Kota: Cara Bunuh Diri Pascamodern

Kota adalah kematian yang kita kreasikan.

Semenjak manusia membangun kota –dan memisahkannya dengan daerah lain yang bukan, manusia sebenarnya telah menemukan cara untuk membunuh dirinya secara perlahan, menyakitkan secara mental dan ragawi namun dirayakan dengan apologi-apologi yang eskapik. Kehidupan di dunia urban adalah kehidupan yang sesak, padat dan penuh himpitan. Hari ini, tidak akan kita menemukan kota yang tidak mengalami over-populasi, kerusakan lingkungan yang esktrim, angka kriminalitas yang tinggi, serta upaya pembenahan yang justru melahirkan lebih banyak permasalahan.

Jakarta misalnya.

Di kota ini, semua orang yang ada di dalamnya tentu sadar bahwa mereka sedang tinggal di tempat yang berantakan. Kemacetan yang membuang waktu dan dapat membuat gila, polusi yang berada di level yang tidak manusiawi serta orang-orang yang mengalami kemiskinan untuk mengartikulasikan dirinya dalam ruang-ruang sosial. Dengan 13 juta orang di dalamnya, siapa yang sanggup membenahi masalah demi masalah yang datang tanpa henti menerpa kota ini?

Siapa?

Para birokrat brengsek di pemerintahan sudah kita tahu bahwa mereka hanya terobsesi dengan kekuasaan. Sementara para urban planner tidak lebih dari sekelompok orang sok tahu yang merasa paling berhak atas kehidupan kreatif orang lain. Sedangkan mereka yang mendaku diri sebagai kelompok pro lingkungan sebenarnya tidak lebih brengsek dari yang lain, dengan menambal kerusakan di kota-kota dengan menghancurkan apa yang masih tersisa.

Hidup dan tinggal di kota, setiap orang sejak lahir telah diajar untuk menjadi pesimis bahwa kehidupan yang akan dijalani adalah perlombaan untuk menyongsong kerusakan total dan menyeluruh. Masing-masing dari kita yang tinggal di kota-kota telah dan sedang terus berkontribusi untuk memperebutkan oksigen yang tersisa. Sembari menipu diri dengan berpura-pura bahwa kita sedikit peduli untuk kemudian berbenah mencegah kiamat datang.

Lagipula apa yang sejatinya ingin dibenahi dari kota?

Sebagai sumber masalah, kota kemudian berupaya diobati dengan sesuatu yang memiliki dampak berupa masalah-masalah lain. Lantas masalah-masalah tersebut diobati lagi dengan sesuatu yang juga memiliki dampak yang hanya melahirkan lebih banyak masalah lainnya. Lagi dan lagi. Terus dan terus. Hingga pada suatu ketika, kita mulai lupa, apa sesungguhnya masalah awalnya. Lalu karena kita telah kehilangan ketidakmampuanuntuk menemukan akar masalahnya, sebagai masyarakat kita beramai-ramai melakukan satu hal: melupakan masalah.

Untuk membantu melupakan masalah, kita kemudian menciptakan dan mengkonsumsi berbagai penenang. Mulai dari beragam sarana dan metode hiburan, alkohol hingga menenggak obat. Namun karena masalah yang bergelombang tanpa akhir membuat setiap orang mesti meningkatkan kadar konsumsi penenang hingga kemudian tanpa sadar kita semua telah menjadi pecandu. Setiap orang dengan kadar kecanduan yang berbeda dan terhadap jenis yang tidak sama.

Baru-baru ini misalnya. Begitu banyak orang begitu sinis dengan narkoba dan menyalahkan bahwa kecanduan adalah perilaku yang tidak bisa diterima keberadaannya di tengah masyarakat kita. Semua orang berseru gembira ketika para pedagang narkoba ditembak mati. Yang lain kemudian berseru bahwa kita mesti menjauhi narkoba. Semua orang merasa bahwa dirinya perlu untuk saling mengingatkan agar yang lain tidak jatuh ke dalam bahaya kecanduan. Iklan, seminar, konsultasi psikis dan beragam jenis kampanye lain digalakkan. Namun semuanya sama: menyalahkan para pecandu narkoba!

Namun pernahkah kita melihat diri kita? Melihat masyarakat kita? Bukankah itu yang sesungguhnya dilakukan masyarakat kita? Para pecandu sama sekali tidak layak disalahkan. Mereka hanyalah refleksi dari masyarakatnya, pantulan dari lingkungan sosialnya, gambaran dari apa yang terjadi dan berlangsung di sekitarnya. Melupakan masalah dan sibuk mengonsumsi obat. Jika sebagian orang memilih mengkonsumsi heroin, sebagian lain menenggak alkohol atau menumpuk sejumlah barang-barang. Yang lain menjatuhkan pilihannya kepada agama, partai politik atau bahkan ideologi. Bukankah itu juga kecanduan?

Lalu, apa bedanya?

Setiap orang kini sedang terobsesi dengan sesuatu, semisal tinggal di kota. Karena kita tahu bahwa lingkungan urban adalah tempat di mana uang berputar dengan jumlah yang bahkan melampaui angka-angka. Kita mengeluh tentang kehidupan yang buruk di kota namun tidak pernah ingin bergeser walau seinci. Justru menjadi lebih buas untuk kemudian mempertahankan apa yang kita yakini sebagai pencapaian. Sembari menancapkan kuku lebih dalam yang tidak lain adalah bentuk upgrade dari kecanduan kita akan kehidupan urban.

Inilah kehidupan yang tidak lagi kita miliki, namun berbalik menguasai dan memperbudak. Jenis kehidupan yang tidak akan melepaskan kita hingga datangnya kematian menjemput. Dan ini penemuan mutakhir kita sebagai manusia paska modern. Sebuah cara yang ditemukan untuk membunuh diri kita secara perlahan dan menyakitkan.

And you know what, we are fucked up!

Andre Barahamin