Gol Yang Dicetak Boaz

GOL.

Eksekusi penalti sukses. Indonesia unggul 2-1. Lalu Boaz Salossa berlari ke arah tribun di mana presiden Jokowi duduk. Dengan gaya mirip Balotelli, ia membuka seragam dan memamerkan kaos bertuliskan ‘Free West Papua!’.

Saat itu, kamera-kamera utama berebutan mencari sorot paling strategis. Lalu di layar besar di dalam stadion, adegan kaos terangkat itu diputar berulang kali. Dengan gerak lambat. Orang-orang menatap tidak percaya. Penonton di stadion, di kafe-kafe dan di rumah terhenyak dan kehilangan kata-kata. Komentator spekulan yang dibayar mahal oleh tivi cuma bisa menelan ludah. Setiap orang Indonesia yang menonton kemudian mengalami terapi kejut level paripurna. Antara percaya dan bermimpi. Di batas yakin dan ketidakmungkinan yang terlalu dominan.

Kemudian di barisan penonton, tampak satu dua orang mengibarkan Bintang Kejora.

Di samping Jokowi, para pejabat negara saling berbisik dengan gusar. Radio telekomunikasi polisi sibuk dengan lalu lintas perintah. Di pintu keluar stadion, beberapa tentara langsung berjaga. Lengkap dengan senapan. Petugas water canon langsung siap di balik kemudi. Mesin dipanaskan. Barracuda merapat dan polisi anti huru-hara segera apel singkat. Perangkat perang dikenakan. Penutup kepala, pentungan, jaket tebal dan sepatu lars.

Tito Karnavian, mantan Kapolda Papua bertangan besi, segera memberi perintah. Semua yang cukup waras pasti tahu bahwa situasi sedang tegang.

Wasit meniup peluit. Vietnam kalah selisih satu gol. Masih ada harapan ke final meski nanti di Hanoi menang tipis. Nguyen Van Quet berhasil menabung satu gol tandang. Penonton bubar dengan perlahan. Tiap orang tampak hati-hati.

Usai pertandingan, para jurnalis mengerubungi Alfred Riedl. Semua penasaran. Pertanyaan datang bergelombang, seperti Laut Aru di bulan Desember.

Boaz, yang malam itu diberi kehormatan sebagai kapten tim nasional juga dikejar untuk wawancara singkat. Tapi, laki-laki asal Sorong ini bergegas ke ruang ganti. Seperti para leluhurnya, para pemburu ikan di danau Ayamaru, ia menutup mulut. Berselibat dengan kebisuan. Sementara di belakangnya, Andik Vermansyah bergegas dengan langkah. Susul menyusul Kurnia Meiga, Hansamu Yama, Bayu Pradana, Rizky Pora dan Stevano Lilipaly. Semuanya menunduk dan tidak ada yang merespon pertanyaan media. Para waraney sepakbola ini seolah bersepakat menjalani senyap, seperti para pemburu babi hutan di belantara Borneo, Andalas, Celebes dan Niugini.

Di tempat-tempat nobar, desas desus muntah seperti seorang pemuda putus cinta yang kelebihan menenggak Sopi. Semua merasa tahu jawaban paling tepat. Tiap-tiap mulut merasa mengerti alasan Boaz melakukan hal paling mengejutkan dalam sepakbola Indonesia.

Besoknya, mulai dari koran, situs berita online, televisi, radio hingga acara gosip akan belepotan berlomba memberitakan peristiwa ini dari beragam sudut. Mulai dari yang masuk akal hingga basa basi konspirasi yang cuma bisa dimengerti hama wereng dan celeng.

Namun, sayang semua itu cuma andai-andai saya seorang.

Sebabnya, saat menyaksikan Boaz berlari merayakan gol dengan senyum lebar khas Melanesia, ingatan saya melayang kembali pada peristiwa beberapa hari lalu. Tanggal 1 Desember, di berbagai kota, sejumlah orang melakukan demonstrasi. Sebagian dari mereka ditangkap. Pawai damai dianggap berbahaya bagi NKRI.

Di Jakarta, di hari tersebut para pemberani dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) membuktikan mereka tidak jera. Tahun lalu, 306 partisan mereka ditangkap ketika melakukan unjuk rasa. Tapi kini, mereka kembali dengan keberanian berlipat. Solidaritas setara mereka dapatkan dari saudara-saudara Melayu yang menamakan diri Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-West Papua). Beberapa tempat, serempak, bergerak. Seperti ikan herring yang bergerak dengan kecerdasan swarm. Berputar, berkelit dan berselancar di pusaran arus.

Di banyak tempat, terutama di kota-kota di Papua, aksi ini berakhir anti-klimaks. Seluruh peserta di Batavia memutuskan untuk diboyong ke kantor polisi ramai-ramai setelah 4 orang terlebih dahulu ditangkap. Sedangkan belasan lain ditangkap di Yogyakarta.

Seorang kawan mengunggah gambar di media sosial. Memamerkan momen bagaimana meriam air ditembakkan ke arah anak-anak muda Papua yang sedang melatih keberanian menjadi manusia merdeka. Alih-alih terprovokasi, anak-anak Papua ini justru menari seperti Cendrawasih sedang bahagia. Kaki-kaki mereka melompat berirama mengiringi keberanian luar biasa yang membuat polisi gemetar.

Sepasang kaki dari tiap mereka adalah kaki yang sama dengan yang digunakan Boaz untuk berlari menggiring bola dan mencetak gol kemenangan. Tulang-tulang kaki anak Papua.

Yang ditempa bukit-bukit menawan. Kecantikan perawan yang mengundang para penyamun datang, menggagahinya hingga hamil emas. Perutnya dibelah, dilubangi dengan kasar, setelah pohon-pohon Merbau terbaik disingkirkan. Yang digadaikan terlebih dahulu kepada Freeport bahkan ketika Papua belum sah sebagai pengantin Indonesia.

Otot betis anak-anak Papua adalah prasasti bergenerasi bagaimana sagu menjaga hidup selalu rendah hati. Hutan sagu tanda mata dari leluhur kini terancam punah karena perkebunan sawit merajalela, permintaan bubur kertas dan kayu olahan menyetir penguasa, sementara mereka diajari makan beras. Pohon-pohon sagu yang menjadi jembatan dengan para leluhur dan masa lalu dirobohkan untuk jalur kereta dan jalan raya.

Songsong masa depan dan jangan menoleh ke belakang. Begitu cara Jakarta mendikte Papua.

Cara Boaz mengatur irama nafas adalah refleksi bagaimana orang Ayamaru, seperti suku-suku lain di Nuigini, menjaga rima agar tak salah langkah. Bagaimana dahulu leluhur mereka berlari dengan kaki telanjang di hutan belantara. Mengejar rusa, kangguru dan babi hutan sembari menggotong kebijaksanaan soal cara menjaga titipan hutan. Titipan Tuhan.

Dua bola mata yang menatap tajam ke arah gawang sebelum menendang, dengan mudah dapat mengingatkan kita dengan burung-burung liar Papua di rimbun pohon. Yang kini satu-satu tumbang dan jadi bahan seludupan. Sebagian lain diburu sebagai hiasan. Menempel di tembok-tembok.

Gol yang dicetak Boaz adalah gol di bulan Desember. Di antara perayaan 55 tahun kemerdekaan yang terlarang dan anak-anak Paniai yang tumbang di ujung senapan. Gol yang dicetak Boaz membantu satu kaki timnas berada di final. Sementara handai taulannya di Papua ditangkap, dipukuli, dipenjara bahkan dibunuh hanya karena ingin merdeka. Gol yang dicetak Boaz adalah gol penentu kemenangan. Memberikan Indonesia kebanggaan setelah hampir setengah abad mengencingi Papua. Gol yang dicetak Boaz adalah keriangan dari Sabang sampai Ternate. Karena dari Misool sampai Merauke, orang Papua sedang berjuang agar tidak punah sebelum merdeka.

Sembilan puluh menit usai.

Wajah murung Nguyen Manh Tran yang menyesal gagal memblok pinalti, stadium yang bergemuruh bahagia, penonton di rumah yang sumringah, Jokowi yang merasa kedatangannya tak sia-sia, dan para komentator yang paling paham segalanya. Kegembiraan itu menenggelamkan kita semua.

Seperti Paniai, kita semua seperti lupa bahwa pahlawan malam ini adalah seorang Papua. Yang dihina sebagai monyet, dipandang terbelakang, dianggap kumuh, dinilai tidak berpendidikan, diyakini tidak bisa menentukan nasib sendiri sehingga gampang disetir oleh asing. Mereka yang belum terlalu dewasa sehingga belum saatnya mengeja-eja merdeka di hadapan bangsa besar namun pengecut di hadapan masa lalunya.

Lalu, usai membaca tulisan ini sebagian besar orang akan jijik karena politik seharusnya tidak dikaitkan dengan sepakbola.

* * *

Tulisan ini pertama kali tayang di IndoProgress

Di Belakang Hotel

Apa yang lebih indah selain tumisan babi panggang, salad pedas dan kenangan?

Mungkin saja ada. Atau pasti ada. Tapi bagi saya, harum tumisan dari wajan penggorengan itu seperti sensasi magic mushroom yang datang sesuai prediksi. Bunyi pemukul kayu yang bertalu dari belakang meja pembuat salad khas Siamadalah rindu yang ditunggu. Seperti sejarah yang menggariskan bahwa rempah yang berlimpah akan mengundang para penjajah. Bahwa negeri-negeri tropis ditakdirkan untuk takluk, menjadi budak lalu tampil sebagai pemenang yang tidak lebih baik dari penjajahnya.

Namun, di balik banyak cacat dan gagap, kita diberkahi lidah yang begitu lincah menari di atas berbagai sajian rasa. Tenggorokan yang sering berontak karena enggan menelan makanan yang dibuat hanya sekedarnya. Orang-orang tropis mungkin adalah yang paling congkak soal kuliner.

Itu mengapa saya tidak bisa mentolerir Shangri-La Bangkok. Dua kali makan siang dan semua menu yang disajikan adalah eksebisi wajah-wajah tirus pemurung yang nenek moyangnya menggelandang di lautan sepi sebelum akhirnya terdampar di pantai-pantai hangat tropis. Semua jejeran kuliner Shangri-La adalah imperialisme lidah negeri yang terobsesi dengan rempah namun kekurangan matahari. Perut saya sudah sampai di hujung batas. Saya butuh rasa pedas yang membuat mata menyalak, gurih bawang dan jahe yang pas di lidah. Semata agar saya bisa melalui seharian ini dengan lebih beradab dan emosi yang terkontrol karena obrolan soal kelapa sawit ramah lingkungan sungguh benar membosankan.

Saya adalah jenis orang tropis dengan lidah fasis yang sombong soal makanan.

Itu sebabnya saya memutuskan keluar dan menjelajah gerai-gerai makanan kaki lima yang terletak tepat di belakang hotel. Ada puluhan kios kecil yang menyediakan berbagai menu khas Thailand. Semuanya siap dimasak dan anda hanya perlu menunggu kurang dari lima menit sebelum menyantap hidangan. Harga yang ditawarkan tentu saja jauh lebih murah dari restoran di dekat lobby utama Shangri-La. Selain itu, rasanya akan sanggup membuatmu bertemu manajer hotel tersebut dan menasehatinya soal bagaimana lidah tropis seharusnya diperlakukan.

Lagipula, Thailand pernah jadi bagian hidup saya. Saya tidak akan membiarkan Shangri-La mengacaukan ingatan tentang bentuk negeri yang penanda utamanya adalah kuil-kuil Buddha, kios-kios Seven Eleven hingga kudeta yang terus berulang. Kuliner negeri ini pernah membuat saya nyaman selama hampir dua tahun meski tetap alergi dengan militer. Makan siang di kedai-kedai pinggir jalan Bangkok dahulu macam orgasme di puncak masturbasi diam-diam setelah kau bosan membaca artikel-artikel jurnal. Satu jam di kantin terasa seperti bercinta dengan kekasih di lorong perpustakaan, atau saling meraba ketika kelas berlangsung. Makan siang dan makan malam di Thailand selalu saya jalani secara berdebar dan penuh semangat.

Kepada publik, kuil-kios-kudeta adalah hal yang paling sering saya bicarakan dan juga tulis. Tapi ada sisi lain Siam yang membuat saya bersabar menghadapi pertemuan membosankan dengan para pemangsa tanah. Negeri ini pernah bersikap begitu baik kepada lidah saya dahulu. Tidak mungkin dia membiarkan saya kecewa karena Shangri-La yang tidak becus. Karena saya percaya, makanan di daerah tropis adalah padu padan yang diciptakan oleh nirwana. Dan saya serius.

Babi itu hewan surga. Dibikin apa saja enak. Dagingnya adalah ekstase. Lemaknya adalah cara berjumpa dengan pencipta. Apalagi jika Rahung Nasution yang memasaknya untukmu. Setiap gigitannya akan membuatmu terasa sedang menjalani bulan madu. Hanya saja abadi. Membekas dan merampas kesadaran. Lalu kau terbayang dan mencari jalan untuk kembali. Dan Thailand, menemukan salah satu cara terbaik menyajikan daging babi di rimba tropis. Cepat dan tangkas. Jenis fast food yang bisa kau gunakan untuk melecehkan KFC dan sejenisnya secara brutal dan terus menerus.

Namanya Kana Moo Krob.

Daging babi asap yang diiris persegi dan ditumis bersama bawang putih, jahe, rajangan cabai dan minyak ikan. Hamburkan garam secukupnya lalu tambahkan potongan daun bayam. Aduk hingga layu. Lalu tuangkan semuanya ke atas sepiring nasi yang masih hangat mengepul. Harumnya niscaya akan membawamu kembali ke masa di mana membakar kemenyan tidak akan dianggap primitif dan terbelakang. Minyak yang melekat di tiap lembar potongan daun bayam akan terasa persis seperti kenangan. Dan daging babi asap yang berlumur rempah adalah jembatan pelangi. Di ujugnya kau dapat menjumpai leluhurmu, para pemburu pemberani dari masa lalu.

Keunggulan Kana Moo Krob bukan pada penumisan sebelum disajikan. Tapi dari sejak babi asap dipersiapkan. Ini adalah jenis kuliner yang mensyaratkan babi remaja untuk persembahan. Dari semua total sembelihan, yang akan diasap hanyalah daging paha. Mungkin ini perlambang kelincahan dan nasib baik. Prosesnya menggunakan arang kayu dan menghabiskan waktu tiga sampai empat jam berkubang asap. Sembari diolesi minyak kelapa bekas penggorengan yang sudah bercampur rempah-rempah seperti perasan jeruk, bawang merah dan bawang putih yang dirajang kasar, bercampur lada dan cabai.

Campuran inilah yang dahulu menjadi sebagian alasan mengapa Colombus tersesat dan terkena delusi karena mengira telah sampai di India. Periode pengasapan ini jika dilakukan dengan benar, maka harum daging yang terbakar perlahan akan terbang naik ke atas, melewati lorong waktu dan pergi meringkas aral di masa depan.

Setelah proses pengasapan selesai, keringkan di bawah sinar matahari. Setiap beberapa jam, selingi dengan olesan minyak kelapa yang digunakan saat pengasapan. Agar bumbu meresap ke dalam daging bersama dengan doa yang menguap ke langit. Proses ini biasanya dilakukan selama dua hari. Daging babi asap yang sudah kering ini dapat awet hingga seminggu.

Sementara, bahan utama Som Tam adalah adalah buah pepaya mentah yang diiris halus. Ditumbuk bersama dalam lesung tanah liat dengan perasan jeruk, bawang putih, minyak ikan, potongan udang asin, irisan wortel, kacang dan cabai. Bunyi lesung yang digagahi pemukul kayu akan terdengar seperti nada yang digunakan Shaman memanggil roh leluhur. Ini adalah jenis salad para pemberani di masa lalu sebelum takluk oleh mesiu. Rasanya adalah campuran asin dan pedas. Saling berpagutan di lidah hingga memaksamu bersyukur karena terlahir di negeri yang selalu hangat oleh matahari.

Bagi saya, Som Tam sejati adalah yang rasa pedasnya mampu membuat bulir-bulir keringat menetes deras dari balik kening dan kita seakan dilempar ke masa di mana hutan-hutan tropis belum terjamah kelapa sawit. Di sana, di kaki pohon-pohon raksasa, kita seperti berlari mengejar babi hutan yang sedang bersolek. Lalu setelah babi itu tumbang oleh tombak dan panah, kedua paha bagian belakangnya akan kita persembahkan untuk menjadi bahan dasar Kanna Mu Krob.

Sepulang berburu, kau dan aku akan singgah memetik pepaya agar dewa cemburu dengan kesempurnaan kuliner kita. Hingga akhirnya harum pengasapan paha babi yang tembus ke bilik surga membuat para dewa marah dan kalap, lalu berkhianat dengan mengutus para begundal dari tanah muram di utara untuk datang menebas hutan, menggantinya dengan sawit, memusnahkan babi-babi dan melabeli kita: primitif!

* * *

Tulisan ini tayang perdana di Minum Kopi

Bara Api di Arakan: Sebuah Pengantar

Sabtu, 26 November, tiga orang Muslim ditangkap. Ketiganya dituduh sedang merencanakan pemboman di sekitar kota Yangon. Kepada Agence France-Presse, polisi mengatakan bahwa diduga para tersangka adalah anggota kelompok teroris yang berbasis di Rakhine. Operasi tangkap tangan setelah tiga kasus ledakan terjadi selama seminggu terakhir.

Bagi mereka yang mengikuti perkembangan sengkarut politik Myanmar, keterangan polisi secara implisit mengarah pada Tentara Nasional Rohingya (RNA). Organisasi gerilya yang merupakan sayap bersenjata Organisasi Nasional Arakan Rohingya (ARNO). Basis operasi mereka terpusat di Rathedang, Maungdaw dan Butheetaung.

Kondisi memang lagi memanas di Rakhine.

Pada 9 Oktober, tiga pos tentara yang berada di perbatasan diserang. Sembilan petugas tewas. Lusinan senjata dan amunisi berhasil dirampas. Dua hari kemudian, empat prajurit Tatmadaw (AD Myanmar) terbunuh dalam kontak senjata. Pemerintah negara bagian Rakhine menuduh ARNO-RNA di balik serangan ini.

Tuduhan ini meleset.

17 Oktober, kelompok bernama Aqa Mul Mujahidin (Harakat al-Yaqin) merilis tujuh video dan mengaku bertanggung jawab atas rangkai serangan tersebut. Abu Ammar Junooni pimpinannya. Diduga kuat mereka adalah pelaku dari penculikan dan pemenggalan tiga insinyur pemerintah di perbatasan pada Juni tahun lalu. Empat video di antaranya menyerukan jihad, menuntut pemulihan penuh status kewarganegaraan orang-orang Rohingya, pengembalian wilayah kelola etnis serta menuntut penarikan mundur tentara.

Tatmadaw merespon dengan menggalang milisi. Kelompok sipil yang dipersenjatai ini nantinya akan menjadi petugas di kantor-kantor polisi baru yang akan dibuka di tiap-tiap kampung non-Rohingya. Tujuannya agar setiap kampung dapat mempertahankan diri dari serbuan kelompok-kelompok Mujahid. Relawan yang mengajukan diri menjalani pelatihan singkat di Sittwe -ibukota negara bagian Rakhine.

Konflik bersenjata akhirnya tidak bisa diredam.

15 November 2016, korban bertambah. Pada kontak senjata hari itu, 10 polisi, 7 tentara dan 69 lainnya dari etnis Rohingya tewas. Juru bicara pemerintah mengatakan bahwa orang-orang Rohingya yang tewas adalah milisi, namun klaim ini diragukan kelompok-kelompok pro-demokrasi dan HAM.

Pasca peristiwa ini, penangkapan massal terjadi. Pemukiman-pemukiman Rohingya disasar pihak keamanan. Sekitar 250 orang ditangkap secara ilegal. Rumah-rumah dibakar. Perempuan diperkosa. Anak-anak ditempeleng dan dipukuli. Ribuan orang terpaksa harus mengungsi. Sebagian yang mencoba menyeberang ke Bangladesh ditolak. Sebagian lain ditipu. Uang habis menyogok, namun terperangkap di kantong-kantong pengungsian sementara di perbatasan.

Konflik antar etnis di Myanmar memang sudah terentang jauh sebelum ini. Tidak hanya Rohingya, namun kelompok lain seperti Shan dan Kachin juga mengalami nasib yang kurang lebih hampir sama naasnya.

Ketika Burma diganti Myanmar oleh junta militer, umat non-Buddhis menjadi sasaran diskriminasi. Terutama setelah militer menetapkan bahwa agama resmi yang diakui negara adalah Buddhisme. Keputusan ini dipertanyakan oleh etnis Karen, Chin dan Kachin yang mayoritas beragama Kristen, serta Rohingya yang beragama Islam.

Di Arakan -nama perdana negara bagian Rakhine, perwira-perwira etnis Rohingya dicopot sepihak. Mereka, misalnya, dituduh sebagai loyalis kolonialis British. Pada masa tersebut, penangkapan sewenang-wenang terjadi terhadap etnis Rohingya. Pelakunya adalah polisi dan tentara. Mereka dianggap pemalas, biang kerok kemiskinan dan perusuh. Di pasar-pasar, orang-orang Rohingya dituduh sebagai manipulator yang licik dalam berdagang.

Hal ini tidak lepas dari peristiwa masa lalu yang terus menerus dipelihara oleh militer. Sikap beberapa elit Rohingya yang pernah ingin bergabung dengan Bengali Timur dianggap sebagai dosa sejarah yang tidak bisa dihapus. Saat itu, Dominion Pakistan yang mayoritas penduduknya beragama Islam -terutama Bengali Timur yang kemudian merdeka dan menjadi Bangladesh- baru saja berdiri. Melihat peluang ini, para elit Muslim Arakan di wilayah Rathedang, Maungdaw dan Butheetaung mengajukan ide agar mereka diikutkan sebagai provinsi keenam Dominion Pakistan.

Di bawah komando Abdul Kaseem, mereka berupaya agar daerah barat laut Arakan diikutkan sebagai bagian dari Pakistan yang baru berdiri tersebut. Permintaan yang kemudian ditolak oleh Muhammad Ali Jinnah, salah seorang pendiri Pakistan.

Jinnah tidak ingin memicu konflik dengan Burma yang saat itu dipimpin Sao Shwe Taik dan U Nu. Kondisinya secara politik dan militer, posisi Burma jauh lebih kuat dan tidak ada diskriminasi yang secara khusus dapat menjadi alasan untuk melakukan intervensi militer. Di level internasional, Pakistan yang baru saja resmi menjadi anggota PBB sadar bahwa mereka bukan tandingan Burma. Hitungan Jinnah tidak meleset. Tahun 1961, kelihaian diplomasi Burma sukses besar. Perwakilan Tetap Burma untuk PBB, U Thant diangkat menjadi Sekretaris Jendral PBB. Posisi ini dijabatnya selama 10 tahun.

Namun penolakan Jinnah tidak melunturkan semangat Kaseem dan para loyalisnya untuk menuntut pemisahan dengan Burma. Salah satu isu yang didorong Kaseem adalah soal posisi Muslim sebagai minoritas. Ini adalah periode di mana Rohingya sebagai terma politik muncul.

Jaminan dari Partai Komunis Burma yang menang pemilu di Arakan bahwa minoritas Muslim akan dilindungi hak-hak demokratiknya, tidak sanggup meluluhkan Kaseem. Untuk mencapai tujuannya, Kaseem lalu membentuk kelompok mujahid untuk melancarkan gerilya. Targetnya jelas: pemisahan permanen dari Burma.

November 1948, darurat militer diberlakukan di negara bagian Rakhine karena intensitas serangan terhadap pos militer dan aparat keamanan oleh kelompok mujahid. Selama periode ini, masyarakat sipil menjadi korban. Orang-orang meninggalkan desa karena ketakutan. Kontak senjata dapat meletus kapan saja. Anak-anak, perempuan dan lansia menjadi kelompok paling menderita.

Juni 1949, kelompok mujahid sudah berhasil menguasai sebagian besar wilayah Arakan.

Maret 1950, operasi militer paling berdarah di sejarah kawasan itu dimulai. Kampanye militer ini berlangsung hingga tahun 1960. Korban di pihak sipil semakin bertambah banyak. Burma mendapat sorotan internasional. Perwakilan dari Tatmadaw menuduh bahwa berlarut-larutnya perang disebabkan karena para mujahid mendapatkan dukungan dari para imigran ilegal yang menyeberang masuk dari Bengali Timur. Klaim ini menjadi salah satu pijakan di kemudian hari soal sengketa tentang asal muasal orang-orang Rohingya di Arakan.

Penyebutan Rohingya memang dilematis.

Terma ini terlanjur dianggap sinonim dengan Islam. Meski awalnya, penyebutan ini adalah cara Francis Buchanan-Hamilton untuk merujuk sebuah wilayah di sekitaran Bengali Timur (Bangladesh hari ini). Rujukan ini penting bagi Buchanan-Hamilton yang sejak 1794 melakukan penelitian di daerah-daerah koloni Inggris. Selama dua puluh tahun, ia bekerja di Layanan Kesehatan Bengal milik Inggris sembari memperdalam pengetahuan mengenai tumbuh-tumbuhan dan binatang. Di kemudian hari, pria asal Skotlandia ini dikenang sebagai salah satu peletak dasar studi mengenai dunia botani dan zoologi di Asia Selatan. Dua karya utamanya –A Journey from Madras through the Countries of Mysore, Canara and Malabar (1807) dan An Account of the Kingdom of Nepal (1819)- tetap menjadi rujukan hingga hari ini.

Buchanan menggunakan kata Bengali “Rohang” untuk merujuk pada sebagian wilayah di bagian utara Rakhine yang di masa itu termasuk dalam domain kerajaan Arakan. Rohingya secara literer dapat diartikan sebagai “orang-orang Rohang”. Rujukan geografis ini yang kemudian digunakan Kaseem untuk mengindentifikasi daerah-daerah di barat laut Arakan sebagai wilayah Rohingya.

Setelah pemberontakan bersenjata yang dipimpin Kaseem menemui kebuntuan di awal dekade 1960an, Zaffar Kawwal kemudian membentuk Partai Pembebasan Rohingya (RLP). Ini adalah organisasi bersenjata pertama yang secara terbuka menggunakan terma Rohingya sebagai identitas politik, penanda geografis dan proyeksi kultur.

Muhammad Jafar Habib, seorang intelektual yang menyandang gelar Doktor dari Universitas Rangon, ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal. Habib adalah seorang yang berpengaruh dan dinilai sebagai faktor utama mengapa RLP populer di kalangan anak muda. Ia seorang pembicara yang gesit, orator tangguh dan seorang yang dikenal berkepribadian hangat. Banyak pihak mengatakan bahwa berkat Habib, kekuatan RLP meningkat signifikan. Dari 200 orang mujahid di awal pembentukannya, hingga akhirnya memiliki kekuatan antara 500-600 orang dalam tempo kurang dari dua tahun. Basis gerilya utama berada di sekitar hutan Buthidaung, tidak jauh dari perbatasan dengan Bangladesh.

RLP kemudian berhasil dihancurkan oleh Tatmadaw di tahun 1974. Kawwal dan beberapa loyalisnya menyeberang ke Bangladesh. Tapi tidak Habib.

Ia lalu mengonsolidasikan kembali gerilyawan yang tersisa, tercerai berai dan tengah menderita demoralisasi. Ia mengajak Nurul Islam, seorang pengacara yang baru saja membuka firma hukum di Yangoon. Islam diminta Habib untuk menjadi wakilnya. Mereka berdua lalu mendirikan Front Patriotik Rohingya (RPF) di tahun 1974 dan menunjuk Muhammad Yunus sebagai Sekretaris Jenderal. Yunus adalah seorang intelektual yang berprofesi sebagai dokter di salah satu rumah sakit di Yangon.

Habib menunjukkan pada sejarah bahwa ia benar-benar tahu apa yang sedang ia perjuangkan. Jika para pendahulunya menggunakan retorika agama -baik secara terbuka ataupun secara malu-malu- sebagai alat propaganda, penyandang gelar master Ilmu Sosial ini justru memperkenalkan pendekatan Marxisme Islam ke dalam kancah gerakan pembebasan Rohingya.

Faktor ini di kemudian hari melatari perpecahan di internal RPF pada awal dekade 1980an.

Yunus yang lebih konservatif kemudian kecewa dan memisahkan diri. Ia lalu membentuk Organisasi Solidaritas Rohingya (RSO). RSO kemudian menjadi kelompok paling militan dan konservatif. RSO mendapatkan dukungan dari Jamaah Islamiyah di Pakistan dan Bangladesh serta kelompok fundamentalis lain seperti Partai Islam (Hizb e Islami) asal Afganistan. Kuat dugaan, hubungan RSO dan Partai Islam didasarkan pada kesamaan cara pandang anti-komunisme.

RPF sendiri masih bertahan meski kemudian kekuatannya terus tergerus. Tahun 1986, Nurul Islam mengumpulkan sisa-sisa RPF yang tercerai berai oleh operasi militer masif di tahun 1978-1980, beberapa pembelot dari RSO untuk mendirikan Front Islam Arakan Rohingya (ARIF).

Dua organisasi tersebut lalu menjadi pemain utama dalam perjuangan bersenjata yang menuntut otonomi penuh sebagai wilayah tersendiri dalam federasi Myanmar. Hingga akhirnya pada 28 Oktober 1998, ARIF dan RSO memutuskan untuk bergabung dengan Organisasi Nasional Arakan Rohingya (ARNO). ARIF dan RSO menjadi sayap militer dengan nama Tentara Nasional Rohingya (RNA) dan ARNO sebagai sayap sipil-politik dengan kantor pusat di London, Inggris.

RNA hingga kini menjadi salah satu aktor dalam berbagai serangan terhadap pos-pos Tatmadaw di negara bagian Rakhine.

Para gerilyawan RNA sebagian besar berasal dari korban sapu bersih militer di tahun 1978 yang menyasar RPF. Operasi yang diberi nama Raja Naga ini secara membabi buta menyasar warga sipil. Banyak anak menjadi yatim piatu dan kemudian tumbuh dengan dendam terhadap Tatmadaw. Mereka inilah yang kemudian direkrut oleh RSO -dan RNA di kemudian hari- untuk menjadi bagian dari kampanye bersenjata mereka. Hingga hari ini, daerah di bagian utara Rakhine masih merupakan daerah operasi militer.

Ketika Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) memenangkan pemilu baru-baru ini, banyak orang bersorak sorai. Ramai-ramai ini tanpa tahu bahwa pada hari pemilihan di negara bagian Shan di utara, militer Myanmar terus melakukan pemboman. Di bagian barat negara bagian Rakhine, Muslim Rohingya menghabiskan hari pemilihan di kamp-kamp pengungsi.

Kita belum menyoal bagaimana pencabutan hak formal seseorang di bulan-bulan menjelang pemungutan suara. Untuk pertama kalinya sejak merdeka pada tahun 1948, parlemen baru Myanmar tidak memiliki perwakilan Muslim seorangpun.

Itu mengapa wajar jika terjadi eksodus orang-orang Rohingya dalam jumlah besar ke luar negeri. Melihat sejarah panjang pertentangan etnis, konflik rasial dan praktek diskriminasi, sudah sepantasnya jika orang-orang Rohingya merasa tidak ada masa depan hidup di Myanmar.

Meskipun pada pemilu kemarin NLD kembali menang secara mayoritas, hal tersebut dipandang tidak akan mengubah apapun. Yang membedakan pemilu 2016 dengan pemilu 1990 adalah absennya intervensi militer untuk mengganggu hasil pemilihan yang membuat mereka kalah.

Kita seharusnya bertanya, mengapa Tatmadaw membiarkan terjadinya transisi demokrasi dan mengakui hasil pemilu 2016? Bagaimana peta dan pembagian kue dalam ekstraksi sumber daya alam di daerah-daerah bagian utara dan barat laut? Apa yang telah berubah, dan apa yang tetap sama di Burma hari ini?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan riset mendalam dan waktu panjang untuk bisa dijawab.

* * *

Tulisan ini pertama kali tayang di IndoProgress

Adios Maestro! Selamat Hari Guru!

Selamat Hari Guru. Selamat kepada kalian para buruh pabrik kapitalisme kognitif.

Ah, maaf. Bahasa saya terlampau rumit? Anda kurang paham? Bukankah saya menulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar? Bagaimana jika saya mulai dengan hipotesis sederhana.

Guru adalah agen sosial yang merefleksikan pandangan ekonomi politik sebuah rezim.

Bagaimana menjelaskan soal pandangan di atas? Saya mengajak anda semua untuk menengok sebuah perbandingan sederhana.

Tersebutlah sebuah program maha mulia bernama Indonesia Mengajar. Dimulai tahun 2009, dengan harapan menjadi sebuah gerakan ikhtiar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Program ini mengirimkan para sarjana yang baru lulus kuliah untuk mengajar selama setahun penuh di kampung-kampung terdalam, terluar, terisolasi dan ter-ter yang lain. Sebutannya Pengajar Muda. Diharapkan selama berada di lokasi penempatan, anak-anak muda terpilih ini akan belajar bagaimana hidup tanpa listrik, tanpa sinyal telpon, tanpa sumber air bersih dan fasilitas sanitasi yang memadai, dan lain sejenisnya. Hidup seperti proletar yang adalah mayoritas wajah penduduk negeri ini.

Selama bertugas, para Pengajar Muda diharapkan melakukan refleksi dan evaluasi secara berkala terkait dengan tugas mereka di daerah penempatan. Tiap Pengajar Muda diharapkan dapat belajar soal daerah tempat penugasan mereka. Agar mereka harus mampu menjadi jembatan penghubung antara para pemangku kepentingan dengan masyarakat. Kreativitas juga penting. Agar makin banyak kegiatan ekstra pasca hari yang membosankan di ruang kelas. Tumpukan mata pelajaran yang belum tentu berguna secara praktis mesti diselingi dengan hiburan. Anak-anak muda terpilih ini juga diharuskan bisa bersosialisasi. Merakyat terma paling pas untuk ini.

Apa tujuan semua itu? Agar setiap Pengajar Muda siap menjadi pemimpin di masa depan. Lalu bagaimana nasib pendidikan anak-anak? Ah, itu bukan soal. Sebab, sejak awal Indonesia Mengajar adalah sejenis ajang bunuh diri kelas. Inisiasi sebelum seorang anak muda kemudian menggabungkan dirinya dalam barisan kelompok precariat atau buruh kerah putih yang berisik dan sok tau.

Bukankah Indonesia Mengajar sama dengan apa yang dikerjakan oleh Muhammadiyah atau PKI dalam bidang pendidikan? Iyah. Secara formasi mirip. Secara esensi, astaganaga bedanya. Bungkus bisa sama, Nona. Tapi isi tuanggala. Kan orang tua dulu bilang. Jang Nona nilai perahu dari cat. Tapi berapa banyak muatan ikan.

Mari ambil contoh PKI, karena jarang ada yang membicarakan prestasi mereka di soal pendidikan.

Tahun 1957, republik ini masih porak poranda. PKI meluncurkan kampanye Pemberantasan Buta Huruf untuk kader-kadernya dan publik luas. Program ini menyerukan pembentukan kelompok dengan pimpinan yang bertindak sebagai guru dan menyediakan pendidikan politik bersamaan dengan pendidikan baca tulis. Melampaui tingkat yang belum sempurna ini sebagaimana ditunjukkan jurnal-jurnal nasionalis mula-mula, adalah mempublikasikan daftar kata baru. Tujuannya agar melalui kata baru tersebut para pembelajar dapat memiliki imajinasi politik bagaimana dunia modern beroperasi. Setelahnya mereka kemudian mampu menghubungkan berbagai hal yang tampak terpisah dan memahaminya sebagai sebuah kenyataan utuh. Mulai belajar berpikir holistik.

Tapi PKI sadar betul ideologi semata tidak akan mengajarkan rakyat bagaimana caranya agar terorganisir. Ideologi tidak cukup untuk dapat meyakinkan seseorang untuk mempelajari sesuatu secara langsung tentang bagaimana memandang masalah yang terjadi dan merumuskan solusi. Itu sebabnya pendidikan tidak boleh hanya bertumpu pada teori, namun harus memberikan kegunaan praktis bagi mereka yang belajar.

Ini alasan mengapa PKI memberikan perhatian besar kepada pengetahuan-pengetahuan seperti manajemen anggaran, cara menjalankan rapat, bagaimana menerbitkan publikasi, bertani kolektif atau menjahit pakaian dan memasak. Pengetahuan jenis ini tidak hanya berguna secara langsung untuk membuat organisasi lebih efektif; namun juga membuat para anggota memahami bahwa mereka mendapatkan manfaat langsung melalui pendidikan. Suatu pengetahuan yang membawa perubahan bagi seseorang secara kualitas dan dapat berguna secara sosial.

Model seperti ini musnah sejak militer berkuasa di tahun 1965.

Kita justru dijerumuskan pada model-model penguasaan yang bersifat eksklusif. Para pembelajar dibelah menjadi atom-atom. Diajarkan menjadi individualis yang harus menjadi serigala bagi sesamanya terlebih dahulu sebelum menguasai sebuah pengetahuan. Teori dan praktek diceraikan. Ilmu pengetahuan lalu didivisikan dan dimitoskan sebagai sesuatu yang tidak terhubung antara satu dengan yang lain.

SMA berbeda dengan SMK. Ilmu pasti lebih tinggi derajatnya dari ilmu sosial. Menjadi dokter tidak perlu belajar filsafat sosial. Belajar sejarah tidak usah peduli dengan biologi. Perempuan tidak cocok masuk STM. Laki-laki yang belajar menyulam dan menjahit itu tidak macho dan menyalahi kodrat. Cewek boleh manja, cowok tidak boleh menangis.

Dan semuanya diajarkan dalam ruang persegi yang dindingnya dicat persis rumah sakit jiwa.

Anak nelayan jangan sekedar bermimpi mau jadi nelayan. Anak petani harus jadi insinyur, pilot atau presiden. Kalau ayah tukang ojek, anak harus jadi pengusaha rental motor. Jangan ikuti jejak orang tua yang berburu hari ini, makan hari ini, besok nanti cari lagi. Mulailah menabung. Makan empat sehat lima sempurna. Jaga asupan kalori. Jangan lupa minum susu biar perkembangan otak tidak terganggu.

Karena setiap anak punya kesempatan yang sama.

Hah? Serius? Kamu yakin dengan mantra macam itu? Di tengah ketimpangan sosial yang telanjang terlihat dan pertempuran pasar yang tidak seimbang, lalu dengan polosnya mempercayai semua orang mendapatkan kesempatan yang setara dan adil? Situ waras? Atau lagi demam dan belum minum obat?

Faktanya, banyak hal buruk terjadi di sekitar kita bukan karena banyak orang baik berdiam diri seperti kata pendiri Indonesia Mengajar. Sebaliknya, karena banyak orang baik yang apolitis. Orang-orang yang menolak untuk mengakui bahwa sengkarut persoalan di negeri ini adalah karena politik yang dicemari elit-elit korup, kolutif dan nepotis. Orang-orang yang hanya bisa berseru GOLPUT namun enggan mengorganisir diri ke dalam kelompok-kelompok swakelola. Meludahi praktek kotor oligarki namun terus menerus mempromosikan semangat anti-politik.

Negeri ini tidak sedang kekurangan orang baik. Kita kekurangan orang baik yang politis dan berorganisasi.

Itu mengapa, sejak Indonesia Mengajar diluncurkan, saya termasuk yang meradang. Pendidikan kita yang porak poranda sejak dari cara berpikir kini diludahi oleh aksi-aksi mesianik anak-anak urban-minded yang dibayar dari kantong korporasi macam MEDCO, Chevron atau Orica Mining. Pendidikan dengan semangat Jakarta-isme yang diberi bungkus Indonesia. Ini namanya sudah jatuh, tertimpa tangga, dikencingi anjing pula. Gila kalau kau tak marah.

Program sejenis Indonesia Mengajar bagi saya sejak awal adalah upaya menambal kapal yang mau tenggelam karena dikemudikan oleh orang tolol. Ini persis menjala angin. Melakukan hal ini berulang-ulang dengan tujuan mengharapkan hasil yang berbeda adalah kenaifan level surga.

Pendidikan kita adalah soal sentralisme, militerisme dan feodalisme. Kita menjadikan—atau membiarkan—Jakarta sebagai episentrum peradaban. Kita merelakan sejak awal, anak-anak diajarkan kedisiplinan dengan cambuk, ancaman dan teror agar menjadi homogen. Kita berpura-pura buta pada kenyataan bahwa menjadi guru hari ini adalah soal kenaikan pangkat, opsi pekerjaan dengan gaji tetap setiap bulan dan absolutisme bahwa pengajar selalu benar dan anak-anak tidak lebih dari sekumpulan babi yang siap dijagal. Kita memalingkan diri dari realita bahwa kekurangan guru dan buruknya fasilitas pendidikan di berbagai sudut negeri karena memang para pemegang kekuasaan adalah bajingan tengik yang cuma mau untung sendiri.

Sebagai anak pulau dari kampung nelayan yang sering dicap pemalas—karena kami tidur di pagi hingga sore setelah lelah berburu ikan ketika matahari sudah pindah ke belahan bumi lain—saya merasa kedatangan para modernis Indonesia Mengajar tak ubahnya kedatangan para zending dari Eropa yang mula-mula membawa Kristen. Mengajarkan leluhur kami membaca Alkitab, membenci hutan dan laut, menuduh pengetahuan medis kami sebagai perbuatan Beelzebul, menuduh tabib-tabib kami sebagai pemanggil setan, dan menyuruh kami memunggungi sejarah dan budaya ratusan tahun yang menjadi asal-usul kami.

Semuanya hanya agar kami layak dianggap Indonesia.

Di Papua, kondisi seperti yang pernah suku saya alami juga sedang berlangsung. Hanya saja, dalam skala yang lebih masif, intimidatif dan destruktif.

Anak-anak Papua diajarkan menjadi Melayu dan dipaksa melupakan identitas mereka sebagai Melanesia. Dipaksa memamah nasi agar hutan sagu dapat ditebang untuk perkebunan sawit, bubur kertas, industri kayu olahan dan padi. Anak-anak Papua direpresi mentalnya agar terus membenci warna kulitnya yang hitam mengkilap, rambutnya yang keriting dan bahasa ibu-nya. Mereka diharuskan belajar berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Sementara di Jakarta sendiri, hanya segelintir manusia yang benar-benar bisa berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia, dan kebanyakan mereka adalah ekspatriat yang belajar di Depok atau Jogja.

Papua melalui pendidikan Indonesia diajarkan bagaimana cara menjadi warga kelas dua di republik milik tentara ini. Di Papua, para guru membawa misi moral dan politik: menjadikan Papua layak menjadi bagian NKRI.

Berlebihan? Pantas saja kau alergi mendengar Papua mau merdeka.

 

* * *

Tulisan ini pertama kali tayang di IndoProgress

Adios El Jefe

Pada pukul 10.29 malam, pimpinan utama revolusi Kuba, Fidel Castro Ruz, meninggal dunia.”

Pengumuman itu menyapu seluruh Havana, kemudian mewabah ke seantero Kuba lalu menjadi gelombang kesedihan di berbagai belahan dunia. Dibacakan langsung oleh Raul Castro, adik kandung sekaligus kawan seperjuangan Fidel. Namun, sebab kematian tidak disebutkan.

Jalan-jalan di Kuba senyap. Tapi di Miami, banyak orang bergembira sembari mengibarkan bendera Kuba.

Dia adalah sosok revolusioner paling dibenci di AS. Seorang pengacara yang ketika berumur 32, berhasil mengambil kendali Kuba dari diktator Fulgencio Batista yang didukung AS. Sebuah anomali sejarah karena sebelumnya, Fidel dijatuhi hukuman 15 tahun penjara setelah menyerang barak tentara di tahun 1953. Dua tahun kemudian, ia bebas karena mendapatkan amnesti politik.

Menjadi pelarian dan terasing di Meksiko, Fidel menolak kalah dengan menyiapkan kelompok kecil gerilyawan untuk kembali menantang Batista.

Desember 1956, dari 81 orang yang ikut berlayar pulang ke Kuba, hanya 12 orang yang lolos setelah pendaratan mereka bocor ke telinga tentara. Namun sekali lagi, Fidel menunjukkan bagaimana sejarah berada di pihaknya.

Dari balik rimbun pegunungan Sierra Maestra, hanya dalam tempo dua tahun, Fidel berhasil mengorganisir ribuan gerilyawan dan memenangkan kepemimpinan politik dari kelompok pembangkang sipil di perkotaan.

Pada 1 Januari 1959, Fidel dan para pengikutnya berhasil mengambil alih Kuba.

Sempat diragukan banyak pihak, Fidel sukses memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat Kuba yang miskin dan buta huruf. Ia berhasil membuat negeri seluas 100 km2 yang dihajar embargo ekonomi sejak 1962, mencapai statistik kesehatan negara-negara kaya dari utara.

Ia sukses mengubah Kuba. Dari sekedar taman bermain untuk para milyarder Amerika, menjadi simbol perlawanan Dunia Ketiga terhadap arogansi kapitalisme. Fidel adalah orang yang memicu krisis selama 13 hari penuh ketegangan di tahun 1962. Saat itu, era perang nuklir terasa begitu dekat.

Fidel Castro dengan kharisma dan tangan besi, memerintah Kuba selama 49 tahun dan sukses merontokkan sembilan presiden AS. Ia berhasil selamat dari 638 upaya percobaan pembunuhan oleh musuh-musuh politiknya dan sukses menjadi legenda hidup gerakan kiri pasca bubarnya Soviet. Cobaan yang datang melalui upaya kudeta Teluk Babi yang disokong CIA dilewati Fidel dengan gemilang.

Berulang kali dicoba, lusinan kali pula sia-sia. Tidak ada yang sukses mengusir Fidel keluar dari Havana.

Oleh media-media Barat, lelaki ini dianggap tidak memberikan ruang bagi perbedaan pendapat, menggunakan kekuasaannya untuk merepresi lawan politiknya dan melakukan monopoli dan sensor terhadap media. Di hari ia dikabarkan mangkat, New York Post merasa tetap perlu untuk menegaskan bahwa Fidel adalah seorang “diktator yang memerintah Kuba sejak 1959 hingga 2008”. Para pembencinya yang mengungsi ke Florida begitu gembira mengetahui Fidel dibunuh oleh waktu dan penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

Fidel Alejandro Castro Ruz, adalah satu dari tujuh bersaudara keturunan pasangan migran asal Galicia, Spanyol yang memiliki perkebunan tebu di Biran, Oriente, Kuba. Terkenal keras kepala dan jago olahraga. Tahun 1945, semasa belajar hukum di Universitas Havana, Fidel mulai tertarik dengan politik dan kemudian terlibat aktif dalam gerakan anti-imperialisme. Terutama soal intervensi AS di negara-negara Karibia.

Pengalaman semasa menjadi aktivis kampus itu ikut membentuk prinsip solidaritas internasional Fidel. Sikap ini membuat El Jefe dihargai banyak orang meski AS mencoba terus menerus menjelek-jelekkannya.

Setelah bebas dari penjara, Nelson Mandela berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Castro atas kerja-kerjanya melawan apartheid. Hugo Chavez, mendaulatnya sebagai Simon Bolivar era modern. Fidel mendukung kemerdekaan Namibia, membantu perjuangan Angola dan tentu saja mendukung sepenuh hati gerilya Che Guevara di Kolombia.

Fidel adalah penunjuk arah bagi ratusan juta proletar di berbagai negara di belahan dunia ketiga. Semua orang yang masih menaruh harapan dan tekad tentang dunia yang lebih baik. El Comandante menjadi teladan bagi generasi radikal baru yang sedang memulai pertempuran soal ide, konsep dan imajinasi tentang politik sosialisme yang membebaskan umat manusia.

Karena ide dan aksi Fidel, seorang perempuan hamil di salah satu desa paling terpencil di Timor Leste dapat dikunjungi dokter. Ia mengulurkan tangan dengan mengirimkan dokter dan membantu pelatihan bagi tenaga medis di banyak negara di Namibia. El Jefe membuktikan bahwa ekonomi barter masih mungkin dilakukan dan tidak ketinggalan zaman saat ia menukar minyak Venezuela dengan dokter dan guru. Tanpa campur tangan Fidel, kekuatan milisi pendukung apartheid tidak mungkin kalah di Afrika Selatan.

Fidel adalah, teladan solidaritas dalam dunia yang egois. Ia adalah etika, nilai dan cita-cita dalam bentuk daging. Menolak sektarianisme dan tanpa henti berjuang untuk sosialisme internasional, bahkan ketika Soviet bubar dan Cina tersungkur di tikungan Deng. Semasa hidupnya, El Jefe menjadikan dirinya sebagai marka sejarah bahwa usai Perang Dingin, tidak semua revolusioner bertekuk lutut.

Commandante Fidel tetap keras kepala, bahkan di hari-hari terakhirnya. Setelah mundur dari jabatan presiden, ia tetap menulis dan menyumbangkan gagasannya untuk Kuba dan dunia. Terus mengingatkan bahwa kapitalisme global sebagai wajah barbarianisme paling mutakhir akan membawa kiamat ekologi dan sosial.

Banyak yang masih mencintainya dan berbagi keyakinan yang sama dengannya tentang masa depan yang lebih baik. Namun, jumlah pembenci El Comandante mungkin jauh lebih besar lagi jumlahnya.

Kepergian Fidel memang bukan akhir dari revolusi Kuba. Namun tidak ada yang akan menyangkal bahwa revolusi 1959 dapat disinonimkan dengan Fidel. Meski dicibir, dunia akan mengenangkan sebagai revolusioner keras kepala yang tidak korup dan setia dengan rakyat. Ia tidak menumpuk kekayaan di kantongnya dan tetap hidup sederhana hingga ia berpulang.

Fidel adalah pemberani yang bermimpi mengenai masa depan yang revolusioner. Sembari dengan tekun, ia bekerja dengan sabar, hati-hati dan disiplin untuk mewujudkan semua itu.

Para musuhnya akan tetap bersikeras menyebut Fidel diktator. Tapi, mereka tidak akan menyangkal warisannya kepada Kuba dan dunia.

* * *

Tulisan ini pertama kali terbit di Tirto