Revolusioner Asia Yang Harus Jadi Panutan Jomblo

Tahun 2016, hidup saya berubah. Bukan dapat berkah, tapi dapat teror.

Datangnya dari salah satu editor Jombloo.co, Aditia Purnama. Seperti tukang rente, dia mengejar saya di  Facebook dan Twitter. Hingga setiap kali membuka kedua media sosial tersebut, perasaan saya was-was. Jangan sampai mahasiswa terancam drop-out ini tahu bahwa saya sedang berleha-leha ketika punya sedikit waktu luang.

Sebabnya, dulu tanpa sengaja, saya khilaf. Sempat berjanji bahwa jika nanti pekerjaan sudah banyak terselesaikan, saya akan mencoba menyumbang satu tulisan buat media ini. Situs kafir masokis yang merayakan kesendirian. Persis Berto Tukan dan Windu Jusuf, dua kolega saya di IndoPROGRESS, yang memilih menjadi sologamus: mereka yang menikahi kenangan.

Untuk itu, agar hidup kembali tenang saya memaksakan diri menulis. Tentu saja diawali dengan memakan satu porsi nasi Padang, mandi disertai keramas, membeli dua bungkus kretek dan membuat segelas besar teh manis hangat. Tatacara yang merupakan prasyarat wajib untuk dilakukan bagi semua orang sebelum menulis jombloo.co. Sebabnya, harus kalian pahami. Setiap tulisan di kanal ini akan disajikan hangat-hangat kepada Bapak Bangsa Bilven Sandalista, pelopor sekaligus praktisi jomblo revolusioner terkemuka abad 21. Tanpa belio, nasib percintaan umat manusia tidak lebih dari sekedar romantika recehan ala FTV.

Setelah membuka ribuan ensiklopedi, membaca jutaan pamflet dan menelpon istri untuk meminta kekuatan batin, saya sajikan nama para revolusioner yang selayaknya jadi rujukan anda semua—para jomblo laknat yang membuat hidup saya ikut susah. Daftar ini adalah tawaran final yang tidak bisa diganggu gugat.

 

Nguyen Sinh Cung

Gimana? Nama itu asing bagi kamu semua? Bagaimana jika saya bilang bahwa itu nama asli dari Nguyen Tat Thanh? Gak kenal? Mungkin kamu familiar dengan nama samarannya yang lain: Nguyen Ai Quoc? Masih tetap gak kenal? Dasar jomblo!

Nguyen Sinh Cung itu adalah Ho Chi Minh? Kenal? Halah, jangan sok kenal! Kamu pikir saya cowok apaan?

Sinh Cung memang lebih populer dengan sebutan Paman Ho—begitu yang mulia Bilven Sandalista menyebutnya. Revolusioner pendiri Partai Komunis Indocina dan presiden pertama Vietnam. Berbeda dengan Soekarno yang sering nggak tahan melihat gadis sintal dan semok, laki-laki sipit ini mengambil jalan yang berbeda. Ho sejak muda hingga menutup mata hatinya terhadap cinta lalu memilih jalan pedang penuh darah namun sepi belaian. Sebagai komunis sejati, Sinh Chung mendedikasikan seluruh hidupnya untuk perjuangan pembebasan rakyat Vietnam dari cengkraman kolonialisme Prancis dan Amerika Serikat serta kekuatan feodalisme. Meninggal karena sakit di tahun 1969, ketika Vietnam masih terbelah ke dalam dua bagian: region utara yang berhaluan komunis dan teritori selatan yang berada di bawah ketek Amerika Serikat. Itu kenapa setelah Sai Gon direbut dari bule-bule leluhur George W. Bush dan Donald Trump, kota ini segera diganti namanya menjadi Ho Chi Minh City. Sebagai penghormatan.

Di kalangan perempuan (bukan cuma di Vietnam tapi hingga ke Laos dan daerah Isan Thailand), Ho Chi Minh sangat dihormati. Sikap hidup dan pemikirannya menjadi inspirasi di seantero Vietnam hingga sekarang. Bahkan karakter Paman Ho menjadi semacam cetak biru calon suami ideal bagi dedek-dedek komunis di Vietnam. Itu kenapa saya bisa punya istri orang Vietnam. Yah, karena saya mirip Ho!

 

Bhagat Singh

Kalau kalian mengenal India hanya Bollywood dan Mahatma Gandhi, itu tandanya kalian harus banyak diskusi dan meminta nasehat dari Mahfud Ikhwan. Penulis novel sensasional “Kambing & Hujan” sekaligus pakar sinema India terkemuka di Indonesia, seorang pengagum berat Bhagat Singh dan tentu saja masih jomblo.

Berbeda dengan Gandhi yang menye-menye dan senang melecehkan perempuan muda, Baghat Singh adalah representasi perjuangan tanpa kompromi, meletupnya semangat pembebasan dan tentu saja keberanian untuk memikul tanggung jawab sebagai revolusioner sejati. Digantung oleh kolonial Inggris ketika belum genap berumur 24 tahun, Baghat merupakan seorang anarkis-komunis yang pantang menyerah. Menolak tunduk pada tawaran damai penjajah dan memilih mati sebagai orang merdeka.

Ketika dalam penjara sekalipun, Baghat masih mengorganisir mogok makan menentang diskriminasi terhadap para tahanan politik India oleh sistem penjara. Jawarharlal Nehru yang sempat menemui Baghat dalam penjara, mengakui bagaimana keras kepala dan teguhnya pemuda tampan ini memegang cita-cita pembebasan India dari kolonialisme Inggris.

Surat terakhir yang ia tulis di hari-hari terakhirnya dalam penjara, begitu puitis, filosofis namun penuh ledakan. Sebagaimana masa-masa ia menulis serangkaian artikel tentang anarkisme di Majalah Kirti. Baghat adalah contoh bahwa kesendirian di jalan revolusi adalah kebanggaan dan bukan penyakit kusta. Jika tak percaya, kalian bisa mengkonfirmasi soal kisah Bhagat Singh ini kepada Mahfud Ikhawan dengan cara membeli novelnya terlebih dahulu.

 

Gomburza

Akronim untuk menyebut tiga orang revolusioner Filipina: Mariano Gomez, Jose Burgos dan Jacinto Zamora. Ketiganya adalah pastor Katholik yang dieksekusi oleh pemerintah Spanyol di tahun 1872. Berbeda dengan seperti kebanyakan tokoh agama hari ini yang kerjanya bermain proyek fatwa haram-halal atau menuduh komunisme sebagai keyakinan orang-orang yang tidak ber-Tuhan, Gomez, Burgos dan Zamora adalah para radikal yang bersimpati dengan ide-ide komunisme dan pembebasan masyarakat dari penindasan kolonialisme.

Ketiganya dieksekusi dengan garrote, sejenis kursi siksaan dengan tali yang digunakan untuk mencekik terdakwa hingga mampus. Gomez, Burgos dan Zamora dituduh sebagai dalang pemberontakan ratusan tentara di pelabuhan San Pelipe, yang terletak di kota Cavite, bagian selatan teluk Manila, Luzon. Cavite saat itu merupakan salah satu gudang penimbunan senjata kolonial yang penjagaannya diserahkan kepada tentara bayaran yang diambil dari orang-orang lokal.

Meski bukti-bukti soal peran ketiganya dalam pemberontakan ini, Gomburza tetap dieksekusi karena memang sejak awal sudah dianggap mengganggu kolonial. Sebabnya tidak lain karena dukungan terbuka Gomez, Burgos dan Zamora terhadap perjuangan orang-orang Filipina menentang penjajahan. Bukan kayak kamu yang menentang mantan bahagia.

Ketiganya meyakini bahwa Tuhan juga menentang penindasan. Oleh karenanya, tidak ada alasan untuk berdiam diri. Kolektif Gomburza percaya bahwa doa tanpa tindakan merupakan penghinaan terhadap kekayaan akal budi yang diberikan Pencipta kepada manusia. Seperti juga mengharap jodoh tapi tanpa usaha itu namanya tidak tahu diri. Musyrik!

 

Itulah tiga tokoh Revolusioner Asia yang wajib kamu ketahui. Awas, wajib lho ya. Titik.

Andre Barahamin