Hue #02: Ciuman

Hue. Dingin. Awal tahun.

Pekerjaan sebagai peneliti tidaklah seideal yang dibayangkan banyak orang. Benar ada petualangan dan perjumpaan dengan lokasi-lokasi baru. Tapi seperti semua pilihan dalam hidup. Ada resiko dan harga yang mesti dibayar, konsekuensi yang harus ditanggung. Perpisahan dengan kerabat atau orang-orang yang biasanya berada di sekitarmu sejak pagi mekar hingga malam berjaya. Terutama jika kau baru saja memilih seseorang untuk jadi teman perjalanan menjemput kematian.

Tawaran riset itu kuterima dengan bersemangat. Aku selalu senang mengunjungi tempat asing. Apalagi jika petualangan tersebut tidak menggerus sama sekali isi tabunganku. Sebaliknya, perjalanan ini akan menambah pundi-pundi dalam dompet untuk membeli makan dan mengajak perempuan itu mengunjungi tempat lain yang asing baginya.

Dia juga mencintai turisme. Datang dan menghabiskan sebungkus waktu di tempat baru, mencicipi makanan dan mendatangi tempat-tempat yang telah ia tandai. Apalagi jika tempat tersebut terletak dekat laut. Ia tentu girang tak kepalang.

“Aku ingin berenang di banyak pantai.”

Ia begitu bersemangat malam ini. Aku hanya tersenyum, seperti biasanya. Selalu cenderung pasif merespon ketika ia dengan bersemangat menceritakan keinginannya untuk melihat dunia. Selain karena memiliki tabiat sebagai pemalas, aku lebih suka menikmati matanya yang berbinar ketika meletup-letup mengartikulasikan berbagai perandaian di dalam kepalanya. Menonton semua peristiwa itu bagiku jauh lebih baik ketimbang menjadi lawan bicara yang aktif.

Ingatanku kembali ke masa-masa kami baru saling mengenal.

“Aku ingin nanti kita mengunjungi tempat-tempat yang kau ceritakan. Tentang pantai-pantai itu. Aku ingin melihatnya. Tentu saja denganmu.”

Aku hanya merespon dengan mendorong selembar surat tugas.

Sepasang pupil matanya membesar. Dipenuhi tanda tanya. Aku tidak memberikan kode apapun. Itu sudah lebih dari cukup untuk mengatakan bahwa aku ingin dia membaca isi surat itu terlebih dahulu.

“Kenapa kamu yang harus pergi? Bahasa Vietnam-mu belum terlalu bagus. Buruk bahkan. Lagipula, harusnya Januari adalah periode cuti bagimu. Bukankah semua orang di kantor tahu bahwa Natal dan Tahun Baru adalah momen di mana seseorang sepertimu berkumpul dengan keluarga?”

Protesnya meledak. Ia benar. Akhir Desember hingga periode awal di bulan Januari adalah masa libur bagiku. Rentang waktu di mana biasanya, aku lebih banyak menghabiskan waktu bermalas-malasan, dengan sukarela menggantikan dirinya ke pasar untuk membeli bahan masakan sebelum kemudian bersemedi di dapur hingga jam makan siang tiba. Lalu setelahnya, kami biasanya akan menuju kedai kopi di tepi Perfume River untuk duduk berdua, saling membalas senyum dan kemudian jatuh cinta lagi seperti semula.

jauh sebelum surat tugas ini datang, aku telah berjanji akan membawanya ke Indonesia. Dalam rencana tersebut, kami berniat menghabiskan waktu di Lombok, untuk mengunjungi Desa Sade. Namun, sudah dapat dipastikan bahwa rencana ini akan gagal total.

Tiba-tiba aku merasa menjadi orang paling egois di dunia. Terbayang lagi bagaimana aku dengan bersemangat merespon soal rencana penelitian ini sewaktu perjalanan tersebut masih berupa embrio ide di atas bundel proposal. Aku adalah salah satu yang dengan tekun memprovokasi Direktur tempatku bekerja agar tidak surut mencari donatur bagi penelitian ini. Lalu dengan sukarela menawarkan diri untuk membaca kembali draft pengajuan anggaran dan memperbaiki gaya bahasa yang ku anggap terlalu kaku dan terlalu sok akademis.

Sebagai seorang antropolog amatir dan penulis yang dibesarkan di luar ruangan kelas, aku memang cenderung resisten dengan gaya penulisan ala jurnal-jurnal kampus yang mengusung label ilmiah. Aku lebih menyenangi kalimat-kalimat langsung yang provokatif yang dipadankan dengan metafora-metafora sederhana yang tidak murahan. Menggugah, menohok, tidak berbelit-belit tapi mengundang rasa penasaran.

“Kau yang meminta untuk pergi?”

Pertanyaannya membuat aku kembali tersadar. Tersudut dengan segumpal penyesalan karena telah lupa dengan janji yang ku buat untuk dirinya. Tepatnya, janji-janji. Ada banyak. Pilihanku untuk mengikuti penelitian kali ini telah meruntuhkan domino janji yang berjejer rapi dan ia jaga dengan penuh rasa tidak sabar terhadap waktu. Ingatan yang tidak mampu ku rawat telah kembali dengan pisau dan menyakiti harapannya.

Aku hanya mengumpat dalam hati dan tidak mampu menjawab.

“Jika memang itu yang kau inginkan, tidak apa. Hanya harus hati-hati nanti di sana. Jangan menenggak alkohol terlalu banyak. Kurangi juga merokok. Jika sudah merasa dingin, jangan melawan. Gunakan jumper hoody yang kubelikan untukmu. Juga syal.”

Dia segera memberikan saran. Paham bahwa percuma menunggu jawabanku. Aku terlalu sesak ditindih penyesalan. Namun masih dijepit bimbang antara tetap tinggal atau terus melanjutkan impianku untuk pergi mengunjungi perbatasan Vietnam – Cina.

Sebagai seorang bocah yang berasal dari daerah perbatasan, aku selalu tertarik untuk datang dan melihat langsung kehidupan mereka yang dihimpit batas-batas administratif dan politik. Aturan yang diberlakukan tanpa pernah bertanya bagaimana pandangan mereka.

Orang-orang di daerah perbatasan memang selalu tidak terlihat dalam pandangan penguasa. Jauh dari pusat kekuasaan dan terasing dari titik perputaran uang serta keuntungan. Itu sebabnya, satu-satunya jalan yang tersisa untuk membuat sesekali penguasa menoleh adalah ancaman soal disintegrasi. Meski sudah bukan rahasia lagi bagi sesama orang perbatasan bahwa berpindah ke sisi manapun, toh kami akan tetap terletak di ujung.

Di Miangas, pulau yang terletak di tengah lautan Pasifik dan paling utara se-Indonesia buktinya. Muak dengan otoritarianisme, suap dan kemiskinan, represi militer dan upeti kepada para marinir, tentara serta polisi, serta diskriminasi yang diselingi dengan tindak kekerasan membuat pengibaran bendera Filipina dianggap sebagai cara paling mujarab untuk menginterupsi  itu semua.

Sekitar sepuluh tahun lalu, Miangas menunjukkan bahwa ia juga bisa marah. Sebabnya, seorang polisi dengan semena-mena menganiaya Johny Awala hingga tewas. Saat itu ia sedang menjabat sebagai Sekretaris Desa. Tenggelam oleh minuman keras, Awala kemudian mulai mengacau. Frustasi itu ia luapkan dengan kata-kata yang membuat Darida menjadi kalap. Posisinya sebagai Kapolsek Miangas menjadi bahan olok-olok Awala. Darida dianggap sebagai orang yang korup dan lebih sering merugikan masyarakat Miangas dengan pungutan-pungutan liar dan berbagai bentuk lain penyalahgunaan kuasa. Gelap mata, Darida kemudian menghujani Awala dengan tendangan dan tinju. Keesokan paginya, nyawa Awala tidak tertolong lagi.

Sanak saudara Awala tidak terima. Mereka mengamuk. Provokasi menyebar. Seperti bensin, kemarahan juga menjalar. Seragam dan militerisme memang sudah sejak awal sudah berinvestasi dendam yang makin lama kian berkarat di hati orang-orang Miangas.

Selembar bendera Filipina yang berkibar di kantor Border Crossing Agent, segera dicopot. Lalu diikatkan pada sebatang bambu dan ditancapkan di bibir pantai. Orang-orang yang masih emosional dan diliputi duka segera menyatakan ingin bergabung dengan Filipina. Banyak dari mereka menilai bahwa hidup sebagai bagian yang asing dalam Indonesia hanya membawa kemiskinan dan kesulitan belaka.

Sudah ada banyak bukti. Listrik yang sering padam karena pengiriman bahan bakar yang terlalu gampang terlambat atau terhalang gelombang, fasilitas pendidikan yang buruk, kualitas puskesmas yang hanya bisa menangani penyakit-penyakit ringan hingga sudah jadi kebiasaan untuk merujuk pasien jauh ke selatan menyeberang laut, ketersediaan pangan dan kebutuhan pokok lain berharga mahal karena mesti didatangkan dari Manado yang berjarak 4 malam – 3 hari perjalanan dengan kapal laut bekas, harga kopra yang terus menukik jatuh, sumber daya laut yang habis digeruk oleh kapal-kapal modern asal Korea Selatan, Jepang, Thailand dan Taiwan, dan masih banyak lagi.

Kemiskinan membuat orang jadi pendek akal dan gampang tersulut marah. Mereka yang lahir di lumbung emas, tidak akan pernah bisa mengerti hal ini. Tidak akan sama sekali bisa.

Hal ini belum termasuk tuduhan-tuduhan tanpa yang sangat diskriminatif. Miangas misalnya di banyak media Indonesia, dianggap sebagai pintu masuk para teroris yang pulang dari daerah Moro. Sekaligus jadi tempat penyeludupan senjata ilegal. Di saat yang bersamaan, orang-orang Miangas dituduh kurang nasionalis. Tanpa bukti, koran dan kantor berita di Jakarta memberitakan bahwa di rumah-rumah penduduk Miangas, bukan gambar presiden Indonesia yang dipajang melainkan foto presiden Filipina. Mulai dari Kompas hingga Tempo bahkan pernah memberitakan bahwa Peso adalah mata uang yang digunakan penduduk Miangas untuk transaksi perdagangan.

Ibarat sudah jatuh, pingsan, tertimpa tangga, dikencingi anjing yang lewat dan tiada yang menolong. Lengkap bukan?

Pengibaran bendera itu cuma simbol semata. Kalap. Karena semua orang di Miangas paham betul, kondisi saudara mereka di Balut dan Saranggani -dua pulau terluar Filipina, juga tidak lebih baik dari mereka. Pindah ke Filipina juga tidak akan menyelesaikan problem kemiskinan struktural di tengah komunitas mereka. Karena yang menjadi akar dari semua itu adalah cara pandang pusat yang melihat Miangas semata sebagai tambahan dalam statistik nasionalisme yang cupet.

“Kau tahu kenapa aku begitu ingin ke Lao Cai bukan?” Aku mengatakannya pelan, sambil menatap dirinya dari belakang. Ia sedang sibuk mengatur tumpukan buku yang baru saja tiba.

“Tidak, tidak tahu. Aku juga sering sulit mengerti alasan-alasan yang sering kau sampaikan.”

Ia berbalik lalu menatapku dengan senyum.

“Tapi, itu bukan berarti aku akan menolak lalu melarang kau pergi. Jika memang kau sungguh ingin ke sana, percuma menentangnya. Nanti justru membawa efek buruk bagi kita berdua.”

Aku kaget mendengar kalimat perempuan ini.

“Aku terlalu kenal baik dirimu. Sikap keras kepalamu selalu tampak jika kau ingin mengejar pengetahuan. Meski belum bisa paham, tapi aku mau belajar untuk mengerti.”

Bibirku tersenyum, kaki lalu melangkah mendekatinya. Kedua tanganku segera merengkuh tubuhnya, menarik pinggangnya lebih dekat, lalu menciumnya. Saat bibir kami bertaut, aku tiba-tiba memanjatkan syukur kepada bumi.