Huế Dan Dua Gelas Kopi Sebelum Pukul Tujuh

Viet Nam dengan kafe-kafe kopinya ibarat lebah yang berkerumun di sebuah kelopak bunga.

Di Huế, kota di mana saya tinggal, akan sangat mudah menemukan tempat bersantai dan menikmati secangkir kopi. Sepanjang kedua sisi Hương Giang (sungai yang harum) saja terdapat sekitar seratus warung kopi yang memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk singgah. Ingin duduk di bawah pohon yang teduh dan menikmati pemandangan sungai, atau mencari tempat duduk yang agak sepi, di bawah payung-payung plastik.

Saya dan istri saya memiliki satu kafe favorit di sana. Namanya Cam En. Letaknya tepat di tepi sungai, sebelah barat kota, berjarak sekitar dua puluh lima meter dari Festival Hotel.

Di Cam En ini kami biasanya memilih tempat di sudut sebelah kiri, di lokasi yang agak terpisah dari pengunjung lain. Sebuah meja dengan tiga kursi kecil kami duduk. Lokasi yang tepat untuk bercerita dengan bebas. Saling tersenyum, berpegangan tangan, dan sesekali berhenti untuk menyeruput kopi. Saya dengan segelas Ca phe da (kopi hitam), sedangan istri saya dengan segelas Ca phe sua da (kopi susu).

Kopi di Huế, seperti juga di kota-kota lain di Viet Nam, selalu disuguhkan bersama mangkok kecil berisi beberapa potongan es. Sementara gelas kopi ditudungi dengan penyaring berisi bubuk kopi yang sudah direndam air panas. Pelan-pelan air resapan kopi akan menetes di gelas. Setelah air dalam alat penyaring kering, kita dapat menambahkan potongan kecil es, sesuai selera. Saya biasanya menaruh dua potong.

 

Di Viet Nam, kopi mulanya diperkenalkan oleh Kolonial Prancis pada akhir abad ke 19. Perkebunan kopi pertama di negeri ini dibuka di sekitar An Nam. Jenis yang umum ditemukan kopi robusta yang ditanam di daerah dengan ketinggian 3.600 kaki.

Hari-hari ini, negara yang berkali-kali dikalahkan oleh Sylvester Stallone dalam film Rambo-nya, merupakan negara eksportir kopi terbesar kedua di dunia. Kisahnya, setelah perang berakhir pada pertengahan dekade 1990-an, pemerintah Viet Nam memulai intensifikasi penanaman kopi. Para petani mendapat subsidi, kemudian lahan-lahan pertanian itu mereka bekerja. Sarjana-sarjana pertanian diinstruksikan turun ke lapangan demi mendukung proyek.

Cara menyuguhkan kopi dengan penyaring tunggal untuk setiap gelas, merupakan taktik untuk menyiasati langkanya mesin pembuat kopi. Orang Viet Nam menyebutnya phin. Penyaring ini terdiri dari ruang penyaring (filter chamber), penekan saringan (filter press), cangkir pas (cup spanner) tentu saja tutup saringan.

Di Viet Nam banyak orang lebih suka menggunakan gelas kaca sebagai wadah tampung resapan kopi. Alasannya sederhana, dengan gelas kaca, kita dapat menyaksikan kopi yang jatuh perlahan. Kontemplatif, seperti rasa cinta dua pemuda yang tumbuh karena kebiasaan menghabiskan waktu bersama. Karena ini pula, seorang kawan saya berseloroh, minum kopi merupakan cara orang Viet Nam melupakan perang.

Cara membuat kopi ala Viet Nam cukup mudah jika tersedia phin. Langkah pertama adalah dengan meletakkan phin tepat di atas gelas kopi. Kemudian, serbuk kopi yang agak kasar dengan takaran secukupnya, dimasukkan ke dalam ruang penyaring (filter chamber) yang sebelumnya telah ditimpa dengan penekan saringan (filter press). Air panas kemudian dituang hingga hampir penuh, dan menutup saringan. Langkah terakhir, adalah menunggu sekitar lima hingga enam menit hingga air dalam saringan telah meresap dan menetes pindah ke dalam gelas.

 

Setiap pagi, istri saya selalu tidak pernah lupa menyeduh segelas robusta Viet Nam. Biasanya, setiap jam enam pagi, kami berdua akan duduk bersama di ruang tengah rumah kontrakan dan mencicip kopi.

Empat puluh lima menit kemudian, kami telah berpisah di simpang jalan menuju tempat kerja masing-masing. Maklum, aktifitas perkantoran di Viet Nam selalu dimulai pukul tujuh tepat. Minum kopi baru akan berlanjutkan ketika malam tiba. Duduk berdekatan, sembari memandangi kelip lampu warna-warni di jembatan Truong Tien.

Saat-saat seperti ini sering membuat saya sering rindu kampung halaman, lalu terus-menerus berjanji kepada istri, bahwa suatu saat nanti kami akan minum kopi berdua lagi: di Indonesia.

 

===

Tulisan ini tayang perdana di Minum Kopi

Andre Barahamin