Hue #06: Melankolia

Hue itu indah. Aku suka.

Terutama jalan setapak di tepi Perfume River. Suasana dan desain kota ini menggoda mereka yang terluka dan sedang berlari untuk berhenti dan mengobati diri. Ada banyak pohon yang tumbuh menjulang hingga bayang daun-daunnya jatuh dan meneduhkan gelisah. Aku mendapati bahwa gerah urung singgah ketika berjalan kaki menyusuri sungai sembari melihat-lihat tubuh kota ini. Tubuh yang dibalut waktu, dengan jeda agar setiap orang yang singgah dan menjelajah harus secara perlahan menikmati tiap kecupan sembari membayangkan dirimu berada di masa-masa terakhir sebuah dinasti. Membawa sebagian dirimu ke tikungan waktu saat kebosanan dengan musim dingin dan rasa penasaran akan dunia baru di seberang berbenturan dengan retaknya kuasa absolut yang menyelimuti diri dengan mitos. Periode di mana kapal-kapal kelelahan membuka jalan untuk kedatangan pertama bangsa Eropa.

Aku suka taman-taman di kota mu.

Terutama karena mereka menyediakan bangku-bangku semen dengan jarak yang cukup berjauhan. Yang menarik dari bangku-bangku ini, mereka didesain hanya untuk dua orang saja. Dua orang dan tidak lebih. Di mana kau tidak perlu duduk sendiri dan kemudian membenci sekitar. Taman ini seperti meminta setiap orang untuk menemukan kawan sebelum singgah dan menghabiskan waktu di sini. Menjadi pelana untuk dua orang yang saling membonceng dalam kisah. Entah soal rindu, soal amarah atau rasa gusar. Bangku di taman-taman kotamu seakan mengharuskan kesendirian cukup menjadi narasi di atas kertas-kertas puisi.

Aku suka bangku-bangku di taman-taman kota mu.

Terutama bangku yang terdapat di taman kecil di seberang jalan, samping hotel Saigon Morin. Ada tiga buah bangku yang membuatmu berhadapan dengan aliran sungai. Jika telingamu cukup peka, suara air yang menari akan jelas terdengar. Tempat di mana aku bisa duduk dan membisu untuk beberapa saat dan membiarkan semua waktu yang berkejaran luruh begitu saja dalam diam. Beberapa hari perdana saat aku baru pertama kali singgah di kota ini, taman ini adalah pelarian paling sempurna yang aku temukan ketika bosan dengan tumpukan kertas kerja. Aku sengaja menghabiskan senja dengan duduk di bangku taman dengan ditemani Poe dan Wilde. Keduanya ku curi dari salah satu toko buku di sini. Lalu ku ajak memunggungi motor-motor yang saling menikung dan berlomba dengan diri sendiri. Aku lebih suka duduk di situ, di taman kecil itu. Ketimbang mengitari kota ini dan meliarkan pandanganku.

Ini adalah ruang awal saat aku bercerita dengan diriku tentang seorang perempuan. Gadis oriental dengan senyum yang ku temui di penjara buku.

Perempuan yang di kemudian hari membuat ikatanku dengan kota ini berumur panjang. Perempuan yang berhasil membuatku berpaling dari kesombongan dan mengakui bahwa sesekali mengakui hati manusia memang gampang retak dan terluka. Perempuan yang membantuku menggaris takdir dengan warna berbeda dan penuh riak emosi. Perempuan yang menarik diriku kembali ke permukaan sosial dan menjalin kembali banyak benang relasi yang sengaja kuputus di masa lalu. Perempuan yang mengajari soal menyesal tidak membuat kemanusiaan seseorang berkurang se-inci-pun.

Pagi ini, nasib membuatku mengingat wajah perempuan itu. Wajah mu.

Aku seketika merasa jadi melankolik. Ketika tanpa sengaja aku memperhatikan aku menyaksikan foto bangku taman yang dulu biasa ku singgahi setiap hari. Menyadari bahwa kau tidak pernah duduk di sampingku saat aku mencincang waktu di bangku taman itu. Bahwa selama ini, aku telah merahasiakan tempat yang seharusnya juga menjadi milikmu. Sebab takdir bangku taman itu adalah untuk memanggul dua hati. Agar ada dua manusia yang duduk bersebelahan dan berbagi segalanya. Mungkin berhadapan, saling membisu dan memandang ke arah sungai yang tidak pernah berhenti mengalir. Sambil berpegangan tangan dan terkait. Menikmati rentang bagaimana senja perlahan tua dan menjadi menyebalkan.

Aku ingat dan merindukan dirimu pagi ini. Itu mengapa aku memaksa diri untuk menulis. Mengingatkan diri agar mengingat janji bahwa sepulang nanti, akan ku ajak kau duduk berdua di bangku taman itu.

Ya, aku janji.

Andre Barahamin