Hue #03: Up In The Air

“Andai saja kau membenci pantai, makanan laut dan pemalas untuk mengunjungi tempat-tempat baru, mungkin ceritanya akan berbeda hari ini.”

Aku memandangi kedua bola matanya. Lalu tersenyum.

“Kau begitu bersemangat ketika berbicara dengan orang lain. Tampak menyala-nyala dan antusias ketika bicara dengan teman-temanmu. Tapi denganku, kau adalah orang yang jauh berbeda.”

Lagi-lagi, aku hanya bisa terus tersenyum. Tidak perlu membantah. Ia benar. Aku adalah sosok yang lain ketika berdua dengannya.

Pagi itu, kami memilih duduk agak jauh dari kerumunan orang. Pasir pantai masih lembab. Matahari baru saja bangun. Kota ini terasa hangat. Tidak seperti cuaca akhir tahun yang cenderung lebih dingin. Aku membenci dingin yang berlebihan. Tepatnya, membenci semua yang berlebihan.

Ini adalah pagi terakhir di Da Nang. Besok, aku akan segera kembali ke Thailand. Meneruskan kuliah. Kewajiban yang kubenci karena sinonim dengan perpisahan dengannya.

“Apa kau akan menetap di sini?”

Ia menatapku erat. Pandangan yang menuntut jawab macam ini benar-benar membuat tidak nyaman. Aku kembali mengalihkan pandangan ke laut. Ke gelombang yang selalu mengingatkan siapa dan dari mana aku berasal. Tapi tidak membuka mulut.

Aku lahir di negeri tropis bernama Indonesia di mana laut, pantai dan hangat matahari berlimpah sepanjang tahun. Negeri yang dibangun di atas harapan, lalu berubah menjadi malapetaka. Sebuah teritori politik yang di masa lalu begitu sengit memperjuangkan kemerdekaan namun berputar haluan menjadi penjajah. Negeri yang diberkahi kekayaan laut, namun dipimpin oleh para pembenci lautan.

Mengingat tentang Indonesia, lebih sering membuatku muak. Sesekali rindu.

“Kau tidak ingin tinggal dan menghabiskan hari tua di sini?”

Menjawab karena didesak itu sungguh mengganggu. Tapi aku tidak ingin mengecewakan perempuan ini. Balasannya, aku hanya mengangguk pelan. Dan ia mungkin tahu. Aku masih meragukan banyak hal jika menyangkut masa depan. Aku masih menyisakan kegetiran dan selalu enggan untuk mendiskusikan tentang besok dan segala sesuatu menyangkut harapan.

Sebelum bertemu dengannya, aku sempat memilih menjadi ronin. Mengembara sendirian dan menyatakan tidak untuk mengikatkan diri kepada apapun, atau tunduk kepada siapapun. Agar tidak terlalu konyol dan banal, aku mempersenjatai diri dengan bacaan agar pembenaran akan perilaku eskapik ini terdengar filosofis dan megah. Bersamaan dengan itu, memutuskan tali temali sosial yang mengikat dan memberatkan langkah jika ingin beranjak. Semakin sedikit ikatan, semakin mudah berpindah.

Aku membayangkan diri seumpama Ryan Bingham.

Melintas cepat, lalu dengan mudah menemukan diri berada di bagian belahan bumi yang lain. Analogi Bingham What’s In Your Backpack?, benar-benar mendapat tempat di sela-sela keyakinan lama yang tergerus dan pesimisme yang menjamur. Tidak perlu memiliki banyak hal yang membuat kita sulit bergerak. Rumah, keluarga dan persahabatan berada di urut pertama dari jenis-jenis relasi yang mendesak untuk dihancurkan agar tidak menghalangi kehidupan baru untuk direngkuh. Jika Bingham ingin menjadi orang ketujuh yang terbang sejauh 10 juta mil, maka aku menegaskan diri untuk mengunjungi We, Merauke, dan Rote. Melengkapi Miangas, yang terikat secara kultural denganku. Lalu, menyusuri daratan untuk menuju pintu perbatasan Yunan.

Aku juga menemukan Alex-Alex di sela-sela perjalanan tersebut. Sekedar teman berbincang, bertukar saliva atau teman melepas ketengangan hidup di atas ranjang. Namun aku selalu sukses untuk tidak menjadi bodoh seperti Bingham yang terpaku menatap Alex di depan pintu rumah dan terkejut karena menemukan harapan kandas dihempas udara musim dingin.

Dan perempuan ini bukan Alex bagiku. Saat berjumpa dengannya pertama kali, aku berada di batas kelelahan akan metode hidup yang dijalani. Dan ciumannya, yang serupa nafas bantuan, menyelamatkanku.

Andre Barahamin