Hue #04: Valentine

Aku memasak karena dua alasan: bosan dan rindu.

Keduanya dapat mengacaukan otak, mengganggu pekerjaan dan pada akhirnya membuat semua perencanaan menjadi berantakan. Tapi hal itu tidak boleh terjadi saat ini. Aku membutuhkan konsentrasi penuh. Dalam beberapa hari lagi, ada ujian penting yang harus kulalui. Aku butuh menenangkan diri, berkonsentrasi dan kembali memaksa diri duduk di hadapan komputer jinjing yang sudah menyala sejak kemarin sore. Aku sudah membuang dua tahun dalam hidupku untuk menunggu saat ini.

* * *

Sudah tiga hari ini aku kurang tidur. Paling lama tadi pagi. Dua jam dan empat puluh menit. Lebih dari cukup. Bangun dari dipan, aku langsung duduk dan kembali menulis. Sudah hampir dua minggu. Rutinitas ini semakin lama terasa makin menyakitkan.

Telepon genggamku rusak sejak lima hari lalu. Aku masih malas beringsut dan membawa perangkat ini ke toko untuk diperbaiki. Nanti saja, pikirku. Ada yang lebih mendesak.

Perekam suara kembali ku putar.

Kawan sekamarku baru saja keluar dari kamar mandi. Ia berjalan lurus tanpa menengok. Siulannya mereda. Mungkin ia khawatir mengusik aku yang sedang bekerja.

Kesepuluh jariku kembali lompat bergantian di atas huruf-huruf di papan komputer jinjing. Di layar, kata demi kata terbentuk. Disela spasi dan titik. Kecepatannya tak tentu. Mengikuti kilasan kalimat yang secara magis melintas di kepala. Di lain waktu melambat. Kadang begitu cepat.

Aku menyalakan kretek seludupan yang ku beli dari mahasiswa Malaysia yang baru mudik. Tersisa kurang dari dua bungkus. Yang di atas meja isinya sudah tak sampai setengah. Bau cengkeh bercampur tembakau yang terbakar, bunyi api yang melumat ujung, membawa ingatanku kembali ke Indonesia untuk beberapa detik.

Saat menghembuskan asap keluar dari hidung dan mulut, aku semacam dapat wangsit. Jari-jariku kembali mengetik. Semakin cepat. Kali ini bukan kalimat. Di depanku, secara imajiner ada paragraf demi paragraf yang menunggu untuk ditubuhkan.

* * *

Di mata perempuan-perempuan yang pernah berbagi pelukan, aku adalah laki-laki keras kepala yang tidak adil. Hangat kepada kolega atau kawan diskusi namun begitu pelit kata dengan pasangan. Sebagai seorang pekerja serabutan yang mencari makan dengan menulis, menjadi pembicara di beberapa forum atau mewawancarai orang untuk kepentingan penelitian, aku memang cenderung hemat bicara. Aku lebih senang memeluk dalam diam atau meringkuk manja dan merebahkan kepala di paha perempuan-perempuan itu.

“Kau adalah pelarian. Tempat pengasingan. Ruang di mana aku untuk sesaat merasa abadi.”

Banyak yang muak dengan kalimat-kalimat melankolis yang klise macam itu. Kecuali perempuan ini. Aku hanya butuh mengatakannya dua kali. Ia lalu mengerti dan ikut merangkai kebisuan bersamaku.

Di masa lalu, beberapa di antara mereka yang pernah memintaku menjadi teman di putaran waktu, justru adalah orang pertama yang mengambil langkah untuk pergi menghindar. Meninggalkanku karena aku memilih menjadi orang yang berkeras pada prinsip ketimbang menjadi seorang reformis lalu menyesal.

“Kau tahu, tak banyak kawanku yang suka dengan dirimu. Karaktermu, itu tidak lazim di Vietnam.”

Kalimat itu dikatakannya lebih dari setahun yang lalu. Aku sedang memasak makan siang untuk kami berdua. Ia di dapur bersamaku. Duduk di sebuah kursi plastik tanpa sandaran. Punggungnya menempel di dinding. Kali itu, ikan tuna bersirip biru (bluefin tuna) jadi menu. Dimasak dengan menggunakan bumbu tinoransak yang biasanya menggunakan daging babi atau daging anjing.

Aku tidak merespon. Tidak juga berpaling. Terus memasak.

“Kau ingat acara pernikahan Nhung beberapa waktu lalu?”

Aku mengangguk tanpa perlu menanggalkan pandangan dari wajan. Potongan-potongan ikan ini juga butuh perhatian. Lebih bahkan. Bahasa tubuh sudah cukup untuk perempuan itu.

“Kau pulang lebih awal karena mengaku punya mood menulis. Itu tidak umum terjadi. Orang-orang di sini biasanya akan menghabiskan sepanjang hari mereka di pesta. Minum bir, makan sepuasnya dan bertegur sapa dengan yang mereka kenal. Tak jarang, ada yang bahkan mendapatkan teman baru ketika ada hajatan macam itu.”

Sendok alumunium itu terus bergerak. Aku nakhoda. Harus terus diaduk agar bagian bawah tidak hangus. Panas juga mesti terus dikontrol. Jika berlebihan, bumbu akan terasa hambar dan akibatnya mengurangi kesan rumah yang ingin ku reguk saat potongan tuna dipadu dengan bongkahan nasi hangat.

Ia di belakangku terus menjilati es krim yang kami beli berdua dalam perjalanan pulang dari pasar. Punyaku sudah tandas duluan.

“Nhung sempat bertanya alasan mengapa kau pulang duluan. Apakah pestanya kurang meriah? Makanannya kurang enak? Atau orang-orang yang hadir pesta saat itu membuatmu tidak nyaman?”

Aku menaburkan potongan kemangi di atas genangan air berwarna kuning kusam. Potongan-potongan ikan tuna sudah tampak setengah. Kuah berkurang setengah. Menguap dan mewartakan kabar baik kepada hidung yang sempat beruntung membauinya. Api segera ku kecilkan.

Sedikit lagi selesai.

“Aku berbohong padanya. Aku bilang kau sakit kepala tiba-tiba karena kurang tidur beberapa hari. Soalnya kau sedang sibuk mengerjakan laporan penelitian.”

Aku bergeser sedikit ke kiri. Memeriksa nasi yang sedang ditanak di rice cooker. Membuka katupnya, mengaduk-aduk sebentar, lalu kembali menutupnya. Beras yang kami tanak merupakan pemberian dari orang-orang H’Mong. Masih ada sisa beberapa kilo.

Awalnya aku hanya ingin membeli sepuluh atau lima belas kilogram saja. Oleh-oleh untuk diri sendiri ketika pulang ke Hue. Lebih dari satu bulan di sana, aku jatuh cinta pada legitnya nasi pegunungan utara Vietnam ini. Namun, aku justru mendapatkan satu karung beras seberat empat puluh kilogram yang tidak ditukar dengan uang. Khawatir aku menolak pemberian mereka, si empunya memilih menukarkan beras tersebut dengan enam bungkus kretek Dji Sam Soe.

Orang tua itu berbohong. Selain jarang merokok, harga seluruh rokok itu tidak sebanding dengan pemberiannya. Meski begitu, kami sama-sama segan dan tidak ingin saling mengecewakan.

Pulang dengan sekarung beras, setumpuk cerita, lusinan gambar di kamera digital dan rasa marah. Orang-orang H’Mong sedang mengalami masalah saat aku ditugaskan kantor ke sana. Tanah mereka akan diambil alih negara untuk dijadikan hutan lindung. Semua manusia yang berada di dalam kawasan harus minggat. Sebab, ini konservasi.

Taik memang.

“Aku tidak soal tentang dirimu yang enggan bersosialisasi terlalu banyak dengan orang-orang. Aku paham. Tapi terkadang, kamu harus belajar berpura-pura. Untuk aku. Boleh?”

Kedua tanganku sedang memegang dua piring, dua buah mangkuk berukuran kecil, dua pasang sumpit, dua buah sendok dengan ceruk yang lebih dalam dan berukuran lebih lebar dari sendok biasanya, dan dua buah gelas.

Ia berada di hadapanku. Menutup akses kakiku untuk melangkah. Aku mengangguk. Bibirnya merekah. Tersenyum. Aku menciumnya.

* * *

Dibesarkan dengan dua orang ibu, ukuran dapur yang luas, aku tumbuh sebagai seorang laki-laki yang akrab dengan memasak. Sejak kecil, aku adalah tangan kanan kedua perempuan hebat itu. Tugasku sederhana. Sebagai juru cicip sebelum lauk dinyatakan final.

Dari mereka aku belajar menghafal nama-nama bumbu yang sering digunakan untuk memasak. Sejak kecil, aku begitu bersemangat pergi ke pasar. Selain punya alasan untuk menginjak lumpur tanpa takut harus diomeli, aku merasa pasar adalah tempat paling ramai yang mistis. Ketika tumbuh dewasa dan sering berbelanja seorang diri, aku mendapati bahwa pasar adalah panggung anomali yang cocok dijadikan arena kontemplasi.

Bayangkan kesunyian yang kau alami ketika di sekitarmu ramai orang hilir mudik. Kau terasing ketika riuh rendah suara orang-orang secara acak berebutan masuk ke dalam rongga telinga.

Kau dapat bereksperimen.

Misal, silahkan berdiri mematung di tengah pasar. Lakukan barang lima atau enam menit. Biarkan kepalamu tegak dan kedua matamu memandang lurus. Lalu fokuslah pada warna. Kemudian bayangkan adegan-adegan itu terjadi perlahan-lahan, seperti tayangan film.

Itu kenapa aku selalu memandang aktivitas memasak seumpama meditasi. Dimulai dari berjalan pelan menuju pasar, memilih langkah secara acak untuk menghindari lumpur masuk ke sela-sela sendalmu -yang membuat tubuhmu serasa menari, memilih bumbu, melakukan tawar menawar harga -yang membutuhkan beberapa keahlian sekaligus: cara menyusun raut muka, intonasi suara hingga gerak tubuh berpaling yang sebenarnya tipuan murahan.

* * *

Aku membuka Facebook. Lalu memeriksa pesan. Seperti yang kuduga.

Hi, smarthead. Today is Valentine.
Happy Valentine for both of us.
Full of love.

By the way, I miss your foods. Bye.

Ya. Aku juga merindukannya.

Andre Barahamin