Demi Espresso Sebelum Terbang

Ada beberapa tempat yang kita lupa. Meski berkali singgah. Mungkin, karena sejak awal ia bukan halte. Kita seperti terdampar. Terpaksa mesti meluangkan waktu.

Begitu juga dengan kafe JJ Royal bagi saya.

Meski kafe ini sudah hampir selusin kali saya singgahi, ia seperti hilang dalam ingatan. Ia menjadi terlihat sebagai titik penting baru-baru ini saja. Sebabnya, JJ Royal adalah salah satu opsi yang tersisa untuk pengudud kretek seperti saya. Setiap kali ingin melewati proses pemeriksaan tahap akhir di jalur keberangkatan Gate D, Terminal 2, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tanggerang, kafe ini selalu jadi destinasi antara. Sebelum merelakan korek api dan air mineral disita petugas bandara. Satu, dua, tiga batang kretek selalu saya habiskan di sini. Tentu dengan ditemani secangkir kopi.

Dari sekian menu makanan dan minuman yang ditawarkan, hanya Double Espresso yang jadi langganan. Menu kopi lainnya menurut lidah dan otak saya macam tak adil. Harga dan rasa berbanding terbalik. Jelas, mahal tak selalu sinonim dengan kualitas.

Harga kopi di kafe macam JJ Royal adalah kelindan banyak soal. Mulai dari harga sewa tempat yang mahal, pajak penghasilan yang ikut menempel, fluktuasi pengunjung yang tidak seberapa, beban biaya listrik, gaji pegawai, harga kopi yang ditawarkan oleh agen, hingga soal remeh semacam gengsi.

Terminal 2 di Bandara Soekarno-Hatta memang agak berbeda. Ia melayani beberapa rute domestik Garuda Airlines, maskapai yang harganya tergolong mahal di Indonesia. Juga menjadi pintu masuk dan keluar beberapa penerbangan asing seperti Malaysia Airlines, Phillipines Airlines hingga Qatar Airways. Saya menduga kuat, itu alasan mengapa beberapa pelayan JJ Royal bisa bercakap bahasa Arab ala kadarnya. Mereka melatih diri agar bisa menyentuh sisi psikologis pengunjung kafe yang berasal dari Timur Tengah.

Untuk setiap cangkirnya, Double Espresso harus ditebus seharga Rp. 40.000. Masih tetap mahal. Tapi, di Gate D, hanya JJ Royal atau puasa ngudud dan ngopi sama sekali.

Rasanya lumayan. Tidak buruk untuk kafe yang dilengkapi mesin untuk merisak kopi. Ekstrak kopi ala Italia ini cukup membantu untuk mengecoh rasa lelah sebelum terbang ke negara tujuan atau rute dalam negeri lain. Kebiasaan untuk lebih memilih penerbangan dini hari atau larut malam, membuat kopi selalu jadi penting. Mencegah kantuk dan membantu saya untuk tetap fokus mendengarkan pengumuman waktu lepas landas atau kemungkinan tertundanya penerbangan.

Espresso JJ Royal adalah campuran Arabika Kintamani, Torabika Lampung dan sedikit Arabika Sunda. Mereka tak merendang kopi sendiri. Cukup beli dari penyedia yang sudah dipercaya. Tapi, tak ada pelayan yang bisa menyebutkan nama supplier mereka.

“Urusan itu, manajer yang tau.” Doni, pelayan JJ Royal yang wajahnya mulai terasa akrab karena beberapa kali bersua.

Para pelayan biasanya lebih agresif untuk menawarkan Kopi Luwak kepada setiap yang ingin memesan kopi

“Ini kopi bagus. Asli Indonesia. Rasanya enak.” Tiga kalimat ini dirapal macam mantra oleh para pelayan di sini. Sewaktu terakhir kali menghabiskan hampir satu jam di sini, saya mendengar kalimat-kalimat itu berulang-ulang. Entah dalam bahasa Indonesia, Inggris atau bahkan Arab. Repetisi yang cukup untuk membuat otak seseorang langsung ingat. Harga Kopi Luwak per cangkir menyentuh Rp. 60.000 di sini.

Tapi sekali lagi, hanya double espresso mereka yang membuat saya terkesan.

Espresso, adalah jenis penyajian kopi yang berasal dari Italia. Bagi beberapa orang, jenis penyajian kopi tanpa saring ini dipandang sebagai kunci untuk memahami bagaimana kultur kopi di negeri yang menjadi pernah menjuarai Piala Dunia sepakbola ketika skandal suap dan kecurangan merajalela.

Mesin perisak untuk menyajikan espresso harus berterimakasih pada Revolusi Industri. Karena peradaban mesin itulah, di tahun 1901 alat untuk memeras sari kopi secara cepat ditemukan. Espresso dapat secara sederhana diartikan sebagai “express” dalam bahasa Inggris. Cepat, kata Melayu. Untuk inilah, saya berterimakasih kepada Milan karena melahirkan seorang Luigi Bezzara.

Di tahun 1905, paten mesin espresso Bezzara dibeli oleh Desidero Pavoni. Nama terakhir ini lalu mulai memproduksi mesin yang dikreasikan Bezzara dalam jumlah massal. Generasi pertama mesin espresso diberi nama: Ideale.

Idealedan Pavoni tidak lain bagi saya, adalah gambaran keangkuhan ala Italia. Kecongkakan yang justru membuat kita jatuh cinta, dan bukan menjauhinya.

Penemuan mesin espresso membuka jalan lahirnya kata barista di tahun 1938. Jadi jangan berpikir bahwa Starbucks adalah penggagas terma ini. Penamaan ini merujuk pada persona di belakang meja dapur yang bertanggungjawab untuk menyediakan minuman bagi para pengunjung. Diserap dari barman yang populer di tempat para pemabuk di negara baru bernama Amerika Serikat. Dan sekali lagi, keangkuhan Italia menemukan pijakannya. Para penyeduh espresso Italia enggan menyebut diri mereka barman dan memilih dipanggil barista. Bagi para Italiano di belakang meja penyeduhan, mereka adalah artis. Para penampil yang mulai berdansa sejak menu dipesan. Hasil akhir mereka adalah karya seni. Espresso adalah klimaks naskah dan barista adalah aktor teater.

Setelah dua Perang Dunia yang melelahkan, Achille Gaggia tampil menyelamatkan kultur kopi di Italia yang lesu. Ia menciptakan mesin baru dua tahun setelah Hiroshima dan Nagasaki hancur oleh arogansi. Mesin ini, mampu merisak kopi hingga menghasikan topping berwarna coklat terang di atas perasan kopi. Sebagian orang mengenalnya sebagai crema.

Setahun kemudian, Gaggia yang jatuh miskin menjual temuannya kepada Ernesto Valente. Seperti Pavoni, Valente menciptakan ribuan mesin untuk dipasarkan. Gaggia marah dan memboikot. Dalam sebuah surat terbukanya, Gaggia menyebut temuannya sebagai karya seni. Kreasi tingkat tinggi yang harusnya dinikmati oleh mereka yang mengerti bagaimana menikmati espresso.

Tapi Valente tidak peduli.

Protes Gaggia justru menjadi alasan Valente untuk melakukan eksperimen. Hasilnya: mesin Faema E61 yang dianggap banyak orang sebagai asal muasal espresso modern. Mesin semi-otomatis pertama yang mampu merisak kopi dengan lapisan crema yang ayu. Membuat para penikmat espresso seperti sedang mencumbu bibir kekasihnya setelah lelah seharian bekerja. Merayakan industrialisasi dan delapan jam kerja penuh keterasingan.

Itu alasan saya mencintai espresso ketika menunggu pengeras suara mengabarkan kapan leha-leha selesai. Sejarah dan rasanya, mewakili kelompok precariat Jakarta macam saya yang hanya bisa menggerutu, mencaci dunia namun merengkuhnya dengan erat. Espressobagi saya adalah representasi betapa kehidupan urban adalah ambiguitas yang dirayakan dengan congkak. Persis seperti di masa lampau, kelas pekerja Italia yang muram karena kalah perang namun mengingkarinya dengan menunjuk Renaissance.

Menenggak espresso adalah apologi paling romantik di kegaduhan kota. Bahwa yang kami rayakan, adalah sisa-sisa hidup yang dirisak mesin dan menetes tak seberapa. Bahwa tulang-tulang kami adalah biji kopi, espresso adalah upah dan crema adalah ilusi yang kami beri nama: masa depan.

* * *

Tulisan ini tayang perdana di Minum Kopi

Andre Barahamin