Taufiq Ismail Menyelamatkan Kita dari Bahaya Laten Lagu Wajib

Kapankah terakhir kali kita menyanyikan lagu wajib dengan sepenuh hati? Kemarin? Setahun lalu? Sepuluh tahun lampau? Sudah lama sekali pastinya.

Banyak orang mengeluh nasionalisme generasi saat ini telah luntur, tapi kita sendiri sudah lupa akan lagu-lagu wajib. (Mungkin tidak lupa juga sih, karena masa sekolah dasar kita diisi dengan kegiatan menghafal lagu wajib. Apa masih sampai sekarang?) Mayoritas kita mengeluh anak-anak sekarang kurang menghargai pahlawan, tapi kapan pula Anda meluangkan waktu untuk mengajarkan kepada mereka lagu-lagu kebangsaan?

Di samping nasionalisme, bangsa kita juga semakin bermasalah dengan nilai-nilai ketuhanan YME. Ini masalah mendesak yang tidak semua orang mau mengambil bagian untuk mencari solusi. Semuanya menjadi semakin rumit, karena kita kekurangan patron. Suri tauladan yang dapat menjadi patok moral dalam perjalanan kebangsaan.

Memang tidak ada yang lebih sulit daripada menjadi teladan. Itulah sebabnya saya sering terkagum-kagum pada sekelompok orang-orang yang melakukan hal-hal kecil guna berkontribusi pada masyarakat. Seperti yang dilakukan Opa Taufiq Ismail.

Dari dulu saya kira, bukan Pramoedya Ananta Toer yang layak jadi kandidat Nobel Sejarah. Almarhum Ben Anderson salah besar di sini. Satu-satunya kandidat paling cocok dan paling layak: Opa Taufiq.

Sastrawan yang karya-karyanya paling banyak bertebaran di buku-buku pelajaran terbitan beragam penerbit. Semasa jagal dari Kemusuk masih berkuasa, puisi-puisi Opa Taufiq adalah yang paling dibacakan di depan kelas. Begitu syahdu, begitu manis, begitu tenang. Hingga kita lupa dan tak perlu tahu bahwa negeri ini pernah membantai saudaranya sendiri karena gosip.

Mungkin banyak yang sudah lupa bahwa Taufiq Ismail bukan seorang wanprestasi. Penyair luar biasa ini adalah wajah Generasi ‘66, angkatan penyair yang legendaris itu. Generasi yang ikut menginisiasi Manifesto Kebudayaan di tahun 1963, gerakan anti “politik sebagai panglima”. Opa Taufiq, yang dilahirkan di Bukittinggi, 25 Juni 1935, menghabiskan masa jayanya sebagai salah seorang pendukung garis keras Orde Baru. Tidak diam-diam. Ia tampil membela Orde Baru bagai ksatria dengan menulis Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif LEKRA.

Malulah kalian wahai generasi muda pekerja seni yang malu-malu berpolitik!

Ketika Perang Dingin sedang berlangsung di Asia dan Afrika, Opa Taufiq tampil ke depan dan ikut berkonfrontasi. Ia menyerang LEKRA karena membuat kerja kepenyairan menjadi sukar karena mesti memikirkan derita rakyat. Bagi Opa Taufiq, tugas penyair adalah memotret peristiwa dari ketinggian. Mesti menjaga jarak agar objektif. Tidak boleh terkontaminasi langsung dengan kehidupan. Penyair adalah pertapa di atas menara gading. Suci dan bersih.

Warisan sikap macam ini, masih bisa kita temukan di kampus-kampus seantero negeri. Kalian yang menjalani laku macam ini, seharusnya berterima kasih kepada Opa Taufiq.

Tanpa jasa-jasa beliau, kalian semua akan jadi macam aktivis CGMI dan HSI. Mendedikasikan pengetahuan untuk revolusi dan pembangunan organisasi rakyat. Aktivitas yang sudah jelas kere dan tidak bermasa depan. Mau contoh? Coba lihat Berto Tukan dan Windu Jusuf, dua benjolan dari IndoPROGRESS.

Setelah Soeharto jatuh, Taufiq Ismail tak patah arang. Ia malah meluncurkan buku baru: Katastrofi Mendunia: Marxisma, Leninisma, Maoisma, Narkoba. Buku super ini terbit di tahun 2004. Didasarkan pada riset mendalam terhadap pokok-pokok pikiran Marx dan para pengikutnya, Opa Taufiq menelurkan sebuah tesis paripurna: Marxisma, Leninisma, dan Maoisma itu sama dengan narkoba! Jleb. Mampus kau Windu Jusuf!

Tesis ini setara dengan diktum Marx: “Die religion ist das opium des volkes.”

Oleh karena itu, sangat wajar jika saya membayangkan jika Opa Taufiq seharusnya diganjar Nobel Sastra atas prestasinya dalam mengarang kenyataan. Semua kontribusi dan pencapaian artistik beliau sudah seharusnya tidak hanya dimonopoli bangsa Indonesia saja. Taufiq Ismail sudah seharusnya menjadi warisan dunia. Agar para pendengkinya dapat tutup mulut dan mulai bertobat.

Opa Taufiq adalah puncak dari evolusi otak manusia Indonesia. Ketika beliau mengkritik lagu “Padamu Negeri” sebagai lagu sesat karena manusia Indonesia diajak menyerahkan “jiwa raganya” kepada negaranya, bukannya Tuhan, tentu tidak banyak orang yang tidak akan mengerti. Salah paham karena tidak mampu menyelami kedalaman pikiran Opa Taufiq yang revolusioner dan avant garde. Mereka yang tidak paham bahwa bahaya sebagai orang tua yang sudah banyak makan asam garam dan mengalami kejamnya dunia, yang diinginkan Opa Taufiq adalah yang terbaik untuk semua.

Kenyataan yang banyak tidak diketahui publik adalah: Opa Taufiq merupakan figur revolusioner penuh dedikasi.

Melarang lagu “Padamu Negeri” hanya permukaan. Yang gagal dipahami orang banyak adalah, Opa Taufiq sedang ingin meredam pengaruh buruk dari Kusbini, si pencipta lagu. Tentu tak banyak orang yang tahu bahwa Kusbini adalah aktivis radikal pendukung Soekarno yang karya terakhirnya adalah himne “The New Emerging Forces” di tahun 1965. Jauh sebelumnya, musisi keroncong ini juga diketahui menggubah “NASAKOM”. Lagu ini dapat ditemukan dalam buku Api Kemerdekaan Indonesia terbitan LEKRA. Karya Kusbini bersanding dengan lagu-lagu semacam “Mariana Proletar” atau “Internationale” yang versi Melayunya diterjemahkan oleh Bapak Pendidikan Indonesia itu.

Anda tahu apa itu NASAKOM? “Kom” di sini merujuk pada Komunisma! Astaganaga!

Kita harusnya berterima kasih kepada beliau. Tanpa kritik Opa Taufiq, Anda dan saya tentu tidak akan pernah tahu mengulik-ulik siapa itu Kusbini, si pencipta lagu “Padamu Negeri”. Tidak akan tahu ia adalah aktivis radikal pro-Sukarno dan oleh karena itu tentu tak layak dikenang dan oleh karena itu pula mesti masuk keranjang sampah sejarah. Orang-orang seperti Kusbini semasa hidup telah melecehkan proses berkesenian yang begitu mulia dan suci. Kusbini serupa dengan LEKRA. Melumuri indahnya seni dengan lumpur problematika sosial.

Itu mengapa, penting bagi Opa Taufiq menyebarluaskan gagasan agar orang-orang berhenti menyanyikan “Padamu Negeri” (memang kapan kita nyanyi?).

Dengan tujuan menjaga cucu-cucunya dari marabahaya laten komunisma, ia menjadikan perjuangan ini sebagai misi sepanjang usia. Jalan pedang yang justru sering dipandang sinis oleh anak-anak muda. Generasi milenial yang lahir dan tumbuh dewasa ketika wajah presiden sudah sering berganti. Generasi yang paling sulit mengerti niat baik Opa Taufiq.

Niat baik dari seseorang yang tangannya ikut terlibat menyerahkan leher saudara sebangsanya untuk dijagal tanpa pengadilan. Ketulusan untuk menjaga harkat dan martabat bangsa, sebagaimana dulu Opa Taufiq membiarkan tentara melakukan kejahatan kemanusiaan. Mereka yang tidak mengalami langsung masa itu, tentu tidak akan paham mengapa kekhawatiran Opa Taufiq terhadap bangkitnya PKI adalah mimpi buruk yang sudah mengganggu dirinya hampir dua dekade belakangan.

Tentu saja penting untuk mengingatkan generasi muda agar tidak menduakan sang Pencipta. Ia selalu harus jadi yang utama dan oleh sebab itu, lirik lagu yang terindikasi ke arah tersebut sudah seharusnya diganti dan bahkan kalau perlu dilarang. Menduakan Tuhan melalui lagu dapat berakibat buruk: seperti Marxisma dan narkoba! Selain tentu bakal masuk neraka.

Budi baik dan jasa Opa Taufiq sudah terlampau banyak untuk bangsa yang masih porak poranda oleh perampasan tanah dan upah murah ini. Semoga kelak wajah Opa Taufiq yang teduh dan memancarkan kebijaksanaan itu dapat kita awetkan di salah satu pecahan rupiah. Menurut hemat saya, wajah beliau yang waskita ini cocok menggantikan Kaisepo yang dianggap oleh Melayu-Melayu pandai sebagai “monyet”.

Kok gue kzl ya nulis ini.