Pertikaian Sastra dan Kedunguan: Tentang Fatin Hamama, Satrio Arismunandar dan Denny JA

Bagian I

Fatin Hamama dan Satrio Arismunandar. Dua nama ini telah melangkah terlalu jauh dengan berbekal kedunguan yang mereka selimuti dengan seribu ragam alasan. Sungguh, ini adalah tindakan yang berbahaya. Sebabnya adalah, orang yang bertindak dengan mendasarkan diri pada kedunguan, tentu jauh lebih memuakkan dibanding seseorang yang bertindak karena ketidaktahuan.

Ketidaktahuan dapat diperbaiki dengan usaha untuk belajar, mencari tahu, melengkapi diri dengan pengetahuan. Namun kedunguan, adalah tindakan ceroboh yang dilandaskan pada keenganan untuk melepaskan kaca mata kuda dan keluar dari kotak kecil yang selama ini menjadi zona nyaman. Kedunguan adalah bentuk fanatisme ketidaktahuan, yang membela absennya proses dialektika. Kedunguan, dalam sejarahnya terbukti telah membawa peradaban manusia bergerak ke arah yang mematikan dan penuh kegelapan

Kini, Fatin Hamama dan Satrio Arismunandar sedang melakukan itu.

* * *

Pertikaian sastra adalah jenis pertikaian paling dialektik dan tergolong tua dalam sejarah umat manusia. Kita misal, dapat melacaknya dengan melihat kembali ke masa Yunani Kuno sebagai salah satu contoh. Masa di mana ketika para filsuf di era tersebut menggunakan pertikaian sastra sebagai proses untuk mengumpulkan, mengasah dan mendekonstruksikan pengetahuan. Pertikaian sastra pertama kali muncul dalam bentuk yang oral sebelum akhirnya menemukan medium pertarungan baru dalam bentuk tekstual. Jenis pertikaian sastra tersebut kemudian hari ini kita kenal dengan nama: dialog.

Penting untuk digarisbawahi bahwa bentuk dialog dalam pengertian di atas, bukanlah sebuah aktifitas oral-verbal yang minim emosi, kaku, datar dan berjalan dalam satu alur ataupun miskin dalam intonasi dan variasi kata, seperti kebanyakan wajah dialog yang kita lihat hari ini. Dialog dalam pengertian di masa-masa awalnya mensyaratkan penggunaan kosakata yang beragam, intonasi yang tepat serta gerak tubuh yang mendukung. Dua pihak yang terlibat dalam pertikaian tersebut tidak hanya dianggap sebagai pihak-pihak yang berdialog, namun juga dianggap sebagai pelaku pertunjukan. Itu mengapa, pertikaian sastra dalam konteks historisnya bukanlah aktifitas personal dari dua orang atau dua pihak saja. Sebaliknya, pertikaian sastra adalah bentuk aktifitas sosial di mana kedua pihak dianggap mewakili posisi pengetahuan komunal terkini dan kemudian sedang berada dalam proses untuk mempertanyakan, memperbaharui ataupun mempertanggungjawabkan nilai-nilai yang sedang dipertentangkan atau dinegosiasikan.

Itu mengapa dialog pada esensinya mencakup soal ketidaksetujuan, persetujuan hingga kesepakatan. Kesepakatan ini bisa saja sepenuhnya baru baik secara esensi dan formasi, atau berupa perwajahan baru dari ketidaksetujuan dan atau persetujuan tersebut, yang lebih merupakan konsensi yang bersifat negoitatif. Hari ini, dialog tersebut dikenal sebagai dialektika.

Dalam pengertian dialog seperti yang saya jelaskan di atas, ada syarat penting yang tidak bisa ditiadakan. Yaitu bahwa kedua pihak yang terlibat dalam dialog, berada dalam posisi yang seimbang. Dalam artian, tidak ada relasi hirarkis yang vertikal ataupun jenis ketimpangan otoritaritatif yang akan membuka jalan terhadap penggunaan sensor dan pembungkaman. Jika syarat ini dilanggar, maka dialog tidak akan pernah terjadi.

Ketika penguasa sedang berbicara dengan rakyatnya, hal tersebut tidak dapat didefinisikan sebagai dialog mengingat kedua pihak berada dalam level kuasa yang berbeda. Sama seperti ketika tuan-tuan budak yang sedang bercengkrama dengan budak-budaknya. Tidak ada proses negosiasi atau penciptaan konsensi di situ. Ketidakseimbangan kuasa tersebut secara mudah memprediksi hasil akhir dari sebuah konflik.

Dialog juga mensyaratkan hal lain yang tak kalah penting. Yaitu penguasaan yang mendalam mengenai topik yang dibicarakan atau sedang didiskusikan. Hal ini sangat mendasar, mengingat tujuan dari dialog adalah untuk menajamkan ide sekaligus mempertentangkannya. Progres dan regres dari sebuah pertentangan akan sangat tergantung dari seberapa dalam penguasaan topik oleh kedua belah pihak. Jika salah satu pihak berada dalam posisi sub-ordinat, maka dapat dipastikan bahwa hal tersebut bukanlah dialog.

Itu mengapa dalam dialog, terdapat hubungan timbal balik dalam bentuk kritik. Kritik merupakan bentuk pernyataan yang meragukan, mempertanyakan, sekaligus meradikalkan sebuah tesis utama dalam dialog. Posisi pentingnya kritik berguna sebagai cara untuk menolak absolutisme yang melekat di tesis utama dalam sebuah dialog. Penolakan terhadap abolutisme tersebut adalah anak tangga pertama menuju dialektika yang akan memperbaharui tesis-tesis awal yang ditawarkan ketika proses dialog dimulai.

Tanpa kritik, maka tidak akan pernah ada dialog

* * *

Sejarah sastra Indonesia adalah sejarah pertentangan yang dialogis. Sastra Indonesia merupakan pergelutan dialektis yang membentang dari masa Balai Pustaka hingga angkatan sastra cyber di periode awal 2000-an. Dan penting untuk diingat, bahwa sastra Indonesia bukanlah bagian terpisah dari dunia sastra dunia. Melainkan sebaliknya, sastra Indonesia adalah bagian otonom yang terkait dengan peta dan sejarah sastra dunia. Ia dipengaruhi dan mempengaruhi bagian-bagian otonom yang lain dengan tetap memiliki keunikan yang tidak dapat direplikasi, baik secara esensi maupun secara formasi.

Namun terkadang, proses pertentangan yang dialogis ini berubah menjadi konflik antagonistik yang bertambah rumit ketika negara ikut turut campur. Pertentangan sastra yang horizontal kemudian berubah menjadi konflik vertikal ketika salah satu kubu bersembunyi di balik atau bahkan secara telanjang meminjam tangan negara

Salah satunya adalah periode berdarah pada 1965-1967, ketika dialog melenyap dan tangan negara hadir dan memukul habis mereka yang dianggap berseberangan. Pembantaian penulis-penulis kiri yang dianggap berasosiasi dengan Partai Komunis Indonesia, sama sekali bukan merupakan bentuk dialog. Pemusnahan fisik dan psikis ini, juga masih ditambah dengan pembumihangusan manuskrip, catatan dan buku, melalui pembakaran dan pembredelan. Ini bukan cuma aksi pelumpuhan, namun adalah pembantaian.

Namun sejarah sastra Indonesia memang kental dengan hal seperti itu. Kita dapat dengan mudah menemukan begitu banyaknya kejadian di mana sebuah kelompok meminjam tangan negara untuk memukul lawan dialognya. Dalam konflik vertikal apapun, termasuk di dalam konflik sastra, negara tidak akan pernah netral. Ia berkecenderungan untuk memihak kubu yang menguntungkan secara ideologis dan finansial.

Keunggulan finansial, dalam pertarungan sastra Indoensia kontemporer merupakan faktor dominan. Hal ini tidak lepas dari kondisi kehidupan harian individual di mana ekonomi telah mendeterminasi segala bentuk relasi antar individu, termasuk di dalamnya adalah dialog.

Transformasi dialog kontemporer yang telah melekat dengan aspek finansial, telah menjauhkan dialog dalam artiannya yang paling radikal dan kritis menjadi sekedar ajang jual beli opini.

* * *

Fatin Hamama dan Satrio Arismunandar adalah layaknya dua sisi mata uang. Mereka saling menunjang dan saling melengkapi satu dengan yang lain. Keping mata uang itu saya beri nama: kedunguan

Menjadi dungu sejatinya merupakan pilihan politik dari golongan fanatik. Kedunguan erat kaitannya dengan keengganan untuk melakukan dialog, pengujian empirik serta tidak mendasarkan dirinya pada metode yang dapat dipertanggungjawabkan.

Itu mengapa, mereka yang menolak kritik adalah mereka yang sebenarnya enggan untuk berdialog. Kaum anti kritik adalah mereka yang percaya dengan absolutisme dan menjunjung tinggi fanatisme. Kelompok yang menutup telinganya terhadap kritik adalah kaum yang jauh lebih dungu dari keledai. Apalagi jika mereka sampai meminjam tangan negara untuk membungkam kritik.

Kedunguan sungguh berkait erat dengan bagaimana seseorang memandang dirinya dan memandang orang lain di sekitarnya. Dengan menjadi dungu, seseorang dapat dengan mudah menjustifikasi dirinya sebagai apa saja. Ia dapat tampil sebagai korban pelecehan seperti yang diperankan Fatin Hamama, atau sebagai pangeran penyelamat berkuda putih seperti lakon Satrio Arismunandar.

Dalam kedunguan, delusi-delusi yang diciptakan oleh dirinya kemudian tampak sebagai kenyataan yang harus secara absolut diyakini juga oleh orang-orang di sekitar mereka. Terjebak dalam delusi membuat seseorang dapat dengan mudah

Jika ini sudah terjadi, maka kita tidak sedang bicara soal pertentangan dialogis lagi. Melainkan bicara soal perang untuk mempertahankan hidup dan kemanusiaan.

Andre Barahamin