Ode untuk Honey Oo

11066775_10204995989997002_4087897554180489241_nBahasa Inggrisnya tidak terlalu lancar. Juga agak pemalu.

Kami bertemu pertama kali di Gwangju, Korea Selatan. Saat itu, bulan Agustus 2014. Iatampak ceria dan banyak tersenyum saat saya menjabat tangannya. Memperkenalkan diri sebagai sesama orang Asia Tenggara, berasal dari tempat di mana militernya sama-sama berbau busuk dan tak segan menodongkan senjata.

Honey Oo, namanya. Tampak sumringah karena saya memanggilnya sebagai Burmese, artinya orang Burma. Saya memang tidak menggunakan kata Myanmar. Nama pemberian junta militer yang sudah barang tentu tidak mengenakkan bagi seorang aktifis pelajar yang memusuhi senjata sejak kudeta di tahun 1962. Ia juga senang karena saya cukup tahu sedikit tentang sejarah gerakan pelajar di sana.

“Saya sedang studi tentang gerakan pelajar di Asia Tenggara. Sedikit terpaksa.” Pembelaan merendah itu keluar dari mulut saya.

Sebagaimana aktifis pelajar di Burma, Honey juga pernah mengenyam penjara. Kuliahnya bahkan harus terhenti karena divonis empat tahun di balik jeruji. Ia tertangkap saat berlangsungnya gelombang revolusi di tahun 2007, yang kemudian dikenal publik sebagai Revolusi Saffron. Vonis itu diperpanjang satu tahun karena keterlibatannya dalam mogok makan di bulan-bulan terakhirnya dalam penjara, di akhir 2011.

“Masih banyak kawan saya yang belum dibebaskan hingga saat ini. Termasuk ketua umum kami.”

Ketua umum All Burma Federation of Student Unions (ABFSU), Han Wing Aung memang masih di dalam penjara. Pertama kali ditangkap Juli 1994 dan ditahan selama tujuh tahun. Sempat bebas di bulan Desember 2010 untuk kembali dibui beberapa bulan kemudian dengan vonis 19 tahun. Penguasa mencurigai Han Wing terlibat dengan partai komunis. Namun semua orang di Burma paham bahwa alasan penangkapan sebenarnya tentu saja terkait aktifitas politik ABFSU yang getol menentang diktatorianisme militer. Hal ini dianggap lumrah di kalangan aktifis pro-demokrasi di Burma. Dari penjara ke penjara. Seperti Malaka.

Dalam sebuah makan malam, Honey terus menerus bertanya kepada saya tentang kabar gerakan pelajar di Indonesia. Pertanyaan sulit yang membutuhkan penjelasan panjang lebar. Tapi saya mencoba berbagi sedikit informasi. Ala kadarnya.

Semasa berada di Gwangju, kami banyak berdiskusi. Saya bahkan berjanji untuk datang mengunjunginya di Burma.

Awal Oktober tahun itu, saya memang singgah ke Burma. Tapi kami tak punya banyak waktu untuk bertemu. Honey sangat sibuk. Sebagai salah satu pengurus Komite Eksekutif ABFSU, ia harus mendatangi serangkaian pertemuan. Rapat demi rapat, diskusi dan diskusi lagi. Terkadang masih berlokasi di Yangoon, namun lebih sering berada di luar ibukota. Saat itu, ABFSU sedang intensi menyiapkan diri untuk menolak rancangan undang-undang tentang pendidikan yang sudah pasti ditandatangi presiden Thein Sein.

Meski begitu, Honey tetap berusaha membantu saya yang datang berkunjung karena urusan riset, dan bukan karena seorang kawan yang rindu bersua.

Dia adalah orang yang mengenalkan saya dengan banyak aktifis pelajar. Tidak hanya dari lingkaran ABFSU, tapi juga dari Youth for a New Society (YNS). Serikat pelajar yang sebenarnya merupakan pecahan dari ABFSU. Cerita ini justru saya dapatkan dari Honey. Tidak sedikitpun tampak untuk menutupi hal ini.

“Di Indonesia, perpecahan itu hal biasa.” Itu kata saya di satu malam saat kami sedang berjalan pulang setelah ia seharian menemani saya berjumpa dan mengobrol dengan banyak orang. Pacarnya, Thiha Win Tin juga ikut menemani. Seorang aktifis ABFSU yang juga baru-baru ini ikut ditangkap.

Honey membalas dengan tersenyum.

“Mungkin suatu hari nanti, kau juga bisa bantu mengenalkan aku pada aktifis-aktifis pelajar di Indonesia.”

Saya tidak pernah menjawab pertanyaan itu. Sebab tidak ingin berjanji sesuatu yang tidak bisa ditepati. Di masa lalu, saya sering mengingkari janji. Sudah cukup. Sebisa mungkin sekarang belajar mengontrol diri untuk mengatakan iya kepada setiap permintaan.

Tapi Honey tidak pernah berupaya untuk menagih hal itu. Mungkin ia juga sadar bahwa ada banyak keterbatasan yang menahan dirinya dari keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat di luar Burma. Korea Selatan, tempat di mana kami bersua adalah negeri pertama yang ia kunjungi. Ia mengaku bahwa tidak pernah berpikir untuk pergi ke luar Burma. Selain ekonomi, kerja-kerja politik yang sedang ia lakukan tidak bisa diinterupsi.

Perempuan ini memang termasuk kategori disiplin di mata saya. Bangun pagi hari dan tidur sebelum pukul sebelas malam.

Di akhir Februari tahun ini, ia mengirimkan pesan melalui Facebook. Mengungkapkan kesedihan sekaligus ekspresi kekecewaan yang meledak. Suu Kyi, tokoh yang ia kagumi justru berbalik menikung gerakan pelajar yang tengah bergelora di Burma. Saya berpura-pura mengerti tentang hal tersebut. Mengirimkan kata-kata penyemangat yang sebenarnya saya sendiri kurang yakin sejauh mana dapat bermanfaat.

“Saya akan menulis tentang hal tersebut. Agar banyak orang tahu betapa busuknya Suu Kyi.”

Janji yang ini, kemudian ditepati ketika IndoPROGRESS berkenan mempublikasikan tulisan saya 11 Maret kemarin. Dengan segera saya mengirim pesan dan tak lupa menyertakan tautan tulisan tersebut. Meski saya tahu itu sedikit percuma karena Honey tidak bisa membaca bahasa Indonesia. Tapi tak mengapa. Agar ia tahu bahwa saya mendukungnya. Sepenuh hati, seperti ia yang mendukung penuh saya ketika melakukan riset di negaranya.

Tapi tak ada balasan. Hingga lewat dua puluh empat jam, tidak ada balasan.

Bersamaan dengan itu, berita-berita di internet sedang berseliweran dengan ganas. Memberitakan betapa buasnya polisi Burma merepresi gerakan pelajar yang sedang melangsungkan protes. Kabarnya, lebih dari 200 orang aktifis dan biksu-biksu muda yang berpartisipasi ditahan. Banyak jatuh korban. Lebih dari 50 orang mesti dilarikan ke rumah sakit. Foto-foto soal aksi itu menggambarkan suasana yang menyeramkan.

Saya kembali mengirim pesan. Bertanya dan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sama. Tidak jua ada jawaban. Honey tidak membalas. Hingga hari ini.

Belakangan saya tahu dari seorang kawan lain: Honey juga ikut tertangkap.

Andre Barahamin

2 Comments

  1. Wow! At last I got a blog from where I be able to in fact take helpful data regarding my study and knowledge.

Comments are closed.