Kebakaran Hutan Sebagai Masa Depan Indonesia

Jokowi sudah satu tahun memimpin. Sudah banyak yang sudah ia lakukan, juga masih banyak yang berupa rencana. Suka tidak suka, Jokowi masih akan memerintah empat tahun lagi. Kecuali ada hal-hal di luar dugaan yang terjadi.

Misal, mas Kokok menyerukan revolusi dan menyatakan siap jadi presiden, maka peluang untuk Jokowi digulingkan terbuka lebar. Saya sangat yakin, para hardliner Mojok dan pendukung Jokowi tidak akan sanggup menolak mas Kokok. Suami mana yang tidak ingin istrinya dapat cuti hamil sembilan bulan? Istri mana yang tidak ingin suaminya meninggalkan panti pijat dan justru berlatih tinju? Militan seperti mas Iqbal Aji Daryono sudah pasti mendukung, mosok kalian gak?

Kalaupun ada yang menolak, pasti hanya kelompok jomblo tragis yang tidak nasionalis yang bakal menolak. Dan sudah dapat diduga kalau kelompok ini bakal direpresentasikan oleh Arman Dhani dan Agus Mulyadi. Soal dua orang ini, cukuplah kita semua mengelus dada. Gak usah diperpanjang. Ngomongin derita orang kok senang banget. Dasar!

Kembali ke soal Jokowi. Selama satu tahun memimpin, mungkin salah satu ujian berat yang harus dihadapi oleh ayah tiga orang anak ini adalah bencana kebakaran hutan yang menyebabkan kabut asap tebal. Kebakaran tahun ini adalah yang paling keren dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Semenjak rutin terjadi pada tahun 1999, baru kali ini Indonesia berhasil memecahkan rekor dengan lebih dari 2.000 titik api. Kebakaran hutan kali ini juga benar-benar merata. Tidak hanya terjadi di Sumatera (575 titik api) dan Kalimantan (1.312 titik api) seperti biasanya. Papua juga tidak mau kalah untuk terbakar (59 titik api). Hebat bukan? Bukankah ini yang namanya pemerataan? Juga menjadi bukti nyata bahwa sebagai bangsa, kita memiliki solidaritas tinggi dengan berbagi penderitaan.

Kita semua juga harusnya berbangga.

Kebakaran hutan kali ini berhasil membuat bangsa ini jadi perhatian dunia. Hampir semua media internasional memberitakan soal Indonesia. Kini makin banyak orang tahu soal Jambi yang ketebalan asapnya sudah dua kali berada di ambang batas bahaya. Atau makin banyak yang kini paham letak dari Bandar Udara Bandar Udara Syamsudin Noor, Bandar Udara Supadio, Bandara Udara Sultan Syarif Kasim II atau Bandar Udara Kuala Namu, beberapa bandara bertaraf internasional yang kini makin sering membatalkan jadwal penerbangannya karena terhalang kabut. Ini promosi gratis yang dapat berefek pada meningkatnya jumlah wisatawan asing yang ingin mengunjungi negeri ini. Kapan lagi punya kesempatan untuk tampil di halaman depan koran-koran Eropa tanpa perlu mengeluarkan biaya sepeserpun?

Mereka yang tidak mampu melihat sisi positif ini adalah yang terlanjut kalap dengan kebencian! Tidak nasionalis dan hanya bisa menggerutu. Mending pindah negara aja!

Lagipula kebakaran ini sebagian besar terjadi di areal konsesi yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan sawit. Ini jelas menunjukkan wibawa kita sebagai negara penghasil sawit terbesar di dunia. Banyak pasti yang tidak tahu bahwa lebih dari 50% kebutuhan sawit di dunia disuplai oleh Indonesia. Tahun 2012 kemarin, 35% dari produksi minyak sawit kita telah berlabel Certified Sustainable Palm Oil (CSPO), semacam sertifikat halal dalam dunia bisnis sawit. Kita harusnya bisa berbangga. Dengan menepuk dada, kita dapat mengatakan kepada dunia bahwa tanpa sawit Indonesia, they means nothing! Itu mengapa saya sepakat dengan perluasan 4 juta hektar lagi lahan perkebunan sawit yang ditargetkan Jokowi sebelum tahun ini berakhir. 6 juta hektar yang diwariskan pemerintahan sebelumnya terasa tidak cukup. Kalau perlu, kita mesti mematok target ambisius. Sebelum tahun 2025 seluruh hutan hujan dan lahan gambut di seluruh negeri sudah harus jadi perkebunan sawit. Merdeka!

Menggantikan hutan dan lahan gambut kita dengan sawit juga akan membebaskan semua orang di masa mendatang dari kemungkinan terulangnya diskusi konyol ala Edward Samadyo Kennedy vs Melanie Subono yang mempersoalkan apakah ini bencana nasional atau bukan. Kalau itu benar terjadi, tentu dalam beberapa tahun pertama kita akan mengalami kebakaran hutan. Semakin lama semakin luas hingga akhirnya tidak ada lagi kebakaran terjadi karena tidak ada lagi hutan yang tersisa. Dan abrakadabra, solusi akhirnya datang menjemput masalah.

Lalu bagaimana soal bencana iklim seperti emisi karbon, penipisan ozon, atau bencana ekologi lain karena hilangnya hutan? Bagaimana dengan masyarakat adat yang kehilangan ruang tinggal, sumber pangan dan pilar penting kosmologi mereka? Bagaimana nasib gajah, harimau atau orang utan?

Siapa yang peduli?

Di masa itu tak ada lagi animal lover atau aktifis lingkungan. Karena yang penting bagi semua orang adalah memastikan tabung oksigen kita terus terisi.

Andre Barahamin

2 Comments

  1. Kok ini dulu gak dimuat di Mojok?
    Padahal bagus dan “membuka mata”.

Comments are closed.