Shortspit: Teror

Sejak beberapa hari belakangan, rumah kontrakan tempat saya tinggal di Da Nang, Viet Nam, menjadi tidak nyaman.

Dua malam berturut-turut, pintu rumah dilempari batu. Pelaku tidak pernah bisa diidentifikasi. Kemarin malam, ketika pelemparan terjadi, ada beberapa orang yang sedang duduk berkumpul di samping teras kontrakan saya. Anehnya, semua tetangga mengaku tidak melihat pelaku pelemparan. Padahal teras rumah dan tempat orang-orang itu nongkrong, berjarak kurang dari tiga meter. Saya memilih diam dan menahan diri sejak tadi malam. Kekesalan saya tumpahkan melalui Facebook.

Pagi tadi, atas saran dan desakan seorang kawan, saya melaporkan kasus tersebut ke polisi. Terus terang, saya pesimis sejak awal kalau polisi bisa bantu menyelesaikan kasus ini. Punya pengalaman buruk dengan polisi di Indonesia, Thailand dan Filipina, sedikit banyak membuat level kepercayaan saya terhadap polisi menjadi rendah. Dan seperti dugaan saya. Polisi hanya memberikan janji untuk mengusut kasus itu. Karena melapor di hari Minggu, mereka meminta saya untuk kembali di hari Senin dan mengisi semacam formulir aduan. Pihak kepolisian meminta saya pindah ke hotel atau rumah kenalan untuk sementara.

Saya tidak menanggapi. Lebih banyak diam dan mengangguk. Penguasaan bahasa Viet Nam saya masih sangat buruk untuk digunakan menyanggah atau mengartikulasikan keberatan-keberatan.

Pulang dari kantor polisi, saya putuskan untuk tetap tinggal di rumah kontrakan. Saya tidak mau rugi membayar hotel. Minggu lalu, saya sudah melunasi pembayaran uang sewa untuk satu bulan ke depan. Saat makan siang, sikap ini saya tegaskan kepada kawan yang ikut menemani sejak di kantor polisi tadi.

Sore ini, teror ini mengambil bentuk yang baru. Setelah pulang dari makan siang di luar, saya menemukan jendela rumah yang dicoreti pesan. Mereka meminta saya pergi dari rumah kontrakan.

Alasannya teror ini masih tidak jelas. Pesan yang ditulis menuduh saya pendatang ilegal. Saya kira ini lucu. Jika memang khawatir saya memasuki Viet Nam secara tidak sah, mereka bisa dengan sopan meminta saya menunjukan passport. Atau, bisa langsung menghubungi polisi. Tidak perlu main teror.

Saya yakin tidak pernah membuat masalah di lingkungan ini. Sejak tiba dari Indonesia, saya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Mengetik, membaca, menghisap kretek, minum kopi sembari mendengarkan musik dari headphone. Enam hari ke belakang memang saya fokuskan untuk menyelesaikan urusan kuliah. Praktis, rumah ini lebih cenderung lengang. Sesekali saja saya keluar untuk membuang sampah atau membeli beberapa barang di warung terdekat.

Saya mulai intens datang dan menetap di Viet Nam sejak akhir 2013. Frekuensi tinggal ini makin sering dengan masa tinggal yang panjang di tahun 2014. Tahun lalu, saya mendapatkan kontrak kerja di salah satu institusi penelitian di Hue. Kontrak ini berakhir Desember 2014. Kami sepakat untuk tidak memperpanjang kontrak karena saya punya rencana untuk kembali ke Indonesia.

Selama itu, saya tidak pernah mendapatkan masalah. Di beberapa kontrakan sebelumnya, saya bahkan sering mendapatkan kue atau diundang untuk ikut minum bir. Tahun lalu, saya sempat membuka kelas bahasa Inggris gratis untuk anak-anak di sekitar kontrakan. Kelasnya berlangsung dua kali seminggu setiap sore. Tiap kelas sekitar 90 menit hingga dua jam. Aktifitas ini bikin saya cukup akrab dengan tetangga, terutama orang tua dari murid-murid di kelas tersebut.

Itu mengapa saya cukup heran dengan teror kali ini.

Beberapa saat sebelum menulis status ini, seorang kolega lain menelpon. Mengabarkan bahwa ada kontrakan lain dan minta saya pindah esok pagi. Uang sewa bulan pertama sudah mereka lunasi. Uang pembayaran merupakan hasil beberapa orang urun rembug. Saya diminta segera merapikan barang dan bersiap. Malam ini, saya akan dijemput untuk makan malam sementara barang akan dititipkan di rumah kawan yang lain.

Saya merasa agak lucu. Tapi cukup mengerti bahwa mereka khawatir dengan saya. Meski saya pribadi masih merasa aman. Tumbuh di Indonesia sedikit banyak mendidik saya untuk kebal teror. Di Indonesia, rumah dilempari bukan hal yang luar biasa. Rumah dicoret pesan teror atau diancam mau dibunuh, juga bukan hal baru bagi saya. Hal-hal itu berhasil membuat saya lebih awas dan cukup konfrontatif untuk persoalan membela diri.

Sekitar tahun 2006, sewaktu masih aktif di salah satu organisasi mahasiswa, saya pernah mengalami momen buruk. Sekretariat kami dihujani batu dan dikepung oleh orang-orang dengan senjata tajam. Kala itu, Manado sedang memanas karena pemilihan walikota. Pendukung salah satu kandidat, marah besar dengan kami. Sebab kami dituduh menerima bayaran dari kubu lain untuk melakukan propaganda hitam. Calon yang mereka usung diduga terlibat kasus korupsi dan kampanye anti korupsi kami dianggap merugikan.

Tahun 2008, saya bahkan pernah diancam dengan pistol oleh seorang tentara. Ia kesal karena saya dianggap menyembunyikan para aktifis Papua yang melakukan pengibaran bendera Bintang Kejora. Sikap tutup mulut saya dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap dirinya yang merepresentasikan penegakan supremasi negara kesatuan.

Saya juga pernah dihadang sekelompok orang dan dikeroyok tiba-tiba suatu malam, ketika sedang berjalan pulang dari kampus. Kepala saya sempat luka karena dihantam kayu. Untung bisa selamat dan tidak kena tusuk pisau. Saya lari ketakutan karena berpikir bakal mampus.

Juga pernah sekali dihadang remaja-remaja yang sedang mabuk obat penenang. Kena pukul di beberapa bagian meski bisa membalas sebelum kabur karena ada polisi yang lewat.

Tumbuh di Manado, mengajarkan saya bahwa rasa takut itu penting untuk menjaga kita tetap selamat dan terus hidup. Jika seseorang tidak lagi merasa takut, kita bisa gampang celaka. Bahkan mungkin kehilangan nyawa. Rasa takut merupakan sesuatu yang manusiawi dan tidak bisa ditolak. Ia semacam alarm agar hidup tetap awas.

Mengingat itu semua, saya jadi paham dengan kekhawatiran kawan-kawan saya. Mereka ada benarnya. Saya harus pindah malam ini.