Megalomania dan Kedunguan: Tentang Fatin Hamama, Satrio Arismunandar dan Denny JA

Bagian III

Menasbihkan diri sebagai legenda, tidak lain dan tidak bukan adalah proyek megalomania.

Tidak ada yang lebih gila, daripada memaksakan ambisi individual ke dalam pergaulan sosial dan menjadikannya norma. Megalomania merupakan bentuk narsisme akut yang membawa sifat-sifat destruktif dan tentu saja mengancam stabilitas sosial. Bukan bermaksud melebih-lebihkan. Tapi sejarah sering sekali mencatat, individu-individu yang menderita penyakit ini tentu saja telah dibutakan oleh hasrat dan geloranya sendiri. Para megalomaniak tidak hanya mengacaukan hidupnya semata, tapi juga mengacaukan kehidupan orang lain. Mengacaukan kehidupan banyak orang. Kekacauan ini tidak hanya merugikan secara psikis dan psikologis bagi orang per orang, tapi juga merugikan secara sosial.

Denny JA, adalah monumen hidup tentang kegilaan ini.

* * *

Megalomania adalah jenis narsisme. Ini adalah jenis gangguan mental yang mendasarkan diri pada pemaksaan-pemaksaan. Para pengidap megalomania bukan hanya sedang mengidap gangguan identitas dalam taraf serius, tapi juga mengalami delusi-delusi yang bergerak aktif. Delusi-delusi yang dalam sifat dan bentuknya tidak hanya dikreasikan untuk memenuhi rasa lapar akan pengakuan dan kekuasaan namun juga akan bertindak koersif dan represif. Megalomaniak menginginkan ketertundukan total dari semua orang. Ketertundukan itu merupakan bentuk pembenaran atas delusi yang diyakini seorang megalomaniak secara absolut.

Mereka yang mengidap megalomania percaya bahwa eksistensi dirinya ditentukan dari seberapa besar pengakuan orang-orang terhadap dirinya. Mereka meyakini dengan teguh bahwa seorang manusia diukur dari seberapa besar puja puji yang dialamatkan kepadanya. Bahwa menjadi manusia sejati itu linear dengan ambisi luar biasa yang justru lebih sering mengorbankan kepentingan orang lain.

Maka tidaklah mengherankan ketika seorang megalomaniak, tidak akan segan-segan melakukan pelbagai upaya – hingga yang paling kotor sekalipun – sebagai cara melegitimasi hasrat narsisme yang menjalari otaknya.

Mereka yang berpikir dengan menggunakan logika secara benar dapat melihat dengan terang bahwa terbitnya buku “33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh”, merupakan proyek ambisius narsistik dari seorang megalomaniak.

Melalui buku ini, Denny JA, berupaya mengukuhkan posisinya sebagai seorang patron dalam dunia sastra. Peluncuran buku tersebut tentu saja bukan langkah awal yang dilakukan Denny JA – dan saya percaya bahwa ini tidak akan jadi yang terakhir. Buku ini justru merupakan kelanjutan dari rangkaian upaya sistematis yang bergelombang datang menghantam sastra Indonesia. Sudah menjadi rahasia publik bahwa sebelumnya Denny JA sudah mengeluarkan sejumlah dana untuk membayar beberapa pegiat sastra agar menulis puisi-esai. Publik dan pegiat sastra di Indonesia juga masih harus menyaksikan hadirnya kompetisi-kompetisi penulisan puisi-esai yang disokong oleh megalomaniak ini.

Semua tindakan menghambur-hamburkan uang adalah cara yang ditempuh Denny JA diabdikan untuk mempopulerkan dirinya sebagai pelopor genre “puisi-esai”.

Mungkin bagi mereka yang masih bisa berpikir waras, akan sulit memahami alur logika Denny JA. Mengapa ia rela menghabiskan uang dalam jumlah yang tidak main-main, hanya untuk melakukan aksi-aksi yang kemudian justru kontra-produktif bagi geliat sastra di Indonesia? Mengapa seorang Denny JA bersikeras mengerahkan kekuatan finansialnya untuk sebuah perayaan artifisial yang ia sendiri tahu penuh borok dan cela? Mengapa memaksakan diri untuk menciptakan panggung-panggung pesta yang instan serta penuh kepalsuan?

Sementara semua yang mendedikasikan dirinya bergiat di dunia sastra tentu paham bahwa, waktu dan proses adalah hal-hal yang tidak dapat dibeli dan diimitasikan.

Mengidap narsisme dalam level super mengkhawatirkan seperti Denny JA, membuat seseorang menjadi kalap.

Seorang megalomaniak seperti Denny JA sejatinya adalah seseorang yang telah kehilangan kemanusiannya. Itu mengapa Denny JA kemudian tidak lagi dapat memandang persoalan secara jernih karena terlanjur tersesat dalam labirin ilusi yang dia ciptakan sendiri. Orang seperti Denny JA percaya bahwa ia bisa mengkonstruksikan kenyataan-kenyataan menjadi seperti yang ia inginkan, kapanpun dan di manapun. Denny JA meyakini bahwa segala sesuatu dapat dipaksakan seturut dengan kehendaknya, sepanjang ia mengerahkan struktur finansial yang dimilikinya untuk mendukung hal tersebut.

Dalam pandangan seorang penderita narsistik akut seperti Denny JA, dia adalah pusat dari segala sesuatu. Seorang narsi sseperti Denny JA memandang dirinya sebagai poros di mana segala sesuatu bergerak mengitarinya. Ia melihat dirinya sebagai potongan penting yang membuat sejarah menjadi cacat jika sampai tidak mencantumkan namanya.

Sastra Indonesia dalam pandangan Denny JA dan segala ambisinya, adalah gambaran tak sempurna karena tidak mengikutsertakan namanya. Seluruh pergulatan, dinamika dan gerak-gerik di sastra Indonesia belumlah paripurna jika tidak melibatkan dirinya. Pelibatan yang mesti menjadikan Denny JA sebagai titik berangkat dan titik akhir dari semua dialektika sastra Indonesia

Bahwa tidak ada jalan pintas dalam sastra, tidak berlaku untuk seorang megalomaniak yang melihat dirinya sebagai hukum itu sendiri.

Megalomaniak seperti Denny JA tidak meyakini bahwa dirinya adalah bagian kecil dari dunia sastra Indonesia yang luas, beragam dan penuh kejutan. Bahwa sebuah nama dalam rimba sastra, selalu datang dan pergi. Yang tinggal hanyalah karya sebagai reportase kerja keras, konsistensi dan dedikase terhadap proses ber-sastra. Sebaliknya, Denny JA justru melihat bahwa sastra Indonesia adalah sebagian dari dirinya. Ia adalah pemegang kemudi yang mengambil keputusan ke mana arah sastra Indonesia akan dikayuh.

* * *

Sejarah telah mencatat bagaimana kemudian para megalomaniak menggiring manusia menuju kerusakan-kerusakan dahsyat.

Adolf Hitler adalah salah satu contoh terbaik seorang megalomaniak yang membuat wajah kemanusiaan di Eropa tak lagi sama. Kamp-kamp konsentrasi dan kamar-kamar gas di masanya, adalah kengerian yang tidak bisa disalin ke dalam kata-kata.

Di Indonesia, ada seorang megalomaniak berdarah bernama Soeharto. Lebih dari satu juta orang dibunuh, jutaan lain dipenjara tanpa pengadilan, dan jumlah yang lebih besar harus menjalani hidup dengan teror berkelanjutan. Soeharto dan segala proyek ambisiusnya telahmenggores luka yang bekasnya tidak akan pernah hilang.

Mungkin bagi banyak orang, akan terlalu berlebihan jika menyamakan Hitler dan Soeharto dengan sosok Denny JA. Tapi asosiasi ini sungguh tepat untuk menggambarkan bagaimana kondisi sastra Indonesia pasca diserbu rentetan proyek-proyek narsistik Denny JA.

Terbitnya buku “33 TokohSastra Paling Berpengaruh” yang jelas-jelas merupakan parade telanjang pengkultusan sosok megalomaniak seperti Denny JA, telah membuat sastra Indonesia tak akan lagi pernah sama. Buku ini – dengan ditopang oleh segala rupa kebohongan – adalah upaya sistematik untuk menggiring dan membentuk opini publik tentang betapa hebat dan signifikan peran seorang Denny JA. Sementara tiga puluh dua nama lain dalam buku itu, pada dasarnya hanya melengkapi nama Denny JA sebagai poros utama dan tulang punggung

Bagi megalomaniak seperti Denny JA, semua orang adalah pemeran pendukung sementara ia sendiri adalah bintang utama.

Membiarkan Denny JA tanpa melakukan segala yang mungkin untuk melawan, adalah membiarkan kemanusiaan dalam sastra Indonesia melenyap. Membiarkan wajah sastra Indonesia bertransformasi menjadi ajang kontes terbuka bagi kaum megalomaniak. Mendiamkan Denny JA sesungguhnya merupakan undangan terbuka kepada sosok-sosok megalomaniak lain untuk datang dan menambah kekacauan yang sudah ada

* * *

Menentang Denny JA bukanlah semata pertikaian yang menyasar individu semata. Lebih dari itu, aksi ini adalah untuk mengingatkan bahwa tidak semua orang naif dan lantas bisa dibeli dengan uang. Perlawanan terhadap proyek-proyek sastra ala Denny JA yang ambisius dan narsistik, adalah juga sebuah pernyataan tidak setuju terhadap ideologi yang ikut berperan di dalamnya. Menentang Denny JA juga adalah penentangan terhadap manipulasi dan praktik korupsi.

Sastra bagi saya adalah pergulatan sekaligus pesan, juga miniatur kehidupan dalam skala yang lebih kecil. Membiarkan seorang megalomaniak mempermainkannya berarti membiarkan hidup dan kehidupan kita ditentukan oleh orang lain dan bukan diri kita sendiri. Kehidupan tanpa otonomi seperti itu, adalah kehidupan yang tidak layak dijalani.