Shortspit #01: Delusional

Menjadi delusional itu mudah. Dan dunia harusnya belajar dari Indonesia.

Presiden pertama negeri ini adalah seorang maskulinis megalomaniak yang terobsesi dengan tubuh perempuan dan orang yang menyerukan penjajahan atas Papua.

Suksesornya, adalah seorang tentara dengan senyum seharga hampir satu juta nyawa warganya. Ia punya daftar panjang yang hanya bisa disaingi Adolf Hitler dan Pol Pot.

Pelanjut kekuasaan adalah seorang jenius narsis yang untungnya melakukan kebaikan dengan membiarkan Timor Leste menjadi negara terpisah. Film-film tentang dirinya di masa muda adalah guyonan paling tidak lucu dan tak sabaran. Setidaknya, menunggu hingga ia tersungkur jadi mayat.

Setelah pemilu terwaras yang pernah dijalani, parlemen memilih seorang pemberani dan terang mata hati meski memiliki gangguan fisik. Sayang, ia dijungkalkan terlalu dini.

Sebagai gantinya, politisi di Senayan memilih seorang perempuan yang sama sekali tidak bisa berpikir. Ia mewarisi ketidakwarasan bapaknya. Seluruh kisah tentang dirinya adalah kegagalan.

Lalu datanglah sepuluh tahun penuh lagu-lagu buruk, majas-majas tanpa rasa, metafora paling ceroboh dalam sejarah dan rimbunan ketololan lain. Masa paling manipulatif yang menandai lahirnya sebuah gerombolan paling berisik dalam sejarah politik Indonesia. Ini adalah periode gelap yang daya rusaknya bahkan melampaui kondisi hancurnya hutan sagu di Merauke, dilarangnya orang-orang Moi untuk berburu kangguru dan tersingkirnya orang Yerisiam karena perkebunan sawit.

Masa melelahkan ini membuat banyak orang terburu-buru mencari jalan keluar. Memilih seorang pemula berbadan kurus yang di kemudian hari justru lebih banyak mengecewakan. Ia mengumbar sumpah akan berlaku manusiawi. Tapi di semester pertama justru berjanji melapangkan hutan hujan untuk sawah sejuta hektar. Lebih dari separuh orang Melanesia di Papua memilih lelaki berkemeja kotak-kotak merah ini. Tapi sejak Paniai, lebih banyak anak muda Cendrawasih yang tewas dibedil polisi dan tentara.

Kekonyolan lelaki bersenyum kuda asal Solo ini berlanjut dengan menanam kapsul di dekat Tanah Merah, simbol arogansi kolonial atas tanah jajahan. Ia membiarkan laler ijo melarang jurnalis datang berkunjung, para peneliti dipersulit mengurus visa dan penangkapan semena-mena terhadap orang-orang berambut keriting setiap kali mereka membanjiri jalan. Lalu mengabarkan kebohongan bahwa diplomasi di Pasifik sedang merekah, walau di banyak pertemuan Indonesia terjungkal dengan spektakuler.

Kemerdekaan itu semakin dekat. Hampir semua prasyaratnya mulai tersedia. Salah satunya: bahasa. Tulisan ini contohnya.