Kota: Imigrasi

Dua hari satu malam, saya dipaksa untuk tersesat di bandara Kuala Lumpur International 2 (KLIA 2), Malaysia. Saya ditolak ketika ingin berangkat ke Da Nang, Vietnam. Alasannya, passport saya akan kurang dari enam bulan ketika masa berada di Vietnam. Padahal saya sudah mengantongi izin terbang dari imigrasi Indonesia, Jakarta.

Imigrasi di Kuala Lumpur memaksa saya untuk mendapatkan stempel masuk ke Malaysia meski saya menolak. Alasannya sederhana. Saya tidak pernah berniat singgah di negeri tersebut. Tujuan saya jelas. Vietnam. Singgah di KLIA 2, semata karena tiket perjalanan mengharuskan demikian. Jadi tidak ada kewajiban untuk mendapatkan stempel masuk dan keluar Malaysia. Saya secara sengaja memilih tinggal di bandara. Karena pesawat yang akan saya tumpangi hanya berjarak beberapa jam dari masa kedatangan.

Pihak imigrasi memaksa agar saya melapor. Prosedur ini saya ikuti. Namun mereka melarang saya menelpon ke pihak kedutaan Indonesia di KL. Alasannya, ini murni kesalahan saya karena berangkat dengan passport yang dapat membuat saya terancam dideportasi. Saya bersikeras. Jika dideportasi, itu bukan kerugian atau bakal jadi masalah imigrasi Malaysia karena saya adalah warga negara Indonesia. Yang berhak mengurusi adalah KBRI di negara mana nanti masalah tersebut timbul.

Ini bukan kali pertama kali saya terbang antar negara. Sehingga saya tidak kendur. Saya bersitegang. Memilih untuk tidak melanjutkan laporan dan tetap bersikukuh untuk diberangkatkan ke Vietnam. Sayang, pihak Air Asia yang menjadi penyedia jasa penyedia tiket penerbangan saya merasa keberatan. Mereka menilai bahwa posisi imigrasi Malaysia sudah tepat. Padahal, jelas. Saya tidak melakukan kesalahan apapun.

Semua pertanyaan mereka soal alasan mengapa harus ke Vietnam sudah saya jawab. Passport saya juga bolak-balik mereka periksa. Saya tidak pernah mengalami masalah keimigrasian. Tiket untuk kembali ke Indonesia juga sudah saya tunjukkan.

Namun mereka berkeras. Saya dianggap menyalahi aturan imigrasi mereka.

Mundur? Tidak. Saya merasa tidak pernah salah. Saya tidak pernah punya urusan dengan Malaysia. Lagipula, jika saya memang dianggap kurang layak berangkat, pihak imigrasi di Indonesia sudah seharusnya memberitahukan terlebih dahulu soal ini. Namun mereka menilai bahwa ada indikasi korupsi ketika saya berhasil melewati pihak imigrasi. Selain konyol, tindakan ini juga diskriminatif. Indonesia memang penuh korupsi. Tapi saya bukan salah satu di antaranya.

Dua belas jam berdebat, saya memilih istirahat di salah satu hotel di dalam KLIA 2. Tetap saja, pihak imigrasi Malaysia memaksa saya untuk segera pulang ke Indonesia. Mereka berpendapat bahwa jika saya dideportasi dari Vietnam, maka yang akan terganggu adalah hubungan bilateral Malaysia dengan negeri Paman Ho tersebut.

Alasan yang super konyol.

Pagi hari, sekitar jam sembilan, saya dipaksa untuk membeli tiket pulang ke Indonesia. Jika tetap menentang, passport saya akan ditandai dan untuk beberapa saat tidak bisa memasuki Malaysia. Saya berkeras agar pihak imigrasi menunjukkan peraturan yang menjadi landas ancaman tersebut. Saya juga menolak untuk berbicara bahasa Melayu. Bukan karena tidak bisa. Tapi, sependek pengetahuan saya, bahasa Inggris resmi ditetapkan sebagai bahasa komunikasi antar negara di Asia Tenggara. Namun, para petugas imigrasi tetap tidak mau melayani protes saya sepanjang masih berbicara dalam bahasa Inggris.

Ini kali pertama saya begitu marah. Terutama kepada Malaysia. Kepada pihak imigrasi yang begitu arogan dan memaksakan peraturan yang absurd dan tidak bisa mereka tunjukkan keberadaannya. Status ini juga saya tulis penuh amarah. Diliputi kekecewaan. Karena ini adalah kali pertama saya dipaksa pulang ke Indonesia karena menolak tunduk.