Feminisme dan Kedunguan: Tentang Fatin Hamama, Satrio Arismunandar dan Denny JA

Bagian II

Membela perempuan adalah histeria hari ini.

Siapapun yang tidak membela perempuan, adalah bedebah patriarkis yang pantas dihukum gantung. Sebabnya, hari ini semua orang dapat dengan mudah berkoar-koar soal feminisme. Yah, hari ini semua orang adalah feminis. Sebab tidak mengikuti tren adalah sebuah kesalahan.

Feminisme dalam tren adalah sesuatu yang sederhana. Ia tidak memerlukan pengetahuan yang radikal juga holistik. Cukup dengan gelora membabi buta, ditambah dengan fanatisme dan sedikit pemutarbalikan fakta. Feminisme ini adalah cara pandang monolit di mana perempuan adalah makhluk lemah yang patut dilindungi, dilestarikan dan dibudidayakan. Kondisi perempuan kurang lebih seperti kondisi harimau Sumatera. Berada dalam level yang membahayakan

Komnas Perempuan, Satrio Arismunandar dan Fatin Hamama membuktikan hal tersebut

* * *

Ketika Fatin Hamama melaporkan pertikaian sastra antara dirinya, Denny JA dan gerombolannya melawan Aliansi Anti Pembodohan (AAP) kepada Komnas Perempuan, maka saat itu pula publik dihadapkan pada pertunjukan bagaimana wajah feminisme fanatik. Feminisme yang kehilangan akal sehat dan terjebak dengan terma patriarkisme. Feminisme yang melihat bahwa masyarakat hari ini, sepenuhnya, seutuh-utuhnya, dalam totalitasnya yang paling utuh, adalah masyarakat patriarkis sempurna, sehingga segala sesuatu yang menimpa perempuan adalah kesalahan patriarkisme.

Dalam argumen yang dibangun berdasarkan alasan patriarkhal, perempuan adalah korban dominasi laki-laki. Dalam sudut pandang ini, perempuan dianggap adalah korban dalam sistem yang dikuasai laki-laki. Sederhananya: semua salah laki-laki. Perempuan tidak mungkin dan tidak akan pernah menjadi pelaku, karena ia takdirnya adalah untuk menjadi korban. Sebaliknya laki-laki, ia adalah pembuat masalah, tukang bikin onar, penindas dan pusat dari segala kesulitan yang dialami perempuan. Sehingga tidak akan pernah, laki-laki yang menjadi korban.

Dalam kacamata feminisme fanatik seperti ini, tidak ada pertikaian yang bebas gender, jika menyangkut perempuan.

Feminisme jenis ini adalah tipe yang otoriter. Otoritarianisme dalam feminisme jenis ini, tampak jelas ketika ia tidak sanggup mendedah persoalan yang sedang dihadapi seseorang yang berjenis kelamin perempuan. Feminisme otoriter hanya, dan akan selalu mengedepankan absolutisme yang landasannya dibangun di atas satu hal saja: kedunguan.Jangan harap jika feminis dungu seperti ini aka berdialektika dan kritis. Tidak mungkin!<

Ketika Satrio Arismunandar dengan gagah perkasa, membela Fatin Hamama, dengan alasan-alasan yang tersurat dan tersirat dalam artikel-artikelnya di blog, ia sebenarnya tidak hanya sedang berupaya menjadi ksatria berkuda putih seperti dalam dongeng-dongeng di daratan Eropa. Jika dilihat lebih jauh, Arismunandar sedang mempertontonkan bahwa feminisme otoriter ini juga didukung tidak hanya oleh perempuan, tetapi oleh juga laki-laki. Arismunandar sedang menyampaikan pesan kepada khalayak luas bahwa perempuan adalah makhluk cacat, baiksecara mental maupun fisik. Bagi Arismunandar, Fatin Hamama tidak dapat menerima kritik karena peran-peran sosialnya.

Arismunandar dan Fatin sedang berupaya meyakinkan publik bahwa perempuan adalah figur yang diserang dalam pertikaian sastra, yang sejatinya dimulai dengan skandal penerbitan buku “33 Sastrawan Paling Berpengaruh”. Di sini, baik Hamama serta Arismunandar dan juga yang mulia Denny JA, sedang melakukan penipuan publik dengan menjungkir-balikkan akar dari pertikaian sastra hingga kemudian menyeret Iwan Soekri dan Saut Situmorang ke ranah hukum, dengan tuduhan pencemaran nama baik, serta melakukan kekerasan verbal terhadap perempuan.

Ini adalah feminisme akut dan kebablasan yang dianut oleh orang-orang sejenis Fatin Hamama, Satrio Arismunandar dan kanjeng pangeran Denny JA. Feminisme yang tidak mampu melihat kausa masalah dan justru menciptakan kotak-kotak baru yang berbalik menjadi kekerasan jenis baru terhadap perempuan itu sendiri. Feminisme seperti ini tidak berkecenderungan untuk membebaskan, sebaliknya ia justru melanggengkan bentuk-bentuk relasi vertikal yang otoritatif antara perempuan dengan struktur sosial yang dominatif.

Feminisme ala Fatin Hamama, Satrio Arismunandar dan Denny JA adalah bentuk alienasi baru yang memukul mundur perjuangan perempuan dan laki-laki, dalam upayanya mencari bentuk-bentuk relasi yang lebih mutualis, desentralis dan non-eksploitasi.

Dengan melibatkan Komnas Perempuan dalam pertikaian sastra, di manaalasan pembentukan kubu-kubu di dalamnya dibasiskan pada persoalan polemik atas terbitnya sebuah buku, yang sama sekali bebas bias gender, memberikan bukti baru bagaimana fanatisme dan histeria patriarkisme adalah semangat mereka yang mengaku feminis tersebut. Histeria ini adalah labirin di mana kemudian publik disesatkan dengan tesis sederhana bahwa dalam pertikaian non-gender, perempuan tidak bisa diserang posisinya karena dilindungi oleh jenis kelaminnya.Status ke-perempuan-an kemudian disakralkan sehingga ia bebas kritik, terlepas dari apapun manuver sosial dan aktifitas politik-ideologis yang dilakukannya

Fatin Hamama, Satrio Arismunandar dan Denny JA, menyeret Komnas Perempuan untuk ikut membenarkan bahwa memiliki vagina telah cukup membuatmu menjadi korban kekerasan. Bahwa dengan terlahir sebagai perempuan, segala sesuatu yang kau lakukan patut mendapat perlindungan politik dan ideologis secara absolut. Identitas perempuan dalam hal ini didorong untuk bebas dari pertentangan sosial dan konflik-konflik horizontal antar kelompok.

Identitas semisal ibu rumah tangga dan muslimah, kemudian menjadi tameng karena ia diperankan oleh seseorang yang memiliki vagina. Jika identitas itu dilekatkan pada laki-laki, maka ia tidak akan memiliki nilai politis-ideologis. Itu adalah definisi feminisme ala Denny JA dan gerombolannya

Dalam konteks ini, perempuan mendapatkan privelese karena identitas perempuan yang disandangnya. Perempuan dipandang sebagai format baku, yang tidak berubah meskipun konstruksi sosial ekonomi di sekitar perempuan itu sendiri justru berubah. Rumusan identitas seksual seperti ini absolut dan sejalan dengan fanatisme yang menjadi nafas dari feminisme jenis ini.

Mendukung Fatin Hamama, seperti yang dilakukan oleh Komnas Perempuan dan Satrio Arismunandar, adalah pembelaan paling telanjang terhadap feminisme jenis ini. Publik kini sedang dihadapkan dengan Denny JA dan gerombolannya yang tengah berupaya mengadvokasikan jenis feminisme fanatik ini. Fanatisme tanpa logika yang justru akan terus melahirkan kekerasan terhadap perempuan.

Maka memang benar bahwa hari ini, pertikaian sastra antara mereka yang menolak pembodohan publik melalui terbitnya buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh, telah bergeser. Kini pertikaian ini tidak lagi berada di sebuah ring, tapi di sebuah tanah lapang yang belum tentu berujung.Ia telah nyata bergeser dari pertikaian sastra, menuju ruang tempur yang lebih luas. Yaitu, ruang tempur persoalan gender.

Ini juga berarti adalah saat yang tepat untuk melihat, siapa saja yang tengah mengumandangkan feminisme otoritarian dan siapa saja yang menentangnya.

* * *

Isu-isu kesetaraan perempuan, bagi saya secara pribadi sudah ketinggalan jaman. Isu-isu ini justru berkontribusi negatif dan tak lagi cocok dengan konteks zaman di mana komunikasi massif dilakukan melalui perangkat cyber. Kebutuhan utama dari perjuangan perempuan sekarang bukanlah menuntut kesetaraan tapi menerima perbedaan. Menerima kenyataan bahwa perbedaan, diversitas, keragaman, adalah sesuatu yang patut dirayakan dan bukan merupakan simbol ketidakberdayaan.Memiliki kesadaran bahwa perempuan dan laki-laki berbeda adalah sebuah cara untuk menghubungkan kembali laki-laki dan perempuan secara mutualis

Kebutuhannya adalah, sebuah kebudayaan yang dibangun di atas kerja-kerja aktif secara politik dan ideologis dari perempuan dan laki-laki, yang menghargai perbedaan yang eksis di antara keduanya. Pijakan dasarnya adalah: kita sadar bahwa kita berbeda jenis kelamin.