Seediq Bale: Perjuangan Orang Asli Menentang Kolonialisme

“Apakah sekolah, rumah sakit dan kantor pos membuat hidup kita lebih baik? Tidak! Hal itu justru membuat hidup kita terlihat lebih melarat.”

–Mouna Rudao, Kepala Kampung Mehebu dan Pemimpin Insureksi Wushen.

 

Kutipan film ini pertama kali saya tonton di akhir tahun 2013. Seorang teman membawa potongan film ini. Kualitasnya tidak begitu bagus. Dengan bahasa yang belum pernah saya dengar sebelumnya, dan tanpa terjemahan. Berdurasi sekitar 15 menit yang menceritakan menit-menit konsolidasi orang-orang asli di Formosa hingga meletusnya tragedi Wushan.

Sejak menonton kutipan tersebut, saya berjanji untuk mencari potongan utuh film ini. Butuh hampir setahun hingga akhirnya punya seluruh koleksi film ini. Sangat sulit karena film ini pada awalnya tidak memiliki terjemahan teks dalam bahasa Inggris.

Film ini sendiri ada dua versi. Yang pertama terdiri dari dua film yang jika digabungkan akan memakan waktu 276 menit. Empat jam lebih. Bagian ini diberi subjudul “The Sun Flag” (Bendera Matahari). Menunjuk kepada periode awal masuknya Jepang di Formosa. The Rainboow Bridge (Jembatan Pelangi) adalah subjudul bagian kedua. Pemberian subjudul ini merujuk pada kosmologi orang-orang Seediq soal kehidupan setelah kematian. Panjang durasinya 132 menit.

Sementara versi yang kedua, jauh lebih pendek. Alasannya lebih bersifat komersil sewaktu film ini diikutkan dalam kompetisi-kompetisi internasional. Film ini ditayangkan pada Festival Film Internasional Venezia yang ke 68. Durasi yang terlalu panjang membuat sutradara dan produser film memutuskan untuk menghadirkan versi yang hanya 150 menit saja. Di perayaan Academy Award ke 84, Seediq Bale masuk sebagai satu dari sembilan film asing terbaik.

Ada sedikit keberuntungan karena film ini digarap langsung oleh orang Taiwan. Jika ia diserahkan ke tangan industri macam Hollywood, kita hanya akan menemukan orang-orang Seediq saling berbincang dalam bahasa Inggris. Bahasa yang digunakan dalam film ini ada tiga. Selain bahasa Seediq dan bahasa Jepang, beberapa dialog berlangsung menggunakan bahasa Mandarin. Hal ini merujuk pada keberadaan orang-orang Han di pulau Formosa.

Seediq Bale sendiri secara harafiah secara harafiah berarti “Seediq Sejati”. Film ini mungkin bisa dipadankan dengan Apocalypto-nya Mel Gibson. Yang mungkin bagi banyak orang, film macam ini dianggap terlalu mengumbar adegan kekerasan dan darah. Sikap yang aneh karena Insureksi Wushan adalah penceritaan sebuah periode perang. Tentu saja tidak ada perang yang tanpa menyertakan kekerasan dan darah.

Wei Te Sheng, sang sutradara dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa ide mengenai cerita –yang mencatatkan sejarah sebagai film dengan ongkos produksi termahal di Taiwan– insureksi orang-orang Seediq melawan Jepang mulai muncul di tahun 1996. Berawal dari ketika Wei menonton sebuah berita mengenai sebuah kelompok orang asli di Taiwan yang menuntut negara mengembalikan tanah ulayat mereka. Ide ini makin menguat ketika suatu ketika Wei mengunjungi sebuah toko buku dan mendapati Qiu Ruolung, komik yang bercerita tentang peristiwa tersebut.

Ide ini kemudian mulai dituangkan dalam bentuk naskah yang mulai ditulis Wei di periode tahun 1997-1999.

Naskah ini selesai utuh di tahun 2000 dan memenangkan perhargaan The Excellent Film Screenplay Award dari Kantor Informasi Pemerintah. Tahun 2003, Wei memutuskan untuk meluncurkan penggalangan dana sebesar 2.5 juta dolar Taiwan. Kira-kira setara 1 trilyun rupiah. Dana ini digunakan untuk membiayai proses syuting demo film berdurasi lima menit. Demo ini kemudian tayang perdana November 2003 sebagai bagian dari kampanye penggalangan dana dengan target 250 juta dolar Taiwan.

Upaya ini gagal. Namun Wei tetap berkeras bahwa film ini hanya dimungkinkan produksi jika memiliki minimal 200 juta dolar Taiwan. Tahun 2008, akibat ambisi ini Wei terancam kebangkrutan. Hutang menumpuk.

Tahun 2008, strategi diubah agar ada investor yang tertarik mendanai produksi film ini. Wei memproduksi Cave No. 7 yang sukses total. Sebuah laporan yang ditulis Teng Suefeng pada Februari 2009 menyebutkan bahwa film ini baru memiliki sepertiga anggaran dari total sekitar 330 juta dolar Taiwan yang seharusnya mereka capai agar Seediq Bale dapat memulai pengambilan gambar. Pertengahan tahun itu, rekrutmen dan seleksi artis dimulai. Targetnya film dapat rilis pertengahan 2010. Namun masalah baru kembali muncul. Sangat sulit mendapatkan figuran dari kalangan orang asli yang bisa terlibat dalam film.

Agustus 2009, film ini kembali menemui kendala serius. Banyak peralatan syuting hancur karena serangan badai Morakot yang menyerang negeri itu. Anggaran film kembali membengkak hingga angka 600 juta dolar Taiwan. November 2001, Peng melaporkan bahwa film ini menyedot uang hingga 700 dolar Taiwan. Dari total itu, pemerintah Taiwan menyumbang 130 juta dolar sebagai subsidi dan bentuk dukungan.

Film akhirnya mulai pengambilan gambar di bulan Oktober 2009.

Wei berupaya sekeras mungkin mereplikasi kondisi pegunungan Taiwan dekade 1920-1930. Mereka membangun 36 unit rumah orang asli Seediq di Studio Arrow yang terletak di Linkou, Taipei Baru. Untuk pekerjaan ini, anggaran yang disedot mencapai 80 juta dolar Taiwan. Ada 1.500 orang yang terlibat sebagai teknisi. Beberapa properti yang digunakan dipinjam dari koleksi museum.

Penggarapan musik menelan biaya hingga 7 juta dolar. Lagu-lagu awalnya ditulis dalam bahasa Mandarin lalu diterjemahkan ke dalam bahasa asli orang Seediq. Artis-artis yang kebanyakan merupakan keturunan suku Atayal diharuskan belajar bahasa Seediq. Dakis Pawan disewa sebagai konsultan untuk film. Ia adalah seorang keturunan Seediq Tkdaya dan bertanggung atas riset yang menjadi dasar film ini.

Kerja keras Wei akhirnya terbayar ketika film ini rilis.

Pada 4 September 2011 -dua hari setelah tayang perdana di Venezia, film ini diputar di Katagalan Boulevard yang terletak persis di depan istana presiden Taiwan. Tiga hari kemudian, sebuah pemutaran tertutup diadakan di Qingliu, Nantou di hadapan keturunan orang-orang Seediq Tkdaya. Qingliu dahulu adalah kamp penampungan sisa-sisa insureksi Wushen yang menyatakan diri menyerah atau tertangkap. Wei menyatakan bahwa ia berupaya menetapi janji untuk mengembalikan film ini kepada mereka yang memiliki hak atasnya.

Di Taiwan sendiri, film ini pertama kali rilis pada 9 September. Bagian kedua film panjang ini kemudian mulai resmi bisa disaksikan publik pada tanggal 30 bulan yang sama. Film ini menyapa publik USA pada April 2012. Lalu pada April 2013, film ini tayang global.

 

Orang-orang Seediq

Orang-orang Seediq –juga ditulis Sediq atau Seejiq– yang menjadi titik berangkat film ini adalah kelompok orang asli yang mendiami daerah provinsi Nantou dan Hualien di pulau Formosa. Wilayah ini adalah daerah pegunungan yang terletak di bagian tengah hingga ke pesisir pantai barat Taiwan modern hari ini.

Pengakuan pemerintah Taiwan terhadap eksistensi kelompok Seediq terhitung cukup terlambat. 23 April 2008, mereka diakui sebagai Kelompok Orang Asli ke 14. Keterlambatan ini tidak lain karena bias kultural yang dahulu memandang bahwa orang-orang Seediq sebagai bagian dari kelompok orang asli Atayal.

Bias ini dimulai oleh antropolog Jepang bernama Kanori Ino. Ia mengunjungi Formosa sejak pulau ini diserahkan Dinasti Qing kepada Kerajaan Jepang. Pada masa itu, catatan-catatan perjalanan Ino dianggap memberikan gambaran yang cukup mengenai mengenai suku-suku asli yang mendiami daerah tersebut.

Dalam laporan perjalanannya, Ino membagi kelompok orang asli ke dalam dua kategori khas kolonial. Pertama menyebut Jukuban untuk mereka yang sudah melewati periode domestikasi dan menetap dalam kampung-kampung yang dibangun Jepang. Terakhir, adalah kelompok Seiban yang berarti mereka yang secara harafiah dapat diartikan sebagai liar. Kelompok terakhir ini adalah suku-suku asli yang masih berburu dan meramu meski telah menetap dan memiliki kampung permanen.

Hasil-hasil studi Ino selama bertahun-tahun kemudian oleh James W. Davidson dikumpulkan dan dituliskan kembali dalam bentuk laporan bernama The Island of Formosa. Ini adalah catatan pertama mengenai kelompok orang-orang asli di Formosa dalam bahasa Inggris. Dalam buku ini, Davidson mencatat delapan suku yaitu; Vonum, Tsou, Atayal, Tsalisen, Paiwan, Amis, Puyuma dan Pepo.

Di periode ini, orang-orang Seediq dimasukkan ke dalam bagian suku Atayal. Meski sebenarnya bahasa yang digunakan keduanya jelas berbeda. Orang-orang Seediq sebenarnya lebih memiliki kedekatan dengan Suku Truku –di masa lalu kedua kelompok orang asli ini dimasukkan dalam rumpun suku Atayal. Jalur migrasi yang berbeda membuat keduanya kemudian terpisah. Jika orang-orang Seediq mendiami daerah perbukitan dan mendiami daerah di sekitar hulu sungai, orang-orang Truku memilih menghuni dataran rendah hingga menyebar ke pesisir pantai timur.

Sementara orang-orang Atayal –terkadang disebut Tayan atau Tayal– adalah mereka yang hari ini berdiam menyebar di lembah sungai Liwu di bagian utara pulau Formosa.

Orang-orang Seediq –seperti juga orang-orang Atayal– memiliki tradisi untuk merajah wajah yang terkait erat dengan pemisahan periode akil baliq dengan masa kanak-kanak. Hanya mereka yang memiliki rajah di wajahnya yang dapat menikah. Para lelaki Seediq akan mendapatkan rajahan di bagian dagu dan jidat jika telah melewati inisiasi Chucao, yang dibuktikan dengan membawa pulang kepala musuh dari medan perang.

Perempuan-perempuan Seediq mendapatkan rajahan di bagian mulut yang membentang hingga ke bagian pipi di bawah telinga. Berbentuk seperti huruf V dengan ujung yang lebih rendah dan lebar. Rajahan ini akan dilangsungkan jika seorang perempuan dianggap sudah mampu membuktikan diri menyulam dan mengurus pekerjaan domestik lain.

Proses merajah wajah untuk laki-laki tergolong cepat dan tidak terlalu memakan waktu. Namun untuk perempuan, proses merajah dapat berlangsung hingga sebelas jam. Simbol rasa sakit berkepanjangan ini tidak lepas dari keyakinan orang-orang Seediq mengenai simbolisasi akan rasa sakit yang akan dilewati perempuan ketika melahirkan nanti.

Kebiasan berburu kepala musuh yang membuat suku Seediq dikenal sebagai tempat lahirnya para ksatria pemberani. Senjata mereka yang disebut Lalaw Behuw sangat tajam dan mampu memenggal kepala dalam sekali tebas. Berukuran tidak terlalu panjang dan memiliki bentuk melengkung dengan sisi tajam di bagian luar. Lalaw Behuw, menemani panah dan tombak ketika turun berburu.

Perburuan kepala musuh untuk dibawa pulang, dipercaya oleh orang-orang Seediq sebagai tiket bagi seorang lelaki untuk dapat masuk ke nirwana. Semakin banyak darah musuh yang tumpah di tangan seorang lelaki Seediq, semakin lapang jalan menuju surga. Terpilihnya seseorang sebagai kepala suku juga sangat erat terkait dengan kriteria ini. Hanya pemburu terbaik yang layak memimpin kampung dan suku.

Sementara para perempuannya, diterima tidaknya bergabung dengan para leluhur setelah meninggal ditentukan oleh seberapa kasar kulit tangan mereka. Hal ini dimungkinkan dengan kegiatan menyulam dan pekerjaan domestik lainnya yang dilakukan terus menerus.

Dalam mitologi Seediq, di gerbang surga para Kaiya (roh leluhur) akan memeriksa tangan dan wajah mereka sebelum memutuskan apakah seseorang layak diterima masuk atau tidak. Orang-orang Seediq meyakini bahwa nirwana terletak di ujung pelangi dan pelangi adalah jembatan menuju ke sana. Tempat di mana terletak ladang perburuan subur, sungai-sungai yang mengalir membelah pegunungan dengan hutan-hutan yang lebat.

Keyakinan ini misalnya dapat dilacak pada ragam motif sulam perempuan-perempuan Seediq. Didominasi warna merah dengan gaya geometris dengan garis-garis horizontal dan argil –yang komposisinya membentuk permata dengan sisi-sisi simetris.

Anak-anak Seediq biasanya akan mulai diajarkan berburu dan menyulam pada umur sepuluh atau sebelas tahun. Mereka kemudian memperdalam kemampuan itu selama bertahun-tahun. Seorang anak lelaki Seediq yang dianggap telah menguasai hutan wilayah perburuan sukunya kemudian akan diajak perang. Jika ia pulang dengan selamat dan membawa kepala sebagai bukti, maka seseorang dianggap layak untuk menikah. Di hari pernikahannya, seorang lelaki akan mengganti kain sulaman ibunya dengan kain sulaman istrinya.

Seumur hidup seorang laki-laki Seediq hanya diperbolehkan mengenakan kain sulaman kreasi ibunya atau istrinya. Hal ini terkait dengan kepercayaan suku Seediq yang monogamus.

 

Insureksi Wushan

Plot utama Seediq Bale: The Rainbow Warriors adalah seputar insureksi Wushan.

Pemberontakan ini pertama kali meletus pada 27 Oktober 1930 sebelum berhasil dipadamkan pada akhir Desember tahun yang sama. Dipimpin oleh Mouna Rudao dari kampung Mehebu, klan Tkdaya, Seediq Bale. Insureksi ini sukses mengumpulkan sekitar 300 pejuang dari enam kampung.

Film ini dibuka dengan adegan Chucao ketika Mouna Rudao berhasil mendapatkan kepala orang Bunun yang sedang berburu. Lalu penonton diajak untuk memahami latar belakang sejarah peristiwa Wushan yang ditandai dengan serah terima pulau Formosa dari Dinasti Qing kepada Jepang di tahun 1895 melalui perjanjian Shimonoseki. Menyusul fragmen soal Insiden Tapani di tahun 1915 ketika kelompok etnis Han di bawah pimpinan Yu Qingfang melancarkan pemberontakan yang berpusat di Kuil Xi Lai.

Lalu disusul dengan adegan perlawanan klan Tkdaya di periode yang sama.

Daerah berburu klan Tkdaya yang tersebar di 12 kampung di pegunungan tengah pulau Formosa memang merupakan incaran kolonial Jepang di masa itu. Sebabnya adalah sumber daya kayu yang melimpah serta potensi tambang yang begitu menggiurkan. Itu sebabnya sejak 1897, Jepang menjalankan program pembukaan jalan agar eksploitasi hutan dan sumber daya alam di pegunungan tengah Formosa dapat maksimal. Program ini dipandang sebagai bentuk invasi oleh klan Tkdaya.

Akibatnya, meletus konflik di tahun 1901 yang mengakibatkan 670 tentara Jepang terbunuh. Wushan diisolasi hingga setahun berikutnya. Menyikapi ini, operasi pembersihan militer dijalankan sejak tahun 1914 hingga 1917. Fakta bahwa Mouna Rudao terlibat sejak periode awal pemberontakan klan Tkdaya tidak dapat ditemukan di dalam film ini. Padahal menurut Dakis Pawan, wibawa Mouna Rudao di tengah klan Tkdaya terutama disebabkan karena kemampuannya mengatur strategi perang di dua momen pemberontakan.

Upaya menaklukkan resistensi Tkdaya awalnya dilakukan dengan pengerahan operasi militer skala besar. Hasilnya? Bertambahnya korban jatuh di pihak tentara dan polisi Jepang serta makin menguatnya kebencian orang-orang Seediq di klan Tkdaya.

Itu mengapa Jepang kemudian memutuskan untuk membawa para kepala kampung dari Seediq Tkdaya ke Tokyo. Tujuannya adalah teror psikologis melalui serangkaian tur militer yang mempertontonkan kecanggihan peralatan tempur negeri Matahari.

Taktik ini di kemudian hari terbukti gagal ketika Insureksi Wushen meletus.

Karena kerasnya perlawanan, Jepang membutuhkan bantuan klan Toda yang bermusuhan dengan klan Tkdaya. Strategi ini tidak lepas dari pembacaan militer terhadap teks Kanori Ino yang membuat pimpinan Kepolisian Jepang di pulau Formosa mengubah strategi. Sayangnya, dalam film ini –baik versi panjang dan versi singkatnya– pengaruh Ino terhadap perubahan taktik militer tidak mendapatkan ruang yang cukup. Hanya ada satu adegan saja. Yaitu ketika salah seorang pimpinan polisi Jepang sedang membaca catatan etnografi Ino sehabis mengusir seorang pedagang Han.

Klan Toda secara efektif digunakan sebagai sekutu. Di Taiwan sendiri, Temu Walis yang merupakan Kepala Klan Toda sekaligus pimpinan kampung Tnbarah, dikenang dengan ingatan yang cukup buruk. Oleh kalangan nasionalis hari ini, ia dianggap kolaborator Jepang.

Pandangan ini sempat memicu protes dan mengurai kembali ketegangan antara keturunan klan Toda dan klan Tkdaya ketika film ini rilis.
Sebabnya, film ini tidak memberikan landasan soal perselisihan wilayah perburuan yang menjadi pangkal sengketa antara klan Tkdaya dan klan Toda. Wei juga luput memberikan ruang bahwa perjanjian kolaborasi antara Jepang dan klan Toda disertai perjanjian mengenai pengambilalihan wilayah berburu orang-orang Tkdaya.

Total, Jepang membutuhkan lebih dari 20 tahun sebelum bisa benar-benar menaklukkan klan Tkdaya di tahun 1935. Karena meski secara umum pemberontakan berhasil dipadamkan pada Desember 1930, masih ada upaya gerilya yang masih dilancarkan oleh kelompok-kelompok kecil Tkdaya yang masih tersisa.

Namun Wei sebagai sutradara setidaknya cukup cerdas dengan menyisipkan adegan dalam film ini untuk membantu penonton mendapatkan gambaran sulitnya masa pendudukan Jepang yang menjadi basis material meluapnya rasa marah orang-orang Tkdaya, Seediq Bale.

Alasan-alasan meletusnya insureksi ini digambarkan dengan jelas dalam film ini. Semisal aksi represi fisik yang terjadi secara konsisten serta diskriminasi terhadap mereka yang menolak politik asimilasi ala Jepang. Penonton juga diajak untuk melihat praktik perbudakan melalui praktek perdagangan yang tidak adil serta upah kerja yang murah atau tuturan para tokoh mengenai pembunuhan Jepang kepada mereka yang melawan.

Sayangnya, kisah mengenai pemerkosaan terhadap perempuan-perempuan Seediq hanya hadir dalam bentuk cerita antar tokoh di dalam film ini. Wei tidak menghadirkannya di dalam film. Sesuatu yang aneh karena di masa pendudukan tersebut frekuensi pemerkosaan terhadap perempuan Seediq cukup sering dan ini adalah salah satu alasan di balik kemarahan orang-orang Seediq Tkdaya.

Film ini juga gagal untuk menghadirkan praktek Jepang-isasi melalui agama dan disertai dengan kekerasan fisik dan mental yang dialami anak-anak Seediq di sekolah. Seseorang dapat dengan mudah memahami bahwa hal-hal tersebut menjadi api dalam sekam selama bertahun-tahun sebelum meletusnya insureksi.

Wei anehnya tampak berupaya untuk meringkas ragam peristiwa tersebut hanya ke dalam dua fragmen sepanjag film bertutur. Hal yang aneh mengingat durasi film ini seharusnya memberikan Wei ruang yang cukup untuk memberikan konteks mengapa Insureksi Wushan mungkin terjadi.

Pertama adalah adegan sikap melecehkan yang ditunjukkan oleh dua petugas polisi yang ditempatkan di pos pengawasan kampung Mehebu. Adegan tersebut dimulai ketika saat pulang berburu babi untuk persiapan pesta pernikahan, Mouna Rudao dan orang-orang Seediq dari kampung Mehebu mendapati seorang petugas Jepang bernama Sugiari sedang berupaya merayu perempuan Tkdaya dari kampung Mehebu agar mau menukar tubuhnya dengan sejumlah uang.

Kedua adalah tindakan petugas Yoshimaru yang memukuli Tado, anak sulung Mouna Rudao, ketika pesta pernikahan berlangsung sedang berlangsung di Mehebu. Niat Tado Mouna menawarkan minum bersama sebagai simbol berbagi kebahagiaan, ditolak. Bagi petugas Jepang, praktek minum anggur dari cawan bambu yang sama merupakan tindakan barbar dan tidak beradab. Upaya Mouna Rudao bersama dua anaknya yang datang langsung keesokan harinya untuk meminta maaf juga ditolak.

Rasa muak orang-orang Seediq Tkdaya lalu digambarkan dalam adegan di mana anak-anak muda kampung Mehebu mendesak Mouna Rudao untuk memberikan izin dan memimpin insureksi. Pilihan Wei untuk meniadakan bagian soal dua insureksi pendahuluan yang dilakukan Seediq Tkdaya membuat Mouna Rudao tampak seperti orang tua yang hanya putus asa ketikadikerubuti anak-anak muda yang marah.

Alasan-alasan yang dikemukakan Mouna Rudao dalam film tampak lemah karena sutradara Wei mengambil keputusan untuk tidak memberikan porsi mengenai Pemberontakan Seediq Truku.

Perang Truku yang terjadi di tahun 1914 sangat penting posisinya. Perang singkat ini berujung pada pembantaian massal seluruh ksatria yang terlibat bersama seluruh anggota keluarganya. Rumah-rumah dan desa orang Seediq Truku dilalap api dan banyak anak yang menjadi yatim piatu.

Di periode inilah, peran Mouna Rudao cukup menonjol dengan mengadopsi anak-anak Truku, memberikan mereka makanan, tempat tinggal dan rasa aman. Mouna Rudao juga memberikan izin agar perempuan dan lelaki Seediq Tkdaya di kampung Mehebu dapat menikah dengan keturunan Seediq Truku demi menjaga mereka agar tidak punah.

Di film, Mouna Rudao justru tampil sebagai orang tua yang terpaksa harus bersepakat dengan rencana anak-anak muda yang sedang marah. Pertemuan dadakan tersebut kemudian berhasil menyepakati rencana penyerangan. Jadwal ditentukan. Bertepatan dengan perayaan ulang tahun Pangeran Kitashirakawa Yoshihisa.

Setelah itu, kita akan melihat para pemuda yang menginisiasi rencana insureksi ini menyebarkan kabar dan menyampaikan undangan.
Tidak semua sepakat. Banyak yang khawatir Jepang akan membalas dan melenyapkan semua orang. Ada yang bersepakat namun tidak akan terlibat secara aktif dalam insureksi. Awalnya, hanya lima kampung yang bersepakat bergabung dengan kampung Mehebu untuk mengepung Wushe. Dini hari sebelum pembantaian Wushe dimulai, Kepala Kampung Hungu bersepakat untuk ikut bergabung dalam insureksi.

Pagi hari, bersamaan dengan kabut tebal yang menyelimuti Wushan dan dimulainya pengibaran bendera dan berkumandangnya nyanyian nasional, perang dilancarkan. Seluruh orang Jepang, laki-laki dan perempuan serta anak-anak dibunuh.

Bagian kedua film ini diawali dengan kelebat sinopsis tentang apa yang terjadi di bagian awal. Sebelum akhirnya berlanjut ke adegan Hanaoka bersaudara yang menuliskan pesan yang ditulis di dinding sekolah mengenai keengganan mereka berdua untuk ikut bertanggung jawab. Film lalu bergeser ke periode gerilya yang berlangsung hingga penghujung tahun 1930.

Anda juga akan menemukan adegan perempuan-perempuan yang membunuh anak-anak mereka yang masih kecil sebelum menggantung diri. Adegan ini sempat memicu protes penonton di Cina daratan karena dianggap terlalu brutal.

Kurangnya porsi dalam film yang mengeksplorasi latar soal ini membuat adegan bunuh diri tampak mengesankan sikap putus asa. Padahal, sikap tersebut dilakukan sebagai upaya langsung para perempuan Seediq Tkdaya mendukung insureksi. Membunuh diri adalah solusi yang diambil untuk menghemat makanan. Gerilya yang berlangsung lebih dari dua tahun, operasi militer yang masif dan terisolasinya Wushen membuat cadangan makanan adalah isu yang serius. Hewan buruan menjadi jarang karena bermigrasi akibat perang berkepanjangan.

Sumber air juga tercemar karena bom gas yang dilepaskan Jepang.

Dosa Wei semakin bertambah karena ia tampak dengan sengaja menyangkal peran keterlibatan perempuan-perempuan Tkdaya yang ikut berperang. Tidak ada satupun adegan sepanjang hampir 300 menit yang menggambarkan soal itu. Hal ini dapat dimaklumi jika kita mengamati dengan teliti bahwa sejak awal Wei sudah menunjukkan penyangkalannya. Penonton tidak akan menemukan adegan perempuan Seediq minum anggur, ikut berburu atau menghisap tembakau.

Film ini kemudian ditutup dengan upaya Jepang untuk meminta agar sel-sel yang masih bergerilya, mau menyerah dan melepaskan senjata. Mahung Mouna, anak perempuan tertua Mouna Rudao datang membujuk saudara laki-lakinya Tado Mouna agar menyerah. Ajakan ini ditolak dan dilanjutkan dengan adegan Tado yang memimpin kelompok kecil Seediq Tkdaya yang tersisa untuk melakukan bunuh diri berkelompok.

Di akhir film, penonton akan diberikan informasi mengenai pembantaian orang-orang Tkdaya di kamp penampungan oleh orang-orang Toda. Pembantaian ini kuat dugaan merupakan provokasi Kojima, polisi Jepang yang tinggal di kampung Tnbarah, yang menyimpan kesumat dendam karena istri dan kedua anaknya menjadi korban pembantaian di pagi berdarah 27 Oktober.

Orang Asli di Taiwan

Baru-baru ini Republik Cina menyita perhatian dunia internasional. Hal itu tidak lepas dari permintaan maaf negara kepada kelompok-kelompok orang asli di pulau Formosa. Penyampaian maaf tersebut dilakukan langsung oleh presiden Taiwan, Tsai Ingwen. Ini adalah permintaan maaf negara terkait segala bentuk tindak represi dan aksi diskriminatif yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun terhadap kelompok-kelompok orang asli di Formosa.

Tsai adalah presiden pertama Taiwan yang memiliki campuran darah orang asli. Perempuan ini memiliki nenek dari kelompok Paiwan, satu dari 16 kelompok suku yang dikenali negara. Selain meminta maaf, Taiwan juga membentuk Komisi Keadilan Historis dan Hukum untuk menangani berbagai persoalan konflik yang meliputi berbagai kelompok orang-orang asli.

Problem yang dihadapi oleh kelompok-kelompok orang asli tentu saja yang paling utama adalah soal klaim atas tanah. Selama lebih dari satu abad, tanah-tanah kelompok orang asli dirampas oleh negara secara paksa atau dengan ganti rugi yang tidak layak. Anthony Kuhn dalam laporannya menulis bahwa problem tanah memiliki urgensi krusial. Seluruh tanah di Taiwan hari ini dikuasai oleh negara dan kelompok orang-orang asli Formosa hanya memiliki sedikit hak pemanfaatan yang lebih sering diacuhkan.

Semisal problem mengenai hak berburu yang menjadi isu serius dalam pembahasan mengenai upaya Taiwan melakukan rehabilitasi. Bagi orang-orang asli, kegiatan berburu adalah kegiatan yang dapat mendukung konservasi lingkungan dan sebagai praktek bernilai religius yang dapat menghubungkan mereka kembali dengan tradisi dan leluhur. Praktek berburu yang dilarang oleh pemerintah Taiwan dengan tuduhan merusak lingkungan, adalah biang kerok dan bentuk nyata diskriminasi terhadap orang-orang asli.

Itu mengapa reformasi undang-undang pertahanan menjadi sorotan penting.

But Wang, seorang pengajar antropologi mengatakan bahwa hal ini adalah kunci untuk mengukur seberapa serius Tsai dan Partai Demokratik Progresif mau mengimplementasikan perubahan yang mereka janjikan terhadap orang asli Formosa. Undang-undang pertanahan Taiwan saat ini oleh Wang dianggap sebagai warisan kolonial yang perlu diubah agar tidak lagi mengacuhkan hak dan peranan komunitas-komunitas orang asli di tempat tersebut. Konflik-konflik pembangunan infrastruktur misalnya, diakibatkan oleh absennya partisipasti komunitas orang asli.

Problem penyusutan populasi orang asli –yang kini berjumlah kurang dari 2% populasi nasional– juga penting untuk disoroti. Menurunnya populasi orang asli tidak lepas dari politik kesehatan yang diskriminatif terhadap kelompok-kelompok ini sejak masa Belanda, okupasi Cina, pendudukan Jepang hingga masa Republik Cina berdiri.

Soal lain adalah bagaimana Tsai menyikapi tuntutan orang-orang asli mengenai kebebasan mereka untuk kembali memeluk keyakinan tradisional mereka. Fakta bahwa ke-Kristen-an yang dibawa oleh Belanda dan Inggris ke pulau Formosa telah sukses mengancam warisan kosmologik dan etik yang sebenarnya adalah jembatan untuk menjaga keberlangsungan identitas kelompok orang asli.

Itu belum termasuk bagaimana Tsai sebagai pemimpin tertinggi di Taiwan menyikapi isu tentang sulitnya timpangnya akses pemberdayaan ekonomi di dalam komunitas-komunitas orang asli yang memaksa terjadinya migrasi ke luar daerah. Ironisnya adalah karena kelompok-kelompok ini merupakan pemilik dari kekayaan sumber daya alam yang hari ini dikuasai negara. Distribusi kesejahteraan yang timpang sejak dulu bersambung dengan kebijakan politik yang diskriminatif telah membuat orang asli menjadi lapisan sosial paling bawah di Taiwan. Juga mengenai politik budaya yang membuat ruang ekspresi semakin mengecil hingga ancaman kepunahan budaya dan warisan tradisi lain adalah masalah yang tidak bisa dianggap sepele. Karena itu, Kuhn mengingatkan bahwa Tsai harus berani melangkah lebih jauh dari sekedar permintaan maaf.

Kuhn menantang pemerintahan Tsai agar berani mewujudkan janji kampanyenya untuk memberikan otonomi pemerintahan kepada kelompok-kelompok orang asli, meningkatkan kembali daya dukung lingkungan dan secara serius mengupayakan perlindungan terhadap produk-produk kebudayaan tiap-tiap komunitas semisal bahasa.

Hal-hal tersebut secara politis memang sangat penting bagi Partai Demokratik Progresif yang berada di belakang presiden Tsai. Jika Taiwan ingin membangun pondasi kebudayaan mereka yang berbeda dengan daratan Cina, maka menjadikan komunitas-komunitas orang asli sebagai sandaran adalah strategi yang tepat. Ia dapat memberikan generasi muda Taiwan sebuah identitas budaya yang baru yang dapat digunakan sebagai salah satu indikator untuk menjustifikasi perbedaan Taiwan dengan Cina daratan.

 

Seediq Bale Melintasi Ruang

Tahun 2016 ini, ketika masa kampanye Stop Lumad Killings sedang menguat di Filipina, Seediq Bale ikut dirilis.

Ini merupakan bentuk penghormatan dan solidaritas terhadap perjuangan kelompok Lumad yang mendiami daerah pegunungan Mindanao di selatan negeri tersebut. Meski memang perilisan film Seediq Bale di Manila tidak lepas dari momentum pemilihan umum dan digunakan oleh kelompok tertentu untuk kepentingan mendulang suara. Hingga saat ini, orang-orang Lumad masih mengalami ancaman serius tentang penggusuran dan pembunuhan ekstra judisial yang dilakukan oleh militer, polisi, gerilyawan politik hingga kekuatan para-militer.

Di Indonesia?

Sependek pengetahuan saya –yang sangat memprihatinkan– soal perkembangan dunia sinema di Indonesia, Seediq Bale belum dirilis secara resmi. Saya tak tahu kenapa. Namun, distribusi versi bajakan film ini beredar luas. Ada kabar dari seorang pegiat hak-hak orang asli, film ini pernah screening sekali di Kalimantan Barat dan sekali di Papua Barat.

Seediq Bale menjadi relevan dalam konteks Indonesia karena beberapa alasan. Pertama, masih tingginya ketidakpedulian terkait problem-problem yang menimpa kelompok-komunitas orang asli. Perampasan tanah orang asli, penyangkalan hak, diskriminasi, kekerasan negara adalah hal yang berlangsung terus menerus. Kita belum menyoal kemiskinan yang melanda komunitas-komunitas Orang Asli –yang lebih sering disertai dengan praktek penipuan.

Masih ada di daftar tunggu masalah tentang nasib Orang Asli mengenai perambahan hutan gila-gilaan yang membuat menyempitnya lokasi berburu dan berkurangnya sumber pangan lokal. Pemerkosaan yang menimpa perempuan-perempuan Orang Asli juga bukan isapan jempol belaka. Juga masalah mengenai kepercayaan-kepercayaan Orang Asli yang dianggap sebagai bagian dari periode gelap, perilaku barbar dan tidak beradab dan sering disinonimkan dengan ketiadaan Tuhan. Problem ancaman kehilangan bahasa-bahasa juga adalah isu serius. Jumlah penutur dalam bahasa Orang Asli semakin berkurang karena banyak faktor. Masih ada lagi soal migrasi ke daerah perkotaan karena himpitan hutan.

Itu mengapa problem seperti pengakuan hak orang asli atas tanah bukan urusan mendesak yang harus segera dicarikan solusinya.

 

Bibliografi

Ching, L. (2000). “Savage Construction and Civility Making: The Musha Incident and Aboriginal Representations in Colonial Taiwan”. Positions: East Asia Cultures Critique. 8 (3): 799

Davidson, James W. (1903). The Island of Formosa: Past and Present. Macmillan. P. 561

Kanori Ino (2012). Research trips among the Plains Aborigins: Selections from Ino Kanori’s Taiwan diaries. Taiwan National University

Katz, Paul R. (2007). “Governmentality and Its Consequences in Colonial Taiwan: A Case Study of Tapani Incident of 1915”. The Journal of Asian Studies. 64 (02): 387-424

Kuhn, Anthony (2016). “Taiwan’s Aborigines Hope A New President Will Bring Better Treatment”, National Public Radio. June 11. Accesseed September 20, 2016. www.npr.org/sections/parallels/20016/06/11/480482854/taiwans-aborigines-hope-a-new-president-will-bring-better-treatment

Roy, Denny (2003). “The Japanese Occupation”. Taiwan: A Political History. Ithaca: Cornell Press University.

Andre Barahamin