Diskusi #00: Ekonomi Biru

IMG_20160119_155304“Acara belum mulai kan?”

Laki-laki tambun, berkaos hitam, memanggul ransel berwarna sama, tersenyum lebar dari jauh sebelum mendekat, menyalami semua kami yang ada di situ.

“Belum mas. Ruangan juga masih dipakai.” Aku segera merespon.

“Makan dulu kalau begitu. Kalian bagaimana? Sudah makan siang?”

Kami bertiga mengangguk. Ia lalu berjalan menjauh.

Nama lelaki itu Dandhy Dwi Laksono.

Jurnalis dan pendiri Watchdoc Indonesia. Satu dari sedikit orang-orang nekat bernyali di Indonesia. Jakarta Post pernah menayangkan profilnya. Menyebut Dandhy sebagai “Pemberontak dengan Tujuan”. Lulusan dari Universitas Padjajaran, Bandung. Penulis buku “Jurnalisme Investigasi” yang terbit tahun 2010. Setahun sebelumnya, ia menulis “Indonesia For Sale”. Tahun 2008, ia dianugerahi gelar sebagai “Jurnalis Terbaik” oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) terkait investigasinya atas kasus pembunuhan Munir.

Dandhy adalah produser dari berbagai film dokumenter yang mencakup beragam isu; dari hak asasi manusia hingga persoalan lingkungan. Selama setahun mengendarai motor mengelilingi Indonesia, ia memproduksi enam buah film dokumeter. Semuanya tayang gratis di kanal YouTube.

“The Mahuzes”, menjadi film yang paling aku sukai.

Pertama kali berkenalan ketika ikut penjemputan Dandhy dan rekannya, Suparta “Ucok” Arz kembali ke Jakarta. Pesta di akhir tahun merayakan para pemberani yang pulang setelah memungut kisah dan inspirasi yang diacuhkan sebagian besar kita. Genggaman tangan Dandhy ketika bersalaman selalu hangat dan tegas. Mencerminkan karakternya.

Beberapa kali bertemu, aku semakin kagum. Pandangannya luas dan tidak naif. Dandhy tidak berdansa di antara jargon atau optimisme kebablasan. Jujur dan sederhana dalam memilah kata. Tidak takut untuk mengutarakan ketidaksetujuan sekaligus memberi masukan.

Siang ini, aku mengundangnya untuk berbagi pengalaman dalam sebuah diskusi. Aku ingin mendengar pengalamannya, cerita dan apa yang ia temukan. Dan saat ide ini pertama kali kutawarkan, aku meyakini dua hal. Di luar sana, ada orang lain yang juga tertarik. Kedua, Dandhy tidak akan menolak. Ia tentu tidak kikir.

* * *

CYWUnZUUMAEt4LOSelama satu tahun, terhitung mulai 1 Januari hingga 31 Desember 2015, dua orang jurnalis melakukan perjalanan panjang mengelilingi Indonesia. Di bawah bendera Ekspedisi Indonesia Biru, Dandhy dan Ucok, menunggangi motor hampir 20.000 kilometer. Mengunjungi tempat-tempat yang luput dari pemberitaan media atau hampir tandas di ingatan orang-orang urban dan para pembuat kebijakan. Ekspedisi mandiri yang digagas oleh Watchdoc Indonesia, tanpa sponsor dan absen dari dukungan partai politik. Penamaan “Biru” dalam ekspedisi ini mengambil inspirasi dari konsep Ekonomi Biru yang diperkenalkan pertama kali oleh Gunter Paulli.

Konsep Paulli muncul sebagai radikalisasi atas tesis Ekonomi Hijau yang hadir sebelumnya.

Konsep Ekonomi Hijau adalah praktek perekonomian yang tidak merugikan lingkungan hidup sekaligus merupakan upaya menghilangkan dampak negatif pertumbuhan ekonomi terhadap lingkungan dan kelangkaan sumber daya alam. Ekonomi Hijau dipandang sebagai cara untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dengan melakukan efisiensi sumber daya alam dengan tetap mengurangi emisi karbon dan polusi, mencegah berkurangnya biodiversitas dan menjaga keseimbangan ekosistem. Diperkenalkan dan mulai dipraktekkan sekitar 30 tahun yang lalu, namun hingga kini masih menggantungkan dirinya pada subsidi publik. Konsep Ekonomi Hijau dalam pengalamannya dipandang lebih mahal hingga tidak dapat menghindarkan diri dari tuduhan bahwa produk-produk turunannya adalah jenis komoditas mewah yang tidak terjangkau oleh masyarakat berpendapatan menengah ke bawah. Masalah biaya dan efisiensi dalam Ekonomi Hijau memaksa investor untuk terus berinvestasi lebih besar sehingga konsumen terpaksa harus membayar lebih mahal.

Ini adalah salah satu sebab kelahiran Ekonomi Biru. Sebagai salah satu upaya untuk menjawab kekurangan-kekurangan dari Ekonomi Hijau. Esensi dari konsep Ekonomi Biru adalah untuk belajar dari alam, seturut dengan cara kerja ekosistem yang selalu bergerak menuju tingkat efisiensi lebih tinggi untuk mengalirkan nutrisi dan energi tanpa emisi dan limbah untuk memenuhi kebutuhan dasar. Konsep Ekonomi Biru tidak mengurangi tapi justru memperkaya alam. Ekonomi Biru juga menekankan penerapan prinsip dasar fisika, khususnya hukum gravitasi yang dapat diartikan sebagai pola distribusi energi dan pangan secara efisien dan merata tanpa ekstraksi dari energi luar. Konsep ini diartikulasikan seperti aliran air dari gunung yang membawa nutrisi dan energi untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan seluruh komponen ekosistem. Dari ‘limbah’ menjadi makanan bagi yang lain, atau merumuskan cara agar ‘limbah’ dari satu proses pemenuhan energi dan pangan dapat menjadi bahan baku atau sumber energi bagi yang lain.

Singkatnya, Ekonomi Biru melakukan efisiensi terhadap ekstraksi sumber daya alam, dengan prinsip zero waste.

Ide mengenai Ekonomi Biru juga dilengkapi dengan prinsip social inclusiveness yang merupakan jawaban dari kekurangan Ekonomi Hijau yang dianggap tidak mampu menjangkau kalangan yang lebih miskin dalam piramida ekonomi eksploitatif. Konsep ini mendukung dan mendorong industri inovatif skala kecil di lingkungan masyarakat berpendapatan rendah seperti, perikanan, pariwisata, dan industri rumahan lainnya. Hal ini dilakukan dengan menerapkan konsep entrepreneurship yang mendorong pembukaan lapangan usaha baru sehingga dapat menghasilkan efek ekonomi berganda yang pada akhirnya meningkatkan perekonomian secara keseluruhan.

Meskipun konsep Ekonomi Biru merupakan respon dari konsep Ekonomi Hijau, akan naif jika kita semena-mena menuduh bahwa keduanya bertentangan. Sebaliknya, tawaran Paulli tak lain sebagai langkah maju untuk menyempurnakan Ekonomi Hijau sekaligus memperkaya rumusan-rumusan alternatif dalam penerapan perencanaan pembangunan berkelanjutan.

Pertanyaannya adalah, apakah Indonesia memiliki kesempatan untuk mengadopsi Konsep Ekonomi Biru? Bagaimana peluang negeri yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia yang mencapai 95.181 km dengan luas wilayah laut hingga 5,4 juta km2 memaksimalkan potensinya? Apakah keberlimpahan sumber daya kelautan dan hutan yang besar, kekayaan keanekaragaman hayati dan non hayati serta masih eksisnya pengelolaan ekonomi tradisional di berbagai komunitas ulayat adalah kutukan atau jalan keluar dari model ekonomi yang eksploitatif, menguntungkan sebagian kecil orang dan tidak ramah lingkungan?

Itu adalah landasan yang menjadi pertanyaan filosofis mengapa diskusi ini ku anggap penting. Ide ini lalu digulirkan ke dua kelompok.

Pertama, kelompok IndoPROGRESS. Media digital yang bertindak sebagai jurnal pemikiran dan elaborasi Marxisme di Indonesia. Aku merupakan bagian di dalamnya. Untuk kegiatan luring, kami membentuk Forum Pembaca IndoPROGRESS. Ini adalah proyek tatap muka antara pembaca dan pegiat IndoPROGRESS. Sebagai perimbangan aktifitas daring.

Kedua, kepada kelompok studi Indonesian Greens School. Aku terlibat juga di dalamnya. Isinya adalah aktifis lingkungan dari beberapa NGO di Jakarta. Ini kelompok baru dan kecil. Hanya enam orang. Dibentuk awal Desember. Tujuannya sederhana. Menjadi ruang elaborasi apa yang kami sebut sebagai “green politics crossing boundaries”.

Keduanya setuju.

IMG_20160119_1553042Aku segera bergerak. Mengerjakan gambaran umum mengenai apa yang akan didiskusikan, mencari tempat dan tandem buat Dandhy.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Alghif Fari Aqhsa bersedia membantu. Lantai satu kantor LBH Jakarta bisa digunakan. Gratis. Beberapa peralatan pendukung juga dapat digunakan. Sedangkan Term of Reference untuk para pembicara sudah siap.

Masalah berikut muncul. Siapa yang cocok menemani Dandhy?

Ada banyak aktifis lingkungan di Indonesia. Tapi sebenarnya, sulit mencari orang yang memiliki semua prasyarat ideal yang aku ajukan sebagai benchmark. Pertama, ia mesti paham ilmu ekonomi. Paham dalam artian teoritik lanjut dan bukan pengetahun dasar yang dikumpulkan secara acak karena kecelakaan-kecelakaan literatur. Kedua, kepakaran dalam bidang tertentu. Ini yang soal. Sebab banyak nama yang dikenal adalah para generalis. Mereka mampu mengidentifikasi problem namun harus diakui miskin secara metode untuk mengorganisir pengetahuan secara ilmiah. Ketiga, klaim kesarjanaan. Poin ini memang selalu kontroversial bagi banyak orang. Tapi bagiku, ini tidak bisa ditawar. Setiap sistem menggunakan para sarjana dengan label gelar mereka untuk memberikan stempel terhadap sebuah produk, mode, perilaku atau apapun itu. Singkatnya, pengetahuan adalah soal perang klaim. Kuasa atas narasi pengetahuan itu yang menjadi pertimbanganku. Dari banyak nama yang direkomendasikan orang-orang di sekitarku, hanya satu yang pas.

Sonny Mumbunan.

Ekonom asal Minahasa yang bekerja sebagai peneliti di Research Centre for Climate Change (RCCC) Universitas Indonesia. Ia belajar mengenai isu penilaian lingkungan dan perumusan kebijakan New University of Lisboa, Portugal. Pakar mengenai perilaku ekonomi University of Mannheim, Jerman, dan mendalami soal pemerintahan lingkungan di Norwegian University of Life Sciences, Norwegia.

Sonny mendapatkan gelar M.Sc. dalam bidang Ekonomi Empirik dan Konsultasi Kebijakan dari Martin Luther University Halle–Wittenberg (2008). Ayah dua orang anak ini menulis disertasinya mengenai transfer fiskal ekologis di Helmholtz Centre for Environmental Research (UFZ), yang terafiliasi dengan University of Leipzig, Germany. Ia juga meneliti topik-topik seperti instrumen ekonomi untuk layanan kompensasi ekosistem, analisis kebijakan mengenai langkah-langkah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, serta keuangan publik dan industri ekstraktif.

Pada konferensi perubahan iklim ke 21 yang diadakan di Paris tahun kemarin, Sonny adalah salah satu orang yang terlibat. Ia ikut menyumbang gagasan. Tulisannya mengenai COP21 adalah salah satu yang terbaik. Analisis dalam dan tangkas. Pakar ekonomi yang paham mengenai isu-isu perubahan iklim, problem ekologi dan kelindannya dengan mata rantai bisnis, serta sejarahnya sebagai salah satu aktifis gerakan sosial.

Dia pasangan yang tepat.

Secara pribadi aku juga mengenal Sonny. Kami adalah alumni Universitas Sam Ratulangi. Perguruan tinggi publik terbesar di Sulawesi Utara yang terkenal sebagai ladang subur kultur feodalisme. Meski beda fakultas dan angkatan, kami sempat belajar soal Marxisme di organisasi yang sama. Dulu juga pernah bertukar pandangan soal Minahasa. Aku biasa memanggilnya brur Sonbun.

Menyandingkan keduanya adalah gambaran ideal.

Aku lalu menghubungi Sonny melalui Twitter. Meminta nomor telponnya. Sebab yang lama sudah tak aktif. Balasannya tak lama. Lewat telpon, aku menjelaskan soal rencana diskusi dan tawaran agar dia mau mendampingi Dandhy. Mengabarkan soal hari dan lokasi acara. Ia segera mengiyakan dan berjanji akan menyesuaikan jadwalnya. Alasannya sederhana. Sonny juga mengikuti perkembangan Ekspedisi Indonesia Biru dan memiliki kekaguman terhadap kerja-kerja Dandhy dan Ucok.

Beberapa hari sebelum diskusi berlangsung, sebuah usulan baru muncul. Bagaimana jika mengundang perwakilan dari Partai Hijau Indonesia (PHI) untuk datang. Jika ada perwakilan dari partai yang identik dengan gerakan ekologi ini, tentu topik diskusi ini semakin menarik. Membicarakan Ekonomi Biru dari tiga sudut pandang. Dari temuan etno-visual di lapangan, paradigma ekonomi dan terakhir dari kacamata politik.

Atas ide beberapa kawan, aku memutuskan mengundang John Muhammad. Seorang green architect yang dahulu belajar di Universitas Trisakti, terlibat aktif dalam protes demokratik menentang diktatorianisme Soeharto dan menjabat sebagai Sekretaris Jendral PHI. Ia juga belakangan sedang mendalami soal biomimikri sebagai inspirasi gerakan politik.

Untuk memandu ketiganya, aku tak perlu sibuk mencari orang. Biar saja tanggung jawab ini jadi kehormatanku.

* * *

IMG_20160119_155304319 Januari.

Aku bangun lebih cepat dari biasanya. Menyiapkan peralatan, memeriksa laptop sembari meneguk segelas teh. Setelah mandi, aku segera mengirim pesan lalu bergegas ke stasiun kereta. Lalu mengirim pesan pendek kepada tiga orang tersebut. Secara tersirat mengingatkan mereka soal acara yang akan dihelat siang itu. Acara dijadwalkan untuk mulai jam 1. Tidak boleh molor.

Turun di stasiun Cikini, aku berjalan tenang menuju LBH Jakarta. Tidak perlu terburu-buru. Masih tersisa 150 menit menuju waktu yang disepakati dan telah tercantum dalam poster yang aku sebar sejak seminggu sebelumnya. Sekaligus nanti mencari makan untuk mengganjal perut. Pagi itu, jalan Diponegoro sudah sibuk. Kendaraan merayap pelan. Macet seperti biasa.

Tapi setelah tiba di lokasi, aku terkejut. Ruangan yang seharusnya nanti digunakan untuk diskusi ternyata masih terisi. Ada dua kegiatan berbeda. Sedikit panik. Acara diskusi kurang dari dua jam lagi. Aku lalu menghubungi kawan dari LBH Jakarta yang biasanya mengatur jadwal penggunaan ruangan. Berbincang sebentar untuk meluruskan beberapa salah paham dan kegagalan kami berdua berkomunikasi di waktu kemarin.

Jalan keluar ditemukan. Diskusi tetap bisa dilangsungkan. Hanya saja tidak bisa menggunakan seluruh ruangan seperti yang dibayangkan sebelumnya. Hanya satu ruang saja. Terbatas kapasitas. Paling maksimal 30 orang bisa muat. Tak mengapa. Yang utama adalah acara ini bisa tetap berjalan seperti yang sudah direncanakan.

Jam 1 tepat, aku mulai mengatur ruangan. Kawan-kawan lain yang sudah berada di lokasi turun tangan ikut membantu. Mulai dari mengatur deretan kursi, menyediakan perangkat pendukung hingga kemudian mengajak Dandhy dan Sonny yang sudah ada di lokasi untuk sekedar berbincang. Tinggal menunggu John datang. Lalu kami akan segera mulai.

Setelah semua siap dan para pembicara telah lengkap, acara segera dimulai. Telat 30 menit dari jadwal yang disepakati. Peserta mulai bertambah dan memadati ruangan. Tidak seberapa jumlahnya. Tapi angka bukan soal. Mereka yang datang hadir sejak awal layak dapat apresiasi. Aku yakin satu-satu akan tiba seiring berjalannya waktu.

Diskusi dibuka dengan sambutan super singkat. Atas nama penyelenggara, aku mengucapkan selamat datang. Lalu lampu ruangan dipadamkan. Dandhy segera memutar film. Kami semua memandang ke arah yang sama.

Andre Barahamin