Hue #01: Makan Malam

Aku jatuh cinta dengan caranya tersenyum. Suka ketika melihat kedua pipinya merona merah. Mudah terpesona ketika poni rambutnya melambai karena ia menggelengkan kepala. Tapi tidak hanya itu. Tadi malam, aku mendadak jadi suka dengan semua detil yang ada padanya.

Dan aku terus suka.

* * *

Kami pertama kali dipertemukan oleh takdir. Sejak itu, aku tidak lagi membiarkannya pulang. Itu sebabnya aku semakin sering aku mengunjungi kota ini. Terlalu sering, kata seorang kawan. Lalu jika mesti kembali ke balik kursi kuliah, beragam upaya terus kulakukan. Aku jadi ramah dengan Skype, Viber, Facebook, WeChat, LINE atau WhatsApp. Makin sering mengambil foto atau merekam diri ketika menyanyikan lagu sebelum dikirimkan kepadanya. Juga makin mudah uring-uringan jika koneksi internet memburuk atau putus sama sekali.

Kami mendiskusikan banyak hal. Upaya untuk belajar saling mengenal. Tentang latar pendidikan kami yang berbeda, asal usul budaya dan tradisi keluarga yang tak sama, hingga selera fashion yang bertolak belakang. Belajar menggali dan menemukan, hal-hal kecil yang membuat kami terikat dan merasa nyaman ketika bersama. Persamaan-persamaan sederhana di tengah melimpahnya perbedaan kami.

Ada dua hal di antara sedikit itu. Pantai dan traveling.

Hue memiliki sebuah pantai kecil yang sepi. Ramai dikunjungi saat musim panas tiba dan ketika air laut menjadi jauh lebih sejuk. Dengan pasir yang memanjang bersih. Diramaikan beberapa rumah makan ragam makanan laut dengan harga yang tidak membuat seseorang menyesal setelah kenyang. Namanya Thuan An.

pantai-hue
Pantai Thuan An. Foto: Andre Barahamin

Terletak sejauh 12 km dari pusat kota Hue. Mudah dicapai dengan mengendarai sepeda motor atau taksi. Perjalanan menuju Thuan An sendiri adalah kegembiraan. Kita akan disuguhkan pemandangan lain dari sisi pedesaan Vietnam. Tulang punggung ekonomi negeri yang menjadi penanda kejayaan di masa lalu.

Di Vietnam, petani adalah sokoguru ekonomi. Sektor agrikultur mendapatkan proteksi dan subsisi dari negara. Meneruskan janji Nguyen Sinh Cung, atau yang lebih dikenal dengan nama samarannya Ho Chi Minh. Produk pertanian seperti kopi, beras, teh, tebu, kacang kedelai, kapas dan karet sepenuhnya dikelola oleh negara melalui pembentukan badan usaha nasional. Para petani mendapatkan kepastian harga jual bibit dan hasil panen dengan dibentuknya unit-unit penanganan produksi dan paska-produksi hingga ke tingkat kecamatan.

Bersama sektor kehutanan, pertanian menyumbang 33% dari pendapatan kotor (GDP) Vietnam di tahun 2014. Sekitar 42% dari total ekspor negeri komunis ini datang dari sektor pertanian. Jumlah ini memang menurun jika dibandingkan dengan tahun 1990 di mana setengah dari pendapatan Vietnam disumbang oleh pertanian dan kehutanan.

Hal ini bukan sulap satu malam. Vietnam langsung tancap gas untuk membenahi negaranya yang porak poranda karena perang. Di tahun 1976, Partai Komunis Vietnam meluncurkan Rencana Lima Tahun Kedua, yang ditargetkan selesai tahun 1980. Program ini melanjutkan Rencana Lima Tahun tahap pertama yang awalnya hanya diterapkan di Vietnam bagian utara tahun 1960-1965, karena bagian selatan masih dikuasai Amerika Serikat dan sekutunya. Pembenahan dan reforma agraria dilakukan dengan membenahi jalur distribusi bibit dan pupuk, perbaikan infrastruktur pendukung seperti jalan dan irigasi, menginstruksikan turba kepada kader-kader partai yang memiliki pengetahuan di soal pertanian dan manajemen hasil produksi, serta penerapan monopoli di tangan negara demi memastikan program berjalan lancar.

Lalu dari mana uang untuk pembiayaan program tersebut didapatkan?

Vietnam memanfaatkan hubungan dekat mereka dengan negara-negara komunis lain, seperti Uni Soviet, Cina dan beberapa negara di Eropa Timur. Mereka mengajukan pinjaman dengan total nilai mencapai 4 milyar dolar Amerika. Sementara untuk pembangunan dan perbaikan infrastruktur seperti jalan dan bangunan sekolah, negeri ini memanfaatkan donasi untuk revitalisasi perang dari negara-negara Barat yang diperkirakan berjumlah 1 milyar dolar. Dan ini yang paling penting. Di masa-masa percepatan pembangunan ini, korupsi ditangani dengan tangan besi.

Tapi masa-masa bulan madu dengan kebijakan sosialis macam di atas hanya sebentar.

Vo Van Kiet, wakil ketua Dewan Kementerian yang juga merupakan anggota Biro Politik PKV, dalam pidatonya di hadapan peserta Pertemuan Nasional ke-7, Desember 1986, menggarisbawahi problem-problem mendasar yang tengah dihadapi sektor pertanian negeri tersebut. Kiet menyoroti tentang kegagalan sektor pertanian dan kelautan mencapai target yang ditetapkan dalam Rencana Lima Tahun Ketiga. Dia menyalahkan ketidakmampuan institusi-institusi negara -terutama Komisi Perencanaan Nasional- yang dinilai tidak mampu menyediakan basis analisis terhadap kondisi material sebagai batu pijakan untuk memaksimalkan pertumbuhan produksi sektor agrikultur. Kiet juga menuduh Kementerian Perdagangan tidak becus dalam penerapan sistem harga beli di level petani dan harga jual produk-produk kunci industri pertanian yang diekspor seperti kopi, teh, karet dan gula. Menurunnya kemampuan produktif sektor pertanian bagi Kiet merupakan cermin kegagalan internal partai dalam merumuskan langkah antisipasi dan radikal.

Bergantinya generasi di lingkaran partai, adalah salah satu sebab. Para pemimpin Partai Komunis Vietnam (PKV) hari ini adalah mereka yang tumbuh dari pengalaman yang berbeda. Bukan orang-orang yang terlibat langsung dalam perjuangan pembebasan nasional atau mengalami masa-masa sulit ketika perang melawan okupasi Amerika Serikat. Suksesnya kelompok yang lebih berkarakter reformis menggapai ke tampuk kepemimpinan partai pada awalnya diharapkan merupakan sinyal perbaikan ke arah yang lebih baik. Tapi angin bertiup ke arah berbeda.

Di awal dekade 90-an, tidak ada perubahan fundamental yang dilakukan sementara keran investasi semakin longgar. Awal tahun 2000-an, semakin marak generasi muda Vietnam yang memandang bahwa bekerja di sektor pertanian bukanlah pilihan yang tepat. Jumlah petani menurun drastis hingga 76% sementara penyusutan lahan pertanian yang beralih fungsi mencapai 41%. Angkatan kerja ramai-ramai bermigrasi dari desa untuk menguji peruntungan sebagai buruh di kota-kota industri yang sedang tumbuh, seperti Ho Chi Minh. Yang lain kemudian mengalihkan perhatian ke sektor pariwisata meskipun tidak memiliki kemampuan yang cukup.

Migrasi besar generasi pekerja tanpa keahlian ke kota-kota karena hilangnya harapan di desa, dituduh menjadi salah satu sumber membesarnya industri pelacuran dan angka kriminalitas.

Di dalam negeri, semakin banyak perempuan Vietnam yang menjadi pelacur. Diperkirakan sekitar 25.000 ribu perempuan terjebak dalam lingkaran prostitusi. Ratusan lain diseludupkan hingga ke Malaysia, Singapura bahkan Indonesia. Di saat yang bersamaan, banyak pemuda yang menggadaikan hidup mereka kepada tukang rente dengan menjadi nelayan di perahu-perahu penangkapan ikan yang beroperasi secara ilegal. Sebagian yang lain memilih menjadi imigran gelap untuk bekerja di Thailand atau Laos.

Melihat wajah Vietnam saat ini, mengingatkanku akan kondisi Indonesia sebelum dihantam krisis ekonomi 1998. Hampir mirip.

Tapi aku memilih tidak mendiskusikan persamaan-persamaan seperti ini dengannya. Bukan karena malu atau mungkin beresiko. Semata-mata karena negeri ini adalah pelarian dari rasa lelah dan frustrasi seorang anak muda terhadap negeri kelahirannya.

Itu mengapa, aku lebih memilih menceritakan tentang pulau kecil di batas luar utara Indonesia, berbatasan dengan Filipina dan dikelilingi samudera Pasifik.

1982170_10206536313144118_7322771646773531006_n
Pulau Karatung. Foto: Farid Gaban (GeoTimes)

Tentang Karatung, tempat di mana leluhurku, para pemburu hiu dan bajak laut musiman, terkubur. Satu di antara sembilan pulau yang dikenal dengan nama Nanusa. Pulau kecil ini, adalah pusat administrasi kecamatan karena sejarah menunjuknya sebagai pusat pemerintahan ulayat. Sebelum dikenal dengan nama Karatung, di masa lalu, para leluhur menyebut pulau ini dengan nama Ginimbale. Artinya tempat kediaman. Berasal dari kata “pabawalean”. Nama Karatung sendiri diserap dari “pandaratuan”. Secara lentur ia berarti tempat kediaman raja-raja. Dari situlah berawal mula penyebutan “Aratun” yang oleh lidah Melayu dan Cina perantauan diplesetkan sebagai Karatung.

Di tahun 2007, Karatung dibagi ke dalam tiga desa. Sebuah pembagian yang sembrono atas nama otonomi daerah. Terlalu kecil secara populasi dan luasan geografis bagi pulau yang hanya seluas 72 km persegi dengan total penduduk kurang dari 2.000 orang.

Secara kultural, ada dua belas kelompok kekerabatan di Karatung. Enam kelompok besar dan enam kelompok kecil. Dari kelompok-kelompok kekerabatan besar inilah akan dipilih Ratumbanua, sang pemimpin kampung. Wakilnya, Inangiwanua berasal dari kelompok kekerabatan kecil. Aku berasal dari kelompok kekerabatan besar, Rarince. Entah ini karunia atau kutukan.

Menceritakan kepada perempuan ini sembari menunjukkan beberapa foto tentang Karatung adalah kegembiraan. Sebab aku dapat dengan jernih melihat bagaimana ia begitu bersemangat. Matanya menyala saat mendengar soal pantai-pantai yang mungkin akan ia jelajahi di masa depan. Bercerita untuknya adalah sebentuk kemenangan terhadap pencarian akan harapan dan merayakan kekalahan di masa lalu.

Ia punya hasrat petualangan. Itu seperti magnet yang menarik diriku makin dekat dengannya. Selain fakta bahwa ia tidak asing atau alergi dengan nama-nama seperti Marx, Engels atau Lenin. Deretan nama yang di waktu lampau juga pernah mengisi kepalaku, kepala seorang pelajar yang baru mulai belajar di universitas. Ia juga memiliki keingintahuan yang besar, setara dengan niat belajar yang selalu tampak jelas dari setiap pertanyaan yang meluncur dari mulutnya. Ia jelas memiliki naluri seorang pemburu kisah dan di dalam hatinya, tersimpan mimpi untuk bertualang ke tempat lain. Perempuan ini dengan jelas dan yakin mengatakan keinginannya untuk melihat bagian dunia lain di luar Vietnam.

Tapi tadi malam, tiba-tiba aku lupa dengan semua topik obrolan itu.

Tidak ada soal pantai, tidak ada soal petualangan atau komunisme. Kami juga tidak bercerita soal bagaimana Hue telah merangkulku begitu sempurna. Tadi malam, cuma ada soal mimpinya. Soal cita-cita dan masa depannya. Soal bagaimana ia ingin menjadi seorang guru dan mengajar anak-anak kecil setelah menamatkan kuliahnya tahun depan. Soal harapannya memiliki kelas privat di mana ia bisa berbagi keceriaan dan optimisme yang mekar dalam hatinya.

Gairahnya meluap-luap hingga lupa menaruh sayuran di wajan hot pot yang airnya telah mendidih sejak awal. Lalu ketika sadar, ia hanya menatapku dengan rona malu di kedua pipinya. Aku seketika melihat bunga mekar di depanku.

2 comments on “Hue #01: Makan MalamAdd yours →

Comments are closed. You can not add new comments.