Hue #05: Aktivisme

“Kau selalu memilih politik di atas semuanya. Prioritasmu adalah arogansi.”

Aku tetap diam menunduk. Di kedua tanganku,ada lembaran kertas yang masih hangat. Baru saja dicetak. Aku menekan tombol off printer.

“Kau sudah berjanji. Tapi adalah orang yang paling buruk memegang sumpah.”

Mataku bergeser. Kepalaku bergerak bingung. Di mana gunting warna merah muda? Sekitar dua -atau tiga, aku tak terlalu yakin- yang lalu, aku meletakkannya tak jauh dari jangkauan. Tapi kini seperti melenyap.

“Mengingkari kata-kata sendiri adalah perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan oleh seseorang yang mengklaim bahwa ia dapat dipercaya oleh orang-orang yang kehilangan rasa percaya karena terlalu sering dikhianati.”

Yup. Aku menemukannya. Kedua tanganku segera bergerak cepat memotong kertas di tangan menjadi dua bagian terpisah. Amplop yang warna coklat yang terletak di atas printer langsung ku jemput. Membuka mulutnya, lalu mengisi salah satu potongan ke dalamnya. Jari telunjuk kanan ku celupkan ke dalam lem kayu yang berada di atas meja kerja tepat di samping mesin pencetak kertas. Membiarkan gumpalan lembut berwarna putih di dalam botol bergambar serigala itu ikut terseret ketika ku tarik jari keluar.

Salah satu bagian amplop ku olesi lem sebelum merekatkannya dengan bagian yang lain. Sempurna. Kini semua selesai dan siap dikirim.

“Di dalam kepala-mu, yang utama adalah apa yang kau inginkan. Kau sebenarnya lebih mementingkan diri sendiri. Semua yang kau katakan kepada mereka di luar sana soal kepedulian, solidaritas dan empati tidak lebih dari omong kosong. Iyah. Omong kosong. Seperti pidato para politisi; di negaramu atau di negaraku.”

Aku berhenti sejenak. Tersenyum kecil. Percuma menanggapi orang marah. Menjawab atau memberikan alasan hanya akan memperpanjang masalah. Itu kenapa aku tidak mengeluarkan sepatah kata apapun. Namun tanganku bergerak merangkul pinggulnya. Menariknya lebih dekat dan mendekapnya.

Tubuhnya bergerak menolak. Tapi aku memaksa.

Iyah benar. Aku memaksa. Dengan sadar menggunakan pemaksaan untuk membawanya mendekat ke dalam jangkauan kedua tanganku. Agar jarak yang terbentang antar kami berdua karena kesalahpahaman, amarah dan ketidaksetujuan, tidak bertambah lebar dan akhirnya semakin sulit untuk dijembatani hanya dengan sebuah pelukan.

Persetan dengan mereka yang mengatakan bahwa tidak boleh ada pemaksaan dalam sebuah hubungan yang sehat. Bukan mereka yang kini sedang berhadapan dengan sepasang mata yang menahan tangis karena terlalu marah. Mereka bukan yang sedang mempertaruhkan hubungan yang telah dibangun dan sedang terancam karena buruknya komunikasi, perbedaan prioritas dan minimnya waktu yang tersedia untuk berdialog karena masing-masing harus bekerja.

Peduli setan dengan feminisme. Karena setan juga tidak peduli dengan para feminis!

* * *

Aku baru saja tiba kembali di Hue dua hari yang lalu. Tiba saat sore sudah terlalu tua namun langit belum terlalu gelap. Ia sudah lebih dahulu berada di terminal ketika bus yang kutumpangi dari Laos akhirnya tiba. Perjalanan hampir 10 jam, dengan selusin tidur singkat yang lebih sering terganggu oleh jalan yang berlubang, suara percakapan yang berisik dan beberapa persinggahan yang tidak penting. Semua itu dilengkapi dengan tempat duduk yang tidak nyaman untuk pantat dan pendingin udara yang disetel dengan level yang membuatmu berhalusinasi bahwa dirimu sedang berada di puncak Cartenz.

Ia tertawa lebar. Bahagia mengalir dari kedua matanya. Binar-binar kerinduan yang menemui ajal.

Kami berpelukan di terminal tanpa mempedulikan orang-orang di sekitar yang mungkin saja merasa risih. Dua orang Asia berpelukan di tempat umum tidak lain adalah pernyataan betapa Westernisasi berhasil merasuk ke dalam sumsum tulang. Tapi kami memilih untuk membunuh rasa kesal karena bentangan jarak dan waktu yang kini tandas di senja yang perlahan mulai gelap.

Bergandengan tangan, kami lalu menuju tempat parkir sepeda motor. Ia membayar biaya parkir, aku meletakkan tas di sela antara setir dan tempat duduk pengendara utama. Lalu dengan hati-hati menarik mundur sebelum kemudian mengatur posisi duduk dan menunggunya. Ia lalu segera membonceng dan melingkarkan kedua tangannya ke perutku.

“Kau bertambah gemuk.”

Aku menoleh sebentar, menyalakan mesin, lalu menengok lurus ke depan. Tanpa menjawab, motor segera ku pacu keluar dan kami kembali pulang. Semakin kami menjauh, pelukannya semakin erat. Perpisahan selama hampir dua bulan membuat pertemuan sore ini begitu melankolik. Tidak ada suara. Punggungku tegak dan meresapi tubuhnya yang menempel erat. Aku melambatkan motor dan membiarkan berdua kami melaju pelan di sisi kanan jalan.

Biarkan orang-orang yang sedang terburu-buru mengejar waktu. Kami berdua telah menang dan tiada lagi yang mampu membuat kami harus berpacu dan menggilai kecepatan.

“Aku akan memasak malam ini untukmu.”

Tangan kiriku beranjak dari gagang motor. Membiarkan keseimbangan hanya dikontrol oleh tangan yang lain. Lalu menggenggam tangannya. Jari-jarinya terasa begitu hangat. Seperti pertama kali kami berjumpa bertahun lalu. Dahulu sebagai dua oran gasing, dan kini sebagai sepasang kekasih.

* * *

Di dapur, suara-suara bercampur. Bunyi pisau yang beradu dengan papan alas untuk memotong daging, bunyi air yang mendidih, plastik yang jatuh menghantam lantai dan lain sebagainya. Aku memilih acuh dan membiarkan apa yang terjadi di ruang belakang tersebut, berlangsung sepenuhnya tanpa intervensi. Pesta malam ini adalah miliknya dan aku hanya perlu menuruti sarannya untuk beristirahat.

Aku membuka laptop, menyalakannya dan menyambungkannya dengan internet. Mozilla Firefox segera kuoperasikan dan kotak surat elektronik adalah tujuan perdana.

Ada dua email baru di kotak masuk. Salah satunya dari bagian administrasi di lembaga riset yang saat ini menjadi tempatku mencari nafkah sebagai peneliti paruh waktu. Mungkin soal pembayaran honor dari penelitian yang terakhir kali ku lakukan beberapa waktu lalu. Sedikit bersemangat aku membukanya.

Benar. Ada lampiran mengenai bukti transfer pembayaran tahap pertama dari total honor yang akan menjadi hak, dengan syarat menyelesaikan keseluruhan laporan yang mereka minta. Aku membalas sekedarnya dan mengucapkan terima kasih yang ditulis dengan bahasa penuh basa-basi. Bekerja di lembaga seperti ini mengajarkanku banyak trik soal kemunafikan, kepura-puraan dan cara menipu diri sendiri bahwa pelanggaran prinsip untuk hal-hal kecil tidaklah dapat dikategorikan sebagai dosa.

Berdamai dengan kenyataan. Itu yang selalu ku ulang.

Email yang lain datang dari alamat yang belum terdata di daftar kontakku. Aku membuka dan langsung membaca keseluruhan isi pesan di dalamnya. Sedikit terkejut, aku membaca kembali pesan tersebut. Lalu sekali lagi sembari mengecek tanggal dan waktu di telpon genggamku.

Sial. 36 jam lagi deadline akan berakhir.

Aku langsung bergerak cepat. Membalas email tersebut, mengutarakan beberapa alasan mengenai keterlambatan respon dan berjanji bahwa segala urusan akan selesai dalam kurun waktu 24 jam. Lalu laptop segera kutenteng keluar dari kamar dan menuju ruang kerja yang terletak di bagian tengah rumah. Printer kunyalakan dan menyambungkan kabel data ke laptop.

Aku benar-benar berpacu dengan waktu.

Email tersebut adalah sebuah undangan untuk menghadiri pertemuan di India. Dikirimkan sejak sembilan hari yang lalu. Aku terpilih sebagai salah seorang peserta yang akan mengikuti pelatihan selama sembilan hari di New Delhi. Ini salah satu workshop yang memang ingin ku ikuti. Begitu banyak keuntungan yang akan ku dapat jika terlibat di dalamnya. Selain bahwa aku tidak perlu menanggung biaya tiket, visa, transportasi domestik dari bandara ke hotel tempat menginap dan tentu saja ilmu yang nanti bakal ku tangguk.

Sekitar dua puluh menit aku mengisi formulir yang mereka sediakan. Membacanya kembali. Entah empat atau lima kali. Aku harus berhati-hati agar jangan sampai ada informasi yang terlewatkan. Ini penting agar kemudian surat pengantar dari panitia pelaksana dapat segera dikirim sebelum aku berangkat.

Terlalu serius, aku tidak menyadari bahwa ia sudah berada di belakangku. Kedua matanya bertanya. Raut wajahnya tampak kebingungan. Bulir-bulir keringat berukuran kecil tampak di jidatnya.

“Apa itu?”

Ketimbang menjawab, aku terus saja memilih mengisi email dan mengirim kembali formulir yang telah selesai ku isi. Memilih membisu agar konsentrasi tidak terpecah.

“Kau tidak tuli kan? Apa yang sedang kau kerjakan? Bukankah kau sudah berjanji bahwa tidak ada pekerjaan malam ini?”

Tubuhku berputar dan menghadapnya. Lalu menciumnya.

Ia mendorong tubuhku. “Kau masih bekerja. Kau mengingkari janji. Dan berpura-pura bodoh dengan tidak menjawab pertanyaanku.” Nada suaranya meninggi.

Aku lalu berhenti sebentar. Berbalik dan menatap matanya tajam. Lalu secara perlahan merekahkan senyum. “Aku diterima untuk mengikuti sebuah pelatihan di New Delhi. Aku harus membalas email saat ini juga karena batas waktunya akan segera habis malam ini. Beberapa menit saja. Tiga puluh menit saja.” Hatiku berdebar pelan. Berharap bahwa penjelasan singkat itu dapat memuaskan hatinya.

“OK. Kapan memang pelatihan itu akan dilakukan?” Wajahnya melentur dan nada suaranya kembali normal.

“Tiga hari lagi.” Saat menjawab itu, kedua tanganku kembali berpacu dengan tombol-tombol huruf di atas laptop.

“Apa?” Setengah berteriak. Suaranya melengking rendah. Seperti sedang menahan marah.

Aku berpaling dan menatapnya.

“Kau sudah berjanji bahwa kita akan berlibur ke Da Lat. Kau sudah berjanji bahwa kita akan menghabiskan waktu berdua. Tidak ada email, tidak ada internet, WhatsApp atau telpon. Tidak ada lagi soal paper yang harus segera diselesaikan, soal buku yang harus dibaca dan tidak ada lagi kewajiban-kewajiban yang slelau jadi penghalang kita menghabiskan waktu berdua.”

Tiba-tiba aku merasa sangat bersalah. Aku benar-benar merasa hatinya benar-benar terluka.

“Aku membutuhkan pelatihan ini. Ilmu yang nanti kudapatkan akan penting untuk apa yang sedang kuperjuangkan.” Kalimatku meluncur penuh ragu. Aku tahu bahwa itu tidak akan cukup untuk menghapus kekecewaan yang baru saja ku lukis di hatinya. Begitu cepat kebahagiaan atas perjumpaan ditukar oleh kesedihan karena kami hanya kan berpelukan beberapa hari saja.

Matanya menyala. Marah.

Andre Barahamin