Marxisme: Musto

“Aku ingin menjelaskan tentang Operaismo. Menjawab pertanyaanmu. Lalu menyadari bahwa kau tidak ada lagi dalam ruangan.”

“Aku menghisap kretek di luar. Tidak tahan.”

Ia tertawa sembari menggeleng kepala. Tanda bahwa ia tidak terkejut dengan jawabanku.

“Lagipula, tujuan pertanyaanku adalah sekedar provokasi. Agar kau dapat memperkenalkan sedikit tentang Operaismo kepada para peserta diskusi. Masih banyak yang belum tahu. Ide tentang Operaismo, apalagi menyangkut apa yang disebut dengan Marxis-Otonomis.”

Aku menjawab dengan santai pertanyaan dari laki-laki Italia ini. Berbincang selama hampir dua jam sebelum ia memulai kuliah umumnya membuat aku merasa akrab dengannya. Tidak ada kesan sombong, meski aku menyadari sejak awal bahwa laki-laki jangkung berkacamata asal Naples yang sedang berjalan di sampingku adalah seorang intelektual yang tengah diperhitungkan. Namanya mengemuka di kalangan pengkaji Marxisme. Buku-buku yang ditulis pemuda pendukung S.S.C. Napoli ini mendapat sambutan hangat. Umurnya baru akan genap 40 tahun sebentar lagi.

Saat itu, ia baru saja memberikan kuliah umum. Kini, beberapa teman mau mengajaknya ngaso di salah satu kantin kampus.

“Kau benar-benar tidak tahan jika tidak merokok? Misal, selama sehari penuh?”

Aku menatapnya, lalu menggeleng. “Aku tidak merokok. Aku menghisap kretek.”

Ia mengacungkan jempol. Kami lalu tertawa bersama.

Marcelo Musto, lahir di kota yang klub sepakbolanya pernah merasakan masa jaya sewaktu Diego Maradona bermain di sana -sebelum diskors 15 bulan karena kecanduan kokain. Lahir pada 14 April 1976, pria berkacamata ini menamatkan studi sarjana muda hingga doktoral di University of Napoli – L’Orientale di kota kelahirannya. Belajar filsafat dan politik. Belum puas dengan itu, ia mengambil studi doktoral ilmu filsafat di University of Nice – Sophia Antipolis.

“Tentu saja aku suka sepakbola. Hampir semua orang Naples menggandrungi olahraga ini.”

Karya-karya Musto dalam berbagai format -buku, bab dalam buku, tulisan di jurnal atau artikel, telah diterjemahkan ke dalam 16 bahasa. Kebanyakan karyanya berada di seputaran elaborasi mengenai pemikiran-pemikiran Marx dan relevansinya dengan kondisi hari ini, soal teori keterasingan (theory of allienation) atau mempelajari berbagai varian Marxisme dan sejarah pemikiran sosialisme.

“Kau pernah membaca salah satu tulisanku?”

Aku mengangguk. “Beberapa artikel. Kalau buku, hanya dua.”

“Ah, dua judul dalam bahasa Inggris itu?

“Iya.” Aku menyalakan kretek.

“Terima kasih.”

Aku menyimpan dua buku terbitan Routledge itu di Hue. Aku membelinya saat mulai mendalami studi mengenai gerakan pelajar demokratik di Asia Tenggara. Kisaran medio 2013. Dibeli secara online dan berujung pada pertengkaran dengan pasanganku. Ia marah karena aku membelanjakan sebagian uang tabungan yang diperuntukkan untuk rencana kami berdua liburan musim dingin. Cukup puas membaca kedua buku itu. Banyak membantu.

Ketertarikanku terhadap tulisan Musto berawal saat mendapati sebuah ulasan Nick Taylor mengenai Marx for Today di blog The London School of Economics and Political Science. Meski singkat, review itu berhasil memprovokasiku.

Meski review ini bukan perkenalan yang pertama dengan nama Marcelo Musto.

Semasa menghadiri sebuah pertemuan di Jawaharlal Nehru University, seorang kawan bercerita tentang sekelompok intelektual Marxis yang menulis tentang Grundrisse. Hasilnya baru saja diterbitkan dalam buku bunga rampai berisi beragam tulisan dari berbagai sudut pandang. Nama Musto muncul dalam pembicaraan tersebut.

Buku yang dimaksud berjudul Karl Marx’s Grundrisse: Foundation of the critique of political economy 150 years later. Tebalnya hampir 300 halaman. IndoProgress juga memuat ulasan Arianto Sangaji mengenai buku ini. Lumayan jadi teman menunggu ketika kau dianugerahi keberlimpahan waktu saat transit di bandara atau menunggu bus antar negara.

Grundrisse memang elok dan menggiurkan.

Salah satu dari banyak karya Marx yang sayangnya tidak selesai ditulis dalam bentuk buku utuh. Ia adalah manuskrip-manuskrip berisikan penjelasan mengenai metode dan konsep yang sedang digeluti Marx untuk persiapan Capital. Naskah ini terbit kemudian setelah ditemukan oleh David Ryazanov, Direktur Marx-Engels Institute yang berbasis di Moskow. Grundrisse hadir pertama kali dalam bahasa Rusia dalam dua volume berbeda -terbit 1939 dan 1941. Ia mungkin salah satu naskah Marx yang paling tragis. Mulai mendapatkan pembaca luas secara pada kisaran 1957 meski Marx menulis Grundrisse seratus tahun sebelumnya.

Edisi terjemahan penuh Grundrisse dalam bahasa Inggris dikerjakan oleh Martin Nicolaus yang terbit tahun 1973. Keterlambatan ini menurutku ikut mempengaruhi timpangnya popularitas antara Grundrisse dan Capital, meski yang disebut terakhir ditulis belakangan oleh Marx.

Dalam Grundrisse, Marx memamerkan kapasitasnya sebagai intelektual bajingan yang tidak main-main dalam melakukan kritik secara radikal. Lelaki berjanggut yang mati dalam kemiskinan ini misalnya, tidak semena-mena menjatuhkan penghakiman terhadap pemikiran David Ricardo -yang tidak lain adalah kritik terhadap praktek ekonomi merkantilisme yang ekstraktif dan brutal. Melalui “naskah mentah” ini, Marx mendudukkan peran komoditi sebagai pusat dari perputaran kapitalisme, juga berhasil merekuperasi konsep dialektika Hegel untuk kemudian digunakan sebagai senjata menyerang filsafat borjuis Hegel -seperti yang tertuang dalam Logic, dan mentransformasikannya sebagai salah satu fundamen penting gagasannya sendiri yang dikemudian hari dikenal sebagai Dialektika Materialisme.

Singkatnya, Grundrisse adalah pengantar yang dapat dikatakan sempurna untuk memahami Capital -meski jeda di antaranya adalah pentingnya mempelajari Logic yang ditulis Hegel. Meski diniatkan sebagai catatan pribadi, Grundrisse adalah hadiah langka yang dihadiahkan seorang revolusioner supaya kita dapat mengerti totalitas kritik ekonomi-polik yang ia sodorkan dalam bukunya.

* * *

“Dia salah satu orang yang serius dan tekun mempelajari tentang Operaismo. Cuma sedikit jumlahnya di Indonesia.”

Marcelo Musto menatap lelaki berkacamata yang berkulit kuning di sampingku. Namanya Hizkia Yosie Polimpung. Ia salah satu pendiri Koperasi Riset Purusha, yang para pegiatnya adalah anak-anak muda. Yosie juga salah satu editor di Jurnal IndoProgress, sebuah sindikasi informal yang memfokuskan diri pada pengembangan, elaborasi dan perdebatan mengenai konsep, metode dan ragam pemikiran Marxisme di Indonesia. IndoProgress dan Purusha adalah inisiator diskusi -bersama SEMAR UI- di mana Musto didaulat sebagai pembicara.

“Cuk.”

Aku tertawa mendengar respon Yosie terhadap introduksi dirinya di hadapan Musto.

Seperti Musto, aku mengenal Yosie pertama kali lewat tulisan-tulisannya di IndoProgress. Saat itu aku masih menggelandang di Thailand dan membaca artikel-artikel berbahasa Indonesia adalah pelarian yang nikmatnya hanya berada satu level di bawah daging babi dan bir. Ketika memutuskan pulang ke Indonesia, saya langsung menjumpainya. Bertukar pikiran sebentar dan segera menemukan ada irisan-irisan yang membuat saya merasa nyaman berbincang dengan dirinya.

Yosie sedang menempuh studi doktoral ilmu filsafat di Universitas Indonesia. Ia berupaya merevitalisasi filsafat nihilisme yang kepalang bablas dan jadi bulan-bulanan para pecinta kutipan buku dan tulisan penuh prasangka yang tidak ilmiah. Yang paling menarik dari Yosie menurutku adalah dua tulisannya yang merupakan ulasan terhadap buku Martin Suryajaya berjudul Materialisme Dialektis: Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer.

Buku Martin tersebut, adalah salah satu di antara sedikit karya yang saya sesali di kemudian hari karena membelinya dengan hanya bermodal rasa ingin tahu.

Pemikiran Otonomia, oleh banyak Marxis -atau mereka yang mendaku diri Marxis hanya karena menggunakan kaos palu arit atau bintang merah dan kepal tangan kiri- memang diliputi prasangka, tuduhan-tuduhan bahkan penghakiman yang jauh dari sikap ilmiah dan objektif yang diadvokasikan oleh Marx sendiri. Konsepsi, metodologi dan sejarah pemikiran Otonomia dipandang sebagai anak haram jadah, atau sekedar buah kenakalan remaja. Bagi para fundamentalis Marxisme, Otonomia -dan Operaismo, tidak jauh lebih haram dari pemikiran anarkisme, komunisme libertarian atau nihilisme individual.

Orang-orang ini bertingkah persis sama seperti kelompok Lutheran konservatif yang menjadi salah satu sebab muaknya saya dengan lembaga gereja.

Sebagian besar dari mereka tidak pernah membaca karya para pemikir Otonomia, karena kebenaran Marxisme menurut mereka telah mutlak ketika Tsar Rusia berhasil tumbang tahun 1917 oleh pemberontakan luas petani miskin, kelompok buruh, militer rendahan bergaji menyedihkan dan para pemuda penuh gelora. Itu kenapa, saya tidak kaget ketika umpatan-umpatan Martin tentang Otonomia -satu bab khusus dalam buku Materialisme Dialektis berisi makian-makian spekulatif untuk mengharamkan ide Otonomia- yang didasarkan pada spekulasi diamini banyak pembacanya. Gelombang kebangkitan gerakan pekerja di Italia, radikalisasi pelajar dan meluapnya diskursus tentang pengarusutamaan jender di periode 1970-an, disapu habis oleh khotbah seorang intelektual.

Banyak memang yang ahistoris. Sebagian lain, terlalu enggan untuk mencoba terbuka dan belajar mengenali.

Yang pertama kali disebut otonomis adalah para individu yang tergabung dalam gerakan Autonomia di Italia. Gerakan ini muncul dan mulai bergerak di periode -yang hari ini dikenal sebagai- Hot Autumn di tahun 1969. Ini adalah periode suram di mana penangkapan ekstrajudisial seramai pasar malam. Memasuki periode 1970-an, gerakan ini menyebar luas di Italia dan menjadi salah satu motor gerakan sosial yang menuntut perubahan secara menyeluruh.

Grup-grup otonomis tumbuh subur seperti jamur ajaib (magic mushroom) di atas kotoran sapi sesudah hujan reda.

Tiap-tiap orang menghimpun dirinya ke dalam berbagai afinitas dan asosiasi yang didasarkan pada kesamaan isu, tempat kerja, universitas, atau lingkungan tempat tinggal. Sementara itu, para pengusaha, birokrat dan partai Komunis Italia -seperti sebelumnya, justru mengambil posisi berseberangan.

Partai Komunis Italia, berkebalikan dengan klaim tugas sejarah yang menjadi pembelaan mereka terhadap sentralisme dan wabah birokratisme, adalah salah satu unsur yang berusaha keras merepresi dan menghentikan gerakan ini. Ini adalah masa di mana kepercayaan politik terhadap lembaga-lembaga kekuasaan dan model-model representasi mengalami degradasi. Orang-orang menolak mematuhi hukum negara dan memilih mengkreasikan kesepakatan-kesepakatan baru yang diambil dengan persetujuan dan keterlibatan banyak orang.

Gerakan Otonomia adalah inisiatif yang mulanya muncul di pabrik-pabrik di Italia Utara. Pada 1950—1960an, berbagai model protes pekerja hadir. Mencuri di tempat kerja, bekerja secara lambat, melakukan sabotase mesin, mogok-mogok kerja yang liar (wildcat strikes), hingga pendudukan dan pengambilalihan pabrik. Dinamika ini mendapatkan respon beragam dari para militan, yang kemudian mendorong terjadinya perkembangan-perkembangan teoritis. Analisa terhadap dinamika konflik dalam sistem kapitalisme, fungsi kerja, bentuk-bentuk kerja, komposisi kelas pekerja, hingga perluasan-perluasan konseptual mengenai bentuk-bentuk dan kemungkinan-kemungkinan alternatif untuk merealisasikan bentuk masyarakat yang berbeda.

Meskipun aksi-aksi langsung, pemogokan, squating massal, pertempuran jalanan, pendudukan universitas dan berbagai aksi radikal lainnya dilakukan dengan skala besar dan massif selama tahun 1970, gerakan di Italia tersebut terpecah-pecah. Salah satu faktor penyebabnya adalah serangan-serangan brutal, pemenjaraan dan pembunuhan para radikal yang dilakukan oleh polisi dan pemerintah yang saat itu dikontrol oleh partai Komunis. Di saat yang sama, respon terhadap menanjaknya eskalasi serangan dari negara, taktik terorisme revolusioner juga ikut berkembang sebagai cara untuk membalas dan mempertahankan diri dari gelombang represi.

Grup-grup teroris revolusioner -semisal Brigade Merah– melakukan aksi penculikan, dan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh politik dan kepala pemerintahan. Ini adalah masa di mana terma gerilyawan kota kembali populer di tengah berbagai variasi gerakan sosial lain. Semisal eksisnya berbagai pertemuan-pertemuan besar yang mendorong tiap orang untuk terlibat sebagai ujicoba demokrasi. Atau bagaimana menjalankan universitas secara desentralis dan otonom tanpa intervensi dari kekuasaan negara.

Ini adalah masa di mana berbagai taktik yang mungkin diujicobakan, baik secara terbatas atau secara luas. Kritik dan diskusi dibangun dan ide dipertukarkan, praktik ditanggapi dan diperiksa kekurangannya. Mario Tronti, Bifo Berrardi, Paolo Virno, Sergio Bologna dan Antonio Negri -barisan teoris Otonomia- bukanlah intelektual belakang meja seperti tuduhan Martin. Tuduhan tersebut adalah bukti kemalasan paling banal Martin yang luar biasanya kemudian diterbitkan dalam bentuk buku dengan klaim Dialektika Materialisme. Berkebalikan dengan itu, tulisan-tulisan para teoritisi Otonomia didasarkan pada geliat praktik yang sedang atau telah diujicobakan. Mereka mengikuti jejak langkah Marx yang mensyaratkan pengamatan yang mendalam, akurasi data, penelaahan konsep dan metodeologi serta pemeriksaan basis filsafat. Praktik yang tanpa didahului justifikasi-justifikasi tanpa bukti -yang dilakukan Martin bukan hanya sekedar merendahkan kerja-kerja tekun yang revolusioner, namun meludahi klaim teoritik dirinya sendiri.

Otonomia memang unik.

Ia keluar dari posisi biner perdebatan anti-kapitalisme yang sebelumnya berputar di dua poros: Leninisme dan segala variannya di satu sisi, serta anarkisme. Ia menyerap berbagai keunggulan dari bermacam tendensi dan faksi anti kapitalisme yang terserak macam tai saat perutmu dihajar mencret.

Salah satu warisan gerakan Otonomia misalnya adalah elaborasi mengenai pekerja imaterial.

Saat itu teknologi baru hadir dan gelombang investasi besar-besaran perusahaan pada teknologi untuk mengurangi jumlah buruh manual. Hal ini tidak lain merupakan tanggapan (restrukturisasi kapitalisme) terhadap resistensi yang dilakukan oleh pekerja industri -seperti mogok kerja dan demo. Restrukturisasi kapitalisme mensyaratkan peningkatan kapasitas (intelektualisasi) kelompok pekerja. Efeknya adalah perubahan sosial ekonomi yang lebih luas, yang tidak hanya terjadi di dalam pabrik, tapi juga masyarakat secara luas. Jika dalam masyarakat industri, ekonomi barang adalah tulang punggung, pekerja tidak dibebani syarat kemampuan (skills) yang rumit dan beragam. Sementara dalam masyarakat pasca-industri, di mana ekonomi jasa menjadi tumpuan, maka pelayanan (service), informasi dan pengetahuan, menjadi prasyarat utama.

Singkatnya, jika pekerja material dalam masyarakat industri menghasilkan produk berupa barang, maka di masyarakat pasca-industri maka yang dihasilkan adalah pengetahuan, informasi, komunikasi dan relasi afektif -misal, senyum dan pelukan.

Mauricio Lazzarato mempertegas hal tersebut dengan mengatakan bahwa pekerja imaterial menghasilkan konten informasi dan kultural dari komoditas. Meskipun begitu, pekerja imaterial di masyarakat pasca-industri tetap mensyaratkan adanya kemampuan-kemampuan manual (dalam level yang lebih kompleks) semisal kemampuan mengoperasikan perangkat komputer, kemampuan menganalisa, kemampuan merumuskan solusi dan strategi, dan lain sebagainya. Ini mengapa pada hari-hari ini, produk yang dihasilkan oleh pekerja immaterial kemudian mendikte jenis kerja lainnya, termasuk kerja-kerja industri. Pekerja immaterial juga tidak terintegrasi secara langsung ke dalam proses kerja manual yang dikerjakan pekerja material di ranah industri. Namun mereka adalah orang yang bertanggung jawab atas proses reproduksi tenaga kerja melalui perekrutan, wawancara, pelatihan dasar, peningkatan kapasitas hingga solidaritas (afeksi).

Misal, kelompok masyarakat yang sangat tergantung kepada para pengacara ketika berhadapan dengan hukum yang reresif atau kelompok masyarakat ulayat yang mesti bersandar pada pengetahuan para fasilitator (mediator) konflik. Pekerja imaterial adalah mereka yang menghasilkan sesuatu yang tidak bisa dirasakan oleh panca indera, namun produk tersebut memiliki peran penting yang menentukan alur dari distribusi komoditas yang diproduksi industri dan pekerja material.

Peninggalan berharga lain dari gerakan Otonomia -yang di kemudian hari begitu membantu saat saya menuliskan tugas akhir studi di Thailand- adalah soal kapitalisme kognitif.

Untuk memahami kapitalisme kognitif, kita perlu menyadari bahwa dalam kapitalisme pasca-Fordisme, universitas sinonim dengan pabrik, tenaga administrasi dan para pengajar berperan sebagai buruh imaterial, dan pelajar adalah produk yang dihasilkan dari mata rantai produksi tersebut. Keberadaan universitas dan tenaga pengajar -yang merupakan agen dengan hubungan saling memengaruhi. Kebijakan kampus yang komersil, kehidupan akademik yang hirarkis dan eksploitatif, termasuk ketidakberdayaan pelajar dalam menghadapi represif kognitif dalam proses belajar. Produk-produk kebijakan institusi pendidikan tersebut adalah alat represi. Alat represi ini mendapatkan sokongan aktif melalui agen-agen ideologis -tenaga administrasi dan tenaga pengajar- yang tugasnya adalah memastikan pasifisme pelajar terus berlangsung dan semakin dalam.

Aturan tentang pemecatan pelajar (DO) di perguruan tinggi, beban studi yang menumpuk, jangka waktu belajar yang dibatasi, bersahutan dengan kurikulum yang feodal, pedagogi yang lumpuh serta rendahnya kualitas tenaga pengajar di institusi pendidikan. Masalah-masalah tersebut tidak muncul sebagai akibat yang berdiri sendiri, namun merupakan hasil langsung yang terhubung dengan perluasan dan percepatan transformasi perguruan tinggi sebagai pabrik penghasil tenaga kerja imaterial yang siap dilempar ke pasar.

Di Indonesia, gerakan pelajar masih terlalu dungu untuk memahami hal ini.

Mereka gagal mengidentifikasi bahwa medan pertarungan gerakan pelajar tidak terletak di luar institusi pendidikan, tetapi justru di dalam kampus. Meninggalkan kampus justru merupakan bentuk impotensi dan kecacatan filosofis yang fundamental. Kebodohan massal ini ironisnya dilabeli dengan heroik (bunuh diri kelas, turun basis, dan segala macam tetek bengek lain). Semua itu bertujuan untuk menutupi logika jungkir balik di tengah serikat-serikat pelajar saat memandang dirinya. Berubahnya kampus menjadi tukang stempel bagi praktik-praktik eksploitasi sumber daya alam dan manusia, adalah bukti kegagalan advokasi gerakan pelajar. Banyak aktivis pelajar yang berupaya mengingkari bahwa perguruan tinggi adalah bentuk inisiasi yang dilakukan oleh negara dan kapitalisme agar seseorang siap menjadi pekerja yang patuh, interupsi justru mesti dilakukan dan berawal dari ruang-ruang di mana, pelajar adalah bagian integral di dalamnya.

Saya menulis kritik yang cukup keras soal ini. Tapi, angin berhembus ke utara terlalu kencang.

* * *

“Saya masih punya satu kali lagi diskusi dengan kalian. Mungkin itu bisa jadi kesempatan untuk menjelaskan lebih dalam dan detil soal pertanyaan yang kamu ajukan. Forum macam ini memang bukan tempat yang tepat. Saya sekedar memberi pengantar saja hari ini.”

Saya mengangguk. Tersenyum. “Tak usah dipikirkan. Suatu saat akan ada kesempatan.”

“Ya benar. Saya ingin datang ke Indonesia lain kali. Mungkin liburan. Atau kau bisa mengundang saya ke sini.”

Aku tertawa kecil.

Ia menatapku heran. “Kenapa?”

“Saya bukan bagian dari dunia akademik di negeri ini. Saya orang luar.”

Musto masih menatap saya lekat. Ia mungkin belum mengerti.

“Saya bukan pengajar atau peneliti di lembaga pemerintah atau universitas. Saya bekerja di sebuah NGO. Sulit bagi saya untuk bikin acara seminar macam ini.”

“Oh, saya paham.” Jari telunjuknya bergerak mendorong sanggahan kacamata yang mulai melorot di hidungnya. Terlalu sering membungkuk, mungkin. “Tapi kamu bisa memprovokasi orang lain untuk melakukan itu.” Kali ini Musto bertanya dengan senyum yang juga tampak provokatif buatku.

“Ah, kau ini. Nanti saja. Tidak ada yang tahu masa depan.” Aku menjawab sembari membuang puntung kretek yang sudah tandas.

“Jangan lupa. Bisa tahun depan, atau akhir tahun depan. Saya bisa luangkan waktu.” Nada bicaranya serius.

Aku hanya mengangkat bahu.

“Oh iya. Juga kurangi merokok.”

Aku mendongak dan menatap matanya. “Aku tidak merokok. Aku menghisap kretek.”

Andre Barahamin