Tesis-tesis Mengenang Mark Fisher

I

Sulit menemukan seseorang yang mampu secara baik dan populer menjelaskan buruknya kapitalisme.

Sosok yang tulisannya mendapatkan ruang di media-media yang terobsesi dengan besarnya angka pembaca, ketimbang seberapa luas mereka mampu melakukan intervensi terhadap ranah kesadaran dari gerombolan yang disebut publik. Karena pasca-lemparan batu terakhir di Paris, mercon terakhir padam di Seattle dan gagalnya mengartikan surat-surat cinta Commandate Marcos, kebanyakan penulis anti-kapitalisme dapat secara mudah digolongkan ke dalam dua kubu utama.

Pertamamereka yang menulis selayaknya pandita yang sedang berkhotbah. Keahlian mereka adalah memamerkan pengetahuan menghafal teks-teks yang dianggap suci. Dalam tulisannya, mereka menghujani pembaca dengan kutipan-kutipan mantra serta membagi dunia ke dalam hitam dan putih. Jenis ini, berupaya sekuat tenaga menyembunyikan rasa frustasi mereka terhadap orang kebanyakan dengan terus menerus mengacungkan jari ke masa lalu.

Meski sejarah membuktikan, tidak ada kemenangan sejati di hari-hari kemarin. Yang ada hanyalah benih yang sedang bertumbuh namun kadung layu sebelum bisa mekar dan mengundang lebah untuk menghirup sarinya. Sehingga meromantisir segala sesuatu, tidak hanya buruk untuk proyek penumbangan kapitalisme, tapi juga tidak sehat untuk kesehatan jiwa.

Mereka berupaya menyelimuti diri dari kenyataan bahwa tumpulnya imajinasi politik, kemiskinan literatur dan impotensi budaya adalah penyakit yang menggerogoti tubuh ideologi mereka.

Jenis yang kedua adalah sedikit individu yang menulis dengan penuh gairah, letupan amarah, optimisme yang dibalut dengan kehati-hatian, dan kekayaan metafora yang tidak kering seperti sungai Mekong dan kejujuran seorang revolusioner. Mark Fisher adalah satu di antaranya.

 

II

Fisher meraih gelar Sarjana Sastra dalam bahasa Inggris dan Filsafat di Universitas Hull (1989). Ia kemudian menyelesaikan gelar Ph.D. di University of Warwick pada tahun 1999 dengan menulis disertasi berjudul Flatline Constructs: Gothic Materialism and Cybernetic Theory-Fiction.

Bajingan ini adalah pendiri sekaligus anggota aktif dari kolektif penelitian interdisipliner yang dikenal sebagai Cybernetic Culture Research Unit. Selain menghabiskan waktu mengajar di perguruan tinggi, ia memulai proyek fenomenal dengan merilis K Punk Blog di tahun 2003. Fisher adalah anggota dewan redaksi Interference: a journal of audio culture, sekaligus juga sebagai editor di penerbitan Zero, wakil editor di The Wire, dan juga terlibat aktif dalam serial konferensi Speculative Realism yang digagas oleh Edinburgh University Press ini.

Speculative Realism adalah gerakan dalam filsafat kontemporer yang mendefinisikan diri dengan cukup longgar dibanding metaphysical realism sebagai bentuk kritik atas bentuk-bentuk yang dominan dari filsafat pasca-Kantian (atau yang biasa disebut sebagai correlationism).

Nama ini diambil dari sebuah konferensi yang diadakan di Goldsmiths College, University of London pada bulan April 2007. Konferensi ini dimoderatori oleh Alberto Toscano, dan menampilkan presentasi Ray Brassier, Iain Hamilton Grant, Graham Harman dan Quentin Meillassoux. Brassier dianggap sebagai pencetus Speculative Realism meskipun Meillassoux sudah terlebih dahulu menggunakan istilah Speculative Materialism untuk menggambarkan posisinya sendiri. Konferensi Speculative Realisme berikutnya dilangsungkan di UWE Bristol, Jumat 24 April 2009.

Di tahun yang sama, Fisher menjadi editor dari buku The Resistible Demise of Michael Jackson sebelum akhirnya menelurkan Capitalist Realism: Is there no alternative? yang dianggap sebagai warisan pentingnya. Di tahun 2014, ia kembali menerbitkan Ghosts of My Life: Writings on Depression, Hauntology and Lost Futures, sekumpulan esai mengenai musik, film dan hauntology.

 

III

Hari ini, di tengah wabah budaya fatalisme, memang lebih mudah membayangkan akhir dunia ketimbang membayangkan keruntuhan sebuah sistem yang hidup dari eksploitasi mayoritas manusia. Kini, kita sedang hidup di periode di mana, menjadi revolusioner adalah gaya hidup. Sebuah perilaku yang membebek pada tesis bahwa segala penentangan terhadap kapitalisme tidak lebih baik dari perayaan tahun baru yang diikuti dengan resolusi-resolusi yang disadari penuh tidak akan pernah tercapai.

Sebagai penanda, kita dapat melacak mengapa film-film bernuansa apokaliptik, lengkap dengan narasi mesianik, merebak dan diproduksi dalam skala masif. Produk budaya yang mengartikulasikan fanatisme brutal akan ketiadaan jalan keluar sehingga kehancuran adalah masa depan yang paling mungkin. Di titik ini, semua orang diwajibkan menjadi eskapik. Lari dari akar persoalan dan memilih menjadi pelarian yang membangun tabir untuk menutupi segala ketidakbecusan hidup yang dibiarkannya berlangsung.

Inilah yang disebut dengan kenyataan hari ini. Yang mana, yang disebut sebagai realitas tidak lebih dari banyak kepingan yang kita namakan budaya. Hingga menjadi kebutuhan yang tidak kalah mendesak untuk mereka yang mendaku sebagai revolusioner untuk juga memahami bagaimana realitas dikonstruksikan oleh kapitalisme, dan finalnya adalah manunggalnya kenyataan itu sendiri dengan absorpsi terhadap ilusi sebagai bagian integral yang tidak lagi dapat dipisahkan.

Seperti para situasionis yang menilai bahwa oposisi terhadap kapitalisme secara implisit membutuhkan abolisi nyata dari seluruh klas-klas masyarakat, penghapusan produksi komoditi dan kerja upahan, aksi melampaui seni dan seluruh pencapaian budaya dalam bentuk intervensi aktif ke dalam permainan melalui kreasi bebas di dalam kehidupan harian – dan juga keterpenuhan mereka yang sejati; dan fusi langsung atas teori revolusioner dan praktek dalam sebuah aktivitas eksperimental yang menghalangi setiap kejutan dalam “ideologi-ideologi”, yang mana merefleksikan otoritas dari para spesialis dan akan selalu melayani spesialisasi dari otoritas.

Faktor-faktor yang terlibat dalam persoalan historis ini adalah percepatan ekstensif dan modernisasi dari kontradiksi fundamental di antara sistem hari ini, dan antara sistem dan hasrat-hasrat manusia. Kekuatan sosial yang memiliki tugas sejarah untuk menyelesaikan kontradiksi kontradiksi ini -dan satu-satunya kekuatan yang mampu untuk menyelesaikan masalah tersebut- adalah massa kelas pekerja yang ironisnya sedang tidak tidak memiliki kekuatan yang diakibatkan oleh kegunaan hidup mereka dirampas oleh berbagai kontrol melalui akumulasi yang fantastik akan kemungkinan-kemungkinan material yang mereka produksi. Resolusi penumbangan kapitalisme telah diprediksi melalui munculnya dewan-dewan demokratik pekerja yang membuat semua keputusan atas diri para pekerja.

Satu-satunya usaha cerdas di tengah dunia yang imbesil seperti hari ini adalah tiadanya pilihan selain keharusan agar para proletariat baru untuk mengusung proyek ini dengan memformat dirinya ke dalam bentuk klas yang tidak dapat termediasi oleh segala bentuk kepemimpinan.

Para situasionis mendeklarasikan diri bahwa mereka tidak memiliki ketertarikan di luar segala gerakan ini. Para situasionis tidak akan memberikan prinsip-prinsip khusus dan wajib sebagai landasan dari sebuah gerakan yang nyata, gerakan yang mana telah lebih dulu lahir sebelum pandangan situasionis itu sendiri. Melihat kelahiran perjuangan-perjuangan yang dimulai di berbagai negara dengan keragaman isu, para situasionis melihat tugas mereka adalah mengajukan seluruh masalah, menguraikan koherensi-koherensinya, juga bagaimana kesatuan teoritik dan praktek mengenai hal tersebut. Secara singkat, di dalam berbagai fase yang perjuangan secara keseluruhan para situasionis merepresentasikan ketertarikan mereka terhadap keseluruhan gerakan.

 

IV

Warisan penting Fisher adalah melakukan pembaruan dan memberikan kembali signifikansi untuk membaca dan menelaah Situasionis Internasional, terutama di ranah musik dan film.

Jika di masa lalu, ide-ide yang ditawarkan oleh Debord dan kawan-kawan dianggap tidak masuk akal, hari ini kita justru menemukan relevansi dari parodi mereka terhadap praktik revolusionerisme yang birokratik, kering dan mekanik. Praktik yang justru menjauhkan klas pekerja sebagai barisan paling menderita dari eksploitasi kapitalisme dari harapan akan kemungkinan untuk meruntuhkan menara Babel kapitalisme.

Dalam bukunya Capitalist Realism, Fisher memberikan analisis singkat atas polemik mengenai cengkeraman kuat kapitalisme terhadap kesadaran kolektif sehingga membatasi kemampuan seseorang untuk membayangkan mungkinnya alternatif atas kapitalisme. Kemampuannya untuk melakukan kritik radikal terhadap berbagai isu dan subjek-subjek budaya dengan mengelaborasi contoh dari kebudayaan popular (popular culture) dan teori-teori rumit (high theory).

Salah satu argumentasi Fisher dalam buku ini adalah mengenai “realisme hari ini” telah menjadi alat utama dari ideologi kapitalisme untuk mempertahankan status quo-nya. Kapitalisme tidak hanya menjadi tatanan dunia yang paling baik, namun menjadi satu-satunya yang paling mungkin. Implikasinya adalah, orang-orang membayangkan bahwa tidak ada jalan keluar sehingga yang paling mungkin dilakukan adalah dengan mempertahankan kapitalisme itu sendiri sembari menambal “kekurangan-kekurangannya”. Dalam Capitalist Realism, kapitalisme sukses menjadi sistem otoritarianisme paling sukses karena ia menjadi yang paling realistis. Di luar itu, segala sesuatu akan dianggap tidak mungkin.

Realisme absolut di bawah kapitalisme bagi Fisher juga sinonim sebagai akhir sejarah -yang jelas merupakan hinaan terbuka terhadap Fukuyama dan para penggemarnya. Karena dengan lumpuhnya kemampuan untuk membayangkan sesuatu di luar sistem eksploitatif ini, maka gerak maju sejarah perkembangan masyarakat menjadi terhenti. Kapitalisme menjadi kekal karena ia adalah “bentuk final yang paling mungkin”. Dunia yang seperti ini menurut Fisher berada di dalam kondisi atemporality, di mana kita menganggap bahwa yang kondisi hidup penuh ketimpangan dan ketakutan seperti saat ini hanya akan terjadi sementara waktu. Penyangkalan yang disertai dengan kesadaran penuh karena mengetahui kondisi seperti ini tidak akan pernah berubah.

Konsekuensi dari Capitalist realism tidak hanya menghapus bayangan tentang masa depan, tapi juga masa lalu. Tanpa hal-hal baru dan kemungkinan untuk mencapainya, kita sedang mengubah makna dari pentingnya sejarah. Ujungnya adalah massalisasi wabah sosial dan budaya. Melenyapnya masa depan berarti merepresi makna menjadi individu dan bagian dari kolektif di saat yang bersamaan. Yang tersisa adalah kehidupan di dunia yang terus menerus steril dari harapan. Sebuah kondisi yang buruk bagi psikologis karena menimbulkan kecemasan personal dan sosial karena tertutupnya pintu jawaban.

Pendapat Fisher sedikit banyak memiliki kemiripan dengan tesis Fredric Jameson tentang pasca-modern. Namun yang membedakannya adalah, Fisher mendefinisikan apa yang ia sebut sebagai capitalist realism sebagai tahap lanjut ketika pasca-modern telah menjadi sesuatu yang alamiah.

Kemunculan capitalist realism memang begitu mulus dan tampak mencakup segalanya. Namun Fisher berhasil mengemukakan bahwa ada dua kontradiksi internal yang dapat digunakan kelompok revolusioner untuk menunjukkan bahwa sistem ini adalah kegagalan permanen. Pertama, soal kesehatan mental. Yang kedua adalah mengenai birokrasi.

Dalam fase capitalist realism, seseorang tidak akan pernah menemukan ketenangan jiwa. Sebaliknya, ia akan terus menerus dihantui oleh kecemasan sosial, rasa aman diri dan hilangnya “kompetisi”. Akibatnya, wabah penyakit mental dapat dengan mudah berkembang biak. Persoalan seperti hoax misalnya adalah bukti nyata dari penyakit sosial individual yang muncul akibat represi simultan dan konstan dalam capitalist realism terhadap ketersediaan informasi dan lunturnya kemampuan untuk menyaring fakta dan ilusi. Degradasi hal tersebut beririsan dengan melenyapnya kompetisi di antara kolektif-individu untuk menyediakan informasi dan fakta akibat bergesernya prioritas untuk mencari jawaban atas keresehatan sosial yang tidak mungkin terjawab tanpa mengalamatkannya kepada kapitalisme.

Keengganan menyasar kapitalisme tidak lepas dari pandangan absolut bahwa tidak ada alternatif lain di luar sistem ini. Yang bersahutan dengan klaim bahwa hanya di bawah kapitalisme, seseorang akan bebas dari tekanan birokrasi komunisme ala Soviet di masa Perang Dingin, atau wajah sentralisme partai di Korea Utara. Ilusi ini mengaburkan fakta bahwa kapitalisme merupakan sistem yang paling birokratis dan sama sekali anti demokrasi. Pemilu-pemilu yang telah terprediksi, akumulasi kekayaan yang tersentralisir di tangan sebagian kecil konglomerat, invasi militer, dan jutaan aturan administratif yang membelenggu kebebasan berpikir, berpendapat dan berkreasi. Fase capitalist realism seperti saat ini adalah model yang lebih otoriter dibandingkan dengan sistem apapun yang pernah eksis dalam sejarah perkembangan masyarakat.

Di bagian akhir Capitalist Realism: Is there no alternative?, Fisher memberikan beberapa saran soal strategi untuk mengalahkan capitalist realism. Ia menggarisbawahi soal krisis kredit perbankan teranyar yang menghantam neoliberalisme telah membuka ruang yang signifikan untuk kelompok anti-kapitalisme melakukan manuver strategis. Walau Fisher memperingatkan bahwa krisis neoliberalisme belum tentu akan memicu capitalist realism lebih lanjut.

Lebih jauh, kritik Fisher juga diarahkan kepada gerakan kiri yang masih kolot dan menganut cara berpikir dan metode perjuangan kuno. Terutama menyangkut idealisasi akan terbentuknya sebuah “negara besar” pasca-tumbangnya kapitalisme. Problem lain adalah praktek politik immobilization, yang menjadi warna dominan perlawanan terhadap capitalist realism hari ini. Yaitu aksi-aksi protes atas nama perjuangan untuk perubahan, ketimbang perjuangan untuk perubahan (protest in the name of resistance to change rather than to struggle for change). Fisher berpendapat bahwa gerakan anti-neoliberalisme haruslah menjadi “rival” dan bukan sebagai “reaksi”. Yang berarti ia mesti memiliki sifat unik dan universal di saat yang bersamaan. Mengganti neo-liberalisme berarti kemestian untuk menjawab sekaligus problem individual dan sosial tanpa harus menegasikan salah satu di antaranya.

 

V

Capitalist Realism sebenarnya adalah salah satu bacaan yang cocok untuk gerakan pelajar, terutama yang berada di kota-kota besar. Hal ini tidak lepas dari kenyataan historis bahwa untuk menguatkan tesisnya, Fisher menyodorkan contoh dari perguruan-perguruan tinggi di mana tingkat stress yang berujung pada gangguan jiwa, perasaan tidak aman yang konstan, melenyapnya kompetisi hingga birokratisme hadir dalam bentuk yang paling vulgar.

Namun seperti yang juga digarisbawahi oleh Fisher, saya termasuk di dalam barisan yang telah mengalami degradasi serius terhadap gerakan pelajar di Indonesia. Hampir tidak mungkin mempercayai anak-anak muda yang menyebut dirinya “pelajar besar” yang ironisnya merefleksikan kekerdilan cara berpikir dan sikap anti sejarah mereka. Memahkotai diri sebagai gerakan, tapi berdiam diri seperti feses karena menghidupi warisan junta militer untuk menjauhi polemik, analisa mendalam, kritik otokritik, jarang membaca dan menulis. Lalu dengan pongah bersembunyi di balik klaim “mengorganisir” yang sebenarnya tidak lebih dari aktivitas wisata dengan label revolusi taik kucing.

Para aktivis pelajar di Indonesia, hanyalah sekumpulan idiot pemalas yang tidak bisa main bola sehingga mencari pelarian dalam bentuk organisasi. Tak percaya? Lihat saja kelakuan paling anyar dari HMI dan PMKRI.

 

VI

Untuk mengenang Fisher, saya memutuskan akan memberikan versi elektronik dari Capitalist Realism: Is there no alternative? kepada mereka yang tertarik. Caranya, anda cukup menuliskan alamat email di kolom komentar tulisan ini. Saya lalu akan mengirimkannya setelah komentar anda terbaca.

Andre Barahamin

135 Comments

Comments are closed.