Hue #00: Gadis di Balik Rak Buku

“Kamu tahu? Kamu adalah yang pertama.”

Saya tersenyum. Memandang lurus ke dalam matanya.

“Apa kamu bahagia?” Ia masih bertanya.

“Iya. Tentu saja. Sangat bahagia.”

Saya menjawab dua pertanyaan dalam sekali hela. Lalu mencium keningnya. Dia tersenyum. Saya menggenggam tangannya, erat.

“Ingat. Jangan pernah mencoba selingkuh.” Nada suaranya pelan namun tegas. Saya hanya mengangguk. Kembali lagi tersenyum.

“Janji?”

“Janji.”

Iya. Saya beruntung memang. Malam ini bintang terasa ada dalam genggaman. Bagaimana tidak? Sebuah hadiah, makan malam yang lezat dan perempuan ini. Campuran hal-hal yang membuat kedatangan saya di kota ini, terasa jauh berbeda dengan yang sebelumnya meskipun sudut-sudut jalan tak lagi asing.

Tiba-tiba saya merasa melankolis dan restoran ini mendadak jadi semacam museum. Penuh dengan monumen yang menuntut otak untuk segera mengingatnya secara detil.

Di atas meja makan, tergeletak kotak kertas berukuran sedang. Pembungkusnya yang berwarna hijau muda telah koyak. Saya sudah menengok isinya. Sebuah syal berwarna biru langit dengan lebar sejengkal dan panjang lebih dari setengah meter. Sebulan lebih dihabiskannya untuk membuat syal ini. Diam-diam. Dia tidak mengatakan apapun selain petunjuk kecil bahwa ada sebuah kejutan yang menanti jika saya kembali datang berkunjung. Berkali-kali saya mencoba mengulik apa gerangan bakal hadiah tersebut. Tapi nihil. Semuanya tetap menjadi rahasia hingga malam ini.

Di luar, masih gerimis. Sudah biasa. Menjelang akhir tahun, Hue memang selalu basah.

* * *

Kami pertama diikat takdir, arogansi dan kenekatan pada Maret 2013.

Saat itu, saya tengah berkunjung ke College of Education, Hue University. Bersama beberapa kolega, saya mendapatkan undangan dari Hue Pedagogical Center selama tiga minggu. Di mulai dari minggu terakhir bulan Februari dan selesai pada pertengahan bulan Maret. Program ini merupakan inisiatif dari Southeast Asian Ministries on Education’s Organization (SEAMEO). Mereka mengumpulkan beberapa anak muda -kami semua berumur kurang dari 30 tahun saat itu- dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara untuk belajar.

“Kami berharap banyak pada anak-anak muda seperti kalian.”

Itu satu-satunya potongan kalimat yang mampu saya ingat dari pidato Rektor Hue University, ketika pertama kali menyambut kami dalam sebuah jamuan makan malam yang membosankan. Saya bahkan gagal mengingat nama orang nomor satu di lembaga ini. Yang tersisa di memori adalah bagaimana tumpahan bir tidak pernah membiarkan gelas kosong walau sejenak. Selalu terisi penuh.

Program ini bertujuan agar kami dapat menambah pengetahuan soal riset pendidikan inter-disiplin dari para profesor dan peneliti terbaik yang mereka undang. Mendengarkan dan bertukar ragam pengalaman soal riset akademik di dunia pendidikan. Membahas dalam mengenai filosofi dan ideologi pendidikan di negara-negara berkembang, terutama di Asia Tenggara. Mengulik bersama mengenai problem-problem seputar politik kebijakan pendidikan, program dan kurikulum. Kelak, saya kemudian mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu lebih jauh dengan bekerja sebagai peneliti muda di lembaga ini.

Tidak ada yang menarik. Rutinitas kami adalah belajar di dalam kelas, mengumpulkan bahan bacaan di perpustakaan, mencari literatur pendukung di internet, atau makan siang penuh basa basi di kantin. Sesekali diundang makan makan malam di rumah para petinggi universitas. Sebuah asrama di area kampus menjadi tempat kami menginap. Bangunan dua lantai yang memiliki dua belas kamar. Tiga kamar berukuran lebih besar dan hanya memiliki satu ranjang. Dikhususkan untuk para profesor atau undangan kampus yang datang dari luar kota. Sisanya, berukuran 5×5 meter dengan dua ranjang, dua meja belajar, dua kipas angin, sebuah lemari baju berukuran besar, sebuah televisi yang hanya menayangkan saluran lokal, dan kamar mandi yang catnya sudah tampak mulai kusam. Masing-masing kamar memiliki sebuah balkon dengan dua buah kursi kayu, sebuah meja dan asbak di atasnya.

“Area ini mungkin akan menjadi tempat favoritmu. Di sini, kamu dapat menghisap rokok sepanjang hari.”

Saya hanya tertawa mendengarnya. Lambai Souvanlorpaying, yang datang dari Laos akan menjadi teman kamar selama menjalani pelatihan ini. Ia paling awal memilih ranjang dan memulai inspeksi kamar. Ayah dua orang anak yang juga berprofesi sebagai dosen geografi di Luang Prabang Teacher Training College. Penyuka sejarah dan segala sesuatu yang gratis. Vietnam adalah negara pertama yang ia kunjungi. Lambai mengaku bahwa selama ini kurang percaya diri karena penguasaan bahasa Inggris yang buruk. Baru dua tahun terakhir ia mulai serius meningkatkan kemampuannya.

“Saya lebih lancar berbahasa Thailand ketimbang bahasa Vietnam. Jadi, kalau kamu butuh bantuan untuk belajar bagaimana memikat perempuan Thai dengan kata-kata terbaik, kamu tahu harus menghubungi siapa.”

Kamar yang kami tempati menghadap ke arah selatan. Menghadap tepat ke Perfume River (Sungai Yang Harum), yang membelah Hue menjadi dua bagian. Bagian selatan, di mana saya berada adalah daerah urban yang sedang tumbuh dan terus berpacu mengembangkan diri sesuai kebutuhan pariwisata. Turisme adalah tulang punggung kota ini. Di bagian seberang, adalah sisa-sisa dari kejayaan masa lampau ketika Hue masih menjadi ibukota dari Dinasti Nguyen hingga masa runtuhnya di tahun 1945.

“Kami menyebutnya Sungai Yang Harum, karena banyaknya pohon dan bunga yang tumbuh di kedua sisi sungai. Jika musim semi tiba, sungai ini begitu indah dan semerbak bunga gampang terendus hidung.”

Perempuan itu menjelaskan ketika suatu sore, saat kami berdua bergandeng tangan menyusuri sisi selatan sungai yang ramai dipenuhi kedai kopi.

Kota ini adalah ibukota provinsi Thua Thien-Hue. Sejak abad ke 17 hingga kejatuhannya, Hue adalah pusat pemerintahan daerah Dang Trong yang membentang dari selatan hingga ke sebagian besar wilayah tengah Vietnam modern. Bagian utara merupakan wilayah dari kerajaan yang dipimpin oleh Dinasti Trinh. Marga Nguyen, adalah satu dari dua keluarga terkemuka yang memimpin aliansi keluarga-keluarga bangsawan di peperangan memisahkan diri dari Dinasti Ming, Cina yang berlangsung di awal abad ke 15. Awalnya, luas wilayah dinasti ini hanya membentang hingga Saigon di bagian selatan. Hingga akhirnya di awal tahun 1700-an, keluarga Nguyen melancarkan perang terhadap kerajaan Champa di Kamboja yang sukses merebut beberapa daerah strategis di sekitaran Teluk Siam sekaligus menjadi salah satu penguasa Delta Mekong yang terkenal sebagai daerah subur.

Berjarak 700 km selatan Ha Noi dan 1.100 km utara Sai Gon, Hue menjadi batas pertempuran antara tentara komunis Viet Kong dan pasukan Amerika Serikat (AS) selama perang untuk penyatuan Vietnam yang berlangsung selama dua puluh tahun. Kota ini mengalami tragedi yang paling buruk di tahun 1968. Tepatnya, ketika Serangan Tet (Tet Offensive) dilancarkan oleh Tentara Rakyat Vietnam (TRV) di bawah komando Jendral Hoang Van Tai.

Serangan umum ini merupakan keputusan Politbiro Partai Komunis Vietnam (PKV) untuk melakukan serbuan serentak dan menyeluruh terhadap tentara AS. Rencana penyerangan awalnya dirumuskan bersama oleh sebuah komite bentukan partai yang dipimpin oleh Pham Hung. Selanjutnya, rancangan kasar tersebut kemudian diserahkan kepada Menteri Pertahanan kala itu, Vo Nguyen Giap. Keputusan mengenai hari penyerbuan diputuskan melalui Rapat Komite Pusat PKV di awal Januari 1968. Disepakati bahwa seluruh kekuatan militer TRV akan memulai serangan tepat ketika tahun baru Vietnam (Tet) yang jatuh pada 30 Januari.

Serangan Tet adalah asal muasal dari tragedi berdarah Perang Hue (Hue Battle) yang berlangsung di bulan Februari 1968. Pengepungan Hue -sebutan lain untuk peristiwa ini- merupakan salah satu rangkai pertempuran terpanjang dan paling berdarah dalam riwayat Perang Vietnam. Peperangan ini berlangsung mulai 30 Januari hingga akhirnya berakhir dengan pengambilalihan istana Citadel pada 24 Februari.

Pertempuran ini melibatkan 26 batalion -10 batalion TRV melawan 5 batalion militer AS dan 11 batalion tentara Vietnam selatan. Diperkirakan lebih dari 20.000 tentara terlibat dengan korban tewas mencapai 10.000 orang. Hue porak poranda karena menjadi arena perang. Selama pertempuran di Hue, tentara Vietkong memilih bertahan di kuil-kuil atau bangunan publik sebagai benteng untuk menghindari gempuran angkatan udara AS. Walau sebenarnya percuma. Lusinan bom tetap dijatuhkan tanpa peduli. Akibatnya, puluhan kuil, rumah sakit dan sekolah, hingga bangunan peninggalan Dinasti Nguyen hancur lebur karena pengeboman.

Namun peristiwa yang paling membekas di ingatan orang-orang Hue, menurut Anh Dan adalah tewasnya 5.000 warga sipil dalam pertempuran ini.

“Masing-masing pihak, utara dan selatan, saling melempar tanggung jawab.”

Nguyen Anh Dan, seorang dosen sejarah sastra dan pecinta fotografi. Kepada saya ia mengaku tertarik mempelajari perkembangan dunia literatur di Indonesia. Selain menggemari sejarah dan sastra, ia merupakan aktifis politik dan anggota PKV. Posisinya adalah Sekretaris Wilayah, Serikat Pemuda Sosialis, organisasi sayap pemuda partai.

Kami makin akrab selama saya mengikuti pelatihan di sini. Sehari sebelum saya pergi meninggalkan Hue, ia mengajak saya ke toko buku. Sebagai tanda persahabatan, Anh Dan membelikan kamus bahasa Vietnam serta menghadiahi saya “The Sorrow of War” dan “Paradise of the Blind”. Dua novel berbahasa Inggris ini, aslinya ditulis dalam bahasa Vietnam oleh Bao Ninh dan Duong Thu Huong. Kedua novel ini dahulu pernah dilarang beredar oleh pemerintah Vietnam.

* * *

Berada di Hue selama tiga minggu membuat saya punya banyak waktu berkeliling. Setiap sore, setelah kelas usai atau sebelum makan malam, saya sering bersepeda menyusuri jalan-jalan di kota kecil ini. Sedang di pagi hari, saya lebih banyak menghabiskan waktu duduk di kedai kopi yang berlokasi di tepi Perfume River sebelum kembali ke kampus dan membunuh waktu di perpustakaan. Tempat menunggu yang pas sembari membaca buku menarik yang bisa ditemukan di antara jejeran rak atau menggunakan internet untuk berselancar. Jika bosan, saya hanya sekedar duduk dan mencuri pandang gadis-gadis Vietnam.

Ini salah satu perpustakaan yang bagus dan layak menurut saya. Apalagi jika dibandingkan dengan perpustakaan kampus di mana dulu saya menyelesaikan kuliah sarjana muda. Di Hue, sebuah gedung berlantai tiga didedikasikan sebagai ruang penyimpanan buku. Beberapa bulan sebelumnya, perpustakaan ini menjalani beberapa perbaikan, pengecatan ulang serta penambahan stok buku. Terletak belakang kampus dan belum berumur lima tahun. Dibangun untuk menggantikan perpustakaan kampus yang kini dialihkan jadi ruang istirahat tenaga pengajar fakultas.

Berbeda dengan kawan-kawan yang lain, saya jarang berada di lantai dua di mana koleksi buku dan ensiklopedi ilmu sosial berjejer rapi. Saya memisahkan diri di lantai tiga, tempat di mana referensi soal biologi, kimia atau fisika dapat dengan mudah ditemui. Duduk di meja berukuran kecil samping jendela yang hanya menyediakan dua buah kursi kayu. Selalu mengambil posisi menghadap pintu masuk. Memunggungi jajaran rak. Macam jadi benteng pertahanan.

Posisi ini memudahkan saya melihat siapa saja yang masuk ke ruangan. Aktivitas yang selalu menggairahkan. Saya senang mengamati orang-orang. Lalu menebak-nebak apa yang sedang mereka pikirkan atau akan mereka lakukan.

Hari itu, 4 Maret. Senin yang selalu sibuk seperti biasanya. Jam 11 siang lebih sepersekian menit. Orang-orang mulai merapikan barang dan beranjak keluar dari perpustakaan. Waktunya makan siang.

Di Vietnam, aktifitas perkantoran dimulai jam tujuh pagi. Rehat makan siang dimulai jam 11 hingga jam 1. Lalu pekerjaan berlanjut hingga sore jam 5.

Itu sebabnya, setiap pagi saya selalu menuju perpustakaan sekitar pukul 10. Biasanya kursi langganan saya hampir selalu kosong. Kalaupun masih ada yang duduk, maka orang tersebut tidak lama lagi akan segera beranjak pergi. Jeda 120 menit selalu momentum yang tepat untuk menyendiri di ruang besar. Tidak ada orang berisik, koneksi internet yang lebih dari cukup untuk membuka Youtube, menyetel daftar lagu, memasang earphone, lalu menyibukkan diri dengan membaca dan mengetik makalah.

Tapi takdir selalu punya rencana yang berbeda.

Sudah jam 11 siang. Lewat beberapa menit. Petugas perpustakaan hampir selesai membereskan meja piket. Tas kulit imitasi warna coklat sudah disampirkan. Ia bersiap istirahat. Matanya menatap saya yang sedang sendirian. Saya membalas dengan senyum sembari mengangkat tangan. Memberi tanda bahwa semua akan baik-baik saja. Dia bisa meninggalkan saya sendirian di sini.

Tapi tidak.

Seorang perempuan dengan flanel berwarna hijau, mengenakan sneakers berwarna ungu, setengah berlari menaiki tangga lalu menyerobot masuk. Ia bicara dengan nafas tersengal dan wajah memelas. Penjaga perpustakaan pasrah. Ia menunda kepergiannya. Lima menit diberikan kepada perempuan itu. Tak buang waktu, ia segera meluncur tergesa-gesa ke rak buku di belakang tempat saya duduk. Wajahnya serius dan berkeringat. Rambut panjangnya hanya diikat begitu saja. Tanpa make-up. Dua bola matanya tegang menatap sementara jari-jarinya berselancar di judul-judul buku.

Saya menghentikan aktifitas mendengarkan musik, mencopot earphone dan memandangi perempuan ini. Sadar sedang diawasi, ia hanya menengok sebentar dan tersenyum.

Tersenyum!

Saya langsung berdiri dan mendekati perempuan itu. Tanpa basa-basi langsung menyodorkan tangan untuk bersalaman.

“Bisa tahu nama kamu?”

Dia terkejut. Lalu menghentikan aktifitas mengulik buku. Dua bola matanya menatap saya penuh kebingungan.

“Saya Andre. Dari Indonesia. Bisa tahu nama kamu?”

Saya mengulangi pertanyaan dengan awalan informasi penting yang harus ia tahu. Ya, harus!

Dia kembali tersenyum, mengucapkan namanya sebelum beranjak keluar. Saya kembali ke meja. Membereskan semua barang secepat mungkin. Kali ini, gantian saya yang tergesa-gesa. Lalu mengejarnya. Persetan dengan waktu menyepi. Ini saatnya menjemput dunia.

Andre Barahamin

2 Comments

Comments are closed.