Membicarakan Thukul, Melampaui Istirahatlah Kata-kata

Apakah seorang penyair, artinya tidak boleh ketakutan? Apalagi ia yang menulis dengan barisan kalimat penuh pembangkangan kepada tirani? Benarkah menjadi seorang revolusioner berarti tanpa rasa gundah? Terlarangkah rasa rindu kepada anak istri jika seseorang memilih mencintai kemanusiaan? Tidak bolehkah rasa bosan hinggap di dada seorang pejuang anti penindasan?

Itu pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala saya saat menyaksikan perdebatan orang banyak pasca-menonton Istirahatlah Kata-kata.

Kebanyakan protes yang muncul mempersoalkan tentang “dicerabutnya” sosok Thukul dari “kepribadian”nya. Protes terjadi karena ekspektasi yang terlalu tinggi pada akhirnya terjun bebas setelah menemukan Wiji dari sudut pandang Yosep Anggi Noen. Saya juga begitu, awalnya.

Ketika memenuhi undangan untuk turut hadir dalam Gala Premier film ini dari Rahung Nasution, ada kecamuk yang aneh. Perasaan ganjil karena melihat bagaimana Istirahatlah Kata-kata menjadi reuni sentimentil bagi mereka yang berbagi sejarah dengan Wiji. Kejanggalan itu makin menjadi karena sebagian dari mereka di barisan penonton adalah orang-orang yang secara prinsipil berseberangan dengan saya. Mereka adalah para pendukung rezim hari ini, sementara saya dan sebagian kawan memilih jalur oposisi. Sebagian lain yang datang adalah kelompok menengah yang serupa Descartes dengan gadget: aku berisik maka aku ada.

Datang ke acara seperti itu bagi kami yang tidak pernah mengenalnya secara langsung -namun berada dalam satu hentakan ideologi- merasa bahwa diangkatnya sosok terbuang seperti Thukul adalah kemenangan simbolis dalam tataran taktis. Film ini kembali mengingatkan bahwa ada selusin lebih korban penghilangan paksa yang belum kembali. Dan ia mendapatkan jangkauan yang lebih luas. Menyasar kelompok sosial paling apatis dan apolitis warisan Orde Baru: kelompok menengah.

Dan biopik ini adalah jembatan imajiner yang mempertemukan semua ingatan, romantika, harapan dan warisan Thukul. Membaurkan kenangan, ekspektasi dan simbol.

Usai menonton film ini, kekecewaan adalah kesan di lima menit pertama. Makin menguat di enam puluh menit berikutnya ketika saya bertukar pendapat dengan mereka yang ikut menonton hari itu, 16 Januari 2017. Semuanya berbagi keterkejutan, juga rasa kecewa karena harapan yang kadung kandas oleh Istirahatlah Kata-kata. Film ini begitu berbeda dari harapan dan ingatan sebagian besar orang tentang Wiji Thukul.

Namun, selepas itu, saya kembali bertanya. Apakah ingatan adalah sesuatu yang absolut? Apakah kenangan adalah kebenaran yang tidak bisa digangggu gugat?

Beberapa hari setelahnya, adegan-adegan dalam film ini tak kunjung lepas dari kepala. Terutama karena apa yang sebenarnya saya “ketahui” mengenai Thukul sedang dipertaruhkan. Di lini sosial paling berisik, debat mengenai biopik ini merosot ke tahapan lebih naif lagi: mengapa ditayangkan melalui jaringan bioskop komersil dan bukan menggunakan jejaring pemutaran alternatif.

Soal debat ini, saya cukup tak peduli hingga urung berkomentar. Soalnya, apa yang disebut sebagai “jejaring pemutaran alternatif” sependek pengetahuan saya tidak eksis. Bentuknya sebenarnya tidak lebih dari titik-titik sosial yang terputus satu dengan yang lain. Ia tampak terhubung karena ada orang-orang gila dengan dedikasi luar biasa yang mau mengkoneksikannya. Namun, tentu saja sangat prematur karena mengandalkan momentum. Meski apa yang dikerjakan secara politik adalah investasi sosial yang sangat berharga untuk menantang rezim perampas tanah seperti saat ini.

Para penggerutu soal komersialisasi Wiji Thukul menurut saya adalah kumpulan yang katarak secara politis karena tak sanggup melihat bagaimana dunia sinema di negeri ini berantakan dengan sempurna. Monopoli, ketiadakan sumber daya manusia, minimnya kemampuan mengolah sumber daya finansial, dan masih banyak lagi. Perdebatan soal menggunakan sosok Thukul untuk menangguk pundi rupiah dan popularitas sosial sungguh jauh panggang dari api. Selain tak esensial, argumentasi yang disodorkan juga lemah secara filosofis dan syahwat.

Lagipula, kita akan terlalu menyederhanakan segala sesuatu jika beranggapan bahwa api pemberontakan Wiji akan tenggelam hanya karena Istirahatlah Kata-kata. Pendapat macam ini justru mengerdilkan sumbangsih Thukul dalam artian yang sebenarnya.

Secara jujur, apa yang dialami oleh Thukul -seperti yang digambarkan dalam Istirahatlah Kata-kata, adalah sesuatu yang baru untuk saya. Selain karena datang dari generasi yang tumbuh ketika Soeharto bukan lagi orang terkuat di negeri ini, ada perbedaan sosial lain yang membuat sosok penyair seperti Thukul akhirnya terasa begitu berjarak.

Wiji -seperti kebanyakan orang di luar sana- tidak memiliki “keberuntungan” kelompok menengah seperti saya: bekerja dengan laptop bagus, punya pekerjaan dengan upah di atas UMP, bisa membeli buku di Verso sebulan sekali, setiap minggu berkesempatan minum bir dingin dan beberapa kali dalam setahun mampu liburan ke tempat-tempat yang ada dalam buklet wisata.

Saya tidak pernah merasakan menjadi buronan dan kesepian yang turut serta sebagai konsekuensi dari sebuah aktivisme politik. Meski pernah dipenjara singkat -yang hanya beberapa bulan- di masa awal SBY dipilih ramai-ramai sebagai diktator, diinteli polisi atau beberapa kali dipentungi saat demonstrasi, secara psikologis saya belum mengalami level brutalitas yang dialami Wiji Thukul. Saya masih bisa pulang kontrakan dengan aman, memeluk dan menciumi kekasih secara leluasa dan memiliki teman-teman yang ramai.

Menonton Istirahatlah Kata-kata justru menjadi pengalaman spiritual yang menakutkan pada akhirnya. Yang tidak langsung saya rasakan begitu usai menonton film ini. Ia mengendap selama beberapa hari sebelum saya menulis ini.

Kami datang dari dua dunia yang berbeda. Dunia saya dibangun dari jerih payah orang-orang seperti Thukul di negeri ini yang masih terus bertarung soal upah murah, jaminan kesehatan yang buruk, sembako yang semakin mahal, pencabutan subsidi dan lain sebagainya. Dunia saya berada di lapis lebih tinggi dan bertahan karena penghisapan atas manusia-manusia seperti Wiji masih terus berlangsung -dengan atau tanpa Istirahatlah Kata-kata.

Kemewahan-kemewahan yang saya nikmati hari ini sejatinya merupakan hasil langsung dari perjuangan panjang kelas pekerja di berbagai tikungan sejarah dengan melakukan mogok, berdemonstrasi dan menuntut perbaikan kualitas hidup. Perjuangan kelas pekerja di mana Thukul dan syair-syairnya dahulu adalah bagian tak terpisahkan. Dan inilah magisme dari puisi-puisi Wiji. Karya-karyanya menemukan tempat di hati dan ingatan banyak orang karena ia menulis tentang dirinya, yang juga adalah diri mereka. Ia tidak hanya jujur menjadi dirinya, tapi di saat yang bersamaan merefleksikan wajah mayoritas penduduk Indonesia yang hidup bersusah payah dan terpinggirkan oleh pembangunan.

Persona seperti Thukul menjadi legendaris sebagai penyair, bukan hanya karena puisinya semata. Kisah hidupnya yang aktif berpolitik dan melawan ketidakadilan adalah sisi magis yang sesungguhnya.

Namun, karena kadung menjadikannya legenda, saya lupa bahwa Thukul adalah seorang suami dan ayah dua orang anak. Ia adalah manusia yang seutuhnya. Memiliki getir dan memar dihajar kesedihan. Inilah peran dari episode kesepian dan keterasingan yang ditampilkan Istirahatlah Kata-kata. Menjadi pengingat bahwa penyair revolusioner yang kata-katanya dapat menyulut pembangkangan terhadap ketidakadilan, adalah sosok yang bisa tampil lemah. Seperti Yesus di ambang kematiannya yang berteriak: Eli! Eli! Lama sabachtani!

Yosep Anggi Noen dan Yulia Evina Bhara melalui filmnya ingin menuturkan kepada kita semua tentang satu periode negeri ini: ketika seorang megalomaniak paling berdarah sedang berkuasa. Jendral penuh senyum pemimpin rezim yang dapat meremukkan manusia hingga ke tulang-tulang. Mengisolasi, menjauhkan dan mengasingkan seseorang hingga pemberontakan yang paling mungkin terhadap itu adalah: bertahan tetap waras. Ini adalah perjuangan yang tidak kalah heroik dibanding berhadap-hadapan dengan tentara di jalan raya, atau melempar molotov ke arah barikade polisi. Istirahatlah Kata-kata tidak sedang memadamkan sedikitpun aspek revolusioner dari sosok seperti Wiji Thukul. Sebaliknya, ia menggambarkan bagaimana penyair keras kepala ini mampu bertahan dan menumpuk keberanian untuk pulang ke rumah dan menemui Sipon, kekasih hatinya.

Inilah pesan utama dari film ini menurut saya. Bahwa ketakutan, kesepian dan keterasingan yang diciptakan penguasa dapat [dan sudah semestinya] dilawan.

Andre Barahamin