Hiphop dan Hal-hal Yang Tidak Akan Dimengerti Martin Suryajaya

I

Taksi yang saya tumpangi berhenti tepat di depan gerbang kantor. Saya segera bergerak cepat menurunkan barang-barang bawaan. Sementara, seorang perempuan tampak beringsut malas keluar dari taksi, lalu membuntuti saya dari belakang. Dua menit kemudian, taksi tersebut sudah menghilang pergi setelah pembayaran dilunasi.

Jam enam pagi di hari Natal. Dan tangan saya sedang merogoh ke celah sebuah sudut untuk mencari kunci pintu kantor.

Wajah perempuan di samping saya tampak pucat. Sekitar empat puluh menit yang lalu, saya harus menadah semburan muntahannya agar tidak mengotori lantai taksi. Mobil terpaksa menepi dan aspal jalan tol menjadi sasarannya. Ini adalah 25 Desember paling melelahkan bagi kami berdua.

Kemarin pagi, di jam yang hampir sama, kami berdua terbangun di sebuah kontrakan sederhana di Hue. Pagi tersebut, hari diawali dengan pelukan, kecupan dan dua mangkok mie khas Hue yang terkenal dengan potongan besar daging babi. Lalu menjalani dua jam penerbangan ke Sai Gon, menunggu tiga jam, berganti maskapai menuju Kuala Lumpur yang menghabiskan waktu empat jam, menghabiskan lima jam berikutnya di Malaysia, menahan kecewa karena perbangan yang terlambat hampir satu jam, sebelum terbang menuju Jakarta dan tiba dini hari untuk mendapati fakta bahwa penerbangan kami berikutnya tidak lagi menerima penumpang karena sedang siap lepas landas. Kami berdua terlambat.

Upaya untuk melakukan komplain gagal total. Maskapai yang kami gunakan dari Kuala Lumpur menyangkal dan enggan bertanggung jawab. Saya sejak awal telah menduga hal ini bakal terjadi. Percuma saja ribut. Buang waktu dan buang tenaga.

Kembali ke kantor adalah opsi paling logis dari beragam ide yang muncul di kepala. Lokasinya strategis. Dekat dengan apotik yang buka 24 jam, warung mie ayam yang selalu buka pagi hari, tivi kabel dengan lusinan kanal, koneksi internet yang lancar dan sebuah sepeda motor. Saya butuh semua itu.

Lagipula, ada kamar berukuran kecil di kantor yang dapat digunakan untuk berbaring. Ia bisa menonton serial Korea kesukaannya sembari berbaring memulihkan tenaga. Saya juga bisa membuatkan segelas teh manis untuknya. Lalu bisa kembali merumuskan bagaimana tidak secara naas terkurung di Jakarta.

Itulah sebabnya, saya membutuhkan kunci untuk membuka pintu kantor.

Dan semuanya berjalan sesuai rencana. Segelas teh manis, plus sirup tolak angin, semangkok mie ayam yang masih hangat, dan laptop yang sedang memutar serial Korea. Saya kemudian memintanya agar mencoba tidur barang sejenak selesai sarapan. Ia butuh memulihkan tenaga. Jakarta bukan destinasi akhir. Tiket pengganti baru saja dipesan dan sore nanti, kami berdua akan meninggalkan kota ini.

Setelah menyelimutinya, saya memilih menuju meja kerja yang sudah dua bulan terbengkalai. Rehat panjang setelah riset melelahkan di Papua. Penelitian yang tidak hanya menyedot energi dan menggerogoti fisik, tapi juga menggerus mental. Tapi juga sekaligus menguatkan rasa muak terhadap nasionalisme penuh darah a la tentara.

Di atas meja kerja yang tampaknya luput dibersihkan oleh office boy kantor, ada beberapa paket kiriman dan surat yang menumpuk rapi. Paket-paket ini berisi buku yang sebagian merupakan timbal balik apresiasi karena menulis untuk Minum Kopi. Ada juga kiriman dari beberapa toko buku online yang saya temukan melalui Instagram, kardus kecil dari Verso Books, sebuah bingkisan dari Amsterdam yang berisi empat buku dan kiriman versi cetak Jacobin Magazine dua edisi terakhir. Barang-barang ini yang sering membuat saya selalu kekurangan uang.

Tapi ada satu paket lain yang tampak asing. Kiriman buku dari Grimloc Records. Isinya? “Setelah Boombox Usai Menyalak”.

 

II

Dua puluh delapan tulisan, jika tulisan pengantar juga dihitung.

Dan sudah selayaknya dipandang sebagai bagian yang tidak terpisah dengan dua puluh tujuh artikel lain yang dianggap menjadi konten dari buku 230 halaman ini. Alasannya sederhana. Sebagai pengantar yang emosional dari kumpulan catatan yang ditulis dengan pendekatan orang pertama, apa bedanya?

Ini mungkin adalah bagian paling mengganggu di buku ini menurut saya. Lebih tampak sebagai epilog, catatan dengan judul “Setelah Boombox Usai Menyalak” justru dianggap prolog dan berakhir konyol dengan penempatan di bagian awal buku. Ia membunuh gairah menikmati buku ini secara prematur. Aborsi dengan cara paling brutal. Padahal, pengantar dari Taufiq Rahman sudah lebih dari cukup. Pengantar itu sendiri menurut saya adalah penjelasan panjang lebar yang di beberapa bagiannya seharusnya dipangkas karena overdosis. Sebagai pembaca, saya meyakini memiliki hak eksklusif untuk tidak diharuskan menderita dengan mendapatkan penjelasan sejak awal mengapa kompilasi catatan ini hadir. Bertubi-tubi. Dari editor dan langsung dari penulisnya.

Efek merusaknya persis seperti hadir di peragaan busana, mendengarkan seorang pembawa acara mengoceh terlalu lama di awal acara, membuatmu mengantuk, muak dan akhirnya menghabiskan waktu dengan bermain ponsel. Lalu ketika penderitaan itu berakhir dan kau mengira dunia akan beranjak lebih baik, si pembawa acara yang mengesalkan itu memaksa si perancang busana tampil ke panggung dan menjelaskan segala tetek bengek soal ragam rancangannya sebelum para model naik ke atas panggung.

Error ini fatal. Kecuali, jika kita menganggap pengantar adalah bagian tidak penting dari sebuah buku. Persis seperti buku-buku kuliah kebanyakan di mana bagian paling awal adalah seksi yang tidak akan ditengok karena membosankan. Namun, tidak bagi saya. Membaca bagian pengantar atau prolog adalah pemanasan yang tepat sebelum melahap isi sebuah buku. Jadi, wajar jika saya protes bukan?

Sebabnya, sejak awal saya membayangkan “Setelah Boombox Usai Menyalak” sebagai sebuah album yang berisi lagu-lagu terbaik seorang Morgue Vanguard. Seorang penulis yang bertahun-tahun lalu saya temukan melalui Lyssa Belum Tidur, lalu melalui Gutter Spit sesudahnya. Maka trek pertama yang ingin saya dengar adalah letupan yang akan menarik saya lebih jauh untuk berselancar.

Dan “Bapa” adalah kisah pembuka yang cocok. Namun menutupnya dengan cerita soal skena hardcore di Belanda?

So, Dirty ‘Rap’ Herry, can you ask the editor to put it on the last page next to your profile? It was so distracting and it does killed the joy.

Kebingungan saya berikutnya adalah pertanyaan apakah editor dan penulisnya sengaja mengacak urutan artikel-artikel di dalam buku ini sehingga tampak tidak terhubung?

Semisal, keping soal “10 Lagu Protes Lokal Terbaik” yang diletakkan di halaman 53. Sangat berjarak dengan “Mixtape Boikot ‘Bela Negara'” di halaman 133 dan “15 Album Hip Hop Paling Penting di Dekade Pertama 2000” yang ada di halaman ke 173. Yang jelas, susunannya tidak kronologis jika kita mengacu pada keterangan tambahan “Daftar Tulisan” di bagian belakang buku.

Saya bertanya-tanya, apakah tidak terpikir bagi editor dan penulisnya untuk setidaknya menempatkan tulisan-tulisan ini ke dalam sub tema tertentu jika memang urutan tahun terbit tidak masuk sebagai pertimbangan? Atau, orang-orang yang bertanggungjawab di balik penerbitan buku ini berkeinginan untuk menampilkan semacam citra ketidakberaturan? Apakah mereka sedang berupaya merefleksikan chaos dengan urutan yang sim salabim? Mungkinkah, pengaturan yang tidak beraturan itu karena penerbit dan editornya terpengaruh dengan citra penulisnya yang dikenal sebagai anarkis? Sehingga membuat buku ini juga mesti ditata secara “anarkistik”?

Saya berharap dugaan-dugaan ini secara keseluruhan salah besar. Sebab, untuk buku yang memiliki konten sebagus “Setelah Boombox Usai Menyalak”, saya -jika menjadi editor- tidak akan melakukan hal-hal di atas. Sebaliknya, akan lebih menolong bagi para pembaca jika seluruh tulisan di dalam buku ini dipilah ke dalam tiga topik utama.

Pertama, adalah tulisan-tulisan yang terkait dengan persona-persona di dunia musik yang menjadi inspirasi dan tulang punggung cerita. Semisal, dua obituari tentang Adam Yauch dan Matt “Doo” Reid dan bagian soal Andry Moch. Sub tema kedua adalah soal interpretasi dan refleksi personal seorang Herry Sutresna tentang dunia di sekitarnya. Misal tulisan “Making Punk A Threat Again” dan “Suara Rakyat Bukan Suara Tuhan”. Bagian ketiga misalnya -yang akan menjadi menu utama- adalah satu subbab yang berisi review-review sosiohistoris mengenai album atau sebuah band. Bagian ini akan lebih padat ketimbang yang lain karena sebagian besar tulisan di dalam buku ini berada dalam warna dominan tersebut. Di bagian terakhir, sebagai pencuci mulut, pembaca dapat disuguhkan mixtape atau top ten ala Ucok.

Dengan pembagian tersebut, penulis, editor dan penerbit setidaknya sedang berupaya bermurah hati kepada para pembaca yang datang dari sebuah negeri yang gemar membakar dan melarang buku.

Secara fisik, saya menyukai sampul buku ini. Minimalis tapi sarat pesan. Ia tidak norak atau berupaya terkesan misterius. Tapi sudah lebih dari cukup untuk terus mengundang selera membaca. Bagian lain yang juga nilai lebih dari buku ini -di luar konten- adalah absennya ISBN seperti yang umumnya tercantum di buku-buku terbitan lain. Ucok pasti sengaja meniadakan hal ini. Dan dengan begitu, ia semacam melakukan provokasi soal apa itu copyleft dan redefinisi mengenai penerbitan indie. Kritik yang implisit semacam ini bukan milik ekslusif Elevation Books atau Ucok, namun menemukannya dalam buku sebagus “Setelah Boombox Usai Menyalak” membuat seorang pembaca seperti mendapatkan hadiah Natal yang datang berulang.

 

III

Selain mixtape tentang bela negara, dan lagu-lagu pilihan Ucok -entah sepuluh, lima belas atau seratus-, tulisan-tulisan di buku ini membekas bagi saya. Beberapa di antaranya bahkan memiliki rasa candu yang membuatmu ingin membacanya berulang kali. Sebagian lain, membuatmu ingin menelisik lebih jauh dari sekedar apa yang ia terangkan di dalam tulisannya.

Harus jujur diakui, Ucok adalah salah satu penulis sosial-politik terbaik yang dimiliki Bandung -yang cukup produktif menulis dalam satu dekade terakhir. Dan ia memilih musik sebagai pintu masuk. Tulisannya sangat personal, enak dibaca, mengalir dan memberikan sudut pandang yang enggan berjarak. Berbeda dengan kebanyakan penulis tentang musik yang datang sebagai outsider, Ucok adalah seorang pelaku dan memiliki lebih dari cukup pengalaman sebagai pegiat komunitas musik bawah tanah.

Pembeda lainnya -dan yang paling signifikan- adalah kenyataan bahwa Ucok dilengkapi dengan horizon bacaan yang luas. Pengetahuan Ucok mengenai Marxisme dan anarkisme harus diakui menjadi faktor paling signifikan dalam interpretasinya mengenai hiphop. Namun di tangan Ucok, dua kutub ideologi tersebut -yang bagi banyak orang adalah musuh abadi- terbukti efisien dan efektif untuk digunakan sebagai perangkat analisis. Keduanya secara cerdik digunakan mengurai dari Goodspeed You! Black Emperor, Downset, Scritti Politti dan Public Enemy. Di dalam “Setelah Boombox Usai Menyalak”, Ucok seperti sedang memamerkan dirinya dengan cara yang sangat elegan sebagai manusia yang tidak tunduk pada ideologi, tapi sebagai penguasa ideologi. Ia seperti sedang mengejek orang-orang di luar sana -yang mengaku Marxis atau anarkis, namun terjebak dalam kacamata kuda hingga begitu kaku, membosankan dan pada akhirnya menjadi gerombolan fanatis.

Jika mayoritas Marxis adalah para pembenci anarkisme yang tidak ilmiah, dan sebagian besar anarkis adalah mereka yang bahkan tidak tuntas membaca Das Kapital dan Grundrisse, maka Ucok seperti berada di level seperti para Situationiste -saya bahkan berani bertaruh bahwa grup ini justru adalah salah satu sumber inspirasi dominan dalam perjalanan intelektual seorang Harry Sutresna. Posisi semacam inilah yang mungkin tidak akan pernah bisa dimengerti oleh Martin Suryajaya. Imajinasi-imajinasi politik seperti yang ditawarkan oleh Ucok dalam praktik politik dan tulisan-tulisannya -yang mau tak mau membuat saya teringat bagaimana para Situationiste hanya dianggap sebagai sekumpulan seniman gila- sulit untuk dikerangkeng dalam dogma-dogma Marxisme ortodoks.

Agak sulit tampaknya membayangkan Martin yang begitu sinis dengan pemikiran dan praktik Otonomia –dan tentu saja anarkisme secara keseluruhan– mampu mengerti soal praktik yang otonom, desentralis namun terhubung dalam sebuah jaringan organik -sesuatu yang secara tidak langsung tampak begitu jelas diadvokasikan dalam tulisan Ucok. Menuduh orang-orang -seperti Ucok- sebagai mereka yang tidak bisa membedakan antara menggalang revolusi dan pergi piknik, itu semata-mata karena Martin abai terhadap asal-usul materialis dari pemikiran orang-orang seperti Ucok. Tipe yang mengalami fase radikalisasi tidak hanya dari diskusi-diskusi panjang dan melelahkan di ruang kelas -yang umumnya hanya dipenuhi mahasiswa-mahasiswa sok herois, sok humanis, sok humanis- atau berasal kamar hangat seorang filsuf ‘radikal’. Sebaliknya -seperti yang tercatat dalam “Setelah Boombox Usai Menyalak”, Morgue Vanguard adalah sosok yang lahir dari kombinasi dari pengalaman membenturkan literatur dengan aktivitas harian di jalanan, jatuh bangun pengorganisiran warga atau pentungan aparat.

Martin, juga mungkin tidak akan bisa mengerti sepenuhnya mengapa Ucok -yang adalah seorang punk- mengambil posisi yang sangat berbeda dan justru menulis kritik kepada punk di Aceh.

Pemahaman akan hal seperti ini hanya akan bisa muncul jika Martin paham mengenai dinamika komunitas punk di Indonesia.

Bagaimana rasanya mendapati banyak punk adalah orang-orang yang sangat nasionalis. Nasionalisme -sebuah keyakinan yang menempatkan negara-bangsa sebagai poros dan metamorfosis puncaknya adalah fasisme- tidaklah dilihat sebagai aib. Yang paling bisa dimaklumi adalah kenyataan bahwa injeksi tentang ideologi ini telah dimulai ketika seseorang bahkan belum layak berada di bangku sekolah dasar. Dari umur yang sangat muda, kita telah dipertontonkan dan tak jarang dilibatkan dalam ritual-ritual nasionalisme. Proses ini dilakukan hampir begitu sempurna hingga membuat seseorang sangat sulit menerima fakta bahwa negara melakukan kesalahan. Ada beberapa pengecualian. Namun hanya dalam kasus-kasus tertentu yang jumlahnya sangat minor.

Itu setidaknya bisa menjelaskan mengapa seorang punk terlibat begitu semangat dengan euforia 17 Agustus -yang tak jarang dihelat di puncak gunung, di tepi danau, di pantai, atau bahkan mungkin di lingkungannya sendiri. Itu biasa.

Ini bukan tanpa sebab. Karena memang hal ini diwariskan. Ideologi ini direproduksi dengan sempurna di mayoritas skena-skena punk itu sendiri. Ia dihidupkan dalam praktek dan diajarkan oleh generasi yang satu kepada generasi berikut. Direplikasi dan terus menerus diperbaharui dengan argumen-argumen baru yang sebenarnya penuh borok. Kita misalnya akan dengan mudah menemukan lirik lagu-lagu punk yang kental dengan semangat nasionalisme. Hal itu bukan dilakukan tanpa sadar. Karena tentu saja sebuah lagu bukan hasil dari ketidaksengajaan atau kecelakaan waktu. Sebuah lagu merupakan ekstraksi dari isi kepala penulis dan komposer lagu tersebut. Setiap kata telah melalui seleksi ketat dalam otak melalui proses kognitif sebelum terangkai. Karena itu lagu bukan produk sim sala bim. Setiap lagu merupakan produk historis yang memberi penjelasan tentang si penulisnya.

Kritikannya terhadap peristiwa penangkapan di Aceh dan respon punk di daerah lain menunjukkan bahwa Herry Sutresna adalah seorang penjudi yang baik. Untuk berjudi, diperlukan dua hal: tahu dan berani. Seorang penjudi yang baik adalah seseorang yang tahu dengan benar apa yang sedang dihadapinya dan konsekuensi yang bakal menjadi ganjaran. Di saat yang bersamaan ia juga mesti berani untuk mempertaruhkan semua yang ia miliki.

Saya berani mengatakan bahwa kebanyakan punk di Indonesia tak punya itu. Mereka tak tahu dan tak berani.

Sebab untuk tahu sesuatu, seseorang mesti berani melakukan pengorbanan. Mengorbankan waktu, uang, relasi sosial dan bahkan cinta. Untuk mendapatkan pengetahuan, seorang punk mesti menantang diri sekaligus menerima tragedi dengan tangan terbuka. Agar seseorang berani melakukan itu semua, ia mesti tahu dengan dirinya, lingkungan sosial dan alam di sekitar dirinya. Dia mesti mengenali apa kebutuhan, kemampuan dan batas-batas imajiner lain yang akan dilampaui. Tanpa itu semua, seperti menuju medan pertempuran tanpa persiapan dan senjata.

Tahu dan berani adalah proses yang berjalan beriringan dan mesti dihentak bersamaan geraknya. Jika hanya menyalakan salah satu, imbalansi yang akan menjadi hasil. Memiliki pengetahuan tetapi penakut atau kemudian menjadi pemberani tanpa pengetahuan. Jika orang dengan ketidakseimbangan seperti itu menghadapi perang, tentu saja ia berakhir menyedihkan.

Menurut saya, itulah yang menjadi alasan mengapa seorang Morgue Vanguard memiliki interpretasi yang unik terhadap ideologi-ideologi tersebut -yang pada akhirnya menjadi marka pembeda dirinya dengan kebanyakan penulis musik di Indonesia yang kering dan tampak mirip satu dengan yang lain. Ia memiliki cara bertutur yang khas. Dalam “Setelah Boombox Usai Menyalak”, kita bisa menemukan dengan jelas hal tersebut. Bagaimana seorang Herry Sutresna dengan jeli memilih untuk menulis secara kronik dan tidak luput mengurai soal iven-iven sosial di seputaran musisi, lagu atau sebuah album. Pengetahuan dan kedalaman analisis yang dimilikinya adalah sesuatu yang direngkuh dengan pengorbanan yang tentu tidak murah dan tanpa harga.

Faktor lain yang membuat buku ini berbeda bagi saya adalah deklarasi tanpa malu-malu “Setelah Boombox Usai Menyalak” untuk mengambil sebuah posisi. Berbeda dengan dogma akan netralitas yang menjangkiti kebanyakan penulis musik di Indonesia, Ucok tidak berpura-pura atau menyangkal bahwa musik yang ia dengar -dan kemudian memprovokasi musik yang ia hasilkan di kemudian hari- adalah produk yang absen dari pertikaian-pertikaian sosial dan pertentangan kelas. Semuanya terang benderang tampak di setiap artikelnya. Kadang, dalam tulisannya secara implisit Ucok sedang mempromosikan musik yang lahir dari latar belakang seperti ini.

Bagi saya, dalam buku ini Ucok seperti sedang mengkomunikasikan kepada para pembaca bahwa musik yang mengingkari eksisnya pertikaian-pertikaian sosial di sekitarnya, adalah produk yang hampa: tak berjiwa. Tapi di saat yang bersamaan juga menekankan bahwa hal tersebut tidak sinonim mengenai keharusan agar musik dikemudikan oleh propaganda politik murahan -yang pada kebanyakan kasus justru memiliki efek merusak maksimal hingga sebuah produk seni menjadi semacam rapalan dogmatis yang terdengar seperti sirene bangun pagi di barak tentara.

Hal-hal di atas membuat tulisan-tulisan di dalam “Setelah Boombox Usai Menyalak” terasa legit dan layak untuk dibaca berulang-ulang.

 

IV

Saya terus berupaya menahan diri untuk tidak membaca lagi artikel mengenai Scritti Politti dan Godspeed You! Black Emperor dalam “Setelah Boombox Usai Menyalak”. Perasaan ini terus mengganggu sejak taksi baru meninggalkan kantor hingga kini ketika kami telah selesai check in. Sekali saat sore tadi rasanya justru membekaskan rasa tidak puas. Tapi hal ini urung saya lakukan. Sebab kepada perempuan yang kini sedang menyantap makan malamnya, saya pernah berjanji bahwa tidak akan membaca berita dan buku, berbalas komentar di media sosial atau menghabiskan waktu memainkan Football Manager 2017 ketika ia berada di samping. Liburan kali ini adalah soal kami berdua dan ponsel akan selalu dalam keadaan off. Apalagi hari ini, tubuhnya berada dalam kondisi yang kurang sehat.

Semuanya makin runyam karena saya tahu betul bahwa rasa makanan di restoran-restoran yang berada di bandara, hanya setingkat lebih baik dari dapur umum.

“Kau akan membaca buku itu sekarang?” Sepasang matanya menatap buku berwarna merah gelap yang menjadi alas ponsel.

Saya mengangguk pelan. “Nanti ketika berada di dalam pesawat. Belum sekarang.” Ia tersenyum mendengar jawaban tersebut. “Sekarang, aku hanya ingin berduaan denganmu. Itu saja.” Saya menggenggam tangannya. Meyakinkan dirinya bahwa rutinitas membaca buku kini bukan berada di puncak prioritas sebagaimana hari-hari kemarin. Selama seminggu ke depan, ia akan menjadi yang utama.

Kami memasuki ruang tunggu seperti yang tertera di lembar tiket, lalu bergegas memilih tempat duduk. Kami duduk berdampingan. Ia yang berada di sebelah kiri lalu merebahkan kepalanya ke pundak. Bau rambutnya dengan mudah tercium. Aroma rasa lelah yang tidak terbawa arus karena jangkar kegembiraan masih cukup kuat menahan. Saya menatap sejenak buku berwarna merah gelap di bangku sebelah kanan. Huruf-hurufnya seperti sedang merayu agar kembali dibaca. Segera.

Sementara di dalam kepala, ada kalimat-kalimat imajiner yang terangkai secara magis. Ia melintas begitu saja. Tentang bagaimana nanti menuliskan kesan setelah usai membaca buku ini. Saat itu pula, saya berjanji akan berupaya sekuat tenaga untuk tidak menjadi spoiler bagi mereka yang belum membaca buku ini. Saya tidak akan menggelar isi perut buku ini di dalam review singkat dan naif semacam ini. Sebab, bacaan sebagus “Setelah Boombox Usai Menyalak” harusnya menjadi kejutan personal bagi tiap-tiap orang yang membacanya. Anda hanya perlu menghubungi Elevation Books melalui email atau twitter. Jika mereka nanti kurang puas dan ingin menambah dosis, setiap orang bebas untuk mengunjungi Gutterspit, blog pribadi Ucok. Di dalamnya ada tulisan-tulisan serupa dan tak kalah bagus dengan yang ada di dalam buku.

Sembari membaca, mungkin track dari Bars of Death ini ini layak diputar sebagai kawan. Seperti yang saya lakukan tadi sore ketika perempuan itu sedang tertidur.

Andre Barahamin