secara sengaja agar kedinginan yang ada di luar dapat terusir secara perlahan. Lalu aku akan mengajari mereka cara menyalakan api di dalam hati dan terus mengipasinya agar tak padam. Dan saat mereka telah mengerti cara mengipasi api mereka sendiri, itu berarti sudah saatnya mereka pergi dan melanjutkan babad hidup. Aku hanya sebuah nama yang kadang teringat dan sering dilupakan.

Aku memiliki karunia. Dan karenanya aku menemukan Tuhan nyata di dalam diriku. Tanpa melalui ibadah, doa dan semedi. Aku tak perlu membungkuk atau menutup mata untuk menemukannya. Hanya cukup melihat setiap air mata yang meleleh dan menyekanya hingga kering. Tak perlu ramuan atau ektase berlebih karena aku terlampau mengerti tentang nazar yang diingkari sinonim dengan kutukan. Aku memuja Tuhan dengan melilitkan perban pada setiap sayap yang patah, mengoleskan obat dan membacakan dongeng sebelum mereka tidur. Semuanya agar mereka cepat sembuh lalu terbang kembali ke angkasa, bertualang mencari kembali sarang dan berhenti untuk selamanya. Tak perlu kembali kepadaku untuk mengucapkan terima kasih, karena memang begitulah persimpangan.

Aku memiliki karunia. Dan aku tak menyesali apapun di dalamnya. Tak mengeluh meski gigiku telah ngilu menahan sakit setiap kali seseorang mengiris dengan sengaja hatiku dan membawanya pergi bersama mereka. Aku menutup mataku tiap kali itu terjadi hingga tak perlu aku menatap wajah perpisahan. Aku menyanyikan lagu untuk malam demi menghindari perih yang sesekali singgah karena luka yang belum sembuh. Terlalu cepat aku bangkit dari lubang di mana aku jatuh dan mengalami memar. Seluruh tulang yang ada di tubuhku telah terlatih dengan baik untuk menahan setiap benturan, setiap kali semakin keras. Ragaku telah ditempa dengan cambukan yang keras dan bertambah keras agar definisi rasa sakit terus berkembang dan tidak diam di satu titik. Kehidupan yang dinamis membawaku pada petualangan sakit yang juga dinamis. Aku bukan mesin meski aku juga bukan manusia sekedarnya.

Aku memiliki karunia. Dan aku meletakkannya di beranda hidup agar setiap orang bisa melihatnya, menyentuhnya, mengambil seperlu mereka dan akan selalu gratis. Tak perlu mereka meninggalkan bayaran karena cinta bagiku seperti angin yang tidak bisa dipeluk, bahkan oleh tangan yang paling suci sekalipun. Ia adalah energi yang kekal sesuai hukumnya, datang dan berubah wujud sesuai ruang dan waktu. Akan selalu hadir meski pintu dan semua lampu sudah dipadamkan. Akan tetap ia berada di depan dan mengetuk hingga ada celah terbuka, tak akan pernah menyerah.

Aku memiliki karunia. Dan aku tak akan menyiakannya. Karena dengan melindungi setiap ciptaan Tuhan, itu juga berarti aku telah memujanya dengan segenap hatiku. Bagiku kemunafikan dalam ibadah biarlah menjadi milik mereka yang mengejar kesucian, sedang aku akan belajar menggenggam api di kedua telapak tanganku agar setiap beku yang kusentuh dapat merasakan bahwa ada hangat yang tersedia. Mengusir setiap resah dengan kehangatan pelukan dan cerita biar mereka yang lelah dapat sejenak rehat sembari mengumpul tenaga untuk berlari di etape berikut. Aku adalah pelacur dengan restu penuh dari Tuhan.

Aku memiliki karunia. Dan aku tahu kesunyian akan menjadi pengunjung setia. Karib yang datang setiap kali luka dan duka telah memporakporandakan isi rumah singgah di hatiku. Ia akan membantu mengatur kembali setiap meja dan tempat duduk dan membantu menyapu pecahan beling di lantai agar tak terinjak. Kemudian kami akan menyeduh dua gelas kopi dan meneguknya sambil berhadapan dalam diam dan menyanyikan lelap dengan mata yang tertutup.

Aku memiliki karunia. Dan aku ingat hal ini lebih dari namaku sendiri. Hingga terkadang masingmasing kisah yang terdampar di beranda hati akan memberikanku nama sesuai keinginan mereka. Aku juga tak pernah membantah. Mereka juga akan menetapkan perayaan dan melibatkanku sepenuhnya meski terkadang kebingungan menjadi satusatunya parameter kesadaranku.

Aku memiliki karunia. Dan aku menganggap bahwa itu adalah anugerah yang mesti kubanggakan. Bahkan kalau perlu ku sombongkan. Bagiku, karunia itu adalah jalan yang membawaku hingga berada di persimpangan ini, di sisi jalan di mana aku bertemu denganmu. Berjumpa dengan sosok yang mengajarkan aku untuk lebih menghargai kehidupan yang sangat membosankan ini. Hidup di mana semua hal telah dilabeli dengan harga dan diperjual belikan hingga semua sudut ruang menjadi pasar transaksi. Dan kau membawa warna yang berbeda di tengah gelap yang terus menerus menjadi kelambu dalam tidurku selama ini.

Aku memiliki karunia. Dan itu mengantarkan tubuhku terdampar di sini. Di sebuah perahu tambatan untuk setiap orang yang menanti. Anehnya, aku tak tersakiti. Itu karunia baru yang baru kusadari bahwa juga kumiliki. Dan itu karenamu.

Kebosanan Mou

Pagi ini bagi sebagian orang adalah pagi yang sama seperti kemarin. Ada matahari yang merekah, ada angin yang bertiup, ada awan yang berarak di giring tujuan, ada embun yang mencair di ujung ilalang karena mencium hangat suasana, ada serangga-serangga yang kembali sibuk dengan kegiatannya, dan tak lupa manusia-manusia yang kembali tenggelam dalam pekatnya aktifitas memburu rupiah demi bertahan hidup. Semua sibuk mengejar detik-detik yang dianggap hilang. Tak ada yang boleh gagap menyambut hari kalau tak ingin berakhir miris. Kini kejamnya hidup membuat semua harus memerah dirinya melebihi batas.

Mou juga sudah terjaga. Bahkan jauh sebelum matahari datang menunaikan tugasnya, Mou sudah bangun dan membasahi wajahnya dengan air wudhu kemudian pergi menunaikan rutinitasnya bersenggama dengan Tuhan. Sesudah itu, ia menyeduh secangkir kopi hitam tanpa gula agar ia tak dicintai sepi menghabiskan waktu menunggu anak dan istrinya pulang dari mimpi. Mou tak tega membangunkan istrinya hanya untuk sekedar meracik segelas kopi untuknya. Itu terlalu naïf dan egois. Ia biarkan perempuan yang telah menemaninya selama sepuluh tahun masa kemarin hidupnya, menyelesaikan petualangan penuh senyum dalam lelap.

Justru ada iri yang sempat berlari menampar dirinya setelah ia menyibak tirai pintu kamar mereka yang dua tahun lalu masih berpintu. Ketenangan wajah istrinya membangkitkan lesu hati seorang lelaki yang semalam tak mampu memejamkan mata karena diusik oleh pelbagai hal. Dan ini sudah berlangsung hampir genap seminggu. Mengatupkan mata seperti jadi sesuatu yang asing bagi Mou. Bukannya ia ingin menikmati malam layaknya cerita-cerita dalam puisi konyol tentang orang-orang yang sanggup menikmati malam.

Mou tak sanggup jadi resi yang menciumi setiap malam dan duduk berdialog dengannya. Kelelahan yang bersemedi di setiap otot dan urat syarafnya sepulang dari ladang telah membuat ia jadi manusia kebanyakan. Sesegera mungkin rehat adalah jalan terbaik sebelum kehilangan esok. Tenaganya harus segera terisi penuh agar ia bisa terus menganyam tali asa sejengkal demi sejengkal menyiasati dunia yang semakin keras mencambuki punggungnya. Memang tak ada suara yang terdengar karena perih itu seperti tenggelam oleh keinginan klasik yang bermetamorfosis menjadi keharusan untuk membahagiakan anak dan istrinya.

Tangan Mou yang berbungkus kulit hitam legam adalah saksi bisu bagaimana pertempurannya mengalahkan terik dan keringat yang terus menerus mengejeknya dengan sebuah mimpi tergantung tepat di depan batang hidungnya. Tangan itu kini dengan sedikit malas mengandeng gelas kopi yang sedari tadi menatap Mou yang memandang kosong ke jalan tanah di depan rumahnya. Belum ada manusia-manusia yang lalu lalang dengan tergesa-gesa memanggul cangkul dan parang menuju sebuah bukit di belakang desa mereka yang sudah seminggu ini gelap gulita. Maklum, angin keras seminggu terakhir ini membuat roboh tiang-tiang penyangga kabel listrik yang terpancang setengah hati di atas tanah di kebun-kebun hampir sebagian besar petani di desa ini. Kepala desa sudah menghubungi petugas PLN agar segera memperbaiki kerusakan itu. Tapi seperti biasanya, belum ada jawaban. Dan petugas yang ditunggu juga tak kunjung tiba. Ini keadaan yang sudah dimaklumi semua orang di desa ini. Orang-orang kota enggan mengunjungi desa mereka karena jarak tempuh yang melelahkan.

Desa ini biasanya akan ramai didatangi jika musim pemilu semakin dekat.

Mou masih ingat dengan jelas betapa tiba-tiba ada seorang pria dengan peci dan setelan mahal menjabat erat tangannya seakan mereka adalah saudara sepenyusuan yang terpisah lama. Ia tak kenal nama orang itu karena baru sekali itu Mou melihatnya langsung ketika pidato di lapangan desa yang biasanya becek kalah hujan turun deras. Wajah pria itu beserta wajah-wajah lain yang juga sempat singgah di desanya terasa akrab karena banyaknya foto-foto mereka yang terpajang dengan ukuran besar di berbagai sudut kampung. Belum lagi stiker yang mereka bagi-bagikan agar petani-petani di desa ini mau menempelkannya di depan pintu rumah atau di mana saja. Mou tak tahu apa saja yang tertulis di situ karena ia tak bisa membaca. Kemiskinan yang jadi karib keluarganya membuat ia tak sempat merasakan bagaimana enaknya memakai seragam dan menenteng tas pergi ke sekolah terdekat yang ada di desa seberang. Lebih dari sepuluh kilometer jauhnya. Itu bukan jarak yang jauh bagi orang-orang di kampung ini karena otot-otot kaki mereka telah terlatih untuk mengalahkan jarak demi menjemput mimpi.

Itu mengapa Mou tak ingin anak semata wayangnya bernasib sama. Meski ia sadar, ongkos sekolah jauh lebih mahal dibanding dengan biaya makan mereka sekeluarga. Mou menjahit mimpi bahwa dengan sekolah, anaknya akan bernasib jauh lebih baik darinya. Ia pernah melihat iklan tentang murahnya sekolah dan masa depan yang terang benderang di ujung jalan itu ketika menonton di rumah Pak Haji. Orang paling kaya di kampung ini yang juga menjadi tempat bagi semua petani di sini untuk menjual hasil kebun mereka. Pak Haji juga jadi tempat bagi Mou dan kawan-kawan senasib untuk menyambung hidup dengan berhutang barang-barang kebutuhan jika lembar-lembar rupiah tak ada lagi dalam genggaman.

Mou mencoba menepis semua bayang hitam tentang betapa kemarin setelah pemilu, ia dan semua orang di kampung ini kembali terlelap dalam rutinitas biasa seakan janji-janji manis yang digembar-gemborkan oleh banyaknya calon yang datang dan kemudian dipersilahkan pidato di lapangan hanyalah impian kosong yang tak mesti lagi di kejar. Beras, gula, dan harga komoditi kopra yang sudah hampir sepuluh tahun terakhir terus terjerembab seperti tanpa akhir sudah cukup menjadi bahan gundah dan perbincangan yang tiada pernah sunyi dari keluh kesah semua mulut yang dikenal Mou dengan baik.

Ucapan kepala desa bahwa ada janji dari presiden bahwa harga kopra akan membaik kini sayup terdengar di telinga petani kecil seperti Mou yang semakin dewasa untuk kebal dan tak pernah menggantungkan asa pada janji. Semua tahu bahwa itu cuma khayalan murahan yang memang sering ditawarkan untuk membungkam teriakan-teriakan dari pelosok-pelosok desa karena perihnya lambung menahan lapar dan mata yang sembab karena menahan air mata. Kepala desa juga menyadari itu, namun selayaknya pemimpin yang lain ia harus tetap menjaga agar semangat semua petani di kampung ini tak padam.

Kopi di gelas sudah hampir kelihatan dasarnya dan matahari sudah mulai perlahan menapak naik untuk menjumpai manusia, termasuk menjumpai dan mengingatkan Mou bahwa ini sudah saatnya untuk segera memanggul pacul. Langkah kaki harus segera diayunkan meski kadang beban letih yang menggelayut kemarin masih terasa di setiap sendi dan syaraf di sepasang kaki tanpa alas yang telah mengenali setiap tapak jalan tanah di kampung ini. Tak boleh ada tawar menawar karena perut yang lapar tak pernah luput mengunjungi rumah. Mou tak ingin lagi terlalu keras di hajar kalap karena dapur yang melompong kosong tak berisi akibat habisnya persediaan. Setiap detik adalah pertempuran yang harus dijalani. Tak soal siapa yang menang. Mou sadar sepenuhnya bahwa menjadi petani adalah menjadi ksatria yang tak boleh patah arah meski berkali-kali lebam terpuruk.

Dan kini gelas yang menyisakan ampas kopi telah kembali dalam genggam tangan Mou.

Dengan tarikan nafas yang menguntai doa harapan pada Tuhan agar hari ini lebih baik dari kemarin. Tuhanpun pasti telah mengenali desah itu. Resah yang tertelan dan sembunyi di balik otot dan tulang yang sering pura-pura tak mengenal nyeri. Sepasang kaki tanpa alas menuntun tubuh Mou ke arah dapur yang hanya dibangun dari papan kusam yang setiap hari bertambah tua. Di tiap papan itu ada arca yang menuliskan kisah-kisah tangis yang tertahan di dada karena getirnya keadaan. Hanya Mou yang mengenali dan mampu membaca pahatan-pahatan itu. Alurnya adalah runut kehidupan minor yang dulu sempat di tantang bertarung agar kalah dan takluk. Tapi sebaliknya, Mou yang kalah dan takluk selama ini. Percaya bahwa kemiskinan ini adalah takdir yang Esa dan tak boleh ada sungut sebagai protes. Terlanjur yakin tak ada jalan keluar selain membunuh mimpi dan asa agar tak mengunjungi rumahnya.

Mata Mou menabrak parang yang tergantung di tatakan bambu di samping tungku tanah liat yang tiap retakannya menyanyikan teriakan yang seharusnya sedari lama keluar dari mulut Mou yang bungkam. Ini adalah karib yang telah menemaninya mengurai kerasnya hidup yang kusut. Tak ada rahasia antara mereka. Parang itu yang tahu berapa banyak keringat yang menetes di kebun kelapa Mou. Parang itu juga yang tahu bahwa di tiap buah kelapa yang dipanen jatuh ke bumi, Mou menuliskan surat kepada penguasa. Surat yang bukan terdiri dari huruf-huruf, namun dari kerontang perut yang kini lelah menunggu janji. Surat yang tak pernah di baca oleh penguasa yang terlalu dungu untuk mengerti. Kedunguan akut yang telah dimengerti oleh setiap petani di kampung ini bahwa itu penyakit yang tak bisa lagi disembuhkan. Lagipula itu telah mewabah dari presiden, berjangkit ke menteri-menteri, menular kepada para gubernur dan bupati hingga mereka tak mendengar bahwa tali tambat kesabaran para petani di kampung ini telah putus.

Itu sebabnya, Mou tak memanggul parang itu untuk ke kebun. Mou punya tujuan lain hari ini. Tujuan yang sudah disepakati jadi satu-satunya tempat di mana kaki para petani di kampung ini akan pergi. Bukan lagi ladang yang pasti telah bosan memandangi garis-garis letih yang tergambar di setiap wajah para petani seperti Mou. Hari ini adalah pertempuran lama yang pernah diingkari oleh Mou dan kawan-kawan senasibnya. Melunasi hutang akan di lakukan saat ini juga. Tidak bisa untuk lari lagi. Tak ada lagi cukup kekuatan yang dipunya. Karenanya saatnya menentukan sikap.

Bunyi truk samar-samar terdengar dari arah kejauhan. Mou paham bahwa ini tanda bahwa saat itu telah tiba. Ia dan semua petani di kampung ini akan berarak menuju tempat di mana mereka akan menagih janji untuk pertama kali dan tak akan berhenti sebelum itu ditepati. Dengan segera ia ke kamar dan menitipkan kecupan di kening anak dan istrinya. Di situ Mou menitipkan janji bahwa ia tak akan pulang sebelum kepunyaannya dikembalikan. Lalu dengan setengah berlari, Mou keluar dari rumah dan langsung naik ke atas truk tua yang mereka pinjam dari Pak Haji. Ia bergabung dengan kawan dan saudara sepenanggungan yang telah lebih dahulu berada di truk itu.

Destinasi mereka cuma satu. Menduduki kantor bupati.

Tentang Tuhan

biarkan Tuhan-ku
ku tiduri dan kuciumi seorang diri
kau cari saja Tuhanmu
dan bercintalah dengannya
agar nanti tak saling rampas kita
tak saling perang
karena merebut satu Tuhan

biarkan Tuhan itu banyak
dan hidup di masing-masing hati
agar tiap kita tenang ketika tidur malam
tanpa gusar esok pagi kehilangan Tuhan
yang dicuri saudara atau tetangga

aku ingin Tuhan yang betina
biar lebih lepas aku kan luapkan gairah
dan dendam yang lama kusam
karena dunia kini jadi musuhku

dan bila nanti aku mati
tak ada yang warisi Tuhan-ku
biar semua cari sendiri
jangan lagi saling rebut
jangan lagi saling ribut

Balada Pencari Angin

hanya dahan patah
mengerti bagaimana masa lalu
dari kejatuhan daun-daun kering

di tanah coklat yang kusam
tiada kebijaksanaan tersisa

ini mengapa hujan selalu gagal
jembatani cerita pemanas tungku
sebab api-api tua telah di kubur

maka angka mesti digugat
untuk buka hijab konsistensi
yang sinonimkan hidup

memberikan ceruk-ceruk
untuk disirami warna kusam

jika sejajar
kita akan lupa
jika searah
kita takkan kemana

lalu untuk apa biarkan tersisa?

bakar saja!!!

biar asap sendiri yang temukan angin

Suatu Pagi Sebelum ke Pabrik

Pagi menua ketika matahari semakin tinggi terbang ke langit. Dengan angkuh membagi sinarnya ke semua sudut bumi. Embun sudah pergi. Tak ada lagi sisa-sisa kristal pagi yang menjadi saksi malam pergi dan digantikan pagi. Semua hilang tanpa jejak. Sirna seketika seakan waktu tak pernah singgah. Meski pagi ini tidaklah berbeda seperti pagi sebelumnya bagi sebagian besar orang, tapi tidak buat Mou. Hari ini jelas berbeda. Semuanya. Hangat sinar mentari, sapa orang-orang yang nanti bersilang tubuh di mulut gang tempat menanti metro mini, maupun apa yang akan terjadi di pabrik hari ini.

Ya. Hari ini di pabrik adalah hari yang berbeda. Khusus mungkin bisa menjelaskan artinya meski tak seluruhnya terjelaskan. Meski jeans yang Mou pakai masih tetap sama dengan jeans yang juga digunakan sejak tiga hari sebelumnya tanpa pernah di cuci. Hanya digantung di belakang pintu sekedar mengusir penat setelah membungkus kaki yang selama hampir delapan tahun ini bolak balik di rute sama menuju tempat yang sama. Pabrik kokoh yang hampir menjadi seperti rumah jika saja ia hangat dan ramah seperti senyum Mirna di warung depan tempat biasa Mou mengutang dua batang rokok dan sebungkus mie instan setiap kali pulang kerja.

Tapi tidak. Pabrik itu terlalu sombong untuk membuat Mou selalu merindukannya jika harus berpisah setelah lebih dari delapan jam sehari terpanggang bisu didalamnya. Pabrik itu justru hanya mengawetkan rasa benci yang kemudian tumbuh subur menjadi dendam akut di hati. Tidak hanya dalam hati Mou seorang. Tapi juga di hati ribuan orang yang lain di tempat itu. Mou hanya kenal beberapa orang di antaranya. Tak sampai lima puluh jumlahnya. Padahal mereka berseragam sama, masuk lewat pintu yang sama dan pulang lewat gerbang yang sama di detik yang bersamaan. Sedang yang akrab hanya Ijo dan Roe. Itupun karena sekampung dan sering makan bersama ketika istirahat siang. Sedang sisanya? Jangan coba mencari jawabnya. Percuma!

Padahal ada delapan tahun lebih yang Mou punya untuk kenal dengan teman-teman sekerjanya di pabrik itu. Waktu yang seharusnya lebih dari cukup bagi manusia untuk mengenali manusia yang lainnya. Namun yang terjadi justru sebaliknya, semuanya asing terhadap yang lain. Mou tak bisa punya celah untuk sekedar menggenggam erat tangan mereka lalu mengucapkan nama sendiri dan asal kampung sembari dibalut sebuah senyuman. Senyuman solidaritas sesama orang-orang desa yang terpaksa harus datang ke pabrik ini menjual tenaga karena ijazah sekolah yang cuma sampai SD. Senyuman sesama orang-orang yang harus mengubur mimpi muluk hidup sejahtera dan makmur. Punya rumah sederhana, makan cukup dan bergizi, punya baju layak dan berkesempatan melanjutkan sekolah. Mou ingin sekali sekolah. Tapi itu dulu, jauh sebelum pabrik itu merenggut semuanya.

Kini ingatan untuk sekolah itu sudah mulai kabur bentuknya. Mou seperti orang yang terlanjur patah hati karena ditolak cintanya oleh gadis pujaan. Mou remuk redam batinnya karena dinding-dinding kusam pabrik ini telah hampir saja berhasil merubahnya menjadi mesin seutuhnya. Menjadi sosok mayat tanpa perasaan kecuali kemampuan fisik yang terus menerus harus digenjot saat lembur. Walau Mou selalu bingung kemana perginya insentif-insentif lembur itu. Mou dulu takut bertanya karena tak ingin dipecat. Tidak ingin menjadi pengangguran dan hidup melarat di bawah kolong-kolong jembatan. Mou ingin kaya dengan menabung. Tapi tak pernah mampu karena gajinya hanya cukup untuk makan tiga kali sehari dan melunasi utang rokok, gula dan kopi di warung Mirna yang punya senyum sejuta hangat itu.

Bahkan, Mou sebenarnya ingin melamar Mirna jadi istrinya. Biar senyum yang mampu menghangatkan hati itu bisa dinikmati setiap hari. Setiap bangun pagi dan sebelum tidur malam. Namun tak bisa. Mou tak punya keberanian untuk melamar Mirna. Bukan karena dia seorang penakut. Mou bukan seorang pecundang. Justru sebaliknya. Ia adalah seorang keras. Seorang petarung.

Dulu di kampung, Mou adalah satu dari sedikit muda yang disegani. Bukan karena punya ilmu silat yang dipelajarinya dulu. Tapi juga karena Mou adalah orang yang sholeh dan taat ibadahnya. Sholat tak pernah sekalipun dilewatkan gugur. Mou selalu rindu untuk berjumpa dengan Tuhan-nya. Tapi tidak kini. Mou berbalik seratus delapan puluh derajat. Tak pernah lagi sholat karena tubuhnya terlalu letih dihajar lelah lembur.

Tak mampu lagi membungkukkan badannya di atas sajadah karena punggung itu sering nyeri jika tak segera diistirahatkan. Mou menjadi jauh dari Tuhannya semenjak pabrik itu menelan tubuh mudanya delapan tahun yang lalu. Delapan tahun penuh kemarahan yang terkatup rapat dalam gertakan gigi ketika merasa diperlakukan tak selayaknya manusia.

Tapi subuh tadi Mou kembali lagi menemui Tuhannya. Ia dengan khusyuk memanjatkan doa. Bukan sembarang doa. Itu doa perjuangan. Doa minta restu dalam usahanya untuk merebut kembali kemanusiaannya yang terampas selama lebih dari delapan tahun di pabrik itu. Sebuah jalan menemukan dirinya yang hilang tenggelam tertimpa bunyi derum mesin pabrik yang berbanding ironis dengan bisu semua manusia di dalamnya. Bahkan ketika gaji mereka selama enam bulan terakhir ini tak kunjung juga sampai di tangan sementara perut tak mampu tahan berpuasa selama itu.

Mou kehilangan kebungkamannya. Tak mau lagi ia mengutang di warung Mirna yang punya senyum sejuta hangat itu. Sebab Mou tak ingin melamar Mirna hanya karena tak mampu menebus utang di warung kecil yang sedang dilewatinya sekarang. Mou ingin kembali ke warung itu dengan sejumlah uang untuk melunasi semuanya sembari mengungkapkan perasaan yang telah memakan ruang mimpinya ketika tidur malam berselimut lelah kerja seharian. Pagi ini adalah batas akhir di mana Mou kembali menemukan keberaniannya yang dulu sempat minggat. Sekarang adalah saat mengadakan perhitungan yang tertunda delapan tahun lebih. Sebab kalau bukan sekarang, Mou tak yakin esok ia masih punya kesempatan lagi.

Ya. Pagi ini semuanya benar-benar beda. Mou telah membulatkan niatnya. Dan dua minggu terakhir keinginan itu telah ia sebarkan sebagai benih pemberontakan kepada kawan-kawan seperasingannya di pabrik kokoh itu. Pagi ini mereka akan mogok kerja. Menuntut upah yang tak kunjung dibayar bos-bos besar yang sudah sering bolak-balik plesir ke luar negeri.

Ini waktunya menuntut hak. Menuntut balas atas kebisuan. Mencari lagi kemanusiaan yang sempat redup termakan ketakutan. Pagi ini tak boleh lagi ada ketakutan. Pagi ini MOGOK!