Shortspit: PMKRI dan Kelucuan Gerakan Pelajar

Melaporkan Rizieq Shihab adalah lelucon paling bodoh yang dilakukan gerakan pelajar. Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI) tentu saja, sebagai sebuah entitas pelajar sekali lagi menunjukkan kepada publik luas bahwa seperti mereka sama konyol dengan HMI yang kemarin merampok rumah makan. Anehnya, banyak yang kaget. Sebagian lain menyayangkan sikap PMKRI. Sementara, minoritas bigot lain mendukung sikap itu -terbuka atau malu malu. Padahal, perilaku tolol sejenis ini sering berulang. Terlalu sering bahkan.

Mengapa PMKRI idiot? Ada beberapa sebab. Saya akan coba urutkan di sini sebagai kado Natal juga ungkapan rasa kasihan saya kepada organisasi bau bangkai macam PMKRI. Tapi, versi pendek saja. Biar gampang dilahap. Jadi pas kalian mau bagikan kepada para bigot, mereka gak susah ngunyahnya.

PERTAMA, faktor historis. Pasca 1965, gerakan pelajar menjadi elitis. Ia menjadi sebuah entitas yang merasa memiliki identitas kelas yang terpisah. Tidak mengakui sebagai bagian dari proletar kebanyakan, tapi juga menyadari bahwa mereka tidak mungkin mengaku borjuis. Absennya politik kelas pasca 1965 ini membuka jalan lahirnya “kelas menengah”. Kalangan terdidik yang apolitis, ahistoris dan berisik. Kelompok paling tidak tahu diri dan sok tau.

Definisi kelas dalam terma “kelas menengah” adalah bentuk banalitas paling brutal. Secara filosofis tidak memiliki makna, secara politis tidak memiliki daya, secara artistik tidak memiliki gaya.

Organisasi pelajar adalah salah satu yang bertanggung jawab. Sebab ia membiarkan universitas menjadi masa inisiasi seseorang menjadi bagian dari “kelas menengah”. Sekaligus di saat yang bersamaan, organisasi pelajar semacam PMKRI mengubah diri macam sekte. Isinya? Pengikut tanpa logika yang bertingkah macam anjing piaraan.

Implikasinya dari poin PERTAMA di atas adalah problem KEDUA, yaitu faktor ideologis.

Kita tahu bersama, pasca 1965 gerakan pelajar menjadi anti-ideologi. Mereka menjadi pengecut untuk mengambil posisi, lalu menyelimuti diri dengan tabir netralitas dan seribu satu kemunafikan lain. Kondisi agak membaik ketika Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) lahir. Pasca 1965, SMID adalah organisasi level nasional pertama yang memiliki keberpihakan ideologis. Kejelasan sikap ini dapat dilacak dari praktek politik dan administratif mereka -terlepas banyak catatan yang patut dikritisi. Namun sayang, SMID tidak berumur panjang.

Setelah Soeharto jatuh, ada beberapa harapan prematur. Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) sempat hadir mengisi ruang politik sayap Kiri. Namun, ia terjebak dengan sentralisme akut ketika memilih melebur komite-komite aksi tingkat kota dan beralih rupa seperti organisasi karatan jaman Orba. Di barisan Islam Politik, ada Kesatuan Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang juga berantakan karena overdosis intervensi dari Partai Keadilan Sejahtera.

Sejak 2004, baik LMND maupun KAMMI menjerembabkan diri pada kubangan tai sapi. Sebabnya, karena mereka juga ingin menjadi “seperti bangkai warisan Orba” setelah secara sembrono memakan racun propaganda neoliberalisme bahwa pelajar “harus objektif, tidak berpihak, dan tidak berpolitik”. Hilangnya jangkar ideologi pada LMND dan KAMMI membuat keduanya menjadi sekedar lelucon hari ini.

Jika LMND disibukkan dengan perpecahan demi perpecahan -yang diakibatkan pertengkaran elit PRD, maka KAMMI sekarang sedang sibuk pada “Anti Asing dan Anti Aseng” dan berpropaganda bahwa bumi itu datar adanya.

Faktor KETIGA adalah soal militerisme. Organisasi-organisasi pelajar di Indonesia gagal dengan spektakuler di soal ini. Mau bukti? Coba lihat bagaimana bersemangatnya mereka ketika masa perploncoan mahasiswa baru tiba. Ajang pelajar senior menyiksa pelajar junior menjadi momen penting.

Poin di atas bertaut erat dengan soal KEEMPAT, yaitu feodalisme. Wajah feodalisme terlihat jelas dalam bentuk patron-patron di dalam tubuh organisasi pelajar. Generasi tua yang dominan di atas mental budak generasi yang lebih muda. Hal ini dimungkinkan karena inferiorisme dipelihara dan dipertahankan. Bukti lain adalah penyebutan MAHAsiswa yang memberi kesan bahwa mereka bukan pelajar -semata karena tidak menggunakan seragam.

Alasan KELIMA adalah soal MACHOISME yang enggan dianggap penyakit dan dijadikan musuh dalam tubuh organisasi pelajar. Sikap anti feminis ini membuat gerakan pelajar gagal mengartikulasikan posisi historisnya sebagai anak kandung proletar yang tidak lain adalah produk dari pabrik kognitif bernama universitas. Para pelajar lupa bahwa mereka secara esensi tidak berbeda dengan tahanan penghuni penjara dan pasien di rumah sakit jiwa.

Alasan lainnya: karena mereka yang hari ini mendaku diri sebagai aktivis pelajar tidak lebih dari sekumpulan bigot yang tidak memiliki otak. Jadi yah gitu. Goblok sejak dari dalam pikiran sehingga idiot dalam praktek dan ucapan. Mending jadi anak Pramuka sekalian.

— — —

PS: Yang menarik, ketika kritik saya terhadap PMKRI kemarin, ada beberapa jenis tanggapan yang muncul. Di luar mereka yang bersepaham dengan saya, ada beberapa komentar kontra yang menarik untuk diklasifikasikan.

PERTAMA, mereka yang bersepakat dengan PMKRI. Mereka sepakat jika fasis dan seorang intoleran seperti Rizieq Shihab mesti dihajar dengan tindakan yang sama. Jika Ahok dilaporkan karena pencemaran agama, maka Rizieq juga.

Mereka ini menurut saya, adalah orang-orang yang sama yang bersepakat agar pembunuh dihukum mati, pemerkosa dihukum kebiri, dan jenis ganjaran serupa. Pokoknya, mata ganti mata. Tak peduli seluruh dunia nanti buta. Tangan ganti tangan. Tak peduli jika nanti semua jadi buntung. Menang jadi abu, kalah jadi arang? Tak soal!

Tipe KEDUA, para begawan instan. Intinya, mereka sepakat pada kritik saya namun tidak bersepakat dengan gaya bahasa yang digunakan. Mereka meminta saya sopan, jangan kasar, tidak mencela, dan lain sejenisnya.

Orang-orang ini bagi saya adalah moralis katrok yang takut dengan kelugasan bahasa. Mereka masih hidup dalam narasi bahasa eufimistik Orde Baru yang mendayu-dayu, berkabut, tidak langsung, penuh tikungan, dan juga rawan penipuan. Jenis manusia macam ini, tidak sanggup menerima kenyataan. Kebenaran memang sering terasa pahit.

Jenis komentator KETIGA adalah kelompok yang merasa bahwa kritik terhadap PMKRI hanya benar sepanjang ia tidak mengkritisi gerakan pelajar. Mereka merasa tingkah PMKRI bukan representasi organisasi pelajar.

Secara implisit, mereka ingin bilang mereka jauh lebih baik. Tapi, mereka bahkan tidak menanggapi lima poin kritik yang saya ajukan. Para komentator tipe ini bahkan tidak bisa menjelaskan alasan IPO dibalik penggunaan terma “mahasiswa” dan bukan “pelajar”. Semisal para buruh yang menolak disebut karyawan.

Saat menulis ini, saya teringat sebuah ayat di Alkitab. “Jangan membuang mutiara kepada babi.”

Shortspit: NKRI Harga Tentara dan Orbais

Kemarin (Selasa, 29 November), Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-West Papua) diluncurkan. Ini adalah aliansi politik solidaritas terhadap perjuangan pembebasan (liberation movement) West Papua dan hak menentukan nasib sendiri (rights to self-determination).

Saat mereka mengadakan konferensi pers di gedung LBH Jakarta, sekelompok orang melakukan protes memprotes acara tersebut. Mereka menuduh bahwa acara tersebut mencederai keutuhan NKRI. Orang dan organisasi yang berada di dalam FRI-West Papua dituduh tidak nasionalis dan meludahi rasa bangga sebagai orang Indonesia.

Pertanyaannya, sejauh mana tuduhan tersebut benar? Karena sedang iseng, saya mengajak anda sekalian untuk urun pikiran.

Pasca referendum Timor Leste yang dimenangkan oleh kelompok pro-kemerdekaan, kita menyaksikan kekalahan telak barisan nasionalis-kolonialis-unitaris secara memalukan. Ada dua kubu yang secara langsung terluka oleh kekalahan ini.

Kelompok pertama, militer yang secara terbuka berupaya mempertahankan penjajahan atas Timor Leste dengan berbagai cara. Termasuk berbagai aksi kejahatan terhadap kemanusiaan, seperti pembantaian Santa Cruz, kasus Balibo 5, dan masih banyak lagi.

Kedua, kelompok loyalis Orde Baru dan kroni-kroni oportunisnya yang dapat disatukan dalam keranjang sampah bernama: Orbais. Kelompok ini adalah mereka yang menikmati akses kolusi dan nepotisme dengan berlangsungnya kolonialisme Indonesia di Timor Leste. Monopoli terhadap sumber daya alam menjadi sebab ketidakengganan mereka untuk melepaskan daerah koloni.

Kedua kelompok tersebut adalah pihak yang paling aktif menyebarkan mantra “NKRI Harga Mati”. Propaganda masif ini terutama dilakukan pasca jajak pendapat yang berujung pada kemerdekaan Timor Timur dari penjajahan Indonesia.

Lepasnya Timor Leste dianggap sebagai aib yang tidak bisa terulang kembali. Itu sebabnya, perjuangan pembebasan Aceh, Papua dan Maluku Selatan, mendapatkan represi berkali lipat kerasnya pasca referendum 30 Agustus 1999.

Selain merepresi perjuangan pembebasan di akar rumput, militer dan militan Orba tersebut melakukan politik teror di berbagai daerah seperti Poso, Ambon dan Sampit. Yang dibenturkan adalah identitas suku dan agama sebagai cara untuk memamerkan kuasa jejaring politik, sekaligus mengujicobakan taktik ‘divide et impera’ di level praktek.

Perluasan konflik horizontal ditujukan untuk memutus mata rantai solidaritas sosial antar kelompok-kelompok termarginalkan. Pendivisian melalui konflik agama dan suku agar masing-masing entitas sosial kemudian terisolasi, tidak terhubung dan kemudian menjadi katak dalam tempurung yang sibuk dengan pertarungan domestiknya.

Sebagai instrumen pendukung, maka militer membentuk barisan tukang pukul yang bertugas mengkontekstualisasikan propaganda konflik horizontal tersebut. Misal, Front Pembela Islam (FPI).

Hal di atas ditujukan untuk mencegah kemungkinan pembacaan yang menyeluruh (holistik) atas konflik ekonomi-politik. Keterputusan entitas-entitas sosial ke dalam keranjang identitas dipastikan dapat meredam potensi-potensi ledakan sosial ideologis yang inheren di dalam setiap formasi masyarakat.

Singkatnya begini. Perang kelas tidak akan terjadi jika masing-masing proletar sibuk berperang dengan sesamanya. Paham ngana?

Di tataran ideologi, terjadi degradasi dengan sengaja mengenai konsep swakelola dan otonomi. Sejak terbitnya Undang Undang No.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang Undang No.25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, maka kedua konsep tadi dilucuti dari makna politik. Swakelola direduksi menjadi sekedar hak untuk mengatur perencanaan pembiayaan keuangan daerah, sementara otonomi diinterpretasikan sebagai pembagian kue kekuasaan antar elit. Imajinasi politik tentang sebuah format pengelolaan negara yang dibasiskan pada model federasi menjadi tidak mungkin dan dipandang mustahil.

Swakelola dan otonomi dimungkinkan sepanjang ia tidak mengganggu Indonesia dalam formasi finalnya sebagai negara unitarian yang homogen.

Pelucutan makna politis swakelola dan otonomi berimplikasi serius pada cara pandang orang Indonesia terhadap gerakan Atjeh Merdeka, West Papua atau Republik Maluku Selatan. Gerakan pembebasan nasional dipandang sebagai gerakan yang menciderai keluhuran konsep unitarianisme Indonesia sebagai sebuah kesatuan manunggal yang tidak boleh terceraikan. Ekspresi-ekspresi politik yang muncul dari aspirasi tersebut -semisal Papua dan Maluku Selatan- ditolak karena ia mengekspos bagaimana sebenarnya “NKRI Harga Mati” sebagai ideologi kolonialisme beroperasi.

Dalam kolonialisme, ada sentra yang menjalankan peran sebagai titik pengumpulan semua akumulasi kekayaan, sementara periferi sebagai daerah koloni yang hanya perlu diekstrak kekayaannya semata. Sebagai contoh, kita dapat menyaksikan bagaimana Freeport beroperasi di Papua, atau Chevron menjalankan bisnis di Aceh, atau perusahaan penangkap ikan skala raksasa dari Taiwan, Korea dan Jepang di laut Banda dan Laut Aru di kepulauan Maluku.

Jadi, sampai di sini Bung dan Nona tahu siapa yang paling diuntungkan dari keutuhan NKRI?

Jawabannya jelas sudah: militer dan miitan Orban. Mengapa? Karena selama tiga dekade di bawah kediktatoran Soeharto, militer dan militan Orba sudah membangun perangkat dan jejaring akumulasi yang solid. Tertata dari bawah hingga ke atas. Aliran pundi-pundi kekayaan inilah yang akan terganggu jika ada aspirasi yang bertentangan dengan semangat unitarianisme NKRI seperti perjuangan pembebasan Papua misalnya. Untuk mempertahankan piramida akumulasi ini, militer dan militan Orba tentu akan menggunakan banyak cara.

Salah satunya adalah memanfaatkan kumpulan orang-orang seperti yang tertera di tautan ini.

Mojok: Ekspektasi, Interpretasi dan Simplifikasi

Persoalan tentang keikutsertaan Freeport sebagai salah satu sponsor di Mandiri ArtJog 9, kemudian berputar arah. Kini di permukaan dan lebih berisik, Mojok yang kena sikat. Alasannya dimulai dengan terbitnya sebuah postingan penuh amarah dari Yasir Dayak yang mengkritik website tersebut. Sikap Mojok untuk menerima iklan dan ikut mempromosikan Mandiri ArtJog 9 dianggap sebagai tindakan yang tidak pantas dan tercela. Advertorial yang ditulis Agus Mulyadi di kanal khusus iklan #MojokSore dianggap menghina akal sehat. Di Facebook, keriuhan terjadi. Banyak orang merespon. Sebagian besar dengan kepala yang kadung diliputi amarah dan ketidaktahuan mengenai akar persoalan yang sebenarnya.

Makin kusut karena bank Mandiri yang merupakan sponsor utama ArtJog 9 mengucurkan dana hampir 4 trilyun kepada PT. Semen Indonesia. Kredit tersebut menjadi dua bagian. Pertama dalam bentuk Kredit Modal Kerja (KMK) sebesar 500 milyar dan sisanya dalam bentuk Kredit Investasi yang mencapai angka 3.46 trilyun.

Surat Yasir Dayak dan komentar para pendukungnya mendorong saya untuk menuliskan olok-olok. Terbit di Mojok tepat sehari setelah amuk Yasir Dayak tersebar di media sosial. Simplifikasi dalam tulisannya yang disertai riuh pendukungnya membuat saya gerah. Selain menggeneralisir segala sesuatu ke dalam satu keranjang yang sama, surat tersebut tidak lain adalah bentuk silogisme paling norak menurut saya.

Tidak lama kemudian, muncul surat dari Ibu-ibu di pegunungan Kendeng yang sedang bertarung melawan PT. Semen Indonesia. Kritik dalam surat tersebut tidak lagi hanya dialamatkan kepada panitia ArtJog dan bank Mandiri sebagai sponsor utama, tapi juga kepada Mojok.

Situasi makin runyam.

Polemik belum berakhir, tapi keadaan makin tak terkendali. Lebih banyak komentar asal-asalan yang tidak lain lahir karena kegagalan memahami apa yang sedang terjadi. Lalu, tuduh menuduh tidak bisa dihindari. Merespon tuduhan-tuduhan simpang-siur tersebut, kemarin pagi, Puthut EA menulis kembali terkait hal tersebut. Tulisan ini juga panen protes. Terutama dengan penggunaan kata “kimcil”. Banyak orang merasa kata ini terlalu kasar meski ada disclaimer di akhir tulisan. Entah karena dipandang tidak cukup, atau karena tidak dibaca. Soal moralitas baik dan buruk justru mengemuka dan menambah keruh. Namun Tia Pamungkas mengatakan dalam salah satu komentarnya mengatakan bahwa makna denotatif atau konotatif sebuah kata sangat bergantung pada ruang. Kesadaran ruang akan konteks digunakannya sebuah kata sangat penting agar kritik terhadap penggunaan sebuah kata tidak terjerembab pada dasar moralitas.

Seterusnya, adalah makin tenggelamnya kritik terhadap keterlibatan Freeport dan sebagai gantinya yang naik ke permukaan adalah soal-soal yang sebenarnya tidak fundamental.

 

EKSPEKTASI

Boleh-boleh saja berharap. Tapi sejak awal sudah harus dipahami bahwa harapan tak selalu seturut kenyataan. Respon terhadap kenyataan yang berbeda dengan harapan itulah yang membedakan antara mereka yang paham menggunakan otak dan mereka yang sekedar memajang otak di dalam tengkorak kepala tanpa pernah menggunakannya sama sekali.

Ketika Mojok hadir dan tumbuh subur, saya menilai terlalu banyak ekspektasi yang disampirkan ke pundak situs ini. Orang boleh menyangkal. Tapi melesatnya Mojok ke papan atas klasemen situs Indonesia yang ramai pengunjung tidak lepas dari hal tersebut. Salah satu sebabnya karena Mojok hadir dengan bentuk dan gaya tulisan yang dianggap sebagian orang sebagai kebaruan. Celah pembaca yang bosan akan hal yang itu-itu saja bercampur dengan dahaga akan perubahan terhadap model pemberitaan terkait isu-isu sosial dilihat sebagai peluang. Sarkasme dan satirisme adalah dua corak penulisan yang jadi tulang punggung situs ini di awal-awal berdirinya. Penulis-penulisnya lalu dikenal banyak orang dan artikelnya jadi pusat perhatian dan dibagikan berkali-kali. Terutama karena tiap harinya, artikel yang tayang di Mojok mengikuti perkembangan isu yang sedang hangat dibicarakan di media sosial -baik Twitter ataupun Facebook.

Selain topik paling hangat, Mojok juga mengandalkan jejaring penulis yang dikenal secara personal. Terutama mereka yang pernah mukim, masih menetap atau kawan-kawan sendiri di seputaran Jogja. Orang-orang ini sudah terbiasa menulis dan bukan penulis baru yang masih berjuang membedakan “di” pisah dan “di” sambung atau sedang berupaya menemukan bentuk dan karakternya. Sebagian memiliki latar belakang jurnalistik atau sering menulis di akun Facebook dengan ukuran yang tergolong cukup panjang. Masing-masing memiliki cara untuk mengungkapkan pandangannya. Puthut EA, di masa-masa situs ini masih berupa janin suatu ketika di akun Facebook-nya pernah mengatakan bahwa ia memang menginginkan agar Mojok dapat menjadi tempat di mana hal-hal serius dapat dinikmati secara renyah.

Mojok tampil sebagai ruang di mana pembaca dan penulis bisa rehat sejenak. Mengambil jeda dan menarik napas dari derasnya sapuan gelombang informasi yang membuat otot jantung bekerja tiga kali lebih banyak.

Kultur pergaulan Puthut dan teman-temannya yang gemar melontarkan gurauan, melucu dengan bahasa-bahasa yang nyeleneh atau mbeling, senang memparodikan hal-hal megah dan mewah dan desakralisasi terhadap ide-ide mapan, menjadi warna yang mempengaruhi awal muasal Mojok berdiri. Seingat saya, ada tiga penulis yang menjadi perhatian di masa awal Mojok hadir; Arman Dhani, Iqbal Aji Daryono dan Agus Mulyadi. Nama pertama adalah musuh seluruh suku bangsa penghuni jagad Twitter. Sosok berikutnya adalah supir truk internasional sekaligus ayah panutan yang jadi idola mamah-mamah muda. Sementara yang terakhir adalah blogger asal Magelang yang juga adalah siluman serigala. Di antara ketiganya, Agus Mulyadi yang paling produktif menulis buku.

Kehadiran website ini dapat dibilang sebagai keputusan bisnis yang cerdas. Momentumnya bertepatan dengan tingkat kebosanan pembaca terhadap berita-berita yang tayang di media online. Sementara, beberapa lain yang mendaku alternatif dinilai terlalu serius atau tidak lebih dari pengumpul remah-remah informasi dan menyusunnya dalam kategori-kategori banal macam On The Spot. Pembaca hanya membaca sekali dan merasa cukup. Jika dibaca lagi justru bikin mual.

Namun, tak semua orang bisa paham bahwa Mojok bukan media macam Rappler, Kompas atau Tempo. Juga tidak bisa disamakan dengan Kompasiana, WordPress atau Blogspot. Menerapkan kurasi terhadap naskah yang masuk, namun menghindari pengebirian terhadap konten tulisan. Dengan disiplin hanya mempublikasikan satu artikel setiap hari di tengah pasang surut mereka yang mau mengirimkan naskahnya. Tapi Mojok juga bukan JakartaBeat, IndoPROGRESS atau Islam Bergerak. Sejak awal website ini bukan pamflet gerakan politik sayap kiri atau bahkan sayap kanan.

Situs ini tidak akan pernah bisa dan tidak pernah berniat menggantikan peran media penyedia berita. Sependek pengetahuan saya Mojok memang sedari awal tidak pernah diniatkan untuk misi tersebut.

Mojok itu bukan citizen journalism seperti tuduhan banyak orang. Ia tidak lebih serupa sebuah meja di pojok kedai kopi. Ruang kecil di mana topik dibincangkan dengan santai, rileks dan diselingi tawa. Tidak ada kontributor, kolumnis atau wartawan yang ditugaskan mengumpulkan berita. Semua orang diundang untuk menuliskan pendapatnya dengan bahagia dan centil. Jika ada orang yang kesadarannya diradikalisir karena satu dua tiga artikel di dalamnya, itu hanya bonus yang tidak akan dikejar.

Bayangkan seorang kawan menceritakan lelucon tentang apa yang ia alami hari ini ketika kalian berjumpa sepulang kerja di sebuah angkringan. Begitu kira-kira Mojok itu.

 

INTERPRETASI

Tidak sedikit pengunjung situs ini yang menganggap Mojok menebar fitnah, menulis dengan gaya yang buruk, sok tahu, antek komunis, antek liberal dan ragam tuduhan lain. Di kolom komentar banyak tulisan, ramai hujatan yang datang dari mereka yang tidak bersepakat dengan tulisan yang terbit di Mojok. Website ini dipandang tidak berimbang dalam fakta, bias dan tidak adil.

Ambil contoh tulisan Iqbal Aji Daryono soal tembakau dan pekerja anak di ladang tembakau. Cibiran segera dilemparkan bahwa Mojok adalah media pro-tembakau dan dibayari perusahaan rokok. Sebabnya, sebagian besar adalah mereka yang gagal paham bahwa tiap isi yang terkandung dalam tulisan yang tayang di Mojok merupakan tanggung jawab penuh si penulis. Kenyataan bahwa beberapa penulis di Mojok pernah terlibat dalam riset mengenai tembakau dan cengkeh di masa lalu sudah cukup jadi bukti. Ditambah lagi dengan fakta lain bahwa sebagian besar penulis Mojok adalah para pengudud kretek. Padahal, satu-satunya sikap Mojok secara institusional adalah ketika memutuskan mendesain tampilan depan mereka pada 1 Mei 2015 sebagai solidaritas terhadap demo buruh. Selebihnya, belum ada setahu saya.

Naif juga jika karena latar belakang seorang Puthut EA yang pernah aktif di gerakan sosial dan posisinya sebagai Kepala Suku Mojok dijadikan alasan bagi pembaca untuk memandangnya sebagai keharusan agar suara Mojok merepresentasikan isu-isu gerakan sosial. Interpretasi macam ini bukan hanya keliru, namun sangat rentan menyesatkan. Kita harus berhenti menggeneralisir dan belajar menelaah dengan lebih adil. Sikap yang bumi hangus tanpa analisa seperti yang terjadi saat ini merupakan penyakit.

Dunia itu tidak hitam putih.

winduSama halnya jika seorang Windu Jusuf menulis berkali-kali di Mojok, itu bukan berarti website ini adalah versi lain dari IndoPROGRESS. Atau kalau ada isu sosial yang dibahas secara kritis, itu semata-mata karena posisi penulisnya memang seperti itu dan editor yang meloloskan memiliki simpati atau setidaknya tulisan tersebut terlalu bagus untuk ditolak. Apakah dengan adanya dua tiga redaktur IndoPROGRESS yang rutin ikut berkompetisi agar naskahnya dapat dipublikasikan melalui tulisan di Mojok maka dengan sendirinya situs ini menjadi progresif? Saya bukan hanya tidak yakin namun sangat tidak bersepakat dengan cara menarik kesimpulan macam ini.

Windu Jusuf benar ketika mengatakan bahwa dalam beberapa hal, Mojok berguna untuk pembangunan gerakan. Itu sikap dia.

Saya sendiri menganggap bahwa menggantungkan diri pada website ini atau membayangkan diri sedang melakukan infiltrasi ideologis ke dalamnya melalui tulisan-tulisan yang seturut dengan birahi gerakan hanya membuktikan bahwa banyak aktivis kurang piknik dan punya selera humor yang rendah. Tawaran yang muncul di tengah silang sengkarut agar mendiskusikan peran media seperti Mojok dalam ranah gerakan sosial-politik juga pandangan yang kebablasan. Usul macam ini hanya tepat jika kita membicarakan situs yang memang sejak awal didedikasikan untuk pembangunan gerakan progresif. Lucu jika membandingkan Mojok dengan Harian Rakjat atau media berita online lain. Karena sekali lagi perlu digarisbawahi, konten yang tampil setiap pagi di Mojok itu bukan produk jurnalisme. Semuanya adalah opini. Tidak beda dengan kolom opini di Rappler atau GeoTimes.

Kalau memang mau serius, mending membahas bagaimana posisi Tempo, Kompas atau Jawa Pos yang jelas-jelas mendaku diri sebagai media yang bersandar pada kaidah jurnalisme.

 

SIMPLIFIKASI

Ini problem berikut yang jadi salah satu kritik utama dalam tulisan saya di Mojok dua hari lalu. Bahwa banyak orang telah bertindak tidak adil dengan menyederhanakan iklan ArtJog di situs ini sebagai dukungan terhadap investasi bank Mandiri kepada PT. Semen Indonesia di pegunungan Kendeng atau diartikan sebagai sikap setujua terkait aktivitas pertambangan PT. Freeport Indonesia di tanah orang Amungme dan Komoro yang merupakan salah satu sponsor hajat seni tersebut. Ini silogisme yang saya haramkan di tulisan tersebut. Kritik yang gagal dipahami banyak kawan karena mereka mungkin belum akrab dengan model tulisan seperti yang umum hadir di Mojok.

Analogi sederhananya, Mojok tidak berbeda dengan nasabah bank Mandiri di seantero Indonesia, juga usaha-usaha kecil yang mendapatkan pemasukan karena membludaknya pengunjung. Ketiganya berada di mata rantai yang sama. Bukan pengambil keputusan dan bukan sebagai pihak yang dapat menentukan arah kebijakan sebuah bank.

Tulisan di Mojok untuk menanggapi para pendukung surat Yasir Dayak memang saya sempatkan untuk sedikit membuka boroknya industri perbankan di negeri ini. Sekedar catatan kecil bahwa apa yang dilakukan Mandiri melalui bantuannya kepada Semen Indonesia bukan hal baru atau peristiwa perdana di bisnis perbankan. Bank Mandiri bukan satu-satunya bank yang mendanai investasi berdarah. Bank lain seperti BRI, BNI dan BCA juga terlibat. Ada yang di tambang, di perkebunan skala raksasa seperti sawit dan bubur kertas, tambang hingga pembangunan infrastruktur. Jenis-jenis investasi ini tidak hanya bertanggungjawab atas perampasan tanah secara masif di berbagai tempat, tapi juga bertanggung jawab atas berbagai kasus kriminalisasi dan pelanggaran HAM yang menimpa petani dan masyarakat adat.

Saya sangat sadar dengan bahaya tersebut dan memiliki beberapa temuan yang mendukung sikap tersebut. Jika kemudian tidak ada seruan boikot, itu karena saya memilih menyodorkan fakta dan membiarkan pembaca untuk mengambil sikap. Memberi keleluasaan anda untuk menyerap informasi yang saya sodorkan, menganalisa sebelum kemudian memutuskan mengambil sikap. Singkatnya, saya ingin anda menggunakan otak.

Jika Mojok dianggap berdosa karena menerima uang dari bank Mandiri, maka mereka yang memberikan uangnya untuk digunakan sebagai dana investasi berarti juga sama bersalahnya. Sebab dana segar yang diagunkan oleh sebuah bank sebagiannya berasal dari tabungan para nasabahnya. Ini juga berarti mereka yang bekerja di bank Mandiri harus ikut bertanggungjawab. Mereka mendapatkan upah dari sebuah lembaga finansial yang memberikan uang kepada para perusak lingkungan. Lebih jauh dapat ditarik bahwa kelompok-kelompok usaha kecil menengah yang mengambil pinjaman di bank tersebut termasuk dalam keranjang dosa yang sama. Artinya, semua orang -anda dan saya- yang memiliki tabungan di bank Mandiri harus ikut bertanggungjawab.

Menyederhanakan masalah yang rumit dan berkelindan selalu tidak butuh otak dan energi. Ia hanya perlu fanatisme. Dan saya benci fanatisme.

Selain di Mojok, Mandiri ArtJog 9 juga mengiklankan diri di media-media lain. Pertanyaan saya, mengapa hanya Mojok yang disasar? Apa karena orang-orang ini sulit menerima kenyataan bahwa Mojok itu hanya penyedia konten usil yang tujuannya tidak seradikal yang dibayangkan selama ini? Atau karena enggan mengakui bahwa bayangan mereka mengenai situs ini telah luluh lantak oleh perjanjian iklan dengan sebuah lembaga perbankan pemberi pinjaman kepada perusahaan semen? Jika memang anda kecewa dan tidak bisa menerima hal tersebut, sebagai pembaca anda punya hak. Melakukan boikot dengan tidak lagi membaca Mojok karena meyakini media ini tidak lebih baik dari media-media berita pengejar rente di luar sana.

Saya misal, memilih tidak mengkonsumsi berita dari situs semacam Detik atau Republika. Bagi saya, keduanya tidak layak dijadikan rujukan informasi. Saya memilih mengabaikan media-media macam ini. Saya menggunakan hak sebagai konsumen dengan berhenti membaca. Konsekuensinya, saya harus mencari sumber informasi baru yang masuk kategori layak baca. Namun, itu adalah harga yang harus dibayar untuk menegaskan sikap bukan?

Beberapa orang menyarankan pengelolaan media yang berbasis anggota dengan model pengelolaan koperasi. Problemnya, Mojok bukan media sindikasi macam IndoPROGRESS, Islam Bergerak atau Literasi. Mojok adalah salah satu unit usaha di bawah Komunitas Bahagia EA. Dengan kata lain, Mojok adalah sebuah bisnis. Situs ini membayar para penulisnya, redaktur-redakturnya, biaya hosting, ongkos domain dan butuh perawatan. Ada keharusan untuk menganggarkan pembiayaan di titik ini yang tidak akan mungkin dipahami oleh mereka yang tidak pernah punya pengalaman menjalankan suatu usaha berbasis profit.

Menerima iklan bagi badan usaha seperti Mojok bukan dosa. Lagipula, Mojok bukan NGO.

* * *

Yang paling mengganggu bagi saya adalah distraksi yang menggeser titik kritik dari keterlibatan bank Mandiri dan Freeport Indonesia di perhelatan ArtJog 9. Pengalihan yang bukan hanya kontra-produktif, tapi juga menghabiskan energi. Perdebatan gagal menyentuh hal yang substansial karena ramainya gelombang komentar dan tanggapan justru hanya menari-nari di atas narasi-narasi kosong yang dibangun di atas ketidakmampuan melihat musuh dan akar masalah yang sebenarnya.

Saya sendiri sejak awal telah menegaskan bahwa keterlibatan Freeport Indonesia seharusnya dapat digunakan sebagai momentum untuk melayangkan kritik keras dan menyeluruh kepada manajemen ArtJog.

Kepada Heri Pemad yang menjadi cukong sponsor-sponsor acara ini. Kepada mereka yang tahu namun menutup mulut. Kepada kawan-kawan pekerja seni yang merasa tertipu namun diliputi dilema. Meski bagi saya secara pribadi, Heri Pemad Art Management (HPAM) adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas ikutsertanya Freeport sebagai sponsor. Inilah setan yang “menjebak” para perupa karena tidak diinformasikan mengenai terlibatnya perusahaan tambang berdarah ini. Fakta tambahan mengenai investasi yang digulirkan bank Mandiri kepada Semen Indonesia harusnya digunakan sebagai tambahan bukti bagaimana lacurnya pengelolaan pesta seni tahunan ini. Mendorong agar meluasnya solidaritas terhadap perjuangan penyelamatan pegunungan Kendeng dari semen dan mendorong agar Freeport angkat kaki dari Nemangkawi. Di saat yang bersamaan, membuka ke publik mengenai bobroknya dunia perbankan -baik di Indonesia maupun di luar negeri- dan memberikan informasi tandingan yang ringan tanpa harus berorasi. Cukup dengan bisa membaca tulisan tersebut.

Bagaimana caranya?

Jangan tanya saya. Selain bukan Tuhan, saya juga tidak berencana melibatkan anda dalam hal tersebut. Silahkan anda pikir dan rumuskan sendiri. Jika dirasa strategi anda sudah matang, silahkan tembakkan torpedo anda. Masing-masing memiliki jalan dan taktik. Bersepakat terhadap sesuatu tidak berarti ada keharusan untuk terus berada di dalam satu perahu. Saya misalnya, akan terus melanjutkan apa yang selama ini dilakukan -baik secara individual maupun bersama kolega yang lain.

Sampai jumpa di garis depan pertempuran. Itupun jika kita punya musuh yang sama serta anda memang ikut bertempur dan tidak sekedar mendengkur dari balik layar gawai.

Mojok adalah Antek Semen dan Freeport

Pembaca militan Mojok harus bersedia kecewa. Setelah sekian lama berupaya menutupi kedok, situsweb yang berhasil melambungkan Iqbal Aji Daryono hingga ke Ostrali ­sebelum berkhianat karena berhenti menyumbang tulisan secara reguler­ itu akhirnya membuka borok sendiri. Penyamaran Mojok akhirnya terbongkar sudah. Tak lain karena #MojokSore yang semula disebut sebagai konten advetorial ternyata menjadi corong propaganda pro Freeport dan pro Semen Indonesia.

Bajingan!

Setelah melewati fase kekecewaan massal netizen Indonesia terhadap situsweb lainnya yang hanya terobsesi mengejar jumlah klik, harapan sempat disampirkan kepada Mojok. Situsweb konyol ini menawarkan kesegaran melalui bentuk tulisan yang berbeda, dan cara menyajikan isu terhangat lewat racikan para penulis setengah dewa setengah siluman.

Sebut misalnya, Arman Dhani ­budayawan kesepian yang kini bertato, Cak Rusdi ­pria bijak dari Madura, Ardyan M. Erlangga ­jurnalis kaya raya yang baru saja membeli rumah, Arlian Buana ­mantan pimred yang kini digilas kejamnya ibukota, Nuran Wibisono dan Eddward S. Kennedy ­duo tangis yang mengisi Laut Kaspia dengan airmata, Kokok Dirgantoro ­calon presiden 2019, Agus Mulyadi ­jomblo idola yang berniat jadi pedagang susu, Windu Jusuf ­marxis pelopor sologami, dan masih banyak lagi.

Anda penasaran kenapa daftar di atas tidak ada perempuan? Oh, itu sengaja karena saya patriarkis. Tidak mencantumkan satupun nama perempuan di dalam tulisan ini, itu membuktikan bahwa saya adalah seorang misoginis pembenci sekaligus anti kesetaraan gender. Silogisme super mahakarya Aristoteles, penemu materialisme dialektika yang membuat orang jadi atheis.

Silogisme yang sama, Saudara sekalian, juga pantas diterapkan kepada Mojok terkait dengan penyelenggaraan ArtJog 2016.

Sebermula situsweb ini menerima iklan dari bank Mandiri yang merupakan sponsor utama ArtJog 2016. Di saat yang bersamaan, bank ini rupanya mengucurkan dana sebesar 3.96 trilyun rupiah kepada PT. Semen Indonesia. Sedangkan kita semua tahu, masyarakat di pegunungan Kendeng sedang terancam kelangsungan ruang hidupnya karena pertambangan karst PT. Semen Indonesia.

Maka kesimpulannya adalah: Siapapun, iya, siapapun mereka yang menerima iklan bank Mandiri berarti mendukung beroperasinya pabrik semen di pegunungan Kendeng!

Pertanyaan berikut yang hadir, darimana datangnya uang 3.96 trilyun tersebut?

Ada dua kemungkinan. Pertama, dari dana pinjaman asing. Misal, dari Bank Dunia atau dari Bank Pembangunan Asia (ADB). Skenario lain, dana tersebut berasal dari akumulasi dana segar yang dijaminkan oleh mereka yang menabung di bank Mandiri. Lagi-lagi, seturut dengan silogisme di atas, maka semua orang yang memiliki rekening di bank ini turut mendukung pabrik semen dan berkontribusi secara tidak langsung terhadap ancaman kehancuran alam di pegunungan Kendeng, Jawa Tengah.

Silakan masing­-masing dari Anda mengingat kembali di mana Anda menyimpan uang? Kalau bukan Mandiri, Anda berarti selamat sejauh ini. Minimal tak akan ada orang yang dengan heroiknya menulis surat terbuka dan puisi kepada Anda.

Eits, tapi penelitian dari Transformasi untuk Keadilan (TuK) Indonesia menunjukkan kalau BRI, BNI dan BCA ternyata terbukti memberikan kredit kepada banyak perusahaan sawit yang merampas tanah masyarakat adat di Sumatera, Kalimantan, dan juga Papua. Tiga bank tersebut juga terlibat mendanai investasi perkebunan bubur kertas (pulp and paper). Menurut WALHI, perkebunan sawit dan bubur kertas menjadi salah dua penyebab kebakaran hutan setiap tahun di Indonesia. Riset teranyar dari Rainforest Action Network juga menyajikan fakta bahwa perkebunan sawit terindikasi melakukan perbudakan modern yang ikut menimpa ana-k­anak.

Sampai di sini Anda tentu paham: Kalau semua bank di Indonesia itu bajingan, berarti satu­-satunya opsi paling mungkin adalah menutup rekening dan memindahkannya ke bank lain.

Nah, kalau jalan itu mau ditempuh, opsi yang tersedia tinggal Maybank, Standard Chartered atau Rabobank. Semuanya adalah bank luar negeri yang juga sering disasar oleh berbagai organisasi gerakan sosial internasional karena membiayai pertambangan di negara dunia ketiga, penggundulan hutan di Amazon dan perampasan tanah di Afrika. Tak apalah, ya. Toh yang jadi korban jauh di sana. Tak soal, kan?

Sekarang pindah ke soal berikut. Bagaimana mengenai keikutsertaan Freeport sebagai sponsor di Mandiri ArtJog?

Ini lebih biadab lagi. Bahkan untuk akses internet di lokasi aja, katanya harus menjawab pertanyaan mengenai Freeport. Jadi, menerima iklan dari penyelenggara Mandiri ArtJog itu sama dengan mendukung pelanggaran hak asasi manusia terhadap orang Komoro dan Amungme. Lha kok ada Komoro juga? Lah, memang kamu pikir korban Freeport itu cuma Amungme doang? Payah. Mungkin sesekali kamu harus gaul sama anak­-anak JATAM atau maen ke PUSAKA.

Kenapa Mojok harus ikut bertanggungjawab? Karena Mojok adalah pihak yang memastikan Freeport menjadi salah satu sponsor di Mandiri ArtJog pada detik­-detik terakhir penyelenggaraan. Mojok juga yang meletakkan logo Freeport pada desain undangan dan poster-­poster resmi ArtJog. Situsweb inilah yang jauh­-jauh hari melakukan lobi aktif mengenai kemungkinan Freeport mengalirkan sebagian kecil dana talangan sosial mereka (CSR) pada acara yang artsy macam ArtJog ini.

Mojok menjadi semacam pihak perantara yang mewakili panitia bernegosiasi dengan PT. Freeport mengenai berapa besaran sumbangan yang akan disalurkan ke dalam rekening ArtJog karena pemerintah enggan membiayai kegiatan macam ini. Dan jika Anda mengamati struktur kepanitiaan ArtJog kali ini, Anda akan tahu betapa Mojok juga jelas terlibat. Itu satu lagi bukti kalau Puthut EA dan kroninya memang pro Freeport. Lengkap sudah kejahatan mereka.

Eh, salah, ya? Mojok tidak melakukan itu semua? Masak, sih? Lha terus kenapa congor dan argumentasi irasional­mu malah diarahkan kepada situsweb ini? Kamu cacingan?

Surat Rahasia buat Sesama Haters Mojok

Di masa lalu, saya selalu senang membenci tanpa harus mencari tahu alasannya. Sebabnya sederhana, lebih hemat energi karena tidak perlu menggunakan otak untuk belajar mengenali dan memahami.

Hari ini, saya juga masih seperti itu. Terutama kepada Mojok. Media kafir yang tidak pernah peduli dengan isu-isu penting di negeri ini, karena hanya peduli dengan hal-hal remeh seperti martabak, Alfamaret-Indomaret atau kondisi percintaan syahdu nan pilu Arman Dhani dan Agus Mulyadi.

Alasan lain, karena tulisan-tulisan yang pernah saya kirim ke meja redaksi Mojok tidak pernah direspons. Tidak ditayangkan, dan tak ada pemberitahuan mengenai kejelasan nasib naskah yang susah payah saya buat. Tersangka semua kejahatan tersebut tidak lain duo serigala jadi-jadian: Arlian Buana dan Eddward S. Kennedy. Mereka adalah sebab dari menggunungnya kebencian dan sakit hati yang membuat otak saya gagal menggunakan nalar. Keinginan untuk populer, lewat situs besar megah yang tulisannya disebar jutaan orang ini, kandas.

Saya kecewa dengan Mojok.

Mereka tidak pernah membahas hal-hal penting semisal Freeport, soal Jokowi yang menjual negeri ini dengan murah, buruh yang dihisap dan diupah murah. Mojok juga tidak heboh ketika tanah kaum tani dan rakyat Papua dirampas. Tanya saja Mas… ah, sudahlah.

Sejak diluncurkan pertama kali, Mojok tumbuh menjadi sebuah media yang menjadi rujukan banyak orang untuk dijiplak, disebarluaskan, dan dikutip sebagai satu-satunya pusat kebenaran akal-akalan dan kesempurnaan dunia. Namun kami, Barisan Pembenci Mojok menyadari bahwa para penulis media ini tidak lain adalah sekumpulan para pembual yang membuat kami semua yang gagal paham, susah berpikir hingga malas mencerna berita, menjadi kesal, marah atau bahkan sampai ingin merakit bom dan meledakkannya di sungai lalu mengumpulkan ikan dan udang yang mengapung.

Para penulis dan susunan redaksi Mojok adalah orang-orang sok tahu, sok keren, dan sok alim yang membuat kesempatan kami untuk tampil gaya-gayaan di Mojok semakin menyempit, menipis hingga kemudian pupus. Karena orang-orang inilah, kekacauan pasca pilpres menjadi semakin tidak lucu dan ketinggalan zaman. Artikel-artikelnya membuat cekcok antar kami sesama pembenci menjadi kehilangan panggung karena sering dijadikan bahan olok-olok semata.

Sungguh. Mereka pengacau zaman. Iblis-iblis modern yang tujuan hidupnya adalah mengganggu keyakinan irasional kami, menggoyang kepercayaan buta yang telah turun-temurun dipelihara, dijaga dan dirawat. Terutama Mas Bana dan Mas Ken, yang lebih mirip nelayan yang mengail penuh ketenangan di tengah badai amuk massa. Mojok berlaku seolah-olah sebagai tempat para pencari pengetahuan, meski sesungguhnya mereka tidak lebih dari para pemulung sensasi.

Mojok juga enggak sensitif.

Terlalu ketat menerapkan standar kurasi untuk setiap artikelnya hingga kami yang merasa hebat dalam menulis, harus menanggung malu karena dianggap angin lalu. Padahal, banyak tulisan di Mojok adalah penghinaan yang vulgar dan tidak etis. Banyak yang sok tahu dan sok keren, dan selalu menghina kami yang bersetia dengan kebebalan. Sombong yang senang mengomentari semua hal. Sok tahu!

Mojok, tidak lain dan tidak bukan, hanya laku menertawai kami yang senang menghakimi. Kami yang sok revolusioner karena mampu mencomot kutipan berbobot atau berakting radikal ala kadarnya merasa dikencingi oleh seni berpura-pura seperti yang ditontonkan para penulis Mojok. Mereka gemar berpropaganda sekaligus menceramahi Tere Liye, Felix Siauw hingga Fahri Hamzah. Kami dipaksa oleh media kafir liberal ini untuk mengkonsumsi tulisan-tulisannya. Padahal seluruh kami telah berikrar untuk tidak bersepakat dengan logika.

Memang kenapa kalau kami kami bego?

Terutama Eddward S. Kennedy. Dia adalah provokator berhati gampang trenyuh yang tidak layak jadi contoh bagi generasi muda Indonesia yang bersiap bela negara. Pemuda gemar menangis tapi berlagak garang melalui tulisan. Mas Ken lupa bahwa di atas langit masih ada langit. Tidak baik menertawakan penderitaan kami yang gagal nalar

Apalagi artikel belio yang terakhir soal Martabak Kecebong. Sampah!

Kami, batalion pembenci Mojok, tentu saja mencurigai Mas Ken—seperti juga para penulis Mojok lain—memang sengaja dibayar oleh kekuatan asing untuk menggerogoti ketidakmampuan orang-orang untuk bersikap kritis. Ini tipe media partisan yang mengesalkan karena terlalu banyak piknik dan bahagia. Coba pikir, dari mana Mojok mendapatkan biaya untuk beroperasi? Tentu saja dari uang suap. Tapi kok ya sok mau ngurusin bangsa.

Sementara Arlian Buana adalah sosok yang sok alim, sok bijaksana, sok baik, sok sibuk, sok semuanya. Pokoknya pimred Mojok itu mengesalkan. Alasannya? Gak perlu ada. Benci kok pake alasan. Memang sejak kapan kami harus pake logika?

Lalu mau mencuci dosa dengan memberikan buku gratis buat Felix Siauw?

Menyalahkan Mojok sebagai institusi memang tidak perlu alasan. Tapi dua nama di atas adalah yang paling berdosa, yang paling bersalah, yang paling bertanggung jawab, dan yang paling … ah, sudahlah.

Tapi jangan harap menemukan nama Puthut EA di daftar ini. Kepala Suku Mojok tidak menyebalkan. Belio tidak pernah salah. Kecuali pilihan tim sepakbolanya dan pilihan dia untuk mendirikan Mojok.