Macchiato Kenangan di Savannakhet

Kaget.

Itu yang saya rasakan saat pertama kali memandangi bagian atas kedai kopi plus resto ini. Namanya terpampang besar di bagian atas depan yang begitu mencolok dari jalan raya. Papan nama yang mungkin terbuat dari bahan besi tahan karat berwarna perak. Pantulan sinar mataharinya cukup untuk membuat matamu terganggu.

Beranda Macchiato De Coffee didominasi warna gelap dengan jendela kaca di sana sini. Kau hampir bisa melihat seluruh bagian dalam dengan cukup berdiri di teras. Di sebelah kanan ada dua kotak telpon umum khas tanah Britania. Dicat merah menyala dan diletakkan hampir berdempetan. Halaman parkirnya sangat luas untuk ukuran kafe.

Kepala saya berputar ke masa lalu. Beberapa tahun lampau ketika sedang berada di sini. Juga rentang masa di mana saya begitu sering hilir mudik antara Vietnam-Thailand. Dalam ingatan saya, kedai kopi ini tidak ada. Macchiato De Coffee belum eksis ketika jalanan berdebu dengan pembangunan yang berjalan lambat, pos imigrasi, warung-warung mi, bar dan resto murahan serta tempat-tempat bermain billiard-nya begitu saya akrabi.

Ingatan saya tentang Savannakhet hanya dua. Pertama, kegersangan yang berpilin dengan debu jalanan. Berjalan kaki siang hari di kota ini terasa seperti pelatihan militer yang membosankan. Tidak ada pohon peneduh, mobil yang hilir mudik, perempatan jalan yang tidak terurus hingga mesin-mesin ATM yang tampak kusam. Selanjutnya adalah mengenai bar-bar mini yang terletak di berbagai sudut kota. Tempat seperti ini adalah ruang eskapik bagi ekspatriat dan mereka yang berhenti sejenak di Savannakhet. Semacam halte waktu di mana para peminum bir bertemu kemurahan hati khas Laos. Beerlao, bir khas Laos yang mudah ditemukan di sana sini dijual dengan ukuran yang lebih murah dari ibukota. Sebagai komplemen, kacang disediakan bagi mereka yang tidak tahan menenggak alkohol tanpa mengunyah sesuatu.

Saya pertama kali menginjakkan kaki di Savannakhet pada akhir 2013.

Medio November tahun itu, saya bersama dua orang kawan, menyeberang dari Mukdahan, Thailand. Kami bertiga adalah prajurit sewaan yang dikontrak beberapa waktu untuk mengumpul informasi di Savannakhet. Operasi mengumpulkan pundi-pundi uang yang dibalut dengan pembenaran akademis ala penghuni menara gading. Tim amatir yang ditugaskan untuk melakukan riset mengenai aktivitas lintas batas antar negara. Kami diminta melihat bagaimana anak muda berperan di arus pergi-pulang di tapal dua negeri. Maklum, saat itu ASEAN Economic Community sedang jadi topik utama. Menurut desas desus, ada banyak uang yang tersedia di beberapa universitas top di Thailand. Dana ini hanya bisa diakses melalui rangkaian riset yang dipandang memiliki dampak dan kontribusi bagi ide masyarakat konsumen di region Asia Tenggara. Kau tidak harus jadi pintar di kelas. Cukup jadi paling cerdas, gesit dan sedikit menjilat para profesor. Jika semuanya lancar, dipastikan kau bisa mengulur tangan untuk mendapatkan sedikit bagian.

Keberuntungan nasib, latar belakang sebagai seorang anak kampung yang berasal dari perbatasan, serta sedikit pengalaman yang tercantum di riwayat hidup membuat saya diajak terlibat. Meskipun faktanya kemampuan bahasa Laos saya nol besar, dan daya komunikasi dalam bahasa Thai sangat buruk. Kelemahan-kelemahan itu membuat saya harus rela menjadi penerima informasi tangan kedua setelah dua partner saya yang berasal dari Thailand dan Laos. Sejak dimulainya riset, masing-masing kami saat itu saling menyimpan tanya dan curiga soal siapa yang mendapatkan bayaran lebih besar.

Kawan pertama. Lambai Souvanlorpaying yang berasal dari Luang Phrabang, mengaku belum pernah menginjakkan kaki di Savannakhet meski ia berasal dari Laos. Ia justru tak tahu banyak soal tempat ini. Sepanjang hampir tiga minggu periode penelitian, Lambai hanya mengoceh tentang betapa Luang Phrabang adalah tempat terindah dibandingkan Vientiane atau Savannakhet. Kuat dugaan saya, hal ini tidak lepas dari kebanggaan teritorial yang begitu kental dalam sejarah Laos. Negeri ini adalah proyek unifikasi sepihak Prancis dengan menggabungkan tiga kerajaan besar: Luang Phrabang, Vientiane dan Champasak. Meski di masa sebelumnya, ketiga wilayah ini berada di bawah dinasti Lan Xan, sebelum kemudian terpecah. Luang Phrabang sempat menjadi teritorial kerajaan Burma, sementara Champasak di bagian selatan dikuasai Siam.

Sementara kawan kedua saya: Gwisanee Nata adalah seorang perempuan asal Khon Kaen, di bagian timur laut Thailand. Daerah ini lebih dikenal dengan nama Isaan, dan dialek bahasanya lebih mirip Laos. Di masa lalu, wilayah Isaan adalah pintu masuk para gerilyawan komunis Laos dan Vietnam semasa periode perang gerilya Partai Komunis Thailand. Senjata dan dukungan finansial Cina, Vietnam dan Laos mengalir, salah satunya melalui Mukdahan yang berbatasan dengan Savannakhet. Dukungan dari Vietnam sendiri tidak bisa dilepaskan dari fakta sejarah bahwa wilayah ini memiliki ikatan dengan Nguyen Sinh Cung (Ho Chi Minh). Revolusioner asal Vietnam ini sempat singgah bermukim di Isaan untuk beberapa waktu ketika berada dalam pelarian dari kejaran Prancis. Paman Ho sempat tinggal di Nakhon Phanom yang berbatasan dengan Savannakhet.

Jangan heran jika wilayah ini memainkan peran strategis di periode perang pembebasan Vietnam selatan dari cengkraman Amerika Serikat. Berbatasan dengan Quang Tri, Savannakhet menjadi salah satu basis satelit para gerilyawan Vietcong untuk menghantam musuh. Hingga hari ini, ada banyak imigran Vietnam yang kini menetap dan menjadi warga negara Laos. Beberapa keluarga yang sempat kami wawancarai adalah mantan kombatan perang unifikasi Vietnam. Hari ini, orang-orang Vietnam di Savannakhet adalah salah satu kelompok etnis mayoritas. Cara menemukannya begitu mudah. Lihat saja siapa yang duduk bergerombol santai di trotoar jalan pada pagi hari sembari meminum kopi.

Satu-satunya akses menuju Savannakhet dari dataran Siam adalah melewati Thai-Laos Friendship Bridge II (FSB II) yang membentang di atas sungai Mekong.

Tempat ini bisa dicapai jika anda telah melewati siksaan sebelas jam duduk terbujur duduk dalam bus yang berangkat dari terminal Mo Chit di Bangkok. Sediakan 500 baht untuk menebus tiketnya. Tiba di Mukdahan, kalian harus kembali berganti bus khusus yang menghantar para pelintas batas. Bus paling pertama akan berangkat pada pukul 7.15 pagi hari. Sementara rute penyeberangan terakhir akan ditutup pada pukul 9 malam. Setiap 45 menit akan ada satu bus yang siap menghantar para pelintas batas. Hanya dibutuhkan kurang dari setengah jam untuk melalui dua pos pemeriksaan imigrasi Thailand-Laos. Ongkos bus ini cukup murah. Hanya 50 baht atau sekitar 20 ribu rupiah.

Macchiato De Coffee akan terlihat begitu bus memasuki Savannakhet setelah melewati pengecekan imigrasi. Silahkan menengok ke jendela sebelah kiri. Ukuran papan nama raksasa begitu menonjol.

Savannakhet adalah nama kota sekaligus merujuk pada provinsi. Secara literer ia dapat diartikan sebagai “Kota Surga”. Penamaan ini terkait erat dengan klaim masa lalu soal tingkat kesuburan tanah Savannakhet yang di atas rata-rata. Pertanian kala itu adalah berkah dan menjadi petani adalah kebanggaan. Lokasinya yang persis di pinggir sungai Mekong membuat para penduduk provinsi terbesar di Laos ini dahulu menyandarkan penghasilannya dari pertanian. Belum termasuk menyebut soal melimpahnya ikan di sepanjang sungai Mekong. Sewaktu Laos baru belajar menyeimbangkan diri sebagai sebuah republik komunis, banyak hasil pertanian mereka yang diekspor ke Quang Tri, Vietnam. Sebagian kecil lain dipasarkan diam-diam ke Mukdahan dengan harga murah. Namun bagi banyak penyeludup di masa itu, harga yang ditawarkan masih jauh lebih baik dari pasar domestik yang protektif namun luput menghitung biaya produksi dan tenaga kerja.

Orang-orang di Savannakhet adalah saksi bagaimana Laos yang pontang panting berdikari. Seruan negara untuk berhemat, kemiskinan yang meluas karena kesalahan kalkulasi politik, minimnya infrastruktur pendidikan dan kesehatan adalah penanda-penanda yang berupaya untuk dihapus para penduduk kota ini dari ingatan mereka.

Embargo ekonomi internasional, blokade Thailand, berkurangnya topangan finansial Cina secara drastis di masa genting, antipati Vietnam yang dibayangi sengkarut perselisihan Sino-Soviet di masa lalu, adalah sedikit di balik banyak alasan mengapa Laos kemudian mulai membuka diri di awal dekade 1990-an. Tirai kemudian dibuka lebar pasca krisis ekonomi yang menghantam Asia. Salah satunya, adalah membiarkan perusahaan-perusahaan tambang multinasional untuk kemudian masuk dan melakukan ekstraksi.

Savannakhet dijamah Australia pertama kali. Mereka menggarap distrik Sepone. Setelah pertambangan di Sepone dibuka awal dekade 2000-an, arus uang dan merkuri menggiring banyak orang mengganti pekerjaan. Dari petani menjadi buruh. Sepone lalu menjadi kebanggaan Savannakhet. Ia adalah pertambangan emas dan tembaga terbesar di Laos meski faktanya kini konsesi Sepone dimiliki oleh Minerals and Metals Group (MMG), sebuah perusahaan joint venture Australia dan Cina. Sepone juga menjadi pelopor berdirinya pertambangan-pertambangan lain di daerah ini. Di provinsi ini, ada sekitar enam titik pertambangan lain yang dibuka setelah Sepone.

Dan kedai kopi seperti Macchiato De Coffee adalah salah satu monumen. Di sini kita dapat menelusuri bagaimana sebuah wilayah secara perlahan bertransformasi. Dari daerah pinggiran rural yang tulang punggung ekonominya adalah pertanian, kini menjadi kota jasa yang pinggirannya digerakkan oleh ekstraksi tambang emas dan tembaga.

Macchiato De Coffee sadar betul bahwa tidak jauh dari situ ada konsulat Thailand yang menjadi destinasi utama para pemburu visa. Kebanyakan dari mereka adalah ekspatriat yang tidak akan pernah singgah di Savannakhet jika bukan karena batas waktu untuk tinggal di berbagai sudut Siam hampir tandas. Mengurus visa di Savannakhet juga menjadi opsi paling logis. Murah untuk dicapai dan menawarkan paket lebih ramah kantong ketika mengajukan perpanjangan ijin tinggal. Lagipula pendingin udara, menu kopi, cemilan khas daratan Eropa serta kemampuan berbahasa Inggris para pelayannya seperti mengirim tanda bahwa Macchiato De Coffee berada di level yang lain dibanding kedai kopi lain yang berpikir menjadi pesaing. Ketika terik matahari bercampur dengan penantian visa, kafe ini adalah pilihan paling logis untuk mengusir penat.

Itu mengapa saat memasuki Macchiato De Coffee, saya sadar sedang melihat wajah Savannakhet yang berbeda dari tahun-tahun kemarin. Memutuskan memesan segelas kopi di kafe ini adalah upaya sadar untuk memperbaharui ingatan tentang tempat ini. Bahwa sekarang Savannakhet bukanlah Sapone yang berdebu dan muram karena terus menerus dicurangi asing. Kota ini justru merangkul erat para pendatang Eropa dan menjadikan mereka sumber mengucurnya uang. Macchiato De Coffee adalah balon warna warni dan hiasan yang menggelantung ketika hari raya tiba. Savannakhet yang direpresentasikan Macchiato De Coffee mengingatkan saya pada ajakan-ajakan nakal dan mesum perempuan malam di kafe-kafe kecil di Luang Phrabang. Macchiato De Coffee tidak sedang meratapi nasib Laos yang hingga kini masih dianggap terbelakang dan dipandang sebelah mata oleh Thailand dan Vietnam.

Meski rasa kopi di sini mengecewakan, saya memilih menutup mulut dan tersenyum lalu menikmatinya. Saya sadar benar sedang menjadi saksi sebuah adaptasi. Segelas macchiato yang saya teguk di Macchiato De Coffee tak ubahnya kecupan nakal di pipi setelah kau berjalan keluar dari tempat pelacuran dini hari.

Macchiato De Coffee adalah geisha yang menertawakan mereka yang meremehkan Savannakhet. Karena tampaknya Savannakhet tahu betul, besok atau lusa kita akan kembali ke dalam pelukannya.

 

Terbit perdana di Minum Kopi

Andre Barahamin