Shortspit #00: Gerakan Mahasiswa

Ketimbang menyalahkan para idiot yang kemarin mendemo rumah SBY, saya akan berbagi beberapa hal.

PERTAMA, saya adalah orang yang muak dengan terma “mahasiswa”. Ini terma feodal yang selalu pura-pura dilupakan oleh kami semua yang sempat kuliah. Kami selalu bangga dan menganggap diri berbeda. Alasannya tak politis. Semata karena tak diwajibkan pakai seragam dan bisa absen tanpa pemberitahuan. Sisanya? Tak ada beda dengan pelajar kebanyakan. Hidup sebagai pelajar perguruan tinggi adalah anomali. Bukan proletar sesungguhnya, tapi juga bukan borjuis sejati.

KEDUA, pelajar di universitas adalah sumber apolitisme yang mewabah di Indonesia. Coba lihat sekitar anda. Yang mempopulerkan semangat anti-politik adalah mereka yang dulu duduk di bangku kuliah. Mereka membenci organisasi, karena mereka tidak terorganisir dan punya tabiat buruk dalam berorganisasi. Menghindari kedisiplinan karena hal itu adalah ciri proletariat sejati. Sebagai kaum delusional, mereka tidak ingin diasosiasikan dengan kelas pekerja. Karena precariat menyedihkan memandang dirinya jauh lebih terhormat.

KETIGA, kebodohan yang kita saksikan hari ini (bagaimana mendemo mantan presiden) adalah refleksi terhadap potret yang lebih besar dari keidiotan massal di sekitar kita. Yaitu wajah dari ketidakmampuan untuk menentukan apa yang taktis, mana yang strategis dan mana yang onani. Hal ini disebabkan karena pelajar di kampus dan kami yang lulus dari universitas, hanya mengkonsumsi balon-balon imaji soal kelas dan politik. Contoh nyata kebodohan massal ini diteruskan secara gemilang dengan menyebut diri: kelas menengah. Terma paling konyol, bodoh dan idiot.

KEEMPAT, gerakan pelajar memang sejak awal bermasalah. Terutama karena sikap romantisme dan ahistorisme yang jadi tulang punggung mereka. Sikap ini adalah akibat langsung dari impotensi serta kepengecutan untuk menantang warisan Orde Baru yang masih bercokol di dalam institusi pendidikan. Kenapa takut? Karena mereka lebih nyamam disodomi militerisme dan gemetar menghadapi cerita masa lalu yang penuh darah. Ini sebabnya mereka cuma bisa onani dengan kenangan yang bercampur baur dengan ilusi, fanatisme dan ketidakmampuan menggunakan otak dengan baik.

KELIMA, organisasi pelajar Cipayung menurut saya sejak dulu bukan organisasi gerakan. Piramid-piramid Orde Baru macam mereka cuma layak dipandangi, difoto lalu ditertawakan.