Mojok: Ekspektasi, Interpretasi dan Simplifikasi

Persoalan tentang keikutsertaan Freeport sebagai salah satu sponsor di Mandiri ArtJog 9, kemudian berputar arah. Kini di permukaan dan lebih berisik, Mojok yang kena sikat. Alasannya dimulai dengan terbitnya sebuah postingan penuh amarah dari Yasir Dayak yang mengkritik website tersebut. Sikap Mojok untuk menerima iklan dan ikut mempromosikan Mandiri ArtJog 9 dianggap sebagai tindakan yang tidak pantas dan tercela. Advertorial yang ditulis Agus Mulyadi di kanal khusus iklan #MojokSore dianggap menghina akal sehat. Di Facebook, keriuhan terjadi. Banyak orang merespon. Sebagian besar dengan kepala yang kadung diliputi amarah dan ketidaktahuan mengenai akar persoalan yang sebenarnya.

Makin kusut karena bank Mandiri yang merupakan sponsor utama ArtJog 9 mengucurkan dana hampir 4 trilyun kepada PT. Semen Indonesia. Kredit tersebut menjadi dua bagian. Pertama dalam bentuk Kredit Modal Kerja (KMK) sebesar 500 milyar dan sisanya dalam bentuk Kredit Investasi yang mencapai angka 3.46 trilyun.

Surat Yasir Dayak dan komentar para pendukungnya mendorong saya untuk menuliskan olok-olok. Terbit di Mojok tepat sehari setelah amuk Yasir Dayak tersebar di media sosial. Simplifikasi dalam tulisannya yang disertai riuh pendukungnya membuat saya gerah. Selain menggeneralisir segala sesuatu ke dalam satu keranjang yang sama, surat tersebut tidak lain adalah bentuk silogisme paling norak menurut saya.

Tidak lama kemudian, muncul surat dari Ibu-ibu di pegunungan Kendeng yang sedang bertarung melawan PT. Semen Indonesia. Kritik dalam surat tersebut tidak lagi hanya dialamatkan kepada panitia ArtJog dan bank Mandiri sebagai sponsor utama, tapi juga kepada Mojok.

Situasi makin runyam.

Polemik belum berakhir, tapi keadaan makin tak terkendali. Lebih banyak komentar asal-asalan yang tidak lain lahir karena kegagalan memahami apa yang sedang terjadi. Lalu, tuduh menuduh tidak bisa dihindari. Merespon tuduhan-tuduhan simpang-siur tersebut, kemarin pagi, Puthut EA menulis kembali terkait hal tersebut. Tulisan ini juga panen protes. Terutama dengan penggunaan kata “kimcil”. Banyak orang merasa kata ini terlalu kasar meski ada disclaimer di akhir tulisan. Entah karena dipandang tidak cukup, atau karena tidak dibaca. Soal moralitas baik dan buruk justru mengemuka dan menambah keruh. Namun Tia Pamungkas mengatakan dalam salah satu komentarnya mengatakan bahwa makna denotatif atau konotatif sebuah kata sangat bergantung pada ruang. Kesadaran ruang akan konteks digunakannya sebuah kata sangat penting agar kritik terhadap penggunaan sebuah kata tidak terjerembab pada dasar moralitas.

Seterusnya, adalah makin tenggelamnya kritik terhadap keterlibatan Freeport dan sebagai gantinya yang naik ke permukaan adalah soal-soal yang sebenarnya tidak fundamental.

 

EKSPEKTASI

Boleh-boleh saja berharap. Tapi sejak awal sudah harus dipahami bahwa harapan tak selalu seturut kenyataan. Respon terhadap kenyataan yang berbeda dengan harapan itulah yang membedakan antara mereka yang paham menggunakan otak dan mereka yang sekedar memajang otak di dalam tengkorak kepala tanpa pernah menggunakannya sama sekali.

Ketika Mojok hadir dan tumbuh subur, saya menilai terlalu banyak ekspektasi yang disampirkan ke pundak situs ini. Orang boleh menyangkal. Tapi melesatnya Mojok ke papan atas klasemen situs Indonesia yang ramai pengunjung tidak lepas dari hal tersebut. Salah satu sebabnya karena Mojok hadir dengan bentuk dan gaya tulisan yang dianggap sebagian orang sebagai kebaruan. Celah pembaca yang bosan akan hal yang itu-itu saja bercampur dengan dahaga akan perubahan terhadap model pemberitaan terkait isu-isu sosial dilihat sebagai peluang. Sarkasme dan satirisme adalah dua corak penulisan yang jadi tulang punggung situs ini di awal-awal berdirinya. Penulis-penulisnya lalu dikenal banyak orang dan artikelnya jadi pusat perhatian dan dibagikan berkali-kali. Terutama karena tiap harinya, artikel yang tayang di Mojok mengikuti perkembangan isu yang sedang hangat dibicarakan di media sosial -baik Twitter ataupun Facebook.

Selain topik paling hangat, Mojok juga mengandalkan jejaring penulis yang dikenal secara personal. Terutama mereka yang pernah mukim, masih menetap atau kawan-kawan sendiri di seputaran Jogja. Orang-orang ini sudah terbiasa menulis dan bukan penulis baru yang masih berjuang membedakan “di” pisah dan “di” sambung atau sedang berupaya menemukan bentuk dan karakternya. Sebagian memiliki latar belakang jurnalistik atau sering menulis di akun Facebook dengan ukuran yang tergolong cukup panjang. Masing-masing memiliki cara untuk mengungkapkan pandangannya. Puthut EA, di masa-masa situs ini masih berupa janin suatu ketika di akun Facebook-nya pernah mengatakan bahwa ia memang menginginkan agar Mojok dapat menjadi tempat di mana hal-hal serius dapat dinikmati secara renyah.

Mojok tampil sebagai ruang di mana pembaca dan penulis bisa rehat sejenak. Mengambil jeda dan menarik napas dari derasnya sapuan gelombang informasi yang membuat otot jantung bekerja tiga kali lebih banyak.

Kultur pergaulan Puthut dan teman-temannya yang gemar melontarkan gurauan, melucu dengan bahasa-bahasa yang nyeleneh atau mbeling, senang memparodikan hal-hal megah dan mewah dan desakralisasi terhadap ide-ide mapan, menjadi warna yang mempengaruhi awal muasal Mojok berdiri. Seingat saya, ada tiga penulis yang menjadi perhatian di masa awal Mojok hadir; Arman Dhani, Iqbal Aji Daryono dan Agus Mulyadi. Nama pertama adalah musuh seluruh suku bangsa penghuni jagad Twitter. Sosok berikutnya adalah supir truk internasional sekaligus ayah panutan yang jadi idola mamah-mamah muda. Sementara yang terakhir adalah blogger asal Magelang yang juga adalah siluman serigala. Di antara ketiganya, Agus Mulyadi yang paling produktif menulis buku.

Kehadiran website ini dapat dibilang sebagai keputusan bisnis yang cerdas. Momentumnya bertepatan dengan tingkat kebosanan pembaca terhadap berita-berita yang tayang di media online. Sementara, beberapa lain yang mendaku alternatif dinilai terlalu serius atau tidak lebih dari pengumpul remah-remah informasi dan menyusunnya dalam kategori-kategori banal macam On The Spot. Pembaca hanya membaca sekali dan merasa cukup. Jika dibaca lagi justru bikin mual.

Namun, tak semua orang bisa paham bahwa Mojok bukan media macam Rappler, Kompas atau Tempo. Juga tidak bisa disamakan dengan Kompasiana, WordPress atau Blogspot. Menerapkan kurasi terhadap naskah yang masuk, namun menghindari pengebirian terhadap konten tulisan. Dengan disiplin hanya mempublikasikan satu artikel setiap hari di tengah pasang surut mereka yang mau mengirimkan naskahnya. Tapi Mojok juga bukan JakartaBeat, IndoPROGRESS atau Islam Bergerak. Sejak awal website ini bukan pamflet gerakan politik sayap kiri atau bahkan sayap kanan.

Situs ini tidak akan pernah bisa dan tidak pernah berniat menggantikan peran media penyedia berita. Sependek pengetahuan saya Mojok memang sedari awal tidak pernah diniatkan untuk misi tersebut.

Mojok itu bukan citizen journalism seperti tuduhan banyak orang. Ia tidak lebih serupa sebuah meja di pojok kedai kopi. Ruang kecil di mana topik dibincangkan dengan santai, rileks dan diselingi tawa. Tidak ada kontributor, kolumnis atau wartawan yang ditugaskan mengumpulkan berita. Semua orang diundang untuk menuliskan pendapatnya dengan bahagia dan centil. Jika ada orang yang kesadarannya diradikalisir karena satu dua tiga artikel di dalamnya, itu hanya bonus yang tidak akan dikejar.

Bayangkan seorang kawan menceritakan lelucon tentang apa yang ia alami hari ini ketika kalian berjumpa sepulang kerja di sebuah angkringan. Begitu kira-kira Mojok itu.

 

INTERPRETASI

Tidak sedikit pengunjung situs ini yang menganggap Mojok menebar fitnah, menulis dengan gaya yang buruk, sok tahu, antek komunis, antek liberal dan ragam tuduhan lain. Di kolom komentar banyak tulisan, ramai hujatan yang datang dari mereka yang tidak bersepakat dengan tulisan yang terbit di Mojok. Website ini dipandang tidak berimbang dalam fakta, bias dan tidak adil.

Ambil contoh tulisan Iqbal Aji Daryono soal tembakau dan pekerja anak di ladang tembakau. Cibiran segera dilemparkan bahwa Mojok adalah media pro-tembakau dan dibayari perusahaan rokok. Sebabnya, sebagian besar adalah mereka yang gagal paham bahwa tiap isi yang terkandung dalam tulisan yang tayang di Mojok merupakan tanggung jawab penuh si penulis. Kenyataan bahwa beberapa penulis di Mojok pernah terlibat dalam riset mengenai tembakau dan cengkeh di masa lalu sudah cukup jadi bukti. Ditambah lagi dengan fakta lain bahwa sebagian besar penulis Mojok adalah para pengudud kretek. Padahal, satu-satunya sikap Mojok secara institusional adalah ketika memutuskan mendesain tampilan depan mereka pada 1 Mei 2015 sebagai solidaritas terhadap demo buruh. Selebihnya, belum ada setahu saya.

Naif juga jika karena latar belakang seorang Puthut EA yang pernah aktif di gerakan sosial dan posisinya sebagai Kepala Suku Mojok dijadikan alasan bagi pembaca untuk memandangnya sebagai keharusan agar suara Mojok merepresentasikan isu-isu gerakan sosial. Interpretasi macam ini bukan hanya keliru, namun sangat rentan menyesatkan. Kita harus berhenti menggeneralisir dan belajar menelaah dengan lebih adil. Sikap yang bumi hangus tanpa analisa seperti yang terjadi saat ini merupakan penyakit.

Dunia itu tidak hitam putih.

winduSama halnya jika seorang Windu Jusuf menulis berkali-kali di Mojok, itu bukan berarti website ini adalah versi lain dari IndoPROGRESS. Atau kalau ada isu sosial yang dibahas secara kritis, itu semata-mata karena posisi penulisnya memang seperti itu dan editor yang meloloskan memiliki simpati atau setidaknya tulisan tersebut terlalu bagus untuk ditolak. Apakah dengan adanya dua tiga redaktur IndoPROGRESS yang rutin ikut berkompetisi agar naskahnya dapat dipublikasikan melalui tulisan di Mojok maka dengan sendirinya situs ini menjadi progresif? Saya bukan hanya tidak yakin namun sangat tidak bersepakat dengan cara menarik kesimpulan macam ini.

Windu Jusuf benar ketika mengatakan bahwa dalam beberapa hal, Mojok berguna untuk pembangunan gerakan. Itu sikap dia.

Saya sendiri menganggap bahwa menggantungkan diri pada website ini atau membayangkan diri sedang melakukan infiltrasi ideologis ke dalamnya melalui tulisan-tulisan yang seturut dengan birahi gerakan hanya membuktikan bahwa banyak aktivis kurang piknik dan punya selera humor yang rendah. Tawaran yang muncul di tengah silang sengkarut agar mendiskusikan peran media seperti Mojok dalam ranah gerakan sosial-politik juga pandangan yang kebablasan. Usul macam ini hanya tepat jika kita membicarakan situs yang memang sejak awal didedikasikan untuk pembangunan gerakan progresif. Lucu jika membandingkan Mojok dengan Harian Rakjat atau media berita online lain. Karena sekali lagi perlu digarisbawahi, konten yang tampil setiap pagi di Mojok itu bukan produk jurnalisme. Semuanya adalah opini. Tidak beda dengan kolom opini di Rappler atau GeoTimes.

Kalau memang mau serius, mending membahas bagaimana posisi Tempo, Kompas atau Jawa Pos yang jelas-jelas mendaku diri sebagai media yang bersandar pada kaidah jurnalisme.

 

SIMPLIFIKASI

Ini problem berikut yang jadi salah satu kritik utama dalam tulisan saya di Mojok dua hari lalu. Bahwa banyak orang telah bertindak tidak adil dengan menyederhanakan iklan ArtJog di situs ini sebagai dukungan terhadap investasi bank Mandiri kepada PT. Semen Indonesia di pegunungan Kendeng atau diartikan sebagai sikap setujua terkait aktivitas pertambangan PT. Freeport Indonesia di tanah orang Amungme dan Komoro yang merupakan salah satu sponsor hajat seni tersebut. Ini silogisme yang saya haramkan di tulisan tersebut. Kritik yang gagal dipahami banyak kawan karena mereka mungkin belum akrab dengan model tulisan seperti yang umum hadir di Mojok.

Analogi sederhananya, Mojok tidak berbeda dengan nasabah bank Mandiri di seantero Indonesia, juga usaha-usaha kecil yang mendapatkan pemasukan karena membludaknya pengunjung. Ketiganya berada di mata rantai yang sama. Bukan pengambil keputusan dan bukan sebagai pihak yang dapat menentukan arah kebijakan sebuah bank.

Tulisan di Mojok untuk menanggapi para pendukung surat Yasir Dayak memang saya sempatkan untuk sedikit membuka boroknya industri perbankan di negeri ini. Sekedar catatan kecil bahwa apa yang dilakukan Mandiri melalui bantuannya kepada Semen Indonesia bukan hal baru atau peristiwa perdana di bisnis perbankan. Bank Mandiri bukan satu-satunya bank yang mendanai investasi berdarah. Bank lain seperti BRI, BNI dan BCA juga terlibat. Ada yang di tambang, di perkebunan skala raksasa seperti sawit dan bubur kertas, tambang hingga pembangunan infrastruktur. Jenis-jenis investasi ini tidak hanya bertanggungjawab atas perampasan tanah secara masif di berbagai tempat, tapi juga bertanggung jawab atas berbagai kasus kriminalisasi dan pelanggaran HAM yang menimpa petani dan masyarakat adat.

Saya sangat sadar dengan bahaya tersebut dan memiliki beberapa temuan yang mendukung sikap tersebut. Jika kemudian tidak ada seruan boikot, itu karena saya memilih menyodorkan fakta dan membiarkan pembaca untuk mengambil sikap. Memberi keleluasaan anda untuk menyerap informasi yang saya sodorkan, menganalisa sebelum kemudian memutuskan mengambil sikap. Singkatnya, saya ingin anda menggunakan otak.

Jika Mojok dianggap berdosa karena menerima uang dari bank Mandiri, maka mereka yang memberikan uangnya untuk digunakan sebagai dana investasi berarti juga sama bersalahnya. Sebab dana segar yang diagunkan oleh sebuah bank sebagiannya berasal dari tabungan para nasabahnya. Ini juga berarti mereka yang bekerja di bank Mandiri harus ikut bertanggungjawab. Mereka mendapatkan upah dari sebuah lembaga finansial yang memberikan uang kepada para perusak lingkungan. Lebih jauh dapat ditarik bahwa kelompok-kelompok usaha kecil menengah yang mengambil pinjaman di bank tersebut termasuk dalam keranjang dosa yang sama. Artinya, semua orang -anda dan saya- yang memiliki tabungan di bank Mandiri harus ikut bertanggungjawab.

Menyederhanakan masalah yang rumit dan berkelindan selalu tidak butuh otak dan energi. Ia hanya perlu fanatisme. Dan saya benci fanatisme.

Selain di Mojok, Mandiri ArtJog 9 juga mengiklankan diri di media-media lain. Pertanyaan saya, mengapa hanya Mojok yang disasar? Apa karena orang-orang ini sulit menerima kenyataan bahwa Mojok itu hanya penyedia konten usil yang tujuannya tidak seradikal yang dibayangkan selama ini? Atau karena enggan mengakui bahwa bayangan mereka mengenai situs ini telah luluh lantak oleh perjanjian iklan dengan sebuah lembaga perbankan pemberi pinjaman kepada perusahaan semen? Jika memang anda kecewa dan tidak bisa menerima hal tersebut, sebagai pembaca anda punya hak. Melakukan boikot dengan tidak lagi membaca Mojok karena meyakini media ini tidak lebih baik dari media-media berita pengejar rente di luar sana.

Saya misal, memilih tidak mengkonsumsi berita dari situs semacam Detik atau Republika. Bagi saya, keduanya tidak layak dijadikan rujukan informasi. Saya memilih mengabaikan media-media macam ini. Saya menggunakan hak sebagai konsumen dengan berhenti membaca. Konsekuensinya, saya harus mencari sumber informasi baru yang masuk kategori layak baca. Namun, itu adalah harga yang harus dibayar untuk menegaskan sikap bukan?

Beberapa orang menyarankan pengelolaan media yang berbasis anggota dengan model pengelolaan koperasi. Problemnya, Mojok bukan media sindikasi macam IndoPROGRESS, Islam Bergerak atau Literasi. Mojok adalah salah satu unit usaha di bawah Komunitas Bahagia EA. Dengan kata lain, Mojok adalah sebuah bisnis. Situs ini membayar para penulisnya, redaktur-redakturnya, biaya hosting, ongkos domain dan butuh perawatan. Ada keharusan untuk menganggarkan pembiayaan di titik ini yang tidak akan mungkin dipahami oleh mereka yang tidak pernah punya pengalaman menjalankan suatu usaha berbasis profit.

Menerima iklan bagi badan usaha seperti Mojok bukan dosa. Lagipula, Mojok bukan NGO.

* * *

Yang paling mengganggu bagi saya adalah distraksi yang menggeser titik kritik dari keterlibatan bank Mandiri dan Freeport Indonesia di perhelatan ArtJog 9. Pengalihan yang bukan hanya kontra-produktif, tapi juga menghabiskan energi. Perdebatan gagal menyentuh hal yang substansial karena ramainya gelombang komentar dan tanggapan justru hanya menari-nari di atas narasi-narasi kosong yang dibangun di atas ketidakmampuan melihat musuh dan akar masalah yang sebenarnya.

Saya sendiri sejak awal telah menegaskan bahwa keterlibatan Freeport Indonesia seharusnya dapat digunakan sebagai momentum untuk melayangkan kritik keras dan menyeluruh kepada manajemen ArtJog.

Kepada Heri Pemad yang menjadi cukong sponsor-sponsor acara ini. Kepada mereka yang tahu namun menutup mulut. Kepada kawan-kawan pekerja seni yang merasa tertipu namun diliputi dilema. Meski bagi saya secara pribadi, Heri Pemad Art Management (HPAM) adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas ikutsertanya Freeport sebagai sponsor. Inilah setan yang “menjebak” para perupa karena tidak diinformasikan mengenai terlibatnya perusahaan tambang berdarah ini. Fakta tambahan mengenai investasi yang digulirkan bank Mandiri kepada Semen Indonesia harusnya digunakan sebagai tambahan bukti bagaimana lacurnya pengelolaan pesta seni tahunan ini. Mendorong agar meluasnya solidaritas terhadap perjuangan penyelamatan pegunungan Kendeng dari semen dan mendorong agar Freeport angkat kaki dari Nemangkawi. Di saat yang bersamaan, membuka ke publik mengenai bobroknya dunia perbankan -baik di Indonesia maupun di luar negeri- dan memberikan informasi tandingan yang ringan tanpa harus berorasi. Cukup dengan bisa membaca tulisan tersebut.

Bagaimana caranya?

Jangan tanya saya. Selain bukan Tuhan, saya juga tidak berencana melibatkan anda dalam hal tersebut. Silahkan anda pikir dan rumuskan sendiri. Jika dirasa strategi anda sudah matang, silahkan tembakkan torpedo anda. Masing-masing memiliki jalan dan taktik. Bersepakat terhadap sesuatu tidak berarti ada keharusan untuk terus berada di dalam satu perahu. Saya misalnya, akan terus melanjutkan apa yang selama ini dilakukan -baik secara individual maupun bersama kolega yang lain.

Sampai jumpa di garis depan pertempuran. Itupun jika kita punya musuh yang sama serta anda memang ikut bertempur dan tidak sekedar mendengkur dari balik layar gawai.