Demokrasi Gajah: Update

Sudah sembilan hari terakhir, saya terus menerus menghabiskan waktu untuk membaca beragam laporan, artikel atau berita tentang kondisidemokrasi di Thailand. Juga melakukan triangulasi untuk memastikan beberapa temuan.

Ada beberapa artikel dari intelektual dan akademisi yang vokal menentang kudeta dan kekuasaan junta militer. Yang paling rajin menulis adalah asisten profesor Pavin Chachavalpongpun. Ia kini menetap di Jepang setelah passportnya dicabut oleh NCPO. Sementara media massa yang jadi rujukan adalah koran seperti Bangkok Post, The Nation, Siam Voices dan Prachatai. Untuk media yang terakhir, saya beruntung dibantu oleh seorang kawan sebagai penerjemah. Ada juga tumpukan tesis dan laporan riset yang membahas kudeta Thaksin tahun 2006 kemarin. Dua kudeta ini memang terhubung secara historis, ekonomi dan tentu saja secara politik.

Hasil temuan saya hingga 15 Desember untuk sementara dapat diurutkan sebagai berikut.

  1. Tercatat sudah 634 orang dipanggil untuk menghadap NCPO. Kebanyakan dari mereka dicurigai atau dianggap melakukan kegiatan yang bertentangan dengan aturan yang dicanangkan oleh junta militer.
  2. Sudah 340 orang yang ditangkap. 171 orang diantaranya ditangkap saat sedang melakukan protes damai. 56 di antaranya adalah aktifis mahasiswa.
  3. 106 orang sedang menghadapi tuntutan dari NCPO. Oleh sebagian kalangan, tuntutan ini sangat politis dan merupakan upaya junta merepresi kebebasan.
  4. NCPO menggunakan hukum Lese Majeste untuk menangkap 19 orang.
  5. Ada 39 acara yang dibatalkan atas desakan NCPO. Acara-acara ini terutama merupakan rapat publik dan agenda-agenda yang digagas oleh mahasiswa.

Melihat angka-angka ini tentu dapat menjadi gambaran sementara bagi mereka yang berpikir bahwa kondisi di Thailand baik-baik saja. Sesungguhnya, hanya air di permukaan yang tampak tenang dan tak beriak. Di kedalaman, kebebasan sedang benar-benar terancam oleh senjata.

Andre Barahamin