A City

We have no enough cups of coffee
For this conversation
Not because we have lots to talk
But we lack of references

There’s no differences here
Sand only shows uniformity
Here, in this city
Line is simply a line
Not a barrier nor marker

This city doesn’t form anything
Nor take care something

Slaves and not human
Who formed this city
Folded and arranged it

Demoracy is colored papers
And feudalism is solid one
And mystic is super-glue
Which can not be dissolved by water

That’s why origami become interesting
You can open it and folding it
Based on your will
We both called it: freedom

As well puzzle
No matter how tricky it can be
It just a game
We both called it: people’s will

Here in this city,
Freedom is not immersed in the shadow of death
In fact, they planted it in the small pot
Allowed to grow big just like bonsai
Too big is not sexy
Because people thoughts were small

Here, freedom is a failed comedy
Though it is not funny
We will laugh hardly
Since it is an obligation

Just finish your coffee
And let’s go
Those sycophants are coming
To clean our table

Yang Dari Utara Enggan Ke Selatan

aku datang dari utara
dan tak ingin menambang emas di selatan
meski gusar lapar sering mendera
aku memilih debur ombak dan sapa lautan

bagiku adalah cukup banyak di sini
cara belajar tentang kisah dan petualangan
babad tua yang masih tersembunyi
mengaisnya dari kuburan yang memendam

aku memilih menyapa samudera
dan bukan gemuruh ibukota
sembari mendengar dari masa lalu dan melihat hari ini
bagaimana manusia menjadi angkuh dan lupa diri

aku datang dari utara
mendulang cerita
dari muram wajah para nelayan
tergerus impian masa depan

Manila dan All About You

Crowded of walker
Sat next to a stranger

Look back to my past
Time run so fast

Here’s no more rainbow
I full of hope clock can be slow

So I can have time to remember
You are the past, coz now is September

 

Soekarno Hatta Airport: 2nd of September 2011

* * *

I made the poem above when I was arrived back from the Manila to Jakarta, at the airport while I’m waiting for my luggage. I wrote it on my small old notes book. A small book where I will always write down something that scratched on my mind concerning events or something important, included poems.

It quite old poem. But somehow, I still believe if she haven’t yet read it. Yeah, the poem is for a girl. Back at that time, I met with a girl in Manila and falling in love with her. I have no chance at the time to say words about my feeling, as usual.

Now with the Valentine flowers and chocolates, I post the poem here for the first time. So all the cupid-things can help me to bring it far and hand it to her. And I tagged some friends here, because for some reason I have no idea why I did it.

Angin dari Saranggani

di sini
memunggungi Balut Saranggani
aku memasung horizon
biar tak gerak
dan beku
dan tiada lagi pelangi
biar saja jingga itu tampak biasa

kau mesti mencoba menganyam angin
seperti gelombang yang ikut gemanya
dan tubuh kita membiru
terbungkus lautan yang haru

coba lihat kalender berwarna merah
pada dinding yang luka oleh waktu
ditusuk bisu berwajah kelu

dapatkah kau lihat
aku bertemu ketiadaan dalam jumpa

Giroth Wuntu

kita bukan lagi sekedar kawan
hanya karena sesama penjahit kata
sejak hangatnya senyum kau beri
di jumpa pertama

kita bukan lagi sekedar teman
hanya karena kopi, rokok dan kisah
sejak jejak perih kau bagi
di jumpa kedua

kita bukan sekedar sahabat
hanya karena tunggu dan harap
ganti ku beri janji kembali
di jumpa terakhir

kita memang segalanya
kawan, teman, dan sahabat

hanya saja aku lupa pulang
saat aku telah sanggup kini
menjadi lawan tandingmu

 

(Alm) Giroth Wuntu adalah Ketua DPRD Minahasa sekaligus Ketua Front Nasional Sulawesi Utara Tengah ketika terjadi kisruh politik 1 Oktober 1965. Pernah dipenjarakan tanpa melalui proses peradilan. Hidup terasing karena stigma komunis yang diberikan rezim dan lingkungan. Menghabiskan waktu hanya di sebuah rumah kecil dengan ditemani oleh seorang keponakan. Beliau juga adalah salah seorang anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) provinsi Sulawesi Utara Tengah, penulis novel “Perang Tondano”, beberapa novelet seperti “Towo Waya” dan masih banyak yang lain. Hingga meninggalnya, beliau adalah seorang pekerja seni yang produktif dan konsisten sekaligus kawan yang baik serta lawan diskusi yang hangat.