Shortspit: PMKRI dan Kelucuan Gerakan Pelajar

Melaporkan Rizieq Shihab adalah lelucon paling bodoh yang dilakukan gerakan pelajar. Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI) tentu saja, sebagai sebuah entitas pelajar sekali lagi menunjukkan kepada publik luas bahwa seperti mereka sama konyol dengan HMI yang kemarin merampok rumah makan. Anehnya, banyak yang kaget. Sebagian lain menyayangkan sikap PMKRI. Sementara, minoritas bigot lain mendukung sikap itu -terbuka atau malu malu. Padahal, perilaku tolol sejenis ini sering berulang. Terlalu sering bahkan.

Mengapa PMKRI idiot? Ada beberapa sebab. Saya akan coba urutkan di sini sebagai kado Natal juga ungkapan rasa kasihan saya kepada organisasi bau bangkai macam PMKRI. Tapi, versi pendek saja. Biar gampang dilahap. Jadi pas kalian mau bagikan kepada para bigot, mereka gak susah ngunyahnya.

PERTAMA, faktor historis. Pasca 1965, gerakan pelajar menjadi elitis. Ia menjadi sebuah entitas yang merasa memiliki identitas kelas yang terpisah. Tidak mengakui sebagai bagian dari proletar kebanyakan, tapi juga menyadari bahwa mereka tidak mungkin mengaku borjuis. Absennya politik kelas pasca 1965 ini membuka jalan lahirnya “kelas menengah”. Kalangan terdidik yang apolitis, ahistoris dan berisik. Kelompok paling tidak tahu diri dan sok tau.

Definisi kelas dalam terma “kelas menengah” adalah bentuk banalitas paling brutal. Secara filosofis tidak memiliki makna, secara politis tidak memiliki daya, secara artistik tidak memiliki gaya.

Organisasi pelajar adalah salah satu yang bertanggung jawab. Sebab ia membiarkan universitas menjadi masa inisiasi seseorang menjadi bagian dari “kelas menengah”. Sekaligus di saat yang bersamaan, organisasi pelajar semacam PMKRI mengubah diri macam sekte. Isinya? Pengikut tanpa logika yang bertingkah macam anjing piaraan.

Implikasinya dari poin PERTAMA di atas adalah problem KEDUA, yaitu faktor ideologis.

Kita tahu bersama, pasca 1965 gerakan pelajar menjadi anti-ideologi. Mereka menjadi pengecut untuk mengambil posisi, lalu menyelimuti diri dengan tabir netralitas dan seribu satu kemunafikan lain. Kondisi agak membaik ketika Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) lahir. Pasca 1965, SMID adalah organisasi level nasional pertama yang memiliki keberpihakan ideologis. Kejelasan sikap ini dapat dilacak dari praktek politik dan administratif mereka -terlepas banyak catatan yang patut dikritisi. Namun sayang, SMID tidak berumur panjang.

Setelah Soeharto jatuh, ada beberapa harapan prematur. Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) sempat hadir mengisi ruang politik sayap Kiri. Namun, ia terjebak dengan sentralisme akut ketika memilih melebur komite-komite aksi tingkat kota dan beralih rupa seperti organisasi karatan jaman Orba. Di barisan Islam Politik, ada Kesatuan Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang juga berantakan karena overdosis intervensi dari Partai Keadilan Sejahtera.

Sejak 2004, baik LMND maupun KAMMI menjerembabkan diri pada kubangan tai sapi. Sebabnya, karena mereka juga ingin menjadi “seperti bangkai warisan Orba” setelah secara sembrono memakan racun propaganda neoliberalisme bahwa pelajar “harus objektif, tidak berpihak, dan tidak berpolitik”. Hilangnya jangkar ideologi pada LMND dan KAMMI membuat keduanya menjadi sekedar lelucon hari ini.

Jika LMND disibukkan dengan perpecahan demi perpecahan -yang diakibatkan pertengkaran elit PRD, maka KAMMI sekarang sedang sibuk pada “Anti Asing dan Anti Aseng” dan berpropaganda bahwa bumi itu datar adanya.

Faktor KETIGA adalah soal militerisme. Organisasi-organisasi pelajar di Indonesia gagal dengan spektakuler di soal ini. Mau bukti? Coba lihat bagaimana bersemangatnya mereka ketika masa perploncoan mahasiswa baru tiba. Ajang pelajar senior menyiksa pelajar junior menjadi momen penting.

Poin di atas bertaut erat dengan soal KEEMPAT, yaitu feodalisme. Wajah feodalisme terlihat jelas dalam bentuk patron-patron di dalam tubuh organisasi pelajar. Generasi tua yang dominan di atas mental budak generasi yang lebih muda. Hal ini dimungkinkan karena inferiorisme dipelihara dan dipertahankan. Bukti lain adalah penyebutan MAHAsiswa yang memberi kesan bahwa mereka bukan pelajar -semata karena tidak menggunakan seragam.

Alasan KELIMA adalah soal MACHOISME yang enggan dianggap penyakit dan dijadikan musuh dalam tubuh organisasi pelajar. Sikap anti feminis ini membuat gerakan pelajar gagal mengartikulasikan posisi historisnya sebagai anak kandung proletar yang tidak lain adalah produk dari pabrik kognitif bernama universitas. Para pelajar lupa bahwa mereka secara esensi tidak berbeda dengan tahanan penghuni penjara dan pasien di rumah sakit jiwa.

Alasan lainnya: karena mereka yang hari ini mendaku diri sebagai aktivis pelajar tidak lebih dari sekumpulan bigot yang tidak memiliki otak. Jadi yah gitu. Goblok sejak dari dalam pikiran sehingga idiot dalam praktek dan ucapan. Mending jadi anak Pramuka sekalian.

— — —

PS: Yang menarik, ketika kritik saya terhadap PMKRI kemarin, ada beberapa jenis tanggapan yang muncul. Di luar mereka yang bersepaham dengan saya, ada beberapa komentar kontra yang menarik untuk diklasifikasikan.

PERTAMA, mereka yang bersepakat dengan PMKRI. Mereka sepakat jika fasis dan seorang intoleran seperti Rizieq Shihab mesti dihajar dengan tindakan yang sama. Jika Ahok dilaporkan karena pencemaran agama, maka Rizieq juga.

Mereka ini menurut saya, adalah orang-orang yang sama yang bersepakat agar pembunuh dihukum mati, pemerkosa dihukum kebiri, dan jenis ganjaran serupa. Pokoknya, mata ganti mata. Tak peduli seluruh dunia nanti buta. Tangan ganti tangan. Tak peduli jika nanti semua jadi buntung. Menang jadi abu, kalah jadi arang? Tak soal!

Tipe KEDUA, para begawan instan. Intinya, mereka sepakat pada kritik saya namun tidak bersepakat dengan gaya bahasa yang digunakan. Mereka meminta saya sopan, jangan kasar, tidak mencela, dan lain sejenisnya.

Orang-orang ini bagi saya adalah moralis katrok yang takut dengan kelugasan bahasa. Mereka masih hidup dalam narasi bahasa eufimistik Orde Baru yang mendayu-dayu, berkabut, tidak langsung, penuh tikungan, dan juga rawan penipuan. Jenis manusia macam ini, tidak sanggup menerima kenyataan. Kebenaran memang sering terasa pahit.

Jenis komentator KETIGA adalah kelompok yang merasa bahwa kritik terhadap PMKRI hanya benar sepanjang ia tidak mengkritisi gerakan pelajar. Mereka merasa tingkah PMKRI bukan representasi organisasi pelajar.

Secara implisit, mereka ingin bilang mereka jauh lebih baik. Tapi, mereka bahkan tidak menanggapi lima poin kritik yang saya ajukan. Para komentator tipe ini bahkan tidak bisa menjelaskan alasan IPO dibalik penggunaan terma “mahasiswa” dan bukan “pelajar”. Semisal para buruh yang menolak disebut karyawan.

Saat menulis ini, saya teringat sebuah ayat di Alkitab. “Jangan membuang mutiara kepada babi.”